Tampilkan postingan dengan label Aqidah Al-Wāsithiyyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah Al-Wāsithiyyah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Februari 2019

BERIMAN KEPADA ALLĀH AZZA WA JALLA (BAGIAN 2)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 07 Jumādā Ats-Tsānī 1440 H / 12 Februari 2019 M
👤 Ustadz Rizqo Kamil Ibrahim, Lc
📗 ‘Aqidah Al-Wāsithiyyah
🔊 Halaqah 014 | Beriman Kepada Allāh ‘azza wa jalla (Bagian 02)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-RKI-AqidahWasithiyyah-H014
〰〰〰〰〰〰〰

*BERIMAN KEPADA ALLĀH AZZA WA JALLA (BAGIAN 2)*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين

Sahabat BiAS sekalian, saudara muslimin dan muslimat.

Alhamdulilāh, kita telah sampai pada halaqah yang ke-14, kita melanjutkan rangkaian silsilah dari kitāb "Al 'Aqidah Al Wāsithiyah" (العقيدة الواسطية) , karangan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh (Ahmad ibn Abdil Halīm Al Harrānī)

Pertemuan sebelumnya kita telah membahas perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullāh mengenai hal-hal yang termasuk mengimani sifat-sifat Allāh Azza wa Jalla.

Dan Ibnu Taimiyyah rahimahullāh menegaskan ada 6 poin. Dan pertemuan kemarin kita telah membahas dua poin dasar atau rujukan dalam mengimani sifat Allāh adalah Al Qurān dan hadīts Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

√ Kita mengimani apa yang Allāh sampaikan tentang diri-Nya dan kita mengimani apa yang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sampaikan tentang Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

√ Dalam mengimani ini, kita imani tanpa adanya tahrīf yaitu menyelewengkan makna dari dalīl-dalīl yang menyebutkan sifat Allāh Azza wa Jalla.

Seperti contoh yang lalu bila ada di dalam hadīts atau Al Qurān yang menyatakan Allāh memiliki sifat rahmat maka kita tidak boleh menyelewengkan maknanya. Rahmat di sini maksudnya adalah Allāh menginginkan (memberikan) kenikmatan.

Atau Allāh memiliki sifat istiwā' di atas Arsy maka tidak boleh diselewengkan maknanya sebagai "menguasai".

Jadi Allāh benar-benar di atas Arsy. Bagaimana bentuknya nanti, in syā Allāh, akan kita bahas pada poin berikutnya.

⑶ Perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullāh:

ولا تعطيل

_“Juga tidak ta'thīl (meniadakan sifat Allāh) atau menegasikan.”_

Jadi ketika mendengar:

ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

_"Allāh Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”_

Jika ada yang mengatakan, "Tidak mungkin Allāh memiliki sifat rahmat," atau, "Saya tidak tahu makna rahmat itu apa," dan lain sebagainya maka inilah ta'thīl.

Sebenarnya ta'thīl ini adalah fase pertama dari tahrīf. Jadi, jika orang mentahrīf ada dua fase.

Misalnya dia mendengar bahwa Allāh beristiwā' di atas Arsy, ketika dia mendengar ini dia melakukan ta'thīl dulu (meniadakan makna yang benar). Misalnya dengan mengatakan, "Ah, tidak mungkin Allāh beristiwā."

Kemudian fase yang kedua adalah tahrīf, yaitu meniadakan kemudian mengganti dengan makna lain, dia menyelewengkan maknanya misalnya dengan mengatakan, "Allāh tidak memiliki sifat istiwā' tetapi memiliki sifat menguasai.”

Jadi, (menurutnya) Istiwā' di atas Arsy di sini artinya menguasai Arsy bukan Allāh di atas Arsy.

Tidak mungkin Allāh menjelaskan dalam Al Qurān karena Allāh lebih tahu sifat diri-Nya. Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mendapatkan wahyu dari Allāh untuk menyampaikan sifat Allāh sedangkan maknanya tidak diketahui oleh orang, padahal Al Qurān dan As Sunnah adalah pedoman untuk kita semua (umat muslim).

Para shahābat pun tidak menanyakan atau menafī'kan hal tersebut, mereka semua mengimani.

(4) Poin selanjutnya adalah:

من غير تكييف ولا تمثيل

_Dan mengimani juga tanpa takyīf (menanyakan teknisnya bagaimana) dan juga dalam mengimani sifat tersebut tanpa tamtsīl (menyamakan Allāh dengan makhluk-Nya)._

In syā Allāh  akan kita sampaikan pada halaqah berikutnya.

Ini saja yang bisa saya sampaikan.

وصلاة وسلم على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

____________

🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui:

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/
______

Senin, 11 Februari 2019

BERIMAN KEPADA ALLĀH AZZA WA JALLA (BAGIAN 01)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 06 Jumādā Ats-Tsānī 1440 H / 11 Februari 2019 M
👤 Ustadz Rizqo Kamil Ibrahim, Lc
📗 ‘Aqidah Al-Wāsithiyyah
🔊 Halaqah 013 | Beriman Kepada Allāh ‘azza wa jalla (Bagian 01)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-RKI-AqidahWasithiyyah-H013
〰〰〰〰〰〰〰

BERIMAN KEPADA ALLĀH AZZA WA JALLA (BAGIAN 01)

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين

Sahabat BiAS sekalian, saudara muslimin dan muslimat.

Alhamdulilāh, kita telah sampai pada halaqah yang ke-13, kita melanjutkan rangkaian silsilah dari kitāb "Al 'Aqidah Al Wāsithiyah" (العقيدة الواسطية) karangan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh (Ahmad ibn Abdil Halīm Al Harrānī)

Pada halaqah sebelumnya kita membahas rukun iman secara qlobal dan sekarang kita masuk pada pembahasan rukun iman secara rinci (in syā Allāh, kita akan bahas beberapa rinciannya)

Pada hari ini (in syā Allāh) kita masuk pada pembahasan beriman kepada Allāh Azza wa Jalla terlebih khusus beriman kepada sifat-sifat Allāh.

Ini merupakan inti dari kitāb Al 'Aqidah Al Wāsithiyah.

Ibnu Taimiyyah rahimahullāh berkata:

قال ابن تيمية في (العقيدة الواسطية): ومن الإيمان بالله: الإيمان بما وصفبه نفسه في كتابه، وبما وصفه به رسوله محمد صلى الله عليه وسلم.

Dan merupakan iman kepada Allāh yaitu iman kepada apa yang Allāh sifatkan tentang dirinya dalam Al Qurān dan apa yang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sifatkan Allāh Subhānahu wa Ta'āla di dalam hadīts.

من غير تحريف ولا تعطيل

Dan mengimani sifat-sifat tersebut tanpa tahrīf (menyelewengkan makna) dan tidak menafikan sifat-sifat tersebut.

ومن غير تكييف ولا تمثيل

Dan mengimani juga tanpa takīf (menentukan teknisnya bagaimana) dan juga dalam mengimani sifat tersebut tanpa tamtsīl (menyamakan Allāh dengan makhluk nya)

بل يؤمنون بأن الله سبحانه ليس كمثله شيء وهو السميع البصير

Tetapi mengimaninya bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla sebagaimana firman Allāh, "Tidak ada yang menyerupai Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan Allāh Maha Mendengar dan Maha Melihat."

Dari text di atas, terkandung kurang lebih 6 poin, (in syā Allāh) akan kita bahas poin per poin.

⑴ Merupakan iman kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah mengimani sifat-sifat Allāh yang Allāh kabarkan didalam Al Qurān dan juga yang dikabarkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam di dalam hadītsnya.

Disebutkan merupakan iman kepada Allāh karena sebagaimana kita singgung dalam pertemuan sebelumnya bahwa beriman kepada Allāh mencakup;

√ Iman kepada wujudnya.
√ Iman, bahwa Allāh itu tunggal dalam perbuatannya.
√ Meng Esa kan Allāh dalam ibadah.
√ Beriman kepada nama-nama dan sifat-sifatnya.

Pada pembahasan kali ini Ibnu Taimiyyah rahimahullāh mengatakan termasuk iman kepada Allāh salah satunya adalah beriman kepada sifat-sifat Allāh. Yaitu mengimani apa yang Allāh kabarkan di dalam Al Qurān dan apa yang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam kabarkan di dalam hadīts.

Sifat Allāh seperti yang di sebutkan di dalam Al Qurān salah satunya

ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

"Allāh Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”

Bisa disimpulkan bahwa Allāh memiliki sifat mengasihi, (dan ini harus kita imani). 

Ini menunjukkan bahwa iman kepada sifat Allāh harus melalui jalur wahyu tidak boleh dengan akal, perasaan dan sebagainya.

Jangankan Allāh Subhānahu wa Ta'āla makhluk saja kita tidak mengetahui sifatnya kalau kita tidak melihat.

Karena kita bisa mengetahui sesuatu dengan tiga cara (yaitu):

① Melihat langsung.
② Mendengar kabarnya.
③ Melihat replikanya.

Kita tidak bisa melihat Allāh Subhānahu wa Ta'āla di dunia maka bagaimana kita menentukan sifat-sifatnya?

Jawabannya adalah dengan mengimani apa yang Allāh kabarkan dalam Al Qurān dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam kabarkan di dalam hadīts.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pun tidak mengetahui (tidak melihat) Allāh Subhānahu wa Ta'āla hanya saja Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mendapatkan wahyu, karena hadīts itu adalah wahyu yang lafafznya dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Jadi apa yang datang dalam Al Qurān dan sunnah harus kita imani dan tidak boleh menggunakan akal dalam menentukan sifat dan nama nama Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Surga, kita tidak tahu bagaimana sifatnya karena kita belum pernah melihat tapi kita tahu karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengabarkannya di dalam Al Qurān dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengabarkannya di dalam hadītsnya.

⑵ Dalam mengimani sifat-sifat tersebut tanpa menyelewengkan maknanya.

Misalnya:

Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengabarkan dirinya bahwa "Allāh Maha Pengasih dan Maha Penyayang" bisa disimpulkan bahwa Allāh Subhānahu wa Ta'āla memiliki sifat rahmat.

Dan kita tidak boleh menyelewengkan maknanya misalnya dengan mengatakan "Allāh tidak mungkin memiliki sifat rahmat" berarti Allāh lemah (misalnya).

Maka ini telah menyelewengkan makna, ini merupakan iman yang tidak benar (mencederai imannya kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla)

⇒ Maksud rahmat di sini adalah keinginan untuk memberikan nikmat.

Lalu bagaimana iman yang benar?

Kita harus mengimani (menetapkan) bahwasanya Allāh memiliki sifat rahmat (kasih sayang yang layak bagi Allāh) meskipun rahmat Allāh beda dengan makhluknya dan in syā Allāh, ini akan kita bahas pada poin ke-5 dan ke-6.

Contoh firman Allāh lainya:

{الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ}

"Allāh beristiwā' di atas Arsy.”
(QS Thahā 15)

Pernyataan Allāh di atas Arsy ini tidak boleh diselewengkan dengan mengatakan, "Allāh tidak beristiwā' " karena beristiwā' di sini artinya menguasai (menguasai Arsy).

Jadi iman yang benar kepada Allāh Azza wa Jalla adalah tidak menyelewengkannya, kita harus tetapkan bahwa Allāh beristiwā' di atas Arsy.

⑶ Mengimaninya tanpa takīf atau tidak menafīkan maknanya

⑷ Mengimaninya tanpa menjelaskan teknisnya.

⑸ Mengimaninya tanpa tamtsīl atau tanpa menyamakan dengan makhluk.

⑹ Mengimani Allāh sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla

لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌۭ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.”

(QS Asy Syūrā: 11)

In syā Allāh  akan kita lanjutkan kembali di halaqah yang akan datang.

Ini saja yang bisa saya sampaikan, semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat dan menambah iman kita, menjadi penerang kubur kita dan menjadi jalan menuju Surga tanpa melewati siksa di Neraka.

وصلاة وسلم على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

____________

🏦 Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda melalui:

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/
______

Senin, 01 Oktober 2018

MUQADDIMAH; MUQADDIMAH PENULIS KITAB (BAGIAN 7)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 21 Muharram 1440 H / 01 Oktober 2018 M
👤 Ustadz Rizqo Kamil Ibrahim, Lc
📗 ‘Aqidah Al-Wāsithiyyah
🔊 Halaqah 010 | Muqaddimah - Muqaddimah Penulis Kitab (Bagian 07)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-RKI-AqidahWasithiyyah-H010
〰〰〰〰〰〰〰
*MUQADDIMAH; MUQADDIMAH PENULIS KITAB  (BAGIAN 7)*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين. وبه نستعين على امور الدنيا والدين. والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء وإمام المرسلين. وعلى اله وصحبه أجمعين من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أمّا بعد.

Sahabat BiAS sekalian, saudara kaum muslimin rahimani wa rahimakumullāh.
Alhamdulilāh, kita telah sampai pada halaqah yang ke-10 dari kitāb "Al 'Aqidah Al Wāsithiyah" (العقيدة الواسطية) karangan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah.
Sahabat BiAS dan kaum muslimin sekalian.
Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah setelah menjelaskan bahwa kitāb ini (Aqidah wāsithiyah) dikarang untuk menjelaskan aqidah ahlus sunnah wal jamā'ah, thaifah manshūrah, yaitu golongan yang akan ditolong sampai nanti hari kiamat (hari akhir).
Kemudian Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah melanjutkan apa aqidah ahlus sunnah wal jamā'ah itu?
Apa yang dikandung dalam aqidah ahlus sunnah wal jamā'ah?
Kemudian Ibnu Taimiyyah berujar:
وهو الإيمان بالله، و ملائكته و كتبه ورسله والبعث بعد الموت، والإيمان بالقدر خيره وشرِّه
_"Aqidah ahlus sunnah adalah beriman kepada Allāh dan beriman kepada malāikat-malaikatnya dan beriman kepada kitāb-kitāb Allāh dan rasūl-rasūl-Nya dan juga beriman dengan hari dibangkitkannya manusia setelah kematian dan beriman dengan taqdir Allāh yang baik dan yang buruk."_
⇒ Inilah aqidah ahlus sunnah wal jamā'ah secara umum.
Sedikit sekali ustadz? Hanya enam.
Iya secara umum, tapi nanti setiap bagian, seperti iman kepada Allāh, iman kepada malāikat, setiap ushul iman atau asas iman ini yang sering disebut rukun iman, nanti akan dibahas lebih rinci oleh Ibnu Taimiyyah rahimahullāh di dalam kitābnya ini (terlebih iman kepada Allāh).
Sedangkan rukun-rukun yang lain, disebutkan secara global saja, tapi iman kepada Allāh disebutkan secara detail.
Kita akan menyinggung tentang apa-apa yang dikandung oleh rukun iman.
• Iman kepada Allāh
Seorang muslim tidak berhenti pada mengatakan, "Saya beriman kepada Allāh." Tapi apa yang diimani?
Dalam beriman kepada Allāh:
√ Kita mengimani wujud-Nya atau keberadaan Allāh 'Azza wa Jalla.
√ Kita mengimani bahwa Allāhlah yang memelihara alam ini, (seperti) Allāh yang memberi rizki, Allāh yang menciptakan manusia.
√ Kita mengimani ada hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh Allāh 'Azza wa Jalla (aspek rubūbiyah).
Jadi tidak hanya cukup kita mengimani wujud Allāh saja (Allāh ada). Sementara di sisi lain dia juga menganggap bahwa ada yang bisa mendatangkan hujan selain Allāh Subhānahu wa Ta'āla, ada yang bisa mendatangkan rizki selain Allāh Subhānahu wa Ta'āla, maka ini termasuk orang yang tidak beriman (kāfir).
Karena iman kepada Allāh harus mengimani seluruh aspek-aspeknya, yaitu:
⑴ Mengimani adanya Allāh.
⑵ Mengimani rubūbiyah Allāh atau aspek yang hanya bisa dilakukan oleh Allāh seperti memberikan rizki dan sebagainya.
⑶ Mengimani bahwa segala ibadah hanya diperuntukkan bagi Allāh 'Azza wa Jalla, baik itu shalāt, menyembelih, berdo'a, tawakal, takut dan harap hanya untuk Allāh Azza wa Jalla. Ini sering diistilahkan dengan aspek ulūhiyah.
⑷ Mengimani nama-nama Allāh yang husna dan sifat-sifat Allāh.
Sampai di sini halaqah kita, in syā Allāh iman kepada malāikat dan selainnya akan dibahas pada halaqah selanjutnya.

وصلاة وسلم على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
_________________________
🏦 *Donasi Dakwah BIAS* dapat disalurkan melalui :
🎗 Bank Mandiri Syariah
🥇 Kode Bank : 451
💳 No. Rek : 710-3000-507
🏬 *A.N : YPWA Bimbingan Islam*
📲 Pendaftaran Donatur Tetap & Konfirmasi Transfer Hanya via WhatsApp ke:  0878-8145-8000
SWIFT CODE : BSMDIDJA (Luar Negeri)
▪ Format Donasi :  DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal
📝 *Cantumkan Kode 700 di akhir nominal transfer anda...*
_____________________

Kajian

IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH

🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah  Fī...

hits