Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Maret 2018

Belajar Ilmu Syar'i Dasar seri 25

بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله.

BELAJAR ILMU SYAR'I DASAR

Seri : AQIDAH (25)
-----------------------------

*Sebutkan Perintah Allah yang Teragung dan Larangan-Nya yang Terbesar ?*

Jawab :

○ Perintah Allah 'Azza wa Jalla yang teragung adalah *Tauhid*

Yaitu : إِفْرادُ اللهِ بِالْعِبَادَةِ

MengEsakan Allah dalam beribadah


○ Sebaliknya, sebesar-besar larangan-Nya adalah *Syirik*

Yaitu : دَعْوَةُ غَيْرِهِ مَعَهُ

Menyembah kepada selain Allah disertakan dalam menyembah-Nya

Atau dengan makna lain :
Menyekutukan Allah dengan yang lain-Nya dalam beribadah.


○ Dalilnya firman Allah Tabaaraka wa Ta'aalaa :

{ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا }

" Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya".

[QS An-Nisa' ayat 36]


Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman :

{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ}

" Dan Aku tidak Menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku".

[QS. Adz-Dzariyat ayat 56]


Makna { يَعْبُدُوْنِ } adalah يُوَحِّدُوْنِ yaitu Mentauhidkan-Ku.


[Disarikan dari kitab Tsalaatsatul Ushul, karya Imam Muhammad bin Sulaiman At Tamimi rahimahullah (wafat 1206 H), halaman 39 dari Mutun Thaalibil Ilmi]


أسأل الله العلم النافع والعمل الصالح والتوفيق والإخلاص والقبول

وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم


Al Faqir Ilaa Rahmati Rabbih
Hasanuddin Misbah
Kota Nabi صلى الله عليه وسلم
Sabtu Ba'da Dzuhur, 13/07/1439 H.

Selasa, 13 Maret 2018

BELAJAR ILMU SYAR'I

بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله.

BELAJAR ILMU SYAR'I DASAR

Seri : AQIDAH (12)
-----------------------------

Sebutkan Dalil *Rukun Islam* ?

Jawab :

Hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat *Ibnu Umar* radhiyallahu 'anhuma dalam Shahih Imam Bukhari dan Imam Muslim rahimahumallah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

(( بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجُ الْبَيْتِ، وَصَوْمُ رَمَضَانَ ))

" *Islam itu dibangun* diatas lima hal :

(1). Persaksian bahwa tidak ada Ilah yang hak diibadahi kecuali Allah

Dan sesungguhnya (Nabi) Muhammad (shallallahu 'alaihi wa sallam) itu utusan Allah.

(2). Mendirikan Shalat

(3). Menunaikan Zakat

(4). Berhaji ke Baitullah

(5). Shaum Ramadhan

[HR. Imam Bukhari no. 8, Imam Muslim no. 19]

*Penjelasan*

○ Menunjukkan *besarnya kedudukan* kelima hal yang disebutkan di dalam hadits, karena Islam terbangun diatasnya.

Sebagaimana sebuah bangunan tidak bisa tegak kecuali diatas tiang-tiangnya, maka begitupun *Agama Islam tidak akan tegak kecuali dengan kelima tiang tersebut*.

Pengkhususan kelima rukun ini menunjukkan bahwa *kelima hal tersebut merupakan pokok* dibandingkan dengan yang lainnya yang merupakan bagian yang menginduk kepada kelima rukun tersebut.

○ *Syahadatain* merupakan rukun islam yang *pertama* dan yang *paling utama*

Karena *rukun-rukun yang lain menginduk kepadanya*

*Tidaklah bernilai rukun-rukun yang lainnya* kecuali harus dibangun diatas keduanya

Kedua-duanya harus ada, tidak bisa terpisah satu sama lain.

Karena konsekwensi dari Syahadatain itu :

Laa ilaaha illallah : *Ikhlas*

Muhammadur Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam : *Mutaba'ah*

Yaitu tidaklah diterima segala bentuk ibadah seseorang kecuali harus memenuhi dua syarat tersebut.

○ *Shalat* merupakan rukun terpenting setelah syahadatain.

Karena ia adalah tiang-tiang Islam, syari'at terakhir yang akan hilang dari agama ini serta amal hamba yang pertama yang akan dihisab pada hari Kiamat.

Ia juga jadi pembeda antara seorang muslim dan orang kafir.

Mendirikan shalat itu ada dua tingkatan :

1. *Tingkatan wajib*, yaitu batasan minimal seseorang melaksanakannya, dengan menunaikan hal yang diwajibkan dan ia sudah terlepas dari beban kewajiban.

2. *Tingkatan yang disunnahkan*, yaitu menyempurnakannya dengan hal yang dianjurkan.

○ *Zakat* yang selalu bergandengan dengan kewajiban shalat.

Sebuah *ibadah harta* yang kemanfaatannya menyebar kepada yang lainnya.

○ *Shaum Ramadhan* sebuah *ibadah badan*.

Merupakan *ibadah yang rahasia* dan tersembunyi antara hamba dengan Rabbnya.

Tidak ada yang mengetahui seorang hamba sedang shaum atau tidak kecuali Allah Jalla wa 'Alaa.

○ *Haji* ke Baitullahil Haram merupakan *ibadah harta dan badan*.

Diwajibkan sekali dalam seumur hidup.

Diantara keutamaan haji mabrur itu tidak ada balasan baginya kecuali surga.

○ Riwayat lain dalam Shahih Imam Muslim menyebutkan urutan Shaum Ramadhan terlebih dahulu sebelum Haji ke Baitullah.

○ Kelima rukun tersebut disebutkan berurutan sesuai berdasarkan urutan keutamaanya.

*Syahadatain* yang merupakan pokok landasan setiap amal shaleh (yang harus selalu menyertainya setiap saat dalam beribadah)

Kemudian *Shalat* yang dilakukan lima kali dalam sehari semalam sebagai *Penghubung yang kuat* antara hamba dengan Rabbnya.

Kemudian *zakat* harta yang kemanfaatannya menyebar yang dikeluarkan ketika sudah haul (setahun).

Kemudian *shaum Ramadhan* sebagai ibadah badan yang kemanfaatannya tidak menyebar (seperti zakat) yang dilaksanakan satu bulan penuh dalam setahun.

Kemudian *Haji* yang diwajibkan hanya satu kali dalam seumur hidup.

[Disarikan dari kitab Fathul Qawiyyil Matiin fii Syarhil Arba'iina wa Tatimmatul Khamsin, karya Muhaditsul Madinah Syaikh Abdul Muhsin Al 'Abbad Al Badr hafidzahullah, hlm 29-33]

وبالله التوفيق
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد

Alfaqir Hasanuddin Misbah
Kota Nabi صلى الله عليه وسلم
Selasa waktu dhuha, 25/06/1439 H.

Sabtu, 20 Januari 2018

Silsilah Mengenal Allāh Ta'āla Halaqah 6 | Mengenal Allāh Ta'āla Sebagai Pencipta, Pemberi Rizki & Pengatur Alam Semesta Tidak Cukup

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 12 Rabi’ul Akhir 1439 H / 30 Desember 2017 M
👤 Ustadz Dr. 'Abdullāh Roy, MA
📗 Silsilah Mengenal Allāh Ta'āla
🔊 Halaqah 6 | Mengenal Allāh Ta'āla Sebagai Pencipta, Pemberi Rizki & Pengatur Alam Semesta Tidak Cukup.
-----------------------------------

MENGENAL ALLĀH TA'ĀLA SEBAGAI PENCIPTA, PEMBERI RIZKI & PENGATUR ALAM SEMESTA (SAJA) TIDAK CUKUP...

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Halaqah yang ke-6 dari Silsilah Mengenal Allāh adalah bahwasanya "Keyakinan Allāh sebagai Pencipta, Pemberi Rizki & juga Pengatur Alam Semesta (saja) tidaklah cukup untuk memasukkan seseorang ke dalam agama Islam."

Kaum muslimin meyakini bahwasanya Allāh sebagai Pencipta, Pemberi Rizki & juga Pengatur Alam Semesta adalah sebuah kewajiban, yang tidak sah keimanan seseorang sampai meyakini yang demikian itu.

Namun ini tidaklah cukup untuk memasukkan seseorang ke dalam agama Islam.

Dan belum bisa menjadi pembeda antara seorang yang muslim dengan orang yang kāfir.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengatakan di dalam Al-Qurān:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Allāh menceritakan tentang ucapan iblis.

Allāh berkata (kepada iblis):
"Apa yang mencegahmu untuk sujud kepada Adam? Ketika Aku memerintahkan kepadamu?"

Iblis mengatakan:
"Aku lebih baik daripada dia. Engkau telah menciptakan aku dari api & menciptakan dia dari tanah."
(QS. Al-A’rāf : 12)

Iblis mengenal bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang telah menciptakan dia.

Orang-orang musyrikin Quraisy ketika mereka ditanya:

"Siapa yang menciptakan, siapa yang memberikan rezeki kepada mereka dan siapa yang mengatur alam semesta ini?"

Mereka mengatakan: "Allah".

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللهُ

"Dan seandainya engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka 'Siapa yang menciptakan langit dan juga bumi?', niscaya mereka mengatakan 'Allāh'."
(QS Az-Zumār 38)

Meskipun mereka meyakini hal yang demikian itu akan tetapi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memerangi mereka.

Kenapa demikian?

Karena mereka (orang-orang musyrikin Quraisy) tidak mentauhidkan (tidak mengEsakan) Allāh Subhānahu wa Ta'āla di dalam beribadah.

Oleh karena itu, disini seorang Muslim perlu dia mengetahui apa pengertian ibadah & macam-macamnya sehingga dia tidak menyerahkan satu ibadah pun kepada selain Allāh.
Dan apakah yang dimaksud ibadah?

In syā Allāh akan kita bahas pada halaqah selanjutnya.

Itulah yang bisa kita sampaikan.

وبالله التوفيق والهداية
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaramu, 'Abdullāh Roy

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
_________________________

Silsilah Mengenal Allāh Halaqah 5 | Mengenal Allāh Sebagai Satu-Satunya Dzat Yang Berhak Untuk Disembah

🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 11 Rabi’ul Akhir 1439 H / 29 Desember 2017 M
👤 Ustadz Dr. 'Abdullāh Roy, MA
📘 Silsilah Mengenal Allāh
🔊 Halaqah 5 | Mengenal Allāh Sebagai Satu-Satunya Dzat Yang Berhak Untuk Disembah
-----------------------------------

MENGENAL ALLĀH TA'ĀLA SEBAGAI SATU-SATUNYA DZAT YANG BERHAK UNTUK DISEMBAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-5 dari Silsilah Mengenal Allāh berjudul "Mengenal Allāh Sebagai Satu-satunya Dzat Yang Berhak Untuk Disembah."

Apabila Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah satu-satunya Dzat yang mencipta, memberikan rezeki dan juga mengatur alam semesta, maka tuntutannya kita tidak boleh menyembah kecuali hanya kepada Allāh.

Tidak ada yang berhak disembah dan diibadahi kecuali Allāh Subhānahu wa Ta'āla semata.

Allāh berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (٢١) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٢٢)

"Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian, siapa Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertaqwa? Itulah Rabb kalian. Yang telah menjadikan bagi kalian bumi sebagai hamparan dan langit sebagai bangunan dan telah menurunkan dari langit air. Maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengeluarkan dengan air tersebut buah-buahan sebagai rezeki bagi kalian. Maka janganlah kalian menjadikan bagi Allāh sekutu-sekutu sedangkan kalian mengetahui."
(Al-Baqarah 21-22)

Maksudnya janganlah kalian menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta'āla (menyembah kepada selain Allāh) sedangkan kalian tahu bahwasanya Allāh yang mencipta, memberikan rezeki dan juga mengatur alam semesta ini.

Selain Allāh tidak berhak untuk disembah karena dia bukan pencipta, bukan pemberi rezeki dan bukan pengatur alam semesta.

Apabila mereka disembah maka mereka adalah sesembahan yang bathil.

ذَٲلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِ ٱلۡبَـٰطِلُ

"Yang demikian itu karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla Dialah sesembahan yang haq yang memang berhak untuk disembah. Sedangkan apa yang mereka sembah selain Allāh adalah sesembahan yang bathil, yang tidak berhak untuk disembah."
(Luqmān 30)

Apabila seseorang meyakini Allāh yang mencipta, memberikan rezeki dan juga mengatur alam semesta kemudian dia masih menyembah selain Allāh atau menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allāh, maka dia telah berbuat syirik kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla di dalam ibadah.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah ditanya oleh seorang sahabat:

"Ya Rasūlullāh, apa dosa yang paling besar di sisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla?"

Maka Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan :

أَنْ تَجْعَلَ لِلّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَك

"Dosa yang paling besar adalah engkau menjadikan sekutu bagi Allāh Subhānahu wa Ta'āla padahal Dialah Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang telah menciptakan dirimu."
(HR. Imam Al-Bukhāri dan Imam Muslim, dari shahābat Ibnu Mas'ūd radhiyallāhu 'anhumā).

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah yang ke-5 ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وبالله التوفيق والهداية
و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaramu, 'Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
_________________________

Silsilah Mengenal Allāh Halaqah 4 | Mengenal Allāh Sebagai Pengatur Alam Semesta

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 10 Rabi’ul Akhir 1439 H / 28 Desember 2017 M
👤 Ustadz Dr. 'Abdullāh Roy, MA
📘 Silsilah Mengenal Allāh
🔊 Halaqah 4 | Mengenal Allāh Sebagai Pengatur Alam Semesta
-----------------------------------

MENGENAL ALLĀH SEBAGAI PENGATUR ALAM SEMESTA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Dialah Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang mengatur alam semesta ini, mematikan makhluq & menghidupkan, memuliakan makhluq & menghinakan, mengganti siang menjadi malam, malam menjadi siang, menerbitkan matahari & menenggelamkan.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

ﻳُﺪَﺑِّﺮُ ﭐﻟۡﺄَﻣۡﺮَۖ

"Dialah Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang mengatur seluruh perkara." (QS. As-Sajdah:5)

Tidak ada yang mengatur selain Allāh, Dialah Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang menerbitkan matahari dari timur. Dan siapa selain Allāh yang bisa menerbitkan matahari dari barat.

Nabi Ibrāhīm 'alayhis salām berkata kepada salah seorang, yang dia mengaku menjadi Tuhan selain Allāh, beliau berkata:

"Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah menerbitkan matahari dari timur, maka silahkan engkau kalau engkau memang Tuhan, terbitkan matahari dari barat. Maka orang kafir tersebut tidak bisa berbuat apa-apa."

Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang menjadikan siang. Dan siapa yang mengganti siang menjadi malam selain Allāh.

Tidak ada yang mengatur alam semesta kecuali Allāh dan tidak ada sesembahan selain Allāh yang membantu Allāh untuk mengatur alam semesta ini.

Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh meyakini bahwasanya ada selain Allāh yang mencipta, memberikan rizki & juga mengatur alam semesta, siapapun dia & bagaimanapun kedudukannya di sisi Allāh.

Barangsiapa yang berkeyakinan bahwasanya ada selain Allāh yang mencipta, memberikan rezeki & juga mengatur alam semesta maka dia telah menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Itulah yang bisa kita sampaikan dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وبالله التوفيق والهداية
و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaramu, 'Abdullāh Roy

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
_________________________

Rabu, 27 Desember 2017

Silsilah Mengenal Allâh Ta'ala Halaqoh 2 | Mengenal Allāh Sebagai Pencipta

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 08 Rabi’ul Akhir 1439 H / 26 Desember 2017 M
👤 Ustadz Dr. 'Abdullāh Roy, MA
📗 Silsilah Mengenal Allâh Ta'ala
🔊 Halaqoh 2 | Mengenal Allāh Sebagai Pencipta
-----------------------------------

MENGENAL ALLAH  SEBAGAI PENCIPTA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-2 dari Silsilah kita yang berjudul Mengenal Allâh adalah "Mengenal Allâh Sebagai Pencipta".

Allāh 'Azza wa Jalla adalah Dzat Yang Maha Pencipta, menciptakan dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada.

Dialah Allāh yang telah menciptakan langit, bumi, manusia & seluruh alam semesta.

Allâh Subhānahu wa Ta'āla berfirman :

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

"Itu adalah Allāh Rabb kalian yang telah menciptakan segala sesuatu." (QS. Ghāfir : 62)

Dialah Allāh Al-Khāliq Yang Maha Pencipta, sedangkan selain Allah adalah makhluq yang diciptakan. Mereka tidak bisa mencipta meskipun diagung-agungkan dan disembah oleh manusia.

Allâh Subhānahu wa Ta'āla berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ الله لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ.

"Wahai manusia, telah dibuat perumpamaan bagi kalian maka hendaklah kalian mendengarnya, sesungguhnya segala sesembahan yang kalian sembah selain Allāh, tidak akan bisa menciptakan seekor lalat, meskipun mereka bersatu padu untuk membuat seekor lalat tersebut." (QS. Al-Hajj : 73)

Berkumpul saja mereka tidak mampu untuk mencipta, bagaimana dengan sendirian?

Menciptakan seekor lalat yang sedemikian sederhananya susunan tubuhnya, mereka tidak mampu maka bagaimana mereka bisa menciptakan makhluq yang lebih rumit.

Seorang muslim wajib hanya meyakini bahwasanya Allāh adalah satu-satunya Pencipta & tidak ada yang mencipta selain Allāh .

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah yang ke-2 ini & sampai bertemu pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

Saudaramu, 'Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
_________________________

Jumat, 01 Desember 2017

Halaqah 25 | Ridha Dengan Hukum Allāh

🌍 BimbinganIslam.com
Jum'at, 13 Rabi’ul Awwal 1439 H / 01 Desember 2017 M
👤 Ustadz Dr. 'Abdullāh Roy, M.A.
📘 Silsilah Belajar Tauhid
🔊 Halaqah 25 | Ridha Dengan Hukum Allāh
~~~~~~~~~~~~~~~

RIDHA DENGAN HUKUM ALLĀH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-25 dari Silsilah Belajar Tauhid kali ini adalah tentang "Ridha Dengan Hukum Allāh".

Allāh Ta'āla sebagai pencipta manusia sangat menyayangi mereka, Dialah Ar-Rahmān Ar-Rahīm.

Dan di antara bentuk kasih sayangNya adalah menurunkan syari'at supaya manusia mendapatkan kebahagiaan dan terhindar kesusahan didunia maupun akhirat.

Dia-lah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, hukumnya penuh dengan keadilan, hikmah & juga kebaikan, meskipun hal ini terkadang samar atas sebagian manusia.

Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi seorang Muslim dan juga Muslimah untuk:

✓Ridha dengan hukum Allāh.
✓Yakin bahwasanya kebaikan semuanya di dalam hukum Allāh.

⇒ Di dalam segala bidang kehidupan (meliputi) :
• 'Aqidah
• Akhlaq
• Adab
• Mu'āmalah
• Ekonomi
• Kenegaraan
• Dan lain-lain.

Meng-Esakan Allāh di dalam hukum-hukumNya adalah termasuk konsekuensi tauhid.

Allāh berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

"Dan tidaklah pantas bagi seorang laki-laki yang mu'min dan wanita yang mu'minah apabila Allāh & Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain di dalam urusan mereka.

Dan barangsiapa yang mendurhakai Allāh dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata."
(QS Al-Ahzab: 36)

Saudaraku,

Alhamdulillāh dengan izin Allāh dan karunia-Nya sampailah kita pada bagian yang terakhir dari Silsilah Tauhid, yaitu bagian ke-25.

Dan dengan ini saya akhiri silsilah ini. Dan bukan berarti kita sudah merasa cukup.

Apa yang disampaikan hanyalah sebagian kecil dari ilmu tauhid itu sendiri.

Belajar tauhid dan mengamalkannya tidak akan berhenti sampai ajal menjemput kita.

Ikutilah majelis-majelis ilmu yang membahas tentang tauhid ini.

Bacalah buku-buku yang berkaitan dengan tauhid yang telah ditulis oleh para ulama yang terpercaya.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla merahmati kita semua, menghidupkan dan juga mematikan kita di atas tauhid.

الحمد لله رب العالمين
و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين.

Saudaramu, 'Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah An-Nabawiyyah

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
_______________________________

Halaqah 24 | Menyandarkan Nikmat Kepada Allāh

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 12 Rabi’ul Awwal 1439 H / 30 November 2017 M
👤 Ustadz Dr. 'Abdullāh Roy, M.A.
📘 Silsilah Belajar Tauhid
🔊 Halaqah 24 | Menyandarkan Nikmat Kepada Allāh
~~~~~~~~~~~~~~~

MENYANDARKAN NIKMAT KEPADA ALLĀH

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Halaqah yang ke-24 berjudul "Menyandarkan Nikmat Kepada Allāh".

Termasuk keyakinan yang harus diyakini dan diingat oleh setiap Muslim bahwa kenikmatan dengan segala jenisnya adalah dari Allāh.

Allāh berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

"Kenikmatan apa saja yang kalian dapatkan maka asalnya adalah dari Allāh."

(QS An Nahl: 53)

Dan termasuk syirik kecil apabila seseorang mendapatkan sebuah kenikmatan dari Allāh kemudian menyandarkan kenikmatan tersebut kepada selain Allāh.

Seperti mengatakan:

"Kalau pilot tidak mahir niscaya kita sudah celaka."
"Kalau tidak ada angsa niscaya uang kita sudah dicuri."
• "Kalau bukan karena dokter niscaya saya tidak sembuh."

Ini semua adalah menyandarkan kenikmatan kepada sebab.

Allāh berfirman:

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا

"Mereka mengenal nikmat Allāh kemudian mereka mengingkarinya."

(QS An Nahl: 83)

Seharusnya dia sandarkan kenikmatan tersebut kepada Allāh, Zat yang menciptakan sebab.

Seperti dengan mengatakan:

• "Kalau bukan karena Allāh niscaya kita sudah celaka."
• "Kalau bukan Allāh niscaya uang kita sudah hilang."
• "Kalau bukan karena Allāh niscaya saya tidak akan sembuh."

Karena apa?

Karena Allāh-lah yang memberikan:

✓Nikmat keselamatan
✓Nikmat keamanan
✓Nikmat kesembuhan

Sedangkan makhluk hanyalah sebagai alat sampainya kenikmatan tersebut kepada kita.

Kalau Allāh menghendaki niscaya Allāh tidak akan menggerakkan makhluk-makhluk tersebut untuk menolong kita.

Ini semua, bukan berarti seorang Muslim tidak boleh berterima kasih kepada orang lain.

Seorang Muslim diperintah untuk mengucapkan syukur dan terima kasih kepada seseorang yang berbuat baik kepadanya karena mereka menjadi sebab kenikmatan ini.

Bahkan diperintah untuk membalas kebaikan tersebut dengan kebaikan atau dengan do'a yang baik.

Namun, pujian dan penyandaran kenikmatan tetap hanya kepada Allāh semata.

والله تعالى أعلم

Itulah yang bisa kita sampaikan pada kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.

و صلى الله على نبينا محمد و على آل نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين.

Saudaramu, 'Abdullāh Roy

✒Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
➖➖➖➖➖➖➖

Halaqah 23 | Ta'at Ulama Dalam Kebenaran

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 11 Rabi’ul Awwal 1439 H / 29 November 2017 M
👤 Ustadz Dr. 'Abdullāh Roy, M.A.
📘 Silsilah Belajar Tauhid
🔊 Halaqah 23 | Ta'at Ulama Dalam Kebenaran
~~~~~~~~~~~~~~~

TA'AT ULAMA DALAM KEBENARAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول

Halaqah yang ke-23 dari Silsilah kita adalah tentang "Ta'at Ulama Dalam Kebenaran".

Ulama adalah orang-orang yang memiliki ilmu tentang Allāh dan juga agamanya.

Ilmu yang membawa dirinya untuk bertaqwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Mereka adalah pewaris para Nabi dan kedudukan mereka di dalam agama Islam adalah sangat tinggi.

Allāh telah mengangkat derajat para ulama dan memerintahkan kita untuk ta'at kepada mereka selama mereka menyeru dan mengajak kepada kebenaran dan juga kebaikan.

Allāh Ta'ālā berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ

"Wahai orang-orang yang beriman, ta'atlah kepada Allāh dan ta'atlah kepada Rasul dan Ulil Amri kalian."

(QS An Nisā: 59)

⇒ Dan ulil amri disini mencakup ulama dan juga umarā (pemerintah).

Menghormati mereka (yaitu para ulama) bukan berarti menta'ati mereka dalam segala hal sampai kepada kemaksiatan.

Ulama, ayyuhal ikhwah, seperti manusia yang lain; ijtihad mereka terkadang salah dan terkadang benar.

✓Kalau benar, mereka mendapatkan 2 pahala.
✓Kalau salah, mereka mendapatkan 1 pahala.

Apabila jika telah jelas kebenaran bagi seorang Muslim dan jelas bahwasanya seorang ulama menyelisihi tersebut dalam sebuah permasalahan, maka tidak boleh seseorang menta'ati ulama tersebut kemudian dia meninggalkan kebenaran.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

"Tidak ada keta'atan dalam kemaksiatan, sesungguhnya keta'atan hanya di dalam kebenaran."

(Muttafaqun 'alaih)

Apabila seseorang menta'ati ulama dalam kemaksiatan kepada Allāh, maka dia telah menjadikan ulama tersebut sebagai pembuat syari'at dan bukan penyampai syari'at, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi & Nashrani.
Allāh berfirman :

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ الله

"Mereka (yaitu orang-orang Yahudi dan Nashrani) menjadikan ulama dan ahli ibadah mereka sebagai sesembahan selain Allāh."

(QS At Taubat: 31)

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menjelaskan ayat ini, Beliau mengatakan:

"Ketahuilah bahwa mereka bukan beribadah kepada para ulama dan ahli ibadah tersebut, akan tetapi mereka, apabila menghalalkan apa yang Allāh haramkan, maka mereka ikut menghalalkan.

Dan apabila ulama dan ahli ibadah tersebut mengharamkan apa yang Allāh halalkan, maka mereka pun ikut mengharamkan."

(Hadits hasan, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi)

Itulah halaqah yang ke-23 sampai bertemu pada halaqah yang selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Saudaramu, 'Abdullāh Roy

✒Ditranskrip oleh
Tim Transkrip BiAS
➖➖➖➖➖➖➖

Selasa, 28 November 2017

Halaqah 22 | Takut Kepada Allāh

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 10 Rabi’ul Awwal 1439 H / 28 November 2017 M
👤 Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
📘 Silsilah Belajar Tauhid
🔊 Halaqah 22 | Takut Kepada Allāh
~~~~~~~~~~~~~~~

TAKUT KEPADA ALLĀH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Halaqah yang ke-22 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang "Takut Kepada Allāh". 

Di antara keyakinan seorang muslim, ayyuhal ikhwah, adalah bahwasanya manfaat dan mudharat adalah di tangan Allāh  Subhānahu wa Ta'ālā semata.

Seorang muslim tidak takut kecuali kepada Allāh dan tidak bertawakal kecuali kepada Allāh.

Takut kepada Allāh yang dibenarkan adalah takut yang membawa pelakunya untuk:

✓Merendahkan diri di hadapan Allāh
✓MengagungkanNya
✓Membawanya untuk menjauhi larangan Allāh Subhānahu wa Ta'ālā
✓Melaksanakan perintahNya
✓Bukan takut yang berlebihan yang membawa kepada keputusasaan terhadap rahmat Allāh.
✓Bukan takut yang terlalu tipis yang tidak membawa pemiliknya kepada ketaatan kepada Allāh .

Takut seperti ini adalah ibadah.

Tidak boleh sekali-sekali seorang Muslim menyerahkan takut seperti ini kepada selain Allāh.

Dan barangsiapa menyerahkannya kepada selain Allāh, maka dia telah terjerumus ke dalam syirik besar, yang mengeluarkan seseorang dari Islam.

Seperti orang yang takut (terkena) mudharat (dengan) wali fulan yang sudah meninggal kemudian takut tersebut menjadikan dia merendahkan diri di hadapan kuburannya dan juga mengagungkannya.

Hendaknya seorang Muslim meneladani Nabi Ibrāhīm 'Alaihissalām ketika beliau berkata:

ﻭَﻟَﺎ ﺃَﺧَﺎﻑُ ﻣَﺎ ﺗُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ ﺑِﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﺸَﺎﺀَ ﺭَﺑِّﻲ ﺷَﻴْﺌًﺎ

"Dan aku tidak takut dengan sesembahan kalian, mereka tidak memudharati aku kecuali apabila Rabbku menghendakinya."
(QS Al An'ām: 80)

Di antara takut yang diharamkan adalah takutnya seseorang kepada makhluk yang melebihi takutnya kepada Allāh sehingga takut tersebut membuat dia meninggalkan perintah Allāh atau melanggar larangan Allāh, seperti:

• Orang yang meninggalkan jihad yang wajib atasnya karena takut kepada orang-orang kafir.

Atau,

• Tidak melarang kemungkaran karena takut celaan manusia padahal dia mampu.

Allāh Subhānahu wa Ta'ālā berfirman :

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺫَﻟِﻜُﻢُ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻳُﺨَﻮِّﻑُ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀَﻩُ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﺨَﺎﻓُﻮﻫُﻢْ ﻭَﺧَﺎﻓُﻮﻥِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻣُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ

"Sesungguhnya itu hanyalah syaithan yang menakut-nakuti kalian wahai orang-orang yang beriman, dengan wali-walinya (penolong-penolongnya). Karena itu janganlah kalian takut kepada mereka tetapi takutlah kalian kepadaKu jika kalian benar-benar orang yang beriman."
(QS Āli 'Imrān: 175)

Di antara cara menghilangkan rasa takut kepada makhluk yang diharamkan adalah:

• ⑴ Berlindung kepada Allāh dari bisikan syaithan.
• ⑵ Mengingat sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang artinya:

ﻭَﺍﻋْﻠَﻢْ ﺃَﻥَّ ﺍﻷُﻣَّﺔَ ﻟَﻮِ ﺍﺟْﺘَﻤَﻌَﺖْ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻮﻙَ ﺑِﺸَﻰْﺀٍ ﻟَﻢْ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻮﻙَ ﺇِﻻَّ ﺑِﺸَﻰْﺀٍ ﻗَﺪْ ﻛَﺘَﺒَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻚَ ﻭَﻟَﻮِ ﺍﺟْﺘَﻤَﻌُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻀُﺮُّﻭﻙَ ﺑِﺸَﻰْﺀٍ ﻟَﻢْ ﻳَﻀُﺮُّﻭﻙَ ﺇِﻻَّ ﺑِﺸَﻰْﺀٍ ﻗَﺪْ ﻛَﺘَﺒَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ

"Ketahuilah bahwa seandainya umat semua berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu niscaya mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali dengan apa yang sudah Allāh tulis dan seandainya mereka berkumpul untuk memberikan mudharat kepadamu niscaya mereka tidak bisa memberikan mudharat kecuali dengan apa yang sudah Allāh tulis."

(HR Tirmidzi dan dishahihkan Syaikh Al Albāniy Rahimahullāh)

Diperbolehkan takut yang merupakan tabiat manusia seperti takut kepada panasnya api binatang buas.

Dan takut seperti ini bukanlah takut yang merupakan ibadah dan juga bukan takut yang membawa seseorang meninggalkan perintah atau melanggar larangan Allāh.

Ini adalah takut yang tabiat, yang para Nabi pun tidak terlepas darinya.

Itulah halaqah yang ke-22 dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjuntnya.

و صلى الله على نبينا محمد و على آل نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين.

Saudaramu, 'Abdullāh Roy

✒Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
----------------------------------------------

Sabtu, 04 November 2017

Halaqah 20 | RIYĀ'

BimbinganIslam.com
Sabtu, 15 Shafar 1439 H / 04 November 2017 M
 Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
 Silsilah Belajar Tauhid
 Halaqah 20 | RIYĀ'
~~~~~~~~~~~~~~~
RIYĀ'
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Halaqah yang ke-20 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang "Riyā".
Ayyuhāl ikhwāh,
Riyā' adalah seorang mengamalkan sebuah ibadah bukan karena ingin pahala dari Allāh, akan tetapi ingin dilihat manusia dan dipuji.
Riyā' hukumnya HARAM dan dia termasuk syirik kecil yang samar, yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam.
Riyā' adalah di antara sebab tidak diterimanya amal ibadah seseorang, bagaimanapun besar amalan tersebut.
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda :
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺃَﻧَﺎ ﺃَﻏْﻨَﻰ ﺍﻟﺸُّﺮَﻛَﺎﺀِ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙِ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﺃَﺷْﺮَﻙَ ﻓِﻴﻪِ ﻣَﻌِﻲ ﻏَﻴْﺮِﻱ ﺗَﺮَﻛْﺘُﻪُ ﻭَﺷِﺮْﻛَﻪُ
"Allāh berkata: 'Aku adalah Zat yang paling tidak butuh dengan syirik. Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan dia menyekutukan Aku bersama yang lain di dalam amalan tersebut maka Aku akan meninggalkannya dan juga kesyirikannya'."
(HR Muslim)
Sebagian ulama berpendapat bahwa syirik yang kecil tidak ada harapan untuk diampuni oleh Allāh, artinya dia harus diadzab supaya bersih dari dosa riyā' tersebut.
Berbeda dengan dosa besar yang ada di bawah kehendak Allāh, yang;
•✓Kalau Allāh menghendaki maka akan diampuni langsung.
Dan,
•✓Kalau Allāh menghendaki maka akan diadzab.
Mereka berdalil dengan keumuman ayat:
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﺎ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺃَﻥْ ﻳُﺸْﺮَﻙَ ﺑِﻪِ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮُ ﻣَﺎ ﺩُﻭﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ
"Sesungguhnya Allāh tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lain bagi siapa yang dikehendaki."
(QS An Nisā: 48)
Tahukah kita siapa orang yang pertama kali nanti akan dinyalakan api neraka dengan mereka?
Mereka bukanlah preman-preman di jalan atau pembunuh yang kejam tapi mereka justru adalah orang-orang yang beramal shalih. Mereka adalah orang yang:
• ⑴ Mengajarkan Al Qurān supaya dikatakan sebagai seorang qāri, seorang yang suka membaca, seorang yang mahir membaca.
Dan juga,
• ⑵ Orang yang berinfaq supaya dikatakan dermawan.
Dan,
• ⑶ Berjihad supaya dikatakan sebagai seorang pemberani.
⇒ Beramal bukan karena Allāh
Sebagaimana hal ini dikabarkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam di dalam hadits yang shahih.
Oleh karena itu, saudara sekalian, ikhlash-lah di dalam beramal..
Dan ikhlash adalah barang yang sangat berharga.
Para Salaf kita, merekapun merasakan beratnya memperbaiki hati mereka.
Dan hanya kepada Allāh kita meminta keikhlashan di dalam beramal, menjauhkan kita dari riyā', sum'ah, 'ujub dan berbagai penyakit hati.
Dan marilah kita biasakan untuk menyembunyikan amal kita kecuali kalau memang ada mashlahat yang lebih kuat.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah yang ke-20 ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.
وبالله التوفيق والهداية
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
Saudaramu, 'Abdullāh Roy
✒ Ditranskrip oleh Tim Transkrip Materi BiAS
______________________________

Jumat, 03 November 2017

Halaqoh 19 | Bersumpah Dengan Selain Nama Allāh

BimbinganIslam.com
Jum’at, 14 Shafar 1439 H / 03 November 2017 M
 Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
 Silsilah Belajar Tauhid
 Halaqoh 19 | Bersumpah Dengan Selain Nama Allāh
~~~~~~~~~~~~~~~
BERSUMPAH DENGAN SELAIN NAMA ALLĀH
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke-19 dari Silsilah Belajar Tauhid kita kali ini adalah tentang "Bersumpah Dengan Selain Nama Allāh".
Kaum Muslimīn yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla,
Sumpah adalah menguatkan perkataan dengan menyebutkan sesuatu yang diagungkan, baik oleh orang yang berbicara maupun yang diajak bicara.
Kalau (dalam) bahasa 'Arab maka menggunakan:
• Huruf wawu (وَ)
• Huruf ba (بَ)
• Huruf ta (تَ)
Adapun Bahasa Indonesia dengan menggunakan kata "Demi".
Bersumpah hanya diperbolehkan dengan nama Allāh semata, misalnya mengatakan:
✓Wallāhi
✓Demi Rabb yang menciptakan langit dan bumi
✓Demi Zat yang jiwaku berada di tanganNya
✓Dan lain-lain.
Adapun makhluq, bagaimanapun agungnya di mata manusia maka tidak boleh kita bersumpah dengan namanya, misalnya dengan mengatakan:
✘Demi Rasūlullāh
✘Demi Ka'bah
✘Demi Jibrīl
✘Demi langit & bumi
✘Demi bulan & bintang
✘Dan lain-lain.
Ini semua termasuk jenis pengagungan terhadap makhluq yang terlarang.
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda,
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ
"Barang siapa yang bersumpah dengan selain nama Allāh maka sungguh dia telah berbuat syirik."
(HR Abū Dāwūd, Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albāni rahimahullāh)
Syirik dalam hadits ini pada asalnya adalah syirik kecil yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam.
Namun bisa sampai kepada syirik besar bila dia mengucapkan sumpah dengan makhluq disertai pengagungan seperti kalau dia mengagungkan Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, yaitu pengagungan ibadah.
Seperti sumpah yang di lakukan oleh orang-orang musyrik dengan mengatakan:
✘ Demi Wisnu
✘ Demi Dewa Fulan
✘ Demi Lāta
✘ Dan lain-lain.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah yang ke-19 ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.
وبالله التوفيق والهداية
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
Saudaramu, 'Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah
______________________________

Kamis, 02 November 2017

Halaqah 18 Meramal Nasib Dengan Bintang

BimbinganIslam.com
Kamis, 13 Shafar 1439 H / 02 November 2017 M
 Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
 Silsilah Belajar Tauhid
 Halaqah 18 | Meramal Nasib Dengan Bintang
~~~~~~~~~~~~~~~
MERAMAL NASIB DENGAN BINTANG
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين.

Halaqah yang ke-18 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang "Meramal Nasib Dengan Bintang".
Bintang adalah makhluq yang menunjukkan kebesaran Allāh dan kebesaran Penciptanya.
Allāh Ta'āla telah mengabarkan di dalam Al-Qurān bahwa bintang ini memiliki 3 faidah:
⑴ Sebagai perhiasan langit.
⑵ Sebagai pelempar syaithān.
⑶ Sebagai petunjuk manusia, seperti :
⇒ Mengetahui arah utara atau selatan
⇒ Mengetahui arah daerah, arah kiblat
⇒ Mengetahui kapan datangnya musim menanam, musim hujan dan lain-lain.
Allāh tidak menciptakan bintang untuk perkara yang lain selain 3 perkara di atas.
Seorang salaf, Qatādah Ibn Di'āmah As-Sadūsi, seorang ulama yang meninggal kurang lebih pada tahun 110 H. Beliau menjelaskan bahwa,
"Barangsiapa yang meyakini bahwasanya bintang memiliki faidah yang lain, selain 3 hal di atas maka dia telah bersalah dan berbicara tanpa ilmu."
Ucapan ini dikeluarkan Al-Imām Al-Bukhāri di dalam Shahih beliau.
Contohnya adalah meyakini bahwasanya terbit & tenggelamnya bintang atau berkumpul & berpisahnya beberapa bintang berpengaruh kepada keberuntungan seseorang di masa yang akan datang, dalam masalah rejeki, jodoh dan lain-lain.
Seperti kolom yang ditemukan di beberapa koran dan juga majalah.
Membacanya dan mempercayainya adalah perbuatan yang haram dan termasuk dosa besar.
Sebagian ulama mengatakan hukumnya seperti orang yang mendatangi dukun dan bertanya kepadanya.
Ancamannya tidak diterima shalatnya selama 40 hari.
Hendaknya kita semua takut kepada Allāh.
Dan janganlah sekali-kali mencoba membaca kolom-kolom tersebut.
Dan jangan juga memasukkannya ke dalam rumah kita.
Kita tutup segala pintu yang bisa merusak 'aqidah kita dan juga keluarga kita.
Karena 'aqidah merupakan modal kita memasuki surganya Allāh Subhānahu wa Ta'ālā dengan selamat.
Inilah halaqah yang ke-18 dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.
و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين.
Saudaramu, 'Abdullāh Roy
Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
______________________________

Rabu, 01 November 2017

Halaqah 17 | Tathayyur (Merasa Sial Dengan Sesuatu)

BimbinganIslam.com
Rabu, 12 Shafar 1439 H / 01 November 2017 M
 Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
 Silsilah Belajar Tauhid
 Halaqah 17 | Tathayyur (Merasa Sial Dengan Sesuatu)
~~~~~~~~~~~~~~~
TATHAYYUR (MERASA SIAL DENGAN SESUATU)
بسم الله الرحمن الرحيم السلام
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Pelajaran yang ke-17 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang "Tathayyur", yaitu merasa sial dengan sesuatu.
◆ Tathayyur adalah merasa akan bernasib sial karena melihat atau mendengar kejadian tertentu.
Seperti melihat tabrakan atau orang yang berkelahi, atau yang semisalnya.
Kemudian hal tersebut menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya, seperti bepergian, berdagang dan lain-lain.
Tathayyur termasuk syirik kecil apabila perasaan tersebut kita ikuti.
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ
"Barangsiapa yang thiyarah menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya maka dia telah berbuat syirik."
(Hadits shahīh diriwayatkan oleh Imām Ahmad)
Perasaan ini sebenarnya tidak akan mempengaruhi takdir, sebagaimana hal ini dinafi'kan & diingkari oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Beliau bersabda:
وَلاَ الطِّيَارَة
"Tidak ada thiyārah."
(HR Bukhari dan Muslim)
⇒ Maksudnya, thiyārah ini hanya sebuah perasaan saja yang tidak akan berpengaruh terhadap takdir Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Oleh karena itu seorang Muslim tidak boleh mengikuti was-was syaithān ini.
Dan hendaknya dia,
•✓Memiliki keyakinan yang kuat bahwa semua yang terjadi di permukaan bumi berupa kebaikan & keburukan adalah dengan takdir Allāh semata.
•✓Yakin bahwa tidak (ada yang) mendatangkan kebaikan kecuali Allāh & tidak (ada yang) melindungi dari keburukan kecuali Allāh.
•✓Hanya bertawakal kepada Allāh semata & berbaik sangka kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.
Apabila datang perasaan tersebut maka hendaknya segera dihilangkan dengan tawakkal dan tetaplah dia melaksanakan hajatnya.
Dan apa yang terjadi setelah itu adalah takdir Allāh semata.
Adapun tafā'ul maka diperbolehkan didalam agama kita.
◆ Tafā'ul artinya adalah berbaik sangka kepada Allāh karena melihat atau mendengar sesuatu.
Dahulu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sering bertafā'ul seperti ketika Perjanjian Hudaibiyah.
Utusan Quraisy saat itu bernama Suhail. Dan Suhail adalah bentuk pengecilan dari kata "sahl" yang artinya "yang mudah".
Maka Beliau pun berbaik sangka kepada Allāh bahwa perjanjian ini akan membawa kemudahan dan kebaikan bagi umat Islam.
Maka benarlah persangkaan Beliau.
Allāh Subhānahu wa Ta'ālā membuka setelah itu (yaitu setelah perjanjian tersebut) pintu-pintu kemudahan bagi umat Islam.
Itulah halaqah yang ke-17 dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
وبالله التوفيق والهداية
و السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
Saudaramu, 'Abdullāh Roy
Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
______________________________

Selasa, 31 Oktober 2017

Halaqah 16 Perdukunan

BimbinganIslam.com
Selasa, 11 Shafar 1439 H / 31 Oktober 2017 M
 Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
 Silsilah Belajar Tauhid
 Halaqah 16 | Perdukunan
➖➖➖➖➖➖➖
PERDUKUNAN
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Halaqah yang ke-16 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang "Perdukunan".
Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui sesuatu yang ghaib yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, seperti:
• Mengetahui barang yang hilang, pencurinya.
• Mengetahui ramalan nasib.
• Dan lain-lain.
Dia mengaku mengetahui hal-hal tersebut dengan cara-cara tertentu, seperti dengan:
• Melihat bintang.
• Menggaris di tanah.
• Melihat air di mangkok.
• Dan lain-lain.
Dengan cara ini para dukun memakan harta manusia.
Saudaraku sekalian,
Ketahuilah bahwa perdukunan dengan namanya yang bermacam-macam adalah perkara yang diharamkan di dalam agama Islam.
Ilmu ghaib yang mereka akui pada hakikatnya adalah kabar dari jin yang mereka mintai bantuan.
Sedangkan cara-cara tersebut hanyalah untuk menutupi kedoknya sebagai seorang yang meminta bantuan jin dan juga syaithān.
Kita sudah mengetahui bersama bahwa iblis sudah berjanji akan menyesatkan manusia dan menyeret mereka bersamanya ke dalam neraka.
Iblis dan juga keturunannya tidak akan membantu sang dukun kecuali apabila dukun tersebut kafir kepada Allāh.
Para ulama menghukumi dukun sebagai orang yang kafir dengan sebab ini.
Dan harta yang dia dapatkan dari pekerjaan ini adalah harta yang haram.
Berkaitan dengan ramalan yang kadang benar maka sebagaimana yang dikabarkan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam hadits yang shahih, bahwa para jin bekerjasama untuk mencuri kabar dari langit.
Apabila mendengar sesuatu maka jin yang di atas akan mengabarkan kepada yang di bawahnya dan seterusnya, sehingga sampai ke telinga dukun.
⇒ Terkadang dia terkena lemparan bintang sebelum menyampaikan kabar tersebut.
⇒ Dan terkadang pula sempat menyampaikan sebelum akhirnya terkena lemparan bintang.
Kabar sedikit ini atau kabar sedikit yang sampai ini akan ditambah-tambah oleh dukun tersebut dengan kedustaan yang banyak.
Apa yang benar terjadi sesuai dengan yang dia kabarkan akan dijadikan alat mencari pembenaran dan kepercayaan dari manusia.
◆ Orang Islam dilarang sekali-kali datang ke dukun dengan maksud meminta bantuan, bagaimanapun susahnya keadaan dia.
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda yang artinya:
"Barangsiapa yang mendatangi seorang dukun kemudian membenarkan apa yang dia ucapkan, maka dia telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad."
(HR Abū Dāwūd, Tirmidzi, Ibnu Mājah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albāni rahimahullāh).
Dalam hadits yang lain Beliau mengatakan:
مَنْ أتى عَرَّافًا فَسَأَلهُ عَنْ شَئٍ لم تقْبَل لَهُ صَلاةُ أربعينَ ليلةً
"Barangsiapa yang mendatangi dukun kemudian bertanya kepadanya tentang sesuatu maka tidak diterima darinya shalat selama 40 hari."
(HR Muslim)

Meskipun sebagian ulama berpendapat bahwa mendatangi dukun tidak sampai mengeluarkan seseorang dari Islam, namun kedua hadits di atas cukup menunjukkan besarnya dosa orang yang mendatangi dukun.
Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'ālā menjadikan kita merasa cukup dengan yang halal dan menjauhkan kita dari yang haram.
Itulah halaqah yang ke-16 dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
Saudaramu, 'Abdullāh Roy
✒Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
_________________________

Halaqah 15 Sihir

BimbinganIslam.com
Senin, 10 Shafar 1439 H / 30 Oktober 2017 M
 Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
 Silsilah Belajar Tauhid
 Halaqah 15 | Sihir
➖➖➖➖➖➖➖
SIHIR
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke-15 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang "Sihir".
Ayyuhal ikhwah,
Sihir bermacam-macam jenisnya.
Dan sihir yang merupakan kesyirikan adalah sihir yang terjadi dengan meminta pertolongan kepada syaithān.
Dan syaithān tidak akan menolong seseorang kecuali setelah melakukan perkara yang dia ridhai, yaitu kufur (kāfir) kepada Allāh, dengan cara:
• ⑴ Menyerahkan sebagian ibadah kepada syaithān tersebut.
• ⑵ Menghina Al Qurān.
• ⑶ Mencela agama.
• ⑷ Dan lain-lain.
Allāh berfirman:
وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ
"Dan bukanlah Sulaiman yang kafir, akan tetapi syaithān-syaithānlah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia."
(QS Al-Baqarah: 102)
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda (yang artinya):
"Jauhilah 7 perkara yang membinasakan."
Para shahābat bertanya: "Ya Rasūlullāh, apa 7 perkara tersebut?"
Maka Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:
"Syirik kepada Allāh, sihir,...(dst)."
(Muttafaqun 'alaih)
Hukuman bagi seorang tukang sihir jenis ini adalah hukuman mati, bila dia tidak bertaubat sebagaimana telah dicontohkan oleh para shahābat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Dan yang berhak untuk melakukan hukuman tersebut adalah pemerintah yang sah dan bukan individu.
Mempelajari sihir termasuk perkara yang diharamkan, bahkan sebagian ulama menghukumi pelakunya keluar dari Islam.
Demikian pula meminta supaya disihirkan juga perbuatan yang haram karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengabarkan bahwa bukan termasuk pengikut Beliau (yaitu) orang yang menyihir & orang yang meminta disihirkan.
Sebagaimana dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Al Bazzar dalam Musnadnya dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy rahimahullāh.
Seorang Muslim hendaknya mengambil sebab untuk membentengi diri dari sihir.
Diantaranya adalah dengan:
⑴ Menjaga dzikir-dzikir yang di syariatkan, seperti:
• Dzikir pagi & petang
• Dzikir-dzikir setelah shalat 5 waktu
• Dzikir akan tidur
• Dzikir mau makan
• Dzikir masuk & keluar rumah
• Dzikir masuk & keluar kamar kecil
• Dan lain-lain.
⑵ Dan membersihkan diri dan juga rumah dari perkara-perkara yang membuat ridha syaithān, seperti:
• Jimat-jimat
• Musik-musik
• Gambar-gambar makhluk bernyawa
• Dan lain-lain.
Dan apabila qaddarullāh terkena sihir maka hendaknya dia:
√ Bersabar.
√ Merendahkan diri kepada Allāh.
√ Memohon dariNya kesembuhan.
√ Dan berpegang dengan ruqyah-ruqyah yang disyari'atkan.
√ Dan jangan sekali-kali dia berusaha untuk menghilangkan sihir dengan cara meminta bantuan jin, baik secara langsung maupun lewat dukun, paranormal dan yang semisal dengan mereka.
Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'ālā melindungi kita dan juga keluarga kita dari semua kejelekan di dunia dan juga di akhirat.
Itulah halaqah yang ke-15 dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.
و صلى الله على نبينا محمد و على آل نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
Saudaramu, 'Abdullāh Roy
✒Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
________________________________

Sabtu, 07 Oktober 2017

Halaqah 14 Berlebihan Terhadap Orang ShalihAdl Pintu Kesyirikan

BimbinganIslam.com
Sabtu, 17 Muharam 1439 H / 07 Oktober 2017 M
 Ustadz Dr. 'Abdullāh Roy, MA
 Silsilah Belajar Tauhid
 Halaqah 14 | Berlebihan Terhadap Orang Shalih Adalah Pintu Kesyirikan
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
BERLEBIHAN TERHADAP ORANG SHALIH ADALAH PINTU KESYIRIKAN
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله
Halaqah yang ke-14: "Berlebihan Terhadap Orang Shalih Adalah Pintu Kesyirikan."

Orang yang shalih adalah orang yang baik karena mengikuti syariat Allāh, baik dalam hal 'aqidah, ibadah maupun muamalah.
Mereka memiliki derajat yang berbeda-beda di sisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Kita sebagai seorang Muslim diperintahkan untuk:
✓Mencintai mereka.
✓Mengikuti jejak mereka dalam kebaikan.
Berteman dan bermajlis dengan mereka adalah sebuah keberuntungan.
Membaca perjalanan hidup mereka bisa menambah keimanan dan meneguhkan hati kita.
Menghormati mereka adalah diperintahkan selama masih dalam batas yang diizinkan agama.
Namun berlebih-lebihan terhadap orang yang shalih, seperti:
⑴ Mendudukkan mereka di atas kedudukannya sebagai manusia.
⑵ Mensifati mereka dengan sifat-sifat yang tidak pantas kecuali untuk Allāh.
Maka ini hukumnya HARAM (tidak diperbolehkan oleh agama) karena menjadi pintu terjadinya kesyirikan dan penyerahan sebagian ibadah kepada selain Allāh.
Mencintai Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melebihi cinta kita kepada orang tua, anak-anak dan semua manusia adalah sebuah kewajiban agama, sebagaimana dalam hadits.
Namun Beliau melarang kita (untuk) berlebih-lebihan terhadap Beliau dengan mendudukkan Beliau di atas kedudukan Beliau yang sebenarnya, yaitu sebagai hamba Allāh & seorang Rasul.
Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.
"Janganlah kalian berlebih-lebihan terhadapku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan terhadap 'Īsā ibn Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya maka katakanlah. 'Hamba Allāh & Rasul-Nya'."
(HR Bukhari)
✓Beliau adalah seorang hamba maka tidak boleh disembah.
✓Beliau adalah seorang rasul maka tidak boleh dicela & diselisihi.
Apabila berlebih-lebihan terhadap sebaik-baik manusia yaitu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak diperbolehkan, maka bagaimana dengan yang lain?
Dan diantara bentuk ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang-orang yang shalih adalah:
• Meyakini bahwasanya mereka mengetahui ilmu ghaib.
• Membangun di atas kuburan mereka.
• Beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā di samping kuburan mereka dan lain-lain.
• Dan yang paling parah adalah menyerahkan sebagian ibadah kepada mereka.
Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla melapangkan hati kita untuk menerima kebenaran.
Itulah halaqah yang ke-14 dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
Saudaramu, 'Abdullāh Roy
Di kota Al Madinah An Nabawiyyah
Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
___________________________

Jumat, 06 Oktober 2017

Halaqah 13 Syafa'at

BimbinganIslam.com
Jum’at, 16 Muharam 1439 H / 06 Oktober 2017 M
 Ustadz Dr. 'Abdullāh Roy, MA
 Silsilah Belajar Tauhid
 Halaqah 13 | Syafa'at
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

SYAFA'AT
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله و على آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-13 dari Silsilah kita kali ini adalah tentang "Syafa'at".
Syafa'at adalah meminta kebaikan bagi orang lain di dunia maupun di akhirat.
Allāh dan Rasul-Nya telah mengabarkan kepada kita tentang adanya syafa'at pada hari kiamat.
Diantara bentuknya adalah bahwasanya Allāh mengampuni seorang Muslim dengan perantara do'a orang yang telah Allāh izinkan untuk memberikan syafa'at.
Syafa'at akhirat ini harus kita imani dan kita berusaha untuk meraihnya.
Dan modal utama untuk mendapatkan syafa'at akhirat adalah:
⑴ Bertauhid.
⑵ Dan bersihnya seseorang dari kesyirikan.
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda ketika Beliau mengabarkan tentang bahwasanya Beliau memiliki syafa'at pada hari kiamat, Beliau mengatakan:
فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ الله مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لا يُشْرِكُ بِالله شَيْئًا
"Syafa'at itu akan didapatkan in syā Allāh oleh setiap orang yang mati dari umatku yang tidak menyekutukan Allāh sedikitpun."
(Hadits Shahih Riwayat Muslim)
Merekalah orang-orang yang Allāh ridhai karena ketauhidan yang mereka miliki.
Allāh berfirman:
...وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ...
"...Dan mereka (yaitu para nabi, para malaikat & juga yang lain) tidak memberikan syafā'at kecuali bagi orang-orang yang Allāh ridhai...". 
(QS Al Anbiyā: 28)
Syafa'at di akhirat ini berbeda dengan syafa'at di dunia karena seseorang pada hari kiamat tidak bisa memberikan syafā'at bagi orang lain kecuali setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, sampai meskipun dia adalah seorang nabi atau seorang malaikat sekalipun.
Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta'ālā :
ﻣَﻦ ﺫَﺍ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﻳَﺸْﻔَﻊُ ﻋِﻨﺪَﻩُۥٓ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺈِﺫْﻧِﻪِۦ ٓ
"Tidaklah ada yang memberikan syafa'at di sisi Allāh Ta'ālā kecuali dengan izin-Nya."
(QS Al Baqarah: 255)
Oleh karena itu permintaan syafa'at hanya ditujukan kepada Allāh, Zat yang memilikinya.
Seperti seseorang mengatakan dalam yang do'anya:
"Ya Allāh, aku meminta syafa'at Nabi-Mu."
⇒ Ini adalah cara meminta syafā'at yang diperbolehkan.
Bukan dengan meminta langsung kepada Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam seperti mengatakan:
"Ya Rasūlullāh, berilah aku syafa'atmu."
Atau dengan cara menyerahkan sebagian ibadah kepada makhluk dengan maksud meraih syafa'atnya.
Karena cara seperti ini adalah cara yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin zaman dahulu.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:
ﻭَﻳَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﻀُﺮُّﻫُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻬُﻢْ ﻭَﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﻫَٰﺆُﻟَﺎﺀِ ﺷُﻔَﻌَﺎﺅُﻧَﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﻗُﻞْ ﺃَﺗُﻨَﺒِّﺌُﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺑِﻤَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﻟَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ۚ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰٰ ﻋَﻤَّﺎ ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﻥ
"Dan mereka menyembah kepada selain Allāh, sesuatu yang tidak memudharati mereka dan tidak pula memberikan manfaat.
Dan mereka berkata: 'Mereka adalah pemberi syafa'at bagi kami disisi Allāh.'
Katakanlah: 'Apakah kalian akan mengabarkan kepada Allāh sesuatu yang Allāh tidak ketahui di langit maupun di bumi?'.
Maha Suci Allāh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan."
(QS Yūnus: 18)
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
وبالله التوفيق والهداية.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
Saudaramu, 'Abdullāh Roy
Ditranskrip Oleh Tim Transkrip BiAS
___________________________

Kamis, 05 Oktober 2017

Halaqah 12 Berdoa Kepada Selain Alloh Adalah Syirik Besar

BimbinganIslam.com
Kamis, 15 Muharam 1439 H / 05 Oktober 2017 M
 Ustadz Dr. 'Abdullāh Roy, MA
 Silsilah Belajar Tauhid
 Halaqah 12 | Berdoa Kepada Selain Allāh Adalah Syirik Besar
~~~~~~~~~~~~~~~
BERDOA' KEPADA SELAIN ALLĀH ADALAH SYIRIK BESAR
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين
Halaqah yang ke-12; "Berdo'a Kepada Selain Allāh Adalah Syirik Besar".
Berdo'a kepada Allāh adalah seseorang menghadap Allāh dengan maksud supaya Allāh Subhānahu wa Ta'āla mewujudkan keinginannya, baik dengan meminta atau dengan merendahkan diri, mengharap dan takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
⇒ Berdo’a dengan makna di atas adalah ibadah.
Berkata An Nu’mān Ibnu Basyīrin radhiyallāhu 'anhu :
"Aku mendengar Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallama bersabda : 'Do’a adalah ibadah.'
Kemudian Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam membaca ayat:
ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑُّﻜُﻢُ ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺴْﺘَﻜْﺒِﺮُﻭﻥَ ﻋَﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻲ ﺳَﻴَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﺩَﺍﺧِﺮِﻳﻦَ
"Dan Rabb kalian berkata : 'Berdo'alah kalian kepadaKu, niscaya Aku akan mengabulkan kalian.
Sesungguhnya orang- orang yang sombong dari beribadah kepadaKu, mereka akan masuk ke dalam neraka jahanam dalam keadaan terhina'."
(HR Abū Dāwūd, Tirmidzi, Nasāi, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullāh).
✓Dan makna "beribadah kepadaKu" adalah "berdoa kepadaKu".
Apabila do’a adalah ibadah yang merupakan hak Allāh semata, maka berdo’a kepada selain Allāh dengan merendahkan diri di hadapannya, mengharap dan juga takut kepadanya, sebagaimana ketika dia mengharap dan takut kepada Allāh adalah termasuk syirik besar.
Dan termasuk jenis do’a adalah:
• ⑴ Istighātsah (meminta dilepaskan dari kesusahan)
• ⑵ Isti'ādzah (meminta perlindungan)
• ⑶ Isti’ānah (meminta pertolongan)
Apabila di dalamnya ada perendahan diri, pengharapan dan takut, maka ini adalah ibadah, hanya diserahkan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla semata.
Dan perlu kita ketahui bahwasanya:
◆ Boleh seseorang beristighātsah, beristi’ādzah, beristi’ānah kepada seorang makhluk dengan 4 syarat:
• ⑴ Makhluk tersebut masih hidup.
• ⑵ Dia berada di depan kita atau bisa mendengar ucapan kita.
• ⑶ Dia mampu sebagai makhluk untuk melakukannya.
• ⑷ Tidak boleh seseorang bertawakkal kepada sebab tersebut, akan tetapi bertawakkal kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang menciptakan sebab.
Orang yang beristighātsah, beristi’ādzah atau beristi’ānah kepada orang yang sudah mati atau kepada orang yang masih hidup, akan tetapi tidak berada di depan kita atau tidak mendengar ucapan kita atau meminta makhluk perkara yang tidak mungkin melakukannya kecuali Allāh, maka ini termasuk syirik besar.
Itulah halaqah yang ke-12 dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين  
Saudaramu, 'Abdullāh Roy
Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
___________________________

Rabu, 04 Oktober 2017

Halaqah 11 Ar Ruqyah ( Jampi- Jampi )

BimbinganIslam.com
Rabu, 14 Muharam 1439 H / 04 Oktober 2017 M
 Ustadz Dr. 'Abdullāh Roy, MA
 Silsilah Belajar Tauhid
 Halaqah 11 | Ar Ruqyah (Jampi-Jampi)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
AR RUQYAH (JAMPI-JAMPI)
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين
Halaqah yang ke-11 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang "Ar Ruqyah (Jampi-jampi)".
Ar Ruqyah yaitu bacaan yang dibacakan kepada orang yang sakit supaya sembuh.
Bacaan ini diperbolehkan selama tidak ada kesyirikan.
Dari 'Auf bin Mālik radhiyallāhu 'anhu, beliau berkata;
"Kami dahulu meruqyah di zaman Jahiliyyah, maka kami bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam :
'Yā Rasūlullāh, apa pendapatmu tentang ruqyah ini?'
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda :
'Perlihatkanlah kepadaku ruqyah-ruqyah kalian, sesungguhnya ruqyah tidak mengapa selama tidak ada kesyirikan'."
(HR Abū Dāwūd nomor 3388, versi Baitul Afkar ad Dauliyah nomor 3886. Hadits ini dishahīhkan oleh Syaikh Al Albāni rahimahullāh)
Ruqyah yang tidak ada kesyirikan seperti ruqyah dari:
• Ayat-ayat Al Qurān
• Do’a-do’a yang diajarkan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
✓Dan ini lebih utama, atau dengan,
• Do’a-do’a yang lain yang diketahui kebenaran maknanya, baik dengan bahasa Arab maupun dengan selain bahasa Arab.
Kemudian hendaknya orang yang meruqyah ataupun yang diruqyah meyakini bahwasanya ruqyah hanyalah SEBAB semata, tidak berpengaruh dengan sendirinya dan tidak boleh seseorang bertawakal kepada sebab tersebut.
Seorang Muslim mengambil sebab dan bertawakkal kepada Dzat yang menciptakan sebab tersebut yaitu Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Ruqyah yang mengandung kesyirikan adalah jampi-jampi atau bacaan yang mengandung permohonan kepada selain Allāh, entah kepada seorang jin ataupun seorang wali sekalipun, biasanya disebutkan di situ nama-nama mereka.
Tidak jarang jampi-jampi seperti ini dicampur dengan ayat-ayat Al Qurān atau dengan nama-nama Allāh atau dengan kalimat yang berasal dari bahasa Arab.
Tujuannya adalah satu yaitu untuk mengelabui orang-orang yang jahil dan tidak tahu.
Ruqyah yang mengandung kesyirikan telah dijelaskan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam sabda Beliau :
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺮُّﻗَﻰ ﻭَﺍﻟﺘَّﻤَﺎﺋِﻢَ ﻭَﺍﻟﺘِّﻮَﻟَﺔَ ﺷِﺮْﻙٌ
’’Sesungguhnya jampi-jampi dan jimat-jimat dan juga pelet adalah syirik’’.
(HR Abū Dāwūd nomor 3385, versi Baitul Afkar ad Dauliyah nomor 3883. HR Ibnu Mājah nomor 3521, versi Maktabatu al Ma'arif Riyadh nomor 3530. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albāni rahimahullāh)
Itulah halaqah yang ke-11 dan sampai bertemu kembali pada dihalaqah selanjutnya.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين  
Saudaramu,'Abdullāh Roy
Ditranskrip Oleh Tim Transkrip BiAS
___________________________

Kajian

IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH

🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah  Fī...

hits