Sebagai anggota BIAS N07 G-35, Dengan memanfaatkan Blog ini bertujuan untuk Menyimpan Catatan materi yang telah di sampaikan. dan juga dari berbagai sumber materi, Apabila ada komentar yang sifatnya membangun Insya Alloh akan kami terima. semoga bisa berguna untuk kedepannya terima kasih Semangat Belajar
Sabtu, 31 Maret 2018
Akhlak dan Adab yang Paling Utama
*Akhlak dan Adab yang Paling Utama*
Ketika kita mendengar kata "Akhlak dan Adab", maka yang terlintas adalah tata pergaulan kita terhadap sesama makhluk dengan baik.
Benar, ini merupakan bagian diantaranya.
Tapi ada yang *lebih utama* dan *harus kita utamakan* sebelum kepada yang lainnya.
Karena *Hak-Hak-Nya begitu Agung* untuk seorang hamba.
*Berakhlak dan Beradab kepada Sang Khalik Rabbuna Tabaaraka wa Ta'aalaa*.
Dialah Pencipta kita
Pemelihara kita
Pemberi hidayah
Pemberi pertolongan
Pemberi rizki
Serta kepada-Nya kita akan kembali.
Kasih sayang-Nya begitu besar kepada kita
Nikmat-Nya yang tak terhingga
Pemaaf walaupun dimaksiati
Terus Memberi walaupun diingkari
Luas rahmat dan ampunan-Nya serta Mencintai orang yang kembali kepada-Nya
Dan Sifat-Sifat Kesempurnaan lainnya yang sesuai dengan Keagungan-Nya.
Tapi...
Bagaimanakah timbal balik kita terhadap kebaikan-kebaikan Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa
Walaupun Allah Tabaaraka wa Ta'aalaa Maha Kaya, Maha Sempurna, tidak membutuhkan ibadahnya seorang hamba
Tapi kita lah yang butuh kepada Allah 'Azza wa Jalla
Sejauh mana sambutan kita terhadap perintah-perintah-Nya
Ketaatan kita untuk menjauhi larangan-larangan-Nya
Seberapa besarkah pengagungan kita terhadap Kebesaran dan Kekuasaan-Nya
Allahul Musta'an...
Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa berfirman :
{ وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ...َ }
"Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya..."
[QS. Az-Zumar ayat 67]
Mari kita mengambil pelajaran dan bercermin dari sekitar kita
Perhatikanlah, bagaimana bentuk *pengagungan makhluk Allah yang lainnya terhadap Kekuasaan dan Kebesaran-Nya*
Allah Jalla wa 'Alaa berfirman :
{ أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ ۗ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ ۩ }
"Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa *kepada Allah bersujud* apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar dari manusia ? *Dan banyak dari manusia yang telah di tetapkan azab atasnya*. Dan barangsiapa yang menghinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang dikehendaki."
[QS. Al-Hajj ayat 18]
Dalam ayat yang lain Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa berfirman :
{ أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ ۖ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ }
Tidakkah kamu tahu bahwasannya Allah: *kepada-Nya bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi* dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. *Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya*, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan."
[QS. An-Nur ayat 41]
Allahu Akbar...
Malulah rasanya kita yang Allah Muliakan dengan akal dan nikmat lainnya yang begitu besar
Belum bisa mengagungkan kebesaran-Nya, belum bisa menunaikan Hak-Hak-Nya sebagaimana mestinya !!!
Hanya kepada Allah saja-lah kita memohon Rahmat dan Ampunan dari-Nya
Serta terus memohon limpahan taufiq dan hidayah-Nya untuk berusaha mencapai ridha-Nya.
Aamiin.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد
Al Faqir Ilaa Rahmati Rabbih
Kota Nabi صلى الله عليه وسلم
Kamis ba'da fajr,, 12/07/1439 H.
Sunnah Memperbanyak Shalawat pada Malam dan Hari Jum'at
*Sunnah Memperbanyak Shalawat pada Malam dan Hari Jum'at*
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
(( أَكْثِرُوْا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمْعَةِ فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا ))
" *Perbanyaklah* membaca shalawat untukku pada hari jum'at dan malam jum'at. Maka barangsiapa membaca shalawat untukku satu kali, Allah akan membalasnya dengan sepuluh shalawat."
[HR. Imam Baihaqi : 5994, dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, serta dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah As Shahiihah : 1407]
--------------
Diantara lafadz shalawat yang utama yang disyari'atkan, sebagaimana terdapat dalam Shahih Imam Bukhari : 3370, lafadznya :
(( َّاَللّٰهُمَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ،
ﻛَﻤَﺎ ﺻَﻠَّﻴْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺑْﺮَاﻫِﻴْﻢَ، ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺇِﺑْﺮَاﻫِﻴْﻢَ، ﺇِﻧَّﻚَ ﺣَﻤِﻴْﺪٌ ﻣَّﺠِﻴْﺪٌ،
اَللّٰٰهُمَّ ﺑَﺎﺭِﻙْ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ،
ﻛَﻤَﺎ ﺑَﺎﺭَﻛْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺑْﺮَاﻫِﻴْﻢَ، ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺇِﺑْﺮَاﻫِﻴْﻢَ ﺇِﻧَّﻚَ ﺣَﻤِﻴْﺪٌ ٌمَّجِيْدٌ ))
KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 6
Sabtu, 13 Rajab 1439 H / 31 Maret 2018 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 006| Hadits 06
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H006
〰〰〰〰〰〰〰
*KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 6*
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد
Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.
Ini adalah halaqah kita yang ke-6 dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhyār) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh.
Pada pertemuan kita kali ini, kita akan membahas hadīts ke-6, yaitu hadīts dari Abdullāh bin 'Amr radhiyallāhu ta'āla 'anhumā.
Beliau mengatakan, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
" الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ "
_"Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin merasa selamat dari kejahatan lisan dan tangannya dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perkara-perkara yang Allāh larang."_
(Hadīts riwayat Imām Bukhāri dan Muslim)
Imām At Tirmidzī dan An Nassā'i menambahkan dalam riwayat yang lain:
والمؤمن من أمنه الناس على دمائهم وأموالهم
_"Seorang mukmin adalah orang yang manusia merasa aman atas darah dan harta mereka dari kejahatan dirinya."_
Imām Baihaqī menambahkan:
والمجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله
_"Dan seorang mujāhid adalah orang yang melawan dirinya di dalam mengerjakan ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla."_
Hadīts ini menjelaskan tentang kesempurnaan Islām, imān, hijrah dan jihād, sebagaimana penulis di sini menjelaskan bahwa Islām yang hakiki adalah:
الاستسلام الله، وتكميل عبوديته والقيام بحقوقه،
_"Menyerahkan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Serta menyempurnakan ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Serta menunaikan hak-hak Allāh dan juga hak-haknya (kaum muslimin)."_
Sehingga tidak sempurna Islām sampai dia mencintai kaum muslimin sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.
Dan itu tidak akan bisa terealisasi kecuali apabila kaum muslimin merasa selamat dari kejahatan tangan dan lisannya.
Oleh karena itu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan hakikat seorang muslim yang haqiqi (sempurna) adalah orang yang kaum muslimin merasa selamat atau mendapatkan keselamatan dari kejahatan tangan dan lisannya.
Kemudian beliau menjelaskan tentang seorang mukmin yaitu orang yang manusia merasa aman atas darah dan harta mereka dari dirinya.
Beliau katakan yang demikian itu karena imān itu apabila telah melekat dan memenuhi hati seseorang maka keimānan tersebut akan menjadikan orang tersebut menunaikan hak-hak keimānan, yaitu menjaga amanah juga jujur dalam bermuamalah serta memiliki sifat wara' (kehati-hatian), merasa waspada kalau-kalau dia menzhālimi orang lain.
Maka orang yang memiliki sifat seperti ini, maka manusia akan merasa aman dari dirinya.
Adapun tentang hijrah maka beliau sebutkan bahwasanya hijrah yang disebutkan di dalam hadīts ini adalah hijrah yang wajib bagi setiap muslim.
Yang maknanya adalah:
هجرة الذنوب والمعاصي
_"Meninggalkan dosa-dosa dan kemaksiatan."_
Maka yang seperti ini adalah hukumnya wajib, bagi setiap orang di dalam keadaan apapun. Karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah mengharamkan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang haram.
Kemudian tentang mujāhid maka beliau sampaikan di sini bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menafsirkan bahwa seorang mujāhid adalah orang yang melawan hawa nafsunya di dalam melakukan ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Yang demikian itu karena jiwa ini cenderung kepada sifat malas untuk mengerjakan kebaikan serta senantiasa mengajak kepada perkara yang buruk dan sangat cepat terpengaruh apabila dia ditimpa satu musibah.
Maka yang demikian ini butuh kepada kesabaran dan butuh kepada jihād agar dia senantiasa berada di atas ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Maka ini adalah jihad yang wajib bagi setiap muslim.
Yaitu:
مجاهدة نفسه عن معاصي الله
_"Dia melawan hawa nafsunya agar tidak bermaksiat kepada Allāh serta melawan hawa nafsunya agar dia sabar di dalam menjalankan keta'atan serta sabar di dalam menghadapi musibah."_
Maka beliau menjelaskan:
فهذا الحديث من قام بما دل عليه فقد قام بالدين كله: من سلم المسلمون من لسانه ويده، وأمنه الناس على دمائهم وأموالهم، وهجر ما نهى الله عنه، وجاهد نفسه على طاعة الله
_Barangsiapa dia merealisasikan hal-hal yang yang disebutkan dalam hadīts ini, maka dia sungguh telah menjalankan agama secara keseluruhan, yaitu:_
_⑴ Dia menjadikan kaum muslimin mendapatkan keselamatan dari kejahatan tangannya dan lisannya._
_⑵ Serta dia menjadikan manusia merasa aman atas darah dan juga harta mereka._
_⑶ Kemudian dia berhijrah dari perkara-perkara yang telah Allāh larang._
_⑷ Dia melawan hawa nafsunya agar senantiasa berada di atas keta'atan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla._
Demikian yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini, in syā Allāh kita lanjutkan kembali pada halaqah berikutnya.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت نستغفرك وأتوب إليك
_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ; 0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA
▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*
📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda.*
Contoh : 100.025
_____________________
KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 5
Jum’at, 12 Rajab 1439 H / 30 Maret 2018 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 005| Hadits 05
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H005
〰〰〰〰〰〰〰
*KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 5*
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد
Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.
Ini adalah halaqah kita yang ke-5 dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhyār) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh.
Pada halaqah kita kali ini, kita akan membahas hadīts ke-5 yang disampaikan oleh penulis di dalam kitāb ini.
Yaitu hadīts:
عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ
_Dari Sufyān bin 'Abdillāh Ats Tsaqafiy radhiyallāhu ta'āla 'anhu: Aku mengatakan:_
_"Yā Rasūlullāh, kabarkanlah kepadaku tentang suatu ucapan (perkara) di dalam agama Islām yang aku tidak perlu menanyakan kepada seorangpun setelahmu?"_
_Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:_
_"Katakanlah aku berimān kepada Allāh kemudian istiqāmahlah di atas keimānan tersebut."_
(Hadīts riwayat Muslim nomor 38)
Beliau menyebutkan dalam penjelasan hadīts ini, bahwa seorang shahābat yang bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ini, dia meminta suatu perkara yang itu mencakup semua jenis kebaikan sehingga dia tidak perlu lagi bertanya kepada orang lain.
Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memerintahkan dia supaya dia mengucapkan:
آمنت باالله
_"Aku berimān kepada Allāh."_
Dan yang dimaksud dengan, " آمنت باالله (aku berimān kepada Allāh)" beliau sebutkan di sini:
يشمل ما يجب اعتقاده: من عقائد الإيمان، وأصوله، وما يتبع ذلك
_(Ucapan imān ini) mencakup hal-hal yang wajib dia yakini dan pokok-pokok dasar di dalam agama Islām serta konsekwensi dari semua itu._
والانقياد والاستسلام الله، باطنا وظاهرا, ثم الدوام على ذلك
_Serta tunduk kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla secara zhāhir maupun bathin kemudian dia konsisten di atas hal tersebut._
Yang dimaksud dengan perintah beliau ini bukan sekedar ucapan lisan akan tetapi keimānan yang diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatannya.
Mengamalkan konsekuensi dari ucapan keimānan yang dia ucapkan, setelah itu dia istiqāmah dia terus di atas keimānan tersebut, kalau ini dia lakukan maka dia berhak untuk mendapatkan keselamatan, dia berhak untuk masuk ke dalam surga sebagaimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan di dalam surat Fussilat ayat 30:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
_Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Rabb kami adalah Allāh," kemudian mereka istiqamah (meneguhkan pendirian mereka), maka malāikat-malāikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), "Janganlah kalian merasa takut dan janganlah klaian bersedih hati dan bergembiralah kalian dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepada kalian."_
Maka hadīts ini juga hadīts-hadīts yang lain ataupun ayat-ayat Al Qur'ān yang ada menunjukkan bahwasanya imān itu mencakup amalan yang ada di dalam hati berupa keyakinan-keyakinan yang wajib diyakini serta mencakup pula amalan jawārih (amalan yang direalisasikan dengan perbuatan).
ولا يتم ذلك إلا بالثبات عليه
_Dan itu tidak akan bisa sempurna kecuali kalau dia istiqāmah di dalam hal tersebut._
Demikian yang beliau sampaikan dalam penjelasan hadīts ini, in syā Allāh kita lanjutkan lagi pada hadīts berikutnya dihalaqah mendatang.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت نستغفرك وأتوب إليك
_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ; 0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA
▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*
📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda.*
Contoh : 100.025
_____________________
Diantara Ciri Ahlus Sunnah, Banyak Membaca Shalawat kepada Nabi
Tentang Nasehat Berharga dan Bermanfaat yang disampaikan Fadhilatus Syaikh DR. *Shalih Al 'Ushaimi* hafidzahullah (Salah Satu Ulama Besar dan Pengajar di Masjidil Haram serta Masjid Nabawi)
*Diantara Ciri Ahlus Sunnah, Banyak Membaca Shalawat kepada Nabi* ﷺ
○ Syari'at memerintahkan untuk memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam serta kepada keluarga beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam
○ Adapun maksud memperbanyak dalam sesuatu itu ialah *seseorang terus melakukan hal tersebut sehingga perbuatan tersebut mendominasi dan menjadi hal yang istimewa baginya*
Begitu pula dengan *memperbanyak membaca shalawat* kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan keluarga beliau shallallahu 'alaihi wa sallam *maksudnya pembacaan shalawat tersebut mendominasi ucapan lisannya untuk selalu bershalawat kepada beliau dan keluarga beliau* shallallahu 'alaihi wa sallam
○ Ada beberapa hadits yang menunjukkan penentuan banyaknya membaca shalawat baik sepuluh, atau seratus, atau seribu.
Akan tetapi semua hadits tersebut *tidaklah shahih* (yang tidak boleh dijadikan sebagai hujjah)
○ Jadi seseorang disebut memperbanyak membaca itu *ketika pembacaan shalawat tersebut mendominasi pengucapan lisannya*
Sebuah contoh ketika diperintahkan untuk memperbanyak pembacaan shalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam malam dan hari jum'at
Hal tersebut tidaklah tercapai dengan hitungan tertentu, seperti sepuluh umpamanya, lima puluh, seratus ataupun seribu.
Akan tetapi tercapai *dengan terus menerus mengucapkan shalawat itu hingga mendominasi pengucapan lisannya dalam segala keadaan pada seluruh malam dan hari jum'at tersebut*, bukan dengan bilangan tertentu, pada bagian tertentu saja dari malam dan hari jum'at tersebut, bukan seperti itu maksudnya.
○ Terdapat atsar yang baik yang diriwayatkan oleh seorang imam yang bergelar *Qawamus Sunnah* (Penegak Sunnah) yaitu Imam *Isma'il Al Ashbahani* rahimahullah (wafat 535 H) dalam kitabnya Fadhailul 'Amal, beliau menyebutkan riwayat dari Al Husain bin 'Ali radhiyallahu 'anhuma, ia berkata :
" *Ciri Ahlus Sunnah itu banyak membaca shalawat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam*".
أسأل الله العليم الكريم العلم النافع والعمل الصالح والتوفيق والإخلاص والقبول
ّاَللّٰهُمَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ،
ﻛَﻤَﺎ ﺻَﻠَّﻴْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺑْﺮَاﻫِﻴْﻢَ، ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺇِﺑْﺮَاﻫِﻴْﻢَ، ﺇِﻧَّﻚَ ﺣَﻤِﻴْﺪٌ ﻣَّﺠِﻴْﺪٌ،
اَللّٰٰهُمَّ ﺑَﺎﺭِﻙْ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ،
ﻛَﻤَﺎ ﺑَﺎﺭَﻛْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺑْﺮَاﻫِﻴْﻢَ، ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺇِﺑْﺮَاﻫِﻴْﻢَ ﺇِﻧَّﻚَ ﺣَﻤِﻴْﺪٌ ٌمَّجِيْدٌ
Al Faqir Ilaa Rahmati Rabbih
Hasanuddin Misbah
Kota Nabi صلى الله عليه وسلم
Jum'at waktu fajr, 13/07/1439 H.
Renungan dan muhasabah
*Renungan dan Muhasabah*
Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa berfirman :
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ }
" Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan *hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)*; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan".
[QS. Al-Hasyr ayat 18]
Syaikh Al 'Allaamah *Abdurrahman As Sa'di* rahimahullah (wafat 1376 H) berkata ketika menjelaskan tafsir ayat ini :
"Allah Ta'aalaa Memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman dengan kewajiban dan konsekwensinya supaya tetap *bertakwa kepada-Nya* secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan dalam semua keadaan.
Dan supaya memperhatikan terhadap apa yang diperintahkan Allah kepadanya dari perintah-perintah-Nya, syari'at-syari'atnya serta batasan-batasan-Nya.
Dan supaya memperhatikan apa yang bermanfaat bagi mereka serta (menjauhi) apa yang madharat bagi mereka.
Dan supaya memperhatikan apa yang telah ia peroleh dari amal-amal yang bermanfa'at ataupun yang madharat (tersebut) bagi mereka pada hari Kiamat kelak;
Maka sesungguhnya jika mereka menjadikan Akhirat pusat perhatian mereka, kiblat hati mereka serta memiliki perhatian untuk membangun tempat tinggal mereka disana nanti;
Maka mereka akan *bersungguh-sungguh dalam memperbanyak amal* yang bisa mengantarkan mereka kesana dan menjadikan amal tersebut penjernih dalam menghadapi hambatan dan rintangan, yang dapat menghentikan, menghambat ataupun memalingkan mereka dari perjalanan (menuju Akhirat)
Disamping itu juga, jika mereka mengetahui bahwasannya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan, yang tidak tersembunyi amal mereka dihadapan-Nya, serta tidak akan disia-siakan oleh-Nya; maka menuntut mereka untuk bersungguh-sungguh (dalam mengerjakan amal tersebut)".
Kemudian beliau rahimahullah melanjutkan perkataanya :
"Ayat yang mulia ini menjadi *dasar utama bagi seorang hamba dalam muhasabah (introspeksi) terhadap dirinya*, yang ia harus selalu memperhatikan dan mengawasinya
Maka apabila ia *berada dalam kekeliruan* (dosa dan maksiat -pent), maka ia harus segera menghentikan perbuatan (dosa) tersebut lalu bertaubat dengan sebenar-benarnya, serta menjauhi sebab-sebab yang dapat mengantarkannya (kembali) pada hal tersebut.
Dan jika ia *mendapati dirinya berada dalam keadaan kurang* dalam menunaikan perintah Allah, maka ia harus memohon pertolongan kepada Rabbnya supaya bisa menyempurnakan serta bisa melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.
Dan hendaklah ia membandingkan antara anugerah serta kebaikan yang telah Allah berikan kepadanya dengan kekurangannya dalam menunaikan perintah-perintah-Nya tersebut;
Yang hal ini bisa menjadikannya merasa malu terhadap-Nya dengan sebenar-benarnya malu".
[Kitab Taisiru Kariimir Rahman fii Tafsiiri Kalaamil Mannan, halaman 1808]
------------------------
Allah Tabaaraka wa Ta'aalaa juga berfirman :
{ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ }
" Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa".
[QS. Al-Baqarah ayat 197]
Dikatakan bahwa dunia ini hanyalah tempat bersafar
Maka perhatikanlah perbekalanmu !
[https://t.me/gheiras]
أسأل الله العليم الكريم العلم النافع والعمل الصالح والتوفيق والإخلاص والقبول
وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
Al Faqir Ilaa Rahmati Rabbih
Hasanuddin Misbah
Masjid Nabi صلى الله عليه وسلم
Ba'da jum'at, 13/07/1439 H.
10 Sifat Istri Yang Membuat Rezeki Rumah Tangga Mengalir Sangat Deras
Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri.
Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suami dan rumah tangganya.
*1. Istri yang pandai bersyukur*
Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki.
Miliki suami, bersyukur.
Jadi ibu, bersyukur.
Anak-anak dapat mengaji, bersyukur.
Suami memberi nafkah, bersyukur.
*2. Istri yang tawakal kepada Allah*
Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya.
_“Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.”_
(QS. Ath Thalaq : 3).
Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanita itu.
*3. Istri yang baik agamanya*
Rasulullah bersabda:
_"Wanita itu dinikahi karena empat perkara. Karena hartanya, kecantikannya, nasabnya dan agamanya._
_Pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung.”_
(HR. Al Bukhari dan Muslim).
Beruntung itu beruntung didunia dan di akhirat. Beruntung didunia, salah satu aspeknya yaitu dimudahkan mendapatkan rejeki yang halal.
Coba kita perhatikan, insya Allah tidak ada satu pun keluarga yang semua anggotanya patuh pada Allah lalu mereka mati kelaparan atau nasibnya mengenaskan.
*4. Istri yang banyak beristighfar*
Diantara keutamaan istighfar yaitu mendatangkan rejeki.
Hal semacam itu dapat dilihat dalam Surat Nuh ayat 10 sampai 12.
Kalau dengan memperbanyak istighfar, Allah akan mengirimkan hujan dan memperbanyak harta.
_“Maka aku katakan pada mereka, ‘Mohonlah ampun pada Tuhanmu’, sesunguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan padamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (juga di dalamnya) sungai-sungai untukmu.”_
(QS. Nuh : 10-12).
*5. Istri yang gemar silaturahim*
Istri yang gemar menyambung silaturahim, baik pada *orang tuanya, mertuanya, sanak familinya, serta saudari-saudari* ....pada intinya ia tengah menolong suaminya membuat lancar rejeki.
Sebab keutamaan silaturahim adalah dilapangkan rejekinya dan dipanjangkan umurnya.
_“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.”_
(HR. Al Bukhari dan Muslim).
*6. Istri yang suka bersedekah*
Istri yang suka bersedekah, dia juga pada hakikatnya sedang melipatgandakan rejeki suaminya.
Sebab salah satu keutamaan sedekah seperti disebutkan dalam surat Al Baqarah, akan dilipatgandakan Allah sampai 700 kali lipat. Bahkan sampai kelipatan lain sesuai kehendak Allah.
Bila istri diberi nafkah oleh suaminya, lalu sebagiannya ia gunakan untuk sedekah, mungkin tidak segera dibalas melaluinya.
Tetapi bisa jadi dibalas melalui suaminya.
Jadilah pekerjaan suaminya lancar, rejekinya berlimpah.
_“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) untuk siapapun yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”_
(QS. Al Baqarah : 261).
*7. Istri yang bertaqwa*
Orang yang bertaqwa akan mendapatkan jaminan rejeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan ia akan mendapatkan rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Seperti firman Allah dalam surat Ath Talaq ayat 2 dan 3.
_“Barangsiapa bertaqwa pada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya serta memberinya rizki dari arah yg tidak disangka-sangka."_
(QS. At Thalaq : 2-3).
*8. Istri yang selalu mendoakan suaminya*
Bila seorang ingin mendapatkan suatu hal, ia perlu mengetahui siapakah yang memilikinya.
Ia tidak dapat mendapatkan suatu hal itu tetapi dari pemiliknya.
Begitulah rejeki.
Rejeki sebenarnya adalah pemberian dari Allah Azza wa Jalla. Dialah yang Maha Pemberi rejeki.
Jadi jangan hanya mengandalkan usaha manusiawi tetapi perbanyaklah berdoa memohon kepadaNya.
Doakan suami supaya selalu mendapatkan limpahan rejeki dari Allah, dan yakinlah bila istri berdoa pada Allah untuk suaminya pasti Allah akan mengabulkannya.
_“DanTuhanmu berfirman : Berdoalah kepadaKu niscaya Aku kabulkan."_
(QS. Ghafir : 60).
*9. Istri yang suka shalat dhuha*
Shalat dhuha adalah shalat sunnah yang luar biasa keutamaannya.
Shalat dhuha dua raka’at setara dengan 360 sedekah untuk menggantikan hutang sedekah setiap persendian.
Shalat dhuha empat rakaat, Allah akan menjamin rejekinya sepanjang hari.
_“Di dalam tubuh manusia ada 360 sendi, yang semuanya harus di keluarkan sedekahnya.”_ Mereka (para sahabat) bertanya, _“Siapakah yang dapat melakukan itu wahai Nabiyullah? ”_
Beliau menjawab,
_“Engkau membersihkan dahak yang ada didalam masjid adalah sedekah, engkau menyingkirkan suatu hal yang mengganggu dari jalan adalah Jadi bila engkau tidak menemukannya (sedekah sebanyak itu), jadi dua raka’at Dhuha telah mencukupimu."_
(HR. Abu Dawud)
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
_“Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Saya cukupkan untukmu di sepanjang hari itu."_
(HR. Ahmad).
*10. Istri yang taat dan melayani suaminya*
Salah satu kewajiban istri pada suami adalah mentaatinya.
Selama perintah suami tidak dalam rangka mendurhakai Allah dan RasulNya, istri wajib mentaatinya.
Apa hubungannya dengan rezeki?
Ketika seorang istri taat pada suaminya, jadi hati suaminya juga tenang dan damai.
Saat hatinya damai, ia dapat berpikir lebih jernih dan kreatifitasnya muncul.
Semangat kerjanya juga menggebu.
Ibadah juga lebih tenang,
rizki mengalir lancar.
*******
Ssemoga menjadi keluarga yg sakinah mawaddah wa Rahmah penuh barakah dan mendapat Ridhonya, semoga Allah SWT senantiasa memudahkan Rizki kita.
Aamiin ya Rabbal 'aalamiin.
🌹awali aktifitas pagi dengan dzikir pagi ..
KEDUDUKAN TINGGI SUAMI DIATAS ISTRI, SEBUAH KETETAPAN ILLAHI
Oleh :
Ustadz Ashim bin Mustofa Lc
Seorang suami memiliki kedudukan yang sedikit lebih tinggi dibandingkan istrinya.
Hal tersebut bukanlah kehendak pribadi kaum lelaki atau berdasarkan kearifan lokal satu daerah, akan tetapi Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya telah menetapkannya bahwa seorang suami menjadi kepala rumah tangga dalam laju bahtera kehidupan berkeluarganya. Suami menjadi penanggung-jawab pertama dan utama terkait urusan dan kebutuhan rumah tangganya.
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.
[An-Nisâ/4:34]
Keunggulan lelaki dikatakan oleh Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi disebabkan oleh akalnya yang lebih matang, pengetahuan yang lebih banyak, dan pandangan yang jauh ke depan dalam mencermati permasalahan dari pangkal sampai ujungnya daripada yang dimiliki oleh seorang wanita. Ditambah dengan mahar yang diserahkan suami kepada istrinya dan nafkah yang ia tanggung. [1]
Tentang ayat di atas, Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah mengatakan, “Di antara hak seorang suami atas istrinya, sang istri menaatinya dalam perkara-perkara yang bukan maksiat kepada Allâh Azza wa Jalla.
Sebab, suami memegang tanggung-jawab kepemimpinan (di dalam rumah tangga) dan istri berkewajiban untuk menyambut dan menaati”.
Dalam hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ النِّسَاءَ أَنْ يَسْجُدْنَ لِأَزْوَاجِهِنَّ, لِمَا جَعَلَ اللهُ لَهُمْ عَلَيْهِنَّ مِنَ الْحَقِّ
Sekiranya aku perintah seseorang untuk bersujud kepada orang lain, maka benar-benar aku perintah para wanita untuk bersujud kepada suami-suami mereka, karena hak (besar) yang Allâh tetapkan bagi mereka atas istri-istri mereka.[2]
Dalam hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah mempertegas tentang besarnya hak suami atas diri istrinya dengan bersabda :
لَا تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ
Seorang wanita (istri) belumlah menjalankan hak Rabbnya sampai ia mengerjakan hak suaminya, walaupun suami meminta dirinya saat berada di atas pelana, ia tidak menolaknya. [3]
Kedudukan suami yang berada di atas istri berpengaruh pada besarnya hak-hak suami atas istrinya untuk dihormati dan ditaati.
Dan wanita yang terbaik adalah wanita yang menaati suaminya.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang istri yang terbaik, lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :
الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيْعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
(Yaitu wanita) yang bila menyenangkan suami bila ia melihatnya, menaatinya bila diperintah, dan tidak menyelisihi perintahnya terkait dirinya dan hartanya dengan sikap yang dibenci suami.[4]
Untuk itu, semestinya seorang istri mengetahui hak-hak suami agar dapat memenuhi hak-haknya dengan baik.
Syaikh Taqiyyuddîn rahimahullah telah menguraikan hak-hak suami atas istrinya dengan mengatakan, “Hak-hak suami atas istrinya, menghormati dan menghargainya, mempergaulinya dengan cara-cara terbaik, taat kepada suami dalam perkara-perkara yang bukan maksiat kepada Allâh Azza wa Jalla, menyambut permintaan-permintaannya yang baik-baik dan keinginan-keinginannya yang mungkin dipenuhi, menyertainya dalam kegembiraan dan kesedihannya, menjaga dirinya dan harta suami, menjaga rumah suami, tidak memasukkan ke dalamnya seorang lelaki ajnabi (bukan mahram) dan tidak keluar kecuali dengan izin suami, tidak berdandan untuk selain suami, menjauhi apa saja yang memantik amarahnya, dan tidak mendesaknya untuk memenuhi permintaan yang memberatkan.
Selain itu, seorang istri menjaga kehormatan keluarganya, menangani urusan anak-anaknya, membantu suami sesuai kemampuan saat suami sakit atau tak berdaya, dan tidak mengingkari kebaikan dan kebajikan suami. [Taudhîhul Ahkâm min Bulûghil Marâm hlm.344-345].
Dalam menjalankan apa yang telah dipaparkan di atas, seorang wanita melakukannya dalam rangka taat kepada Rabbnya, sehingga akan dimudahkan untuk memenuhinya dan sekaligus mendulang limpahan pahala.
Semoga bermanfaat.
Referensi :
Taudhîhul Ahkâm min Bulûghil Marâm‘Abdullâh bin ‘Abdur Rahman al-Bassâm, Maktabah al-Asadi, Cet. V Th.1423 H.
Al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah fî Fiqhil Kitâbi was Sunnati al-Muthahharah, Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah, Dar Ibni Hazm, Cet. I, Th.1425.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote :
[1] Aisaru at-Tafâsir 1/473.
[2] HR. Abu Dâwûd, At-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah. Lihat al-Irwâ no.1998.
[3] HR. Ahmad, Ibnu Mâjah dan Ibnu Hibbân.
[4] HR. Ahmad, Al-Hâkim dan An-Nasâi. Lihat ash-Shahîhah no.1834.
Shared from Almanhaj.or.id for android http://bit.ly/Almanhaj
Orang yang Diinginkan Kebaikan Oleh Allah
Lalu siapakah orang-orang yang Allah inginkan kebaikan bagi mereka? Berikut ciri-cirinya...
Di antara manusia ada orang-orang yang Allah inginkan kebaikan padanya. Kita berharap mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang diinginkan oleh Allah untuk mendapatkan kebaikan tersebut. Tentunya kita tidak ingin kita termasuk orang yang Allah kehendaki keburukan ada pada diri kita. Lalu siapakah orang-orang yang Allah inginkan kebaikan bagi mereka? Berikut ciri-cirinya:
1. Dijadikan ia senantiasa beramal sholih sebelum kematian menjelang
Disebutkan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan lainnya[1], bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله قيل : ما يستعمله ؟ قال : يفتح له عملا صالحا بين يدي موته حتى يرضي عليه من حوله
“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah jadikan ia beramal.” Lalu para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dijadikan dia beramal?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dibukakan untuknya amalan shalih sebelum meninggalnya sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridha kepadanya.”
2. Dipercepat sanksinya di dunia
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة
“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya, Allah akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hamba-Nya, Allah akan menahan adzab baginya akibat dosanya (di dunia), sampai Allah membalasnya (dengan sempurna) pada hari Kiamat.” (HR. At-Tirmidzi dan Al Hakim dari Anas bin Malik)[2]
Namun kita tidak diperkenankan untuk meminta kepada Allah agar dipercepat sanksi kita di dunia, karena kita belum tentu mampu menghadapinya.
3. Diberikan cobaan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من يرد الله به خيرا يصب منه
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR. Al-Bukhari).
Cobaan pasti akan menerpa kehidupan mukmin, karena itu merupakan janji Allah. Allah berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ
“Sungguh, Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar” (QS. Al Baqarah: 155).
Bersabarlah ketika kita mendapatkan cobaan, karena cobaan itu untuk menggugurkan dosa atau mengangkat derajat.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ أَوْ الْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَفِي مَالِهِ وَفِي وَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ
“Senantiasa ujian itu menerpa mukmin atau mukminah pada jasadnya, harta dan anaknya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani).
4. Dijadikan faham terhadap agama Islam
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama (ini).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Kefaqihan adalah pemahaman yang Allah berikan kepada seorang hamba. Pemahaman yang lurus tentang Al-Qur’an dan hadits didasari dengan kebeningan hati dan aqidah yang shahih. Karena hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan dapat memahami Al-Qur’an dan hadits dengan benar.
5. Diberikan kesabaran
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
و ما أعطي أحد عطاء خيرا و أوسع من الصبر
“Tidaklah seseorang diberikan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Kesabaran dalam keimanan bagaikan kepala untuk badan. Badan tak akan hidup tanpa kepala, demikian pula iman tak akan hidup tanpa kesabaran. Untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya amat dibutuhkan kesabaran. Karena iblis dan balatentaranya tak pernah diam dari menyesatkan manusia dari jalan Allah. Allah berfirman,
وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
“Tidaklah diberikan (sifat-sifat yang terpuji ini) kecuali orang-orang yang sabar, dan tidaklah diberikannya kecuali orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fushshilat: 35).
Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang Engkau inginkan kebaikan, beri kami kesabaran untuk menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu, beri kami kesabaran dalam menghadapi musibah yang menerpa, beri kami kefaqihan dalam agama dan bukakan untuk kami pintu amal shalih sebelum wafat kami.
***
Sumber Referensi :
Rekaman ceramah berjudul “Orang yang Diinginkan Kebaikan Oleh Allah”, oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam,Lc
Sebuah Catatan
*Catatan Sederhana*
Dari Khutbah Jum'at yang Berharga dan Bermanfaat yang disampaikan pada 12/07/1439 H, oleh Fadhilatus Syaikh Prof. DR. *Abdurrazzaq Al Badr* hafidzahullah (Pengajar di Masjid Nabawi)
*Sungguh Beruntunglah Orang yang Mensucikan Dirinya*
Allah Tabaaraka wa Ta'aalaa berfirman :
{ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ○ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا }
" Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya itu.
Dan seseungguhnya merugilah orang yang mengotorinya".
[QS. Asy-Syams ayat 9-10]
○ Beruntunglah orang yang mensucikannya dengan memuliakan serta menjauhkannya dari hal yang dapat menghinakan dan mengotorinya
Serta menghiasinya dengan sifat yang luhur dan terpuji.
○ Sebaliknya, celakalah orang yang mengotorinya, yaitu dengan menenggelamkannya pada hal-hal yang rendah dan hina.
▪Seorang mukmin mengetahui bahwa jiwanya berada pada genggaman Allah 'Azza wa Jalla
Serta kebahagiaan dan kebaikannya itu *anugerah dan karunia* dari-Nya Jalla fii 'Ulaah
Oleh sebab itu, *tidaklah ia memohon* kebaikan untuk jiwanya *melainkan* hanya kepada Rabbnya Subhaanahu wa Ta'aalaa.
Sebagaimana firman-Nya 'Azza wa Jalla :
{ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ }
" Sekiranya tidaklah karena *karunia Allah dan rahmat-Nya* kepadamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, *tetapi Allah Membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya*".
[QS. An-Nur ayat 21]
▪Selalu *berdo'a* memohon dan terus memohon kepada Allah 'Azza wa Jalla supaya diberikan pembersihan jiwa serta diselamatkan dari kebalikannya
Sebagaimana disebutkan dalam sebagian do'a Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :
(( اللّٰهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وتَقْوَاهَا ))
" Ya Allah, karuniakanlah ketakwaan pada jiwaku, sucikanlah ia, sesungguhnya Engkau Sebaik-baik yang Mensucikan, Engkau-lah Yang Menjaga dan Melindunginya".
[HR. Imam Muslim no. 2722, dari Sahabat Zaid bin Arqam radhiyallahu 'anhu]
Begitu pula do'a terbanyak yang beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam baca :
(( يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ ))
"Wahai Yang Membulak-balikan hati, teguhkanlah hatiku diatas agama-Mu"
[HR. Imam Tirmidzi no. 2140, dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, serta dishahihkan oleh Syaikh Albani rahimahumallah dalam Shahihul Jaami' no. 7987]
▪ *Al Qur'anul Kariim* adalah Kitab Tazkiyah (yang mensucikan) yang menjadi sumber utamanya
Maka tidaklah akan tercapai pensucian jiwa tersebut melainkan dengan :
- Membaca Al Qur'an sebaik-baiknya
- Memahami maknanya
- Mentadabburinya secara utuh
- Mengamalkan isi kandungannya
Allah Tabaaraka wa Ta'aalaa berfirman :
{ لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ }
" Sungguh Allah telah Memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah Mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang *membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka*".
[QS. Ali 'Imran ayat 164]
Yaitu mensucikan mereka dengan pembacaan ayat-ayat.
*Jadi*, semakin besar perhatian seseorang dalam membaca Al Qur'an, mentadabburinya serta bersungguh-sungguh untuk mengamalkan isi kandungannya,
*Maka* semakin besar pula jalan yang ia tempuh untuk mensucikan jiwanya, yang mengantarkan pada kebahagiaannya di dunia dan di Akhirat kelak.
Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa berfirman :
{ فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ }
" Lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka".
[QS. Tha-Ha ayat 123]
Sahabat yang mulia *'Abdullah bin 'Abbas* radhiyallahu 'anhuma mengatakan dalam tafsir ayat ini :
" Allah 'Azza wa Jalla *Menjamin* bagi siapa saja yang membaca Al Qur'an serta ia mengamalkan isi kandungannya, bahwasannya ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka".
▪Hendaklah seseorang *menjadikan teladan* yang bisa dijadikan figur dalam mensucikan jiwanya, menjadi baik amalnya serta bisa menjauhi segala hal yang buruk dan hina.
Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa berfirman :
(لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا }
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah (Shallallahu 'alihi wa sallam) itu *suri teladan yang baik* bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah".
[QS. Al-Ahzab ayat 21]
*Jadi*, semakin besar perhatian seseorang terhadap keteladanan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, serta petunjuk (Sunnahnya) yang lurus
Kemudian meneladani para Sahabatnya yang mulia radhiyallahu 'anhum
Kemudian meneladani para Pengikut Sahabat (Tabi'in) yang baik rahimahumullah
*Maka* semakin besar pula usahanya untuk mensucikan jiwanya, menjadikannya berada dalam kebaikan dan jauh dari kejelekan.
○ Dua hal pokok mendasar dalam mensucikan jiwa :
1). Menjauhkan dirinya dari segala hal yang buruk dan hina.
2). Menghiasi dirinya dengan segala sifat yang terpuji dan perbuatan yang mulia.
[ Sumber : http://al-badr.net/detail/jdVxg1vbk6E0 ]
أسأل الله العليم الكريم العلم النافع والعمل الصالح
كما أسأله تبارك وتعالى التوفيق والإخلاص والقبول
وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
Al Faqir Ilaa Rahmati Rabbih
Hasanuddin Misbah
Masjid Nabi صلى الله عليه وسلم
Sabtu Waktu Dhuha, 13/0/1439 H.
Barokah ziarah ke kubur
Barokah Ziarah Ke Kuburan Orang Tua
أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِي كُلِّ جُمُعَةٍ غُفِرَ لَهُ ، وَكُتِبَ بَرًّا ”
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
‘Barangsiapa yang menziarahi kuburan kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya setiap hari Jum’at, niscaya akan diampuni baginya dan dicatat sebagai bakti (kepada keduanya).”
‘Hadits’ ini diriwayatkan oleh ath-Thabrâni
Belajar Ilmu Syar'i Dasar seri 25
BELAJAR ILMU SYAR'I DASAR
Seri : AQIDAH (25)
-----------------------------
*Sebutkan Perintah Allah yang Teragung dan Larangan-Nya yang Terbesar ?*
Jawab :
○ Perintah Allah 'Azza wa Jalla yang teragung adalah *Tauhid*
Yaitu : إِفْرادُ اللهِ بِالْعِبَادَةِ
MengEsakan Allah dalam beribadah
○ Sebaliknya, sebesar-besar larangan-Nya adalah *Syirik*
Yaitu : دَعْوَةُ غَيْرِهِ مَعَهُ
Menyembah kepada selain Allah disertakan dalam menyembah-Nya
Atau dengan makna lain :
Menyekutukan Allah dengan yang lain-Nya dalam beribadah.
○ Dalilnya firman Allah Tabaaraka wa Ta'aalaa :
{ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا }
" Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya".
[QS An-Nisa' ayat 36]
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman :
{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ}
" Dan Aku tidak Menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku".
[QS. Adz-Dzariyat ayat 56]
Makna { يَعْبُدُوْنِ } adalah يُوَحِّدُوْنِ yaitu Mentauhidkan-Ku.
[Disarikan dari kitab Tsalaatsatul Ushul, karya Imam Muhammad bin Sulaiman At Tamimi rahimahullah (wafat 1206 H), halaman 39 dari Mutun Thaalibil Ilmi]
أسأل الله العلم النافع والعمل الصالح والتوفيق والإخلاص والقبول
وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
Al Faqir Ilaa Rahmati Rabbih
Hasanuddin Misbah
Kota Nabi صلى الله عليه وسلم
Sabtu Ba'da Dzuhur, 13/07/1439 H.
Jumat, 30 Maret 2018
Diantara Ciri Ahlu Sunnah
Tentang Nasehat Berharga dan Bermanfaat yang disampaikan Fadhilatus Syaikh DR. *Shalih Al 'Ushaimi* hafidzahullah (Salah Satu Ulama Besar dan Pengajar di Masjidil Haram serta Masjid Nabawi)
*Diantara Ciri Ahlus Sunnah, Banyak Membaca Shalawat kepada Nabi* ﷺ
○ Syari'at memerintahkan untuk memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam serta kepada keluarga beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam
○ Adapun maksud memperbanyak dalam sesuatu itu ialah *seseorang terus melakukan hal tersebut sehingga perbuatan tersebut mendominasi dan menjadi hal yang istimewa baginya*
Begitu pula dengan *memperbanyak membaca shalawat* kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan keluarga beliau shallallahu 'alaihi wa sallam *maksudnya pembacaan shalawat tersebut mendominasi ucapan lisannya untuk selalu bershalawat kepada beliau dan keluarga beliau* shallallahu 'alaihi wa sallam
○ Ada beberapa hadits yang menunjukkan penentuan banyaknya membaca shalawat baik sepuluh, atau seratus, atau seribu.
Akan tetapi semua hadits tersebut *tidaklah shahih* (yang tidak boleh dijadikan sebagai hujjah)
○ Jadi seseorang disebut memperbanyak membaca itu *ketika pembacaan shalawat tersebut mendominasi pengucapan lisannya*
Sebuah contoh ketika diperintahkan untuk memperbanyak pembacaan shalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam malam dan hari jum'at
Hal tersebut tidaklah tercapai dengan hitungan tertentu, seperti sepuluh umpamanya, lima puluh, seratus ataupun seribu.
Akan tetapi tercapai *dengan terus menerus mengucapkan shalawat itu hingga mendominasi pengucapan lisannya dalam segala keadaan pada seluruh malam dan hari jum'at tersebut*, bukan dengan bilangan tertentu, pada bagian tertentu saja dari malam dan hari jum'at tersebut, bukan seperti itu maksudnya.
○ Terdapat atsar yang baik yang diriwayatkan oleh seorang imam yang bergelar *Qawamus Sunnah* (Penegak Sunnah) yaitu Imam *Isma'il Al Ashbahani* rahimahullah (wafat 535 H) dalam kitabnya Fadhailul 'Amal, beliau menyebutkan riwayat dari Al Husain bin 'Ali radhiyallahu 'anhuma, ia berkata :
" *Ciri Ahlus Sunnah itu banyak membaca shalawat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam*".
أسأل الله العليم الكريم العلم النافع والعمل الصالح والتوفيق والإخلاص والقبول
ّاَللّٰهُمَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ،
ﻛَﻤَﺎ ﺻَﻠَّﻴْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺑْﺮَاﻫِﻴْﻢَ، ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺇِﺑْﺮَاﻫِﻴْﻢَ، ﺇِﻧَّﻚَ ﺣَﻤِﻴْﺪٌ ﻣَّﺠِﻴْﺪٌ،
اَللّٰٰهُمَّ ﺑَﺎﺭِﻙْ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ،
ﻛَﻤَﺎ ﺑَﺎﺭَﻛْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺑْﺮَاﻫِﻴْﻢَ، ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺇِﺑْﺮَاﻫِﻴْﻢَ ﺇِﻧَّﻚَ ﺣَﻤِﻴْﺪٌ ٌمَّجِيْدٌ
Al Faqir Ilaa Rahmati Rabbih
Hasanuddin Misbah
Kota Nabi صلى الله عليه وسلم
Jum'at waktu fajr, 13/07/1439 H.
Kamis, 29 Maret 2018
KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 4
Kamis, 11 Rajab 1439 H / 29 Maret 2018 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 004| Hadits 04
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H004
〰〰〰〰〰〰〰
*KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 4*
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد
Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.
Ini adalah halaqah kita yang ke-4 dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhyār) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh.
Pada halaqah kita kali ini, kita akan membahas hadīts yang diriwayatkan oleh Abū Hurairah radhiyallāhu ta'āla 'anhu.
أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ قَالَ تَعْبُدُ اللَّهَ ولَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ وَتُؤَدِّي الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا أَزِيدُ عَلَى هَذَا فَلَمَّا وَلَّى قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا.
_Pernah ada seorang arab badui kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan dia mengatakan:_
_"Tunjukkanlah aku kepada satu amalan yang apa bila aku mengamalkanya aku akan masuk surga."_
_Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:_
_"Engkau beribadah kepada Allāh dan engkau tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun dan engkau menunaikan shalāt yang wajib, serta engkau menunaikan zakāt yang wajib serta melakukan puasa dibulan Ramadhān."_
_Maka arab badui itu mengatakan:_
_"Demi dzat yang jiwaku berada ditangannya, aku tidak akan menambah lagi selain dari amalan-amalan ini dan aku juga tidak akan melalaikan amalan-amalan tersebut."_
_Maka tatkala arab badui itu sudah berpaling, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda kepada para shahābat yang berada disekitar beliau._
_Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:_
_"Barangsiapa siapa dia ingin untuk melihat kepada seorangyang termasuk penduduk surga, maka hendaknya dia melihat kepada orang tersebut."_
(Hadīts riwayat Imām Bukhāri nomor 1397 dan Muslim nomor 14)
Hadīts ini menjelaskan kepada kita bahwa apabila seseorang menunaikan perkara-perkara yang wajib dan menjauhi hal-hal yang Allāh haramkan maka dia telah berhak untuk masuk ke dalam surga serta dia akan selamat dari api neraka.
Sebagaimana kisah arab badui tadi, yang dia menyatakan dia tidak akan menambah amalan selain dari yang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam kabarkan kepada dia.
Dan semua itu adalah perkara-perkara yang wajib dan juga dia tidak akan melalaikan perkara-perkara tersebut dalam artian dia akan berusaha menjaganya.
Dia tidak akan melakukan sesuatu yang haram, meninggalkan yang wajib. Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam telah menyatakan dia termasuk penduduk surga.
Sehingga kita mengetahui bahwasanya melakukan perkara-perkara yang wajib dan meninggalkan perkara-perkara yang haram maka ini merupakan sebab seseorang akan dimasukan ke dalam surga dan dijauhkan dari api neraka.
Kemudian beliau juga menyebutkan dalam penjelasan hadīts ini, bahwasanya orang yang dia telah melakukan hal tersebut yaitu menjalankan yang wajib, meninggalkan yang haram maka dia telah berhak untuk dinamakan sebagai seorang muslim atau seorang mukmin dan dia termasuk kategori orang-orang yang bertaqwa.
Demikian faedah yang bisa kita ambil dari hadīts ini, in syā Allāh kita lanjutkan lagi pada halaqah berikutnya.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت نستغفرك وأتوب إليك
_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ; 0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA
▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*
📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda.*
Contoh : 100.025
_____________________
Akhlak dan Adab yang Paling Utama
Akhlak dan Adab yang Paling Utama
Ketika kita mendengar kata "Akhlak dan Adab", maka yang terlintas adalah tata pergaulan kita terhadap sesama makhluk dengan baik.
Benar, ini merupakan bagian diantaranya.
Tapi ada yang *lebih utama* dan *harus kita utamakan* sebelum kepada yang lainnya.
Karena *Hak-Hak-Nya begitu Agung* untuk seorang hamba.
*Berakhlak dan Beradab kepada Sang Khalik Rabbuna Tabaaraka wa Ta'aalaa*.
Dialah Pencipta kita
Pemelihara kita
Pemberi hidayah
Pemberi pertolongan
Pemberi rizki
Serta kepada-Nya kita akan kembali.
Kasih sayang-Nya begitu besar kepada kita
Nikmat-Nya yang tak terhingga
Pemaaf walaupun dimaksiati
Terus Memberi walaupun diingkari
Luas rahmat dan ampunan-Nya serta Mencintai orang yang kembali kepada-Nya
Dan Sifat-Sifat Kesempurnaan lainnya yang sesuai dengan Keagungan-Nya.
Tapi...
Bagaimanakah timbal balik kita terhadap kebaikan-kebaikan Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa
Walaupun Allah Tabaaraka wa Ta'aalaa Maha Kaya, Maha Sempurna, tidak membutuhkan ibadahnya seorang hamba
Tapi kita lah yang butuh kepada Allah 'Azza wa Jalla
Sejauh mana sambutan kita terhadap perintah-perintah-Nya
Ketaatan kita untuk menjauhi larangan-larangan-Nya
Seberapa besarkah pengagungan kita terhadap Kebesaran dan Kekuasaan-Nya
Allahul Musta'an...
Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa berfirman :
{ وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ...َ }
"Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya..."
[QS. Az-Zumar ayat 67]
Mari kita mengambil pelajaran dan bercermin dari sekitar kita
Perhatikanlah, bagaimana bentuk *pengagungan makhluk Allah yang lainnya terhadap Kekuasaan dan Kebesaran-Nya*
Allah Jalla wa 'Alaa berfirman :
{ أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ ۗ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ ۩ }
"Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa *kepada Allah bersujud* apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar dari manusia ? *Dan banyak dari manusia yang telah di tetapkan azab atasnya*. Dan barangsiapa yang menghinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang dikehendaki."
[QS. Al-Hajj ayat 18]
Dalam ayat yang lain Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa berfirman :
{ أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ ۖ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ }
Tidakkah kamu tahu bahwasannya Allah: *kepada-Nya bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi* dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. *Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya*, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan."
[QS. An-Nur ayat 41]
Allahu Akbar...
Malulah rasanya kita yang Allah Muliakan dengan akal dan nikmat lainnya yang begitu besar
Belum bisa mengagungkan kebesaran-Nya, belum bisa menunaikan Hak-Hak-Nya sebagaimana mestinya !!!
Hanya kepada Allah saja-lah kita memohon Rahmat dan Ampunan dari-Nya
Serta terus memohon limpahan taufiq dan hidayah-Nya untuk berusaha mencapai ridha-Nya.
Aamiin.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد
Al Faqir Ilaa Rahmati Rabbih
Kota Nabi صلى الله عليه وسلم
Kamis ba'da fajr,, 12/07/1439 H.
Rabu, 28 Maret 2018
Menuntut Ilmu Lebih Utama dari Ibadah yang disunnahkan
Tentang Nasehat Berharga dan Bermanfaat yang disampaikan Fadhilatus Syaikh DR. *Shalih Al 'Ushaimi* hafidzahullah (Salah Satu Ulama Besar dan Pengajar di Masjidil Haram serta Masjid Nabawi)
*Menuntut Ilmu Lebih Utama dari Ibadah yang disunnahkan*
○ Jumhur (mayoritas) Ulama telah menetapkan bahwa *menuntut ilmu serta menyibukkan dengannya* itu *lebih utama* dari menyibukkan dengan ibadah yang hukumnya sunnah (anjuran) dilihat dari beberapa tinjauan.
Sebagaimana hal ini disampaikan oleh Al 'Allamah *Ibnul Jama'ah Al Kinani As Syafi'i* rahimahullah (wafat 733 H) dalam kitabnya Tadzkiratus Saami' wal Mutakallimin fii Aadaabil Ilmi wal Muta'allim, antara lain :
*1)*. Kemanfaatan ilmu sifatnya menyebar untuk yang lainnya
Adapun ibadah yang disunnahkan itu (mayoritasnya) terbatas pada pelakunya saja.
*2)*. Ilmu sebagai pelurus amal yang disunnahkan tersebut, baik berupa shalat, dzikir dan yang lainnya.
Jadi ibadah yang disunnahkan ini membutuhkan keberadaan ilmu dalam meluruskan tata cara pelaksanaannya
Serta untuk mengetahui apakah ibadah tersebut disyari'atkan atau tidak.
*3)*. Orang-orang yang berilmu (Ulama) adalah pewaris para Nabi.
*4)*. Keta'atan kepada orang yang berilmu itu *wajib*, maksudnya ta'at terhadap ilmu dan kebenaran yang ia sampaikan.
Sebagaimana firman Allah 'Azza wa Jalla :
{ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ }
" Maka bertanyalah kepada *orang yang mempunyai pengetahuan* jika kamu tidak mengetahui".
[Surat An-Nahl 43]
Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa Memerintahkan untuk bertanya kepada Ahli Ilmu, yang otomatis diperintahkan juga *untuk menta'ati kebenaran yang mereka sampaikan*.
Begitu pula dengan firman Allah Tabaaraka wa Ta'aalaa :
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ }
" Hai orang-orang yang beriman ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul-Nya, dan *Ulil Amri* diantara kamu".
[QS. An-Nisa' ayat 59]
Diantara makna Ulil Amr itu mencakup didalamnya *Ulama*, sebagaimana pendapat ini dipilih oleh Ahli Ilmu yang terpercaya.
*5)*. Peninggalan dari ilmu itu sifatnya tetap dan terus mengalir walaupun yang mengemban ilmu tersebut telah meninggal
Berbeda dengan ibadah yang disunnahkan yang *mayoritasnya* terputus setelah pelakunya meninggal
Walaupun ada beberapa ibadah yang disunnahkan yang tetap dan terus mengalir walaupun pelakunya telah meninggal.
Tapi kedudukan dan peninggalan ilmu lebih dominan dan lebih kuat.
Sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :
(( إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَع عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ : .... أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ...))
"Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal : ....atau *ilmu yang bermanfaat*..."
[HR. Imam Muslim no. 1631, dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu]
*6)*. Dengan tetapnya ilmu, maka menjadi sebab tegaknya Syari'at serta penjagaan terhadapnya.
Barangsiapa yang membantu untuk menjaga serta menjadi sebab tegaknya Syari'at tersebut, maka kedudukannya lebih besar daripada orang yang melaksanakan hal selainnya.
--------------------------
*Faidah*
Imam *As Syafi'i* rahimahullah (wafat 204 H) berkata :
لَيْسَ بَعْدَ أَدَاءِ الْفَرَائِضِ شَيْءٌ أَفْضَلُ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ
" *Tidak ada yang lebih utama setelah seseorang melaksanakan ibadah yang difardhukan (diwajibkan) selain menuntut ilmu* "
[Kitab Al Madkhal, karya Imam Al Baihaqi rahimahullah (wafat 458 H), halaman 475]
نسأل الله التوفيق والإخلاص والقبول
وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
Al Faqir Ilaa Rahmati Rabbih
Kota Nabi صلى الله عليه وسلم
Rabu ba'da fajr, 11/07/1439 H.
KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 3
Rabu, 10 Rajab 1439 H / 28 Maret 2018 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 003| Hadits 03
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H003
〰〰〰〰〰〰〰
*KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 3*
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد
Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.
Ini adalah halaqah kita yang ke-3 dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' Al Akhyār) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh.
Pada pertemuan kita kali ini, kita akan membahas hadīts dari Tamīm Ad Darīy radhiyallāhu ta'āla 'anhu.
عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : اَلدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، قَالُوْا: لِمَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ: ِللهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَِلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ أَوْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ.
_Dari Tamīm Ad Darīy radhiyallāhu ta'āla 'anhu berkata: Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:_
_"Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat."_
_Mereka (para shahābat) bertanya:_
_"Untuk siapa, wahai Rasūlullāh?"_
_Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menjawab:_
_"Untuk Allāh, Kitāb-Nya, Rasūl-Nya, Imām kaum Muslimin atau Mukminin, dan bagi kaum Muslimin pada umumnya."_
(Hadīts riwayat Muslim)
Hadīts ini merupakan hadīts yang mulia yang di dalamnya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan tentang kandungan dari syari'at Islām.
Beliau menyatakan bahwasanya agama Islām ini isinya adalah nasehat (kata "untuk" di sini maksudnya adalah "tentang"). Nasehat tentang hak-hak yang wajib untuk dipenuhi oleh kaum muslimin.
Beliau menekankan hal ini hingga mengucapkannya 3 (tiga) kali.
اَلدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ
Di sini menunjukkan tidak ada keraguan lagi, bahwasanya agama ini berisi tentang nasehat-nasehat yang berharga.
Para shahābat ketika itu menanyakan hak-hak apa saja yang dinasehatkan oleh syari'at Islām supaya dipenuhi oleh kaum muslimin.
Maka ada 5 (lima) hal yang beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) sebutkan dalam hadīts ini.
Penulis menjelaskan:
⑴ Nasehat tentang Allāh نَّصِيْحَةُ لله
Yaitu:
√ Meyakini tentang ke-Esa-an Allāh, serta sifat-sifat mulia yang Maha Agung, yang hanya dimiliki oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
√ Menjalankan ibadah secara zhāhir dan bathin hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Dengan menunaikan kewajiban dan menjauhi perkara-perkara yang Allāh haramkan.
⑵ Nasehat tentang kitābullāh (نَّصِيْحَةُ لِكِتَابِ الله)
Nasehat tentang kitābullah maknanya adalah dengan menjaga, dengan menghapal dan mentadabburi kitābullāh serta mempelajari makna-maknanya dan juga mengamalkan kandungan-kandungan yang terdapat di dalamnya.
⑶ Nasehat tentang Rasūlullāh (نَّصِيْحَةُ لِرَسُوْلِ)
Nasehat tentang hak Rasūlullāh yaitu dengan:
√ Mengimāni kerasūlan Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam.
√ Mencintai Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam.
√ Menjadikan Beliau tauladan di dalam beragama.
√ Mengedepankan ucapan Beliau dibandingkan ucapan-ucapan manusia yang lain.
⑷ Nasehat tentang hak pemimpin-pemimpin kaum muslimin (نَّصِيْحَةُ لأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ أَوْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ)
Adapun nasehat tentang hak pemimpin-pemimpin kaum muslimin maka beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) jelaskan di sini yang termasuk āimatul muslimin adalah pemimpin yang tertinggi ataupun pemimpin-pemimpin pada wilayah tertentu.
Setiap orang yang dia diserahkan kepemimpinan, baik secara kepemimpinan umum atau kepemimpinan yang khusus (terbatas), maka dia memiliki hak yang harus ditunaikan atau dipenuhi oleh kaum muslimin.
Apa saja hak-hak mereka?
Hak-hak mereka adalah:
√ Hak untuk didengar dan ditaati aturan-aturannya.
√ Memberikan nasehat kepada mereka dengan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka dan juga bagi rakyat yang mereka pimpin.
√ Serta agar mereka menunaikan kewajiban yang seharusnya mereka jalankan.
⑸ Nasehat terhadap kaum muslimin pada umumnya (نَّصِيْحَةُ لعَامَّتِ الْمُسْلِمِيْنَ)
Maka Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) sebutkan yaitu dengan cara;
√ Mencintai kaum muslimin sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.
√ Dia memperlakukan kaum muslimin sebagaimana dia memperlakukan dirinya sendiri.
√ Dia cinta untuk memberikan kepada kaum muslimin sesuatu yang dia cinta kalau dia diberikan,
√ Dia benci menimpakan sesuatu kepada kaum muslimin sebagaimana dia benci akan ditimpa perkara tersebut.
⇒ Ini merupakan hak terhadap kaum muslimin secara umum.
Ini beberapa makna dari nasehat terhadap hak-hak yang disebutkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam di dalam hadīts yang mulia ini.
Demikian yang bisa kita kaji pada halaqah kita kali ini, in syā Allāh kita lanjutkan lagi pada pertemuan berikutnya.
وصل الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ; 0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA
▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*
📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda.*
Contoh : 100.025
_____________________
PERANG BADR KUBRA
*Latar belakang Peperangan*
Ketika terjadi perang Dzil Usyairah, diceritakan kafilah Quraisy setelah lolos dari pengejaran Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam keberangkatan menuju Syam. Menjelang kepulangan mereka dari Syam ke Mekkah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengutus Thalhah bin Ubaidillah dan Said bin Zaid ke arah utara untuk mengetahui beritanya. Sampailah keduanya di Al Hauraa dan tinggal di sana sampai melihat Abu Sufyan berserta kabilahnya telah melewatinya. Kemudian mereka bergegas menuju Madinah dan menginformasikan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Kafilah tersebut membawa harta kekayaan yang besar nilainya. Ada 1000 onta penuh muatan barang barang berharga yang nilainya tidak kurang dari 50.000 Dinar emas. Kafilah itu hanya dikawal oleh sekitar 40 orang.
Semua itu merupakan kesempatan emas bagi pasukan Madinah, serta pukulan militer dan siasat ekonomi yang menentukan terhadap kaum musyrikin jika mereka kehilangan harta kekayaan bernilai besar itu. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyatakan kepada kaum muslimin.
_"Inilah kafilah Quraisy, membawa harta kekayaan mereka. Berangkatlah menghalang mereka, mudah-mudahan Allah memberikan harta itu kepada kalian."_
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak memaksakan kepada siapa pun untuk ikut berangkat dalam perang tersebut, tetapi beliau menyerahkan perkara ini kepada kemauan masing-masing. Sebab tidak terlintas dalam pikiran beliau bahwa beliau akan berhadapan dengan pasukan Mekah sebagai pengganti dari kafilah dalam pertempuran yang dahsyat di Badr. Oleh karena itu banyak para sahabat di Madinah yang tidak ikut dalam peperangan itu mereka mengira bahwa keberangkatan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam hal itu tidaklah jauh berbeda dengan ekspedisi-ekspedisi sebelumnya. Oleh karena itu ketidak ikut sertaan seseorang dalam peperangan tersebut tidaklah dipermasalahkan.
Kita lanjutkan kisahnya besok. Insya Allah.
📚 Dari berbagai sumber: _Sirah nabawiyah. Syaikh Shafiyyur Rahman al Mubarakfurry_
Selasa, 27 Maret 2018
KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 2
Selasa, 09 Rajab 1439 H / 27 Maret 2018 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 002| Hadits 02
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H002
〰〰〰〰〰〰〰
*KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 2*
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد
Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.
Ini adalah halaqah kita yang ke-2, dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhyār) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh.
Pada halaqah ini kita akan membahas hadīts yang kedua yang disampaikan oleh penulis yaitu hadīts dari 'Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā. Beliau berkata:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم" مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ او مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
_Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:_
_“Barangsiapa mengada-ada sesuatu yang baru di dalam perkara agama kami yang bukan berasal dari agama kami atau barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang bukan dari agama kami, maka amalan tersebut tertolak."_
(Hadīts riwayat Imām Bukhāri dan Muslim)
Hadīts ini termasuk hadīts yang mulia, yang disebutkan oleh para ulamā yang merupakan tolak ukur diterimanya suatu amalan, sebagaimana pada hadīts sebelumnya merupakan tolak ukur diterima amalan ditinjau dari sisi niat orang yang melakukannya.
Adapun hadīts kedua ini merupakan tolak ukur diterimanya suatu amalan dilihat dari sisi zhāhirnya.
Karenanya para ulamā telah menyebutkan syarat terima suatu amalan ada dua, yaitu:
⑴ Ikhlās di dalam melakukan amalan tersebut.
⑵ Mutāba'ah mengikuti tuntunan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam di dalam mengamalkan amalan tersebut.
Apabila kurang salah satu dari dua syarat ini maka amalan tersebut tidak diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Seperti:
Orang yang dia beramal tetapi tidak ikhlās maka amalannya tidak diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Begitu juga orang yang dia beramal satu amalan dengan ikhlās akan tetapi dia menyelisihi tuntunan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam mengerjakan amalan tersebut, maka amalan tersebut juga tertolak sebagaimana disebutkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam di dalam hadīts ini:
فَهُوَ رَدٌّ,
_"Amalan tersebut tertolak."_
Maka ada beberapa faidah yang bisa kita ambil dari hadīts ini, di antaranya:
⑴ Wajibnya mengikuti tuntunan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam di dalam beramal. Baik itu amalan yang sifatnya kauliyyah (amalan lisan) ataupun amaliyyah (anggota badan).
⑵ Segala amalan yang baru, yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam maka amalan tersebut tertolak.
⑶ Suatu amalan yang dilakukan dengan cara yang dilarang secara syari'at maka amalan tersebut adalah amal yang fāsiq.
Amal yang fāsiq adalah amal yang rusak (yaitu) amal yang tidak diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Demikian yang bisa kita kaji pada kesempatan kita kali ini, in syā Allāh kita lanjutkan lagi pada halaqah berikutnya.
وصل الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ; 0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA
▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*
📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda.*
Contoh : 100.025
_____________________
Hikmah di balik Musibah dan Kesulitan
Tentang Nasehat Berharga dan Bermanfaat yang disampaikan oleh Samahatus Syaikh DR. *Shalih Al Fauzan* hafidzahullah (Salah Satu Ulama Besar dan Anggota Komisi Fatwa)
*Hikmah Dibalik Musibah dan Kesulitan*
○ Diantara hikmah dibalik musibah dan kesulitan bagi seseorang itu antara lain :
*-* Menjadi lebih dekat dengan Allah 'Azza wa Jalla dan kembali kepada-Nya dalam menyandarkan urusannya.
*-* Semakin tunduk merendahkan diri serta bersimpuh lemah di hadapan-Nya
*-* Banyak berdo'a dan memohon kepada-Nya
*-* Menjadikan hatinya lebih mencintai keta'atan (terutama do'a dan ketundukan di hadapan Allah)
Yang *semua kebaikan hal tersebut kembali kepadanya*.
Allah Tabaaraka wa Ta'aalaa berfirman :
{ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ َ}
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu".
[QS. Al-Baqarah ayat 216]
○ Seorang penyair berkata :
وَجَزَى اللهُ الشَّدَائِدَ كُلَّ خَيْرٍ
بِهِنَّ عَرَفْتُ عَدُوِّيْ مِنْ صَدِيْقِيْ
Semoga Allah Membalas kebaikan setiap kesulitan
Karena dengan sebabnya, saya mengetahui mana musuh dan mana temanku
○ Semua orang mengaku teman ketika keadaanmu senang
Akan tetapi, engkau akan mengetahui siapa *teman yang sebenarnya ketika keadaanmu dalam kesulitan*.
Seorang penyair berkata :
وَمَا أَكْثَرَ الْإِخْوَانَ حِيْنَ تَعُدُّهُمْ
وَلَكِنَّهُمْ فِيْ النَّائِبَاتِ قَلِيْلُ
Begitu banyaknya teman ketika engkau menghitung mereka
Tapi mereka menjadi sedikit ketika engkau dalam keadaan susah.
○ Disebutkan dalam hadits :
(( قَالَ لِيْ جِبْرِيْلُ : " يَا مُحَمَّدُ عِشْ مِا شِئْتَ فَإِنَكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُلَاقِيْهِ ))
"Jibril ('Alaihis salam) berkata kepadaku :" Wahai Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa sallam) !
- Hiduplah sesukamu, karena sungguh engkau akan mati
- Cintailah siapa yang engkau suka, karena sungguh engkau pasti akan berpisah dengannya
- Berbuatlah sesukamu, karena sungguh engkau akan menemui (balasan) perbuatanmu itu".
[HR. Imam Thayalisi, dari Sahabat Jabir radhiyallahu 'anhu, serta dihasankan oleh Syaikh Albani rahimahumullah dalam Shahihul Jami' no 4355].
نسأل الله التوفيق والإخلاص والقبول
وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
Al Faqir Ilaa Rahmati Rabbih
Kota Nabi صلى الله عليه وسلم
Selasa ba'da fajr, 10/07/1439 H.
Senin, 26 Maret 2018
KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 1
Senin, 08 Rajab 1439 H / 26 Maret 2018 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 001| Hadits 01
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H001
〰〰〰〰〰〰〰
*KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 1*
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين، اما بعد
Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.
Ini adalah halaqah pertama kita, dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār) yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh.
Pada halaqah yang pertama ini, kita akan membahas hadīts pertama yang disampaikan beliau di dalam kitāb ini, yaitu hadīts dari 'Umar bin Khaththāb radhiyallāhu ta'āla 'anhu.
عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
_'Umar bin Khaththāb Radhiyallāhu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:_
_"Sesungguhnya amalan-amalan itu ada dengan niat dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allāh dan Rasūl-Nya, maka hijrahnya tersebut adalah kepada Allāh dan Rasūl-Nya, dan barangsiapa hijrahnya kepada perkara dunia yang akan dia dapatkan atau wanita yang akan dia nikahi, maka hijrahnya adalah kepada tujuan dia berhijrah."_
(Hadīts riwayat Imām Bukhāri nomor 6689 dan Muslim nomor 1907)
Beliau mengatakan bahwa hadīts ini termasuk dari hadīts yang mulia di dalam perkara agama. Hadīts ini merupakan mizān bagi amal bathin (tolak ukur bagi amalan secara bathin), karena hadīts ini berbicara tentang suatu amalan hati yang penting yaitu niat.
Maka beliau menyebutkan yang dimaksud dengan niat adalah:
النية هي القصد للعمل تقربا إلى الله وطلبا لمرضاته وثوابه.
_"Niat adalah tujuan seorang didalam beramal dalam rangka bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla serta mengharapkan keridhāan dan pahala dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla."_
Oleh karena itu istilah niat mencakup dua hal, yaitu:
⑴ Niyatul amal (tujuan beramal)
Apakah seorang melakukan suatu amalan untuk ibadah atau sekedar rutinitas?
⑵ Niyatul ma'mul lahu (untuk siapa seorang itu beramal)
Apakah amalan yang dia lakukan dari ibadah yang dia lakukan karena Allāh atau karena sesuatu yang lain.
Maka hadīts ini menyebutkan bahwasanya amalan apapun tidak lepas dari niat. Dan seorang yang beramal dia akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.
Beliau contohkan mandi.
Adakalanya orang melakukan mandi, niatnya sekedar untuk mendinginkan badan atau membersihkan badan dari kotoran dan bisa jadi mandi itu bernilai ibadah ketika dia berniat untuk menghilangkan hadats akbar sehingga mandinya menjadi mandi wajib, itu adalah contoh seorang berniat di dalam melakukan suatu amalan.
Maka mandi yang dilakukan ketika dia harus menghilangkan hadats, harus diiringi dengan niat menghilangkan hadats akbar, bukan sekedar niat untuk mendinginkan badan atau membersihkan badan dari kotoran.
Selain itu, amalan seorang juga tidak diterima oleh Allāh kecuali dengan ikhlās. Ini makna niat yang kedua.
Yaitu untuk siapa dia beramal sehingga amal ibadah apabila dia lakukan tetapi bukan untuk Allāh, untuk perkara dunia atau hal sesuatu selain Allāh maka tidak akan diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Dan suatu amalan rutinitas bila dilakukan karena mengharapkan pahala dari Allāh maka dia mendapatkan ganjaran pahala meskipun itu pada asalnya adalah suatu amalan yang sifatnya rutinitas harian.
Seperti beliau contohkan yaitu makan, minum.
Apabila dilakukan dengan niatan membantu dia di dalam melalukan ketaatan kepada Allāh maka rutinitas itu berubah menjadi ibadah.
Dari sini kita ketahui bahwasanya seorang yang dia melakukan amalan apapun maka hendaknya dia menghadirkan niat di dalam hatinya.
Karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam telah bersabda:
وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
_"Dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan."_
Demikian faedah yang bisa kita ambil dari hadīts yang mulia ini, in syā Allāh kita lanjutkan lagi pada halaqah berikutnya.
وصل الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ; 0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA
▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*
📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda.*
Contoh : 100.025
_____________________
Rabu, 14 Maret 2018
TAQWA
بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله.
Amirul Mukminin *Umar bin Al Khattab* (Al Faruq) radhiyallahu 'anhu berkata :
*"Kami sebagai kaum yang Allah telah Muliakan dengan Islam, apabila kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Allah Berikan kehinaan."*
Bangsa Arab itu tidak mempunyai kemuliaan kecuali mulia *dengan Islam*.
Tidaklah pantas berbangga hati karena sebab keturunan arab, tidak pula karena panggilan arab.
Keturunan itu tidaklah berharga baik yang arab atau selainnya
Kemulian keturunan itu tidaklah diraih kecuali *dengan bertaqwa* kepada Allah.
Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa berfirman :
{ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ }
"Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah *orang yang paling bertaqwa* diantara kamu."
[QS. Al-Hujurat ayat 13]
Maka kesudahan yang baik itu bagi orang-orang yang bertaqwa
Kemulian dan keutamaan di sisi Allah itu dengan ketaqwaan
Surga itu diraih dengan ketaqwaan
Kemuliaan itu diraih dengan ketaqwaan
Maka setiap urusan pokok utamanya itu dengan ketaqwaan kepada Allah Tabaaraka wa Ta'aalaa.
[Syarh Shahih Muslim, oleh Fadhilatis Syaikh Prof. DR. Ibrahim Ar Ruhaily hafidzahullah (Pengajar di Masjid Nabawi)]
t.me/rehyli
وبالله التوفيق
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد
SELALU MERASA BUTUH KPD ALLOH SWT
بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله.
Selalu Merasa Butuh Kepada Allah
Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah (wafat tahun 620 H) memberikan wasiat, seraya berkata :
"Ketahuilah bahwa orang yang berada diatas perahu di tengah lautan tidak lebih butuh kepada Allah dan Kasih Sayang-Nya dari orang yang berada di rumah bersama keluarganya.
Apabila engkau tanamkan hal ini di dalam hatimu, maka bergantunglah selalu kepada Allah sebagaimana merasa butuhnya seorang yang sedang tenggelam yang tidak tahu sebab keselamatan baginya kecuali dari Allah."
[Al Washiyyatul Mubaarakah libni Qudaamah, hlm 40]
------------------------------
Salah satu Nama Allah Yang Mulia : *الصَّمَد* (As Shamad)
Diantara maknanya yaitu Allah Yang Maha Kaya dan Maha Berkuasa kepada-Nya bergantung seluruh makhluk.
Maka mintalah selalu pertolongan dari-Nya dalam segala urusan kita
Urusan besar ataupun kecil, hingga yang kita anggap sepele sekalipun.
Dalam semua keadaan, baik ketika sempit dan mendesak ataupun dalam keadaan lapang dan aman
Tanamkanlah bahwa tidak ada yang bisa memudahkan segala urusan kecuali atas pertolongan Allah.
Semakin kita dekat dan selalu merasa butuh kepada Allah, semakin banyak kita memohon kepada-Nya
Sedangkan Allah Senang terhadap hamba-Nya yang selalu meminta dan banyak berdo'a kepada-Nya.
نسأل الله التوفيق
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد
Alfaqir Hasanuddin Misbah
Kota Nabi صلى الله عليه وسلم
Rabu ba'da dzuhur, 26/06/1439 H.
Selasa, 13 Maret 2018
MACAM MACAM ORANG DALAM MENINGGALKAN YANG HARAM
بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله.
*Macam-Macam Keadaan Seseorang Dalam Meninggalkan yang Haram*
*Keadaan Pertama* :
Seseorang meninggalkan yang haram *karena Allah*, yaitu ia sengaja meninggalkannya ikhlas karena Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa.
Maka *ia mendapatkan pahala* di sisi Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
Contoh keadaan ini ialah kisah tiga orang yang mencari perlindungan ke dalam gua, lalu tertutuplah mulut gua dengan batu besar sehingga mereka terkurung di dalamnya.
Satu diantara mereka pernah ada kesempatan untuk berbuat keji terhadap anak perempuan pamannya, kemudian ia tinggalkan perbuatan haram tersebut karena Allah, Maka ia mendapat pahala di dunia sebelum pahala nanti di akhirat.
*Keadaan Kedua* :
Seseorang meninggalkannya *karena riya*, yaitu ia tampakkan dalam meninggalkannya ketaqwaan dan sifat wara (berhati-hati), padahal maksudnya hanya ingin dipuji.
Maka keadaan seperti ini *tidak mendapatkan pahala*, *bahkan ia berdosa*; karena seperti yang telah menjadi sebuah kaidah bahwa meninggalkan sesuatu dengan sengaja karena ada maksud itu sebuah perbuatan.
Sedangkan sebuah perbuatan jika hal tersebut termasuk ibadah, maka harus di maksudkan karena Allah.
Tidak diragukan lagi bahwa meninggalkan yang haram itu sebuah ibadah
Oleh karena itu, barangsiapa yang melaksanakan hal tersebut karena ingin pujian manusia, maka ia telah berbuat dosa yang besar.
*Keadaan Ketiga*:
Seseorang meninggalkan yang diharamkan *tidak karena Allah serta tidak karena manusia*, akan tetapi *karena sebab yang dibolehkan*.
Contohnya yaitu orang yang meninggalkan haram karena khawatir dicemooh oleh manusia, atau karena sebab kesehatannya, atau karena sebab hartanya, dan sebab yang lainnya.
Yang benar dalam hal ini bahwa *ia tidak diberi pahala serta tidak berdosa*; dikarenakan tidak ada sebab yang membuatnya diberi pahala atau membuatnya jadi berdosa.
*Keadaan Keempat* :
Seseorang meninggalkan yang diharamkan *tanpa sebab*; karena memang tidak terbersit apa-apa dalam dirinya serta tidak ada keinginan untuk berbuat haram.
Keadaan seperti ini juga *tidak diberi pahala dan tidak berdosa*.
[Syarh Qawaa'idil Ushuuli wa Ma'aaqidil Fushuul; oleh Fadhilatus Syaikh Prof. DR. Shalih Sindi hafidzahullah (pengajar di Masjid Nabawi), di majlis yang keempat: 29/1/1437 H ]
http://t.me/Drsalehs
وبالله التوفيق
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد
BELAJAR ILMU SYAR'I
بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله.
BELAJAR ILMU SYAR'I DASAR
Seri : AQIDAH (12)
-----------------------------
Sebutkan Dalil *Rukun Islam* ?
Jawab :
Hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat *Ibnu Umar* radhiyallahu 'anhuma dalam Shahih Imam Bukhari dan Imam Muslim rahimahumallah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
(( بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجُ الْبَيْتِ، وَصَوْمُ رَمَضَانَ ))
" *Islam itu dibangun* diatas lima hal :
(1). Persaksian bahwa tidak ada Ilah yang hak diibadahi kecuali Allah
Dan sesungguhnya (Nabi) Muhammad (shallallahu 'alaihi wa sallam) itu utusan Allah.
(2). Mendirikan Shalat
(3). Menunaikan Zakat
(4). Berhaji ke Baitullah
(5). Shaum Ramadhan
[HR. Imam Bukhari no. 8, Imam Muslim no. 19]
*Penjelasan*
○ Menunjukkan *besarnya kedudukan* kelima hal yang disebutkan di dalam hadits, karena Islam terbangun diatasnya.
Sebagaimana sebuah bangunan tidak bisa tegak kecuali diatas tiang-tiangnya, maka begitupun *Agama Islam tidak akan tegak kecuali dengan kelima tiang tersebut*.
Pengkhususan kelima rukun ini menunjukkan bahwa *kelima hal tersebut merupakan pokok* dibandingkan dengan yang lainnya yang merupakan bagian yang menginduk kepada kelima rukun tersebut.
○ *Syahadatain* merupakan rukun islam yang *pertama* dan yang *paling utama*
Karena *rukun-rukun yang lain menginduk kepadanya*
*Tidaklah bernilai rukun-rukun yang lainnya* kecuali harus dibangun diatas keduanya
Kedua-duanya harus ada, tidak bisa terpisah satu sama lain.
Karena konsekwensi dari Syahadatain itu :
Laa ilaaha illallah : *Ikhlas*
Muhammadur Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam : *Mutaba'ah*
Yaitu tidaklah diterima segala bentuk ibadah seseorang kecuali harus memenuhi dua syarat tersebut.
○ *Shalat* merupakan rukun terpenting setelah syahadatain.
Karena ia adalah tiang-tiang Islam, syari'at terakhir yang akan hilang dari agama ini serta amal hamba yang pertama yang akan dihisab pada hari Kiamat.
Ia juga jadi pembeda antara seorang muslim dan orang kafir.
Mendirikan shalat itu ada dua tingkatan :
1. *Tingkatan wajib*, yaitu batasan minimal seseorang melaksanakannya, dengan menunaikan hal yang diwajibkan dan ia sudah terlepas dari beban kewajiban.
2. *Tingkatan yang disunnahkan*, yaitu menyempurnakannya dengan hal yang dianjurkan.
○ *Zakat* yang selalu bergandengan dengan kewajiban shalat.
Sebuah *ibadah harta* yang kemanfaatannya menyebar kepada yang lainnya.
○ *Shaum Ramadhan* sebuah *ibadah badan*.
Merupakan *ibadah yang rahasia* dan tersembunyi antara hamba dengan Rabbnya.
Tidak ada yang mengetahui seorang hamba sedang shaum atau tidak kecuali Allah Jalla wa 'Alaa.
○ *Haji* ke Baitullahil Haram merupakan *ibadah harta dan badan*.
Diwajibkan sekali dalam seumur hidup.
Diantara keutamaan haji mabrur itu tidak ada balasan baginya kecuali surga.
○ Riwayat lain dalam Shahih Imam Muslim menyebutkan urutan Shaum Ramadhan terlebih dahulu sebelum Haji ke Baitullah.
○ Kelima rukun tersebut disebutkan berurutan sesuai berdasarkan urutan keutamaanya.
*Syahadatain* yang merupakan pokok landasan setiap amal shaleh (yang harus selalu menyertainya setiap saat dalam beribadah)
Kemudian *Shalat* yang dilakukan lima kali dalam sehari semalam sebagai *Penghubung yang kuat* antara hamba dengan Rabbnya.
Kemudian *zakat* harta yang kemanfaatannya menyebar yang dikeluarkan ketika sudah haul (setahun).
Kemudian *shaum Ramadhan* sebagai ibadah badan yang kemanfaatannya tidak menyebar (seperti zakat) yang dilaksanakan satu bulan penuh dalam setahun.
Kemudian *Haji* yang diwajibkan hanya satu kali dalam seumur hidup.
[Disarikan dari kitab Fathul Qawiyyil Matiin fii Syarhil Arba'iina wa Tatimmatul Khamsin, karya Muhaditsul Madinah Syaikh Abdul Muhsin Al 'Abbad Al Badr hafidzahullah, hlm 29-33]
وبالله التوفيق
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد
Alfaqir Hasanuddin Misbah
Kota Nabi صلى الله عليه وسلم
Selasa waktu dhuha, 25/06/1439 H.
Kajian
IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH
🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah Fī...
hits
-
🌍 BimbinganIslam.com Jum’at, 09 Muharam 1439 H / 29September 2017 M 👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA 📗...
-
🌍 BimbinganIslam.com Rabu, 15 Syawwal 1440 H / 19 Juni 2019 M 👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc 📗 Kitab Bahja...
-
Tausiyah Bimbingan Islam: Kita mendengar ungkapan ini 'beristirahat dengan tenang', 'Rest In Peace', dll tersebar di kala...