Tampilkan postingan dengan label Dzulhijjah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dzulhijjah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juli 2020

Keutamaan Amal Shalih Pada 10 Hari Di Awal Bulan Dzulhijjah

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 2 Dzulhijjah 1441 H / 23 Juli 2020 M
👤 Ustadz Fauzan Abdullah, S.T., M.A.
📗 Serial Bulan Dzulhijjah
🔊 Halaqah 04 | Keutamaan Amal Shalih Pada 10 Hari Di Awal Bulan Dzulhijjah
⬇ Download audio: bit.ly/Dzulhijjah1441-UF
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد الله والصلاة والسلام على رسول الله, أما بعد

Para sahabat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulillāh hari ini kita diberikan kesempatan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla untuk masuk pada fase (masa) yang terbaik, pada hari-hari yang terbaik yaitu 10 (sepuluh) hari di awal bulan Dzulhijjah.

Kita masuk tanggal 1 Dzulhijjah di mana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam beliau memotivasi kita semua untuk beramal shālih sebanyak-banyaknya.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ

"Tidak ada satu hari pun di mana amalan shālih yang dikerjakan di dalamnya lebih baik dan dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla melainkan amalan-amalan yang dikerjakan pada sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah"

Maka sahabat bertanya:

فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

"Wahai Rasūlullāh, tidak juga jihād fī sabilillāh?"

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menjawab:

وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ ‏

"Kecuali seseorang yang dia pergi berjihād fī sabilillāh membawa harta dan jiwanya kemudian tidak kembali sedikitpun keduanya (mati syahid)"

(Hadīts riwayat At-Tirmidzī nomor 757 dan Abū Dāwūd secara marfu')

Orang yang berjihād fīsabilillah kemudian dia mati syahid maka itulah yang dapat menandingi amalan-amalan shālih yang dikerjakan pada 10 (sepuluh) awal bulan Dzulhijjah.

Dari hadīts ini kita ketahui bahwasanya amalan-amalan yang dikerjakan di 10 (sepuluh) hari, awal bulan Dzulhijjah adalah amalan yang luar biasa, sehingga para sahabat sendiri merasa bahwa amalan jihād adalah yang paling besar. Sehingga mereka bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Oleh karena itu dalam satu kesempatan syaikh Utsaimin bertanya kepada hadirin, "Ada seorang yang shalāt dua raka'at di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhān dan ada seorang yang shalāt raka'at nafilah di 10 (sepuluh) hari awal bulan Dzulhijjah, mana yang lebih baik?"

Beliau (Syaikh Utsaimin) mengatakan :

"Yang lebih afdhal dan lebih baik adalah yang shalāt dua raka'at di awal 10 (sepuluh) hari bulan Dzulhijjah"

Beliau mengatakan,

"Ini adalah suatu yang aneh bagi orang-orang yang awam, akan tetapi bukan sesuatu yang aneh bagi ahli ilmu, karena mereka mengetahui tentang keutamaan 10 (sepuluh) hari awal bulan Dzulhijjah"

Oleh karena itu kata beliau,

"Oleh karena itu wajib bagi ahlul ilmi untuk terus menerangkan kepada orang-orang awam tentang keutamaan dari 10 (sepuluh) hari awal bulan Dzulhijjah, karena 10 (sepuluh) hari awal bulan Dzulhijjah lebih utama daripada 10 (sepuluh) hari di akhir bulan Ramadhān"

Walaupun di sana ada khilāf tentang malamnya akan tetapi secara umum para ulama bersepakat bahwa 10 (sepuluh) hari di awal bulan Dzulhijjah lebih utama daripada 10 (sepuluh) hari di akhir bulan Ramadhān.

Oleh karena itu para sahabat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Pada 10 (sepuluh) hari di awal bulan Dzulhijjah ini kita berlomba-lomba, kita bersegera untuk melaksanakan apa yang kita kerjakan untuk melakukan yang terbaik di 10 (sepuluh) hari di awal bulan Dzulhijjah ini dengan berbagai macam ibadah-ibadah yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla perintahkan kepada kita.

Tatkala kita niatkan dengan ibadah dan kita sadar bahwa sepuluh hari di awal bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang luar biasa yang Allāh berikan kenikmatan ini kepada kita, memberikan kesempatan kepada kita semua.

Maka sangat merugi seseorang yang dia melalaikan kesempatan  yang Allāh berikan kepada kita ini.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan taufīq kepada kita semua agar kita berlomba-lomba, agar kita bersemangat, agar kita mengembalikan niat atau meniatkan segala aktifitas kita bahkan dalam pekerjaan kita, niatkan agar ia adalah ibadah.

Kita menunaikan amanah dengan sebaik mungkin, dan kita berusaha bersungguh-sungguh di semua waktu kita untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, beramal shālih, bersedekah, shalāt, kita membaca Al-Qur'ān, kita bertutur kata yang baik, kita menolong orang lain, kita melakukan semua amal kebaikan.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla melipat gandakan dan menerima amalan-amalan kita semua.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.

و صلى الله على نبينا محمد و على آله وصحبه و سلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Akhukum Fīllāh
Fauzan Abdullāh

____________________________

Menggapai Kekhusyuan Di Dalam Shalat

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 30 Dzulqa’dah 1441 H / 21 Juli 2020 M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc.
📗 Serial Bulan Dzuhijjah
🔊 Halaqah 02 | Menggapai Kekhusyuan Di Dalam Shalat
⬇ Download audio: bit.ly/Dzulhijjah1441-H1
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة  أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām, rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Tidak terasa sebentar lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah, salah satu dari bulan haram, salah satu dari bulan yang Allāh muliakan, yang mana amal shālih pada bulan tersebut akan dilipat-gandakan.

Bahkan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bersumpah, tidak ada amal shālih yang lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang melebihi cinta Allāh kepada amal shālih yang dilakukan pada sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah ini.

Para sahabat pun bertanya,

وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

"Wahai Rasūlullāh, termasuk lebih utama dari jihād fīsabilillāh?”

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam  bersabda: “Termasuk jihād  fī sabilillāh tidak bisa menandingi amalan yang dilakukan di sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah".

Kemudian Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam mengecualikan satu, yaitu :

إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

"Kecuali orang yang keluar berjihad di jalan Allāh, dengan membawa jiwa dan hartanya, dan tidak ada sedikitpun yang kembali (mati syahid)."

(Hadīts riwayat Al-Bukhāri)

Hanya orang yang berjihād kemudian mati syahid yang tidak bisa ditandingi dengan amalan-amalan bulan ini, artinya amalan-amalan bulan ini sangat istimewa, sangat besar sekali pahalanya.

Dan salah satu amalan yang sering kita lakukan setiap harinya adalah shalāt lima waktu.

Sahabat Bimbingan Islām, rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Syaikh Muhammad bin Shālih Al-'Utsaimin pernah menyatakan bahwa hal terpenting setelah seorang mencontoh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam shalātnya adalah seorang bisa fokus (khusyuk) dalam shalātnya.

Ketika dia shalāt, dia berpikir bahwa dia benar-benar sedang shalāt, pikirannya tidak pergi kemana-mana. Saat dia berdo'a, dia paham (dia sedang berdo'a apa), saat dia membaca bacaan shalāt dia paham bacaan apa yang sedang dia baca, saat dia rukuk dia paham kalau dirinya sedang rukuk, ini yang terpenting yaitu khusyuk.

Salah satu cara untuk mengetes kekhusyukan shalāt kita adalah dengan instropeksi diri, apakah kita sadar dengan do'a-do'a yang kita panjatkan saat duduk di antara dua sujud.

Saat duduk di antara dua sujud kita berdo'a:

رَبِّ اغْفِرْ لِي ، وَارْحَمْنِي ، وَاجْبُرْنِي ، وَارْفَعْنِي،  وَاهْدِنِي، وَعَافِنِي ، وَارْزُقْنِي

"Yā Allāh ampunilah aku, rahmatilah aku, tutuplah kekuranganku, tinggikanlah derajatku, berilah hidayah (petunjuk) untukku, berilah keselamatan pada diriku, hartaku, badanku, baik dunia maupun akhirat, dan berikanlah kesehatan kepadaku, dan berikanlah rezeki kepadaku."

Tapi pernahkah kita sadar, setiap kali kita selesai shalāt, kita sudah meminta tujuh hal tersebut kepada Allāh dan minimalnya sudah 17 kali dalam sehari kita berdo'a seperti  itu.

Sahabat Bimbingan Islām, rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Saya pribadi mengajak diri pribadi, begitu juga sahabat semuanya untuk instropeksi diri. Di sepuluh hari awal bulan  Dzulhijjah ini, coba kita tes seberapa besar kekhusyukan kita, seberapa paham kita dengan do'a-do'a yang kita panjatkan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dalam shalāt.

Mungkin kita sudah banyak berdo'a seperti tadi (meminta rezeki, meminta rahmat, meminta ampunan) mungkin do'a kita belum di ijabah oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Urusan kita masih susah, bisa jadi karena kita berdo'a tetapi kita tidak menghadirkan hati.

Dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam telah menyatakan,

إنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

"Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak akan mengijabah do'a dari hati yang lalai dan bermain-main."

(Hadīts riwayat At-Tirmidzī nomor 3479)

Sekali lagi, saya mengajak diri saya pribadi begitu juga kepada teman-teman semua sahabat Bimbingan Islām untuk instropeksi diri.

Sudahkah kita khusyuk dalam shalāt kita dan kita lihat dari do'a duduk di antara dua sujud.

Sudahkah kita paham dan saat selesai shalāt, sudahkah kita merasa berdo'a hal-hal tersebut kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Semoga di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini, di waktu yang mulia ini, di saat amalan-amalan sangat utama tidak bisa dikalahkan kecuali dengan jihād kemudian orangnya mati syahid.

Apakah kita berhasil untuk menjadikan shalāt kita, shalāt yang khusyuk?

Mari kita jadikan shalāt kita menjadi shalāt yang khusyuk tentu dengan memperbanyak do'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Karena diri kita lemah dan Allāh lah yang Maha Mampu.

Maka kita berdo'a,

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

”Yā Allāh, tolong aku untuk menyebut nama-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah yang baik untuk-Mu."

Semoga kita semua diberikan taufīq dan dimudahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
____________________

Jumat, 09 Agustus 2019

PUASA SUNNAH DI BULAN DZULHIJJAH

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 06 Dzulhijjah 1440H / 07 Agustus 2019M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Serial Bulan Dzulhijjah
🔊 Halaqah 03| Puasa Sunnah Di Bulan Dzulhijjah
⬇ Download audio: bit.ly/Djulhijjah1440-H3
〰〰〰〰〰〰〰

*PUASA SUNNAH DI BULAN DZULHIJJAH*

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد الله و صلاة و سلم على رسول الله و على أله و أصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم القيامة أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām, rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Di bulan Dzulhijjah ini ada sebuah ibadah yang agung, sebuah ibadah yang mulia di sisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Sebuah ibadah yang memiliki keutamaan menghapus dosa setahun yang telah lalu dan dosa setahun yang akan datang, (yaitu) puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah atau lebih dikenal dengan puasa 'Arafah.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah ditanya tentang puasa 'Arafah.

Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) menjawab:

يكفر السنة الماضية والباقية

_"Puasa tersebut menghapuskan dosa satu tahun yang telah lalu dan dosa satu tahun yang akan datang."_

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1162)

Itulah fungsi dari puasa 'Arafah, sehingga jangan sampai kita terlewatkan dalam melaksanakannya.

Kita memohon pertolongan kepada Allāh, semoga Allāh memberikan taufīq dan memudahkan urusan kita.

Di samping puasa 'Arafah, di bulan Dzulhijjah ini, ada juga puasa sunnah yang dianjurkan oleh sebagian ulamā kita, (yaitu) puasa sejak tanggal 1 Dzulhijjah hingga 9 Dzulhijjah.

Ini merupakan pendapat Syaikh Bin Bazz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Sulaimān Ar Ruhaili, Syaikh Sa'ad bin Nassir Asy Syatsri  dan yang lainnya.

Dalīlnya adalah sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ (يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ)

_"Tidak ada hari yang melebihi kecintaan Allāh Subhānahu wa Ta'āla pada amal-amal shālih yang dilakukan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah."_

(Hadīts shahīh riwayat Abū Dāwūd nomor 2438)

Sisi pendalīlan dari hadīts ini adalah:

"Kita tahu bahwasanya puasa termasuk amal shālih, tidak ada di antara kita yang mengatakan bahwasanya puasa bukan amal shālih. Dan kata amal shālih inilah yang dipakai dalam hadīts di atas."

Sehingga jika ada seorang yang mengatakan bahwa puasa pada tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah tidak disyari'atkan (tidak disunnahkan) maka hendaknya ia mendatangkan dalīl untuk mengeluarkan puasa dari amal shālih yang disebutkan dalam hadīts di atas. 

Memang tidak ada riwayat bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berpuasa pada awal bulan Dzulhijjah namun kita dapat menjawabnya, "Mungkin Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memiliki alasan lain dan Beliau lebih memilih untuk tidak berpuasa guna melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat.”

Namun Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) telah mensyari'atkan umatnya dalam keumuman sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Dan ini sudah dimaklumi karena kitapun disunnahkan puasa daud namun Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam juga tidak melakukannya. Padahal itu adalah puasa yang paling dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Namun Nabi kitapun tidak melakukannya karena memiliki alasan-alasan lain yang mungkin kita tidak mengetahuinya.

Sehingga para ulamā mengatakan, "Disunnahkan untuk berpuasa bagi yang mampu, pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah tersebut."

Sekali lagi!

Disunnahkan, bukan diwajibkan!

Bagi yang dapat melakukannya tentu akan menjadi amal shālih yang agung pahalanya dan bagi yang tidak dapat melakukannya karena satu dan lain hal, maka tidak ada dosa baginya namun hendaknya dia berdo'a.

"Semoga Allāh memudahkannya untuk melakukan amalan-amalan yang disyari'atkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan rasūl-Nya"

Semoga Allāh memudahkan kita untuk berlomba-lomba memperbanyak amal ibadah dan pahala sebagaimana banyak dari kalangan manusia yang mereka berlomba-lomba untuk memperbanyak harta dunia walaupun dia tidak tahu akan dikemanakan hartanya.

Semoga pembahasan ini bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد

_________

PELAJARA PENTING DIBULAN DZULHIJJAH

🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 08 Dzulhijjah 1440H / 09 Agustus 2019M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Serial Bulan Dzulhijjah
🔊 Halaqah 05 | Pelajaran Penting Di Bulan Dzulhijjah
⬇ Download audio: bit.ly/Djulhijjah1440-H5
〰〰〰〰〰〰〰

*PELAJARA PENTING DIBULAN DZULHIJJAH*

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد الله و صلاة و سلم على رسول الله و على أله و أصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم القيامة أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām, rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Dari bulan Dzulhijjah ini, kita mengambil pelajaran yang cukup banyak di antaranya adalah, ternyata yang terpenting dalam ibadah kita harus mengikuti SOP (Standart Operasional Peribadahan) atau yang kita kenal dengan syar'iat.

Dalam ibadah qurban (misalnya) kita pernah mendapatkan sebuah kisah yang memiliki pelajaran berharga. Dalam hadīts riwayat Muslim, shahābat Jābir bin Abdillāh radhiyallāhu ta'āla 'anhumā bercerita:

صَلَّى بِنَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ النَّحْرِ بِالْمَدِينَةِ فَتَقَدَّمَ رِجَالٌ فَنَحَرُوا وَظَنُّوا أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَدْ نَحَرَ فَأَمَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مَنْ كَانَ نَحَرَ قَبْلَهُ أَنْ يُعِيدَ بِنَحْرٍ آخَرَ وَلاَ يَنْحَرُوا حَتَّى يَنْحَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم

_Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah shalāt Ied bersama kami di Madīnah pada tanggal 10 Dzulhijjah, lalu beberapa orang menyembelih hewan qurbannya, mereka mengira bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam telah menyembelih hewan qurbannya._

_Kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:_

_"Siapa yang menyembelih sebelum Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam agar  mengulangi ibadah qurbannya. Dan jangan sampai ada yang menyembelih sampai Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menyembelih hewan qurbannya."_

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor: 1964)

Dari kisah ini kita tahu bahwa ibadah qurban pada masa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam harus dilakukan setelah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam qurban.

Kalau sekarang, kita melakukan ibadah qurban harus setelah shalāt Ied.

"Barangsiapa menyembelih hewan qurbannya sebelum shalāt Ied maka ibadah kurbannya tidak sah."

Sahabat BiAS,

Anda sudah terbayang, apa masalahnya?

Coba ada pikirkan!

Berapa jarak antara penyembelihan dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan penyembelihan dari shahābatnya?

Dan zaman sekarang, berapa jarak penyembelihan sebelum shalāt ataupun sesudah shalāt, adakah satu jam? Saya kira tidak sampai satu jam, tapi ternyata ibadah tersebut dikatakan tidak sah.

Ini menandakan dalam ibadah, jalan yang lebih selamat adalah:

√ Mengikuti contoh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

√ Mengikuti SOP (Standart Operasional Peribadahan) yang disampaikan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam,

Jangan berusaha untuk berinovasi di dalam beribadah, karena inovasi dalam ibadah merupakan hal yang dilarang dalam agama kita.

Dalam ibadah kita hanya boleh melakukan duplikasi (meniru atau mencontoh) saja.

Jangan lupa diberi garis bawah kalimat tadi! Beri tanda " jangan lupa ditebalkan.

*”IBADAH ITU DUPLIKASI BUKAN INOVASI”*

Dan hal ini kita dapat juga mengambil pelajaran dari puasa yang diharamkan pada tanggal 10,11,12 dan 13 Dzulhijjah. Dalam sebuah hadīts dari Abī Said Al Khudriy radhiyallāhu ta'āla 'anhu, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ، يَوْمِ الْفِطْرِ، وَيَوْمِ النَّحْرِ

_"Sesungguhnya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam melarang puasa pada dua hari, yaitu hari raya Iedul Fitri dan Iedul Adhā."_

(Hadīts riwayat Al Bukhāri dan Muslim)

Dalam hadīts lain. Hadīts dari Nubaisyah Al Hudzali radhiyallāhu ta'āla 'anhu, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

_"Hari-hari Tasrīq adalah hari makan-makan dan minum.”_

(Hadīts riwayat Muslim)

Kita mengerti bahwa puasa adalah ibadah yang agung, tetapi ibadah itu harus dibangun di atas aturan-aturan syar'iat, tidak bisa kita membuatnya (membangun) ibadah dengan perasaan atau prasangka. Kita harus tahu dengan benar mana ibadah dan mana kemaksiatan dengan menggunakan dalīl-dalīl.

Bahkan terkadang ibadah yang besar seperti puasa,  akan menjadi kemaksiatan dan dosa di sisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla, jika kita melanggar aturannya.

Sehingga dari ini semua kita tahu yang terpenting adalah bagaimana kita tunduk dan taat kepada Allāh dan Rasūl-Nya. Bukan bagaimana kita banyak ibadah atau target ibadah kita banyak.

Ibadah harus diletakkan di bawah ketaatan dan ketundukan, di bawah aturan atau SOP syar'iat.

√ Ketika kita diminta berpuasa, maka kita berpuasa.

√ Ketika kita diminta tidak berpuasa maka kita jangan berpuasa.

Karena yang terpenting seorang harus tunduk dan patuh kepada Allāh dan Rasūl-Nya.

Ketika kita tidak berpuasa karena tunduk dan patuh kepada Allāh dan Rasūl-Nya, kita pun akan mendapatkan pahala dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla, (in syā Allāh).

Kita tutup dengan sebuah kalimat yang disarikan dari hadīts Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan mungkin kita sudah sering mendengarnya, bahwa:

√ Kita tidak akan memasuki surga Allāh dengan amal ibadah kita.

√ Kita tidak akan memasuki surga Allāh dengan shalāt kita, dengan puasa kita.

Akan tetapi kita masuk surga Allāh karena keridhāan dan rahmat Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Semoga pembahasan ini bermanfaat, semoga ini menjadi bekal kita dalam beramal, untuk memperbanyak bekal menuju Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan mengapai surga-Nya.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد

________

Rabu, 07 Agustus 2019

AMALANPUN BERTINGKAT-TINGKAT

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 05 Dzulhijjah 1440H / 06 Agustus 2019M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Serial Bulan Dzulhijjah
🔊 Halaqah 02 | Amalpun Bertingkat-Tingkat
⬇ Download audio: bit.ly/Djulhijjah1440-H2
〰〰〰〰〰〰〰

*AMALANPUN BERTINGKAT-TINGKAT*

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد الله و صلاة و سلم على رسول الله و على أله و أصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم القيامة أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām, yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Sebagaimana telah kami sampaikan pada pertemuan yang lalu, bahwa Allāh Subhānahu wa Ta'āla menciptakan banyak hal yang memiliki kedudukan berbeda, baik hari, bulan hingga amalan.

Dan setelah kita tahu bahwa siang hari yang paling utama untuk beramal adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Kita harus tahu juga bahwa setiap amal memiliki kedudukan berbeda di sisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Di sana ada:

√ Amalan yang sangat dicintai Allāh.
√ Amalan yang dicintai Allāh.
√ Amalan yang dibenci Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

⑴ AMALAN YANG SANGAT DICINTAI ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA'ĀLA

Amalan yang sangat dicintai Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah amalan yang wajib, seperti shalāt 5 waktu, puasa Ramadhān, zakāt māl dan amal-amal wajib lainnya.

Dalīlnya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla dalam hadīts qudsi.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ

_"Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri dengan suatu amalan yang lebih aku cintai dari amalan yang aku wajibkan."_

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 6502)

Maksud hadīts ini adalah Allāh lebih cinta dengan amalan yang wajib daripada amalan lainnya.

⑵ AMALAN YANG DICINTAI ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA'ĀLA

Selain ada amalan yang sangat dicintai Allāh, di sana juga ada amalan yang masih dicintai Allāh namun kedududukannya di bawah amalan wajib ini. Yaitu amalan-amalan sunnah (seperti) shalāt rawatib, puasa sunnah senin-kamis, puasa Dāwūd.

Ini semua adalah amalan yang dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, tetapi tidak bisa mengalahkan kecintaan Allāh Subhānahu wa Ta'āla pada amalan wajib.

Dalam hadīts qudsi, Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

_"Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku, dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku wajibkan. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya."_

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 6502)

⑶ AMALAN YANG DIBENCI ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA'ĀLA

Selain amalan yang dicintai oleh Allāh, disana ada amalan yang dibenci oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla (yaitu) amalan yang tidak disyari'atkan oleh Nya.

Contoh:

√ Amalan-amalan bid'ah (misalnya)
√ Amalan-amalan yang tidak sesuai dengan SOP (standart operasional peribadahan) yang dituntunkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Contoh:

Ada seorang berpuasa namun dia hāidh (misalnya), maka dia tidak akan mendapatkan pahala akan tetapi mendapatkan dosa.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَـٰٓؤُا۟ شَرَعُوا۟ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ ۚ

_"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allāh yang mensyar'iatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allāh?"_

(QS. Asy Syūrā: 21)

Dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallampun telah memperingatkan umatnya tentang amalan yang tidak ada syar'iatnya ini.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

_“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”_

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1718)

Sahabat Bimbingan Islām rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Sebelum kita melakukan amalan untuk mendekatkan diri kepada Allāh, pilihlah amalan yang paling dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla terlebih dahulu, kemudian baru amalan yang di bawahnya.

Dan hindarilah amalan yang dibenci oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, karena selain Allāh membencinya kita juga tidak akan mendapatkan pahalanya hanya capai yang kita dapatkan, bahkan bisa jadi Allāh Subhānahu wa Ta'āla murka kepada kita.

Semoga pembahasan ini bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد

_________

PUASA SUNNAH DI BULAN DZULHIJJAH

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 06 Dzulhijjah 1440H / 07 Agustus 2019M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Serial Bulan Dzulhijjah
🔊 Halaqah 03| Puasa Sunnah Di Bulan Dzulhijjah
⬇ Download audio: bit.ly/Djulhijjah1440-H3
〰〰〰〰〰〰〰

*PUASA SUNNAH DI BULAN DZULHIJJAH*

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد الله و صلاة و سلم على رسول الله و على أله و أصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم القيامة أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām, rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Di bulan Dzulhijjah ini ada sebuah ibadah yang agung, sebuah ibadah yang mulia di sisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Sebuah ibadah yang memiliki keutamaan menghapus dosa setahun yang telah lalu dan dosa setahun yang akan datang, (yaitu) puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah atau lebih dikenal dengan puasa 'Arafah.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah ditanya tentang puasa 'Arafah.

Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) menjawab:

يكفر السنة الماضية والباقية

_"Puasa tersebut menghapuskan dosa satu tahun yang telah lalu dan dosa satu tahun yang akan datang."_

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1162)

Itulah fungsi dari puasa 'Arafah, sehingga jangan sampai kita terlewatkan dalam melaksanakannya.

Kita memohon pertolongan kepada Allāh, semoga Allāh memberikan taufīq dan memudahkan urusan kita.

Di samping puasa 'Arafah, di bulan Dzulhijjah ini, ada juga puasa sunnah yang dianjurkan oleh sebagian ulamā kita, (yaitu) puasa sejak tanggal 1 Dzulhijjah hingga 9 Dzulhijjah.

Ini merupakan pendapat Syaikh Bin Bazz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Sulaimān Ar Ruhaili, Syaikh Sa'ad bin Nassir Asy Syatsri  dan yang lainnya.

Dalīlnya adalah sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ (يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ)

_"Tidak ada hari yang melebihi kecintaan Allāh Subhānahu wa Ta'āla pada amal-amal shālih yang dilakukan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah."_

(Hadīts shahīh riwayat Abū Dāwūd nomor 2438)

Sisi pendalīlan dari hadīts ini adalah:

"Kita tahu bahwasanya puasa termasuk amal shālih, tidak ada di antara kita yang mengatakan bahwasanya puasa bukan amal shālih. Dan kata amal shālih inilah yang dipakai dalam hadīts di atas."

Sehingga jika ada seorang yang mengatakan bahwa puasa pada tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah tidak disyari'atkan (tidak disunnahkan) maka hendaknya ia mendatangkan dalīl untuk mengeluarkan puasa dari amal shālih yang disebutkan dalam hadīts di atas. 

Memang tidak ada riwayat bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berpuasa pada awal bulan Dzulhijjah namun kita dapat menjawabnya, "Mungkin Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memiliki alasan lain dan Beliau lebih memilih untuk tidak berpuasa guna melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat.”

Namun Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) telah mensyari'atkan umatnya dalam keumuman sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Dan ini sudah dimaklumi karena kitapun disunnahkan puasa daud namun Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam juga tidak melakukannya. Padahal itu adalah puasa yang paling dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Namun Nabi kitapun tidak melakukannya karena memiliki alasan-alasan lain yang mungkin kita tidak mengetahuinya.

Sehingga para ulamā mengatakan, "Disunnahkan untuk berpuasa bagi yang mampu, pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah tersebut."

Sekali lagi!

Disunnahkan, bukan diwajibkan!

Bagi yang dapat melakukannya tentu akan menjadi amal shālih yang agung pahalanya dan bagi yang tidak dapat melakukannya karena satu dan lain hal, maka tidak ada dosa baginya namun hendaknya dia berdo'a.

"Semoga Allāh memudahkannya untuk melakukan amalan-amalan yang disyari'atkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan rasūl-Nya"

Semoga Allāh memudahkan kita untuk berlomba-lomba memperbanyak amal ibadah dan pahala sebagaimana banyak dari kalangan manusia yang mereka berlomba-lomba untuk memperbanyak harta dunia walaupun dia tidak tahu akan dikemanakan hartanya.

Semoga pembahasan ini bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد

_________

Senin, 05 Agustus 2019

AMALAN YANG HAMPIR MENYAMAI PAHALA BERJIHAD

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 04 Dzulhijjah 1440H / 05 Agustus 2019M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Serial Bulan Dzulhijjah
🔊 Halaqah 01| Amalan Yang Hampir Menyamai Pahala Berjihad
⬇ Download audio: bit.ly/Djulhijjah1440-H1
〰〰〰〰〰〰〰

*AMALAN YANG HAMPIR MENYAMAI PAHALA BERJIHAD*

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد الله و صلاة و سلم على رسول الله و على أله و أصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم القيامة أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām, yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menciptakan banyak hal yang memiliki kedudukan berbeda. Ada orang mulia, ada orang hina, ada ahli surga, ada ahli neraka, ada orang baik adapula orang jaha. Ada hari yang mulia ada juga hari yang biasa saja, ada bulan mulia ada pula bulan yang biasa saja.

Hanya saja tidak ada hari dan tidak ada bulan yang ada kesialan padanya.

Dan tidak terasa kita memasuki sebuah bulan, yang amal shālih akan lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dan tidak terasa sebentar lagi kita akan memasuki hari-hari yang amal shālih akan lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla daripada amalan yang dilakukan pada hari-hari selainnya (yaitu) 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Kita hidup di dunia ini, ingin mencari apa?

Pasti jawaban kita,

√ Kita ingin dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

√ Kita ingin diridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Sahabat Bimbingan Islām.

Pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, kesempatan untuk dicintai dan diridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan menghampiri kita.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ اْلأيَّامِ الْعَشْرِ

_"Tidak ada hari yang bisa melebihi kecintaan Allāh Subhānahu wa Ta'āla pada amal shālih yang dilakukan pada 10 hari pertama dibulan Dzulhijjah."_

(Hadīts riwayat Abū Dāwūd, Ibnu Mājah, At Tirmidzī dan dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh)

Dari hadīts ini, kita mengetahui bahwa amal shālih yang dilakukan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah sangat dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Tidak ada hari-hari yang bisa mengalahkannya.

Bahkan menurut para ulamā, 10 hari pertama bulan Dzulhijjah (yaitu) pada siang harinya tidak bisa dikalahkan dengan 10 hari siangnya bulan Ramadhān.

Perlu diingat! Yang kita bicarakan adalah siangnya, adapun malamnya maka pembahasannya berbeda.

Sehingga ketika kita bersedekah di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dengan uang 10 ribu, maka akan lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla daripada sedekah 10 ribu diluar 10 hari ini.

Ketika kita shalāt dhuhur atau shalāt ashar di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah maka akan lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla daripada shalāt dhuhur atau shalāt ashar di luar 10 hari pertama bulan ini.

Ketika kita puasa sunnah pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah maka akan lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla daripada puasa sunnah di luar 10 hari ini.

Menurut para ulamā keutamaan ini mencakup seluruh amal shālih (apapun itu) baik puasa, shalāt, sedekah, dzikir dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, ketika disampaikan hadīts ini para shahābat bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّ

_"Wahai Rasūlullāh, apakah pahala jihād fī sabīlillāh juga tidak bisa mengalahkan amal shālih pada hari ini?"_

_Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) menjawab:_

وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

_"Iya, jihād dijalan Allāh tidak bisa mengalahkannya."_

Kemudian Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) memberikan catatan tambahan:

إِلا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ 

_"Kecuali orang yang berjihād fī sabīlillāh dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun (maksudnya ia mati syahīd).”_

Itulah amalan yang dapat mengalahkan kecintaan Allāh yaitu amalan di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Adapun amalan yang lainnya, maka tidak bisa mengalahkannya sesuai dengan sabda Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ini.

Mari kita memperbanyak do'a.

Mari kita memperbanyak isti'ānah (meminta pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla) agar kita dimudahkan, agar kita diberikan taufik untuk menciptakan pundi-pundi pahala amal shālih di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla a'lam bishawāb

وصلى الله على نبينا محمد

_________

Selasa, 14 Agustus 2018

KEUTAMAAN 10 HARI BULAN DZULHIJJAH, BAGIAN 2

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 2 Dzulhijjah 1439 H / 14 Agustus 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., Lc, M.A.
📔 Materi Tematik | Keutamaan 10 hari Dzulhijjah, bagian 2
⬇ Download Audio: bit.ly/Keutamaan-10-hari-Dzulhijjah-2bit.ly/Keutamaan-10-hari-Dzulhijjah-2
----------------------------------
*KEUTAMAAN 10 HARI BULAN DZULHIJJAH, BAGIAN 2*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليك ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat BIAS sekalian.
Apa amalan-amalan yang bisa kita lakukan pada sepuluh hari awal bulan Dzulhiijjah?
Diantara amalan yang bisa kita lakukan adalah:
⑴ Melaksanakan ibadah haji dan umrah.
Melaksanakan ibadah haji dan umrah, bagi yang dimudahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Sebagaimana sabda Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:
الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةَ
_"Umrah yang satu dengan umrah berikutnya adalah pelebur dosa (yang dikerjakan) diantara keduanya, dan haji yang mabrūr tiada balasan baginya selain Surga."_
(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 1773 dan Muslim nomor 1349)
Oleh karena itu, apabila dimudahkan umrah dan haji adalah nikmat yang luar biasa, berada ditanah suci (berkumpul keutamaan tempat, waktu dan amalan).
⑵ Berpuasa
Berpuasa adalah amalan yang luar biasa, sebagaimana disebutkan di dalam hadīts qudsi.
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda, Allāh Subhānahu wa Ta'āla  berfirman:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
_"Semua amalan anak Ādām adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa, karena puasa itu adalah untuk Ku dan Aku yang langsung membalasnya."_
Disini Allāh Subhānahu wa Ta'āla menisbahkan pahala puasa (ibadah puasa) adalah untuk Allāh.
√ Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak butuh amalan hamba-Nya,
√ Allāh tidak butuh kebaikan dari hamba-Nya.
Akan tetapi di sini dinisbatkan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, menunjukkan bahwa puasa memiliki kedudukan yang sangat agung (sangat luar biasa), sampai-sampai Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang akan membalasnya langsung.
⑶ Memperbanyak shalāt.
Shalāt adalah ibadah dan termasuk rukun Islām kedua, bahkan di akhir hayat Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam Beliau mengatakan, "Shalāt, shalāt."
Dan orang yang melaksanakan shalāt wajib kemudian dia memperbanyak shalāt-shalāt sunnah maka dia akan menjadi wali Allāh.
Dan dalam sebuah hadīts qudsi, Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
ومَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
_"Dan senantiasa hamba Ku itu, dia mendekatkan diri kepada Ku, dengan ibadah-ibadah nawāfil (ibadah sunnah) sampai aku mencintainya."_
(Hadīts riwayat Imām Bukhāri)
Setelah melaksanakan ibadah yang wajib, shalāt tepat waktu, shalāt di masjid bagi laki-laki, kemudian dia memperbanyak ibadah-ibadah sunnah, maka ini akan menyebabkan kecintaan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
⑷ Memperbanyak takbir, tahmid, tahlil dan dzikir.
Mengucapkan:
√ Allāhu Akbar
√ Alhamdulilāh
√ 'Lā ilāha illallāh
√ Dzikir-dzikir yang lainnya adalah termasuk amalan shālih yang diperintahkan.
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam di dalam hadītsnya bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ
_"Tidak ada hari-hari dimana amalan-amalan shālih yang dilakukan di dalamnya lebih agung di sisi Allāh dan lebih dicintai melainkan sepuluh hari awal bulan Dzulhiijjah. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid."_
(Hadīts shahīh riwayat Imām Ahmad, dan di shahīhkan oleh Syaikh Al Albāniy rahimahullāh)
⑸ Memperbanyak sedekah.
Dan banyak sekali hadīts-hadīts tentang sedekah.
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
 والصَّدقةُ بُرهَانٌ
_"Dan sedekah adalah bukti keimanan seseorang kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla."_
Dan di sana masih banyak amalan-amalan dan dalilnya yang kita tidak bisa sebutkan satu persatu.
Diantaranya;
√ Banyak membaca Al Qur'ān.
√ Belajar Al Qur'ān.
√ Mengajarkan Al Qur'ān.
√ Taklim.
√ Bermajelis dzikir.
√ Memperbanyak istighfār.
√ Birul walidain
√ Menyambung silaturahim dengan saudara dan kerabat.
√ Menyebarkan salam.
√ Memberi makan kepada orang-orang yang membutuhkan.
√ Amar ma'rūf nahi munkar
√ Menjaga lisan.
√ Menjaga kemaluan.
√ Berbuat baik kepada tetangga.
√ Dan lain sebagainya.
Dari ibadah-ibadah fisik hingga ibadah-ibadah bathin, ibadah yang tampak dan ibadah yang bathin.
Maka para sahabat BiAS.
Perbanyaklah ibadah-ibadah, terutama di sepuluh hari diawal bulan Dzulhiijjah ini. Ini adalah hari-hari yang utama dan hendaknya kita saling berlomba untuk kebaikan, terutama bagi anda sekalian yang berada di tanah suci. Jangan sia-siakan kesempatan ini karena belum tentu akan kembali dua kali.
Karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan kepada kita kesempatan,  berkumpulnya waktu yang utama (10 hari awal bulan Dzulhiijjah) tempat yang mulia (tanah harām) yang dimana amalan dilipat gandakan. Pahala shalāt 100.000 kali dan juga ibadah utama yaitu haji (dhuyufurrahmān).

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
_____________________
🏦 *Donasi Dakwah BIAS* dapat disalurkan melalui :
🎗 *Bank Mandiri Syariah*
🥇 *Kode Bank : 451*
💳 *No. Rek : 710-3000-507*
🏬 *A.N : YPWA Bimbingan Islam*
📲 Pendaftaran Donatur Tetap & Konfirmasi Transfer *Hanya via WhatsApp* ke ;  *0878-8145-8000*
SWIFT CODE : BSMDIDJA (Luar Negeri)
▪ *Format Donasi :  DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal*
📝 *Cantumkan Kode 700 di akhir nominal transfer anda.*

KEUTAMAAN 10 HARI BULAN DZULHIJJAH

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 1 Dzulhijjah 1439 H / 13 Agustus 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., Lc, M.A.
📔 Materi Tematik | Keutamaan 10 hari Dzulhijjah
⬇ Download Audio: bit.ly/Keutamaan-10-hari-Dzulhijjahbit.ly/Keutamaan-10-hari-Dzulhijjah
----------------------------------
*KEUTAMAAN  10 HARI BULAN DZULHIJJAH*

Bismillahirrahmanirrahim
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Alhamdulillah, wa sholatu wa salamu 'alaa Rasulillah.
Para sahabat BIAS sekalian.
Di antara kenikmatan yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada kita adalah kita bisa menemui hari-hari yang mulia, hari-hari yang utama. Hari-hari di mana pahala amalan amalan dilipat gandakan.
Di antaranya adalah kita menemui sepuluh hari awal di bulan Dzulhijjah. Di mana sepuluh hari awal di bulan Dzulhijjah ini adalah hari-hari yang utama sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bahwasanya Beliau bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّوَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ، يَعْنِيْ أَيَّامَ الْعَشْرِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ: “وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
_“Tidak ada hari dimana suatu amal shalih lebih di cintai Allah melebihi amal shalih yang dilakukan di hari-hari ini (yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah).”_
_Para shahabat bertanya:_
_”Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad di jalan Allah?”_
_Nabi ٍshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:_
_“Termasuk lebih utama dibanding jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad) dan tidak ada satu pun yang kembali (ia mati syahid).”_
Shahih, HR Al Bukhari (no. 969), Abu Dawud (no. 2438), At Tirmidzi (no. 757), Ibnu Majah (no. 1727) Ad Darimi (II/25), Ibnu Khuzaimah (no.2865), Ibnu Hibban (no.324, At Taliqatul Hisan), At Thahawy dalam Syarh Musykilil Atsar (no.2970), Ahmad (I/224, 239, 346), Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no.1125), Abu Dawud Ath Thayalisi dalam Musnad-nya (no.2753), Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf (no. 8121), Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf (no. 19771), Al Baihaqi (IV/284), dan Ath Thabrani dalam Al Mu’jamul Kabir (no. 12326-12328).
Para sahabat BIAS sekalian...
Oleh karena itu, ini adalah kesempatan yang mulia. Dan kita lihat bahwa sepuluh hari di awal bulan Dzulhijjah adalah yang utama, dimana:
1. Bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla bersumpah atas hari-hari tersebut.
Dan apabila Allāh Subhānahu wa Ta’āla bersumpah atas sesuatu / atas makhluk-Nya, menunjukkan bahwa makhluk tersebut adalah makhluk yang utama, yaitu hari-hari di awal bulan dzulhijjah.
Sebagaimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
وَالْفَجْرِ﴿١﴾وَلَيَالٍ عَشْرٍ
_Demi fajar, demi malam yang sepuluh._
[ QS Al Fajr/89:1-2]
"Dan demi malam yang sepuluh," di sini, disebutkan oleh para mufassirin dari kalangan salaf maupun khalaf, di antaranya oleh Imam Ibnu Katsir, bahwasanya itu adalah sepuluh hari awal di bulan Dzulhijjah. Dan ini yang shahih.
2. Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla juga menyebutkan sepuluh hari tersebut adalah "ayyamun ma'lumat" yang berarti hari-hari tertentu yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla utamakan.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla sebutkan dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla puji para jama'ah haji.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
...وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ...
_…dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan..._
[QS Al Hajj/22:28]
3. Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mempersaksikan dan menegaskan sebagai "ayyamul afdhal", hari-hari yang paling mulia yang kita lewati di dunia.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani:
" أفضـل أيـام الدنيـا أيـام العشـر "
_Hari-hari yang kita lalui yang paling afdhal adalah sepuluh (sepuluh hari di awal bulan Dzulhijjah)._
Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami 1/253 No 1133.
4. Bahwasanya di dalamnya ada hari yang terbaik, yaitu hari Arafah. Di mana hari tersebut adalah "afdhalu yaumin thala'at syamsyu", hari terbaik di mana matahari terbit.
Maksudnya, hari Arafah adalah hari terbaik. Dan juga di hari Arafah di mana semua orang yang berhaji mereka wukuf.
Dan juga berpuasa di dalamnya diberikan pahala berupa diampuninya dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Dan keutamaan yang lain yang luar biasa.
Oleh karena itu, sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang terbaik.
Dan kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:
اَلْحَجُّ عَرَفَةُ
_Haji itu wukuf di Arafah._
[ Shahih, HR At Tirmidzi (no. 889) dan lainnya ]
Wukuf adalah rukun di dalam haji.
5. Bahwasanya di dalamnya adalah hari nahr, hari penyembelihan, mempersembahkan kurban kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan ia adalah ibadah yang paling agung, sebagaimana disebutkan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:
إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ . قَالَ عِيسَى قَالَ ثَوْرٌ وَهُوَ الْيَوْمُ الثَّانِى.
_“Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah yaumun nahr (Hari penyembelihan), kemudian hari yang tinggal."_
_Isa (rawi hadits) berkata: Tsaur berkata: “Dia (hari yang tinggal) adalah hari yang kedua."_
[HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (1765) dan Ahmad dalam Al Musnad (4/350). Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al Albaniy -rahimahullah- dalam Takhrij Al Misykah (no. 2643)]
6. Bahwasanya di sepuluh hari yang pertama di bulan Dzulhijjah di sana terkumpul "ummahatul 'ibadah", ibadah-ibadah yang agung, ibadah-ibadah yang pokok :
- ada haji
- ada umrah
- ada puasa
- ada dzikir
- ada ibadah fisik, berupa shalat
- ada ibadah batin
- ada sedekah
- ada berkurban
- dan lain sebagainya.
Para sahabat BIAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Oleh karena itu, jangan kita lewatkan kesempatan ini, apalagi jika kita berasa di tanah suci Makkah Al Mukarramah, pahalanya luar biasa.
Berkumpul keutamaan waktu, dan berkumpul pula keutamaan tempat. Terlebih apalagi bagi yang menjalankan ibadah haji. Ini adalah "duyufurahman" (tamu--tamu Allah Subhanahu wa Ta'ala).
Wa shalatu 'alaa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa alihi wa salim
Wa akhiru da'wana 'anil hamdulillahirabbil 'alamin.
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
_________________________
🏦 *Donasi Dakwah BIAS* dapat disalurkan melalui :
🎗 *Bank Mandiri Syariah*
🥇 *Kode Bank : 451*
💳 *No. Rek : 710-3000-507*
🏬 *A.N : YPWA Bimbingan Islam*
📲 Pendaftaran Donatur Tetap & Konfirmasi Transfer *Hanya via WhatsApp* ke ;  *0878-8145-8000*
SWIFT CODE : BSMDIDJA (Luar Negeri)
▪ *Format Donasi :  DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal*
📝 *Cantumkan Kode 700 di akhir nominal transfer anda..*

Selasa, 29 Agustus 2017

Seputar Bulan Dzulhijjah

KEUTAMAAN ILMU:
🚇 HUKUM-HUKUM YANG BERKAITAN DENGAN IEDUL QURBAN

🎙Oleh: Al-Ustadz Abu 'Abdillah Luqman bin Muhammad Ba'abduh hafizhahullah

📅 Kajian di Masjid Ma'had as Salafy Jember | 4 Dzulhijjah 1435 H ~ 27 September 2014 M

⭕️ 01 Amalan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah, Bertakbir Sejak Awal Dzulhijjah
http://bit.ly/seputar-bulan-dzulhijjah-01
⭕️ 02 Amalan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah (Larangan memotong kuku dan Mencukur Rambut Kepala, Kumis dan Semisalnya  Bagi yang Mau Berkurban)
http://bit.ly/seputar-bulan-dzulhijjah-02
⭕ 03 Amalan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah (Di Syariatkan Melakukan Shaum/Puasa 9 Hari dari awal Dzulhijjah)
http://bit.ly/seputar-bulan-dzulhijjah-03
⭕ 04 Amalan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah (Jika puasa Dzulhijjah jatuh pada hari Sabtu, sementara ada hadits yang melarang puasa hari Sabtu)
http://bit.ly/seputar-bulan-dzulhijjah-04
⭕ 05 Kenapa dinamakan al-Udhiyah?
http://bit.ly/seputar-bulan-dzulhijjah-05
⭕ 06 Apakah kewajiban kurban setiap Tahun atau cukup sekali seumur hidup?
http://bit.ly/seputar-bulan-dzulhijjah-06
⭕ 07 Bolehkah Berhutang untuk Melakukan Udhiyah (QURBAN)?
http://bit.ly/seputar-bulan-dzulhijjah-07
⭕ 08 Mana yang Lebih Utama Menyembelih Seekor Kambing dengan Ikut Saham (patungan sapi)?
http://bit.ly/seputar-bulan-dzulhijjah-08
⭕ 09 Apa Hukum al-Udhiyah?
http://bit.ly/seputar-bulan-dzulhijjah-09
⭕️ 10 [Audionya sama dengan nomor 7]
⭕ 11 Udhiyah/Qurban untuk orangtua yang sudah meninggal
http://bit.ly/seputar-bulan-dzulhijjah-11
⭕ 12 Mana yang lebih utama berqurban untuk orangtua atau diri sendiri?
http://bit.ly/seputar-bulan-dzulhijjah-12
⭕ 13 Mana yang lebih utama di iedul adha, berqurban atau bershadaqah senilai harga hewan tersebut?
http://bit.ly/seputar-bulan-dzulhijjah-13
⭕ 14 Mana yang lebih utama Unta, Sapi atau Kambing?
http://bit.ly/seputar-bulan-dzulhijjah-14
⭕ 15 Yang utama berikan yang terbaik dalam ibadah
http://bit.ly/seputar-bulan-dzulhijjah-15
⭕️ 16 [Filenya tidak ada]
⭕ 17 Bolehkah berqurban dengan Jamus (kerbau)?
http://bit.ly/seputar-bulan-dzulhijjah-17

_______
📨 Sumber:
@ManhajulAnbiya
@ForumSalafy

••••
📶  https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]

🌍  www.alfawaaid.net

↪. Turut Menyebarkan >> http://telegram.dog/KEUTAMAANILMU

Senin, 28 Agustus 2017

Syarat Hewan Qurban

KEUTAMAAN ILMU:
🚇 SYARAT HEWAN KURBAN

Oleh:
Asy-Syaikh al-'Allaamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin -rahimahullah-

                                          ✹✹✹

Asy-Syaikh Al-Utsaimin berkata, “Kemudian berkurban memiliki beberapa syarat, di antaranya ada syarat terkait waktunya, dan ada syarat terkait hewan kurban itu sendiri.

Adapun waktunya:

Sesungguhnya berkurban memiliki waktu yang telah ditentukan, yang tidak disyari’atkan untuk dilakukan sebelum atau setelahnya.

Waktunya adalah dimulai sejak selesai dilaksanakannya shalat ‘ied sampai terbenamnya matahari di malam 13 (DzulHijjah). Sehingga waktunya ada 4 hari, yaitu hari Ied dan 3 hari setelahnya.

Maka siapa saja yang menyembelih hewan kurbannya dalam kurun waktu tersebut baik di waktu siang atau malam hari maka sembelihannya adalah sah, ini ditinjauh dari sisi waktu.

Dan barangsiapa menyembelihnya sebelum shalat ‘Ied maka hewan kurbannya adalah hewan kurban lahm (yaitu daging biasa,pen) dan tidak bisa dijadikan sebagai hewan kurban, dia boleh menyembelih hewan kurban lain sebagai pengganti yang pertama.

Barangsiapa menyembelih setelah matahari terbenam di malam ke 13 (DzulHijjah) maka hewan kurbannya tidak sah, kecuali jika ada udzur.

Sedangkan syarat terkait hewan kurbannya, maka syaratnya adalah:

P E R T A M A:

Harus dari bahimatul an’am (hewan ternak), yaitu Onta, sapi, dan kambing domba/kacang. Barangsiapa yang berkurban dengan selain hewan tersebut maka kurbannya tidak sah.

Misalnya seseorang berkurban dengan kuda, kijang, atau burung unta, maka kurbannya tidak diterima darinya, karena hewan kurban hanyak berlaku bagi hewan-hewan ternak.

Udhiyah adalah ibadah dan syari’at, sehingga tidaklah seseorang menjadikan sebuah syari’at dan tidak beribadah kecuali yang telah ditetapkan di dalam syari’at. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ,

“من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد”

“Barangsiapa melakukan sebuah perbuatan yang tidak ada dasarnya dari kami maka amalannya tertotak.”(HR. Muslim no.1718) yakni ditolak tidak diterima.

K E D U A:

Telah mencapai usia yang cukup menurut syari’at.

▪Bagi kambing domba usia 6 bulan,    
▪kambing kacang/jawa 1 tahun,    
▪sapi 2 tahun,    
▪dan unta 5 tahun.

Barangsiapa menyembelih di bawah usia tersebut maka tidak sah kurbannya. Seandainya ia menyembelih kambing domba berusia 5 bulan maka tidak sah kurbannya, atau menyembelih sapi usia 1 tahun lebih 10 bulan juga tidak sah kurbannya, atau menyembelih unta usia 4 tahun lebih 6 bulan juga tidak sah kurbannya. Maka harus telah sampai usia yang telah ditentukan. Dalilnya adalah sabda Nabi ﷺ,

(لا تذبحوا إلا مُسِنَّة- يعني ثنيّة- إلا أن تعْسُرَ عليكم فتذبحوا جَذَعة من الضأن “

“Janganlah kalian menyembeli (hewan kurban) kecuali musinnah (yaitu tsaniyyah). Kecuali jika kalian kesulitan mendapatkannya, maka boleh menyembelih jadza’ah dari domba.”

(Keterangan tambahan: Musinnah adalah Tsaniyah. Tsaniyah pada Unta adalah unta yang genap berumur lima tahun. Tsaniyah pada Sapi adalah sapi yang genap berumur dua tahun. Tsaniyah pada Kambing (baik dari jenis dha’n maupun ma’iz) adalah yang genap berumur satu tahun. Adapun jadza’ dari jenis dha’n adalah yang genap berumur setengah tahun.)

K E T I G A:

Terbebas dari ‘aib yang membuatnya tidak sah.

‘Aib pada hewan kurban ada empat: (keempatnya) telah dijawab oleh Nabi ﷺ ketika beliau ditanya, “Apa yang harus dihindari dari hewan kurban?

Maka beliau menjawab, “yang buta dan jelas butanya, yang sakit dan jelas sakitnya, yang pincang dan jelas pincangnya, yang kurus tidak bersumsum.” (HR. Malik)

Hewan-hewan seperti di atas atau bahkan lebih parah lagi maka dihukumi sama. Inilah 3 syarat yang kembalinya kepada hewan kurban, dan 1 syarat sebelumnya kembali kepada waktu pelaksanaannya, dan telah dijelaskan sebelumnya.

                                          ✺✺✺

Sumber:
Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin 25/12-14.

Dinukil dari http://bit.ly/1g4iACR

__________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد

✆ https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF] |www.alfawaaid.net

📡. Share >> http://telegram.dog/KEUTAMAANILMU

Sabtu, 26 Agustus 2017

Takbir di Bulan Dzulhijjah

KEUTAMAAN ILMU:
🚇TAKBIR MUTHLAQ (TIDAK TERIKAT) DAN TAKBIR MUQAYYAD (TERIKAT) PADA BULAN DZULHIJJAH

❱ Samahatusy Syaikh al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah

[ Kepada Fadhilatusy Syaikh Al-Mukarram ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz hafizhahullah setelah penghormatan dan pemuliaan ]

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Semoga Allah senantiasa menjaga kami dan anda di atas nikmat Islam. Diiringi dengan pertanyaan tentang kondisi kesehatan anda … semoga Allah tetap menjaga anda terus berada di atas ketaatan kepada-Nya.

Kami memohon fatwa tentang Takbir Muthlaq pada hari Raya ‘Idul ‘Adh-ha. Apakah takbir setiap selesai shalat lima waktu termasuk Takbir Muthlaq ataukah tidak? Apakah itu sunnah, mustahab (dianjurkan), ataukah bid’ah? Karena telah terjadi banyak perdebatan dalam masalah ini.

[ Dari ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz kepada Saudara yang Mulia M-‘A-M waffaqahullah – amin ]

سلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Surat anda tertanggal 24/2/1387 H telah sampai, washshalakumullah bihudahu, isi kandungannya berupa pertanyaan adalah telah diketahui.

Jawaban atas pertanyaan anda adalah sebagai berikut:

الحمد لله وصلى الله وسلم على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بهداه

Takbir pada ‘Idul ‘Adh-ha merupakan ibadah yang disyariatkan sejak awal bulan sampai akhir hari ke-13 bulan Dzulhijjah.

◈ Berdasarkan firman Allah:

《 وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ 》

“Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” [Al-Hajj: 28], yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah

◈ dan firman Allah Ta’ala:

《 وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ 》

“Dan sebutlah nama Allah pada hari-hari yang tertentu.” [Al-Baqarah: 203], yaitu hari-hari Tasyriq.

◈ Juga berdasarkan sabda Nabi -ﷺ-:

《 أيام التشريق أيام أكل وشرب وذكر الله عز وجل 》

“Hari-hari Tasyriq adalah hari-hari untuk menikmati makan dan minum, serta hari-hari untuk berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” [Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya]

◈ Al-Bukhari menyebutkan dalam kitab Shahih-nya secara mu’allaq dari shahabat Ibnu ‘Umar dan shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum,

《 أنهما كانا يخرجان إلى السوق أيام العشر فيكبران ويكبر الناس بتكبيرهما 》

“Bahwa keduanya dulu keluar ke pasar pada 10 hari pertama (Dzulhijjah) dan bertakbir. Maka umat pun bertakbir dengan takbir kedua shahabat tersebut.”

Dulu ‘Umar bin Al-Khaththab dan putranya, ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma bertakbir di hari-hari Mina di masjid maupun di kemah, keduanya mengeraskan suaranya sehingga Mina bergetar dengan takbir.

◈ Diriwayatkan juga dari Nabi -ﷺ- dan sejumlah shahabat radhiyallahu ‘anhum takbir setiap selesai shalat lima waktu mulai sejak shalat Shubuh hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat ‘Ashr hari ke-13 bulan Dzulhijjah. Ini berlaku bagi orang yang tidak sedang berhaji.

Adapun orang yang sedang berhaji maka dalam kondisi ihramnya dia menyibukkan diri dengan mengucapkan talbiyah sampai melempar jumrah ‘aqabah pada hari Nahr (hari ke-10 Dzulhijjah). Adapun setelah itu, dia menyibukkan diri dengan takbir. Ia bertakbir pada lemparan pertama ketika melempar jumrah. Jika bertakbir sambir bertalbiyah maka tidak mengapa.

◈ Berdasarkan perkataan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

《 كان يلبي الملبي يوم عرفة فلا ينكر عليه، ويكبر المكبر فلا ينكر عليه 》

“Dulu seorang bertalbiyah pada hari ‘Arafah, tidak ada yang mengingkarinya. Dan seorang bertakbir, tidak ada yang mengingkarinya.” [HR. Al-Bukhari 970]

[↑] Namun yang afdhal (utama) bagi seorang yang berihram adalah mengucapkan talbiyah. Adapun bagi seorang yang tidak berihram yang afdhal adalah bertakbir pada hari-hari tersebut.
※ Dengan demikian, kita tahu bahwa Takbir Muthlaq dan Takbir Muqayyad – menurut pendapat ‘ulama yang paling benar – bertemu pada lima hari, yaitu:
(•) Hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah),
(•) Hari Nahr (10 Dzulhijjah),
(•) dan hari-hari Tasyriq (11,12,13 Dzulhijjah).

Adapun hari ke-8 dan sebelumnya hingga awal bulan, takbir padanya adalah Takbir Muthlaq, tidak ada muqayyad padanya berdasarkan ayat-ayat dan riwayat-riwayat di atas.

◈ Dalam kitab Musnad, dari shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi -ﷺ- bahwa beliau bersabda:

《 ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد 》

“Tidak ada hari yang lebih mulia di sisi Allah dan tidak ada amalan yang lebih dicintai oleh-Nya pada hari-hari tersebut, dibanding 10 hari pertama (Dzulhijjah) tersebut. Maka perbanyaklah padanya tahlil, takbir, dan tahmid.” [HR. Ahmad]

•••

❱ Fadhilatusy Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah

■ Takbir Muthlaq terdapat pada dua tempat:

[ Pertama ] ※ Malam ‘Idul Fithri, sejak terbenam Matahari sampai selesainya shalat ‘Id

[ Kedua ] ※ 10 Dzulhijjah, sejak masuk bulan Dzulhijjah sampai waktu fajar Hari ‘Arafah, dan pendapat yang benar masih terus berlanjut hingga hari terakhir hari-hari Tasyriq (yakni hari ke-13).[¹]

■ Takbir Muqayyad sejak selesai shalat ‘Idul Adh-ha sampai waktu ‘Ashr hari Tasyriq yang terakhir (hari ke-13)

■ Takbir Gabungan, antara Muthlaq dan Muqayyad, sejak terbit fajar (waktu Shubuh) hari ‘Arafah sampai selesai shalat ‘Idul Adh-ha, dan pendapat yang benar terus berlanjut sampai terbenam Matahari hari Tasyriq paling terakhir.[²]

※ Perbedaan antara Takbir Muthlaq dan Takbir Muqayyad (terikat):
(•) Takbir Muthlaq disyari’atkan setiap waktu tidak hanya setiap selesai shalat fardhu. Jadi pensyari’atannya bersifat mutlak, oleh karena itu dinamakan Takbir Muthlaq.
(•) Adapun Takbir Muqayyad, disyari’atkan hanya setiap selesai shalat fardhu, (dengan catatan, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ‘ulama tentang jenis shalat yang disyari’atkan setelahnya takbir). Jadi pensyari’atannya terikat dengan shalat, oleh karena itu dinamakan dengan Takbir Muqayyad (terikat).

Wallahu a’lam,

Catatan:
[¹] Yakni terdapat perbedaan pendapat di kalangan ‘ulama tentang batas akhir Takbir Muthlaq. Sebagian ‘ulama menyatakan berakhir sampai waktu fajar hari ‘Arafah. Sebagian yang lain berpendapat masih terus berlanjut, baru berakhir pada akhir hari ke-13. Pendapat kedua inilah yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah. (pent)
[²] Yakni terdapat perbedaan pendapat di kalangan ‘ulama tentang batas akhir Takbir Gabungan antara Muthlaq dan Muqayyad. Sebagian ‘ulama menyatakan berakhir sampai selesainya shalat ‘Idul Adh-ha. Sebagian yang lain berpendapat masih terus berlanjut, baru berakhir pada akhir hari ke-13. Pendapat kedua inilah yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah. (pent)

Versi web: http://www.alfawaaid.net/2017/08/takbir-muthlaq-tidak-terikat-dan-takbir.html

••••
📮https://t.me/ukhuwahsalaf [M.U.S]
🌍www.alfawaaid.net

₪ Dari situs manhajul-anbiya.net

↪️. Share >> http://telegram.dog/KEUTAMAANILMU

➥ #Fiqh #Ibadah #Takbir #muthlaq #muqayyad

Amalan yg Disunnahkan Untuk Dikerjakan pd 10 Hari pertama Dzulhijjah

KEUTAMAAN ILMU:
🚇 AMALAN YANG DISUNNAHKAN UNTUK DIKERJAKAN PADA 10 HARI PERTAMA DZULHIJJAH

⭕️ SHALAT

Disunnahkan untuk bersegera menunaikan (shalat) fardhu dan memperbanyak yang sunnah, karena ini adalah termasuk amalan yang paling afdhal untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Shahabat Tsauban radhiyallahu 'anhu berkata : Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

عليك بكثرة السجود لله، فإنك لا تسجد لله سجدة إلا رفعك الله بها درجة، وحطَّ عنك بها خطيئة.

"Wajib atas kamu untuk memperbanyak sujud kepada Allah, karena sesungguhnya tidaklah kamu bersujud kepada Allah sekali saja melainkan Allah akan mengangkat satu derajatmu dan Allah akan menghapus satu kesalahan darimu." (HR. Muslim).

Dan ini (bersujud) mencakup semua waktu, kapan pun dilaksanakan.

⭕️ PUASA

Karena puasa termasuk dalam keumuman amal shalih (yang disunnahkan untuk diperbanyak pada hari-hari itu). Dari Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, dari sebagian istri Nabi ﷺ, dia berkata:

كان رسول الله يصوم تسع ذي الحجة، ويوم عاشوراء، وثلاثة أيام من كل شهر.

"Dahulu Rasulullah berpuasa sembilan Dzulhijjah, dan hari 'asyura' (tanggal sepuluh Muharram), dan tiga hari pada setiap bulannya." (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan An Nasa'i).

Al-Imam An-Nawawi mengatakan tentang puasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah bahwa itu adalah amalan yang sangat disenangi (disunnahkan).

⭕️ TAKBIR, TAHLIL, TAHMID

Berdasarkan hadits dari Ibnu 'Umar yang telah disebutkan di atas:

فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد.

"Maka perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid pada hari-hari tersebut."

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata: "Ðahulu Ibnu 'Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuma keluar menuju pasar pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan bertakbir, kemudian orang-orang pun juga ikut bertakbir ketika mendengar takbir keduanya."

Beliau (Al-Imam Al-Bukhari) juga berkata: "Dan 'Umar dahulu bertakbir di kubahnya di Mina, maka kemudian orang-orang yang berada di dalam masjid mendengarnya dan mereka pun ikut bertakbir, dan orang-orang yang berada di pasar pun juga ikut bertakbir sampai-sampai Mina bergetar disebabkan suara takbir mereka."

Dan Ibnu 'Umar dahulu bertakbir di Mina pada hari-hari tersebut, dan juga bertakbir setiap selesai mengerjakan shalat, bertakbir ketika berada di atas ranjangnya, di dalam kemahnya, di majelisnya, dan di setiap perjalanannya pada hari-hari tersebut.

Disenangi (disunnahkan) untuk mengeraskan bacaan takbir sebagaimana yang dilakukan Umar, putranya (yakni Ibnu 'Umar), dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhum.

✅ Sudah sepantasnya bagi kita kaum muslimin untuk menghidupkan kembali sunnah tersebut yang sudah hilang pada zaman ini dan hampir dilupakan bahkan oleh ahlu ash shalah wal khair (orang-orang yang memiliki kebaikan dan keutamaan) sekalipun. Dan yang memprihatinkan adalah apa yang terjadi sekarang justru menyelisihi amaliyah yang biasa dilakukan as salafush shalih.

LAFAZH TAKBIR

Ada tiga lafazh,

☑ Pertama :

الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر كبيراً.

☑ Kedua :

الله أكبر. الله أكبر. لا إله إلا الله. والله أكبر. الله أكبر ولله الحمد.

☑ Ketiga :

الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر. لا إله إلا الله. والله أكبر. الله أكبر. الله أكبر ولله الحمد.

⭕️ PUASA HARI ARAFAH

Puasa pada hari Arafah sangat ditekankan berdasarkan sabda beliau ﷺ tentang puasa hari Arafah:

أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والسنة التي بعده.

"Aku berharap kepada Allah untuk menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya." (HR. Muslim).

Beliau juga bersabda ketika ditanya tentang puasa ‘Arafah :

يكفر السنة الماضية والباقية

“(Puasa Arafah tersebut) menghapuskan dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang.” (HR. Muslim)

Akan tetapi barangsiapa yang berada di Arafah -yakni sedang beribadah haji-, maka TIDAK disunnahkan baginya berpuasa karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melakukan wuquf di Arafah dalam keadaan berbuka (tidak berpuasa).

📡 Sumber :
http://manhajul-anbiya.net

↪. Turut Menyebarkan >> http://telegram.dog/KEUTAMAANILMU

Selasa, 22 Agustus 2017

KEUTAMAAN BULAN DZULHIJJAH

BimbinganIslam.com
Senin, 29 Dzulqa'dah 1438 H / 21 Agustus 2017 M
 Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc
 Materi Tematik | Keutamaan Bulan Dzulhijjah
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-UBS-KeutamaanBulanDzulhijjah
 Sumber: https://youtu.be/hs0st1rdReg
~~~~~~~~~~~~
*KEUTAMAAN BULAN DZULHIJJAH*
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله نبينا محمد و آله وصحبه ومن واله
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمد عبده ورسوله و بعد
Bila kita berada di taman yang indah..
Terlihat bunga-bunganya yang bermekaran, tumbuhannya yang hijau, rasanya hati kita senang sekali..
Berada di sebuah taman yang indah..
Namun tak kalah indahnya yaitu bulan Dzulhijjah.
Bulan Dzulhijjah juga adalah merupakan bulan yang indah bagi orang-orang yang ada di dalam hatinya Iman dan Islam, bagi orang-orang yang menginginkan kehidupan akhirat.
Apa keindahan bulan Dzulhijjah?
Tentu keindahan yang dimaksud di sini adalah indahnya dan lezatnya beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
*•Keindahan Pertama*
Allāh menjadikan Bulan Dzulhijjah adalah bulan Haram. Dan bulan Haram adalah bulan yang harus kita hormati.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَالِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ
_"Sesungguhnya jumlah bulan ketika Allāh menciptakan langit dan bumi adalah 12 bulan, diantaranya bulan-bulan Haram. Itulah agama Allāh yang lurus. Jangan kalian menzhalimi diri kalian di bulan-bulan tersebut."_
(At Taubah: 36)
4 bulan Haram itu adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.
Dan bulan Dzulhijjah termasuk bulan Haram.
Perbuatan zhalim di bulan itu adalah sangat dilipatgandakan dosanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Demikian pula perbuatan amalan shālih, dilipatgandakan oleh Allāh.
*Keindahan Kedua*
Terlebih di awal Dzulhijjah (10 hari awalnya), ini adalah hari yang paling utama untuk beramal shālih melebihi amalan di bulan Ramadhān.
Allāh berfirman:
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
_"Demi waktu fajar dan demi sepuluh malam."_
(QS. Al Fajr: 1 - 2)
Kebanyakan ulama tafsir berkata:
"10 malam yang dimaksud yaitu di 10 awal bulan Dzulhijjah."
Juga Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengabarkan:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ.
_“Tidak ada hari-hari yang amalan shalih lebih dicintai oleh Allāh kecuali di 10 awal bulan Dzulhijjah.”_
(HR. Al Bukhari (no. 926), Abu Dawud (no. 2438), At Tirmidzi (no. 757) dan Ibnu Majah (no. 1727). Dan ini lafazh Abu Dawud, dari shahābat Ibnu 'Abbas radhiyallāhu 'anhu)
Subhanallāh!
*Keindahan Ketiga*
Disana ada ibadah yang agung yaitu ibadah haji ke Baitullāh.
Anda pernah berhaji?
Siapapun yang pernah berhaji dia akan merasakan betapa syahdunya dan nikmatnya ketika berhaji. Di saat wuqūf di 'Arafah, di saat melempar jumrah, di saat bermalam Muzdalifah..
Sebuah kenangan-kenangan yang indah di saat kita berhaji.
Dan itu merupakan amalan yang agung di sisi Allāh, dimana dia adalah merupakan salah satu dari Rukun Islām yang ke-5.
Keindahan yang berikutnya,
*Keindahan Keempat*
Disana ada ibadah bagi mereka yang tidak haji, yaitu berqurban dan berpuasa di tanggal 9 bulan Dzulhijjah.
Maka pada waktu itu kesempatan emas untuk kita beramal shālih.
Dengan berpuasa pada tanggal 9 bulan Dzulhijjah, bisa digugurkan dosa kita tahun yang lalu dan tahun yang akan datang, jata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Kemudian juga, beramal ibadah qurban, dimana kita menyembelih hewan qurban.
Allāh mengatakan:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
_"Tidak akan sampai kepada Allāh, darah dan tidak pula dagingnya. Akan tetapi yang sampai kepada Allāh adalah ketaqwaan di antara kalian."_
(QS. Al Hajj : 37)
Dimana kaum Muslimīn semuanya bersuka cita dengan menikmati daging hewan qurban tersebut.
Kemudian, keindahan selanjutnya,
*Keindahan Kelima*
Di sana ada:
أَيَّامُ التَّشْرِيق
_(ayyāmut tasyrīq)._
Yang disebutkan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sebagai:
أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
_(ayyāmu aklin wa syurbin), hari makan dan minum._
Allāh berfirman:
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ
_"Berdzikirlah kalian kepada Allāh di hari-hari yang telah ditentukan (yaitu di hari-hari Tasyriq)."_
(Al Baqarah: 203)
Disitu Allāh menyebutkan di hari-hari Tasyrīq kita disuruh banyak berdzikir kepada Allāh.
Sementara mereka yang berhaji, mereka melontar jumrah selama 3 hari (11, 12, 13), melontar Jumrah 'Ūlā, Wustha dan 'Aqabah.
Subhanallāh!
Itu adalah hari-hari yang penuh dengan ibadah.
Terasa indah bagi mereka yang beriman kepada Allāh dan kehidupan akhirat, yā Akhī..
Maka dari itulah, betapa indahnya bulan Dzulhijjah itu bagi mereka orang yang betul-betul berlomba dalam kebaikan.
Mari kita songsong bulan Dzulhijjah dengan penuh kegembiraan.
Allāh berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
_"Katakan dengan karunia Allāh dan rahmat-Nya lah hendaknya mereka bergembira, itu lebih baik dari pada apa yang mereka kumpulkan dari kehidupan dunia."_
(Yūnus: 58)
Disini Allāh menyuruh kita bergembira, dengan apa?
Dengan nikmat hidayah, dengan nikmat iman.
Itulah rahmat haqiqi yang Allāh berikan.
Lalu Allāh mengatakan:
"Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan daripada kehidupan dunia."
Maka kita gembira dengan datangnya bulan Dzulhijjah.
Kenapa?
Karena ini kesempatan emas kita mendulang pahala yang besar dan mendapatkan ampunan dari Allāh.
Semoga kita diberi kekuatan untuk senantiasa beramal shālih di hari-hari itu.
وبالله التوفيق
سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
______________________
*#TEBAR QURBAN 1438 H*
*Cinta Sedekah & Group Bimbingan Islam*
*Paket Sapi A* : Rp. 23.100.000
▪Untuk 7 orang @Rp. 3.300.000
*Paket Sapi B* : 19.600.000
▪Untuk 7 Orang @Rp. 2,800,000
_Paket sudah termasuk biaya operasional & perawatan sampai Iedul Qurban_
 *Bank Mandiri*
NoRek. 167-000-166-6725
a/n. Yayasan Cinta Sedekah
Kode Bank : 008
Konfirmasi SMS/WhatsApp :
0811-280-0606
Dengan format: Nama#Tanggal#PaketQurban#Domisili#JumlahTransfer
Contoh; Musa#18 Agustus 2017# 1/7 Paket Sapi A#Yogyakarta#3.300.000
----------------------------------

Kajian

IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH

🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah  Fī...

hits