Sebagai anggota BIAS N07 G-35, Dengan memanfaatkan Blog ini bertujuan untuk Menyimpan Catatan materi yang telah di sampaikan. dan juga dari berbagai sumber materi, Apabila ada komentar yang sifatnya membangun Insya Alloh akan kami terima. semoga bisa berguna untuk kedepannya terima kasih Semangat Belajar
Senin, 18 Januari 2021
KEUTAMAAN MENJENGUK ORANG SAKIT
Kamis, 23 Juli 2020
Keutamaan Amal Shalih Pada 10 Hari Di Awal Bulan Dzulhijjah
🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 2 Dzulhijjah 1441 H / 23 Juli 2020 M
👤 Ustadz Fauzan Abdullah, S.T., M.A.
📗 Serial Bulan Dzulhijjah
🔊 Halaqah 04 | Keutamaan Amal Shalih Pada 10 Hari Di Awal Bulan Dzulhijjah
⬇ Download audio: bit.ly/Dzulhijjah1441-UF
〰〰〰〰〰〰〰
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد الله والصلاة والسلام على رسول الله, أما بعد
Para sahabat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Alhamdulillāh hari ini kita diberikan kesempatan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla untuk masuk pada fase (masa) yang terbaik, pada hari-hari yang terbaik yaitu 10 (sepuluh) hari di awal bulan Dzulhijjah.
Kita masuk tanggal 1 Dzulhijjah di mana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam beliau memotivasi kita semua untuk beramal shālih sebanyak-banyaknya.
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ
"Tidak ada satu hari pun di mana amalan shālih yang dikerjakan di dalamnya lebih baik dan dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla melainkan amalan-amalan yang dikerjakan pada sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah"
Maka sahabat bertanya:
فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
"Wahai Rasūlullāh, tidak juga jihād fī sabilillāh?"
Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menjawab:
وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
"Kecuali seseorang yang dia pergi berjihād fī sabilillāh membawa harta dan jiwanya kemudian tidak kembali sedikitpun keduanya (mati syahid)"
(Hadīts riwayat At-Tirmidzī nomor 757 dan Abū Dāwūd secara marfu')
Orang yang berjihād fīsabilillah kemudian dia mati syahid maka itulah yang dapat menandingi amalan-amalan shālih yang dikerjakan pada 10 (sepuluh) awal bulan Dzulhijjah.
Dari hadīts ini kita ketahui bahwasanya amalan-amalan yang dikerjakan di 10 (sepuluh) hari, awal bulan Dzulhijjah adalah amalan yang luar biasa, sehingga para sahabat sendiri merasa bahwa amalan jihād adalah yang paling besar. Sehingga mereka bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Oleh karena itu dalam satu kesempatan syaikh Utsaimin bertanya kepada hadirin, "Ada seorang yang shalāt dua raka'at di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhān dan ada seorang yang shalāt raka'at nafilah di 10 (sepuluh) hari awal bulan Dzulhijjah, mana yang lebih baik?"
Beliau (Syaikh Utsaimin) mengatakan :
"Yang lebih afdhal dan lebih baik adalah yang shalāt dua raka'at di awal 10 (sepuluh) hari bulan Dzulhijjah"
Beliau mengatakan,
"Ini adalah suatu yang aneh bagi orang-orang yang awam, akan tetapi bukan sesuatu yang aneh bagi ahli ilmu, karena mereka mengetahui tentang keutamaan 10 (sepuluh) hari awal bulan Dzulhijjah"
Oleh karena itu kata beliau,
"Oleh karena itu wajib bagi ahlul ilmi untuk terus menerangkan kepada orang-orang awam tentang keutamaan dari 10 (sepuluh) hari awal bulan Dzulhijjah, karena 10 (sepuluh) hari awal bulan Dzulhijjah lebih utama daripada 10 (sepuluh) hari di akhir bulan Ramadhān"
Walaupun di sana ada khilāf tentang malamnya akan tetapi secara umum para ulama bersepakat bahwa 10 (sepuluh) hari di awal bulan Dzulhijjah lebih utama daripada 10 (sepuluh) hari di akhir bulan Ramadhān.
Oleh karena itu para sahabat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Pada 10 (sepuluh) hari di awal bulan Dzulhijjah ini kita berlomba-lomba, kita bersegera untuk melaksanakan apa yang kita kerjakan untuk melakukan yang terbaik di 10 (sepuluh) hari di awal bulan Dzulhijjah ini dengan berbagai macam ibadah-ibadah yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla perintahkan kepada kita.
Tatkala kita niatkan dengan ibadah dan kita sadar bahwa sepuluh hari di awal bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang luar biasa yang Allāh berikan kenikmatan ini kepada kita, memberikan kesempatan kepada kita semua.
Maka sangat merugi seseorang yang dia melalaikan kesempatan yang Allāh berikan kepada kita ini.
Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan taufīq kepada kita semua agar kita berlomba-lomba, agar kita bersemangat, agar kita mengembalikan niat atau meniatkan segala aktifitas kita bahkan dalam pekerjaan kita, niatkan agar ia adalah ibadah.
Kita menunaikan amanah dengan sebaik mungkin, dan kita berusaha bersungguh-sungguh di semua waktu kita untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, beramal shālih, bersedekah, shalāt, kita membaca Al-Qur'ān, kita bertutur kata yang baik, kita menolong orang lain, kita melakukan semua amal kebaikan.
Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla melipat gandakan dan menerima amalan-amalan kita semua.
Semoga yang sedikit ini bermanfaat.
و صلى الله على نبينا محمد و على آله وصحبه و سلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Akhukum Fīllāh
Fauzan Abdullāh
____________________________
Kamis, 14 Mei 2020
KEUTAMAAN SEPULUH HARI TERAKHIR RAMADHĀN
🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 21 Ramadhan 1441 H / 14 Mei 2020 M
👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A.
📗 Kajian: Serial Kultum Ramadhan ke-21
🔊 Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Ramadhan1441-21
〰〰〰〰〰〰〰
KEUTAMAAN SEPULUH HARI TERAKHIR RAMADHĀN
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رسول الله وعلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ ومن والاه، ولا حول ولا قوة إلا بالله. أَمَّا بَعْدُ
Para pemirsa,
Ramadhān adalah bulan yang sangat istimewa, paling istimewa di antara 12 bulan yang ada. Di dalam Ramadhān ada 10 hari terakhir yang lebih istimewa lagi, sehingga kondisi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam beramal berbeda dengan 20 hari di awal Ramadhān.
Selama Ramadhān Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam jauh berbeda, beramalnya jauh berbeda dengan luar Ramadhān. Tapi di 10 hari terakhir bulan Ramadhān, Nabi lebih sangat berbeda lagi dengan hari-hari 20 Ramadhān yang awal.
Seperti disampaikan oleh Āisyah radhiyallāhu 'anhā, istri Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam beliau mengatakan:
كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد المئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله.
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam apabila masuk pada 10 terakhir bulan Ramadhān:
(1) Syadda mi’zarahu شد المئزره, mengencangkan sarungnya, yang dimaksud para ulama adalah qiyasan menjauhi para istrinya dalam rangka untuk konsen beribadah sehingga betul-betul lebih fokus beribadah di 10 akhir bulan Ramadhān. Secara umum semua ibadah ya dzikirnya, dzikir wiridnya, baca Al-Qur'ānnya, kemudian infaq shadaqahnya, dan kebaikan-kebaikan bulan Ramadhān. Ada lebih dikencengkan lagi yaitu pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhān.
(2) Wa ahya lailahu وأحيا ليله, menghidupkan malamnya. Menghidupkan malamnya juga dengan segala macam ibadah terutama adalah qiyamul lail dan qira'atul Qur'ān dan dzikir-dzikir murid, bukan semata-mata mengkhususkan shalāt malam tapi termasuk ini menghidupkan malam secara umum dengan qiyamul lail, dengan qira'atul Qur’ān, dengan wirid dan dzikir dengan do’a-do'a, dengan ini banyak berustighfar, ini adalah menghidupkan malam. Lebih banyak malam yang dihidupkan dibandingkan dengan ini sebelumnya.
(3) Wa aiqadha Ahlah وأيقظ أهله. Kemudian membangunkan keluarganya, termasuk dalam bentuk perhatian kepada yakni keluarga agar betul-betul, jangan sampai kehilangan kesempatan even di 10 terakhir bulan Ramadhān.
Di 10 yang terakhir ini, Nabi, tensi amalnya meningkat dan sehingga di 10 hari terakhir inilah mengajarkan itikaf, yang itikaf adalah amaliyyah upaya untuk memutus hubungan dengan keramaian kepada para makhluk, sehingga lebih konsen ini bersama dengan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Dan syarat itikaf adalah di masjid kemudian diawali dari masuknya bisa setelah shalāt subuh, bisa setelah shalāt maghrib, sampai nanti malam lebaran/akhir Ramadhān dia keluar, dan tidak boleh keluar masjid kecuali ada hajat khusus yang tidak bisa dipenuhi di masjid.
Contohnya: Hajat untuk buang ke belakang, hajat untuk mandi.
Adapun sekedar keluar dia pengen tengok orang sakit, pengen ziarah, tidak boleh. Karena itikaf adalah konsen dia di dalam masjid.
Akan tetapi sangat disayangkan kita berada di tahun-tahun wabah, dan Ramadhān kita berada di dalam bulan wabah, bulan-bulan wabah. Akan tetapi jangan khawatir yang penting bagaimana kita memiliki niat yang lurus. Karena sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla menilai seseorang dari kebiasaannya.
Orang yang biasa shalāt jama'ah ke masjid, orang biasa mereka ini jamaah ya shalāt jama'ah ke masjid, biasa melakukan puasa dengan bagus, kemudian ketika ada udzur, maka Allāh memberikan pahala sesuai dengan kebiasaan.
Sedangkan udzur adalah ini udzur dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla makanya kita akan di list bagaimana kebiasan yang ada, sehingga 10 yang terakhir jangan sampai anda sia-siakan waktu anda adalah emas bagi anda. Detik-detik anda menentukan kehidupan anda dan pedagang akhirat inilah puncak hari-hari untuk memaksimalkan amal.
Semoga Allāh betul-betul memberikan taufiq kepada kita sehingga di 10 hari yang terakhir khususnya malam-malamnya jangan pernah kita lewatkan untuk waktu yang sia-sia. Karena ini adalah detik untuk meraih kejayaan sebagai pedagang akhirat waktu yang tidak bisa lewatkan begitu saja.
Lebih-lebih di 10 hari terakhir ada lailatul qadar yang ini Allāh letakkan di antara malam-malam 10 hari terakhir yang kebaikannya 1000 bulan lebih baik dibandingkan dengan di luar yakni bulan Ramadhān, yang beramal di malam lailatul qadar lebih utama dari 1000 bulan.
Semoga taufiq Allāh mengiringi kita dan jangan lupa banyak berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla jangan kehilangan kesempatan emas di 10 terakhir bulan Ramadhān.
Siapkan lebih baik dengan ilmu anda, hati anda, dan do'a anda.
وصلى الله على النبينا محمد وعلى آله وصحبه و سلم
اﻟسّلامــ عليكـمــ ورحمـۃ اﻟلّـہ وبركاتہ
____________________
Senin, 27 April 2020
KEUTAMAAN PUASA
🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 02 Ramadhan 1441 H / 25 April 2020 M
👤 Ustadz Amir As Soronji, M.Pd.I.
📗 Kajian: Serial Kultum Ramadhan
🔊 Keutamaan Puasa
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Ramadhan1441-02
〰〰〰〰〰〰〰
*KEUTAMAAN PUASA*
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله وصلاة و سلم على رسول الله ولاحول ولا قوة إلا بالله. اما بعد
Para pemirsa yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Ketahuilah, bahwasanya puasa merupakan ibadah yang paling utama dan ketaatan yang sangat mulia.
Telah datang atsar-atsar mengenai keutamaannya dan telah dinukil berita-berita mengenai keistimewaannya.
Di antara keutamaan puasa:
⑴ Puasa adalah Jalan Meraih Takwa
Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah mewajibkan puasa kepada seluruh umat.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
_"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kamu bertakwa."_
(QS Al Baqarah: 183)
Ayat mulia ini menjelaskan bahwa puasa merupakan ketaatan yang sangat utama karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla mewajibkan puasa kepada seluruh umat.
Semua umat diwajibkan puasa. Karena mereka membutuhkan puasa, membutuhkan pahala puasa.
⑵ Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Pengampunan Dosa
Keutamaan kedua disebutkan dalam hadīts riwayat Al Bukhāri dan Muslim dari sahabat Abū Hurairah radhiyallāhu 'anhu.
Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda tentang keutamaan puasa Ramadhān, Beliau bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
_“Barangsiapa berpuasa di Ramadhān atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allāh, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”_
(Hadīts riwayat Al Bukhāri nomor 38 dan Muslim nomor 760)
Maksudnya dengan penuh keimanan adalah iman kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan ridhā dengan kewajiban puasa. Dia tidak benci dengan kewajiban puasa dan tidak ragu dengan pahala dan ganjarannya.
Dalam hadīts riwayat Muslim dari sahabat Abū Hurairah radhiyallāhu 'anhu, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
_"Shalāt yang lima waktu, antara Jum'at yang satu ke Jum'at berikutnya, dari Ramadhān yang satu ke Ramadhān berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar."_
(Hadīts riwayat Muslim nomor 233)
⑶ Pahala Puasa tidak Terikat Dengan Jumlah Tertentu.
Orang yang berpuasa akan diberikan ganjaran tanpa batas.
Dalam Shahīh Al Bukhāri dan Muslim dari sahabat Abū Hurairah radhiyallāhu 'anhu, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ
_"Semua amalan bani Adam untuknya kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya." Puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau bertengkar, maka ucapkanlah, "Aku sedang berpuasa."_
_Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesunguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allāh daripada bau misk. Bagi orang yang puasa mempunyai dua kegembiraan, jika berbuka mereka gembira, jika bertemu Rabbnya mereka gembira karena puasa yang dilakukannya._
(Hadīts riwayat Al Bukhāri nomor 4/88, Muslim nomor 1151)
⑷ Puasa akan Memberi Syafa’at bagi Orang yang Menjalankannya
Puasa kelak pada hari kiamat akan memberikan syafa'at kepada orang yang rajin melaksanakannya.
Dari Abdullāh bin Umar radhiyallāhu 'anhumā, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ
_Puasa dan Al Qur’ān akan memberikan syafa'at kepada hamba di hari Kiamat. Puasa akan berkata, “Wahai Rabbku, aku akan menghalanginya dari makan dan syahwat, maka berilah dia syafa’at karenaku.” Al Qur’ān pun berkata, “Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka berilah dia syafa’at karenaku.” Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda, "Maka keduanya akan memberi syafa’at.”_
(Hadīts riwayat Ahmad nomor 6626)
Para pemirsa rahimakumullāh.
Keutamaan-keutamaan puasa tidak akan diraih, kecuali orang yang berpuasa melaksanakan adab-adab berpuasa.
Maka bersungguh-sungguhlah kalian untuk menyempurnakan puasa kalian, menjaga batasan-batasannya dan bertaubatlah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla atas kekurangan dalam menjalankan ibadah puasa.
وصلى الله على نبينا محمد و الحمد لله رب العالمين
_________
Jumat, 24 April 2020
Keutamaan Bulan Ramadhan
🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 01 Ramadhan 1441 H / 24 April 2020 M
👤 Ustadz Amrullah Akadhinta, S.T.
📗 Kajian: Serial Kultum Ramadhan
🔊 Keutamaan Bulan Ramadhan
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Ramadhan1441-01
〰〰〰〰〰〰〰
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله وصلاة و سلم على رسول الله و على آله أصحابه ومن وله ولاحول ولا قوة إلا بالله. اما بعد
Alhamdulillāh hari ini kita memasuki sebuah bulan yang kita tunggu, sebuah bulan yang menjadi tamu agung bagi kaum muslimin.
Bulan yang mulia, bulan dimana Al-Qur'ān diturunkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla kepada hamba-hamba-Nya dan menjadi petunjuk bagi hamba-hamba-Nya.
Inilah bulan Ramadhān.
Bulan yang didalamnya terdapat malam lailatul qadar, malam yang lebih mulia daripada 1000 bulan, malam yang apabila seorang beribadah di dalamnya, Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjanjikan pahala yang lebih besar daripada apabila dia beribadah selama 1000 bulan.
Hadirin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:
شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ
"Bulan Ramadhān adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'ān, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas berupa petunjuk dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)."
(QS Al-Baqarah:185)
Maka bulan Ramadhān adalah bulan yang sangat mulia bulan yang sangat agung bagi kaum muslimin.
Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
”Apabila datang Ramadhān tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan syaithan pun dibelenggu.”
(Hadīts shahīh riwayat Al-Bukhāri no 3277 dan Muslim no 1079, dari Abū Hurairah radhiyallāhu 'anhu)
Para ulama menjelaskan bahwa dibukanya pintu surga ini hakiki, yaitu dibuka pintu surga yang telah Allāh janjikan bagi orang-orang yang bertakwa.
Demikian pula bisa dipahami dibuka pintu surga yaitu dibukanya pintu amal kebaikan yang sangat banyak.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla melipatgandakan amalan orang-orang yang beramal dibulan ini dan sangat banyak ibadah-ibadah yang bisa kita lakukan di bulan ini.
Demikian pula kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam,
وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ
"Dan ditutup pintu-pintu neraka.”
Demikian pula ditutup pintu neraka secara hakiki, demikian pula di bulan mulia ini orang-orang menjadi sulit untuk berbuat maksiat, menjadi sulit untuk berbuat keburukan sebagaimana di bulan-bulan lainnya, dia berpuasa dia mengerjakan ibadah-ibadah kondisi lingkungan tidak memungkinkan dan seterusnya.
وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
"Demikian pula syaithan-syaithan dibelenggu.”
Sehingga mereka yang biasanya menggoda bani Adam (menggoda manusia) syaithan-syaithan besar ini dibelenggu oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Sehingga mereka tidak bisa lagi menggoda bani Adam.
Sahabat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Dalam hadīts lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan,
أُعْطِيَتْ أُمَّتِي خمسَ خِصَالٍ في رَمَضَانَ لَمْ تُعْطَهُنَّ أمَّةٌ من الأُمَمِ قَبْلَهاَ
"Di bulan Ramadhān umatku diberi lima keistimewaan yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya."
Apa itu?
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:
خُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ اْلمِسْكِ
"Bau mulut orang yang berpuasa di hadapan Allah lebih baik dari pada minyak misk.”
Karena puasa merupakan ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, bau mulut tersebut terjadi karena seseorang berpuasa di jalan Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Walaupun di sisi manusia mulutnya bau tetapi disisi Allāh lebih harum daripada misk. Karena itu hasil ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
وَتَسْتَغْفرُ لَهُمْ اْلمَلاَئِكَةُ حَتىَّ يُفْطِرُوْا
“Orang-orang yang berpuasa semuanya dimintakan ampunan oleh para malāikat hingga mereka berbuka.”
Subhānallāh.
Dimintakan ampunan oleh malāikat !
Seorang dimintakan ampun oleh seorang kiai, oleh seorang ulama saja senang, apalagi dimintakan ampun oleh malāikat Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Makhluk Allāh yang tidak pernah bermaksiat kepada Allāh, makhluk Allāh yang dekat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Kemudian kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam,
وَيُزَيِّنُ اللهُ لَهُمْ كُلَّ يَوْمٍ جَنَّتَهُ، ثُمَّ يَقُوْلُ : يُوْشِكُ عِبَادِيْ الصَّائِمُوْنَ أَنْ يُلْقُوْا عَنْهُمْ الْمَئُونَةَ وَاْلأَذَى وَيَصِيْرُوْنَ إِلَيْكَ.
"Setiap hari di bulan Ramadhān Allāh memperindah surga untuk orang-orang yang berpuasa. Kemudian Allāh berfirman: “Para hamba-Ku yang melakukan puasa hampir menemukan hasil dan jerih payahnya hingga sampai kepadamu (wahai surga)."
Seandainya kira mendapatkan berita, bahwa kita mendapatkan sebuah rumah dan rumah tersebut sedang dihias oleh presiden. Maka kita akan berbahagia dan bangga dan pasti kita mengharapkan rumah yang indah. Betapa tidak, yang menghias rumah adalah presiden.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang menghias jannah bagi seorang yang berpuasa.
وَتُصَفَّدُ فِيْهِ مَرَدَّةُ الشَّياَطِيْنِ ، وَلاَ يُخْلِصُوْنَ فِيْهِ إِلَى مَا كاَنُوْا يُخْلِصُوْنَ فِي غَيْرِه
"Di bulan ini para syaithan dibelenggu yang semuanya tidak bisa lepas seperti di bulan lainnya.”
وَيَغْفِرُ لَهُمْ فِيْ آخِرِ لَيْلَةٍ
"Dan di akhir malam bulan Ramadhān Allāh memberikan ampunan.”
قِيْلَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ : اَهِيَ لَيْلَةُ اْلقَدَرِ ؟
Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ditanya, “Apakah itu malam Lailatul Qadar?”.
قَالَ : لاَ ، وَلَكِنَّ الْعَامِلَ إِنَّمَا يُوَفَّى أَجْرُهُ إِذَا قَضَى عَمَلَهُ
Beliau menjawab: “Tidak demikian, ada ampunan lain yang Allāh berikan di akhir bulan Ramadhān karena Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengqiyaskan seorang pekerja akan diberikan upahnya apabila dì telah menyelesaikan pekerjaannya."
Demikianlah Allāh akan memberikan ampunan kepada hambaNya di bulan Ramadhān.
Demikian semoga bulan mulia ini bisa kita lewati dengan sebaik-baiknya, bulan mulia ini bisa kita manfaatkan dengan seoptimal mungkin.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم و الحمد لله رب العالمين
_______
Senin, 22 Oktober 2018
KEUTAMAAN MEMBACA 50, 100, 200, 500 AYAT SEHARI SEMALAM…
BBG AL ILMU
Telegram salafyways https://goo.gl/vLphkg
@salafyways
Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى
🌴🌴🌴
Barang siapa membaca 50 ayat Al-Qur’an sehari semalam, maka dia tidak ditulis ke dalam golongan orang-orang yang lalai.
Barang siapa yang membaca 100 ayat, maka dia ditulis ke dalam golongan orang-orang yang taat.
Barang siapa membaca 200 ayat, maka Al-Quran tidak akan mendebatnya pada Hari Kiamat..
dan barang siapa yang membaca 500 ayat, maka ditulis untuknya pahala yang banyak melimpah..
(Hadits Hasan diriwayatkan oleh ibn assunni dalam amal alyaumi wallailah 437)
Ref : http://salamdakwah.com/baca-artikel/keutamaan-membaca-50–100–200–500-ayat-sehari-semalam.html
🌴🌴🌴
Wirid-wirid membaca ayat al Qur-aan berdasarkan hadits yang shahiih
1. Membaca ayat kursi [1 ayat]
dibaca setiap selesai shalat [total 5x], pagi [1x] dan petang [1x], sebelum tidur malam [1x];
[total 8]
2. al-ikhlash, al-falaq dan an-Naas [total 15 ayat]
dibaca masing-masing SEKALI setiap selesai shalat [5×15 = 75], pagi petang (masing-masing 3x) [2 x (3×15) = 2 x 45 = 90], sebelum tidur (dibaca secara berurutan 3x) [45]
[total 210]
3. ‘Aali Imran 190-200 [10 ayat]
dibaca ketika bangun tidur [10 ayat]
[total 10 ayat]
4. al Baqarah 285-286 [2 ayat]
dibaca ketika sebelum tidur [2 ayat]
[total 2 ayat]
5. Surat as-Sajadah [30 ayat] dan Surat al-Mulk [30 ayat]; total [60 ayat]
dibaca ketika sebelum tidur [60 ayat]
TOTAL POINT 1 – 5 = 290
🌴🌴🌴
untuk ini saja totalnya sudah, 290 ayat yang kita baca dalam sehari semalam.
maka kita tinggal memerlukan 210 ayat (dan ini kira-kira setara dengan satu juz, lebih sedikit) al Qur-aan untuk mencapai 500 ayat sehingga kita bisa dicatat pembendaharaan harta berupa pahala..
marilah kita meraih keutamaan ini… TAPI ingatlah, amalan yang dicintai Allah adalah yang sedikit, tapi KONTINYU..
🌴🌴🌴
Bertahaplah dalam mengamalkan sesuatu, sehingga kita tidak terbebani dengan beban yang berat, yang malah nantinya kita meninggalkannya yang ini tidak baik bagi kita sendiri.
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
يَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ
“Wahai ‘Abdullah ( ibn ’ Amr ibnul ’ Ash ) , janganlah engkau seperti si fulaan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.”
(HR. Bukhari no. 1152; sumber penomoran:http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2724-di-balik-amalan-yang-sedikit-namun-kontinu.html )
🌴🌴🌴
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ فَوَاللَّهِ لَا يَمَلُّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى تَمَلُّوا إِنَّ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَى اللَّهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ
“Hendaknya kalian melakukan sesuatu yang kalian mampui. Demi Allah, Allah Azzawajalla tidak akan pernah bosan hingga kalian sendiri yang bosan. Sesungguhnya amalan yang paling disukai oleh Allah adalah yang paling kontinyu (terus menerus).”
[Hadits shahih, dikeluarkan oleh Ahmad 6/247, Muslim 6/73, Ath-Thabrany, hadits nomor 564 di dalam Al-Kabir; sumber penomoran: almanhaj.or.id/content/1912/slash/0 ]
🌴🌴🌴
Bukankah kita MAMPU
Membaca ayat kursi dalam setiap selesai shalat [total 5x], pagi [1x] dan petang [1x], sebelum tidur malam [1x]
bukankah kita MAMPU
Membaca surat al-ikhlash, al-falaq dan an-Naas dalam setiap shalat 5 waktu (masing-masing sekali); pagi dan petang (masing2 3x), dan sebelum tidur (secara berurutan masing2 3x)?!
Untuk kedua hal ini saja, bacaan rutin ayat al qur-aan kita dalam sehari sudah 218 ayat; yang semoga kita termasuk dalam orang-orang yang tidak dibantah al Qur-aan di hari kiamat.
🌴🌴🌴
Maka semoga Allah memberikan kita kekuatan dan kemudahan dalam menjalankan agamaNya yang mulia dan agung ini.. aamiin
Ref : https://abuzuhriy.wordpress.com/2011/02/08/bacaan-qur-aan-sehari-semalam/
Reposted by : 👥 Grup wa manhaj salaf Channel telegram salafyways https://goo.gl/vLphkg
IG: SALAFYWAYS
Kajian
IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH
🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah Fī...
hits
-
🌍 BimbinganIslam.com Rabu, 28 Rabi'ul Akhir 1441 H | 25 Desember 2019 M 👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A. Ԃ...
-
🌍 BimbinganIslam.com 📆 Kamis, 03 Ramadhān 1442 H/ 15 April 2021 M 👤 Ustadz Arief Budiman, Lc 📗 Kitāb Shifatu Shaum Nabi ﷺ Fī Ramadhān ...
-
🌍 BimbinganIslam.com Senin, 26 Rabi'ul Akhir 1441 H / 23 Desember 2019 M 👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A. €...