Tampilkan postingan dengan label Sirah Nabawiyyah BAB 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah Nabawiyyah BAB 4. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 November 2017

Bab 04 | Kelahiran Dan Nasab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (Bag. 2 dari 6)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 27 Muharam 1439 H / 17 Oktober 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Sirah Nabawiyyah
📖 Bab 04 | Kelahiran Dan Nasab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (Bag. 2 dari 6)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-0402
~~~~~~~~~~~~~~~~~~

*KELAHIRAN DAN NASAB NABI SHALLALLĀHU 'ALAYHI WA SALLAM 2 DARI 6*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
إنَّ  الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه لا نبي بعده  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون, فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Alhamdulillāh, Allāh masih memberi kesempatan kita untuk bersua kembali dalam rangka mempelajari sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Kita lanjutkan,

Tatkala itu 'Abdul Muththalib hanya memiliki satu orang anak laki-laki yang bernama Al Hārits bin 'Abdul Muththalib (baru satu orang saja)

Maka mulailah 'Abdul Muththalib menggali sumur tersebut. Kemudian mulai nampak tanda-tanda sumur tersebut (tampak dinding-dindingnya). Maka orang-orang Quraisy mengetahui kalau 'Abdul Muththalib menemukan sumur.

Merekapun  mendatangi 'Abdul Muththalib dan berkata:

_"Wahai 'Abdul Muththalib, ini sumurnya kakek kita ( Ismā'īl 'alayhissalām), kami juga punya hak terhadap sumur tersebut. Maka jadikanlah kami termasuk pemilik sumur tersebut."_

'Abdul Muththalib berkata:

"_Saya tidak mau, ini milik saya. Aku telah dikhususkan memiliki sumur ini,  tetapi saya akan berikan kepada kalian."_

(Inti nya 'Abdul Muththalib akan membagi sumur zamzam tersebut)

Kata mereka:

_"Adil lah terhadap kita. Kalau tidak, kami tidak akan membiarkanmu menguasai sumur ini sampai kita berhakim kepada seseorang."_

Maka 'Abdul Muththalib dengan adilnya berkata:

_"Pilih siapa saja orang yang kita akan bertahkim kepadanya."_

Kata mereka:

_"Ada seorang perempuan dukun tapi tempatnya jauh di negeri Syām."_

Kemudian 'Abdul Muththalib setuju, maka berangkatlah 'Abdul Muththalib bersama beberapa saudara dari Bani 'Abdi Manaf dan orang-orang Quraisy. Mereka berjalan bersama dua kelompok

⑴ Kelompok  'Abdul Muththalib dengan Bani 'Abdi Manaf.
⑵ Kelompok  Bani yang menuntut untuk diberikan zamzam.

Tatkala itu mereka melewati padang pasir dan perjalanan yang sangat jauh, tiba-tiba  'Abdul Muththalib kehabisan air dan selama perjalanan tidak menemukan sumber mata air.

Maka mereka (rombongannya 'Abdul Muththalib) kehausan, sementara rombongan yang satunya masih memiliki air.

Tatkala air mereka habis, mereka minta kepada rombongan sebelah,  tetapi mereka menolak memberi air.

Akhirnya mereka (kelompoknya 'Abdul Muththalib) merasa akan mati, maka 'Abdul Muththalib punya ide.

_"Begini, kita masing-masing gali kuburan kita, daripada kita semua tergeletak tidak ada yang menguburkan, siapa yang mati duluan kita kubur lalu tutup, yang mati berikutnya sampai terakhir, hanya 1 yang mati yang tidak terkuburkan."_

Akhirnya mereka mulai menggali kuburan mereka masing-masing dan ini disaksikan oleh grup sebelah dan mereka tidak memperdulikan.

Setelah tergali lubang-lubang kuburan, 'Abdul Muththalib mengatakan:

_"Ini namanya pasrah, kita harus berusaha."_

Akhirnya mereka meninggalkan kuburan yang telah mereka gali, mulailah 'Abdul Muththalib naik ke atas untanya lalu tiba-tiba dari kaki untanya keluar mata air.

Setelah itu 'Abdul Muththalib mengambil air dan meminumnya dan memanggil grup sebelah (yang tidak mau memberikan air) dan mereka akhirnya datang dan ikut minum air tersebut.

Akhirnya grup sebelah sadar bahwasanya memang air zamzam tersebut haknya 'Abdul Muththalib, (buktinya) di tengah-tengah padang pasir Allāh keluarkan air khusus untuk 'Abdul Muththalib.

Mereka tidak jadi pergi ke dukun di Syām dan mereka kembali ke Mekkah dan menyatakan bahwasanya air zamzam itu milik 'Abdul Muththalib.

Inilah kisah kakek Nabi, 'Abdul Muththalib, dan tadi kita katakan bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dipilih oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla dengan nasab yang sangat tinggi demikian juga nasab-nasab para Rasūl.

Sebagaimana dalam Shahīh Bukhāri, tatkala Abū Sufyan masih dalam keadaan kafīr, Abū Sufyan pernah bertemu dengan Kaisar Romawi Hieraklius. Tatkala itu dia (Hieraklius) bertanya tentang Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam dan Abū Sufyan menjawab dengan jujur walaupun kafīr.

Diantara pertanyaan Hieraklius kepada Abū Sufyan, dia bertanya tentang nasab Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

_"Bagaimana nasab Nabi tersebut?"_

Maka kata Abū Sufyan:

_"Sesungguhnya Muhammad itu dikalangan kami adalah orang yang nasabnya tinggi."_

Maka Hieraklius berkata:

وَكَذَلِكَ الرُّسُلُ تُبْعَثُ فيْ نسَب ِ قَوْمِهَا

_"Demikianlah para Rasūl, mereka diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla pada nasab yang tinggi diantara kaumnya."_

Para ulamā menyebutkan, ada hikmah kenapa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dipilih pada nasab yang tinggi bahkan nasab terbaik, yaitu agar tidak ada orang-orang Arab yang mencela nasab Nabi. Mereka tahu nasab mereka lebih rendah dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Bagaimana tidak, kakeknya yaitu 'Abdul Muththalib pemilik zamzam, pemimpin orang-orang Quraisy, bagaimana cucunya mau dicela?

Dan ini diantara hikmah Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Seandainya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam diutus dari nasab yang rendahan (rakyat jelata yang tidak punya kedudukan) maka orang-orang akan menuduh bahwasanya Muhammad itu mengaku dirinya sebagai Nabi untuk mencari kekuasaan dan penghormatan.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak mencari penghormatan, beliau sudah dihormati.

Justru tatkala beliau berdakwah, beliau direndahkan. Tatkala beliau menyeru kepada Islām, beliau direndahkan. Asalnya, kalau beliau tidak menyeru kepada Islām beliau sudah dimuliakan oleh orang-orang Quraisy karena beliau adalah cucunya 'Abdul Muththalib.

⇒ 'Abdul Muththalib adalah orang yang mengatur pengairan untuk jama'ah haji, tersohorlah kebaikan 'Abdul Muththalib (sebelumnya). Begitu pula Hāsyim (bapaknya 'Abdul Muththalib), sangat terkenal.

Dan disebutkan oleh para ulamā, nama asli Hāsyim itu adalah 'Amr, namun diberi gelar "Hāsyim" karena Hāsyim itu artinya "membuat makanan untuk jama'ah haji." Beliau terkenal karena membagi-bagikan makanan untuk jama'ah haji.

Oleh karenanya tatkala Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam diutus pada golongan strata tinggi (nasab yang tinggi) maka tidak ada yang menuduh Nabi dengan tuduhan yang mengatakan nasabnya buruk.

Coba seandainya kalau Nabi dari nasab yang rendah misal dari budak, adakah yang mau berimān?

Tidak ada. Tidak ada yang mau berimān kepada Nabi, bila beliau berasal dari golongan rendah (budak).

Oleh karena itu Allāh memilih Nabi dari nasab yang tinggi, salah satu hikmahnya adalah,

⇒ Tatkala orang-orang bernaung di bawah Nabi mereka tidak merasa rendah, kenapa?  Karena Nabi mereka nasabnya tinggi.

Sesuai dengan perkataan Hieraklius, yang mengatakan:

وَكَذَلِكَ الرُّسُلُ تُبْعَثُ فيْ نسَب ِ قَوْمِهَا

_"Demikianlah para Rasūl, mereka diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla pada nasab kaumnya yang tinggi."_

Kita cukupkan di sini saja, In syā Allāh besok  kita lanjutkan lagi.

وبالله التوفيق و الهداية
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

_________________________
🌾 Raih Pahala Jariyah dengan Donasi Markaz Dakwah & Studio Bimbingan Islam
√ Bank Mandiri Syariah
√ Kode Bank : 451
√ No. Rek : 710-3000-507
√ A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer Via WA & Informasi ;  0811-280-0606
----------------------------------

Sabtu, 21 Oktober 2017

Bab 04 | Kelahiran Dan Nasab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (Bag. 6 dari 6)

BimbinganIslam.com
Sabtu, 01 Shafar 1439 H / 21 Oktober 2017 M
 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
 Sirah Nabawiyyah
 Bab 04 | Kelahiran Dan Nasab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (Bag. 6 dari 6)
▶ Link Download Audio: http://bit.ly/BIAS-FA-SIROH0406
~~~~~~~~~~~~~~~~
*KELAHIRAN DAN NASAB NABI SHALLALLĀHU 'ALAYHI WA SALLAM 6 DARI 6*
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
إنَّ  الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه لا نبي بعده  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون, فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Setelah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dilahirkan, dalam kondisi ayahnya sudah meninggal, sebagian ulamā menyebutkan, apa hikmahnya? 
Hikmahnya, yaitu:
⑴ Agar tidak terjadi tuduhan yang mengatakan bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam diajari oleh ayahnya, sementara kita tahu bahwa ayahnya berada dalam agama kesyirikan, sebagaimana adat Jāhilīyyah.
Sehingga bisa jadi ada yang berkata, "Apa yang dibawa Muhammad adalah dari adat Jāhilīyyah."
Maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla ingin agar Dia yang langsung mengurus Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, sehingga tidak perlu kepengurusan ayahnya.

⑵ Agar Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak punya hutang budi kepada ayahnya.

⑶ Untuk memberi pelajaran kepada anak yatim agar mereka tidak putus asa bahwasanya keyatiman bukanlah halangan untuk mencapai keberhasilan.

Dan kita lihat ternyata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dirawat oleh ibunya dalam waktu yang cukup lama dan dirawat dengan sangat baik.
⇒ Ini bukti bahwa peran ibu sangat penting.
Kalau kita melihat sejarah para Nabi, kebanyakan mereka dirawat oleh ibu-ibu mereka,
Contohnya:
√ Nabi Mūsa 'alayhissalām (nabinya orang Yahūdi)
Nabi Mūsā bahkan di dalam Al Qurān disebutkan bahwa ibunyalah yang mengurusnya.
√ Nabi 'Īsā 'alayhissalam (nabinya orang Nashrāni)
√ Nabi Muhammad dilahirkan tanpa ayah dan dirawat oleh ibunya.

Oleh karenanya, peran ibu dalam mendidik anak sangat penting.
Dan perlu saya ingatkan, kita boleh memasukkan anak kita ke pondok pesantren, tapi ingatlah peran orangtua, terutama ibu, sangat penting.
Jangan sampai dia masukkan anak ke pondok kemudian oraang tuanya berlepas diri. Kalau anaknya nakal maka pondoklah yang disalahkan, tidak!
Orangtua harus punya tanggung jawab diantaranya:
√ Mengunjungi,
√ Menghubungi dan
√ Perhatian kepada anaknya.

Ini penting. Seseorang, tatkala hendak menikah hendaklah mencari istri yang shālihah karena keberhasilan anak sangat tergantung dengan keberhasilan seorang ibu.
Banyak ulamā yang lahir dari tarbiyah/didikan ibu-ibu mereka.
Kita masuk kepada pembahasan berikutnya tentang radhā'ah nya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Disebutkan bahwa setelah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dilahirkan oleh ibunya lalu disusui oleh ibunya selama beberapa hari (ada yang mengatakan 3 hari, 7 hari). Dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam juga disusui oleh Tsuwaibah (budaknya Abū Lahab, paman Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam).

Tatkala keponakannya lahir, Abū Lahab gembira kemudian budaknya menyusui Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan membebaskan budaknya karena menyusui keponakannya (yang nantinya akan menjadi musuhnya).

Dan Tsuwaibah menyusui Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, disebutkan dalam suatu hadīts, dalam Umratul Qadha maka dikatakan kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:
_"Kenapa engkau tidak menikah dengan putrinya Hamzah (Hamzah bin 'Abdul Muththalib, paman Nabi, nama putrinya Fāthimah)?"_
Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:
_"Dia adalah putri dari saudaraku sepersusuan."_

Jadi, Hamzah adalah paman Nabi sekaligus saudara sepersusuan. Makanya Nabi sangat sayang kepada Hamzah dan sangat sedih tatkala Hamzah terbunuh di perang Uhud.

Ummu Habībah (istri Nabi) berkata:
_"Kami mendengar berita engkau wahai suamiku, engkau akan menikah dengan putrinya Abū Salamah."_
Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:
_"Abū Salamah?"_
Kata Ummu Habībah:
_"Ya"_
Kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:
_"Sesungguhnya Abū Salamah adalah saudaraku sepersusuan."_

Jadi, Nabi selain disusui oleh ibunya, juga disusui oleh Tsuwaibah dan ibu susuannya yang lain yang berasal dari Thāif.

Kisah yang panjang tentang Halīmah As Sa'diyah, seorang wanita yang datang dari Thāif, dan saya mendengar kampungnya sampai sekarang masih ada.
Jadi, kebiasaan orang-orang Arab dahulu kalau mereka punya anak, mereka meletakkan anak mereka untuk tumbuh di masa kecilnya di perkampungan, bukan daerah kota (Mekkah tatkala itu adalah kota).
Kebiasaan orang-orang kampung, mereka datang ke kota untuk mencari anak-anak untuk dipelihara. Maka pada suatu tahun, tahun kemarau saat itu, berangkatlah para wanita Thāif, diantaranya adalah Halīmah As Sa'diyyah ditemani suami mereka.
Tatkala itu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ditawarkan kepada mereka, namun semua orang menolak, tidak ada yang mau menyusui Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Ada apa?
Karena mereka tahu bahwa Muhammad yatim (tidak punya bapak), kalau tidak ada bapak lalu darimana upahnya?
⇒ Mereka bekerja untuk mencari upah dengan menyusui anak anak-anak kecil.
Awalnya Halīmah As Sa'diyyah juga tidak mau.
Saat datang ke Mekkah, dia mengendarai keledai betina. Ketika semua sudah dapat anak-anak yang akan disusui, tinggal Halīmah As Sa'diyyah, maka dia berdiskusi dengan suaminya untuk mengambil Muhammad untuk disusui. Akhirnya dengan berat hati diapun membawa Muhammad ke Thaif, disamping itu dia juga membawa anak kandungnya.

Begitu Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam diambil berkatalah Halīmah :
_"Sebelumnya anak saya tidak bisa menyusu kepada saya, karena tidak ada makanan (musim kering)."_
Sehingga air susu untuk anaknya saja tidak cukup, namun begitu dia menggendong Muhammad maka air susunya menjadi banyak, bisa untuk menyusui anaknya dan Muhammad.
Kemudian, tadinya dia datang mengendarai keledai yang lemah lalu tatkala pulang, keledai itu menjadi kuat.
Dan setelah sampai di rumahnya di Thāif dia mendapati ternyata kambing-kambingnya dalam keadaan gemuk dan susunya penuh.

Ini keberkahan yang Halīmah As Sa'diyyah rasakan setelah menyusui Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Maka diapun mencintai Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan merawat Beliau dengan sebaik-baiknya.
Sampai disebutkan beberapa kali, ibunya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ingin mengambil Nabi tetapi ditolak oleh Halīmah.
Sampai akhirnya pada suatu hari, ibunya memaksa dan akhirnya dilepaskan setelah beberapa tahun disusui Halīmah.
Kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dibawa kembali ke Mekkah dan hidup di bawah naungan ibunya.

Ada beberapa faidah yang disebutkan oleh para ulamā tentang masalah menyusuinya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

Diantaranya:
⑴ Pentingnya anak- anak di masa kecil untuk hidup di daerah yang segar, ini kebiasaan orang-orang Arab. Mereka meletakkan anak-anak mereka ditempat-tempat yang segar sehingga tubuh mereka tumbuh dengan sehat.

Oleh karenanya kebiasaan para ulamā dahulu tatkala masih kecil, mereka diletakkan di kampung-kampung Arab sehingga mereka bisa menjaga bahasa Arab mereka.
Adapun kalau di kota, bahasanya sudah campur-campur, karena orang dari luar Arab datang.
Bahasa Arab yang kuat ini sangat penting untuk memahami Al Qurān dan Sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, karena keduanya dengan bahasa Arab.

Oleh karenanya diantara musibah yang menimpa orang-orang Indonesia tatkala tulisan bahasa Arab jawa dihilangkan.
Dahulu orang-orang tua kita masih menulis dengan tulisan Arab walaupun bahasanya Indonesia tetapi tulisannya Arab, ini punya pengaruh. Orang jadi lihai menulis Arab dan akan menumbuhkan kecintaan kepada bahasa Arab, akhirnya semua orang mudah memahami bahasa Arab.

Di Arab saudi saat ini, banyak orang-orang yang ingin agar bahasa yang tersebar adalah bahasa 'ammiyyah (bahasa pasaran, bahasa yang tidak pakai kaidah), bahkan bagaimana mereka membuat sya'ir-sya'ir dengan bahasa Arab yang tidak baku.
Kalau kaidah-kaidah bahasa Arab hilang maka bagaimana orang bisa memahami Al Qurān dan Sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam?

Oleh karena itu, mempelajari bahasa Arab merupakan bagian dari agama.
Bahkan sebagian ulamā mengatakan belajar bahasa Arab wajib bagi yang mampu.
Kenapa?
Karena tidak mungkin bisa memahami Al Qurān dan Sunnah dengan baik kecuali dengan memahami bahasa Arab.

Namun yang menyedihkan, betapa banyak orang lebih semangat mengajarkan anaknya dengan bahasa Inggris (misalnya), sementara bahasa Arab sama sekali tidak diajarkan.
Dan semangat untuk belajar bahasa Arab tidak ada sama sekali. Sampai kita dapati disebagian kota dibuka kursus bahasa Arab gratis dan yang mendaftar hanya sedikit, sedikit yang berminat. Tetapi kalau bahasa Inggris, meskipun bayar mau datang.

Lalu bagaimana umat ini akan jaya?
Sementara bahasa Al Qurān dan Sunnah tidak faham.
Demikianlah kajian yang bisa kita sampaikan pada kesempatan hari ini,  In syā Allāh mudah-mudahan besok kita lanjutkan lagi.
وبالله التوفيق و الهداية
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
_________________________

Jumat, 20 Oktober 2017

Bab 04 | Kelahiran Dan Nasab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (Bag. 5 dari 6)

BimbinganIslam.com
Jum’at, 30 Muharam 1439 H / 20 Oktober 2017 M
 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
 Sirah Nabawiyyah
 Bab 04 | Kelahiran Dan Nasab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (Bag. 5 dari 6)
▶ Link Download Audio: http://bit.ly/BIAS-FA-SIROH0405
~~~~~~~~~~~~~~~~
*KELAHIRAN DAN NASAB NABI SHALLALLĀHU 'ALAYHI WA SALLAM 5 DARI 6*
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
إنَّ  الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه لا نبي بعده  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون, فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dilahirkan pada hari Senin. Dalam hadīts yang shahīh dalam riwayat Muslim, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berpuasa pada setiap hari Senin, kemudian Beliau ditanya tentang kenapa Beliau berpuasa pada hari Senin? 
Kata Beliau:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ النُّبُوَّةُ

_"Karena hari Senin adalah hari dimana aku dilahirkan dan hari dimana wahyu turun (yaitu malāikat Jibrīl datang menemui Nabi di Gua Hira)."_

Oleh karenanya diantara bentuk syukur Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (hari Senin hari yang mulia) selain malāikat juga mengangkat amalan pada hari Senin. Ada sebab lain yang menyebabkan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berpuasa pada hari Senin.
Diantaranya:
• Para malāikat mengangkat amalan.
• Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam dilahirkan.
• Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam diturunkan wahyu.
• Bahkan disebutkan oleh shahābat seperti Ibnu 'Abbas radhiyallāhu 'anhumma  bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tatkala hijrah menuju ke Madīnah juga hari Senin dan sampai di Madīnah juga hari Senin.
• Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam wafat pada hari Senin.

Pada tanggal berapakah Beliau lahir?
⇒ Ada 2 (dua) pendapat pada bulan apa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam lahir:

⑴ Ada yang mengatakan pada bulan Ramādhan.
Disebutkan dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam diutus diawal dari 40 tahun, mereka mengatakan tatkala Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam diutusnya pada bulan Ramadhān maka kita mundur 40 tahun lalu beliau juga lahir, persis  bulan Ramadhān, maka lahirnya Nabi pada bulan Ramadhān (ini pendapat, tetapi pendapat ini lemah).

⑵ Jumhūr ulamā mengatakan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam lahir pada bulan Rabī'ul Awwal.

Ada khilaf yang kuat di kalangan para ulamā yaitu tentang "Kapan tanggal lahirnya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam?".
Dan khilaf itu disebutkan oleh para ulamā seperti An Nawāwi, Ibnu Katsīr dalam kitāb-kitābnya menyebutkan tentang khilaf kapan lahirnya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Demikian juga Ibnu Hisyām, Adz Dzahabi dan para ulamā Syāfi'iyyah menyebutkan bahwasanya para ulamā khilaf tentang kapan lahirnya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Ada yang mengatakan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam lahir:
• Tanggal 2 Rabī'ul Awwal
• Tanggal 8 Rabī'ul Awwal
• Tanggal 10 Rabī'ul Awwal
• Tanggal 12 Rabī'ul Awwal

⇒ Intinya tidak ada dalīl yang kuat/shahīh yang menyebutkan kapan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dilahirkan (seluruhnya riwayat-riwayat (pendapat-pendapat) ulamā namun tidak ada yang shahīh).
Namun, para ulamā sepakat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam lahir pada tanggal 12 Rabī'ul Awwal.

⇒ Dari sini kita tahu bahwasanya sebagian orang yang  memastikan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam lahir tanggal 12 Rabī'ul Awwal maka pendapat ini tidak tepat karena ada khilaf diantara para ulamā dan tidak bisa dipastikan.

Berbeda dengan wafatnya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) wafat pada hari Senin tanggal 12 Rabī'ul Awwal.

Dari sini tidak ada kelaziman seperti yang disangka oleh sebagian orang bahwasanya kita harus merayakan hari kelahiran Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam karena tanggal lahir Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pun diperselisihkan oleh para ulama.
⇒ Dan para shahābat dahulu tidak merayakan hari kelahiran Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Dan kalau kita melihat orang-orang yang merayakan hari kelahiran Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam secara umum ada 3 (tiga) model, diantaranya:

⑴ Bersyukur dengan lahirnya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (sesuai dengan sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam).
⇒ Bagaimana cara kita bergembira dengan lahirnya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam?
Yaitu kita berpuasa setiap hari senin.
Tatkala Nabi ditanya kenapa Beliau berpuasa pada hari Senin.
Beliau menjawab:
_"Itu hari dimana saya dilahirkan."_
Oleh karena itu, diantara rasa bersyukurnya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah Beliau berpuasa pada hari Senin karena Beliau dilahirkan pada hari Senin.
Kitapun demikian, kalau kita ingin gembira dengan lahirnya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, maka bukan dengan perayaan tahunan, tidak! Tetapi setiap pekan kita bergembira dan bersyukur dengan lahirnya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Caranya bagaimana? Yaitu dengan  berpuasa.
⇒ Istilah kita dengan "Maulid Nabi" yang sunnah adalah seperti ini, yaitu dengan berpuasa setiap pekan di hari Senin.
⑵ Mengadakan acara maulid dengan membaca sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kemudian beramal shālih pada hari tersebut, (misal) dengan membagikan makan pada faqir miskin.
(Ini pendapatnya sebagian Syāfi'iyyah, Ibnu Hajar dan yang lainnya).
Dan yang sering tersebar di tanah air kita (Indonesia) adalah yang ketiga yang diingkari oleh ulama Syāfi'īyyah juga yaitu;

⑶ Mengadakan acara maulid dengan berhura-hura (berlebih-lebihan) sampai bercampur di dalamnya kemungkaran-kemungkaran.
Oleh karenanya pendiri NU, Hadratush Syaikh Kyai Hāsyim Asy'ari, beliau menulis buku tentang "Peringatan-peringatan penting tentang mengingatkan umat tentang kemunkaran-kemungkaran  yang dilakukan oleh orang-orang pada terjadi pada acara maulid". 
Diantaranya beliau menyebutkan kemungkaran-kemungkaran diacara maulid adalah  adanya nyanyian-nyanyian (adanya musik), padahal seluruh ulamā 4 (empat) madzhab mengharāmkan musik, apalagi ulamā Syāfi'īyyah.
⇒ Namun sudah menjadi  fitnah yang tersebar bahkan dakwahpun dengan musik.
Sampai-sampai Imām Syāfi'ī dalam kitābnya Al 'Umm menyatakan:
_"Kalau ada orang dicuri alat musiknya maka pencuri tadi tidak perlu dipotong tangannya, karena hukum dia mencuri alat musik sama dengan mencuri bir dan mencuri babi."_
Kemudian dalam kitāb Al 'Umm juga Imām Syāfi'ī mengatakan:
_"Barangsiapa ada orang datang kemudian merusak alat musik seseorang maka dia tidak perlu mengganti."_
Sama-sama perkara haram.

Sampai-sampai Ibnu Hajar Al Haitami dalam kitābnya Al Jawāzir Fī Ightirāfil Kabāir (ini buku-buku yang ma'ruf dikalangan Syāfi'iyyah) memasukkan memainkan alat musik termasuk dosa-dosa besar, kenapa?
Karena melalaikan (syaithān ingin kita terlalaikan).

Bagaimana umat bisa tegak sementara mereka sibuk (terlalaikan) dan lupa membaca Al Qurān dan hadīts-hadīts Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Demikianlah kemungkaran yang terjadi disebagian acara maulid Nabi yang diingkari ulamā Syāfi'iyyah diantaranya, acara maulid dilakukan dengan ikhtilat antara laki-laki dan perempuan, tabdzir (berlebih-lebihan), adapula yang membuat patung dan pawai.
Apakah dengan hal-hal ini bisa menambah imān seseorang? Menambah kecintaan kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam?
Belum lagi saat waktunya shalāt tidak dilakukan shalāt berjama'ah.

Kalau seseorang ingin melaksanakan kecintaan kepada Nabi maka laksanakan maulid dengan tatacara Nabi dan ini jelas berpahala.
Caranya dengan berpuasa setiap pekan yaitu setiap hari Senin.

Hari kelahiran Nabi (hari Senin) ini membawa perubahan pada alam semesta karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengutus Nabi-Nya pada kondisi yang sangat rusak tatkala itu (seperti yang telah kita jelaskan). Perzinahan, minum khamr, kebejatan, kesyirikan tersebar. Penyembahan terhadap berhala tersebar. Kerusakan baik sisi agama maupun moral.
Maka waktu yang tepat bagi Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengutus Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sebagaimana didalam Shahih Muslim:

اللَّهَ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ فَمَقَتَهُمْ عَرَبَهُمْ وَعَجَمَهُمْ إِلَّا بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ

_"Allāh Subhānahu wa Ta'āla melihat pada penduduk dunia dan Allāh murka kepada mereka, orang Arab dan juga orang 'Ajm kecuali sebagian dari sisa-sisa Ahli Kitāb."_
Demikianlah kajian yang bisa kita sampaikan pada kesempatan hari ini,  In syā Allāh mudah-mudahan besok kita lanjutkan lagi.
وبالله التوفيق و الهداية
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
_________________________

Kamis, 19 Oktober 2017

Bab 04 | Kelahiran Dan Nasab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (Bag. 4 dari 6)

BimbinganIslam.com
Kamis, 29 Muharam 1439 H / 19 Oktober 2017 M
 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
 Sirah Nabawiyyah
 Bab 04 | Kelahiran Dan Nasab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (Bag. 4 dari 6)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-0404
~~~~~~~~~~~~~~~~
*KELAHIRAN DAN NASAB NABI SHALLALLĀHU 'ALAYHI WA SALLAM 4 DARI 6*
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
إنَّ  الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه لا نبي بعده  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون, فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Dalam hadīts yang lain:
_'Āisyah terjaga dimalam hari. Maka diapun mencari suaminya. Tiba-tiba 'Āisyah memegang kedua  kaki Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan Nabi dalam keadaan sujud ('Āisyah memegang kedua kakinya berdiri tegak Nabi dalam keadaan sujud)._
Kalau seandainya Nabi bercahaya maka 'Āisyah tidak perlu mencari-cari Nabi, karena Nabi terlihat (sedang sujud), namun 'Āisyah bangun karena dia kehilangan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
⇒ Ini menunjukan tubuh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak bercahaya sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang (artinya) keluar cahaya seperti lampu.
Tapi kalau yang dimaksud cahaya adalah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam putih, tampan maka ini benar. Tetapi kalau keluar lampu atau sinar maka ini tidak benar.
Oleh karenanya, orang-orang musyrikin, mereka dahulu mengejek Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, mereka mengatakan:
وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِيالْأَسْوَاقِ لَوْلَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيراً
_"Apa Rasūl seperti ini, berjalan di pasar, makan makanan, coba diturunkan malāikat kepadanya dan malāikat itu turun ikut berdakwah bersamanya baru kami berimān."_
(QS Al Furqān: 7)
Jadi, orang-orang musyrikin dahulu berangan-angan bahwasanya Rasūl itu dari kalangan malāikat. Kalau seandainya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam keluar cahaya maka semua akan berimān.
Kenapa? 
⇒ karena ini adalah mu'jizat.  Manusia kok ada cahayanya?
Namun Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak keluar cahaya sebagaimana  yang dikatakan oleh sebagian orang.
Dan para Rasūl seluruhnya pun demikian.
وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ ۗ
_"Dan inilah Kami mengutus para Rasūl (mursalīn) kecuali mereka berjalan dipasar dan makan makanan sebagaimana manusia yang lain."_
(QS Al Furqān: 20)
Oleh karenanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tatkala melempar jamarah pada musim haji, para shahābat datang menaungi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan baju karena Nabi kepanasan. Seandainya tubuh Nabi bercahaya, kemudian cahaya tersebut memantul tentu Nabi tidak akan kepanasan, karena cahaya matahari kalah dengan cahaya Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Cerita-cerita ini merupakan kisah yang lemah (hadīts yang lemah) dan ini juga sama dengan mencela 'Abdullāh (bapak Nabi), seakan-akan bapaknya Nabi memiliki istri simpanan atau bergaul dengan wanita pezina atau menerima wanita yang menuntut istibdha (ingin mencari bibit unggul). Dan kisah-kisah ini tidak bisa dijadikan dalīl.
⇒ Intinya, 'Abdullāh (bapaknya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam) menikah dengan Āminah bintu Wahbin (Ibu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam).
Disebutkan, saat bapak Nabi ('Abdullāh) sedang berdagang ke negeri Syām, kemudian ketika kembali (mampir) ke kota Madīnah maka beliau sakit dan meninggal dunia lalu dikuburkan di Madīnah. 
⇒ Tatkala itu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam masih dalam keadaan janin.
Diantara hikmah Allāh Subhānahu wa Ta'āla, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dilahirkan dalam keadaan yatim. Dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla sebutkan dalam Al-Qurān:
أَلَمْ يَجِدك يَتِيمًا فَآوَى
_"Bukankah Allāh Subhānahu wa Ta'āla mendapati engkau dalam keadaan yatim maka Allāh menaungimu."_
(QS Adh Dhuhā:  6)
⇒ Dan keyatiman yang sempurna adalah seorang anak lahir dalam keadaan ayahnya tidak ada.
Ada orang yang yatimnya menyusul, dia lahir saat ayah ibunya masih hidup dan akhirnya ayahnya meninggal dunia. Ini yatim dan ini juga penderitaan.
Akan tetapi keyatiman Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sempurna, tatkala Beliau lahir, ayahnya sudah tidak ada. Kemudian tidak lama setelah melahirkan ibunya pun meninggal dunia saat Beliau masih kecil.
Adapun proses lahirnya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, bagaimana proses kelahiran Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam?
Ada riwayat-riwayat yang lemah yang menceritakan bahwasanya tatkala Beliau lahir, Beliau dilahirkan dalam kondisi kedua tangannya seperti duduk bersandarkan dan matanya melihat ke atas langit (tidak wajar seperti bayi biasanya). Ini hadītsnya lemah, tidak bisa dijadikan dalīl.
Seperti juga disebutkan ketika Beliau lahir diletakkan (seperti tempat) di atas batu kemudian batu itu pecah (agar Nabi tetapi melihat ke atas), inipun hadītsnya lemah.
Demikian juga riwayat lain yang menyatakan:
⑴ Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dilahirkan dalam keadaan sudah tersunat, itupun hadītsnya lemah, tidak bisa dijadikan dalīl.
⑵ Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam lahir kemudian pada hari ke-7 kakeknya ('Abdul Muththalib) yang menyunat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Kedua hadīts di atas lemah, akan tetapi kata Imām Adz Dzahabi yang hadīts tentang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dilahirkan dalam keadaan telah tersunat lebih lemah, maka para ulamā sering menyebutkan bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dilahirkan kemudian disunat oleh kakeknya ('Abdul Muththalib).
Sebagaimana perkataan Adz Dzahabi, beliau berkata:
_"Bahwasanya hadīts yang menjelaskan Nabi dilahirkan kemudian disunat oleh kakeknya pada hari ke-7 lebih shahīh daripada hadīts yang mengatakan Nabi dilahirkan dalam kondisi sudah disunat."_
Kalau seandainya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dilahirkan dalam keadaan sudah disunat maka akan menimbulkan kegemparan di kalangan orang-orang Quraisy.
Bayangkan!
Bayi keluar (baru lahir) kemudian sudah di sunnat, maka akan memudahkan mereka untuk berimān kepada Nabi, karena sejak lahir, lahirnya sudah aneh (sudah disunnat). 
Ini menunjukkan:
√ Beliau lahir seperti biasa, tidak dalam kondisi sudah disunat.
√ Beliau disunat oleh kakeknya.
√ Kakeknya yang menamakan Nabi dengan nama  Muhammad.
Sebagaimana datang dalam sebagian riwayat.
Demikianlah kajian yang bisa kita sampaikan pada kesempatan hari ini,  In syā Allāh mudah-mudahan besok kita lanjutkan lagi.
وبالله التوفيق و الهداية
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
_________________________
 Raih Pahala Jariyah dengan Donasi Markaz Dakwah & Studio Bimbingan Islam
√ Bank Mandiri Syariah
√ Kode Bank : 451
√ No. Rek : 710-3000-507
√ A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer Via WA & Informasi ;  0811-280-0606
----------------------------------

Rabu, 18 Oktober 2017

Bab 04 | Kelahiran Dan Nasab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (Bag. 3 dari 6)

BimbinganIslam.com
Rabu, 28 Muharam 1439 H / 18 Oktober 2017 M
 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
 Sirah Nabawiyyah
 Bab 04 | Kelahiran Dan Nasab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (Bag. 3 dari 6)
▶ Link Download Audio: http://bit.ly/BIAS-FA-SIROH0403
~~~~~~~~~~~~~~~~~
*KELAHIRAN DAN NASAB NABI SHALLALLĀHU 'ALAYHI WA SALLAM 3 DARI 6*
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
إنَّ  الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه لا نبي بعده  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون, فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Kita akan berbicara tentang kelahiran Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, yaitu dari pernikahan ayah Beliau, 'Abdullāh bin 'Abdil Muththalib, dengan Aminah bintu Wahhāb (ibu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam).
Disebutkan di dalam sejarah bahwasanya:
'Abdul Muththalib bernadzar bahwasanya:
_"Kalau saya punya anak 10 laki-laki (lengkap)  maka saya akan sembelih 1 nya."_
Zaman jahiliyyah seperti itu. Ajaran nabi Ibrāhīm 'alayhissalām sudah hilang. Diantaranya bersumpah demikian sebagai salah satu bentuk bersyukur kepada Allāh.
Kenapa dia bernadzar demikian?
Sebagian ulamā menyebutkan karena saat 'Abdul Muththalib menggali zamzam, 'Abdul Muththalib baru memiliki 1 anak (yaitu) Hārits. Tatkala dia diusik oleh orang-orang Arab yang lain dia tidak bisa melawan karena anaknya cuma 1 laki-laki, sehingga dia berangan-angan seandainya dia mempunyai 10 anak laki-laki maka dia akan menyembelih 1 orang dari mereka.
Dan Allāh mengabulkan sumpah dia ini, akhirnya dia menjalankan nadzarnya. Tatkala dia mengundi untuk menentukan siapa anaknya yang akan disembelih maka keluarlah nama 'Abdullāh (padahal dia sangat sayang kepada 'Abdullāh).
Maka saat itu dia mengatakan:
_"Yā Allāh, dia atau 10 ekor unta."_
Maka dilemparkan nama anaknya dan unta, maka yang keluar lagi nama 'Abdullāh.
Maka dia berkata lagi:
_"Yā Allāh, anakku atau 10 ekor unta."_
Dilemparkan lagi nama anak dan unta, ternyata keluar lagi nama 'Abdullāh. Sampai yang ke-10 barulah keluar nama unta.
Dari situlah akhirnya dia tidak jadi menyembelih anaknya 'Abdullāh dan menggantinya dengan 100 ekor unta.
Inilah dikatakan oleh para ulamā sebab kenapa diyat itu 100 ekor unta, apabila seorang membunuh oranglain.
⇒ Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjaga 'Abdullāh karena 'Abdullāh adalah bapaknya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Adapun ibunda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bernama Āminah bintu Wahbin bin 'Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab.
⇒ Jadi bertemunya antara nasab ayah dan ibu Nabi adalah pada Kilab. Kalau Nabi adalah Qushay bin Kilab sedang kan ibunya (Āminah) Zuhrah bin Kilab (masih Quraisy tapi jauh).
Kemudian disebutkan oleh riwayat-riwayat dusta tentang 'Abdullāh. Disebutkan bahwasanya tatkala 'Abdullāh sudah menikahi Āminah,  'Abdullāh sudah memiliki istri yang lain. Ada yang mengatakan 'Abdullāh memiliki wanita pezina atau wanita yang ditawarkan (seperti yang pernah dijelaskan, ada pernikahan namanya istibdha, yaitu seorang lelaki memiliki istri, tatkala istrinya hāidh, maka ditunggu sampai bersih lalu diberikan kepada laki-laki yang dianggap nasabnya baik (memiliki kelebihan) supaya memiliki keturunan yang bagus, setelah digauli laki-laki lain maka dikembalikan kepada suaminya dan ditunggu sampai istrinya hamil baru digauli oleh suaminya sendiri).
Disebutkan oleh riwayat yang lemah, bahkan riwayat ini palsu, disebutkan bahwasanya 'Abdullāh tatkala mendatangi wanita ini (istrinya yang lain atau wanita pezina atau istri orang lain yang minta digauli), maka wanita ini melihat ada cahaya di wajah 'Abdullāh, namun 'Abdullāh tidak sempat menggauli wanita tersebut dan 'Abdullāh pergi menggauli Āminah istrinya. Setelah menggauli Āminah kemudian 'Abdullāh kembali ke wanita tadi, ternyata cahayanya sudah hilang dan wanita itu menolaknya.
⇒ Ini kisah dengan riwayat lemah dan tidak bisa dijadikan dalīl.
Dan sebagian orang terlalu ghulūw dalam masalah ini, ingin menjelaskan bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah bercahaya, oleh karenanya cahaya tersebut berasal dari ayahnya. Kemudian tatkala ayahnya berhubungan dengan ibunya maka cahaya tersebut menetap di Nabi kemudian hilang (tidak terlihat lagi). Ini ghulūw dan tidak benar.
⇒ Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memang bercahaya tetapi bukan cahaya sebagaimana sinar keluar dari tubuhnya.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman tentang Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (45) وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا (46)
_"Wahai Nabi, Kami mengutus engkau sebagai pemberi saksi, sebagai pemberi kabar gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan menyeru kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan lampu yang bercahaya."_
(QS Al Ahzāb 45-46)
⇒ Memang Nabi sifatnya bercahaya (memberi cahaya), tapi maksud Allāh bukan cahaya lampu yang sebenarnya, tetapi ajaran Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah penuh dengan cahaya.
Oleh karenanya sebagian orang-orang yang berlebih-lebihan kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menyatakan bahwa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak punya bayangan, kenapa?
Karena tubuh beliau bercahaya sehingga tatkala terkena sinar matahari, sinar matahari tersebut terpantulkan ( kalah) dengan cahaya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Ini tidak benar. 
Kita katakan, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bercahaya biasa. Wajah beliau indah, luar biasa tampan. Beliau putih dan indah dipandang. Namun bukan ada sinar keluar dari tubuh beliau sebagaimana perkataan sebagian orang.
Oleh karenanya dalam Shahīh Bukhāri dan Shahīh Muslim:
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ : كُنْتُ أَنَامُ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم -وَرِجْلايَ فِي قِبْلَتِهِ- فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِي , فَقَبَضْتُ رِجْلَيَّ ، وإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا ، وَالْبُيُوتُ يَوْمَئِذٍ لَيْسَ فِيهَا مَصَابِيحُ
_'Āisyah berkata: Saya tidur didepan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, tatkala Beliau akan sujud maka Beliau memegang kakiku agar kakiku dilipat agar ada tempat untuk sujud, rumah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam kecil,  tatkala itu rumah-rumah tidak ada lampunya. Seandainya rumah 'Āisyah ada lampunya maka 'Āisyah akan menarik kakinya sebelum Beliau sujud, tetapi 'Āisyah menarik kakinya menunggu disentuh oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam._
Alasan 'Āisyah (dalam hadīts disebutkan) kenapa rumah-rumah tidak ada lampunya?
Kalau seandainya tubuh Nabi bercahaya seperti lampu, maka 'Āisyah tidak perlu menunggu disentuh dahulu agar menarik kakinya.
Oleh karena itu, yang bercahaya adalah ajaran beliau (bukan tubuh beliau yang bercahaya) sebagaimana perkataan sebagian orang yang berlebih-lebihan kepada nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Demikian saja yang bisa kita sampaikan, kita cukupkan sampai disini, In syā Allāh besok kita lanjutkan lagi.
وبالله التوفيق و الهداية
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
_________________________
 Raih Pahala Jariyah dengan Donasi Markaz Dakwah & Studio Bimbingan Islam
√ Bank Mandiri Syariah
√ Kode Bank : 451
√ No. Rek : 710-3000-507
√ A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer Via WA & Informasi ;  0811-280-0606
----------------------------------

Senin, 16 Oktober 2017

Bab 04 Kelahiran Dan Nasab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (Bag. 1 dari 6)

BimbinganIslam.com
Senin, 26 Muharam 1439 H / 16 Oktober 2017 M
 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
 Sirah Nabawiyyah
 Bab 04 | Kelahiran Dan Nasab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (Bag. 1 dari 6)
download disini : http://bit.ly/BIAS-FA-SIROH0401
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
*KELAHIRAN DAN NASAB NABI SHALLALLĀHU 'ALAYHI WA SALLAM 1 DARI 6*
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
إنَّ  الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه لا نبي بعده  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون, فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Alhamdulillāh, Allāh masih memberi kesempatan kita untuk bersua kembali dalam rangka mempelajari sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Beliaulah orang yang harus lebih kita cintai daripada orangtua kita, ayah kita, ibu kita, daripada anak-anak kita dan daripada seluruh umat manusia.

Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده، وولده، والناس أجمعين

_"Tidaklah berimān salah seorang dari kalian sampai aku lebih dia cintai daripada orangtuanya, anak-anaknya dan daripada seluruh manusia."_
(Hadīts hasan  shahīh, yang diriwayatkan oleh Al Baghawi dalam Syahus Sunnah no 104, Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah no. 15, hadīts ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albāniy rahimahullāh)

Karena Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam telah memberikan jasa yang besar kepada kita. Dengan mengikuti sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kita, akan meraih kebahagiaan di dunia, terlebih lagi kebahagiaan di akhirat kelak.

Dan in syā Allāh, kita akan membahas tentang nasab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, tentang lahirnya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan kalau ada waktu kita selesaikan dengan disusuinya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tatkala di Bani Sa'diyyah.

Adapun nasab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam maka Beliau dipilih Allāh Subhānahu wa Ta'āla pada nasab yang sangat mulia tatkala itu.
Beliau bernama:

_⇒ Muhammad bin 'Abdillāh bin 'Abdil Muththalib bin Hāsyim bin 'Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab._
Sebagaimana yang telah kita jelaskan pada pertemuan lalu bahwa Qushay bin Kilab ini adalah kakek Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang mengumpulkan orang-orang Quraysh yang tercerai berai (dikumpulkan jadi satu), kemudian merebut kekuasaan Ka'bah yang tadinya dipegang oleh Bani Khuzā'ah.
Kemudian:
_Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghālib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinānah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyās bin Mudhar bin Nizār bin Ma’ad bin Adnān._
(Ibnu Hisyam: Sirah An Nabawiyah, 1:1)
⇒ Inilah yang disepakti oleh para ulamā tentang nasab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sampai ke Adnān.
Adapun dari kakek Nabi Adnān sampai ke Ismā'īl 'alayhissalām maka ada khilaf di kalangan ulamā dan tidak ada hadīts yang shahīh yang menjelaskan tentang hal ini.

√ Ada yang mengatakan dari Adnān sampai ke Ismā'īl 'alayhissalām ada 40 bapak atau kakek.
√ Ada yang mengatakan jumlah kakek dari  Adnān sampai ke Ismā'īl 'alayhissalām 7 atau 9 atau 10.

Intinya tidak ada kesepakatan diantara para ulamā.
Adapun dari Ismā'īl 'alayhissalām bin Ibrāhīm 'alayhissalām sampai ke Ādam lebih tidak pasti lagi.
⇒ Yang dipastikan oleh para ulamā yaitu dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sampai kakek beliau (Adnān).

Dalam hadīts Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda, diriwayatkan oleh Imām Muslim:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ ، وَاصْطَفَى بَنِي هَاشِمٍ مِنْ قُرَيْشٍ ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ"

_"Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah memilih Bani Kinānah dari anak-anak Ismā'īl 'alayhissalām dan dari keturunan Kinānah,  Allāh memilih suku Quraysh dan Allāh memilih dari suku Quraysh (Bani Hāsyim)  dan Allāh memilih aku dari Bani Hāsyim."_

(Hadīts shahīh riwayat Muslim no 2276)
⇒ Disini, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menjelaskan tentang bagaimana mulianya nasab Beliau 'alayhi shallatu wa sallam.

Diantara kakek-kakek Nabi yang terkenal selain Qushay bin Kilab adalah 'Abdul Muththalib.
'Abdul Muththalib adalah kakek Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Dia semakin terkenal kedudukannya di kalangan orang-orang Arab karena dialah yang  telah bertemu dengan Abrahah tatkala meminta kembali 200 ekor untanya. Dan semakin terpandang tatkala dialah yang menemukan sumur zamzam.
Jadi, sumur zamzam muncul tatkala di zaman Nabi Ismā'īl 'alayhissalām (sebagaimana telah kita jelaskan pada pertemuan yang telah lalu), kemudian orang-orang Arab mengambil air dari mata air zamzam tersebut.
Namun dijelaskan oleh para ulamā, akhirnya sumur zamzam tersebut  hilang disebabkan karena kemaksiatan yang mereka lakukan di Mekkah. Sehingga lama-lama hilang airnya akhirnya dilupakan (posisi sumurnya), hal ini terjadi sampai ratusan tahun.

Tatkala Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam akan dilahirkan, maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla ingin mengembalikan zamzam tersebut yang tadinya telah surut dan tertutup agar keluar lagi airnya (zamzam).
Dan yang menemukan air zamzam tersebut adalah kakek Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yaitu 'Abdul Muththalib, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Ishāq dalam Sirahnya yang tercantumkan dalam Sirah Ibnu Hisyām dengan tasrih bissamā' Ibnu Ishāq.
Beliau (Ibnu Ishāq) adalah seorang yang shadūq, menurut penilaian ahli hadīts ulamā jarh wa ta'dil.
Kalau Ibnu Ishāq mengatakan, "Haddatsanii," atau, "Sami'tu," maka sanadnya menjadi hasan.
Adapun jika dia mengatakan, "'An, an, an (dari)," maka sanadnya lemah karena dia mudallis.

Dan dalam riwayat ini, ada Tashrih bit Tahdīts, dia mengatakan, "Haddatsanii Yazīd bin Abī Habīb Al Mishriy," sampai menyebutkan sanadnya kepada 'Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu Ta'āla 'anhu. 

Jadi yang akan kita kisahkan adalah kisah 'Ali bin Abi Thālib.
⇒ 'Ali bin Abi Thālib anaknya Abū Thālib, Abū Thālib anaknya 'Abdul Muththalib.
Jadi, 'Ali bin Abi Thālib menceritakan tentang kisah kakeknya, ini bukan hadīts tetapi 'Ali bin Abi Thālib bercerita tentang kisah kakeknya yaitu 'Abdul Muththalib.
Karena 'Ali bin Abi Thālib sepupunya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Bagaimana kisahnya?
Disebutkan dalam Sirah Ibnu Ishāq, 'Abdul Muththalib bercerita:

_Suatu hari saya tidur di Hijr Ismā'il (dekat Ka'bah), tiba-tiba saya bermimpi, ada sesuatu yang datang kepadaku kemudian mengatakan kepadaku, "Galilah thayyibah."_
_Aku bertanya:_
_"Apa itu thayyibah?"_
_Yang datang tersebut pergi, maka  sayapun terbangun dan tidur kembali._
_Kemudian suara itu datang kembali dan mengatakan:_
_"Galilah barrah."_
_Maka aku berkata:_
_"Apa itu barrah?"_
_Diapun pergi tidak menjelaskan._
_Besoknya sayapun tidur lagi, dan datang lagi suara itu. Pada mimpi yang ketiga berkata:_
_"Galilah zamzam."_
_Maka aku bertanya:_
_"Apa itu zamzam?"_
_"Maka dijelaskan zamzam adalah air yang tidak akan surut, dengan air tersebut kau akan memberi minum para jama'ah haji, dan disebutkan posisinya (yaitu) ditempat sarang semut."_

_(Bahkan dalam riwayat lain ada burung gagak yang mematuk-matuk disitu, dijelaskan namanya dan dijelaskan posisinya untuk digali.)_
_Karena mimpi yang ketiga lebih jelas maka keesokan harinya 'Abdul Muththalib berangkat dengan cangkulnya._
Kita cukupkan di sini saja, In syā Allāh besok  kita lanjutkan lagi.
وبالله التوفيق و الهداية
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
______________________
◆ Yuk.... Ikut Saham Akhirat
Pembelian Rumah U/ Markaz Dakwah dan Studio Bimbingan Islām
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islām
Konfirmasi Transfer Via WA/SMS & Informasi ;  0811-280-0606 (BIAS CENTER 06)
----------------------------------

Kajian

IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH

🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah  Fī...

hits