Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Oktober 2018

ILMU YANG HARUS DIPELAJARI TERLEBIH DAHULU

🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 17 Shafar 1440 H / 26 Oktober 2018 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Kewajiban Menuntut Ilmu
🔊 Halaqah 05| Ilmu Yang Harus Dipelajari Terlebih Dahulu
⬇ Download audio: bit.ly/KewajianMenuntut-Ilmu-05
〰〰〰〰〰〰〰
*ILMU YANG HARUS DIPELAJARI TERLEBIH DAHULU*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي أعلى  شأن العلم ورفع أهله درجات، والصلاة والسلام على نبيه محمد وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد
Sahabat BiAS yang di muliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Pada kesempatan kali ini, kita masih melanjutkan pembacaan (pembahasan) kitāb Mukhtashar Fardi Thalabil 'Ilmi karya Al Imām Abū Bakr Muhammad bin Al Husain Al Aajurriy rahimahullāh yang meninggal tahun 360 Hijriyyah.
Beliau rahimahullāh berkata:
_Jika ada seorang yang bertanya, "Engkau telah menyemangati kami untuk menuntut ilmu, engkau juga sudah memperingatkan kami dari kejāhilan, lalu ilmu apa yang harus kita pelajari terlebih dahulu sehingga kita bisa keluar dari pintu kebodohan?"_
_Maka aku katakan (Aku sarankan) :_
_⑴ Untuk mempelajari Al Qur'ān dan menghafalnya._
_Jika Allāh memudahkanmu untuk menghafal Al Qur'ān maka puji Allāh katakan Alhamdulilāh._
_Dan perbanyak pelajaranmu tentang Al Qur'ān._
(komentar saya: dan masuk dalam mempelajari Al Qur'ān adalah mempelajari bahasa arab, karena tanpanya seorang tidak akan mungkin bisa memahami Al Qur'ān dengan sempurna.)
_⑵ Pelajarilah ilmu halal dan haram (ilmu fiqih) dan berbagai hukum yang Allāh turunkan pada Al Qur'ān._

_⑶ Pelajarilah ilmu waris._
_Sebuah ilmu yang harusnya seorang yang telah menghafal Al Qur'ān faham terhadapnya._

_⑷ Pelajarilah sunnah dan hadīts-hadīts sehingga engkau tambah faham makna-makna Al Qur'ān._
_Dan tidak akan mungkin seorang bisa melaksanakan kewajiban Allāh kecuali dengan mengetahui hadist-hadits._

_⑸ Pelajarilah sunnah-sunnah atau jalan hidup shahābat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam._

_⑹ Pelarilah kitāb-kitāb fiqih yang menerangkan makna-makna hadīts (kitāb Syarah)._

_⑺ Duduklah dengan orang-orang yang faham dalam agama dan pelajarilah dari mereka hal-hal yang wajib atas kalian._
_Dan tujuan utama menuntut ilmu adalah menghilangkan kejāhilan dan kebodohan, mengibadahi Allāh dengan cara yang Allāh kehendaki._
_Siapa yang ini adalah tujuannya pasti Allāh akan jadikan ilmunya bermanfaat dan pasti ia akan membawa manfaat._
_Serta pasti taufīq Allāh akan ia dapatkan, Allāh akan perbanyak ilmunya yang sekarang masih sedikit dan Allāh pasti akan memberikan keberkahan kepadanya._
_Jika ada yang mengatakan: "Aku hanya bisa menghafal Al Qur'ān , tapi aku tidak mampu mempelajari ilmu atau tidak bisa menuliskan pelajaran-pelajarannya, begitu juga dalam hadīts, lalu apa yang engkau anjurkan ?"_
_Aku anjurkan kepadamu untuk terus duduk bersama para ulamā, yang ia bisa memberikan manfaat dalam kehidupan agamamu, semangatlah untuk mempelajari ilmu yang ia miliki dan terus ikuti dia dalam majelis-mejelisnya._
_Dan jangan engkau menjadi seorang yang sibuk menghafalnya (Al Qur'ān) ? tapi tidak bisa menjaga batasan-batasan yang ada didalam padanya (Al Qur'ān)._
_Semangatlah untuk berakhlaq dengan akhlaq para penghafal Al Qur'ān dan mintalah pertolongan kepada Allāh._
_Barangsiapa yang mengamalkan ilmunya, pasti Allāh akan berikan dia taufīq dan kemudahan untuk memepajari ilmu yang belum ia ketahui._
_Orang yang sudah merasakan manfaat ilmu, pasti ia akan semangat mencarinya dan siapa yang telah merasakan manisnya ilmu, pasti ia akan mampu menelan rasa pahit jalan yang dilaluinya._
_Siapa yang benaknya bersih pasti akan merasakan kelezatan ilmu dan menghindari hal-hal yang memalingkan darinya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allāh pasti Allah akan perbagus pertolongannya dan memenuhi kebutuhannya._
Semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi-Nya, keluarganya dan para shahābat semua
Wallāhu Ta'āla A'lam

🖋 Akhukum fillāh Ratno
________________________
🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :
▪ *Bank Syariah Mandiri (BSM)*
| Kode        : 451
| No. Rek   : 710-3000-507
| A.N           : YPWA Bimbingan Islam
| Kode akhir nominal transfer : 700
| Konfirmasi : 0878-8145-8000
📝 *Format Donasi : Donasi Dakwah BIAS#Nama#Nominal#Tanggal*
_______________________

RENDAH HATI ULAMĀ DAN PENUNTUT ILMU

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 16 Shafar 1440 H / 25 Oktober 2018 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Kewajiban Menuntut Ilmu
🔊 Halaqah 04| Rendah Hati Ulama Dan Penuntut Ilmu
⬇ Download audio: bit.ly/KewajianMenuntut-Ilmu-04
〰〰〰〰〰〰〰
*RENDAH HATI ULAMĀ DAN PENUNTUT ILMU*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي أعلى  شأن العلم ورفع أهله درجات، والصلاة والسلام على نبيه محمد وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد

Sahabat BiAS yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Pada kesempatan kali ini, kita masih melanjutkan pembacaan (pembahasan) kitāb Mukhtashar Fardi Thalabil 'Ilmi karya Al Imām Abū Bakr Muhammad bin Al Husain Al Aajurriy rahimahullāh yang meninggal tahun 360 Hijriyyah.
Beliau rahimahullāh berkata:
_Ketahuilah, semoga Allāh merahmati mu, suatu sifat yang sangat diperlukan oleh seorang ahli ilmu, oleh seorang penuntut ilmu, serta sifat yang sangat pantas untuk mereka genggam erat-erat adalah sifat rendah hati (tawadhu')._
_Sifat ini (tawadhu') jika dilihat dari penuntut ilmu akan tergambarkan pada dirinya, pada semangatnya._
_Seorang yang rendah hati akan tetap semangat dan tidak malu untuk mengambil ilmu dari orang-orang yang lebih muda atau orang-orang yang berada dibawah mereka. Sebagaimana ia tidak malu mengambil dari orang yang lebih tua, ia juga tidak malu mengambil ilmu dari orang yang lebih rendah kedudukannya. Ia akan menerima kebenaran dengan cara yang baik._
_Ia akan bersyukur kepada Allāh atas ilmu yang ia dapatkan, kemudian ia akan berterima kasih kepada perantaranya._
_Dan kerendahan hati ini juga akan terlihat ketika para penuntut ilmu itu semangat untuk bertanya kepada guru-guru mereka._
_Dan ada dua hal (sifat) yang menghalangi seseorang bertanya kepada para ulamā mengenai hal-hal yang belum mereka pahami, (yaitu) sifat malu dan sombong (dua ini adalah perusaknya)._
_Diriwayatkan dari mujāhid, ia berkata :_
لا يتعلَّمُ العلم مُستحي ولا مُستَكبِر
_"Orang pemalu dan sombong tidak akan mungkin mendapatkan ilmu."_
_Jika seorang penuntut ilmu mau merendahkan hati di hadapan para ulamā dan guru mereka, pasti mereka akan dicintai. Pasti mereka akan mendapat banyak pelajaran berharga._
_Akan tetapi jika mereka sombong dan menampakan diri bahwa ia tidak butuh kepada ilmu mereka, maka guru-guru mereka tidak akan simpati kepadanya. Bahkan mereka kurang suka memberikan faedah dan pelajaran kepada orang yang seperti itu sifatnya._
_Adapun kerendahan hati (tawadhu’)nya seorang ulamā adalah dengan ucapan syukurnya kepada Allāh dan kerendahan hati dihadapan-Nya. Dan ia tahu bahwa Allāh telah memberikan kepadanya kelebihan khusus, telah menjadikannya salah seorang pewaris nabi. Dan ia tahu bahwa manusia sangat butuh kepada ilmunya. Maka dia akan merendah dan berakhlak dihadapan para muridnya._
_Dia tidak akan merendahkan dan meremehkan para muridnya. Dan ia akan memberikan saran-saran serta trik-trik agar para muridnya bisa belajar dengan baik. Jika seorang ulamā, seorang guru, seorang pengajar bisa memiliki adab seperti itu, pasti Allāh akan mengangkat derajatnya dan pasti Allāh akan bikin manusia cinta kepada mereka._
_Umar bin Al Khaththāb berkata :_
_"Pelajarilah ilmu, pelajarilah adab ilmu, ketenangannya, kesabarannya. Dan rendahkah hati kalian kepada guru-guru kalian. Dan guru-guru kalian hendaknya juga rendah hati kepada kalian. Janganlah kalian menjadi orang yang angkuh kepada ilmu, karena kalau kalian angkuh dengan ilmu kalian, pasti ilmu itu tidak akan bisa mengalahkan kejāhilanmu."_
_Orang yang telah memperhatikan berbagai hal yang telah disampaikan, ia pasti akan mendahulukan ilmu yang wajib terlebih dahulu._
_Dan pasti ia akan bersabar dengan segala halangan dan rintangan dalam menggapainya._
_Dan yang akan melakukan hal itu adalah orang yang memiliki kecemburuan atas agamanya. Ia lebih cemburu kepada agamanya dari pada kepada jiwa dan hartanya. Hal tersebut dimiliki oleh orang yang berilmu lagi berakal._
_Dan harta yang paling berharga, modal pokok seorang mukmin adalah agamanya, ia tidak akan pernah meninggalkannya._
_Dan ketahuilah, semoga Allāh merahmatimu, kita sekarang berada pada suatu masa yang sangat banyak fitnah dan cobaannya, dari berbagai sisi pandangnya._
_Jika seorang tidak memiliki ilmu dan keikhlāsan, tentu mereka tidak akan bisa  menghempaskan fitnah-fitnah tersebut dan pasti mereka akan hancur lebur._
Wallāhu Taala A'lam (bersambung in syā Allāh)
______________________
🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :
▪ *Bank Syariah Mandiri (BSM)*
| Kode        : 451
| No. Rek   : 710-3000-507
| A.N           : YPWA Bimbingan Islam
| Kode akhir nominal transfer : 700
| Konfirmasi : 0878-8145-8000
📝 *Format Donasi : Donasi Dakwah BIAS#Nama#Nominal#Tanggal*
_______________________

Rabu, 24 Oktober 2018

KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 15 Shafar 1440 H / 24 Oktober 2018 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Kewajiban Menuntut Ilmu
🔊 Halaqah 03| Keutamaan Menuntut Ilmu
⬇ Download audio: bit.ly/KewajianMenuntut-Ilmu-03
〰〰〰〰〰〰〰
*KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي أعلى  شأن العلم ورفع أهله درجات، والصلاة والسلام على نبيه محمد وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد

Sahabat BiAS yang di muliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla .
Pada kesempatan kali ini, kita masih melanjutkan pembacaan (pembahasan) kitāb Mukhtashar Fardi Thalabil 'Ilmi, karya Al Imām Abū Bakr Muhammad bin Al Husain Al Aajurriy rahimahullāh yang meninggal tahun 360 Hijriyyah.
Dalam buku tersebut beliau rahimahullāh menyatakan:
"Para penyandang gelar pentuntut ilmu harusnya berbahagia, karena ia telah menempuh suatu jalan yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla  akan mudahkan ia menuju Surga."
Dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
_"Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, pasti akan Allāh mudahkan jalannya menuju Surga."_
Ini adalah suatu keutamaan yang akan didapat oleh seorang yang baik niatannya, ikhlas karena Allāh Ta’ala.
Jika ada yang bertanya: Apa arti niatan yang baik?
Kita jawab: Ia adalah seorang yang keluar untuk belajar ilmu dengan tujuan mengangkat kebodohan dari dalam dirinya, menuntut ilmu tentang hak-hak Allāh dalam peribadahan, sehingga ia bisa menyembah dan beribadah kepada Allāh dengan benar.
Ia mencari ilmu yang bermanfaat bagi dirinya, jika ada suatu permasalahan dunia ataupun akhirat yang belum ia ketahui, ia bergegas menuju kepada para ulamā untuk belajar, dengan niatan karena Allāh dan untuk menyelamatkan agamanya.
Dan setiap jalan yang ditempuh oleh penuntut ilmu, baik pendek atau panjang, ia tetap mendapatkan keutamaan sebagaimana dalam hadīts tersebut. Dan pasti ia akan diberikan pertolongan dalam usahanya, in syā Allāh.
Dan ketahuilah, semoga Allāh merahmati mu, bahwa di antara para penuntut ilmu ada beberapa orang yang Allāh kuatkan akalnya, yang Allāh indahkan adabnya dan ada yang Allāh karuniakan pemahaman yang tinggi padanya.
Mereka ingin agar sunnah-sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam itu hidup, begitu juga sunnah dan jalan hidup para shahābat dan agar ingin agar kebid’ahan itu lenyap dari muka bumi.
Mereka senang menghafal, dengan tujuan menjaga kaum muslimin di atas syari'atnya. Mereka takut kalau ilmu itu lenyap hilang tak berbekas.
Inilah para penuntut ilmu yang para malāikat meletakan sayap mereka sebagai bentuk penghormatan atas usahanya dan mereka selalu berada dijalan Allāh hingga ia kembali pulang.
Mereka itulah orang-orang yang para malāikat, ikan dilautan, beristighfār kepadanya. Dan mereka itulah orang-orang yang berusaha menempuh jalan menuju surga.
Orang-orang yang seperti ini sangat sedikit sekali, akan tetapi hal tersebut tidak menyurutkan semangat mereka, sehingga Allāh Subhānahu wa Ta'āla balas mereka dengan pahala yang sangat besar.
Adapun orang yang niatannya dalam mencari ilmu adalah dunia dan perhiasannya, bagaimana mungkin bisa disamakan dengan pahala orang-orang yang telah lalu penyebutannya.
Allāhul Musta'ān.
Alangkah beratnya cobaan keikhlāsan bagi para penuntut ilmu dan alangkah sedikitnya yang menuntut ilmu karena Allāh. Dan kedua jenis orang ini akan terlihat dari akhlak yang mereka tunjukan, apakah ia menuntutnya ikhlās atau tidak.
Dan dari apa yang telah kami paparkan, maksud dan tujuannya adalah agar para penuntut ilmu juga selektif dalam mencari guru. Hendaknya ia mencari guru yang ilmunya memberikan dampak dalam kehidupannya. Seorang guru yang tinggi tingkat pemahamannya, tinggi adabnya. Kalau guru tersebut tidak memiliki sifat-sifat seperti itu, hendaknya ditinggalkan.
Wallāhu Taala A'lam (bersambung in syā Allāh)

🖋 Al Faqīr Ilallāh Ratno
________________________
🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :
▪ *Bank Syariah Mandiri (BSM)*
| Kode        : 451
| No. Rek   : 710-3000-507
| A.N           : YPWA Bimbingan Islam
| Kode akhir nominal transfer : 700
| Konfirmasi : 0878-8145-8000
📝 *Format Donasi : Donasi Dakwah BIAS#Nama#Nominal#Tanggal*
________________________

Selasa, 23 Oktober 2018

MENUNTUT ILMU ITU WAJIB HUKUMNYA BAGIAN 02 DARI 02

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 14 Shafar 1440 H / 23 Oktober 2018 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Kewajiban Menuntut Ilmu
🔊 Halaqah 02| Menuntut Ilmu Itu Wajib Hukumnya (bag. 02 dari 02)
⬇ Download audio: bit.ly/KewajianMenuntut-Ilmu-02
〰〰〰〰〰〰〰
*MENUNTUT ILMU ITU WAJIB HUKUMNYA BAGIAN 02 DARI 02*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي أعلى  شأن العلم ورفع أهله درجات، والصلاة والسلام على نبيه محمد وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد

Sahabat BiAS yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla .
Pada kesempatan kali ini, kita akan melanjutkan pembacaan (pembahasan) kitāb Mukhtashar Fardi Thalabil 'Ilmi, karya Al Imām Abū Bakr Muhammad bin Al Husain Al Aajurriy rahimahullāh yang meninggal tahun 360 Hijriyyah.
Dalam buku tersebut beliau pernah mengutarakan suatu pertanyaan yang mungkin pernah terbesit dalam benak kita.
Beliau rahimahullāh berkata :
"Jika ada yang seorang yang bertanya, 'Adakah ilmu yang diberikan udzur dengan alasan kebodohan?'."
Beliau menjawab :
“Pertanyaan ini, hanyalah keluar dari hati yang kaku, karena seorang yang berakal, seorang yang hanif,  tidak akan pernah menganggap baik suatu kebodohan yang ada pada dirinya. Karena ilmu adalah suatu kemuliaan disisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan kemuliaan menurut penilaiaan orang-orang yang berakal. Akan tetapi harusnya ia memang memulai dari yang wajib terlebih dahulu, baru kemudian ia tuntut ilmu yang lainnya."
Adapun jika ada orang yang merasa berat untuk mempelajari ilmu yang wajib, tapi mudah ringan tangan dalam mempelajari ilmu yang tidak wajib, (semisal) cerita-cerita banī Isrāil kisah-kisah para nabi, kisah-kisah atau sejarah Khulafā' Ar Rāsyidīn. Maka kita katakan, "Ini adalah suatu kelalaian, ini adalah orang yang tertipu."
Karena jika seorang bodoh pada ibadah yang wajib, Allāh tidak akan menerima alasannya dan jika ia berbuat kesalahan atau maksiat, permohonan maafnya pun juga tidak akan diterima.
Adapun jika seorang telah belajar hal-hal yang wajib, kemudian ada suatu permasalahan yang terjadi padanya, tapi ia masih bodoh tentang hukumnya, (seperti) hukum-hukum pernikahan, thalāq atau sengketa antar manusia, maka ini masih bisa diterima alasan ketidak tahuannya. Baru setelah muncul berbagai permasalahan ini, ilmu itu menjadi wajib atasnya.
Sehingga seorang muslim tidak akan pernah lepas dari gelar "Penuntut Ilmu" selama-lamanya, selama nafas masih dihirup, selama nyawa masih dikandung badan.
Dan barang siapa yang sudah meniatkan untuk mempelajari apa yang Allāh wajibkan terlebih dahulu dan niatnya sangat jujur, pasti ia juga akan diberikan taufīq oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla untuk menuntut ilmu pada permasalahan-permasalahan yang ia butuhkan dikemudian hari. Pasti !
Wallāhu A'lam (bersambung in syā Allāh)
🖋 Al Faqīr Ilallāh Ratno
______________________
🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :
▪ *Bank Syariah Mandiri (BSM)*
| Kode        : 451
| No. Rek   : 710-3000-507
| A.N           : YPWA Bimbingan Islam
| Kode akhir nominal transfer : 700
| Konfirmasi : 0878-8145-8000
📝 *Format Donasi : Donasi Dakwah BIAS#Nama#Nominal#Tanggal*
________________________

Senin, 22 Oktober 2018

MENUNTUT ILMU ITU WAJIB HUKUMNYA BAGIAN 01 DARI 02

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 13 Shafar 1440 H / 22 Oktober 2018 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Kewajiban Menuntut Ilmu
🔊 Halaqah 01| Menuntut Ilmu Itu Wajib Hukumnya (bag. 01 dari 02)
⬇ Download audio: bit.ly/KewajianMenuntut-Ilmu-01
〰〰〰〰〰〰〰
*MENUNTUT ILMU ITU WAJIB HUKUMNYA BAGIAN 01 DARI 02*
بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي أعلى  شأن العلم ورفع أهله درجات، والصلاة والسلام على نبيه محمد وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد

Sahabat BiAS yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla .
Pada kesempatan kali ini, kita akan membaca sebuah kitāb karya Al Imām Abū Bakr Muhammad bin Al Husain Al Ājurriy yang meninggal tahun 360 Hijriyyah.
Kata As Suyūti rahimahullāh, beliau adalah seorang ulamā yang rajin beribadah dan Ibnu Muflih Al Hanbali mengatakan bahwa beliau termasuk pembesar ulama ahli fiqih.
Judul karya tulis beliau ini adalah فرض طلب العلم (kewajiban menuntut ilmu), yang diringkas oleh DR. Umar bin Mushlih Al Husaini, salah seorang pengajar di Universitas Islām Madīnah dan salah seorang penulis buku مكانة السنة النبوية  yang juga dipelajari di Universitas Islām Madīnah.
Kita akan masuk ke dalam pembahasan,
• Pembahasan Pertama | Menuntut ilmu itu wajib hukumnya
Di antara tanda-tanda seorang dikehendaki dengan suatu kebaikan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah Allāh tinggikan tingkat kefahaman orang tersebut dalam agama, sebagaimana sebuah hadīts dari shahābat Mu'āwiyyah bin Abī Sufyān radhiyallāhu ta'āla 'anhumā beliau mendengar Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda :
مَنْ يُرِدِ اَللَّهُ بِهِ خَيْرًا, يُفَقِّهْهُ فِي اَلدِّينِ 
"Siapa yang dikehendaki Allāh dengan kebaikan pasti ia akan difahamkan dalam agama."
(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 1565)
Seorang muslim pasti sudah tahu, bahwa Allāh Subhānahu wa Ta'āla mewajibkan beberapa  bentuk ibadah kepadanya, di antaranya ada yang wajib. Dan dengan amalan-amalan yang wajib itu, seorang bisa mendekatkan diri kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Tentunya amalan-amalan tersebut harus sesuai dengan kehendak dan keinginan Allāh, bukan atas kehendak dan hasrat pribadi.
Sehingga menuntut ilmu agar faham apa yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla  inginkan, agar 'aqidah dan ibadah menjadi sah, agar muamalat dan akad jual beli menjadi halal adalah suatu kewajiban.
Dan jika seorang telah mengerti permasalahan tersebut dan faham apa yang Allāh inginkan, maka itu adalah suatu kebaikan, yang dengannya Allāh selamatkan ia dari kejāhilan dan kebodohan.
Oleh karena itu, harusnya setiap muslim yang memiliki penalaran yang baik, memiliki akal yang sehat tidak menyibukan diri kecuali untuk memahami ilmu pada seluruh permasahan agama dan akhiratnya.
Kalau tidak, pasti segala urusannya akan menjadi kacau dan alasan kebodohan (kejāhilan) tidak akan Allāh terima darinya dalam peribadahannya kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Sehingga menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim sebagaimana dalam sebuah hadīts.
Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.”
(Hadīts riwayat Ibnu Mājah nomor 224)
Jika ada yang mengatakan: "Ilmu itu sangat luas, bagaikan lautan yang tidak bertepi, bagaimana mungkin diwajibkan untuk menuntut dan mempelajarinya ?"
Kita jawab:
Ilmu itu ada beberapa macam, disana ada ilmu yang harus dipelajari oleh seorang muslim yang telah dewasa lagi berakal, tidak boleh tidak.
Seperti;
√ Mengenal Allāh, sifat-sifat Nya dan kriteria apa saja yang menjadikan tauhīdnya sah.
√ Bagaimana cara meng-Esakan Allāh dalam setiap peribadahan.
√ Begitu juga ilmu tentang seluk beluk musuh terbesar manusia yaitu iblīs.
Dan jiwa yang selalu memerintahkan kepada kejelekan, bagaimana bersuci, bagaimana shalāt, apa saja rukun Islām. Hal-hal tersebut harus di ilmui oleh seorang muslim.
√ Jika bulan Ramadhān telah datang, ia harus belajar hukum-hukum puasa.
√ Jika ia telah mampu berhaji, ia harus belajar hukum-hukum haji.
√ Jika ia hendak berjihād, ia harus belajar hukum-hukum jihād. Dan seorang muslim dilarang berjihād tanpa ilmu.
Begitu juga jika ia ingin berbisnis, ia harus mempelajari hukum halal dan haram,  muamalah jual beli dan bisnisnya, dan begitu seterusnya.
Kesimpulannya, seorang tidak boleh masuk dalam perkara yang wajib (seperti) shalāt atau puasa atau suatu perkara yang boleh (mubah) seperti jual beli hingga ia mempelajari ilmunya. Dan itu berlaku untuk urusan dunia dan akhirat.
Sehingga seorang muslim harusnya selalu memikul gelar (menyandang gelar)  "Pencari ilmu/penuntut ilmu" hingga sifat bodoh jauh darinya.
Dengan tujuan akhir, ia tahu apa yang Allāh wajibkan atas dirinya dalam ibadah, muamalah, dalam kehidupan berkeluarga dan yang lainnya.
Dan hal tersebut dengan mendatangi para ulamā harus dengan keletihan dan  pengorbanan harta benda, bahkan jika perlu ia harus merantau keluar daerah atau keluar negeri untuk menuntut ilmu kepada ahlinya.
Wallāhu A'lam (bersambung in syā Allāh)
🖋 Al Faqīr Ilallāh Ratno
______________________________________
🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :
▪ *Bank Syariah Mandiri (BSM)*
| Kode        : 451
| No. Rek   : 710-3000-507
| A.N           : YPWA Bimbingan Islam
| Kode akhir nominal transfer : 700
| Konfirmasi : 0878-8145-8000
📝 *Format Donasi : Donasi Dakwah BIAS#Nama#Nominal#Tanggal*
______________________________________

Kamis, 24 Mei 2018

Garam Alias Uyah

*GARAM alias UYAH*
TAKUT AKAN PENYAKIT YANG TIMBUL DARI GARAM?
INI CARA RASUL MENGKONSUMSI GARAM
*Nabi Muhammad Sholallohi 'alaihi wassallam  bersabda :* "Sebaik-baik lauk adalah garam" (Al-Baihaqi).                      
*SEBAIK BAIK LAUK ADALAH GARAM.*                                               
Sangat bertentangan dengan dunia medis saat ini yang mengatakan bahwa makan garam bisa menyebabkan berbagai penyakit seperti darah tinggi, dehidrasi, keropos tulang dan penyakit empedu, namun hal itu tidak akan terjadi jika Anda mengetahui cara mengkonsumsi garam dengan baik dan secara benar. Sesuai Sunnah Rasul.
Begini Cara Mengkonsumsi Garam Agar Terhindar Dari Penyakit (Ala Rasul)
Jadi sesuai dengan hadist diatas yang menyatakan Garam bukanlah penyebab penyakit,
tapi malah obat yang paling mujarab seandainya digunakan dengan cara yang betul.
Kuncinya adalah
 *GARAM TIDAK BOLEH DIMASAK !!!*.                  
Ingat tidak boleh dimasak !!!
*Kesalahan kita (kebanyakan orang Indonesia) ialah kita memasak garam yaitu memasukkan garam ke dalam masakan ketika masakan sedang MENDIDIH/ PANAS.*
Hal tersebut akan menyebabkan garam menjadi racun/toksik… Jika garam dimasak dengan cara di atas, garam akan menyebabkannya ber-asid dan membahayakan kesehatan serta mengundang berbagai penyakit, selain itu kandungan yodium pada garam juga akan hilang dengan percuma. Ingat yodium sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh kita.
*Begini Cara yang betul penggunaan garam agar garam benar-benar menjadi obat bagi Anda, bukan jadi Penyakit*
Masaklah makanan yang ingin dimasak sehingga selesai.
Contohnya: sayur masukkan garam dalam masakan *apabila makanan dan airnya sudah berangsur dingin,atau dalam keadaan dingin.*
*Ingat  makanan yang dimasak harus tanpa garam ingat tanpa garam !!!!!*
Selagi makan, sediakan semangkuk garam dan taburkan di atas makanan yang ingin dimakan sesuai selera masing2.
Garam adalah mineral bagi tubuh, “Banyak amalan yang dilakukan oleh *para Salafus soleh ialah dengan mengambil garam sebelum memulai makan”*
Garam digunakan sebagai pembuka makan dengan mengambilnya dengan ujung jari dan dimasukkan ke mulut.
*INGAT GARAM ADALAH MINERAL !!!!*          
Kelebihannya atau manfaatnya mengkonsumsi garam antara lain ialah:
 *Mengobati lebih dari 70 penyakit,* antara lain Darah tinggi, Diabetes, Tulang keropos, Gondokan, Pusing sakit kepala dll serta tidak akan mengalami keadaan mati mendadak.
Silakan sebarkan, sekiranya anda ingin orang-orang yang anda cintai menjadi sehat.
_*Berbagai penyakit yang disinyalir timbul akibat garam seperti "GEJALA JANTUNG" dan tekanan "DARAH TINGGI" adalah "AKIBAT" dari "PENGGUNAAN GARAM" yang "SALAH".*_
*Karena kalau memasak jangan dikasih garam...Ingat "GARAM" jangan di"MASAK".*
*INSYA ALLAH*_*penyakit darah tinggi,  jantung   bisa dihindari dengan cara makan yg baik.*_
*Jadi kesimpulannya yg benar garam itu adanya dimeja makan bukan didapur.*
_*MARILAH BERUBAH AGAR SEHAT SEMUA.*_
_*ORANG ASING LEBIH AWAL MENGGUNAKAN GARAM SELALU DI MEJA...*_
*"SEMOGA BERMANFAAT"*

*🎯Rumah Sehat Ath ThibbunNabawi " Laa Tahzan "🍀*

Kedudukan Sedekah di Bulan Ramadan

بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله.
*Kedudukan Sedekah di Bulan Ramadhan*
Fatwa Samahatus Syaikh Al 'Allamah DR. *Shalih Al Fauzan* (Salah Satu 'Ulama Senior dan Anggota Komisi Tetap Fatwa) hafidzahullah.

*Pertanyaan* :
Bagaimana kedudukan sedekah di bulan Ramadhan ?

*Jawab* :
Sedekah di bulan Ramadhan lebih utama daripada sedekah di waktu lainnya ;
Karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut bulan Ramadhan itu sebagai bulan kedermawanan untuk berbagi.
Sebagaimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sangat dermawan pada bulan Ramadhan dalam kebaikan melebihi kedermawanan angin yang berhembus.
Disamping itu juga, bahwa pahala kebaikan itu dilipat gandakan karena adanya keutamaan waktu dalam beribadah.
Lebih-lebih bulan Ramadhan yang Allah jadikan sebagai musim kebaikan dan keta'atan serta musim yang dapat menjadikan sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah 'Azza wa Jalla.

[ Dinukil dengan penyesuaian dari : http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14891 ]
نسأل الله الكريم التوفيق لما يحب ويرضاه
وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
Al Faqir Ilaa Rahmati Rabbih
Hasanuddin Misbah
Kota Nabi صلى الله عليه وسلم

Jumat, 18 Mei 2018

Air Nabeez

MINUMAN KEGEMARAN ROSULULLAH DI BULAN RAMADHAN
Infused Energi Saat Puasa dengan " Air Nabeez" Kegemaran Rasulullah
Apa itu Nabeez atau air nabeez???
Air nabeez adalah minuman sunnah kegemaran Rasulullah, yg merupakan jenis air rendaman kurma atau kismis/raisin. Hadeeth From Sunan Abu Dawood ~ Book of drinks =>Narrated Ad-Daylami:
Air rendaman kurma atau kismis ini merupakan air tonik alkalin yang bermanfaat untuk :
👉metabolisme
👉menghapus kadar keasaman pada lambung 👉membersihkan sisa metabolisme dari tubuh 👉Meningkatkan fungsi pencernaan
👉 menambah daya ingat
👉memperbaiki masalah limpa, hati & bagi pasien yang memiliki masalah arthritis dan asam urat,  mengkonsumsi air nabeez ini adalah salah satu alternatif terapi untuk kesehatan penderita arthritis dan gout.
Insyaa Allah.
Perlu diingat jangan kurma dicampur  dengan kismis.
Bagaimana Cara Membuat Air Nabeez?
Cara membuat air nabeez cukup mudah hanya dengan merendam beberapa butir kurma dg segelas air minum. Ikuti sunnah Nabi ambil bilangan ganjil 3/5/7 butir kurma. Nah air rendaman inilah *nabeez* baru diminum setelah 10-12 jam kemudian.
Air rendaman kurma nabeez di buat waktu sahur"untuk diminum saat buka puasam. Bila untuk sahur dibuat saat berbuka puasa.
Pengalaman dengan disiplin minum air nabeez meskipun saat sahur hanya makan sedikit badan terasa lebih bertenaga, puasa pun tetap segar dan fit.
Dan saat berbuka juga sama, sebelum makan makanan besar,  terlebih dulu berbuka dengan air nabeez.
Perlu diingat bahwa air nabeez ini tidak boleh dibiarkan lebih dari 2-3 hari, karena akan menyebabkan fermentasi dan tidak boleh lagi dikonsumsi. kenapa? karena saat fermentasi sudah berlangsung maka ini awal terbentuknya alkohol artinya minuman tersebut menjadi bagian dari minuman beralkohol dan hukumnya menjadi haram.
Jadi sebaiknya daily fresh (segar tiap hari) saja bila membuat air nabeez ini. Bikin pagi  minumnya saat berbuka puasa. Bikin sore diminumnya waktu sahur. Kurma yang direndam bisa langsung dimakan setelah airnya diminum. Kurma terasa lebih nikmat dan lembut.
Selamat mencoba, Insyaa Allah akan melihat manfaatnya dlm beberapa hari mengkonsumsi air nabeez ini.
Tabarakallah.

Pentingnya akhlak mulia

بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله.
*Pentingnya Akhlak Mulia Dalam Semua Kondisi*
▪Rabbunaa Yang Maha Pengasih berfirman :
{ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ }
" Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya ".
[QS. Adh-Dhuhaa ayat 10]

● Dikatakan bahwa :
" Orang yang minta-minta itu kondisinya sedang terjatuh dalam kefakiran dan terhina meminta belas kasihan,
Apabila semua itu engkau tambah dengan *buruknya penolakanmu* (untuk tidak memberi) padanya , maka semakin bertambahlah penderitaannya.
Oleh karena itu, jika engkau belum bisa memberinya kebaikan dengan suatu pemberian,
Minimal engkau berikan kebaikan padanya dengan *bagusnya caramu menolak* ".

[ Perkataan ini dinisbatkan kepada Al 'Allaamah *Al 'Izz bin 'Abdissalam* (wafat 678 H) rahimahullah dalam kitabnya *As Syajarah fil Wa'zh*, secara nukilan tanpa menyebutkan rincian, Wallahu A'lam ]
نسأل الله الكريم التوفيق لكل خير
وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
Al Faqir Ilaa Rahmati Rabbih
Hasanuddin Misbah
Kota Nabi صلى الله عليه وسلم

Rabu, 09 Mei 2018

Akibat Cinta Dunia Terhadap Hati

بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله.
Akibat Cinta Dunia Terhadap Hati
▪Tabi'in yang mulia Malik bin Dinar (wafat 127 H) rahimahullah mengatakan :
" Sebagaimana badan ketika kondisinya sakit, maka kurang merasakan enaknya makan, minum, tidur, maupun istirahat;
Begitupun kondisi hati ketika sudah terpikat dengan cinta dunia, maka kurang berpengaruh padanya arti dari sebuah nasehat ".

[ Kitab Hilyatul Auliya, karya Al Hafidz Abu Nu'aim Al Asfahani (wafat 430 H) rahimahullah, jilid 2, halaman 363, cetakan Darul Kutubil 'Ilmiyyah ]
نسأل الله السلامة والعافية
كما نسأله التوفيق لكل خير
وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
Al Faqir Ilaa Rahmati Rabbih
Hasanuddin Misbah
Kota Nabi صلى الله عليه وسلم

Jumat, 20 April 2018

Tentang Rizki

🍃💰 *REZEKI…*
✏Oleh:
 _Al-Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin Lc,  حفظه الله تعالى_
Yang kerja keras belum tentu mendapat banyak.
Yang kerja sedikit belum tentu mendapat sedikit.
Karena sesungguhnya sifat Rezeki adalah mengejar, bukan dikejar.
Rezeki akan mendatangi,
bahkan akan mengejar,
hanya kepada orang yang pantas didatangi….
Maka, pantaskan dan patutkan diri untuk pantas di datangi, atau bahkan dikejar rezeki.
Inilah hakikat ikhtiar…
Setiap dari kita telah ditetapkan rezekinya sendiri-sendiri.
Karena ikhtiar adalah kuasa manusia, namun rezeki adalah kuasa Allah Azza Wajalla.
Dan manusia tidak akan dimatikan, hingga ketetapan rezekinya telah ia terima, seluruhnya.
Ada yang diluaskan rezekinya dalam bentuk harta,
Ada yang diluaskan dalam bentuk kesehatan,
Ada yang diluaskan dalam bentuk ketenangan, keamanan,
Ada yang diluaskan dalam kemudahan menerima ilmu,
Ada yang diluaskan dalam bentuk keluarga dan anak keturunan yang shalih,
Ada yang dimudahkan dalam amalan dan ibadahnya…
Dan yang paling indah, adalah diteguhkan dalam hidayah Islam…
Hakikat Rezeki bukanlah hanya harta, rezeki adalah seluruh rahmat Allah Ta’ala…
Adapun *8 JENIS REZEKI DARI ALLAH TA’ALA:*
🍃 *1. Rezeki Yang Telah Dijamin.*
‎وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ
“Tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin ALLAH rezekinya.”
(Surah Hud : 6).
🍃 *2.  Rezeki Karena Usaha.*
‎وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
“Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya.”
(Surah An-Najm : 39).
🍃 *3. Rezeki Karena Bersyukur.*
‎لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(Surah Ibrahim : 7).
🍃 *4. Rezeki Tak Terduga.*
‎وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا( ) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberi nya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
(Surah At-Thalaq : 2-3).
🍃 *5. Rezeki Karena Istighfar.*
‎فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ( ) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
“Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta.”
(Surah Nuh : 10-11).
🍃 *6. Rezeki Karena Menikah.*
‎وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
“Dan nikahkanlah orang-orang yg masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan ke- cukupan kepada mereka dengan kurnia-Nya.”
(Surah An-Nur : 32).
🍃 *7. Rezeki Karena Anak.*
‎وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu kerana takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.”
(Al-Israa’ : 31).
🍃 *8. Rezeki Karena Sedekah*
‎مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً
“Siapakah yang mahu memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak.”
(Qur'an Surah Al-Baqarah : 245).
〰🍃💰🍃〰
Repost by.adm Kosh
#komunitasorangtuasholeh
#kamis,sharingilmubisnis

Jumat, 30 Maret 2018

Diantara Ciri Ahlu Sunnah

: بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله..

Tentang Nasehat Berharga dan Bermanfaat yang disampaikan Fadhilatus Syaikh DR. *Shalih Al 'Ushaimi* hafidzahullah (Salah Satu Ulama Besar dan Pengajar di Masjidil Haram serta Masjid Nabawi)

*Diantara Ciri Ahlus Sunnah, Banyak Membaca Shalawat kepada Nabi* ﷺ


○ Syari'at memerintahkan untuk memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam serta kepada keluarga beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam


○ Adapun maksud memperbanyak dalam sesuatu itu ialah *seseorang terus melakukan hal tersebut sehingga perbuatan tersebut mendominasi dan menjadi hal yang istimewa baginya*

Begitu pula dengan *memperbanyak membaca shalawat* kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan keluarga beliau shallallahu 'alaihi wa sallam *maksudnya pembacaan shalawat tersebut mendominasi ucapan lisannya untuk selalu bershalawat kepada beliau dan keluarga beliau* shallallahu 'alaihi wa sallam


○ Ada beberapa hadits yang menunjukkan penentuan banyaknya membaca shalawat baik sepuluh, atau seratus, atau seribu.

Akan tetapi semua hadits tersebut *tidaklah shahih* (yang tidak boleh dijadikan sebagai hujjah)


○ Jadi seseorang disebut memperbanyak membaca itu *ketika pembacaan shalawat tersebut mendominasi pengucapan lisannya*

Sebuah contoh ketika diperintahkan untuk memperbanyak pembacaan shalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam malam dan hari jum'at

Hal tersebut tidaklah tercapai dengan hitungan tertentu, seperti sepuluh umpamanya, lima puluh, seratus ataupun seribu.

Akan tetapi tercapai *dengan terus menerus mengucapkan shalawat itu hingga mendominasi pengucapan lisannya dalam segala keadaan pada seluruh malam dan hari jum'at tersebut*, bukan dengan bilangan tertentu, pada bagian tertentu saja dari malam dan hari jum'at tersebut, bukan seperti itu maksudnya.


○ Terdapat atsar yang baik yang diriwayatkan oleh seorang imam yang bergelar *Qawamus Sunnah* (Penegak Sunnah) yaitu Imam *Isma'il Al Ashbahani* rahimahullah (wafat 535 H) dalam kitabnya Fadhailul 'Amal, beliau menyebutkan riwayat dari Al Husain bin 'Ali radhiyallahu 'anhuma, ia berkata :

" *Ciri Ahlus Sunnah itu banyak membaca shalawat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam*".


أسأل الله العليم الكريم العلم النافع والعمل الصالح والتوفيق والإخلاص والقبول


ّاَللّٰهُمَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ،

ﻛَﻤَﺎ ﺻَﻠَّﻴْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺑْﺮَاﻫِﻴْﻢَ، ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺇِﺑْﺮَاﻫِﻴْﻢَ، ﺇِﻧَّﻚَ ﺣَﻤِﻴْﺪٌ ﻣَّﺠِﻴْﺪٌ،

اَللّٰٰهُمَّ ﺑَﺎﺭِﻙْ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ،

ﻛَﻤَﺎ ﺑَﺎﺭَﻛْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺑْﺮَاﻫِﻴْﻢَ، ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺇِﺑْﺮَاﻫِﻴْﻢَ ﺇِﻧَّﻚَ ﺣَﻤِﻴْﺪٌ ٌمَّجِيْدٌ


Al Faqir Ilaa Rahmati Rabbih
Hasanuddin Misbah
Kota Nabi صلى الله عليه وسلم
Jum'at waktu fajr, 13/07/1439 H.

Kamis, 29 Maret 2018

Akhlak dan Adab yang Paling Utama

بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله.

Akhlak dan Adab yang Paling Utama
Ketika kita mendengar kata "Akhlak dan Adab", maka yang terlintas adalah tata pergaulan kita terhadap sesama makhluk dengan baik.
Benar, ini merupakan bagian diantaranya.
Tapi ada yang *lebih utama* dan *harus kita utamakan* sebelum kepada yang lainnya.
Karena *Hak-Hak-Nya begitu Agung* untuk seorang hamba.
*Berakhlak dan Beradab kepada Sang Khalik Rabbuna Tabaaraka wa Ta'aalaa*.
Dialah Pencipta kita
Pemelihara kita
Pemberi hidayah
Pemberi pertolongan
Pemberi rizki
Serta kepada-Nya kita akan kembali.
Kasih sayang-Nya begitu besar kepada kita
Nikmat-Nya yang tak terhingga
Pemaaf walaupun dimaksiati
Terus Memberi walaupun diingkari
Luas rahmat dan ampunan-Nya serta Mencintai orang yang kembali kepada-Nya
Dan Sifat-Sifat Kesempurnaan lainnya yang sesuai dengan Keagungan-Nya.
Tapi...
Bagaimanakah timbal balik kita terhadap kebaikan-kebaikan Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa
Walaupun Allah Tabaaraka wa Ta'aalaa Maha Kaya, Maha Sempurna, tidak membutuhkan ibadahnya seorang hamba
Tapi kita lah yang butuh kepada Allah 'Azza wa Jalla
Sejauh mana sambutan kita terhadap perintah-perintah-Nya
Ketaatan kita untuk menjauhi larangan-larangan-Nya
Seberapa besarkah pengagungan kita terhadap Kebesaran dan Kekuasaan-Nya
Allahul Musta'an...
Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa berfirman :
{ وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ...َ }
"Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya..."
[QS. Az-Zumar ayat 67]

Mari kita mengambil pelajaran dan bercermin dari sekitar kita
Perhatikanlah, bagaimana bentuk *pengagungan makhluk Allah yang lainnya terhadap Kekuasaan dan Kebesaran-Nya*
Allah Jalla wa 'Alaa berfirman :
{ أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ ۗ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ ۩ }
"Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa *kepada Allah bersujud* apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar dari manusia ? *Dan banyak dari manusia yang telah di tetapkan azab atasnya*. Dan barangsiapa yang menghinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang dikehendaki."
[QS. Al-Hajj ayat 18]

Dalam ayat yang lain Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa berfirman :
{ أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ ۖ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ }
Tidakkah kamu tahu bahwasannya Allah: *kepada-Nya bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi* dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. *Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya*, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan."
[QS. An-Nur ayat 41]

Allahu Akbar...
Malulah rasanya kita yang Allah Muliakan dengan akal dan nikmat lainnya yang begitu besar
Belum bisa mengagungkan kebesaran-Nya, belum bisa menunaikan Hak-Hak-Nya sebagaimana mestinya !!!
Hanya kepada Allah saja-lah kita memohon Rahmat dan Ampunan dari-Nya
Serta terus memohon limpahan taufiq dan hidayah-Nya untuk berusaha mencapai ridha-Nya.
Aamiin.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد

Al Faqir Ilaa Rahmati Rabbih
Kota Nabi صلى الله عليه وسلم
Kamis ba'da fajr,, 12/07/1439 H.

Rabu, 28 Maret 2018

Menuntut Ilmu Lebih Utama dari Ibadah yang disunnahkan

بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله.

Tentang Nasehat Berharga dan Bermanfaat yang disampaikan Fadhilatus Syaikh DR. *Shalih Al 'Ushaimi* hafidzahullah (Salah Satu Ulama Besar dan Pengajar di Masjidil Haram serta Masjid Nabawi)
*Menuntut Ilmu Lebih Utama dari Ibadah yang disunnahkan*
○ Jumhur (mayoritas) Ulama telah menetapkan bahwa *menuntut ilmu serta menyibukkan dengannya* itu *lebih utama* dari menyibukkan dengan ibadah yang hukumnya sunnah (anjuran) dilihat dari beberapa tinjauan.
Sebagaimana hal ini disampaikan oleh Al 'Allamah *Ibnul Jama'ah Al Kinani As Syafi'i* rahimahullah (wafat 733 H) dalam kitabnya Tadzkiratus Saami' wal Mutakallimin fii Aadaabil Ilmi wal Muta'allim, antara lain :

*1)*. Kemanfaatan ilmu sifatnya menyebar untuk yang lainnya
Adapun ibadah yang disunnahkan itu (mayoritasnya) terbatas pada pelakunya saja.

*2)*. Ilmu sebagai pelurus amal yang disunnahkan tersebut, baik berupa shalat, dzikir dan yang lainnya.
Jadi ibadah yang disunnahkan ini membutuhkan keberadaan ilmu dalam meluruskan tata cara pelaksanaannya
Serta untuk mengetahui apakah ibadah tersebut disyari'atkan atau tidak.

*3)*. Orang-orang yang berilmu (Ulama) adalah pewaris para Nabi.

*4)*. Keta'atan kepada orang yang berilmu itu *wajib*, maksudnya ta'at terhadap ilmu dan kebenaran yang ia sampaikan.
Sebagaimana firman Allah 'Azza wa Jalla :
{ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ }
" Maka bertanyalah kepada *orang yang mempunyai pengetahuan* jika kamu tidak mengetahui".
[Surat An-Nahl 43]

Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa Memerintahkan untuk bertanya kepada Ahli Ilmu, yang otomatis diperintahkan juga *untuk menta'ati kebenaran yang mereka sampaikan*.
Begitu pula dengan firman Allah Tabaaraka wa Ta'aalaa :
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ }
" Hai orang-orang yang beriman ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul-Nya, dan *Ulil Amri* diantara kamu".
[QS. An-Nisa' ayat 59]

Diantara makna Ulil Amr itu mencakup didalamnya *Ulama*, sebagaimana pendapat ini dipilih oleh Ahli Ilmu yang terpercaya.

*5)*. Peninggalan dari ilmu itu sifatnya tetap dan terus mengalir walaupun yang mengemban ilmu tersebut telah meninggal
Berbeda dengan ibadah yang disunnahkan yang *mayoritasnya* terputus setelah pelakunya meninggal
Walaupun ada beberapa ibadah yang disunnahkan yang tetap dan terus mengalir walaupun pelakunya telah meninggal.
Tapi kedudukan dan peninggalan ilmu lebih dominan dan lebih kuat.
Sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :
(( إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَع عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ : .... أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ...))
"Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal : ....atau *ilmu yang bermanfaat*..."
[HR. Imam Muslim no. 1631, dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu]

*6)*. Dengan tetapnya ilmu, maka menjadi sebab tegaknya Syari'at serta penjagaan terhadapnya.
Barangsiapa yang membantu untuk menjaga serta menjadi sebab tegaknya Syari'at tersebut, maka kedudukannya lebih besar daripada orang yang melaksanakan hal selainnya.
--------------------------
*Faidah*
Imam *As Syafi'i* rahimahullah (wafat 204 H) berkata :
لَيْسَ بَعْدَ أَدَاءِ الْفَرَائِضِ شَيْءٌ أَفْضَلُ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ
" *Tidak ada yang lebih utama setelah seseorang melaksanakan ibadah yang difardhukan (diwajibkan) selain menuntut ilmu* "
[Kitab Al Madkhal, karya Imam Al Baihaqi rahimahullah (wafat 458 H), halaman 475]

نسأل الله التوفيق والإخلاص والقبول
وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Al Faqir Ilaa Rahmati Rabbih
Kota Nabi صلى الله عليه وسلم
Rabu ba'da fajr, 11/07/1439 H.

Rabu, 14 Maret 2018

TAQWA

بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله.

Amirul Mukminin *Umar bin Al Khattab* (Al Faruq) radhiyallahu 'anhu berkata :

*"Kami sebagai kaum yang Allah telah Muliakan dengan Islam, apabila kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Allah Berikan kehinaan."*

Bangsa Arab itu tidak mempunyai kemuliaan kecuali mulia *dengan Islam*.

Tidaklah pantas berbangga hati karena sebab keturunan arab, tidak pula karena panggilan arab.

Keturunan itu tidaklah berharga baik yang arab atau selainnya

Kemulian keturunan itu tidaklah diraih kecuali *dengan bertaqwa* kepada Allah.

Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa berfirman :

{ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ }

"Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah *orang yang paling bertaqwa* diantara kamu."

[QS. Al-Hujurat ayat 13]

Maka kesudahan yang baik itu bagi orang-orang yang bertaqwa

Kemulian dan keutamaan di sisi Allah itu dengan ketaqwaan

Surga itu diraih dengan ketaqwaan

Kemuliaan itu diraih dengan ketaqwaan

Maka setiap urusan pokok utamanya itu dengan ketaqwaan kepada Allah Tabaaraka wa Ta'aalaa.

[Syarh Shahih Muslim, oleh Fadhilatis Syaikh Prof. DR. Ibrahim Ar Ruhaily hafidzahullah (Pengajar di Masjid Nabawi)]

t.me/rehyli

وبالله التوفيق
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد

SELALU MERASA BUTUH KPD ALLOH SWT

بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله.

Selalu Merasa Butuh Kepada Allah

Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah (wafat tahun 620 H) memberikan wasiat, seraya berkata :

"Ketahuilah bahwa orang yang berada diatas perahu di tengah lautan tidak lebih butuh kepada Allah dan Kasih Sayang-Nya dari orang yang berada di rumah bersama keluarganya.

Apabila engkau tanamkan hal ini di dalam hatimu, maka bergantunglah selalu kepada Allah sebagaimana merasa butuhnya seorang yang sedang tenggelam yang tidak tahu sebab keselamatan baginya kecuali dari Allah."

[Al Washiyyatul Mubaarakah libni Qudaamah, hlm 40]

------------------------------

Salah satu Nama Allah Yang Mulia : *الصَّمَد* (As Shamad)

Diantara maknanya yaitu Allah Yang Maha Kaya dan Maha Berkuasa kepada-Nya bergantung seluruh makhluk.

Maka mintalah selalu pertolongan dari-Nya dalam segala urusan kita

Urusan besar ataupun kecil, hingga yang kita anggap sepele sekalipun.

Dalam semua keadaan, baik ketika sempit dan mendesak ataupun dalam keadaan lapang dan aman

Tanamkanlah bahwa tidak ada yang bisa memudahkan segala urusan kecuali atas pertolongan Allah.

Semakin kita dekat dan selalu merasa butuh kepada Allah, semakin banyak kita memohon kepada-Nya

Sedangkan Allah Senang terhadap hamba-Nya yang selalu meminta dan banyak berdo'a kepada-Nya.

نسأل الله التوفيق
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد

Alfaqir Hasanuddin Misbah
Kota Nabi صلى الله عليه وسلم
Rabu ba'da dzuhur, 26/06/1439 H.

Jumat, 01 Desember 2017

Halaqah 25 | Ridha Dengan Hukum Allāh

🌍 BimbinganIslam.com
Jum'at, 13 Rabi’ul Awwal 1439 H / 01 Desember 2017 M
👤 Ustadz Dr. 'Abdullāh Roy, M.A.
📘 Silsilah Belajar Tauhid
🔊 Halaqah 25 | Ridha Dengan Hukum Allāh
~~~~~~~~~~~~~~~

RIDHA DENGAN HUKUM ALLĀH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-25 dari Silsilah Belajar Tauhid kali ini adalah tentang "Ridha Dengan Hukum Allāh".

Allāh Ta'āla sebagai pencipta manusia sangat menyayangi mereka, Dialah Ar-Rahmān Ar-Rahīm.

Dan di antara bentuk kasih sayangNya adalah menurunkan syari'at supaya manusia mendapatkan kebahagiaan dan terhindar kesusahan didunia maupun akhirat.

Dia-lah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, hukumnya penuh dengan keadilan, hikmah & juga kebaikan, meskipun hal ini terkadang samar atas sebagian manusia.

Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi seorang Muslim dan juga Muslimah untuk:

✓Ridha dengan hukum Allāh.
✓Yakin bahwasanya kebaikan semuanya di dalam hukum Allāh.

⇒ Di dalam segala bidang kehidupan (meliputi) :
• 'Aqidah
• Akhlaq
• Adab
• Mu'āmalah
• Ekonomi
• Kenegaraan
• Dan lain-lain.

Meng-Esakan Allāh di dalam hukum-hukumNya adalah termasuk konsekuensi tauhid.

Allāh berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

"Dan tidaklah pantas bagi seorang laki-laki yang mu'min dan wanita yang mu'minah apabila Allāh & Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain di dalam urusan mereka.

Dan barangsiapa yang mendurhakai Allāh dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata."
(QS Al-Ahzab: 36)

Saudaraku,

Alhamdulillāh dengan izin Allāh dan karunia-Nya sampailah kita pada bagian yang terakhir dari Silsilah Tauhid, yaitu bagian ke-25.

Dan dengan ini saya akhiri silsilah ini. Dan bukan berarti kita sudah merasa cukup.

Apa yang disampaikan hanyalah sebagian kecil dari ilmu tauhid itu sendiri.

Belajar tauhid dan mengamalkannya tidak akan berhenti sampai ajal menjemput kita.

Ikutilah majelis-majelis ilmu yang membahas tentang tauhid ini.

Bacalah buku-buku yang berkaitan dengan tauhid yang telah ditulis oleh para ulama yang terpercaya.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla merahmati kita semua, menghidupkan dan juga mematikan kita di atas tauhid.

الحمد لله رب العالمين
و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين.

Saudaramu, 'Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah An-Nabawiyyah

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
_______________________________

Halaqah 24 | Menyandarkan Nikmat Kepada Allāh

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 12 Rabi’ul Awwal 1439 H / 30 November 2017 M
👤 Ustadz Dr. 'Abdullāh Roy, M.A.
📘 Silsilah Belajar Tauhid
🔊 Halaqah 24 | Menyandarkan Nikmat Kepada Allāh
~~~~~~~~~~~~~~~

MENYANDARKAN NIKMAT KEPADA ALLĀH

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Halaqah yang ke-24 berjudul "Menyandarkan Nikmat Kepada Allāh".

Termasuk keyakinan yang harus diyakini dan diingat oleh setiap Muslim bahwa kenikmatan dengan segala jenisnya adalah dari Allāh.

Allāh berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

"Kenikmatan apa saja yang kalian dapatkan maka asalnya adalah dari Allāh."

(QS An Nahl: 53)

Dan termasuk syirik kecil apabila seseorang mendapatkan sebuah kenikmatan dari Allāh kemudian menyandarkan kenikmatan tersebut kepada selain Allāh.

Seperti mengatakan:

"Kalau pilot tidak mahir niscaya kita sudah celaka."
"Kalau tidak ada angsa niscaya uang kita sudah dicuri."
• "Kalau bukan karena dokter niscaya saya tidak sembuh."

Ini semua adalah menyandarkan kenikmatan kepada sebab.

Allāh berfirman:

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا

"Mereka mengenal nikmat Allāh kemudian mereka mengingkarinya."

(QS An Nahl: 83)

Seharusnya dia sandarkan kenikmatan tersebut kepada Allāh, Zat yang menciptakan sebab.

Seperti dengan mengatakan:

• "Kalau bukan karena Allāh niscaya kita sudah celaka."
• "Kalau bukan Allāh niscaya uang kita sudah hilang."
• "Kalau bukan karena Allāh niscaya saya tidak akan sembuh."

Karena apa?

Karena Allāh-lah yang memberikan:

✓Nikmat keselamatan
✓Nikmat keamanan
✓Nikmat kesembuhan

Sedangkan makhluk hanyalah sebagai alat sampainya kenikmatan tersebut kepada kita.

Kalau Allāh menghendaki niscaya Allāh tidak akan menggerakkan makhluk-makhluk tersebut untuk menolong kita.

Ini semua, bukan berarti seorang Muslim tidak boleh berterima kasih kepada orang lain.

Seorang Muslim diperintah untuk mengucapkan syukur dan terima kasih kepada seseorang yang berbuat baik kepadanya karena mereka menjadi sebab kenikmatan ini.

Bahkan diperintah untuk membalas kebaikan tersebut dengan kebaikan atau dengan do'a yang baik.

Namun, pujian dan penyandaran kenikmatan tetap hanya kepada Allāh semata.

والله تعالى أعلم

Itulah yang bisa kita sampaikan pada kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.

و صلى الله على نبينا محمد و على آل نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين.

Saudaramu, 'Abdullāh Roy

✒Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
➖➖➖➖➖➖➖

Halaqah 23 | Ta'at Ulama Dalam Kebenaran

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 11 Rabi’ul Awwal 1439 H / 29 November 2017 M
👤 Ustadz Dr. 'Abdullāh Roy, M.A.
📘 Silsilah Belajar Tauhid
🔊 Halaqah 23 | Ta'at Ulama Dalam Kebenaran
~~~~~~~~~~~~~~~

TA'AT ULAMA DALAM KEBENARAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول

Halaqah yang ke-23 dari Silsilah kita adalah tentang "Ta'at Ulama Dalam Kebenaran".

Ulama adalah orang-orang yang memiliki ilmu tentang Allāh dan juga agamanya.

Ilmu yang membawa dirinya untuk bertaqwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.

Mereka adalah pewaris para Nabi dan kedudukan mereka di dalam agama Islam adalah sangat tinggi.

Allāh telah mengangkat derajat para ulama dan memerintahkan kita untuk ta'at kepada mereka selama mereka menyeru dan mengajak kepada kebenaran dan juga kebaikan.

Allāh Ta'ālā berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ

"Wahai orang-orang yang beriman, ta'atlah kepada Allāh dan ta'atlah kepada Rasul dan Ulil Amri kalian."

(QS An Nisā: 59)

⇒ Dan ulil amri disini mencakup ulama dan juga umarā (pemerintah).

Menghormati mereka (yaitu para ulama) bukan berarti menta'ati mereka dalam segala hal sampai kepada kemaksiatan.

Ulama, ayyuhal ikhwah, seperti manusia yang lain; ijtihad mereka terkadang salah dan terkadang benar.

✓Kalau benar, mereka mendapatkan 2 pahala.
✓Kalau salah, mereka mendapatkan 1 pahala.

Apabila jika telah jelas kebenaran bagi seorang Muslim dan jelas bahwasanya seorang ulama menyelisihi tersebut dalam sebuah permasalahan, maka tidak boleh seseorang menta'ati ulama tersebut kemudian dia meninggalkan kebenaran.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

"Tidak ada keta'atan dalam kemaksiatan, sesungguhnya keta'atan hanya di dalam kebenaran."

(Muttafaqun 'alaih)

Apabila seseorang menta'ati ulama dalam kemaksiatan kepada Allāh, maka dia telah menjadikan ulama tersebut sebagai pembuat syari'at dan bukan penyampai syari'at, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi & Nashrani.
Allāh berfirman :

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ الله

"Mereka (yaitu orang-orang Yahudi dan Nashrani) menjadikan ulama dan ahli ibadah mereka sebagai sesembahan selain Allāh."

(QS At Taubat: 31)

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menjelaskan ayat ini, Beliau mengatakan:

"Ketahuilah bahwa mereka bukan beribadah kepada para ulama dan ahli ibadah tersebut, akan tetapi mereka, apabila menghalalkan apa yang Allāh haramkan, maka mereka ikut menghalalkan.

Dan apabila ulama dan ahli ibadah tersebut mengharamkan apa yang Allāh halalkan, maka mereka pun ikut mengharamkan."

(Hadits hasan, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi)

Itulah halaqah yang ke-23 sampai bertemu pada halaqah yang selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Saudaramu, 'Abdullāh Roy

✒Ditranskrip oleh
Tim Transkrip BiAS
➖➖➖➖➖➖➖

Selasa, 28 November 2017

Halaqah 22 | Takut Kepada Allāh

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 10 Rabi’ul Awwal 1439 H / 28 November 2017 M
👤 Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
📘 Silsilah Belajar Tauhid
🔊 Halaqah 22 | Takut Kepada Allāh
~~~~~~~~~~~~~~~

TAKUT KEPADA ALLĀH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Halaqah yang ke-22 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang "Takut Kepada Allāh". 

Di antara keyakinan seorang muslim, ayyuhal ikhwah, adalah bahwasanya manfaat dan mudharat adalah di tangan Allāh  Subhānahu wa Ta'ālā semata.

Seorang muslim tidak takut kecuali kepada Allāh dan tidak bertawakal kecuali kepada Allāh.

Takut kepada Allāh yang dibenarkan adalah takut yang membawa pelakunya untuk:

✓Merendahkan diri di hadapan Allāh
✓MengagungkanNya
✓Membawanya untuk menjauhi larangan Allāh Subhānahu wa Ta'ālā
✓Melaksanakan perintahNya
✓Bukan takut yang berlebihan yang membawa kepada keputusasaan terhadap rahmat Allāh.
✓Bukan takut yang terlalu tipis yang tidak membawa pemiliknya kepada ketaatan kepada Allāh .

Takut seperti ini adalah ibadah.

Tidak boleh sekali-sekali seorang Muslim menyerahkan takut seperti ini kepada selain Allāh.

Dan barangsiapa menyerahkannya kepada selain Allāh, maka dia telah terjerumus ke dalam syirik besar, yang mengeluarkan seseorang dari Islam.

Seperti orang yang takut (terkena) mudharat (dengan) wali fulan yang sudah meninggal kemudian takut tersebut menjadikan dia merendahkan diri di hadapan kuburannya dan juga mengagungkannya.

Hendaknya seorang Muslim meneladani Nabi Ibrāhīm 'Alaihissalām ketika beliau berkata:

ﻭَﻟَﺎ ﺃَﺧَﺎﻑُ ﻣَﺎ ﺗُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ ﺑِﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﺸَﺎﺀَ ﺭَﺑِّﻲ ﺷَﻴْﺌًﺎ

"Dan aku tidak takut dengan sesembahan kalian, mereka tidak memudharati aku kecuali apabila Rabbku menghendakinya."
(QS Al An'ām: 80)

Di antara takut yang diharamkan adalah takutnya seseorang kepada makhluk yang melebihi takutnya kepada Allāh sehingga takut tersebut membuat dia meninggalkan perintah Allāh atau melanggar larangan Allāh, seperti:

• Orang yang meninggalkan jihad yang wajib atasnya karena takut kepada orang-orang kafir.

Atau,

• Tidak melarang kemungkaran karena takut celaan manusia padahal dia mampu.

Allāh Subhānahu wa Ta'ālā berfirman :

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺫَﻟِﻜُﻢُ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻳُﺨَﻮِّﻑُ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀَﻩُ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﺨَﺎﻓُﻮﻫُﻢْ ﻭَﺧَﺎﻓُﻮﻥِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻣُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ

"Sesungguhnya itu hanyalah syaithan yang menakut-nakuti kalian wahai orang-orang yang beriman, dengan wali-walinya (penolong-penolongnya). Karena itu janganlah kalian takut kepada mereka tetapi takutlah kalian kepadaKu jika kalian benar-benar orang yang beriman."
(QS Āli 'Imrān: 175)

Di antara cara menghilangkan rasa takut kepada makhluk yang diharamkan adalah:

• ⑴ Berlindung kepada Allāh dari bisikan syaithan.
• ⑵ Mengingat sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang artinya:

ﻭَﺍﻋْﻠَﻢْ ﺃَﻥَّ ﺍﻷُﻣَّﺔَ ﻟَﻮِ ﺍﺟْﺘَﻤَﻌَﺖْ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻮﻙَ ﺑِﺸَﻰْﺀٍ ﻟَﻢْ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻮﻙَ ﺇِﻻَّ ﺑِﺸَﻰْﺀٍ ﻗَﺪْ ﻛَﺘَﺒَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻚَ ﻭَﻟَﻮِ ﺍﺟْﺘَﻤَﻌُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻀُﺮُّﻭﻙَ ﺑِﺸَﻰْﺀٍ ﻟَﻢْ ﻳَﻀُﺮُّﻭﻙَ ﺇِﻻَّ ﺑِﺸَﻰْﺀٍ ﻗَﺪْ ﻛَﺘَﺒَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ

"Ketahuilah bahwa seandainya umat semua berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu niscaya mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali dengan apa yang sudah Allāh tulis dan seandainya mereka berkumpul untuk memberikan mudharat kepadamu niscaya mereka tidak bisa memberikan mudharat kecuali dengan apa yang sudah Allāh tulis."

(HR Tirmidzi dan dishahihkan Syaikh Al Albāniy Rahimahullāh)

Diperbolehkan takut yang merupakan tabiat manusia seperti takut kepada panasnya api binatang buas.

Dan takut seperti ini bukanlah takut yang merupakan ibadah dan juga bukan takut yang membawa seseorang meninggalkan perintah atau melanggar larangan Allāh.

Ini adalah takut yang tabiat, yang para Nabi pun tidak terlepas darinya.

Itulah halaqah yang ke-22 dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjuntnya.

و صلى الله على نبينا محمد و على آل نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين.

Saudaramu, 'Abdullāh Roy

✒Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
----------------------------------------------

Kajian

IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH

🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah  Fī...

hits