Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Desember 2020

FAEDAH SURAT AL-KAHFI, BAGIAN 04

🌍 BimbinganIslam.com
Jumat 26 Roji'ul Akhir  1442 H / 11 Desember 2020 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Tafsir | Faedah Surat Al Kahfi (Bagian 04 dari 09)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-FaedahAlKahfi-04
~~~~~~~~~~~~~~~

*FAEDAH SURAT AL-KAHFI, BAGIAN 04*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

In syā Allāh pada kesempatan kali ini kita akan bersama-sama berusaha untuk mengambil faedah-faedah dari surat Al Kahfi.

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla mulai masuk dalam kisah sshābul kahfi, sebagai jawaban atas pertanyaan orang-orang musyrikin terhadap Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang pertanyaan tersebut mereka dapatkan dari orang-orang Yahūdi.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا

_"Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan mempunyai raqīm itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan kami yang mengherankan?"_

(QS Al Kahfi: 9)

Makna ar raqīm (َالرَّقِيمِ) ada khilāf diantara para ulamā.

Ada yang mengatakan:

⑴ Anjing ashābul kahfi
⑵ Nama batu yang ada di dalam gua tersebut.
⑶ Nama lembah yang ada di dalam gua tersebut.

Namun pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarīr At Thabari dan juga dipilih oleh Ibnu Katsīr dan dipilih oleh Syaikh Muhammad Al Amin Al Shanqiti rahimahullāh:

Ar raqīm  fa’il bimakna maf'ul, sehingga menjadi "al marqum" yang artinya "yang tertulis".

Disebutkan oleh para ahli tafsir bahwasanya tatkala penduduk negeri itu mendapati ashābul kahfi yang akhirnya meninggal di dalam gua tersebut, mereka menuliskan kisah ashābul kahfi dalam sebuah prasasti dari batu dan ada yang mengatakan mereka menulis di atas lembaran/lempengan emas. Itulah yang dinamakan dengan ar raqīm.

Intinya mereka menulis kisah ashābul kahfi sebagai pelajaran bagi orang-orang sesudahnya.

Allāh mengatakan maksud ayat ini:

"Wahai Muhammad mereka menanyakan kepada mu tentang kisah ashābul kahfi (dan mereka menganggap tentang kisah ashābul kahfi adalah kisah yang menakjubkan) dan katakanlah bahwa masih ada ayat-ayat Allāh lain yang lebih menakjubkan dari pada shābul kahfi."

Maksud ayat ini demikian sebagaimana dijelaskan oleh para ahli tafsir.

Apakah engkau menyangka bahwa ashābul kahfi menakjubkan?

Masih ada yang lebih menakjubkan daripada kisah ashābul kahfi.

Kisah ashābul kahfi hanyalah ada beberapa pemuda yang sudah tertidur 309 tahun kemudian dibangunkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Ini menakjubkan!

Tetapi yang lebih menakjubkan banyak, seperti penciptaan langit, lebih menakjubkan. Penciptaan manusia dari tidak ada menjadi ada, menakjubkan. Dari air mani kemudian menjadi manusia ini menakjubkan. Langit yang begitu luasnya, menakjubkan. 'Isrā Mi'raj menakjubkan.

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla mulai menceritakan tentang kisah ashābul kahfi.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

_Tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdo'a:_

_"Wahai Tuhan kami, berilah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini."_

(QS Al Kahfi: 10)

Siapakah para pemuda ini?

Al Hafizh Ibnu Katsīr rahimahullāh menyebutkan dalam tafsirnya beliau mengatakan:

"Salaf dan khalaf banyak, di antara mereka menyebutkan kisah ashābul kahfi adalah kisah 7 (tujuh) pemuda yang hidup di suatu zaman."

Zaman ini diperselisihkan oleh para ulamā, apakah mereka hidup di zaman Nabi 'Īsā 'alayhissalām atau mereka hidup sebelum zaman Nabi 'Īsā 'alayhissalām.

Al Hafizh Ibnu Katsīr merājihkan bahwasanya mereka ini hidup di zaman sebelum Nabi 'Īsā 'alayhissalam.

Jadi mereka bukan orang-orang Nashārā, mereka adalah pengikut nabi Mūsā 'alayhissalām.

Kenapa demikian?

Karena dalīlnya, kata Ibnu Katsīr:

"Orang-orang Yahūdi perhatian terhadap kisah ini, seandainya itu terjadi di zaman setelah Nabi 'Īsā 'alayhissalām maka orang-orang Yahūdi tidak terlalu perhatian dengan kisah ini."

Wallāhu Ta'āla A'lam, ini pendapat Ibnu Katsīr rahimahullāh.

Dan kita tidak pernah tahu di zaman kapan mereka pernah hidup.

Yang jelas disebutkan bahwasanya mereka adalah 7 orang pemuda yang hidup di suatu zaman, di zaman seorang raja yang bernama Dikyanus. Mereka hidup di zaman tersebut.

Raja ini seorang yang musyrik dan seluruh rakyatnya juga musyrik. Mereka menyembah berhala dan mereka mempunyai acara tahunan. Yaitu mereka pergi ke suatu lapangan terbuka sambil membawa hewan-hewan untuk disembelih dan dikurbankan bagi berhala-berhala mereka.

Pada suatu hari seluruh penduduk negeri pergi keluar termasuk 7 orang pemuda ini, 7 pemuda ini disebutkan mereka adalah anak-anak orang kaya.

Tatkala acara kesyirikan dimulai, salah seorang dari pemuda ini keluar dia tidak suka dengan kesyirikan. Kemudian dia menjauh dari perkumpulan orang-orang tersebut dan beristirahat di bawah sebuah pohon.

Tidak lama datang orang kedua, mereka tidak saling mengenal. Kemudian datang orang ketiga sampai 7 (tujuh) orang. Kemudian mereka istirahat berdiam diri di bawah pohon. Mereka takut ketahuan kalau ternyata mereka pergi keluar dari perkumpulan itu karena ketidaksukaan mereka  terhadap kesyirikan.

Akhirnya salah satu dari pemuda itu berbicara, bahwa dia keluar dari perkumpulan itu dan beristirahat di bawah pohon tersebut karena dia tidak suka dengan kesyirikan. Kemudian yang lain mengatakan sama, mereka semua tidak suka dengan kesyirikan.

Ternyata 7 (tujuh) orang pemuda itu memisahkan diri (dari kaumnya) karena tidak suka dengan kesyirikan.

Ibnu Katsīr menyebutkan hadīts:

الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

_"Ruh-ruh itu seperti prajurit yang berkelompok-kelompuk, maka yang saling bersesuaian di antara mereka akan saling dekat dan yang tidak bersesuaian akan saling berselisih."_

(Hadīts riwayat Muslim nomor 4773, versi Syarh Muslim nomor 2637)

Tatkala orang yang suka dengan tauhīd dia akan berkumpul dengan orang yang bertauhīd.

Tatkala orang yang suka bermaksiat maka dia akan berkumpul dengan orang yang berbuat maksiat.

Tatkala orang yang suka dengan kesyirikan maka dia akan berkumpul dengan orang yang berbuat kesyirikan.

Allāh menjadikan mereka berkumpul tanpa mereka sepakati terlebih dahulu.

Setelah mereka berkumpul (7 orang pemuda) merekapun berpisah dari masyarakat dan mereka membuat semacam tempat ibadah yang mereka bertauhīd kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla di tempat ibadah tersebut.

Kemudian seluruh rakyat di negeri tersebut hasad terhadap mereka.

Mereka (seluruh rakyat) berkata, "Mengapa mereka membuat tempat ibadah sendiri?"

Kemudian mereka melaporkan 7 (tujuh) pemuda ini kepada raja Dakiyanus. Kemudian dipanggillah 7 pemuda ini oleh raja Dakiyanus ternyata mereka adalah anak-anak pejabat dan dikenal oleh raja tersebut.

Kemudian sang raja mengatakan, "Bukalah pakaian kalian."

Kemudian 7 pemuda itu membuka pakaian mereka dan diberi ganti pakaian biasa (pakaian orang miskin) dan mereka diperintahkan untuk kembali kepada agama nenek moyang mereka untuk berbuat kesyirikan. Akan tetapi para pemuda itu tidak mau.

Kemudian sang raja kasihan terhadap mereka dan memberikan waktu untuk berpikir (tidak langsung dihukum oleh sang raja).

Tatkala mereka diberi waktu untuk berpikir, mereka berpikir untuk melarikan diri, melarikan dirilah mereka meninggalkan negeri tersebut pergi menuju gua.

Tatkala mereka pergi menuju gua mereka mengatakan:

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

_"Wahai Tuhan kami, berilah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini.”_

Perhatikan di sini!

⇒Rahmah adalah isim nakirah, isim nakirah dalam konteks thalab adalah meminta.

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً

_Yā Allāh berikanlah kepada kami rahmat-Mu._

Maksudnya:

"Seluruh rahmat-Mu, mencakup rahmat yang berkaitan dengan kami, jasad kami, agama kami."

Oleh karenanya para ulamā menyebutkan seperti do'a:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Hasanah di sini adalah nakirah dalam konteks thalab, meminta. Maka memberikan faedah keumuman.

Oleh karenanya barangsiapa yang ingin meminta dunia apa saja, bila dia membaca do'a ini maka sudah mencukupi.

Bahkan sebagian salaf ketika ditanya bagaimana do'a agar kita bisa mendapatkan istri yang shālihah maka disuruh membaca do'a ini:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Semua kebaikan dengan membaca do'a ini sudah cukup, do'a ini dikenal dengan nama do'a sapu jagat.

7 orang pemuda itu meminta secara global dengan mengatakan, "Yā Allāh, berikanlah rahmat Mu kepada kami."

Mereka tidak meminta rahmat tertentu, maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla kabulkan permintaan pemuda tersebut, Allāh mengilhamkan mereka untuk pergi ke gua dan mereka masuk ke dalam gua tersebut dan Allāh tidurkan mereka.

Demikianlah kajian kita pada kesempatan kali ini.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Bersambung ke bagian 05, in syā Allāh
______________________

Jumat, 04 Desember 2020

FAEDAH SURAT AL-KAHFI, BAGIAN 03 DARI 09

🌍 BimbinganIslam.com
Juma't 19 Robi'ul Akhir 1442 H / 04 Desember 2020 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Tafsir | Faedah Surat AlKahfi (Bagian 03 dari 09)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-FaedahAlKahfi-03
~~~~~~~~~~~~~~~

*FAEDAH SURAT AL-KAHFI, BAGIAN 03 DARI 09*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

In syā Allāh pada kesempatan kali ini kita akan bersama-sama berusaha untuk mengambil faedah-faedah dari surat Al Kahfi.

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengatakan:

وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا

_Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, "Allāh mempunyai seorang anak."_

(QS Al Kahfi: 4)

Yang mengatakan Allāh memiliki anak ada 3 (tiga) golongan sebagaimana yang disampaikan oleh Al Qurthubi dan As Shinqithi rahimahullāh. 

3 golongan tersebut adalah:

_⑴ Orang-orang Yahūdi_

Orang Yahūdi mengatakan:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّه

_Orang-orang Yahūdi berkata: ''Uzāir itu putera Allāh."_

(QS At Taubah: 30)

Orang-orang Yahūdi mengatakan 'Uzāir adalah anak Allāh karena 'Uzāir telah menyalin kembali Taurāt setelah Taurāt tersebut hilang.

Kemudian mereka mensucikan 'Uzāir sehingga mereka mengatakan bahwa  'Uzāir adalah putra Allāh.

_⑵ Orang-orang Nashārā_

Orang-orang Nashārā mengatakan:

ِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ

_Dan orang-orang Nashrāni berkata, "Al Masīh itu putra Allāh."_

(QS At Taubah: 30)

_⑶ Orang-orang musyirikin Arab_

وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ ٱلْبَنَـٰتِ سُبْحَـٰنَهُۥ ۙ وَلَهُم مَّا يَشْتَهُونَ

_"Dan mereka menetapkan bagi Allāh anak-anak perempuan. Maha Suci Allāh, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki)."_

(QS An Nahl: 57)

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ* يَتَوَارَىٰ مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ ۚ أَيُمْسِكُهُ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

_"Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, hitamlah (merah padam) muka mereka, dan dia sangat marah._

_Dia menyembunyikan dirinya dari orang banyak disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya, apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburnya ke dalam tanah hidup-hidup?_

_Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan."_

(QS An Nahl: 58-59)

Allāh mengatakan, orang-orang musyirikin ini memberikan pembagian yang tidak adil, mereka tidak suka memiliki anak perempuan. Apabila ada anak perempuan lahir dikalangan mereka wajah mereka menjadi hitam karena malu. Aib bagi mereka memiliki anak perempuan dan mereka mengatakan Allāh memiliki anak perempuan. Mereka mengatakan malāikat adalah putri-putri Allāh.

Sehingga Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengatakan:

تِلْكَ إِذًۭا قِسْمَةٌۭ ضِيزَىٰٓ

_"Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil."_

(QS An Najm: 22)

Jadi orang-orang yang mengatakan, Allāh Subhānahu wa Ta'āla punya anak, maka mereka diperingatkan oleh Al Qurān dengan adzab yang pedih.

Ini dalīl bahwasanya sesembahan yang disembah di zaman Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam banyak.

Ada yang menyembah batu, matahari, api, Nabi 'Īsā dan malāikat.

Di antara yang menyembah malāikat adalah kaum musyrikin Arab.

⇒Orang yang berdo'a kepada malāikat maka dia adalah musyrik dengan kesepakatan para ulamā.

Apabila ada seseorang berdo'a kepada malāikat dan mengatakan:

"Wahai malāikat pengatur hujan, turunkanlah hujan."

Maka orang ini musyrik, padahal dia minta hujan kepada malāikat yang dipercayakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla untuk mengatur hujan. Malāikat itu benar-benar mengatur hujan atas permintaan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Namanya tauhīd harus minta kepada pengaturnya, kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Bukan kepada malāikat, walaupun malāikat itu benar-benar mengatur hujan.

Apalagi meminta kepada penghuni kubur yang tidak bisa apa-apa.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengatakan:

مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ ۚ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ ۚ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا

_"Mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak mengetahui sesuatu kecuali dusta."_

(QS Al Kahfi: 5)

Ini menunjukkan bahwasanya kesyirikan merupakan murni kedustaan, tidak ada kebenarannya dari sisi manapun.

Bagaimana kita menyatakan bahwa Allāh Subhānahu wa Ta'āla mempunyai anak ?

Padahal Allāh Subhānahu wa Ta'āla Maha Esa.

Bagaimana seorang menyembah kepada makhluk, menyamakan Allāh pencipta alam semesta ini dengan makhluk yang diciptakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla?

Maka sungguh buruk pernyataan orang-orang liberal yang mengatakan bahwa:

"Semua agama masuk surga."

Ini tidak benar!  Ini kekufuran/kedustaan yang nyata.

Bagaimana mereka menyamakan antara agama tauhīd dengan kesyirikan?

Kemudian kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

_"Maka, apakah barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak berimān kepada keterangan ini (Al Qurān)."_

(QS Al Kahfi: 6)

Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam bersedih, wajar bila beliau (shollallāhu 'alayhi wa sallam) bersedih karena beliau ingin manusia mendapatkan hidayah.

Tatkala beliau (shollallāhu 'alayhi wa sallam) berdakwah kepada orang-orang musyrikin dan orang-orang musyrikin berpaling (menjauhi Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam) maka beliau bersedih dan Allāh menegur, "Jangan engku terlalu bersedih."

Kenapa?

Karena apabila orang terlalu bersedih maka akan banyak kemaslahatan yang akan terhalangi.

Apabila orang berdakwah kemudian dicela, kemudian dia memikirkan celaan tersebut, akhirnya dia tidak mengisi pengajian atau tidak perhatian sama istri dan anak-anaknya karena terlalu sedih sebab hal tersebut.

Sedih wajar, tetapi jangan berlebihan.

Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam ditegur oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

ولَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ

_“Jangan terlalu bersedih atas mereka.”_

(QS Al Hijr: 88)

Demikianlah namanya dakwah, ada yang mendapat hidayah dan ada disesatkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla menegur Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam, tatkala orang-orang musyrikin pergi meninggalkan Nabi ketika dibacakan Al Qurān.

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla jelaskan:

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

_“Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya?”_

وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًا

_“Dan sungguh kami akan menjadikan apa yang ada di atas muka bumi tersebut menjadi tanah rata lagi tandus.”_

Jadi ada dua tafsiran di kalangan para ulama tentang, "Kami akan menjadikan apa yang ada di atas muka bumi tersebut menjadi tanah rata lagi tandus."

Tafsiran pertama:

_Bahwasanya ini5 perumpamaan tentang dunia, bahwasanya dunia itu indah, namun akan sirna._

Dalam ayat yang lain:

"Sebagimana tumbuhan yang tumbuh di atas muka bumi tersebut dalam keadaan hijau, kemudian akhirnya mengering, kemudian hilang, kemudian menjadi tanah yang tandus, demikianlah dunia ini akan hilang."

Tafsiran kedua:

_Bahwasanya Kami akan menjadikan bumi ini sebagai padang mahsyar, akan Kami jadikan datar dan tandus dan itu adalah kondisi padang mahsyar pada hari kiamat._

Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengatakan:

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ

_“(Yaitu) Hari di mana bumi diganti dengan bumi yang lain.”_

(QS Ibrohīm: 48)

وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ

_“Dan apabila bumi diratakan.”_

(QS Al In syiqoq: 3)

Kapan terjadinya?

Yaitu pada hari kiamat.

Allāh hancurkan gunung-gunung yang ada di atas muka bumi tersebut:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا * فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا * لَّا تَرَىٰ فِيهَا عِوَجًا وَلَا أَمْتًا

_Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah, “Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya." Maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali. Tidak ada sedikitpun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi._

(QS Thohā: 105-107)

Demikianlah kajian kita pada kesempatan kali ini.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Bersambung ke bagian 04, in syā Allāh
______________________

Jumat, 27 November 2020

FAEDAH SURAT AL KAHFI, BAGIAN 02 DARI 09

🌍 BimbinganIslam.com
Jum'at 12 Robi'ul Akhir  1442 H / 27 November 2020 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Tafsir | Faedah Surat Al Kahfi (Bagian 02 dari 09)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-FaedahAlKahfi-02
~~~~~~~

*FAEDAH SURAT AL KAHFI, BAGIAN 02 DARI 09*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

In syā Allāh pada kesempatan kali ini kita akan bersama-sama berusaha untuk mengambil faedah-faedah dari surat Al Kahfi.

Surat Al Kahfi disunnahkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bagi kita untuk membacanya sepekan sekali setiap hari Jum'at.

Kita akan bacakan surat Al Kahfi dengan tafsiran yang ringkas yang saya ambil dari beberapa buku. Yang paling utama adalah 4 (empat) buku yaitu:

⑴ Tafsir Ibnu Katsīr
⑵ Tafsir Al Qurthubi
⑶ Tafsir Abdurrahman bin Nahsir As Sa'di
⑷ Tafsir Adhwā'ul Bayyān Ash Shanqiti

(rahimahullāh jāmi'an)

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman dalam ayat pertama surat Al Kahfi:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا

_"Segala puji bagi Allāh yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitāb (Al Qurān) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya."_

Di ayat ini, Allāh Subhānahu wa Ta'āla memuji diri-Nya dengan nikmat yang sangat agung dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla berhak untuk dipuji dengan seluruh nikmat yang telah Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan kepada kita.

Tetapi Allāh Subhānahu wa Ta'āla memilih salah satu nikmat yang sangat agung, yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan kepada hamba-Nya (yaitu) Al Qurān.

Turunnya Al Qurān merupakan nikmat yang sangat agung (sangat besar) maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla khususkan penyebutannya di awal surat Al Kahfi.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا

_"Segala puji bagi Allāh yang telah menurunkan kepada hamba-Nya (yaitu nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam) Al Kitāb (Al Qurān) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya."_

Kata Syaikh Muhammad Al Amin Al Shanqiti rahimahullāh, عِوَجًا adalah kalimat nakirah dalam kontek penafi'an.

وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا

_"Dan kami tidak menjadikan kebengkokan di dalam Al Qurān tersebut."_

Oleh karenanya kalimat nakirah jika datang dalam bentuk nafi' memberikan faedah keumuman.

Tidak ada kebengkokan pada Al Qurān dalam segala hal, baik dalam hukum-hukumnya, kisah-kisahnya, kabar-kabarnya, hikmah-hikmahnya.

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا

_“Dan telah sempurna kalimat-kalimat Rabbmu, tidak ada pertentangan dalam kabar-kabarnya (semua benar), semua hukum-hukum dalam Al Qurān adil.”_

(QS Al An’ām: 115)

Kemudian kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا

_"Sebagai petunjuk yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih."_

Ini salah satu tafsir, jadi kalimat قَيِّمًا artinya lurus.

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

"“Sesungguhnya Al Qurān ini memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”_

(QS Al Isrā: 9)

Di antara fungsi Al Qurān adalah memberi peringatan dan kabar gembira.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا

_"Untuk memberi peringatan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan (bahwa) mereka akan mendapatkan balasan yang baik.”_

مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا

_"Mereka kekal di dalamnya untuk selamanya."_

Ini merupakan salah satu dalīl dari sekian banyak dalīl yang menunjukkan bahwasanya amalan merupakan sebab masuk surga.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengatakan, untuk memberikan kabar gembira.

Kepada siapa ?

Yaitu kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan (bahwa) mereka akan mendapatkan balasan yang baik (surga bagi mereka).

Oleh karenanya amal shālih merupakan sebab masuk surga, sebagaimana dalam ayat-ayat lain:

ُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

_"Masuklah kalian ke dalam surga itu disebabkan karena apa yang telah kalian kerjakan."_

(QS An Nahl: 32)

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

_"Dan itulah surga yang diwariskan kepada kalian disebabkan amal-amal yang dahulu kalian kerjakan."_

(QS Az Zukhruf: 72)

Terlalu banyak ayat dalam Al Qurān yang menunjukkan amal shālih merupakan sebab masuk surga.

Bahkan di surga Allāh membedakan tingkat-tingkat penghuni surga karena sebab amalan, dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla Maha Adil.

Tidak sama antara seorang yang amalnya luar biasa yang mengerjakan shalāt malam dengan yang tidak mengerjakan shalāt malam.

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا

_“Masing-masing derajat sesuai dengan amalannya.”_

(QS Al Ahqāf: 19)

Adapun hadīts Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, beliau berkata, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda :

لَا يَدْخُلُ أَحَدُكُمْ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ مِنْهُ بِرَحْمَةٍ

_"Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.”_

Para sahabat berkata:

"Engkau juga tidak wahai Rasūlullāh?"

Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) menjawab:

"Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allāh."

(Hadīts riwayat Imam Ahmad nomor 7167)

Para ulamā telah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak masuk surga dengan amalannya, artinya amal-amal tersebut bukanlah tiket untuk membayar surga.

Akan tetapi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan orang-orang masuk surga karena rahmat Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kenapa ?

Karena amal kita ini tidak cukup untuk membayar surga.

Yā Ikhwān, bila kita berbicara tentang salah satu nikmat surga seperti bidadari yang begitu indahnya, kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Mālik radhiyallāhu Ta'āla 'anhu:

وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةًمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ لَأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا وَلَمَلَأَتْهُ رِيحًا وَلَنَصِيفُهَا عَلَى رَأْسِهَا خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

_"Seandainya ada seorang wanita penghuni surga muncul di atas muka bumi ini niscaya akan menerangi keduanya dan akan terpenuhi dengan anginnya yang harum (wangi semerbak) dan kerudung yang ada dikepalanya lebih baik dari dunia dan seisinya."_

(Hadīts riwayat Bukhāri nomor 2796)

Artinya, kalau antum mencari 100 wanita tercantik di dunia ini (dikumpulkan) lalu antum bandingkan dengan kerudung bidadari masih lebih baik kerudung bidadari.

Kenapa ?

Karena Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan, "Lebih baik daripada dunia dan seisinya."

Bandingkan dengan amalan antum yang hanya beberapa tahun. Pantaskah antum mendapatkan bidadari ini ? Bidadari ini akan antum dapatkan selamanya tanpa batas.

Oleh karenanya seorang tidak akan masuk surga dengan menjadikan amalannya sebagai tiket untuk bayar surga, ini mustahil !

Itulah maksud dari hadīts Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam diatas.

Amalan seseorang bukan tiket, tetapi amalan seseorang merupakan sebab rahmat Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Apabila ada orang yang mengatakan, "Kita masuk surga bukan dengan amal tetapi dengan rahmat Allāh."

Bagaimana kita meraih rahmat Allāh Subhānahu wa Ta'āla ?

Dengan sebab apa, kita meraih rahmat Allāh Subhānahu wa Ta'āla ?

Jawabannya, "Dengan sebab amal." 

Maka perkaranya sama saja masuk surga dengan rahmat, rahmatnya karena sebab amal, maka amal merupakan sebab masuk surga sebagaimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla sebutkan dalam banyak ayat.

Demikianlah kajian kita pada kesempatan kali ini.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Bersambung ke bagian 03, in syā Allāh
________

Jumat, 20 November 2020

FAEDAH SURAT AL KAHFI, BAGIAN 01 DARI 09.

⁠⁠⁠⁠⁠🌍 BimbinganIslam.com
Jumat 05 Robi'ul Akhir  1442 H / 20 November 2020 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Tafsir | Faedah Surat AlKahfi (Bagian 01 dari 09)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-FaedahAlKahfi-01
~~~~~~~

*FAEDAH SURAT AL KAHFI, BAGIAN 01 DARI 09.*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, ونتوب إليه وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لا نبي بعده

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

فإنّ احسن الكلام كلام الله وَخَيْرَ الْهدى هدى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَاتٍ بدعة وكلّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ وكلّ ضلالة في النار

In syā Allāh pada kesempatan kali ini kita akan bersama-sama berusaha untuk mengambil faedah-faedah dari surat Al Kahfi.

Surat Al Kahfi adalah surat yang ke-18, yang disunnahkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bagi kita untuk membacanya setiap hari Jum'at.

Karena keutamaan membaca surat Al Kahfi banyak, di antaranya:

_"Barangsiapa yang menghapal 10 ayat di awal surat Al Kahfi atau di akhir surat Al Kahfi, maka dia akan diselamatkan dari fitnah Dajjal."_

Di antaranya juga Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda dalam hadītsnya:

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

_"Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum'at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum'at."_

(Hadīts riwayat An Nasāi' dan Baihaqi, Syaikh Al bāniy rahimahullāh mengatakan bahwa hadīts ini shahīh sebagaimana dalam Shahīhul Jami' nomor  6470)

Kata para ulamā, (maksudnya) adalah Allāh akan memberikan taufīq kepada dia seakan-akan ada cahaya baginya, sehingga dia terjauhkan dari dosa-dosa dan kemaksiatan antara satu Jum'at dengan Jum'at yang berikutnya.

Dalam hadīts yang lain juga kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ سَطَعَ لَهُ نُورٌ مِنْ تَحْتِ قَدَمِهِ إلَى عَنَانِ السَّمَاءِ يُضَيءُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

_"Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum'at maka akan keluar cahaya dari bawah kakinya sampai ke atas (langit) akan menerangi kelak pada hari kiamat."_

(Dari kitāb At Targhib wa Al Tarhib nomor 1/298)

Oleh karenanya surat Al Kahfi memiliki keutamaan yang bermanfaat bagi kita di dunia terlebih lagi di akhirat kelak.

Tatkala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menganjurkan kita membaca surat Al Kahfi sepekan sekali, menunjukkan bahwa surat Al Kahfi adalah surat yang sangat penting.

Sehingga kita perlu mengetahui kandungan dari surat Al Kahfi.

Para ulamā telah menjelaskan bahwasanya dalam surat Al kahfi Allāh menyebutkan tentang kisah-kisah.

Ada 4 (empat)  kisah yang Allāh sebutkan dalam surat Al Kahfi ini, diantaranya:

_⑴ Kisah Ashābul kahfi._

Para pemuda yang tinggal di dalam gua

_⑵ Kisah dialog antara shahibul jannatain._

Seorang yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan dua kebun yang subur tetapi dia kufur dengan nikmat Allāh Subhānahu wa Ta'āla tatkala dia berdialog dengan shahābatnya yang mu'min.

_⑶ Kisah pertemuan antara Nabi Mūsā 'alayhissalām dengan Nabi Khādir 'alayhissalām._

_⑷ Kisah Dzul'qarnain yang membuat bendungan untuk menghalangi keluarnya Ya'jūj dan Ma'jūj._

Semua kisah yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla sebutkan di dalam Al Qurān ada faedahnya. Mustahil Allāh menyebutkan kisah tanpa memiliki faedah.

Oleh karenanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla berkata kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

فَٱقْصُصِ ٱلْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

_"Maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar mereka berpikir."_

(QS Al A'rāf: 176)

Perhatikan di sini!

Allāh mengkaitkan antara kisah dengan berpikir, kenapa ?

Para ulamā menyebutkan:

"Barangsiapa semakin cerdas, maka dia akan semakin banyak mendapatkan faedah dari kisah-kisah tersebut."

Kisah di dalam Al Qurān bukanlah kisah fiktif, tetapi kisah yang mengandung faedah-faedah sehingga Allāh mengatakan:
لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

_"Semoga mereka berpikir."_

Artinya semakin orang berpikir (memeras otak) untuk mengambil faedah-faedah maka dia akan semakin banyak mendapatkan faedah dari kisah-kisah tersebut.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla juga berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

_"Sungguh pada kisah-kisah mereka ada pelajaran bagi orang yang berfikir."_

(QS Yūsuf: 111)

Orang yang tidak berfikir tidak akan mendapatkan ibrah (pelajaran). Ini menantang kita untuk merenungkan tentang faedah-faedah dari kisah-kisah yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla sebutkan dalam Al Qurān.

Dan di antara uslub Allāh Subhānahu wa Ta'āla dalam menyampaikan keimānan kepada hamba-hamba-Nya adalah dengan metode kisah.

Al Qurān memiliki banyak metode, seperti Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan tentang;

√ Masalah keimānan dalam Al Qurān
√ Masalah 'aqidah
√ Masalah hari akhir
√ Masalah imān kepada Allāh, kepada malāikat.

Semua Allāh Subhānahu wa Ta'āla sebutkan di dalam Al Qurān.

Demikian juga Allāh sebutkan tentang ahkam (hukum-hukum) di dalam Al Qurān. Bahkan Allāh Subhānahu wa Ta'āla sebutkan juga tentang adab-adab, di antaranya Allāh Subhānahu wa Ta'āla sebutkan tentang kisah-kisah (kisah dalam Al Qurān banyak).

⇒Kisah merupakan metode yang jitu, karena metode yang digunakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla bukan kisah yang dibuat-buat tetapi kisah yang benar-benar terjadi.

Tatkala Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyampaikan kisah seakan-akan itu merupakan praktek nyata dari dalīl.

Terkadang seorang ketika disampaikan dalīl dia kurang paham. Bagaimana aplikasinya? Bagaimana prakteknya ? Namun tatkala disampaikan dengan kisah, maka inilah praktek dari dalīl-dalīl yang ada.

Oleh karenanya pada kesempatan ini, kita akan menyampaikan kisah pertama yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla sebutkan di dalam surat Al Kahfi, yaitu kisah "Ashābul Kahfi" (Kisah para pemuda yang tidur di dalam gua dalam waktu yang sangat lama).

Al Hafizh Ibnu Katsīr rahimahullāh dalam Tafsir-nya menyebutkan tentang sebab nuzul surat Al Kahfi.

Dari riwayat yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq beliau menyebutkan bahwasanya sebab nuzul dari surat Al Kahfi adalah karena ada orang-orang musyrikin yang mereka pergi menemui pendeta Yahūdi.

Orang-orang musyirikin selalu mencari kelemahan dakwah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Mereka ingin membatalkan dakwah Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan berbagai cara.

Orang-orang Quraisy bekerja sama dengan orang-orang Yahūdi dan diutuslah dua orang kaum Quraisy yaitu Uqbah bin Abi Muaith dan Nadzar bin Harits menemui para pendeta Yahūdi. Kemudian mereka berdua bermusyawarah dengan para pendeta Yahūdi tentang dakwah Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Para pendeta Yahūdi memberikan masukan kepada mereka berdua. Pendeta Yahūdi memiliki pengetahuan tentang kisah-kisah masa lalu, berbeda dengan orang-orang musyrikin.

Orang-orang musyrikin tidak memiliki kitāb suci, sedangkan orang-orang Yahūdi memiliki Taurāt, mereka memiliki kisah para nabi yang menakjubkan.

Maka mereka (para pendeta Yahūdi) menyuruh orang-orang musyrikin Quraisy untuk memberikan 3 (tiga) pertanyaan kepada Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Apabila ketiga pertanyaan tersebut bisa dijawab oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, maka beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) adalah utusan Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Akan tetapi apabila Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak bisa menjawab, maka beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) hanyalah seorang pendusta.

Diantara pertanyaan yang adalah:

سلوه عن فتية ذهبوا في الدهر الأول ما كان من أمرهم, فإنهم قد كان لهم حديث عجب، وسلوه عن رجل طواف بلغ مشارق الأرض ومغاربها ما كان نبؤه، وسلوه عن الروح ما هو؟

_⑴ Tanyakan tentang kisah para pemuda yang keluar dari masa lampau (di awal hari)._

_“Bagaimana kisah mereka ? Sesungguhnya kisah mereka sangat menakjubkan.”_

_⑵ Tanyakan tentang seorang pengembara yang telah sampai pada Timur dan Barat bumi._

_“Bagaimana kabar lelaki itu ?” (Maksudnya tentang Dzul'qarnain)_

_⑶ Tanyakan tentang ruh. Siapa dia ?_

Uqbah bin abi Muaith dan Nadzar bin Harits begitu gembira mendapatkan 3 (tiga) pertanyaan (teka-teki) yang diberikan oleh pendeta Yahūdi untuk ditanyakan kepada Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Kemudian mereka berdua pulang dan bertemu dengan para pembesar Quraisy. Kemudian orang-orang Quraisy datang menemui Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan bertanya kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan 3 (tiga) pertanyaan di atas.

Jika kita perhatikan, pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh para pendeta Yahūdi adalah pertanyaan yang tidak ingin dijawab (tidak bisa dijawab).

Mengapa?

Karena, apabila seseorang memberikan pertanyaan (teka-teki) seharusnya dia memberikan kunci jawaban, tetapi apabila pertanyaannya global (seperti):

"Tanyakan kepada Muhammad tentang para pemuda yang keluar di pagi hari? Perkara mereka menakjubkan."

Ini terlalu global. Para pemuda yang keluar di pagi hari sangat banyak.

Apabila akan memberikan teka-teki maka (pertanyaan) harus jelas.

Misalnya:

"Ada seorang pemuda pada tahun sekian, pada zaman nabi ini (misalnya)," ini mungkin bisa dijawab, karena jelas pertanyaannya.

Akan tetapi pertanyaannya yang diajukan pendeta Yahūdi terlalu global dan tidak jelas serta tujuannya agar Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Pertanyaan keduapun demikian, sangat global:

"Tanyakan kepadaa Muhammad (shallallāhu 'alayhi wa sallam) tentang seorang pengembara yang telah sampai pada Timur dan Barat bumi. Bagaimana kisah orang ini ?”

Namanya pengembara banyak, bajak lautpun sampai ke Timur dan Barat bumi.

Kemudian pertanyaan ketiga, tentang ruh.

Maka Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam disebutkan dalam riwayat beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) mengatakan:

"Saya akan kabarkan kepada kalian besok."

Ternyata Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak menurunkan surat kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sebagai jawaban.

Orang-orang Quraisy menunggu jawaban dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam selama 15 hari atau dua pekan kemudian turun surat Al Kahfi.

Ketika surat tersebut (Al Kahfi) belum turun orang-orang Quraisy mengejek Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Mereka mengatakan bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah pendusta, seandainya beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) adalah seorang nabi seharusnya beliau tahu jawaban dari ketiga pertanyaan tersebut.

Inilah sebab nuzul tentang turunnya surat Al Kahfi yang disebutkan oleh seluruh para ahli tafsir, meskipun dalam sanadnya masih dipermasalahkan.

Demikianlah kajian kita pada kesempatan kali ini.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️

Kajian

IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH

🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah  Fī...

hits