Tampilkan postingan dengan label Sirah Nabawiyyah BAB 5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah Nabawiyyah BAB 5. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Desember 2017

Bab 05 |Beberapa Peristiwa Di Masa Kecil Nabi (Bag. 7 dari 7)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 23 Rabi’ul Awwal 1439 H / 11 Desember 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
📗 Sirah Nabawiyyah
📖 Bab 05 |Beberapa Peristiwa Di Masa Kecil Nabi (Bag. 7 dari 7)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-0507
~~~~~~~~~~~~~~~

*BEBERAPA PERISTIWA DI MASA KECIL NABI, BAGIAN 07 DARI 07*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita lanjutkan yaitu kisah pertemuan antara Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan pendeta Buhairā.

Di akhir hadīts kata Abū Mūsa Al 'Asy'ariy:

فَلَمْ يَزَلْ يُنَاشِدُهُ حَتَّى رَدَّهُ أَبُو طَالِبٍ وَبَعَثَ مَعَهُ أَبُو بَكْرٍ بِلاَلاً وَزَوَّدَهُ الرَّاهِبُ مِنَ الْكَعْكِ وَالزَّيْتِ .

_Sementara itu sang pendeta terus mengingatkan untuk tidak membawa Muhammad ke negeri Romawi. Akhirnya Abū Thālib memulangkan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan Abū Thālib mengirim bersama Nabi, Abū Bakr dan Bilāl (dikirim pulang ke Mekkah)._

Kisah ini kisah menakjubkan, tetapi para ulamā khilaf tentang keshahīhan hadīts ini karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama 'Abdurrahman bin Ghazwān, kata para ulamā dia memiliki riwayat yang munkar.

Oleh karenanya,

⑴ Hadīts ini dikatakan oleh  At Tirmidzi dalam Sunannya sebagai hadīts yang hasan gharīb dan kami tidak tahu dari jalur ini.

⑵ Hadīts ini diriwayatkan oleh Al Hakīm dalam Al Mustadraknya dan menshahīhkan hadīts ini namun dibantah oleh Imām Adz Dzahabi (ulamā besar Asy Syāfi'ī, ahli hadīts, ahli jarh wa ta'dil) mengatakan "Hadīts ini adalah hadīts yang palsu" dengan membawakan banyak dalīl yang menunjukkan hadīts ini hadīts yang palsu.

Beliau mengatakan, di antaranya:

Kenapa disebut di akhir hadīts, Abū Thālib mengirim Nabi pulang ke Mekkah ditemani oleh Abū Bakr dan Bilāl?

Kemana Abū Bakr tatkala itu?

Bilāl belum lahir dan Abū Bakr 2.5 tahun lebih muda dari Nabi.

Sejak kapan jadi temannya Nabi? Apa sejak kecil sudah jadi teman Nabi dan Bilāl belum lahir tatkala itu, lalu kenapa sudah muncul di hadīts itu?

Ini lafal tidak benar dan diingkari oleh para ulamā.

Lalu kenapa bayangan bisa berpindah?

Kalau bayangan berpindah berarti matahari juga harus berpindah.

Akan disebutkan juga Bahwa Abū Thālib mati dalam keadaan kāfir, kalau memang hadīts ini benar lalu kenapa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak pernah berkata kepada pamannya, "Wahai paman, ingatkah kejadian saat aku berumur 12 tahun? Ingatkah perkataan pendeta Buhairā?"

Dan Nabi tidak pernah ingatkan kejadian ini kepada Abū Thālib, seharusnya Nabi mendakwahi Abū Thālib dengan hal ini.

Oleh karena itu, kisah ini diperselisihkan oleh para ulamā, sebagian menshahīhkan dan sebagian ulamā mendha'īfkan.

Diantaranya yang mendha'īfkan yaitu Adz Dzahabi rahimahullāh Ta'āla.

Syaikh Al Albāniy rahimahullāh mengatakan dari sisi sanad dia shahīh kecuali lafazh yang terakhir, dikatakan diutuslah Nabi bersama Abū Bakr dan Bilāl (ini jelas lafadz yang mungkar mustahil terjadi).

Namun anehnya, hadīts yang diperselisihkan ini dijadikan dalīl oleh orang-orang Nashara, orang-orang Nashara berpegang teguh dengan hadīts ini dan sampai sekarang mereka mengatakan bahwa Muhammad itu tidak mendapat wahyu dari Allāh, akan tetapi diajari oleh pendeta Buhairā saat bertemu.

Sehingga apa yang disampaikan Nabi bukan dari Allāh (wahyu) akan tetapi hanya menukil dari pendeta Buhairā tatkala Nabi bertemu di negeri Syām.

Kita bantah pernyataan ini;

⑴ Kisah sanad hadīts ini diperselisihkan karena ada lafadz-lafadz yang diperselisihkan.

Lalu bagaimana kalian orang-orang Nashrani berdalīl dengan kisah yang diperselisihkan keshahīhannya.

⑵ Kalau anda meyakini bahwa Nabi Muhammad mengambil ilmu dari Buhairā, ya sudah berimān saja kepada Nabi, karena dibawa oleh pendeta Nashrani.

⑶ Pertemuan Nabi Muhammad dengan pendeta Buhairā hanya sebentar (sekedar makan siang) dan Nabi Muhammad berbahasa Arab dan pendeta Buhairā berbahasa lain, bagaimana mungkin mengajari Al Qurān yang berisi lebih dari 6000 sekian ayat.

Kata mereka, pendeta Buhairā senantiasa mengirimkan surat kepada Nabi Muhammad.

Maka kita katakan bahwa ayat Al Qurān turun berdasarkan kejadian-kejadian, berarti pendeta harus aktif segera mengirim suratnya karena ayat langsung turun segera saat itu juga. Misal pada perang Uhud turun sebuah ayat, komunikasi cepatnya lewat apa sedang belum ada telpon atau internet.

Dalīl-dalīl mereka semua tidak masuk akal.

Oleh karenanya kita katakan, hadīts tentang pertemuan Nabi dengan pendeta Buhairā masih diperselisihkan, kalaupun hadītsnya shahīh maka tidak jadi dalīl bahwasanya Nabi mengambil ilmu dari pendeta Buhairā.

Sehingga dikatakan di antara bukti Nabi menerima wahyu langsung dari Al Qurān, Allāh menjadikan Nabi ummi tidak bisa membaca dan menulis.

Dan juga lihatlah bahwa isi Al Qurān bertentangan dengan isi Injīl yang telah dirubah.

Isi Injīl yang sudah dirubah mengandung kesyirikan ada penuhanan terhadap Nabi 'Īsā 'alayhissalām, adapun Al Qurān menyatakan Nabi 'Īsā 'alayhissalām adalah manusia biasa seorang Rasūl dari para Rasūl yang diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

In syā Allāh besok kita lanjutkan dengan pernikahan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan istrinya yang sangat tercinta, Khādijah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā

Demikian saja.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك
وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
-------------------------------------

Sabtu, 18 November 2017

Bab 05 |Beberapa Peristiwa Di Masa Kecil Nabi (Bag. 6 dari 7)

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 29 Shafar 1439 H / 18 November 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Sirah Nabawiyyah
📖 Bab 05 |Beberapa Peristiwa Di Masa Kecil Nabi (Bag. 6 dari 7)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-0506
~~~~~~~~~~~~~~~

*BEBERAPA PERISTIWA DI MASA KECIL NABI, BAGIAN 06 DARI 07*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita lanjutkan, In syā Allāh "Kisah pertemuan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan pendeta Buhairā".

Ini kisah yang sangat penting karena sering dijadikan dalīl oleh orang-orang Nashara untuk menjatuhkan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Sebagaimana kita jelaskan bahwa Abū Thālib (paman Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam), sangat cinta kepada Beliau, seakan-akan Beliau adalah anaknya sendiri.

Kemana dia pergi pasti Beliau diajak, bahkan dalam perjalanan yang sangat jauh, padahal Beliau masih berumur belasan tahun.

Pada suatu hari, Beliau diajak ke negeri Syām untuk berdagang.

Tatkala sampai ke negeri Syām, dan kita tahu bahwa saat itu negeri Syām dikuasai oleh orang-orang Romawi dan orang-orang Romawi adalah orang-orang Nashara, ada para pendeta di sana.

Disanalah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bertemu dengan seorang pendeta bernama Buhairā.

Berdasarkan hadīts yang diriwayatkan oleh dari Imām At Tirmidzi nomor 3553, versi Maktabatu Al Ma'arif nomor 3620 dalam Sunnannya.

Dari Abū Mūsa Al 'Asy'ariy radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, dia berkata:

خَرَجَ أَبُو طَالِبٍ إِلَى الشَّامِ وَخَرَجَ مَعَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِي أَشْيَاخٍ مِنْ قُرَيْشٍ فَلَمَّا أَشْرَفُوا عَلَى الرَّاهِبِ هَبَطُوا فَحَلُّوا رِحَالَهُمْ فَخَرَجَ إِلَيْهِمُ الرَّاهِبُ وَكَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ يَمُرُّونَ بِهِ فَلاَ يَخْرُجُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يَلْتَفِتُ .

_Abū Thālib pergi ke negeri Syām dan Nabi pergi bersama Abū Thālib dan orang-orang yang sudah tua dari orang-orang Quraisy untuk berdagang._

_Tatkala mereka sampai di tempat dekat rahib (di Buhairā), maka merekapun berhenti, unta-unta mereka diikatkan dan mereka beristirahat disitu._

_Kemudian sang pendeta keluar menemui mereka, padahal mereka sering lewat ditempat tersebut namun pendeta tidak pernah keluar menemui mereka._

Kenapa rahib datang menemui mereka?

⇒Karena ada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

قَالَ فَهُمْ يَحُلُّونَ رِحَالَهُمْ فَجَعَلَ يَتَخَلَّلُهُمُ الرَّاهِبُ حَتَّى جَاءَ فَأَخَذَ بِيَدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم

_Mereka sedang memberes-bereskan unta mereka, maka rahibpun masuk disela-sela mereka sehingga sang rahib bertemu dengan Nabi dan memegang tangan Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) dan berkata:_

قَالَ هَذَا سَيِّدُ الْعَالَمِينَ هَذَا رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ يَبْعَثُهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

_"Inilah pemimpin seluruh alam semesta, ini adalah Rasūl Allāh pemimpin seluruh alam semesta. Allāh mengutus dia sebagai rahmat bagi semesta alam."_

فَقَالَ لَهُ أَشْيَاخٌ مِنْ قُرَيْشٍ مَا عِلْمُكَ

_Maka orang-orang Quraisy bertanya kepada sang rahib:_

_"Bagaimana engkau tahu hal demikian (kenapa engkau katakan anak kecil ini akan menjadi pemimpin alam semesta) ?"_

فَقَالَ إِنَّكُمْ حِينَ أَشْرَفْتُمْ مِنَ الْعَقَبَةِ لَمْ يَبْقَ شَجَرٌ وَلاَ حَجَرٌ إِلاَّ خَرَّ سَاجِدًا وَلاَ يَسْجُدَانِ إِلاَّ لِنَبِيٍّ وَإِنِّي أَعْرِفُهُ بِخَاتَمِ النُّبُوَّةِ أَسْفَلَ مِنْ غُضْرُوفِ كَتِفِهِ مِثْلَ التُّفَّاحَةِ . ثُمَّ رَجَعَ فَصَنَعَ لَهُمْ طَعَامًا

_Maka sang rahib berkata:_

_"Tatkala kalian keluar menuju tempatku,  maka tidak ada satu pohon dan batupun kecuali sujud kepada dia. Dan tidaklah pohon dan batu sujud kecuali kepada seorang Nabi dan saya tahu bahwa dia seorang Nabi karena ada tanda kenabian di bawah pundaknya ada semacam tahi lalat besar dan ada rambutnya."_

_Kemudian sang rahibpun pulang dan menjamu mereka dengan makanan._

فَلَمَّا أَتَاهُمْ بِهِ وَكَانَ هُوَ فِي رِعْيَةِ الإِبِلِ قَالَ أَرْسِلُوا إِلَيْهِ فَأَقْبَلَ وَعَلَيْهِ غَمَامَةٌ تُظِلُّهُ فَلَمَّا دَنَا مِنَ الْقَوْمِ وَجَدَهُمْ قَدْ سَبَقُوهُ إِلَى فَىْءِ الشَّجَرَةِ فَلَمَّا جَلَسَ مَالَ فَىْءُ الشَّجَرَةِ عَلَيْهِ فَقَالَ انْظُرُوا إِلَى فَىْءِ الشَّجَرَةِ مَالَ عَلَيْهِ

_Tatkala Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam diantar kembali menuju pamannya (Abū Thālib) ada sebuah bayangan di bawah sebuah pohon, maka mereka ingin meletakkan Nabi di bawah bayangan tersebut tapi ternyata orang-orang Quraisy sudah mendahului duduk di bawah bayangan pohon tersebut._

_Nabipun duduk disisi yang lain, tiba-tiba bayangan pohon berpindah kepada Nabi._

Lihatlah kepada bayangan pohon berpindah, berpindah dari orang-orang Quraisy kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

قَالَ فَبَيْنَمَا هُوَ قَائِمٌ عَلَيْهِمْ وَهُوَ يُنَاشِدُهُمْ أَنْ لاَ يَذْهَبُوا بِهِ إِلَى الرُّومِ فَإِنَّ الرُّومَ إِذَا رَأَوْهُ عَرَفُوهُ بِالصِّفَةِ فَيَقْتُلُونَهُ فَالْتَفَتَ فَإِذَا بِسَبْعَةٍ قَدْ أَقْبَلُوا مِنَ الرُّومِ فَاسْتَقْبَلَهُمْ فَقَالَ مَا جَاءَ بِكُمْ قَالُوا جِئْنَا أَنَّ هَذَا النَّبِيَّ خَارِجٌ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَلَمْ يَبْقَ طَرِيقٌ إِلاَّ بُعِثَ إِلَيْهِ بِأُنَاسٍ وَإِنَّا قَدْ أُخْبِرْنَا خَبَرَهُ بُعِثْنَا إِلَى طَرِيقِكَ هَذَا فَقَالَ هَلْ خَلْفَكُمْ أَحَدٌ هُوَ خَيْرٌ مِنْكُمْ قَالُوا إِنَّمَا أُخْبِرْنَا خَبَرَهُ بِطَرِيقِكَ هَذَا

_Maka pendeta rahib Buhairā berkata:_

_"Jangan engkau bawa Muhammad ke negeri Romawi, hati-hatilah karena kalau mereka tahu mereka akan membunuhnya (karena mereka mengetahui akan keluarnya Nabi baru, yang salah satu cirinya adalah sunnat)."_

_Setelah itu tiba-tiba datang 7 pasukan Romawi maka ditemui oleh sang pendeta dan bertanya:_

_"Apa yang membuat kalian ke sini?"_

_Mereka menjawab:_

_"Kami dengar bahwasanya Nabi tersebut telah muncul pada bulan ini dan dia akan melewati jalan ini maka kami mencari Nabi tersebut, setiap sudut jalan kami utus orang untuk mencari Nabi tersebut. Dan kami telah dikabarkan beritanya, karenanya kami diutus dan berangkat menuju jalan yang akan kalian lewati ini."_

قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ أَمْرًا أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَقْضِيَهُ هَلْ يَسْتَطِيعُ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ رَدَّهُ قَالُوا لاَ . قَالَ فَبَايَعُوهُ

_Kata pendeta kepada pasukan:_

_"Wahai pasukan, Kalau Allāh menghendaki sesuatu, adakah orang yang dapat menolaknya, maka berbaiatlah kepada Nabi tersebut kalau sudah muncul."_

Demikian saja.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك
وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
-------------------------------------

Jumat, 17 November 2017

Bab 05 |Beberapa Peristiwa Di Masa Kecil Nabi (Bag. 5 dari 7)

🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 28 Shafar 1439 H / 17 November 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Sirah Nabawiyyah
📖 Bab 05 |Beberapa Peristiwa Di Masa Kecil Nabi (Bag. 5 dari 7)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-0505
~~~~~~~~~~~~~~~

*BEBERAPA PERISTIWA DI MASA KECIL NABI, BAGIAN 05 DARI 07*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

In syā Allāh kita akan menyampaikan tentang, "Bagaimana Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengembalakan kambing".

Diriwayatkan oleh Imām Al Bukhāri rahimahullāh Ta'āla:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ " مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلاَّ رَعَى الْغَنَمَ ". فَقَالَ أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ فَقَالَ " نَعَمْ كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لأَهْلِ مَكَّةَ ".

_Dari Abū Hurairah radhiyallāhu 'anhu berkata: Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:_

_"Tidak ada seorang Nabipun kecuali menggembalakan kambing."_

_Kata para shahābat:_

_"Engkau juga menggembalakan kambing, wahai Rasūlullāh?"_

_Berkata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:_

_"Iya, saya menggembalakan kambing, saya dulu menggembalakan kambing-kambingnya orang Mekkah untuk dapat upah dari mereka."_

(HR Bukhari nomor 2102, versi Fathul Bari nomor 2262)

Di antara para ulamā mengatakan bahwa Nabi tidak memiliki kambing. Itu kambingnya orang-orang dan Beliau yang merawat supaya dapat upah dan upah itu untuk membantu pamannya (Abū Thālib) karena dia orang terpandang tapi miskin secara ekonomi.

Dalam hadīts yang lain, dari Jābir bin 'Abdillāh radhiyallāhu Ta'āla 'anhumā:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِمَرِّ الظَّهْرَانِ وَنَحْنُ نَجْنِي الْكَبَاثَ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم " عَلَيْكُمْ بِالأَسْوَدِ مِنْهُ " . قَالَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّكَ رَعَيْتَ الْغَنَمَ قَالَ " نَعَمْ وَهَلْ مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ وَقَدْ رَعَاهَا " . أَوْ نَحْوَ هَذَا مِنَ الْقَوْلِ .

_Suatu hari kami bersama Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam di suatu tempat bernama Marazzahrān dan kami sedang mengambil kayu siwak._

_Lalu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:_

_"Cari yang kayu yang batangnya hitam."_

_Maka para shahābat heran._

_"Wahai Rasūlullāh, seakan-akan engkau pernah menggembalakan kambing."_

_Berkata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:_

_"Ya, saya pernah menggembalakan kambing, bukankah setiap Nabi pernah menggembalakan kambing?"_

(HR Muslim nomor 3822, versi Syarh Muslim nomor 2050 )

Ini dalīl bahwasanya seluruh Nabi menggembalakan kambing, sampai Nabi yang hidup dalam kemewahan ditaqdirkan oleh Allāh untuk menggembalakan kambing.

Contohnya:

√ Nabi Mūsa 'alayhissalām, beliau dirawat di istana Fir'aun, namun, diatur oleh Allāh untuk menggembalakan kambing.

Nabi Mūsa membunuh salah seorang dari Mesir dan dikejar-kejar dan melarikan diri ke negeri Madyan dan bertemu dengan orang sana lalu dinikahkah dengan putrinya dengan mahar menggembalakan kambing selama 8 atau 10 tahun.

√ Nabi Sulaimān
√ Nabi Dāwūd

Apa hikmahnya Allāh menjadikan para Nabi seluruhnya menggembalakan kambing, tanpa kecuali?

Kata para ulamā banyak hikmah para Nabi (terutama sebelum menjadi Nabi) ditaqdirkan Allāh untuk menggembalakan kambing, yaitu:

⑴ Untuk mengajarkan tawādhu'. Seorang penggembala, apa yang mau disombongkan.

⑵ Menunjukkan perhatian terhadap hewan yang lemah yaitu kambing, tidak seperti unta, kuda.

⑶ Jenis kambing bermacam-macam, ada yang jinak dan ada yang buas, ini penting untuk latihan menghadapi berbagai tipe manusia, ada yang angkuh, rendah, kaya, miskin.

⑷ Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sejak kecil sudah mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Bahkan sudah bekerja dan membantu orang lain (pamannya)

Di antara yang melemahkan dakwah adalah tatkala da'i bergantung kepada orang lain, jika tidak ada dana dari seseorang maka dia tidak berdakwah.

Ada yang membantu da'i alhamdulillāh dan aib jika seorang da'i meminta-minta, apalagi pasang tarif, ini memalukan. Tetapi kalau ada orang memberi hadiah maka diterima dan tidak jadi masalah.

Sifat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam masyhur, membantu orang lain.

Saat didatangi malāikat Jibrīl, Beliau ketakutan, datang kepada Khadījah dan berkata:

لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي

_"Saya khawatir sesuatu menimpa diriku."_

قَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ كَلاَّ أَبْشِرْ فَوَاللَّهِ لاَ يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا وَاللَّهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ .

_Kata Khadījah:_

_"Sekali-kali tidak, demi Allāh, gembiralah wahai suamiku, tidak akan menghinakanmu selamanya, engkau orang yang suka bersilaturahim, senantiasa jujur, memikul beban orang lain, suka mengusahakan sesuatu yang tidak ada, senantiasa menjamu tamu dan senantiasa membela faktor-faktor kebenaran."_

(HR Muslim nomor 231, versi Syarh Muslim nomor 160)

Oleh karena itu, biasakan diri kita agar tidak bergantung kepada orang lain.

Di antara puncak kebahagiaan adalah seseorang tidak bergantung kepada makhluq apapun. Kita mengambil sebab tapi jangan bergantung kepada sebab tersebut.

Kapan seseorang menggantungkan hatinya kepada manusia dan berharap kepada manusia maka suatu saat dia akan kecewa dan akan hilang kebahagiaannya.

Berbeda jika seseorang senantiasa menggantungkan hatinya kepada Allāh maka akan senantiasa bahagia.

Demikian saja.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك
وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
-------------------------------------

Kamis, 16 November 2017

Bab 05 |Beberapa Peristiwa Di Masa Kecil Nabi (Bag. 4 dari 7)

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 27 Shafar 1439 H / 16 November 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Sirah Nabawiyyah
📖 Bab 05 |Beberapa Peristiwa Di Masa Kecil Nabi (Bag. 4 dari 7)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-0504
~~~~~~~~~~~~~~~

*BEBERAPA PERISTIWA DI MASA KECIL NABI, BAGIAN 04 DARI 07*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Peristiwa berikutnya yang akan kita bahas adalah wafatnya ibunda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yaitu Āminah bintu Wahbin.

Tadi telah kita jelaskan bahwasanya tatkala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berumur 4 tahun maka ibundanya datang mengambil Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan ibu susu Beliau (Halimah) segera memberikan kepada ibunda.

Para ulamā menyebutkan diantara sebabnya adalah karena kejadian tadi (pembelahan dada) membuat Halīmah takut, jangan-jangan suatu saat Nabi akan diserang dan dia punya amanah untuk menjaga anak ini, maka dia kembalikan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada ibunda.

Maka setelah itu, Beliau dirawat oleh ibunya dari umur 4 tahun sampai 6 tahun.

Tatkala berumur 6 tahun, Beliau dibawa oleh ibunya ke Madīnah karena ayah Nabi meninggal di Madīnah, jadi banyak paman (akhwāl, saudara ibu) Nabi berada di Madīnah, sedangkan 'ammam (saudara bapak) nya di Mekkah.

Mereka menuju Madīnah.

Disebutkan oleh ahli sejarah bahwasanya ibundanya menjenguk kuburan ayah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, setelah itu mereka berjalan pulang.

Setelah berjalan pulang antara Madīnah ke Mekkah ada suatu tempat namanya Abwā dan sampai sekarang tempat tersebut masih ada.

Disebutkan oleh para ulamā, Abwā terletak sekitar 235 km dari Mekkah. Ditempat tersebut, ibunda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam meninggal dunia.

Jadi ini adalah cobaan yang luar biasa yang dialami oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Nabi telah mencapai puncak keyatiman (ibunya meninggal dalam keadaan ayahnya tidak ada), setelah dirawat oleh ibundanya hanya 2 tahun.

Dan tatkala ibundanya meninggal adalah saat bersafar di suatu tempat yang jauh dari Mekkah dan dari Madīnah.

Kalau di Mekkah ada paman-pamannya dari sisi ayahnya, kalau di Madinah ada paman-pamannya dari sisi ibunya.

Namun ibundanya meninggal di tengah-tengah antara Mekkah dan Madīnah (Abwā), maka tidak ada orang yang Beliau menyerahkan keluh kesahnya.

Dan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam melihat langsung bagaimana ibundanya menghadapi kematian.

Para ulamā menyebutkan bahwasanya semakin orang bertaqwa maka semakin tinggi cobaannya.

Kalau kita mempelajari tentang cobaan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sangatlah luar biasa.

Beliau lahir dalam keadaan yatim, umur 6 tahun melihat ibunya meninggal, tidak ada siapa-siapa, di tempat yang asing.

Bagaimana kesedihan yang dirasakan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Kemudian anak-anak Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam meninggal semua kecuali Fāthimah. Terakhir anaknya Ibrāhīm meninggal dipangkuan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Oleh karena itu, ujian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sangat luar biasa. Sebagaimana dalam hadīts:

 أشد الناس بلاء الأنبياء ثم الصالحون ثم الأمثل فالأمثل يُبتلى

_"Orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shālih, kemudian selanjutnya dan selanjutnya."_

Di antara ujian Nabi sejak kecil, Beliau melihat bagaimana ibunya meninggal dan Beliau menjadi anak yatim piatu.

Oleh karenanya, Nabi tatkala mengatakan:

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ

_"Aku bersama orang yang menanggung anak yatim seperti 2 jari ini disurga."_

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan demikian bukan hanya sekedar teori tetapi Beliau sudah merasakan sendiri susahnya menjadi anak yatim.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

السَّاعِي عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

_"Seorang yang berusaha untuk mengurus janda dan orang miskin (termasuk anak yatim) seperti berjihad di jalan Allāh Subhānahu wa Ta'āla."_

(HR Bukhari nomor 4934, versi Fathul Bari nomor 5353)

أَنَّ رَجُلًا شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسْوَةَ قَلْبِهِ فَقَالَ لَهُ إِنْ أَرَدْتَ تَلْيِينَ قَلْبِكَ فَأَطْعِمْ الْمِسْكِينَ وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ

_Seorang shahābat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam datang menemui Beliau, dia mengatakan bahwa hatinya seakan-akan keras._

_Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bekata padanya:_

_"Kalau engkau ingin hatimu lunak (mudah terenyuh/menangis tatkala mendengar ayat-ayat Allāh, khusyū' tatkala shalāt) maka berilah makan kepada fakir miskin dan usaplah kepala anak yatim."_

(HR Ahmad nomor 7260)

Kenapa?

Karena Nabi mengetahui kerinduan anak yatim tatkala diusap kepalanya.

Bagaimana seorang anak ketika didatangi oleh orangtuanya, dia rindu untuk diusap kepalanya.

Oleh karenanya, seseorang kalau ingin hatinya bersih dan mudah mendapatkan nasehat maka perhatianlah terhadap orang miskin, memberi makan kepada orang-orang miskin, datangi anak-anak yatim dan usaplah kepalanya.

Memang benar kita bisa saja mengirim uang untuk anak yatim, tetapi lebih indah lagi kalau seseorang bertemu langsung dengan anak yatim kemudian mengusap kepalanya, merasakan kesedihan yang dirasakan anak yatim tersebut.

Inilah ujian yang dihadapi oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Jadi Beliau benar-benar mengetahui kesedihan hidup orang miskin, sebagai anak yatim, sehingga tatkala Beliau berbicara tentang rahmat maka itu benar-benar keluar dari lubuk hati yang paling dalam.

Beliau benar-benar mengerti dan bukan sekedar teori, tetapi Beliau pernah mempraktekkan sebagai anak yatim dan juga sebagai orang miskin.

Setelah ibunda meninggal, maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dirawat oleh kakeknya, 'Abdul Muththalib. Kakeknya sangat cinta kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Disebutkan oleh ahli sejarah bahwa 'Abdul Muththalib di bawah naungan Ka'bah, dia memiliki semacam kasur/tempat duduk/permadani tempat dia duduk. Dan anak-anaknya kalau datang hanya duduk disekitar permadani tersebut, tidak ada yang berani duduk di permadani 'Abdul Muththalib karena dia adalah orang yang memiliki haybah (pamor, kharismatik).

Adapun Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam masih kecil, masih 6 tahun, kalau datang ke Ka'bah, Beliau duduk di permadani kakeknya, maka dilarang oleh paman-pamannya.

Namun Nabi tetap duduk dan dibiarkan oleh 'Abdul Muththalib, bahkan kakeknya menggendongnya dan duduk di sampingnya, karena kakeknya sangat cinta dengan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Kita tahu bahwa bapak Nabi ('Abdullāh) sangat dicintai oleh 'Abdul Muththalib, maka demikian juga cucunya, terlebih lagi kondisi Nabi dalam keadaan yatim piatu.

Tatkala paman-pamannya melarang Nabi untuk duduk di permadani maka 'Abdul Muththalib mengatakan:

"Biarkan cucuku, sesungguhnya dia memiliki suatu kehebatan."

Akhirnya kakeknya 'Abdul Muththalib juga meninggal dunia, disebutkan umurnya sekitar 82 tahun (80 tahun lebih).

Lalu 'Abdul Muththalib mewasiatkan kepada Abū Thālib (paman Nabi).

Kenapa Abū Thālib yang dipilih?

Karena Abū Thālib dan 'Abdullāh saudara kandung 1 ibu dan 1 bapak.

'Abdul Muththalib menikah dengan beberapa wanita, diantaranya yang 1 ibu dan 1 bapak adalah Abū Thālib dan 'Abdullāh, sedangkan paman yang lain dari ibu yang lain.

Akhirnya Abū Thālib lah yang merawat Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam. Dan disebutkan bahwa Abū Thālib sangat mencintai Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, dia sering tidur di samping Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Nabi sering diajak kemana-mana, bahkan di antaranya disebutkan Abū Thālib kalau berdagang ke negeri Syām, Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam diajak.

Namun sayangnya Abū Thālib adalah orang yang miskin.

Oleh karenanya, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bekerja untuk membantu pamannya di antaranya dengan menggembalakan kambing.

Demikian saja.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك
وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
-------------------------------------

Rabu, 15 November 2017

Bab 05 |Beberapa Peristiwa Di Masa Kecil Nabi (Bag. 2 dari 7)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 25 Shafar 1439 H / 14 November 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Sirah Nabawiyyah
📖 Bab 05 |Beberapa Peristiwa Di Masa Kecil Nabi (Bag. 2 dari 7)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-0502
~~~~~~~~~~~~~~~

*BEBERAPA PERISTIWA DI MASA KECIL NABI, BAGIAN 02 DARI 07*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

In syā Allāh kita akan menyampaikan peristiwa, dibelahnya dada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (lanjutan).

Para ulamā menyebutkan bahwa banyak hikmah di mu'jizat ini.

Di antara mu'jizat pembelahan dada (jantung)  Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

⑴ Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sejak kecil sudah ma'shum.

√ Beliau tatkala kecil tumbuh tidak seperti anak-anak kecil yang lain.

√ Saat mencapai masa dewasa (belasan tahun), Beliau tidak melakukan kemaksiatan atau kelalaian, hura-hura, seperti yang dilakukan  pemuda lain di kota Mekkah.

Kenapa?

Karena hati Beliau sudah disucikan (dibersihkan) oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Bagian yang mungkin diganggu oleh syaithān sudah diambil oleh malāikat.

Bahkan disebutkan dalam suatu hadīts, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

"Tidak pernah terbetik dalam hati saya untuk mengikuti acara-acara orang Mekkah kecuali 2 (dua) kali."

(Hadits ini dengan sanad yang  hasan)

"Suatu hari (kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam), saya sedang menggembalakan kambing lalu saya berkata kepada teman saya:

'Tolong jaga kambing saya, saya ingin pergi, ada acara pernikahan'."

Maka kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pergi (turun ke kota) ingin menghadiri acara walimahan (pernikahan) yang pasti ada kemaksiatan di situ.

Tatkala Beliau mulai mendengar ada suara-suara, tiba-tiba Allāh Subhānahu wa Ta'āla membuat Beliau pingsan (tidak sadar), tiba-tiba telinga Beliau tertutup dan tidak sadar kecuali sudah siang (matahari sudah terbit).

Akhirnya Beliau pulang dan bertemu dengan temannya dan temannya bertanya tentang acara tersebut.

Kata Nabi: 

"Saya tidak melakukan apa-apa."

Kedua kali juga terjadi demikian, terbetik lagi dalam hati Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ingin tahu acara pernikahan, lalu saat berjalan menuju acara tersebut, maka terjadilah seperti kejadian awal.

Beliau dibuat pingsan (tidak sadar) oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan tidak sempat mengikuti acara-acara demikian.

Oleh karenanya, sebelum Beliau menjadi seorang Nabi, dikenal oleh orang-orang Quraysh dengan "Al Amīn"  (orang yang terpercaya).

Kenapa?

Karena akhlaqnya mulia.

Bagaimana Beliau tidak berakhlaq mulia sementara jantungnya telah dibersihkan oleh malāikat.

Di sana ada orang-orang Nashara yang berusaha mengingkari kejadian pembelahan dada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Mereka mengatakan 2 hujjah:

⑴ Ini tidak sesuai dengan tabiat manusia.

⑵ Ini tidak masuk akal (di luar sunnatullāh, jantung dikeluarkan seharusnya mati).

Namun kita bantah, justru inilah mu'jizat (kejadian luar biasa), kalau hanya biasa-biasa saja maka tidaklah disebut mu'jizat.

Mu'jizat artinya adalah keluar dari kebiasaan, karena Allāh yang mengatur sunnatullāh maka Allāh yang bisa merubah sunnah tersebut.

Contohnya:

Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām. Api sunnatullāhnya membakar, tetapi karena Allāh yang menjadikan api yang membakar maka Allāh memerintahkan agar api dingin.

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

_"Wahai api jadilah engkau dingin dan selamat bagi Nabi Ibrāhīm."_

(QS Al Anbiyā: 69)

Merubah sunnatullāh, ini adalah bukti bahwasanya Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām adalah utusan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Nabi adalah utusan Allāh Subhānahu wa Ta'āla, utusan Tuhan, karena Tuhan bisa merubah aturan kauniyyah (aturan sunnatullāh).

Thayyib, kita katakan kepada orang-orang Nashara, Nabi 'Īsā 'alayhissalām waktu kecil bisa berbicara, itu keluar dari sunnatullāh dan aneh atau tidak?

Nabi 'Isa 'alayhissalām bisa menghidupkan orang mati, bisa menyembuhkan orang buta. Ini semua keluar dari kewajaran.

Kalau kalian tidak percaya dengan pembelahan jantung, maka:

⑴ Jangan percaya juga kalau Nabi 'Īsā bisa berbicara di waktu kecil, bisa menyembuhkan penyakit dan mu'jizat lainnya.

⑵ Jangan percaya juga di zaman Nabi Mūsā 'alayhissalām laut terbelah dua, laut bisa naik ke atas, ini keluar dari sunnatullāh.

Kita katakan, inilah mu'jizat dan ada asal dari mu'jizat tersebut.

Kita akan buktikan bagaimana dampak dari pembelahan dada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Bantahan yang kedua, kata mereka hal ini tidak masuk akal.

Kenapa tidak masuk akal?

Sekarang zaman modern, jantung bisa dikeluarkan atau tidak?

Misalnya:

√ Pada kasus kelainan jantung pada anak yang tidak memiliki katup jantung, maka bisa dipasang katupnya, subhānallāh.

√ Adapula orang yang jantungnya rusak lalu ditransplantasi dengan jantung orang yang sudah mati namun masih sehat jantungnya.

Apa yang datang dalam Al Qurān maupun Sunnah yang terkadang akal kita tidak sampai, kita harus berimān.

Belum lagi kalau Allāh berbicara tentang hal yang ghāib, tentang Malāikat, Surga, Neraka dan lainnya, kalau kita pakai akal kita maka tidak akan masuk akal semua.

Pada zaman sekarang, pengeluaran jantung bisa dilakukan sehingga apa yang terjadi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, adalah yang sangat mudah bagi Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

_"Jika Allāh berkehendak, maka Allāh akan berkata, 'Jadi.' maka jadilah."

(QS Yāsin:  82)

Demikianlah kajian yang bisa kita sampaikan pada kesempatan hari ini, In syā Allāh mudah-mudahan besok kita lanjutkan lagi.

وبالله التوفيق و الهداية
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
-------------------------------------

Bab 05 |Beberapa Peristiwa Di Masa Kecil Nabi (Bag. 3 dari 7)

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 26 Shafar 1439 H / 15 November 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Sirah Nabawiyyah
📖 Bab 05 |Beberapa Peristiwa Di Masa Kecil Nabi (Bag. 3 dari 7)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-0503
~~~~~~~~~~~~~~~

*BEBERAPA PERISTIWA DI MASA KECIL NABI, BAGIAN 03 DARI 07*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

In syā Allāh kita akan menyampaikan peristiwa, dibelahnya dada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (lanjutan).

Dan di antara bukti jantung Nabi bersih dan tidak ada gangguan syaithān, lihatlah bagaimana akhlaq Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Kalau kita belajar akhlaq Nabi maka akhlaq Nabi seluruhnya adalah mu'jizat,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

_"Tidaklah Kami utus engkau kecuali rahmat bagi alam semesta."_

(QS Al Anbiyā: 107)

Luar biasa rahmat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Tidak ada manusia seperti Nabi yang jantungnya sudah dibersihkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Oleh karenanya kalau kita renungkan riwayat akhlaq Beliau maka sangat menakjubkan.

Contoh 1 saja yang menakjubkan saya, seperti Anas bin Mālik mengatakan:

خَدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ وَاللَّهِ مَا قَالَ لِي أُفًّا قَطُّ وَلَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ لِمَ فَعَلْتَ كَذَا وَهَلَّا فَعَلْتَ كَذَا

_Aku menjadi pelayan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selama sepuluh tahun. Demi Allah, selama itu beliau tidak pernah berkata, "Uff (husy)," kepadaku dan tidak pernah membentakku dengan perkataan: "Hai, kenapa engkau perbuat begitu!"_

(HR Muslim nomor 4269, versi Syarh Muslim nomor 2309)

Adakah majikan tidak pernah protes atau tidak mengatur pembantunya selama 10 tahun?

Artinya, apa yang Beliau lihat maka Beliau biarkan dan ini luar biasa.

Contoh lagi pada hadīts Anas bin Mālik radhiyallāhu Ta'āla 'anhu,

Tatkala Beliau sedang berjalan, tiba-tiba ada orang Arab Badui menarik selendang Beliau dengan keras sehingga ada bekas merah di leher Beliau. Setelah memberhentikan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dia berkata:

يا مُحَمَّدُ مُرْ لِي مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ فَضَحِكَ ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِعَطَاءٍ

_"Wahai Muhammad, berikan kepadaku dari harta yang diberikan Allah padamu."_

_Maka beliau menoleh kepadanya diiringi senyum serta menyuruh salah seorang sahabat untuk memberikan sesuatu kepadanya._

(HR Bukhari nomor 5624, versi Fathul Bari nomor 6088)

Orang ini meminta harta kepada Nabi namun tidak memiliki adab.

[(1) memberhentikan dengan cara kasar dan (2) memanggil Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan "Muhammad" bukan Rasūlullāh, (3) meminta harta Nabi Allāh yang ada padamu, dengan ucapan yang kasar].

Namun dalam kondisi demikian, yang menakjubkan saya, Nabi sama sekali tidak marah, bahkan tersenyum dan mengatakan: "Berikan kepada orang ini."

Dalam waktu itu juga langsung bisa tersenyum. Siapa yang bisa seperti ini?

Kalau misal mobil kita terserempet, kita pasti marah duluan, baru 5 menit kemudian baru bisa tersenyum.

Dalam Shahīh Muslim, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, kalau memberikan sesuatu tidak pernah memakai perkiraan, luar biasa kalau sedekah.

Sampai ada seorang minta kambing kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, maka Beliau memberikan dia kambing di antara 2 gunung, artinya satu lembah (ini ibarat orang Arab, artinya kambingnya banyak sekali).

Meminta 1 kambing tapi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam malah memberikan banyak kambing, akhirnya orang tersebut masuk Islām.

Kemudian dia pulang kampung dan mengatakan:

يَا قَوْمِ أَسْلِمُوا فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِي عَطَاءً لاَ يَخْشَى الْفَاقَةَ .

_"Wahai kaumku, masuk Islamlah, mintalah pemberian kepada Muhammad, Beliau akan memberikan yang tidak membuatnya takut miskin."_

(HR Muslim nomor 2312)

Dan memang benar, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak pernah takut miskin. Karena jantungnya sudah dicuci oleh Allāh.

Ini bukti bahwa tidak ada yang bisa berakhlaq seperti akhlaqnya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Oleh karenanya itu, kejadian mencuci jantung Rasūl shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah kejadian nyata yang pernah terjadi dengan didukung hadīts-hadīts shahīh dan ada atsar (buktinya).

Yang saya tidak habis pikir tentang akhlaq Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, sebelum Beliau menjadi Nabi, Beliau diberi amanah oleh orang-orang kāfir untuk dititipi barang-barang berharga kepada Nabi, karena Beliau dikenal sebagai "al amīn" (orang yang sangat terpercaya).

Kemudian setelah Beliau diutus menjadi Nabi, mulailah mereka merubah julukan al amīn dengan al kadzdzāb (pendusta), penyihir, dukun, orang gila, penyair gila, kadang sebagai tersihir.

Namun anehnya meskipun siang harinya mereka menjuluki Nabi dengan yang tidak baik (pendusta, penyihir, dukun, dll) tetap saja mereka menitipkan barang kepada Nabi, ini yang menakjubkan, Subhānallāh.

Walaupun mereka menuduh Nabi yang tidak-tidak, mereka tetap menitipkan barang kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

Karena hati kecil mereka mengatakan, Muhammad tidak mungkin bohong.

Kemudian yang menakjubkan juga tatkala Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam hijrah dari Mekkah menuju ke Madīnah, Nabi tidak mengambil barang-barang titipan tersebut bahkan Beliau menugaskan 'Ali bin Abi Thālib 3 hari untuk mengembalikan barang-barang tadi karena Beliau mau dibunuh oleh orang-orang kāfir, padahal ada kesempatan untuk mengambil barang, ya atau tidak?

Namun Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak melakukannya, ini membuktikan bahwa akhlaq Nabi adalah mu'jizat dan tidak mungkin akhlaq Nabi demikian kecuali Beliau adalah utusan Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan karena Allāh telah membersihkan jantung Beliau dari bagian yang merupakan bagian syaithān.

Oleh karenanya, pelajaran yang bisa kita ambil di antaranya tadi bahwa segala perkara yang datang dari Al Qurān maupun Sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, yang terkadang zhahirnya tidak sesuai dengan akal kita maka tundukkanlah akal kita, akal kita terlalu rendah.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُممِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

_"Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah ruh adalah urusan Rabbku, kalian tidak diberi ilmu kecuali sangat-sangat sedikit."

(QS Al Isrā: 85)

Mau memakai alat apapun, manusia tidak akan bisa tahu hakikat ruh itu, padahal ruh itu selalu di dalam tubuh kita.

Kalau kita datangkan 100 pakar untuk meneliti tentang ruh, misal saat sakaratul maut sampai keluar ruhnya, pasti ada 100 pendapat.

Kenapa?

Karena mereka tidak memiliki ilmu, semua hanya dugaan.

Ini ruh, padahal ada di dalam jasad kita. Apalagi kita berbicara tentang yang ghāib (jinn, malāikat, Allāh Subhānahu wa Ta'āla), maka hendaknya kita tahu akal ini punya batasan.

Barangsiapa yang dengan akalnya nekat untuk menembus batasan-batasan akal maka dia tidak berakal.

Demikianlah kajian yang bisa kita sampaikan pada kesempatan hari ini, In syā Allāh mudah-mudahan besok kita lanjutkan lagi.

وبالله التوفيق و الهداية
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
-------------------------------------

Senin, 13 November 2017

Bab 05 |Beberapa Peristiwa Di Masa Kecil Nabi (Bag. 1 dari 7)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 24 Shafar 1439 H / 13 November 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Sirah Nabawiyyah
📖 Bab 05 |Beberapa Peristiwa Di Masa Kecil Nabi (Bag. 1 dari 7)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-0501
~~~~~~~~~~~~~~~

*BEBERAPA PERISTIWA DI MASA KECIL NABI, BAGIAN 01 DARI 07*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

In syā Allāh kita akan menyampaikan tentang peristiwa dibelahnya dada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Di antara mu'jizat yang dialami oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yaitu dibelahnya dada Nabi beliau alayhi shallatu wa sallam. Dan proses pembelahan dada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam disebutkan oleh para ulamā, terjadi 2 (dua) kali.

⑴ Tatkala Beliau dirawat di ibu persusuan Beliau yaitu Halīmah As Sa'diyyah, dada beliau dibelah dan disucikan oleh malāikat.

⑵ Tatkala Beliau hendak melakukan Isrā Mi'raj, dada Beliau dibelah untuk kedua kalinya.

Pada pertemuan kali ini yang akan kita bahas adalah pembelahan yang pertama.

Sebagaimana hadīts yang shahīh yang diriwayatkan oleh banyak riwayat, di antaranya adalah:

Dari shahābat Anas bin Mālik radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, beliau berkata:

انَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ جِبْرِيلُ وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ , فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ فَشَقَّ قَلْبَهُ فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ عَلَقَةً , قَالَ : هَذَا حَظُّ الشَّيْطَانِ مِنْكَ , ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمْزَمَ , ثُمَّ لأَمَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ فِي مَكَانِهِ , وَجَاءَ الْغِلْمَانُ يَسْعَوْنَ إِلَى أُمِّهِ ـ يَعْنِي ظِئْرَهُ ـ فَقَالُوا : إِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ قُتِلَ , فَاسْتَقْبَلَتْ وَهُوَ مُنْتَقِعُ اللَّوْنِ , قَالَ أَنَسٌ : قَدْ كُنْتُ أَرَى أَثَرَ الْمَخِيطِ فِي صَدْرِهِ

_Bahwasanya suatu hari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam didatangi malāikat Jibrīl dan Beliau sedang bermain bersama dengan anak-anak yang lain._

_Maka malāikat Jibrīl menjatuhkan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, kemudian membelah dada Beliau, kemudian mengeluarkan jantung dari dada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam._

_Kemudian dari jantung tersebut diambil segumpal darah yang hitam, kemudian Jibrīl berkata:_

_"Ini adalah bagian syaithān darimu."_

_Kemudian jantung Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dicuci oleh Jibrīl 'alayhissalām di sebuah tempayan yang terbuat dari emas, dicuci dengan air zamzam. Setelah itu dijahit kembali oleh Jibrīl 'alayhissalām._

_Kemudian jantung itu dimasukkan kembali ke dalam dada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam._

_Maka teman-teman Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ketakutan dan mereka lari menuju ke ibu persusuan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (Halīmah As Sa'diyyah) dan mereka berkata:_

_"Wahai ibu kami, sesungguhnya Muhammad telah dibunuh."_

_Kemudian mereka menuju Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) dalam keadaan pucat._

_Kata Anas bin Mālik radhiyallāhu Ta'āla 'anhu:_

_"Saya melihat bekas jahitan di dada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam."_

(Hadīts Riwayat Imām Muslim nomor 236, versi Syarh Muslim nomor 162)

Dan juga dalam riwayat lain yang lebih terperinci.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:

كَانَتْ حَاضِنَتِي مِنْ بَنِي سَعْدِ بْنِ بَكْرٍ فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَابْنٌ لَهَا فِي بَهْمٍ لَنَا وَلَمْ نَأْخُذْ مَعَنَا زَادًا فَقُلْتُ يَا أَخِي اذْهَبْ فَأْتِنَا بِزَادٍ مِنْ عِنْدِ أُمِّنَا فَانْطَلَقَ أَخِي وَمَكَثْتُ عِنْدَ الْبَهْمِ فَأَقْبَلَ طَيْرَانِ أَبْيَضَانِ كَأَنَّهُمَا نَسْرَانِ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ أَهُوَ هُوَ قَالَ نَعَمْ فَأَقْبَلَا يَبْتَدِرَانِي فَأَخَذَانِي فَبَطَحَانِي إِلَى الْقَفَا فَشَقَّا بَطْنِي ثُمَّ اسْتَخْرَجَا قَلْبِي فَشَقَّاهُ فَأَخْرَجَا مِنْهُ عَلَقَتَيْنِ سَوْدَاوَيْنِ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ قَالَ يَزِيدُ فِي حَدِيثِهِ ائْتِنِي بِمَاءِ ثَلْجٍ فَغَسَلَا بِهِ جَوْفِي ثُمَّ قَالَ ائْتِنِي بِمَاءِ بَرَدٍ فَغَسَلَا بِهِ قَلْبِي ثُمَّ قَالَ ائْتِنِي بِالسَّكِينَةِ فَذَارَّهَا فِي قَلْبِي ثُمَّ قَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ حِصْهُ فَحَاصَهُ وَخَتَمَ عَلَيْهِ بِخَاتَمِ النُّبُوَّةِ

_Saat itu, yang mengasuhku adalah seorang wanita dari Bani Sa'd bin Bakr (Halimah As Sa'diyah)._

_Kemudian aku bersama seorang dari anaknya pergi menuju tempat pengembalaan binatang ternak kami, namun kami tidak membawa bekal._

_Aku pun berkata:_

_"Wahai saudaraku, pergi dan ambillah bekal (makanan) dari ibu."_

_Maka saudaraku itu pergi, dan aku pun tetap berada di sisi domba gembalaan kami. Tiba-tiba datanglah dua ekor burung berwarna putih dan sepertinya kedua burung itu adalah burung nasar. Salah satu dari burung itu berkata kepada temannya:_

_"Apakah dia, orang (yang kita cari)?"_

_Temannya menjawab: "Ya."_

_Lalu keduanya pun bergegas saling berlomba untuk mengambilku dan menelungkupkanku di atas punggungnya._

_Kemudian keduanya pun membelah dadaku dan mengeluarkan hatiku. Kemudian mereka mengeluarkan dua noktah hitam darinya._

_Setelah itu, salah seorang dari keduanya berkata kepada temannya._

Yazid menyebutkan dalam hadits yang diriwatkannya:

_"Ambilkan air dan salju."_

_Lalu mereka mencuci isi perutku dengan air dan salju. Kemudian salah satu dari mereka berkata lagi:_

_"Ambilkanlah air yang dingin."_

_Dan mereka pun mencuci hatiku dengan air dingin itu._

_Salah satunya berkata lagi:_

_Ambilkanlah As Sakinah (ketenangan dan kedamaian)."_

_Dan keduanya pun menebarkannya di dalam hatiku._

_Setelah itu, salah satu dari keduanya berkata:_

_"Jahitlah (tutuplah)."_

_Ia pun menutupnya kembali dan memberikannya tanda kenabian._

(HR Ahmad nomor 16990)

⇒ Kita tahu bahwasanya Allāh menciptakan malāikat itu memiliki sayap.

جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلاً أُولِي أَجْنِحَةٍ مَّثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ

_"Allāh menciptakan malāikat ada yang bersayap 2, 3 atau 4 dan Allāh menambah sayap malāikat sesuai dengan yang Allāh kehendaki."_

(QS Fāthir: 1)

⇒Ada yang sayapnya banyak seperti malāikat Jibrīl yang memiliki sayap sampai 600 sayap.

Di antara para ulamā ada yang menyatakan inilah sebabnya mengapa Halīmah As Sa'diyyah akhirnya mengembalikan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ke ibunya.

Ibunya beberapa kali meminta agar Nabi dikembalikan, namun Halīmah senang kalau ada Nabi dikampungnya. Karena banyak keberkahan.

Akan tetapi terjadi peristiwa yang menakutkan ini membuat khawatir Halīmah As Sa'diyyah.

Akhirnya ibunya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengambil Beliau saat berusia 4 (empat)  tahun. Kemudian dilanjutkan dirawat oleh ibunya sampai berusia 6 (enam) tahun.

Demikianlah kajian yang bisa kita sampaikan pada kesempatan hari ini, In syā Allāh mudah-mudahan besok kita lanjutkan lagi.

وبالله التوفيق و الهداية
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
-------------------------------------

Kajian

IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH

🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah  Fī...

hits