Tampilkan postingan dengan label Kitab At-Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitab At-Tauhid. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Maret 2021

LARANGAN MINTA DI RUQYAH

🌍 BimbinganIslam.com
🔆 Jum'at, 23 Jumadil akhir 1442 H / 05 Februari 2021
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqoh 77 : Larangan Minta Di Ruqyah

〰〰〰〰〰〰〰

*LARANGAN MINTA DI RUQYAH*

بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله.

قال الله في كتاب الكريم : يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

وقال تعالى : إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةًۭ قَانِتًۭا لِّلَّهِ حَنِيفًۭا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

قال الله في كتاب الكريم : يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Ikhwan akhawatiy fīllāh rahimakumullāh. 

Syukur kita kehadirat Allāh atas nikmat dan karunianya masih kita membahas:

من حقق التوحيد دخل الجنة بغير حساب

Dari Hushain bin Abdurrahman berkata: “Ketika saya berada di dekat Sa’id bin Jubair, dia bertanya: “Siapakah diantara kalian yang melihat bintang jatuh semalam?” Aku menjawab: “Aku.” Kemudian aku berkata: “Ketahuilah sesunggunya ketika itu aku tidak dalam keadaan shalat, tetapi terkena sengatan kalajengking.” 
Lalu ia bertanya: “Lalu apa yang anda kerjakan?” Aku menjawab: “Saya minta diruqyah” Ia bertanya lagi: “Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal tersebut?”
Jawabku: “Sebuah hadīts yang dituturkan Asy-Sya’bi kepada kami.” Ia bertanya lagi: “Dan apakah hadīts yang dituturkan oleh Asy-Sya’bi kepadamu?”  Aku katakan: “Dia menuturkan hadīts dari Buraidah bin Hushaib: 

لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْـنٍ أَوْ حُـمَةٍ

"Tidak ada ruqyah kecuali karena ‘ain atau terkena sengatan".

⇒ 'Ain adalah pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang melalui matanya, orang jawa menyebutnya kena sawan. 

Yaitu seseorang yang terkena penyakit sesudah itu terjadilah perubahan.

Misalnya; anak kecil yang doyan (suka) makan tiba-tiba dia jadi tidak suka makan.

Anak kecil diajak ke undangan sebelum berangkat dia mandi dan berpakaian rapih dan bagus, disisiri rambutnya dan dikasih minyak wangi  kemudian diajak ke acara mantenan. Kemudian orang-orang yang melihat anak kecil tersebut terkadang berkomentar, "Cakep banget sih".

Sampai rumah anak ini tiba-tiba menangis  atau tidak doyan makan atau sakit mencret (maaf) orang kita (jawa) menyebutnya kena sawan manten. 

Orang Arab menyebutnya 'ain yaitu pengaruh jahat (buruk) yang terjadi pada seseorang karena iri atau dengki atau penyebab lainnya.

Hal ini bisa jadi karena orang yang memberikan pujian tanpa menisbatkan pujian tersebut kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

Jika orang yang memuji mengucapkan,

‌Māsyā Allāh, "Cantiknya" no problem.
‌Subhānallāh, "Ganteng banget", tidak apa-apa. 

Kenapa? Karena dia (orang yang memuji) memberikan pujian tersebut setelah dia (orang yang memuji) menisbatkan pujian tersebut kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

Tetapi tatkala seseorang memberikan pujian tanpa menisbatkan pujian kepada Allāh, bisa jadi anak tersebut terkena penyakit 'ain.

Kalau dia dibawa ke acara mantenan ya kena penyakit sawan manten, kalau dibawa ke acara melayat karena ada saudaranya yang meninggal maka dikatakan kena sawan wong mati.

Sa'id pun berkata : “Alangkah baiknya orang yang beramal sesuai dengan nash yang telah didengarnya, akan tetapi Ibnu Abbās radhiyallāhu 'anhu menuturkan kepada kami hadīts dari Nabi shallallāhu di mana Beliau bersabda: 

عُرِضَتْ عَلَـيَّ اْلأُمَـمُ فَرَأَيْتُ النَّبِـيَّ وَ مَعَهُ الرَّهَيْطُ وَ النَّبِـيَّ وَ مَعَهُ الرَّجُلُ وَ الرَّجُلاَنِ وَ النَّبِـيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِـي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِـي فَقِيلَ لِـي هَذَا مُوسَـى عَلَيْهِ السَّلاَمَ وَ قَوْمُهُ وَ لَكِنِ انْظُرْ إِلَـى اْلأُفُقِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِـي انْظُرْ إِلَـى اْلأُفُقِ اْلآخَرِ فإِذَا سَـوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِـي هَذِهِ أُمَّتُكَ وَ مَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْـجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ ثُـمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ النَّاسُ فِـي أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْـجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمُ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمُ الَّذِينَ وُلِدُوا فِـي اْلإِسْلاَمِ وَ لَـمْ يُشْرِكُوا بِاللهِ وَ ذَكَرُوا أَشْيَاءَ فَـخَرَخَ عَلَيْهِمْ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقَالَ مَا الَّذِي تَـخُوضُونَ فِـيهِ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ هُمُ الَّذِينَ لاَ يَرْقُونَ وَلاَ يَسْتَرْقُونَ ولا يكتوون وَ لاَ يَتَطَيَّرُونَ
وَ عَلَى رَبِّـهِمْ يَتَوَكَّلُونَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِـحْصَنٍ فَقَالَ ادْعُ اللهَ أَنْ يَـجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ أَنْتَ مِنْهُمْ ثُـمَّ قَامَ رَجُلٌ آجَرُ فَقَالَ ادْعُ اللهَ أَنْ يَـجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ سَبَقَكَ بِـهَا عُكَّاشَةُ

"Saya telah diperlihatkan beberapa umat oleh Allāh, lalu saya melihat seorang nabi bersama beberapa orang, seorang nabi bersama seorang dan dua orang dan seorang nabi sendiri, tidak seorangpun menyertainya. Tiba-tiba ditampakkan kepada saya sekelompok orang yang sangat banyak. Lalu saya mengira mereka itu umatku, tetapi disampaikan kepada saya: “Itu adalah Musa dan kaumnya”. 

Lalu tiba-tiba saya melihat lagi sejumlah besar orang, dan disampaikan kepada saya: “Ini adalah umatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang, mereka akan masuk surga tanpa hisab dan adzab.”.

Kemudian Beliau bangkit dan masuk rumah. Orang-orang pun saling berbicara satu dengan yang lainnya, ‘Siapakah gerangan mereka itu?’ Ada di antara mereka yang mengatakan: ‘Mungkin saja mereka itu sahabat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam'. 

Ada lagi yang mengatakan: ‘Mungkin saja mereka orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islām dan tidak pernah berbuat syirik terhadap Allāh.’ dan menyebutkan yang lainnya. 

Ketika Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam keluar, mereka memberitahukan hal tersebut kepada beliau. 

Beliau bersabda: "Mereka itu adalah orang yang tidak pernah minta diruqyah, tidak meminta di kay dan tidak pernah melakukan tathayyur  serta mereka bertawakkal kepada Rabb mereka".

Lalu Ukasyah bin Mihshan berdiri dan berkata: “Mohonkanlah kepada Allāh, mudah-mudahan saya termasuk golongan mereka!"

Beliau menjawab: "Engkau termasuk mereka". 

Kemudian berdirilah seorang yang lain dan berkata: "Mohonlah kepada Allāh, mudah-mudahan saya termasuk golongan mereka!" Beliau menjawab: 'Kamu sudah didahului Ukasyah.’.” 

(Hadīts shahīh riwayat Al-Bukhāri dan Muslim) 

عُرِضَتْ عَلَـيَّ اْلأُمَـمُ

"Tampilkan kepadaku (tunjukkan kepadaku) menunjukkan ini adalah wahyu dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla melalui hadīts, menunjukkan hal tersebut atas kekuasaan Allāh"

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak berkata, "Aku melihat" tetapi beliau mengatakan,"Ditunjukkan (diperlihatkan)". Menunjukkan bahwa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak mengetahui perkara ghaib.

Berbeda dengan zaman sekarang ada orang yang mengaku mengetahui perkara yang ghaib.

فَرَأَيْتُ النَّبِـيَّ وَ مَعَهُ الرَّهَيْطُ

"Aku melihat seorang nabi yang berjalan bersama الرَّهَيْطُ"

Ar-Rahth (الرَّهَيْطُ) adalah bilangan dari tiga sampai sembilan. 

فَرَأَيْتُ النَّبِـيَّ وَ مَعَهُ الرَّهَيْطُ

Māsyā Allāh,  seorang nabi yang menghadap Allāh bersama dengan pengikut yang jumlahnya tiga sampai sembilan orang.

 وَ النَّبِـيَّ وَ مَعَهُ الرَّجُلُ وَ الرَّجُلاَنِ

"Ada juga seorang nabi yang menghadap kepada Allāh yang diikuti seorang pengikut atau dua orang pengikut" (Subhānallāh).

وَ النَّبِـيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

"Seorang nabi yang menghadap Allāh dan dia tidak memiliki pengikut sama sekali"

Hiburan untuk para dai, para ustadz dan para penceramah, ternyata ada seorang nabi yang menghadap Allāh Subhānahu wa Ta'āla tanpa pengikut (dia tidak memiliki pengikut).

Tidak benar bagi mereka yang mengatakan, "Si fulan berdakwah tetapi tidak pernah berhasil, pengikutnya cuma lima".

Jika pengikutnya hanya lima orang, jangan berkecil hati karena nabi pun ada yang hanya memiliki pengikut dua dan satu orang, bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali.

إِذْ رُفِعَ لِـي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِـي 

"Maka ditampilkan untukku kelompok yang jumlahnya banyak, dan beliau bersabda aku mengira jumlah banyak orang tersebut adalah umatku"

فَقِيلَ لِـي هَذَا مُوسَـى عَلَيْهِ السَّلاَمَ وَ قَوْمُهُ

"Dikatakan ini adalah kaumnya nabi Musa alayhissallām"

فَنَظَرْتُ فإِذَا سَـوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِـي هَذِهِ أُمَّتُكَ

Kemudian tidak lama setelah itu maka akupun melihat sekelompok yang jumlahnya banyak maka malaikat Jibrīl berkata kepadaku, 'Ini adalah umatmu'.

وَ مَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْـجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ

"Dan di antara mereka ada 70.000 yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab"

ثُـمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ 

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengungkapkan apa yang terjadi dan bangkit dari tempat duduknya, maka sesudah itu beliau masuk rumahnya.

فَخَاضَ النَّاسُ فِـي أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْـجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ

Maka orang-orang pun saling berbicara satu dengan yang lainnya, ‘Siapakah gerangan mereka itu?’

فَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمُ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَ سَلَّمَ

Ada diantara mereka yang mengatakan: ‘Mungkin saja mereka itu sahabat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam'. maka mereka adalah yang menenui kemualian dan wafat dalam keadaan tauhid 

فَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمُ الَّذِينَ وُلِدُوا فِـي اْلإِسْلاَمِ وَ لَـمْ يُشْرِكُوا بِاللهِ وَ ذَكَرُوا أَشْيَاءَ

Ada lagi yang mengatakan: ‘Mungkin saja mereka orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islām dan tidak pernah berbuat syirik terhadap Allāh.’ dan menyebutkan yang lainnya.

فَـخَرَخَ عَلَيْهِمْ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقَالَ مَا الَّذِي تَـخُوضُونَ فِـيهِ فَأَخْبَرُوهُ

Ketika Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam keluar, mereka memberitahukan hal tersebut kepada beliau. 

فَقَالَ هُمُ الَّذِينَ لاَ يَرْقُونَ وَلاَ يَسْتَرْقُونَ وَ لا يكتوون١ لاَ يَتَطَيَّرُونَ وَ عَلَى رَبِّـهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Beliau bersabda: ‘Mereka itu adalah orang yang tidak pernah minta diruqyah'

⇒ Meminta ruqyah atau jampi-jampi, nyuwun sewu ne orang jawa bilang jampi itu jamu, tapi yang di maksud di sini adalah jampi-jampi atau bacaan-bacaan.

"Mereka adalah orang yang tidak meminta di kay" (Dan tidak meminta supaya lukanya ditempel dengan besi yang dipanaskan)"

⇒ Yang di maksud kay adalah seseorang yang melakukan pengobatan dengan cara dipanaskan besi kemudian di sundutkan kepada urat-urat tertentu.

"Dan tidak pernah melakukan tathayyur"

⇒ Tathayyur adalah merasa pesimis atau bernasib sial atau meramalkan nasib buruk karena melihat bintang (burung) atau apa saja

Misalnya:

Melihat burung perendja, bakal ada tamu.
Melihat burung gagal, bakal sial.

In syā Allāh yang bisa memberikan manfaat dan mudharat hanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla semata, yang lainnya tidak bermanfaat.

"Serta mereka bertawakkal kepada Rabb mereka"

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

"Dan hanya kepada Allāh sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal"

(QS. Ibrahim: 11)

وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُتَوَكِّلُونَ

"Dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri"

(QS. Yusuf: 67)

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

 لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُم كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا 

“Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allāh sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang”

(Jami’ut Tirmidzī, Kitabuz Zuhud, Bab Fit Tawakkal ‘Alallah, no. 2344, Al-Musnad no. 205, 1/243 )

نكتفي بهذا القدر

lain waktu kita sambung lagi In syā Allāh. 

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

________

NABI IBROHIM BAPAKNYA PARA NABI

🌍 BimbinganIslam.com
🔆 Kamis, 22 Jumadil Akhir 1442 H/ 04 Februari 2021 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqoh 76: Nabi Ibrohim Bapaknya para Nabi

〰〰〰〰〰〰〰

*NABI IBROHIM BAPAKNYA PARA NABI*

بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله

قال الله في كتاب الكريم : يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

وقال تعالى : إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةًۭ قَانِتًۭا لِّلَّهِ حَنِيفًۭا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

"Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allāh dan hanīf. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)" 

(QS. An-Nahl: 120)

قال الله في كتاب الكريم : يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Ikhwan akhawatiy fīllāh rahimakumullāh. 

Syukur kita kehadirat Allāh atas nikmat dan juga karunianya kembali kita bersama-sama berusaha untuk menambahkan ilmu, dan Allāh menyebutkan:

وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ 

"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah"

(QS. Al-Baqarah: 197)

وقال تعالى: وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱللَّه

"Dan bertakwalah kepada Allāh niscaya Allāh akan memberikan kalian ilmu"

(QS. Al-Baqarah: 282)

Materi kita masih di kitāb At-Tauhīd yaitu pada bab ketiga, "Barangsiapa mengamalkan tauhīd dengan semurni-murninya pasti akan masuk surga tanpa hisab".

من حقق التوحيد دخل الجنة بغير حساب

"Barangsiapa yang mengamalkan tauhīd dengan sebaik-baiknya maka Allāh memberikan petunjuk melalui lisan Rasūl-Nya, maka dia akan masuk surga tanpa hisab"

Begitu kita berbicara hisab maka semua orang berharap untuk memperoleh hisab yang mudah.

فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابٗا يَسِيرٗا

"Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah"

(QS. Al-Inshiqoq: 8)

Semua orang beriman berharap untuk memperoleh hisab yang mudah.

Āli bin abi Thālib suatu saat pernah berkata, "Selagi kalian berada di dunia banyaklah beramal. Ingat suatu saat nanti yang ada adalah hisab dan tidak ada amal".

Dan di dunia ini adanya adalah amal dan tidak ada hisab.

نسأل الله التوفيق و السلامة

"Kita memohon kepada Allāh agar diberi kemudahan untuk melakukan ketaatan dan diberi keselamatan"

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman: 

إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةًۭ قَانِتًۭا لِّلَّهِ حَنِيفًۭا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

"Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allāh dan hanīf. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)"

(QS. An-Nahl: 120)

Ibrahim adalah putra Azar dan Ibrahim merupakan Abū Al-Anbiyya (bapaknya para nabi). Sesungguhnya nabi Ibrahim alayhissallām telah memperoleh karunia besar yaitu beliau diberikan keturunan dari garis Hajar seorang yang bernama Ismail dan nabiyullāh Ismail alayhissallām beliau besar di sekitar Mekkah (Ka'bah).

Adapun putra Ibrahim yang lain bernama Ishaq dan Ishaq adalah putra nabi Ibrahim dari garis atau jalur Sarah. 

Nabi Ismail tinggal di Mekkah dan beliau tidak memiliki keturunan yang menjadi nabi kecuali Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

Adapun Ishaq maka keturunan beliau adalah para nabi, dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan generasi setelah Ishaq yaitu nabiyullāh Ya'qub. 

Dari nabi Ya'qub muncul banyak keturunan dan yang menjadi nabi adalah Yusuf alayhissallām. 

Yusuf adalah orang yang mulia, ayahnya mulia yaitu nabi Ya'qub kakeknya juga mulia yaitu nabi Ishaq alayhissallām, kakek buyutnya juga mulia yaitu nabiyullāh Ibrahim alayhissallām.

Dari Ya'qub banyak keturunan di antaranya adalah Yahudza, dan dari Yahudza muncul banyak nabi di antaranya adalah nabiyullāh Zakariyya, nabi Yahya dan yang terakhir adalah nabi Isa.

Dari garis Lawa muncul banyak nabi di antara nabi Harun dan nabi Musa.

Allāh berfirman: 

إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةًۭ قَانِتًۭا لِّلَّهِ

Sesungguhnya Ibrahim alayhissallām adalah seorang  أُمَّةًۭ (imam).

Subhānallāh. 

Allāh mengungkapkan nabiyullāh Ibrahim dengan ungkapan أُمَّةًۭ satu orang tetapi memiliki nilai jumlah yang banyak.

MasyaAllah, Allāh muliakan nabi Ibrahim alayhissallām. 

أُمَّةًۭ قَانِتًۭا لِّلَّهِ

Dikatakan قَانِتًۭا adalah dawwamu tha'ah yaitu orang yang senantiasa melakukan ketaatan untuk Allāh. 

Subhānallāh.

Berikutnya قَانِتًۭا , qanit dawwamu tha'ah orang yang senantiasa melakukan banyak ketaatan untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

Dan nabi Ibrahim adalah seorang nabi yang memiliki agama Hanifiyah.

Didalam ayat lain Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengatakan: 

فَٱتَّبِعُوا۟ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًۭا 

"Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus"

(QS. Āli-Imrān: 95)

Disini dikatakan:

قَانِتًۭا لِّلَّهِ حَنِيفًۭا

Jika kita melihat telunjuk kita (orang jawa bilang driji) coba kita jadikan antara jari tengah dengan ibu jari seperti angka 5 Arab.

Berikutnya telunjuk kita (jari kita) coba diluruskan ke arah atas kemudian kita ambil penggaris maka akan kita lihat bahwasanya telunjuk kita tidak lurus 100 % tetapi condong ke kanan sedikit,  itu lah hanīf lurus tapi condong ke kanan sedikit.

وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

"Dan dia bukan termasuk orang-orang yang menyekutukan Allāh"

Disini adalah berita dari Allāh bahwasanya nabi Ibrahim alayhissallām adalah orang pilihan karena beliau أُمَّةًۭ, beliau adalah قَانِتًۭا dan beliau adalah حَنِيفًۭا.

Diayat lain dikatakan:

فَٱتَّبِعُوا۟ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًۭا

"Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus" 

(QS. Āli-Imrān: 95)
 
Allāh berfirman: 

وَٱلَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ

"Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun)"

(QS. Al-Mu'minun: 59)

Menyebutkan kemuliaan mereka yang tidak menyekutukan Allāh dan sungguh hina mereka yang menyekutukan Allāh. 

نكتفي بهذا القدر

Lain waktu kita sambung lagi insyaAllah

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

________

BUAH DARI TAUHĪD BAGIAN KEDUA

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 21 Jumadil Akhir 1442 H/ 03 Februari 2021 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqoh 075: Buah Dari Tauhīd Bagian Kedua

〰〰〰〰〰〰〰

*BUAH DARI TAUHĪD BAGIAN KEDUA*

بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله, رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد نبيا ورسولا رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ رْزُقْنيِ فَهْماً 


Kita lanjutkan materi kita, masih pada pembahasan Kitāb At-Tauhīd. 


الرابعة‏:‏ تفسير الآية التي في سورة الأنعام

⑷ Penjelasan dari ayat yang terdapat di dalam surat Al-An'ām. 

Yaitu firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يَلْبِسُوٓا۟ إِيمَـٰنَهُم بِظُلْمٍ أُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk"

(QS. Al-An’ām: 82)

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟

"Mereka orang-orang yang beriman"

Allāh memulikan mereka (hamba-hamba Allāh) 

Perhatikan! Allāh menyebutkan ءَامَنُوا۟ (beriman) dan bertakwa. 

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" 

(QS. Al-Baqoroh: 183)

Dibalik ketakwaan maka di situ ada iman. Dan Allāh memulikan mereka (orang-orang yang beriman) karena mereka diharapkan untuk senantiasa bertakwa sebagaimana setiap hari Jum'at kita mendengarkan khatib berkata: 

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.....

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allāh dengan sebenar-benar takwa..."

(QS. Āli-Imron:102)

Disini dikatakan:

وَلَمْ يَلْبِسُوٓا۟ إِيمَـٰنَهُم بِظُلْمٍ

"Dan mereka tidak mencampur-adukan keimanan mereka dengan kezhaliman apapun"

Yalbisū (يَلْبِسُوٓا۟) adalah Yakhtalithu (يختلط)

Apa yang menjadi janji Allāh? 

أُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

"Mereka akan memperoleh ketenangan dan petunjuk"

Karena mereka berdiri di atas ilmu, mengamalkan ilmu dan mengambil petunjuk dengan ilmu.

Orang yang memiliki jiwa yang bersih maka dia akan memperoleh ketenangan dan mereka akan mendapatkan petunjuk.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يَلْبِسُوٓا۟ إِيمَـٰنَهُم بِظُلْمٍ أُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah yang akan mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk"

(QS. Al-An’ām: 82)

الخامسة‏:‏ تأمل الخمس اللواتي في حديث عبادة‏
  
⑸ Anjuran untuk memperhatikan 5 (lima) perkara yang terdapat di dalam hadīts Ubādah.

Dalam pembahasan yang lewat telah kita sampaikan: 

عن عُبادة بن الصامت  قال: قال رسولُ الله ﷺ: مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَل

Dari Ubādah bin Shāmit (semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla meridhainya) Rosūlulloh shollallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

"Barangsiapa yang bersaksi bahwasanya tidak ada dzat yang berhak untuk disembah kecuali Allāh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad Rosulullah adalah hamba dan Rasūl Allah, begitu juga Isa adalah hamba Allah serta Rasul Allah dan kalimat yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla kirimkan kepadanya, kalimat Allāh yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan kepada Maryam dan ruhnya dari Allāh, surga adalah hak, meyakini bahwasanya neraka adalah hak, maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan memasukan dia ke dalam surga sesuai dengan amal yang dia lakukan."

(Hadīts riwayat  Bukhori no 3435 dan Muslim no 28)

Masing-masing hendaknya memperhatikan hadīts Ubādah bin Shāmit yang mulia ini.

السادسة‏:‏ أنك إذا جمعت بينه وبين حديث عتبان، وما بعده تبين لك معنى قوله‏:‏ لا إله إلا الله وتبين لك خطأ المغرورين

⑹ Sesungguhnya apabila engkau mengumpulkan hadīts, karena di dalam memahami dalīl kalau sekiranya dalīl tersebut berdiri sendiri, maka kita pahami sebagaimana datangnya hadīts tersebut, sebagaimana penjelasan para sahabat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (As-Sholafus Sholih). Akan tetapi jika dalīl tersebut bisa digabungkan maka di jama' (dikumpulkan) sehingga kita bisa memahami dua hadīts tanpa mengesampingkan yang lainnya.

Dikatakan: 

أنك إذا جمعت بينه وبين حديث عتبان،

"Sekiranya engkau menggabungkan hadīts Ubādah ibn Shāmit dan hadīts Utbān yang berbunyi:

فإنَّ الله حرَّم على النار مَن قال: " لا إله إلا الله" يبتغي بذلك وجه الله"

"Sesungguhnya Allāh mengharamkan neraka bagi siapa saja yang mengatakan لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ (Tidak ada Dzat yang berhak untuk disembah kecuali Allāh) diharapkan untuk memperoleh wajah Allāh"

وما بعده 

Dan hadīts sesudahnya yaitu hadīts Abū Said Al-Khudriy :

وعن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال :  قال موسى عليه السلام : يا رب علمني شيئاً أذكرك وأدعوك به ، قال : قل يا موسى لا إله إلا الله . قال : كل عبادك يقولون هذا ، قال : يا موسى لو أن السموات السبع وعامرهن غيري والأرضين السبع في كفة ، ولا إله إلا الله في كفة ، مالت بهن لا إله إلا الله ( رواه ابن حبان والحاكم وصححه )

Dari Abī Sa'id Al Khudriy Mālik ibn Sinan (semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla meridhainya), dari Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam Beliau bersabda: Musa alayhissallām berkata, "Ya Rabbi, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dengannya aku mengingat-Mu dan berdo'a kepada-Mu." 
"Wahai Musa, ucapkanlah kalimat: لا إله إلا الله." 
"Ya Robbi, semua hamba-Mu mengucapkannya". Maka Allah berfirman kepadanya (yang artinya), 
“Wahai Musa, seandainya ketujuh langit dan penghuninya selain Aku, serta ketujuh bumi diletakkan pada salah satu daun timbangan, sedangkan: لا إله إلا الله pada daun timbangan yang lain, maka niscaya lebih berat timbangan: لا إله إلا الله.”

(Hadīts riwayat Ibnu Hibban di dalam Shohīhnya dan Hakim).

 وما بعده تبين لك معنى قوله‏:‏ لا إله إلا الله وتبين لك خطأ المغرورين

Maka akan jelas bagimu kesalahan orang-orang yang tertipu.  

السابعة‏:‏ التنبيه للشرط الذي في حديث عتبان

⑺ Tanbih (peringatan) suatu hal yang harus kita perhatikan.

Tanbih sesuatu yang harus kita mengerti, di mana di dalam hadīts Utbān dikatakan: 

فإنَّ الله حرَّم على النار مَن قال: " لا إله إلا الله" يبتغي بذلك وجه الله"

Jadi seseorang yang mengucapkan kalimat Tauhīd hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla semata.

Ini harus kita perhatikan di mana hamba tersebut mengucapkan kalimat Tauhīd bukan asal-asalan tetapi dia memiliki tujuan yang mulia yaitu ابتغاء وجه الله.

In syā Allāh dikesempatan yang lain kita lanjutkan.

نكتفي بهذا القدر
سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
و صلى الله على نبينا محمد و على آله وصحبه و سلم
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

________

BUAH DARI TAUHĪD BAGIAN PERTAMA

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 20 Jumadil Akhir 1442 H/ 02 Februari 2021 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqah 074: Buah Dari Tauhīd Bagian Pertama 

〰〰〰〰〰〰〰

*BUAH DARI TAUHĪD BAGIAN PERTAMA*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله

نكمل الحديث

Kita lanjutkan materi kita, masih di Kitāb At Tauhīd.

خطايا‏ ، جمع خطيئة، وهي الذنب

Jamak:  الخطيئة adalah: خطيئة , yaitu: الذنب

Al khathaya (الخطيئة) memiliki arti adz dzunub (الذنب).

رب اغْفِرْ لِي ذُنُوْبِي 

Dikatakan: 

ولو كانت صغيرة؛ لقوله تعالى‏:‏ ‏{‏بَلَى مَن كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ‏}‏ ‏[‏البقرة‏:‏ 81‏]‏‏.‏

Sekalipun dosa itu kecil sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

"Barangsiapa yang melakukan keburukan (berbuat dosa) dan ia telah diliputi oleh dosanya..."

(QS. Al Baqarah: 81)

Dalam ayat lain dikatakan:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًۭا يَرَهُ ۞ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍۢ شَرًّۭا يَرَهُۥ

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula."

(QS. Al zalzalah: 7-8)

 لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأرضِ خطَايا ثُمَّ لَقِيْتَني لا تُشْرِكْ بِيْ شَيْئًَا

"Sekiranya engkau datang kepadaku dengan membawa dosa sebesar bumi (seberat bumi atau sejumlah penghuni bumi) kemudian engkau menjumpaiku dan engkau tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun."

لا تُشْرِكْ بِيْ شَيْئًَا

Menunjukkan tekanannya pada perkara: شرك (syirik), karena Allāh memberikan janji. 

لأتيتك بقرابها مغفرة‏

"Niscaya aku akan memberikan yang sepadan untukmu, sebesar ampunan itu pula."

Subhānallāh.

Maka syaratnya adalah tidak menyekutukan Allāh, karena disebutkan di dalam sebuah hadīts, Allāh firmankan: 

لأتيتك بقرابها مغفرة‏

"Niscaya Aku akan memberikan kepada engkau ampunan yang semisal dosa yang telah engkau berikan."

Māsyā Allāh.

Seseorang datang menghadap Allāh dengan membawa dosa sebesar dosa penduduk bumi dan Allāh akan memberikan ampunan sebesar itu pula.

Seorang hamba datang kepada Allāh dengan dosa yang beratnya seberat bumi maka Allāh akan memberikan ampunan seberat bumi itu pula.

Dengan syarat:

 لا تُشْرِكْ بِيْ شَيْئًَا 

"(Hamba tersebut) tidak pernah menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Dalam hal peribadatan: لأتيتك بقرابها مغفرة‏ niscaya Allah  akan memberikan kepada engkau yang semisalnya (ampunan).

Subhānallāh. 

Maka di sini adalah kasih sayangnya Allāh. 
Maka di sini adalah rahmat Nya Allāh. 
Maka di sini bisa kita perhatikan bagaimanakah kewajiban yang harus dilakukan oleh hamba, di mana dia tidak boleh menyekutukan Allāh. 

Seseorang yang tidak menyekutukan Allāh sekalipun, meskipun dia melakukan kemaksiatan, melakukan perbuatan-perbuatan dosa, maka ampunan Allāh Subhānahu wa Ta'āla meliputi segalanya.

فيه المسائل

Beberapa poin yang bisa kita ambil pelajaran dari materi yang telah lewat yaitu dalam pembahasan: فضل التوحيد وما يكفر من الذنوب
, keutamaan tauhīd dan apa yang bisa menghapus dosa. Dikatakan:

الأولى‏:‏ ‏"‏سعة فضل الله‏"‏

⑴ Luasnya karunia Allāh.

Fadhl (فضل) adalah karunia.
Fadhl (فضل) adalah nikmat.
Fadhl (فضل) adalah sesuatu yang lebih.

Nabiyullāh Sulaiman alayhissallām, tatkala beliau banyak mendapatkan nikmat dan karunia beliau mengatakan: 

هذا فضل ربي

"Ini adalah nikmat dan karunia dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang tidak ternilaikan."

Maka dikatakan : سعة فضل الله‏ , kemuliaan yang ada disisi Allah. Yaitu,
‌orang yang bertauhīd akan memiliki kemuliaan. 
‌Orang yang bertauhīd akan mendapatkan nikmat. 
‌Orang yang bertauhīd akan mendapatkan karunia.

الثانية‏:‏ كثرة ثواب التوحيد عند الله

⑵ Banyaknya pahala di sisi Allāh.

Katsratuh (كثرة) maknanya melimpahnya.
Katsratuh (كثرة) maksudnya banyaknya 
pahala tauhid disisi Allah

Pada pembahasan yang lewat telah kami sampaikan bahwasanya ada shahabat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang diutus untuk ikut sariyyah.

Ada istilah ghazwah ada istilah syariyyah.

‌Ghazwah adalah peperangan yang diikuti oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam ikut di antara mereka.

‌Sariyyah adalah peperangan yang terjadi atas perintah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak ikut di antara mereka.

Shahabat tersebut memiliki kebiasaan jika sedang melakukan shalat fardhu di waktu shalat jahr, beliau tidak pernah terlewatkan sekalipun membaca surat Al Ikhlās (tauhīd).

Kemudian ada di antara shahabat yang berkata, "Sungguh aku akan adukan ini kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam." Dan sahabat ini pun berkata, "Silahkan kalau kalian akan mengangkat imam selain aku."

Dan dikatakan bahwasanya shahabat yang mengimami shalat adalah orang yang paling baik bacaannya. Dan demikian di zaman Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, tatkala mereka mengangkat imam, maka dicari yang paling baik bacaannya dan paling banyak hapalannya.

يَؤُمُّكم أَقْرَؤُكمْ لِكِتَابِ اللَّهِ

"Hendaklah yang mengimami shalat suatu kaum adalah orang yang paling baik bacaan Al Qur'ānnya."

(Hadīts shahīh riwayat Muslim)

Begitu shahabat ini sampai di kota Madīnah, kemudian dia mengadukan hal tersebut kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. 

Shahabat ini berkata, "Wahai Nabiyullāh, selama engkau mengirim kami untuk sariyyah, Si Fulan ketika dia mengimami  shalat dia tidak pernah lepas membaca surat Al Ikhlās." 

Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam meminta shahabat tadi untuk memanggil Si Fulan, maka didatangkanlah orang yang dimaksud begitu dia hadir kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pun bertanya: 

ما حمل على ذلك : قال صلى الله عليه وسلم 

"Apakah yang menyebabkan engkau senantiasa membaca surat Al Ikhlās?"

Kemudian Si Fulan (shahabat) berkata:

لأنني أُحِبُّه

"Karena sesungguhnya aku mencintai surat Al Ikhlās."

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّه

"Ketahuilah bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla pun mencintai surat Al Ikhlās."

(HR Bukhari no 7375)

Dan di dalam riwayat lain dikatakan bahwasanya surat Al Ikhlās memiliki nilai: ثُلُثَ القُرْآنِ (1/3 Al Qur'ān).

Dan di poin kedua dikatakan:

كثرة ثواب التوحيد عند الله

"Banyaknya pahala tauhīd disisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

الثالثة‏:‏ تكفيره مع ذلك للذنوب

⑶ Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan memberikan ampunan dosa sekalipun dosa yang dilakukan sangat banyak.

Hendaknya seorang mukmin tidak boleh berputus asa dari rahmat Allāh karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah Dzat yang Maha Karīm, Dzat yang Maha Kaya.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla, Karīm terhadap hamba-Nya.

وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ 

"Allāh Subhānahu wa Ta'āla sangat kasih sayang terhadap hamba-Nya."

(QS. Al Baqarah: 207)

Subhānallāh, dan Allah berfirman: 

 وَلَا تَا۟يْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ

"Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allāh."

(QS. Yusuf: 87)

Nabi Ya'qub alayhissallām tatkala memerintahkan kepada saudara-saudara Yusuf agar mencari Yusuf, maka berangkatlah saudara-saudara Yusuf dari negeri Kan'an mencari keberadaan Yusuf di negeri Mesir. 

Nabi Ya'qub berkata :

يَـٰبَنِىَّ ٱذْهَبُوا۟ فَتَحَسَّسُوا۟

"Wahai anak-anakku, pergilah carilah Yusuf!"

Tahassus (تحسس) berbeda dengan tajassus (تجسس).

‌Tajassus adalah seseorang berusaha untuk mencari keburukan yang ada pada seseorang.

‌Tahassus adalah seseorang berusaha untuk mencari kebaikan dan kebaikan itu yang diharapkan.

Dan Nabi Ya'qub berkata: 

وَلَا تا۟يْـَٔسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ

"Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allāh."

وَرَحۡمَتِي وَسِعَتۡ كُلَّ شَیۡءࣲۚ

"Rahmat Allāh Subhānahu wa Ta'āla meliputi segala sesuatu,"

(QS. Al A'rāf : 156)

نكتفي بهذا القدر

lain waktu kita sambung lagi, In syā Allāh. 


سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

________

ALLĀH MENGAMPUNI SEMUA DOSA HAMBA-NYA

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 19  Jumadil Akhir 1442 H/ 01 Februari 2021 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqoh 073: Allāh Mengampuni Semua Dosa Hamba-Nya

〰〰〰〰〰〰〰

*ALLĀH MENGAMPUNI SEMUA DOSA HAMBA-NYA*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، 

و نكمل الحديث

Kita lanjutkan materi kita, masih di Kitāb At-Tauhīd.

وللترمذي

Bisa Tirmidzī, bisa Turmudzī, bisa Tarmudzī, akan tetapi yang lebih ma'ruf adalah Tirmidzī atau Turmudzī.

وعن أنس ، رضي الله عنه قال‏:‏” سمعت رسول الله ، صلى الله عليه وسلم يقول‏:‏ “قال الله تعالى‏:‏ يا ابن آدم لو أتيتني بقراب الأرض خطايا، ثم لقيتني لا تشرك بي شيئاً، لأتيتك بقرابها مغفرة‏"‏ 

قال المؤلف رحمه الله و للترمذي و حسّنه

Hadīts ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzī. 
Dan beliau berkata derajat  hadīts ini hasan.

Anas adalah Anas ibn Mālik, sahabat Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam yang mulia, beliau adalah sahabat yang banyak meriwayatkan hadīts dan beliau merupakan hadiah untuk Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam dari ibunya.

Para sahabat berjuang dengan apa yang mereka miliki, ada yang berjuang dengan harta, ada yang berjuang dengan jiwa dan raganya. 

Ibunda Anas bin Mālik beliau pun ingin berjuang dengan memberikan yang terbaik untuk Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam, akan tetapi beliau tidak memiliki sesuatu yang terbaik untuk diberikan kepada Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam, karena harta yang beliau miliki terbatas, makanan yang beliau miliki pun terbatas.

Para sahabat Nabi (shahabiyat) semua mencintai Rasūlullāh dengan kecintaan yang luar biasanya, maka ibunda Anas  menghadiahkan Anas untuk Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam dengan harapan agar Anas bisa berbuat yang terbaik untuk Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam.

Dan Anas merupakan sahabat  yang melayani Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam, beliau memberikan yang terbaik untuk Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam.

Beliau mengambilkan air wudhu, menyiapkan apa yang perlu disiapkan untuk keperluan Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam. 

Apakah kata Anas? 

Anas berkata: 

"Aku bersama Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam sekian lama dan Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam tidak pernah menegurku, membentakku dengan berkata, 'mengapa tidak berbuat demikian dan demikian'."

Tidak ! Subhānallāh.

Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam adalah orang yang terkenal baik.

سمعت رسول الله ، صلى الله عليه وسلم يقول‏

Kebanggaan buat sahabat Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam.

Jika mendengar sesuatu maka mereka mengatakan, 

"Aku mendengar dari Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam".

Jika mereka melihat sesuatu dari perbuatan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, mereka akan mengatakan,

"Aku melihat Nabi"

Dan di sini Anas berkata, "سمعت".

Subhānallāh.

Kebanggaan para sahabat Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam di mana sahabat Anas berkata : "سمعت". Dia mendengar dari orang yang terbaik, di dunia ini.

Subhānallāh.

Sahabat Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam adalah orang-orang yang terbaik, dan Anas bin Mālik berkata,

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: قال  الله تعالى:

"Aku mendengar Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam bersabda, Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman"

Hadīts ini adalah hadīts qudsi. 

√ Hadīts Qudsi adalah Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam meriwayatkan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla 

√ Hadīts bukan hadīts qudsi adalah hadīts yang diriwayatkan dari Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam (para sahabat meriwayatkan dari Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam)

Dan di sini Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam meriwayatkan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla sehingga hadīts ini dinamakan dengan hadīts qudsi.

 قال الله تعالى‏:‏ يا ابن آدم

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

"Wahai anak Adam"

Menunjukkan penetapan Abdul Bashar, yang di maksud Abdul Bashar adalah Adam alayhissalām. 

Adam alayhissalām adalah orang yang pertama Allāh Subhānahu wa Ta'āla ciptakan di antara jenis manusia.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman: يا ابن آدم "Wahai anak cucu Adam"  menunjukkan mulianya manusia.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ 

"Dan sungguh telah kami muliakan anak cucu Adam"

(QS. Al-Isro: 70)

یَـٰبَنِیۤ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِینَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدࣲ 

"Wahai anak cucu Adam, ambillah perhiasan kalian tatkala kalian hendak masuk masjid"

(QS. Al-A'rāf: 31)

Disini Allāh firmankan یَـٰبَنِیۤ ءَادَمَ, bantahan buat mereka yang mengatakan bahwasanya manusia adalah Keturunan kera.

Karena yang diajak bicara di sini adalah anak cucu Adam, maka Allāh firmankan, "یَـٰبَنِیۤ ءَادَمَ (wahai anak cucu Adam)".

و في الحديث آول ما خلق الله آدم

Yang pertama kali Allāh Subhānahu wa Ta'āla ciptakan adalah Adam alayhissalām,  disebutkan di dalam hadīts:

وَطُولُهُ سِتُّوْنَ ذِرَاعًا

"Tinggi  Adam alayhissalām adalah 60 hasta"

Satu hasta kurang lebih 45 sampai 47 cm, lalu kalikan 60, sehingga Adam alayhissalām memiliki postur tubuh yang tinggi.

Bagaimanakah anak cucunya (anak turunannya)?

Maka Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan:

فَلَمْ يَزَلْ الْخَلْقُ يَنْقُصُ حَتَّى الآنَ

"Penciptaan manusia tahun demi tahun (generasi demi generasi) semakin pendek"

(Hadīts shohīh riwayat Al-Bukhori nomor 3326 dan Muslim nomor 2841) 

 يا ابن آدم لو أتيتني بقراب الأرض خطايا

"Sekiranya engkau menjumpai aku"

Disini diungkapkan dengan fi'il madhi, penetapan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla bahwasanya semua manusia akan menghadap Allāh. 

Dimana Allah tidak berfirman:

لو تأتيني 

"Sekiranya engkau mendatangiku"

لو أتيتني

Fi'il madhi yang menunjukkan perbuatan yang telah terjadi (lampau).

Apakah yang didatangkan oleh hamba ini tatkala menghadap Allāh? 

Dikatakan لو أتيتني sekiranya engkau menghadapku atau menemuiku بقراب الأرض.

بقراب الأرض: ما يقاربها، إما ملئاً، أو ثقلاً، أو حجماً

قراب يقرابها

Yang semisal dengan besarnya bumi (besarnya bola bumi) إما ملئاً, bisa jadi semua apa yang di atasnya أو ثقلاً ataukah beratnya sesuatu yang senilai dengan bumi أو حجماً atau kah bentuknya.

Subhānallāh.

بقراب الأرض

Semisalnya dengan bumi.

Apanya? 

Penghuninya, bisa jadi beratnya atau bentuknya. 

Apakah yang sebesar bumi?

Maka dikatakan:

خطايا

نكتفي بهذا القدر

lain waktu kita sambung lagi, In syā Allāh. 

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

________

Sabtu, 27 Februari 2021

KEUTAMAAN KALIMAT TAUHID: : لا إله إلا

🌍 BimbinganIslam.com
🔆 Kamis,15 Jumadil akhir 1442 H / 28 Januari 2021
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqoh 72 : Keutamaan Kalimat Tauhid

〰〰〰〰〰〰〰


*KEUTAMAAN KALIMAT TAUHID: : لا إله إلا الله.*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد نبيا ورسولا رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ رْزُقْنيِ فَهْماً 

Ikhwan wa akhawatiy fīllāh rahimakumullāh. 

Kita lanjutkan:

وعن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال :  قال موسى عليه السلام : يا رب علمني شيئاً أذكرك وأدعوك به ، قال : قل يا موسى لا إله إلا الله . قال : كل عبادك يقولون هذا ، قال : يا موسى لو أن السموات السبع وعامرهن غيري والأرضين السبع في كفة ، ولا إله إلا الله في كفة ، مالت بهن لا إله إلا الله ( رواه ابن حبان والحاكم وصححه )

Dari Abī Sa'id Al Khudriy Mālik ibn Sinan (semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla meridhainya), dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam Beliau bersabda: Musa alayhissallām berkata, "Ya Rabbi, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dengannya aku mengingat-Mu dan berdo'a kepada-Mu." "Wahai Musa. ucapkanlah kalimat: لا إله إلا الله." "Ya Rabbi, semua hamba-Mu mengucapkannya." Maka Allah berfirman kepadanya (yang artinya), “Wahai Musa, seandainya ketujuh langit dan penghuninya selain Aku, serta ketujuh bumi diletakkan pada salah satu daun timbangan, sedangkan: لا إله إلا الله pada daun timbangan yang lain, maka niscaya lebih berat timbangan: لا إله إلا الله.”

(Hadīts riwayat Ibnu Hibban di dalam Shahīhnya dan Hakim).

Subhānallāh.

Bagaimana Nabiyullāh Musa alayhissallām memohon kepada Allah, beliau berkata:

"Wahai Tuhan-Ku." 

Ini menunjukkan ketakwaan dan keimanan yang luar biasa yang dimiliki oleh Nabiyullāh Musa alayhissallām. 

Nabi Musa memanggil Allāh dengan, "Ya Rabb (wahai Tuhan-Ku)." Subhānallāh.

Demikianlah seorang mukmin senantiasa memohon kepada Allāh.

√ Jangan sampai setiap hari kita shalat
tetapi tidak pernah berdo'a kepada Allāh.  

√ Jangan sampai kita lewati suatu hari kecuali kita isi di dalamnya dzikir kepada Allāh. 

√ Jangan sampai kita lewati keciali membaca Al Qur'ān, paling tidak kita mendengarkan Al Qur'ān.

Demikianlah seorang mukmin mengisi waktu yang dia miliki yaitu untuk kebaikan. Dan Nabiyullāh Musa alayhissallām berkata dan memohon kepada Allāh, "Ajarkan kepadaku sesuatu."

Maka orang yang beriman hendaknya berdo'a, sebagaimana sabda Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan:

الدعاء سلاح المؤمن

"Do'a adalah senjata orang beriman."

Umar bin Khaththāb radhiyallāhu berkata, "Aku tidak pernah mengkhawatirkan apakah do'aku diijabah atau tidak, tapi yang lebih aku khawatirkan adalah kalian lupa berdo'a dan memohon kepada Allāh."

Setiap hari, kita membutuhkan Allāh, ingat firman Allāh:

 ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ

"Allāh Subhānahu wa Ta'āla tempat bergantung."

(QS. Al Ikhlās: 2)

Maka manusia menjadikan semua urusan yang dimiliki, dia pasrahkan kepada Allāh. 

علمني شيئاً أذكرك وأدعوك به

"Ajarkan aku sesuatu agar aku bisa mengingatkan Engkau dan memanggil Engkau."

وليست جواب الدعاء فموسى عليه الصلاة السلام طلب أمرين

Yang diinginkan Musa bukan di ijabahnya do'a akan tetapi Musa Alayhissallām meminta kepada Allāh dua hal (yaitu mengingat Allāh dan berdo'a kepada-Nya).

فأجاب الله بقوله لا إله إلا الله 

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla menurunkan ayat atau memberikan suatu jawaban, memberikan suatu pernyataan, "Wahai Musa ucapkanlah kalimat: لا إله إلا الله."

Dikatakan:

وهذه الجملة ذكر متضمن للدعاء

Maka jumlah ini adalah sebagai bentuk penyebutan yang di dalamnya ada dzikir yang terkandung di dalamnya pula yaitu do'a.

لأن ذاكر لا يريد رضى الله عنه

Karena sesungguhnya orang-orang yang mengingat Allāh  berharap untuk memperoleh keridhaan darinya.

والوصول إلى دار كرماته

Dan dia berharap untuk sampai pada suatu keadaan di mana dia memperoleh tempat yang mulia. 

إذن فهو ذكر متضمن للدعاء

Maka (kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ ) ini mengandung di dalamnya yaitu dzikir dan masuk di dalamnya berdo'a.

Maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla firmankan:

قل يا موسى لا إله إلا الله 

"Wahai Musa, katakanlah لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ."

Ucapkanlah kalimat Tauhīd, Subhānallāh.

Musa alayhissallām memohon kepada Allāh untuk diajarkan sesuatu yang di dalam ada
dzikir (mengingat Allāh) dan mengandung do'a  di dalamnya.

Juga dikatakan :

أفضل الذكر فاعلم أنه لا إله إلا الله

Dzikir yang paling utama ketahuilah bahwa ia adalah:  لا إله إلا الله.

Diayat lain dikatakan :

فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسْتَغْفِرْ لِذَنۢبِكَ

"Ketahuilah tidak ada dzat yang berhak disembah kecuali Allāh dan mohonlah ampunan bagi dosamu."

(QS. Muhammad: 19)

Begitu Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan pernyataan dan pengajaran kepada Musa. 

Nabi Musa mengatakan:

كل عبادك يقولون هذا

"Ya Rabbi, semua hamba-Mu mengucapkannya."

Syaikh Utsaimin rahimahumullāh memberikan penjelasan: 

ليس المعنى أنه كلمة هينة كل يقولها لأن موسى يعلم أعظم هذه الكلمة

Kalimat:  لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ bukan kalimat yang remeh temeh, ucapan tersebut diucapkan oleh hamba-hamba Allāh. 

لأن موسى يعلم أعظم هذه الكلمة

Karena sesungguhnya Musa alayhissallām mengetahui kandungan di dalam kalimat ini ( لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ).

ولكنه أراد شئا يختص به

Akan tetapi Musa alayhissallām berharap dari Allāh agar Musa mendapatkan suatu pengajaran dan pengajaran tersebut adalah khusus baginya (karena menjadi suatu hal yang maklum orang mengucapkan kalimat Tauhīd).

Orang mengenalnya, orang-orang Islām, orang-orang mukmin senantiasa mengucap dan membacanya.

Musa alayhissallām bukan menafi'kan atau meniadakan apa yang terkandung di dalam kalimat Tauhīd karena Beliau adalah seorang nabi, seorang rasul Allāh. 

Maka Beliau memohon kepada Allāh agar diberi suatu ajaran yang spesial (khusus) baginya.

In syā Allāh dikesempatan lain kita akan melanjutkan.

نكتفي بهذا القدر

أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

__

LARANGAN MENUDUH ORANG MUNAFIK BAGIAN KEDUA

🌍 BimbinganIslam.com
🔆 Rabu,14 Jumadil akhir 1442 H / 27 Januari 2021
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc. 
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqoh 71: Larangan Menuduh Orang Munafiq bagian kedua

〰〰〰〰〰〰〰


*LARANGAN MENUDUH ORANG MUNAFIK BAGIAN KEDUA*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد نبيا ورسولا رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ رْزُقْنيِ فَهْماً 


Kita lanjutkan materi kita masih di Kitāb At-Tauhīd.

Disini Rpsūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam memberikan pengajaran kepada para sahabat yaitu siapa saja yang mengatakan kalimat,
 لا إله إلا الله محمدا رسول الله
 adalah bertauhīd.

Dan Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam tidak memberikan pernyataan bahwasanya orang tersebut lepas dari apa yang menjadi pernyataan para sahabat.

إنما أتى بعبارة عامة

Karena sesungguhnya yang disabdakan Nabi adalah ungkapan sifat hadīts secara umum yaitu Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengharamkan neraka bagi siapa saja yang mengatakan
 لا إله إلا الله محمدا رسول الله
 dalam rangka ikhlas karena Allāh. 

Disinilah Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam memberikan kepada kita penjelasan bagaimana seharusnya kita menyikapi seorang mukmin (saudara atau teman kita). 

Tidak boleh kita mengatakan:

"Ini adalah murain".
"Ini adalah orang yang riya'".
"Ini adalah orang yang fasik", atau kah orang yang sejenisnya.

Kalau kita menghukumi apa yang kita lihat kemudian langsung kita memberikan suatu pernyataan maka akan rusaklah kehidupan dunia ini.

Dikatakan: 

فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ 

"Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla melarang neraka"

(HR Bukhori no. 425 dan Muslim no. 33)

⇒ Menunjukkan semua ciptaan Allāh tunduk kepada Allāh. 

 منع من النار

Melarang neraka untuk dimasukin orang-orang yang mengucapkan kalimat Tauhīd.

Adapun ucapan :

مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أن يشْترط الإخلاص 

"Mereka yang mengatakan kalimat Tauhīd  لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ harus terkandung di dalam nya al-ikhlas"

Pernyataan yang diucapkan harus pernyataan ikhlas.

Manakah bukti yang menyatakan bahwasannya kalimat tersebut harus ikhlas? 

Dalīlnya adalah (sabda) Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam:

يَبْتَغِى بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ، أي: يطلب وَجْهَ اللَّهِ

Pernyataan (ungkapan)  لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ harus ikhlas.

Karena sesungguhnya orang yang mengucapkan kalimat Tauhīd yang diucapkan karena Allāh, maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan memberikan kemuliaan.

Di zaman dahulu ada seorang sahabat Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam berperang, kemudian sahabat tersebut berjumpa dengan lawan (musuh) nya kemudian terjadilah peperangan sebagaimana umumnya.

Sahabat melihat lawannya mulai terdesak dan dalam kesulitan kemudian lawannya mengucapkan kalimat Tauhīd (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ).

Ketika lawannya mengucapkan kalimat Tauhīd, sahabat pun menganggap bahwa dia (musuh) mengucapkan kalimat Tauhīd karena berharap agar selamat dari pedangnya, dan dengan cepat sahabat pun menebasnya (membunuhnya).

Setelah peperangan selesai, kemudian dia (sahabat) menemui Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam dan menceritakan peristiwa tersebut.

Kemudian Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam memberikan pernyataan:

كيف تصنع  قول لا إله إلا الله 

"Bagaimanakah ucapan yang telah dia ucapkan (kalimat Tauhīd), apa yang akan engkau perbuat dengan  لا إله إلا الله "

Subhānallāh.

Sahabat yang telah membunuh tadi merasa dosa.

Kenapa? 

Karena dia telah memberikan pernyataannya, dia menganggap apa yang dilakukan oleh musuh tadi karena dia ingin selamat, sehingga dia mengucapkan kalimat Tauhīd 

Thayyib, dikatakan:

من قال : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يبتغي بذلك وجه الله 

Dia mengucapkan hal tersebut karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla, maka kalimat Tauhīd adalah ajakan seluruh nabi, sehingga dikatakan kalimat Tauhīd adalah Miftahu al-Jannah. 

√ Miftahu Al-Jannah adalah لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّه.
√ Kunci Surga adalah kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّه.

Maka siapapun di antara kita mempunyai kewajiban untuk mentauhīdkan Allāh, mempunyai kewajiban untuk berdakwah.

Mereka yang senantiasa menyembah berhala (batu, pohon, semua yang ada di muka bumi) selain Allāh, maka kita sebagai seorang mukmin mempunyai kewajiban untuk mengajak mereka agar mereka bertauhīd. 

Ikhwan akhawatiy fīllāh rohimakumullāh. 

In syā Allāh, di kesempatan lain kita akan lanjutkan.

نكتفي بهذا القدر

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

________

LARANGAN MENUDUH ORANG MUNAFIK PERTAMA

🌍 BimbinganIslam.com
🔆 Selasa,13 Jumadil akhir 1442 H / 26 Januari 2021
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqoh 70 : Larangan Menuduh orang Munafiq Bagian Pertama 

〰〰〰〰〰〰〰


*LARANGAN MENUDUH ORANG MUNAFIK PERTAMA*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد نبيا ورسولا رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ رْزُقْنيِ فَهْماً 


Kita lanjutkan materi kita masih di Kitāb At Tauhīd, tentunya hadīts ini memiliki sejarah.

Dikatakan Utbān ibn Mālik, adalah salah satu penduduk anshar (Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla meridhai mereka).

كان يصلي مع النبي صلى الله عليه وسلم

Utbān bin Mālik shalat berjama'ah bersama Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam di masjid Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

فضعُف بَصرُه 

Maka berjalannya waktu penglihatan Utbān ibn Mālik radhiyallāhu 'anhu mulai lemah.

و يشق عليه المجيء إلى النبي صلى الله عليه وسلم

(Karena penglihatan beliau lemah matanya sakit) menjadikan beliau berat untuk melakukan shalat bersama Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

فطلب من النبي صلى الله عليه وسلم أن يخرج إليه وأن يصلي في مكان من بيته 

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam meminta untuk mengantarkannya ke rumah Utbān ibn Mālik dan beliau menghendaki agar Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bisa shalat di rumahnya.

ليتخذه مصلى

Agar rumahnya dijadikan sebagai tempat untuk shalat.

فخرج النبي عليه الصلاة والسلام

Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam keluar menuju rumah Utbān ibn Mālik. 

ومعه طائفة من أصحابه

Bersama Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam  hadir para shahabat.

فلما دخلوا البيت

Ketika Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan para shahabat memasuki rumah Utbān ibn Malik.

قال : أين تريد أن أُصلي؟ 

Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata, "Wahai Utbān, engkau menghendaki aku shalat di mana?"

قال صل ها هنا 

Utbān bin Mālik berkata, "Wahai Rasūlullāh, shalatlah di sini."

فصلى النبي عليه الصلاة والسلام بهم

Kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam shalat mengimami mereka.

ركعتين بعد عن صفوا وراءه

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memimpin shalat dua raka'at, sesudah Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam meluruskan shaf para shahabat yang berdiri di belakangnya.

 ثم جلس على طعام صنعوه له

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam duduk menikmati hidangan makanan.

فجعلوا يتذاكرون 

Setelah selesai makan, mereka pun bercerita (bercengkrama/ngobrol).

فتذاكروا رجلا يقال له مالك بن الدخشم

Tatkala mereka berbicara, disebutkan ada seorang laki-laki yang bernama Mālik ibn Dukhsyum.

فقال بعضهم هو منافق

Salah seorang di antara mereka ada yang mengatakan bahwa Mālik ibn Dukhsyum adalah seorang yang munafik.

فقال الرسول عليه الصلاة والسلام: لا تقل هكذا

Karena Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa mendengar salah seorang shahabat memberikan komentar miring kepada Mālik ibn Dukhsyum, kemudian beliau berkata, "Jangan ucapkan perkataan seperti itu."

أليس يشهد أن لا إله إلا الله  وأن محمدا أبده رسول الله

"Bukankah Mālik ibn Dukhsyum bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allāh, dan dia bersaksi bahwasanya Muhammad adalah rasul Allāh."

قالوا : نعم 

_Kemudian mereka mengatakan, "Na'am, (benar iya bertauhīd, dia meng-Esa-kan Allāh dan mengucapkan kalimat
 لا إله إلا الله  وأن محمدا رسول الله)."_

Maka sesudah itu Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam pun membawakan hadīts yang tadi kita bacakan bersama.

Dimana Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan: "Siapa saja yang mengatakan: Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) dalam rangka untuk meraih keridhaan Allāh."

فإن الله حرم على النار

"Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengharamkan neraka."

فنهاهم أن يقول هكذا 

Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melarang para shahabat untuk memiliki suatu pernyataan seperti tadi.
 
لأنهم لا يدرون عما في القلب

"Karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui apa yang berada di dalam hati sanubarinya."

In syā Allāh dikesempatan lain kita lanjutkan.

نكتف بهذا القدر
سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

________

HADĪTS UTBĀN IBN MĀLIK AHMAD AL ANSHARY

🌍 BimbinganIslam.com
🔆 Senin,12 Jumadil akhir 1442 H / 25 Januari 2021
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqah 069: Hadīts Utbān ibn Mālik Ahmad Al-Anshary

〰〰〰〰〰〰〰

*HADĪTS UTBĀN IBN MĀLIK AHMAD AL ANSHARY*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد نبيا ورسولا رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ رْزُقْنيِ فَهْماً 


Kita lanjutkan materi kita, masih di Kitāb At Tauhīd. 

Disebutkan di dalam kitāb Tauhīd:

قال المؤلف رحم الله

Berkata pengarang semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla merahmatinya.

Pada pembahasan yang lewat telah kami sampaikan hadīts Ubādah bin Shāmit yang berbunyi: 

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال: قال رسولُ الله  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةُ وَالنَّارُ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ من الْعَمَل

Dari Ubādah bin Shāmit semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla meridhainya, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

"Barangsiapa yang bersaksi bahwasanya tidak ada dzat yang berhak untuk disembah kecuali Allāh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad Rasulullah adalah hamba dan Rasūl Allah, begitu juga Isa adalah hamba Allah serta Rasul Allah dan kalimat yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla kirimkan kepadanya, kalimat Allāh yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan kepada Maryam dan ruhnya dari Allāh, surga adalah hak, meyakini bahwasanya neraka adalah hak, maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan memasukan dia ke dalam surga sesuai dengan amal yang dia lakukan."

Hadīts ini sudah kita bahas pada pertemuan yang lewat, dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas hadīts berikutnya.

ولهما في حديث عتبان: فإنَّ الله حرَّم على النار مَن قال: "لا إله إلا الله" يبتغي بذلك وجه الله".

Dari riwayat Bukhāri dan Muslim, di dalam hadits Utbān, "Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengharamkan kepada neraka untuk dimasuki siapapun yang mengatakan: Tidak ada dzat yang berhak untuk disembah kecuali Allāh ( kalimat At Tauhīd) dan dia mengucapkan itu karena hendak memperoleh keridhaan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Walahuma (ولهما) yaitu dari riwayat Bukhāri dan Muslim.

Disebutkan di dalam Kitāb Ash Shalah  bab Al Masajid fīl Buyut Juz 1 hal 154: Rawahu Bukhāri.

Dan Kitābul Masajid bab Rukhsah fī Takhaluf di dalam riwayat Muslim, dikatakan: 

في حديث عتبان

Di dalam hadits Utbān.

Yang di maksud Utbān adalah Utbān ibn Mālik Ahmad Al Anshary radhiyallāhu 'anhu. 

كان يصلي مع النبي صلى الله عليه وسلم فضعُف بَصرُه و يشق عليه المجيء إلى الرسول صلى الله عليه وسلم فطلب من النبي صلى الله عليه وسلم أن يخرج إليه وأن يصلي في مكان من بيته ليتخذه مصلى فخرج النبي عليه الصلاة والسلام ومعه طائفة من أصحابه فلما دخلوا البيت قال : أين تريد أن أُصلي؟ قال صل ها هنا فصلى النبي عليه الصلاة والسلام بهم ركعتين بعد عن صفوا وراءه  ثم جلس على طعام صنعوه له فجعلوا يتذاكرون فتذاكروا رجلا يقال له مالك بن الدخشم فقال بعضهم هو منافق فقال الرسول عليه الصلاة والسلام: لا تقل هكذا أليس يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ، قالوا : نعم قال: فإن الله حرم على النار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله

Ikhwan akhawatiy fīllāh rahimakumullāh. 

Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengharamkan kepada neraka untuk dimasuki siapapun yang mengatakan kalimat At Tauhīd: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ .

Dan ia mengucapkan itu karena hendak memperoleh keridhaan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

In syā Allāh  di kesempatan lain kita akan lanjutkan.

Nataufīq bihadzal qadar. 

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

____

Jumat, 05 Februari 2021

HADĪTS UBĀDAH BIN SHĀMIT BAGIAN KESEMBILAN

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 08 Jumadil Akhir 1442 H/ 21 Januari 2021 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqoh 68: Hadīts Ubādah bin Shāmit Bagian Kesembilan
〰〰〰〰〰〰〰

*HADĪTS UBĀDAH BIN SHĀMIT BAGIAN KESEMBILAN*

بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد نبيا ورسولا رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ رْزُقْنيِ فَهْماً 


Nabi Isa berkata:

وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا

"Dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak menjadikan aku seorang yang sombong dan celaka"

Di sini lah Allāh firmankan:

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ

Nabi Isa berkata: وَالسَّلَامُ عَلَيَّ salam kesejahteraan untuk ku.

Kapan? 

 يَوْمَ وُلِدتُّ

"Dihari aku dilahirkan" 

 وَيَوْمَ أَمُوتُ

"Dan di hari aku diwafatkan"

وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

"Dan di hari di mana aku akan dibangkitkan nanti hidup kembali di hari kiamat"

(QS. Maryam:33)

ذَ ٰ⁠لِكَ عِیسَى ٱبۡنُ مَرۡیَمَۖ

"Itu adalah nabiyullāh Isa ibn Maryam"

قَوۡلَ ٱلۡحَقِّ

"Perkataan yang haq, perkataan yang benar-benar terjadi"

ٱلَّذِی فِیهِ یَمۡتَرُونَ

"Yang tentangnya banyak orang yang meragukan keberadaan nabiyullāh Isa"

(QS. Maryam: 34)

مَا كَانَ لِلَّهِ أَن يَتَّخِذَ مِن وَلَدٖۖ سُبۡحَٰنَهُۥٓۚ 

"Tidak pantas bagi Allāh, untuk memiliki seorang anak, Maha Suci Allāh"

إِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ

"Jika Allāh Subhānahu wa Ta'āla menghendaki sesuatu perkara, maka cukuplah bagi Allāh untuk berfirman, 'Jadilah!' Maka jadilah sesuatu itu."

(QS. Maryam:35)

وَإِنَّ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُوهُۚ هَٰذَا صِرَٰطٞ مُّسۡتَقِيمٞ

“Dan sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah Tuhanku dan Tuhan kalian, maka sembahlah Dia. Ini adalah jalan yang lurus."

(QS. Maryam:36)

Demikian nabiyullāh Isa. Nabi Isa berdakwah seperti apa yang didakwahkan Nabi kita Muhammad shollallāhu 'alayhi wa sallam,  dan nabiyullāh Isa adalah hamba Allāh dan rasūl-Nya. 

Maka di sinilah dari hadīts Ubādah ibn Shāmit dikatakan: 

وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ

"Aku adalah hamba Allāh dan Rasūl-Nya"

Begitu عَبْدُ اللهِ (hamba-Nya Allāh) bantahan untuk orang-orang Nashrani,  karena sesungguhnya Nabi Isa adalah عَبْدُ اللهِ. 

Orang-orang kristiani mereka mengatakan nabi Isa adalah anaknya Allāh

وَرَسُوْلُهُ

"Dan Nabi Isa adalah rosūl Allāh"

Bantahan buat orang-orang Yahudi, di mana orang-orang Yahudi mereka mengatakan nabi Isa adalah anak pelacur. Maka Allāh bantahan dengan وَرَسُوْلُهُ dia adalah rasūl-Nya Allāh. 

وكَلِمَتُهُ ألْقاها إلى مَرْيَمَ ورُوحٌ منه

"Dan kalimat yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla kirimkan kepada Maryam dan ruhnya dari-Nya"

Menunjukkan nabi Isa itu berjasad,  karena ada yang meyakini bahwasanya nabi Isa hanya ruh saja. Oh ,tidak! Nabi Isa berjasad dan memiliki ruh.

Allāh menyebutkan: 

كان يأكلني الطعام

"Nabi isa dan ibunya, kedua-duanya makan makanan"

Begitu seseorang berbicara dia makan, maka dia minum, jika dia makan maka dia minum, jika makan dan minum menunjukkan dia pun butuh toilet, maka demikianlah kesempurnaan manusia.

Maka nabi Isa adalah manusia, Maryam juga manusia, tetapi mereka manusia-manusia pilihan Allāh, bukan orang biasa.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan:

و الجنة حق والنار حق أدخله الله الجنة على ما كان من العمل

"Orang yang meyakini bahwasanya surga adalah hak dan neraka adalah hak, Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan masukan dia ke dalam surga sesuai dengan amal yang dia kerjakan".

Maka seorang mukmin meyakini bahwasanya surga itu ada, surga itu hak semua orang berharap untuk masuk surga. 

Yang Allāh sebutkan di dalam penjelasan Rosūlullāh shpllallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan: 

مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

"Surga itu belum pernah dilihat oleh mata, bahkan tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah tercinta di dalam sanubari manusia"

(Hadīts shohīh riwayat Al-Bukhori nomor 3244 dan Muslim nomor 2824)

Semua orang berharap untuk masuk ke dalam surga. Kenapa?

 لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًۭا وَلَا تَأْثِيمًا ۞ إِلَّا قِیلࣰا سَلَـٰمࣰا سَلَـٰمࣰا

"Di surga tidak ada perkara laghwu yang ada adalah ucapan salam sejahtera"

(QS. Waqi'ah:25-26)

Māsyā Allāh, nikmat surga banyak sebagaimana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah memberikan penjelasan terkait dengan nikmat surga. 

Dan nikmat surga, dia akan mendapatkan sesuatu yang dia kehendaki, surga semuanya nikmat, yang ada adalah nikmat dan nikmat.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍۢ

"Orang yang berada di surga mereka mendapatkan balasan karena di dunia mereka beriman dan beramal shalih dan mereka akan mendapatkan pahala yang tidak pernah terputus"

(QS. At-Tin:6)

Karena sesungguhnya nikmat surga tidak akan terputus, makanya tidak ada di surga koq ngantuk, "ngerungo no pengajian ngantuk", tidak ada ngantuk, ataukah tidur. Juga tidak ada, di surga adanya nikmat dan nikmat.

Maka dikatakan: غَيْرُ مَمْنُونٍۢ adalah غير مقطوع tidak pernah terputus, ada sungai yang mengalir darinya madu, sungai mengalir darinya khamr, sungai mengalir darinya susu, Subhānallāh, nikmat surga.

Dan nikmat surga yang paling besar adalah melihat wajah Allāh. 

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan:

إنكم سترون ربكم كما ترون القمر ليلة البدر لاَ تُضَامُونَ في رُؤْيَته ولا تضارون

"Sungguh kalian akan melihat tuhan kalian sebagaimana kalian melihat rembulan di malam bulan purnama"

Bagaimana seseorang melihat rembulan di malam? 

لاَ تُضَامُونَ في رُؤْيَته ولا تضارون

Orang melihat rembulan bulan purnama tidak pernah merasa sakit tatkala melihatnya dan tidak pula berdesak-desakan.

Nataufīq bihadzal qadar. Terkait dengan neraka tentunya neraka menakutkan, dan kita mohon kepada Allāh agar selamat dari keburukan neraka dan mohon kepada Allāh untuk masuk surga Firdaus dikumpulkan dengan para anbiyya. 

Kita dianjurkan untuk berdo'a:

وتوفني مسلمين وألحقني بالصالحين

"Yā Allāh,  wafatkan kami dalam keadaan muslim dan kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang sholih"

Terima kasih atas perhatiannya, lain waktu kita sambung lagi (In syā Allāh).


سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

____________________

HADĪTS UBĀDAH BIN SHĀMIT BAGIAN KEDELAPAN

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 07 Jumadil Akhir 1442 H/ 20 Januari 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqoh 067: Hadīts Ubādah bin Shāmit Bagian Kedelapan

〰〰〰〰〰〰〰

*HADĪTS UBĀDAH BIN SHĀMIT BAGIAN KEDELAPAN*

بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد نبيا ورسولا رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ رْزُقْنيِ فَهْماً 

Apakah bentuk menahan dirinya Maryam? 

فَلَنْ أُكَلِّمَ ٱلْيَوْمَ إِنسِيًّۭا

"Hari ini aku tidak akan berbicara dengan siapapun"

(QS. Maryam:26)

فَأَتَتۡ بِهِۦ قَوۡمَهَا تَحۡمِلُهُۥ قَالُوا۟ یَـٰمَرۡیَمُ لَقَدۡ جِئۡتِ شَیۡـࣰٔا فَرِیࣰّا

"Tatkala Maryam mendatangi kaumnya dalam keadaan menggendong nabiyullāh Isa. Wahai Maryam sungguh engkau telah melakukan perbuatan yang mungkar (engkau telah berzina)"

(QS.Maryam: 27)

يَٰٓأُخۡتَ هَٰرُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ ٱمۡرَأَ سَوۡءٖ وَمَا كَانَتۡ أُمُّكِ بَغِيّٗا

"Wahai saudara perempuan Harun (Maryam)! Ayahmu bukan seorang yang buruk perangai dan ibumu bukan seorang perempuan pezina.”

(QS. Maryam: 28)

Harun di sini adalah saudara Maryam dan bukan saudara nabiyullāh Musa alayhissallām,  demikianlah orang dahulu sering menamakan anak mereka dengan orang-orang yang shalih atau nama nabi.

Kalau Harun yang ada pada nabi Musa alayhissallām, maka nabi Musa memiliki sepupu yang bernama nabi Harun.

Saudara Maryam ini bernama Harun, sebagaimana mereka menamakan Imrān dengan Abū Musa. 

Kita lanjutkan,

يَٰٓأُخۡتَ هَٰرُونَ

"Wahai saudari Harun"

Disini mereka mengatakan يَٰٓأُخۡتَ هَٰرُونَ wahai saudaranya Harun.

مَا كَانَ أَبُوكِ ٱمۡرَأَ سَوۡءٖ

"Ayahmu bukanlah laki-laki yang buruk (perangai)"

وَمَا كَانَتۡ أُمُّكِ بَغِيّٗا

"Dan ibumu juga bukan wanita yang dikenal dengan pelacur (pezina)"

Allāh firmankan: 

فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ 

Karena Maryam sudah berjanji untuk tidak berbicara kepada siapapun hari itu, maka Maryam mengisyaratkan kepada nabi Isa, seakan-akan dia mengungkapkan kalau kalian berbicara, berbicarakah dengan bayi ini.

قَالُوا۟ كَيْفَ نُكَلِّمُ مَن كَانَ فِى ٱلْمَهْدِ صَبِيًّا

Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?"

Subhānallāh, keajaiban luar biasa, sehingga Allāh menyebutkan 

وَيُكَلِّمُ ٱلنَّاسَ فِى ٱلْمَهْدِ وَكَهْلًۭا وَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ

"Dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang shahih".

(QS. Āli-Imrān:46)

Nabi Isa mengajak berbicara orang, tatkala dia berada di dalam gendongan dan di waktu dewasa, maka di sinilah nabi Isa berkata dan dia berada di buaian (berada digendongan Maryam) 

Dan dia mengatakan: 

قال : إني عبد الله

"Aku adalah hamba-Nya Allāh"

Bantahan buat orang-orang Nashrani yang mengatakan bahwasanya  nabiyullāh Isa adalah tuhan, sekiranya nabi Isa itu tuhan maka dia akan, "ini Allāh" tetapi dia berkata, "ini Abdullāh".

Pembahasan kita:

إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ

 "Aku adalah hamba-Nya Allāh".

آتَانِيَ الْكِتَابَ 

"Aku diberi Allāh Subhānahu wa Ta'āla kitāb"

وَجَعَلَنِي نَبِيًّا 

"Bahkan Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengangkat ku menjadi seorang nabi"

(QS. Maryam:30)


وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ 

"Dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjadikan aku mubārakan (manfaat) untuk diriku dan juga orang lain di mana pun aku berada" 

√ Bārakah itu berkah.
√ Mubārak itu berkah untuk dirinya dan juga orang lain.


وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ  وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا

"Bahkan Allāh memberikan wasiat, menyuruhku untuk melaksanakan shalat dan zakat selama aku hidup" 

(QS. Maryam:31)

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا

"Dan aku menjadi seorang yang sangat berbakti kepada ibuku" 

(QS. Maryam:32) 

Perhatikan!

"Aku berbakti kepada ibuku"

Dia tidak berkata وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ - aku berbakti kepada kedua orang tuaku, tidak! Karena nabi Isa hanya memiliki ibu saja, beliau tidak memiliki ayah sehingga mengatakan وَبَرًّا بِوَالِدَتِي.

Demikianlah makhluk Allāh, ada makhluk Allāh yang hanya memiliki ibu, ada makhluk Allāh yang hanya memiliki bapak (tidak mempunyai ibu), ada makhluk Allāh yang tidak mempunyai bapak dan ibu.Makhluk Allāh dari hewan pun ada, yang tidak mempunyai bapak dan ibu.

Nabi Isa memiliki ibu tetapi tidak memiliki bapak. 

Hawa istri nabiyullāh Adam, mempunyai bapak tetapi tidak mempunyai ibu, karena Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam.

Adam tidak mempunyai bapak dan ibu.

Begitu pula binatang, ada yang tidak mempunyai bapak dan ibu yaitu kambing yang disembelih oleh nabiyullāh Ibrahim.

Ular yang dimiliki nabi Musa, nabi Musa mempunyai tongkat dan berubah menjadi ular, dan ular itu tidak mempunyai bapak dan ibu.

Subhānallāh.

Nataufīq bihadzal qodar. Terima kasih atas perhatiannya, lain waktu kita sambung lagi (In syā Allāh).


سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

____________________

HADĪTS UBĀDAH BIN SHĀMIT BAGIAN KETUJUH

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 06 Jumadil Alhir 1442 H/ 19 Januari 2021 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqah 066: Hadīts Ubādah bin Shāmit Bagian Ketujuh

〰〰〰〰〰〰〰

*HADĪTS UBĀDAH BIN SHĀMIT BAGIAN KETUJUH*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد نبيا ورسولا رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ رْزُقْنيِ فَهْماً 

Pelajaran yang berikutnya yaitu: bagaimanakah kemuliaan yang ada pada Maryam? 

Dia melahirkan sendiri tidak ada siapapun, dia tidak mau merepotkan keluarganya.

Subhānallāh.

Pelajaran yang ketiga adalah Maryam melahirkan Isa di bawah pohon kurma, di dekat tonggak pohon kurma.

Sanggahan buat mereka yang mengatakan Nabi Isa lahir di kandang mendho, kambing.

Pelajaran berikutnya menunjukkan Nabiyullāh Isa alayhissalām lahir di musim panas, kenapa? Karena  kurma akan ada di waktu musim panas, ruthab (kurma muda).

Kurma itu ada beberapa tahapan. Kurma yang warnanya hijau daun namanya bishr. Bishr tidak bisa dimakan, yang mengkonsumsi bishr adalah manuk tilang (burung kutilang). Berikutnya, yang mengkonsumsi kurma hijau ini adalah sebagian orang Indonesia.

Mohon maaf sebagian orang Indonesia kalau musim haji atau musim umrah banyak yang pesan dari mereka yang belum punya keturunan untuk mencarikan kurma hijau, mungkin lebih tepat serbuk kurma hijau, karena serbuk kurma hijau lebih mudah dikonsumsi.

Kalau kurma hijau sulit untuk dikonsumsi. Seminggu disimpan maka akan busuk atau kalau dikeringkan dan sampai di Indonesia sulit untuk dikonsumsi. Tapi kalau serbuk kurma hijau mungkin lebih mudah. Kurma hijau diyakini oleh sebagian kita bisa membantu seseorang yang belum mempunyai keturunan untuk bisa menyuburkan.

Ketika musim bishr sudah lewat maka datang tahapan berikutnya yaitu kurma yang warnanya merah. Kurma yang warna merah agak hitam-hitam, sedikit orang Arab menyebutnya balah.  Balah bisa dikonsumi, orang jawa mengatakan seperti sawo kecik.

Kemudian tahapan berikutnya kurma akan berwarna kuning, dan kuningnya kurma bernama ruthab (kurma muda). 

Dan di puncak musim panas maka akan ada angin yang dikenal dengan angin samum (angin yang menghembus dengan rasa panas) sehingga membuat kurma matang sehingga merubah kurma yang berwarna kuning menjadi coklat, dan orang Arab menyebutnya dengan nama tamr.

Allāh firmankan: 

وَهُزِّیۤ إِلَیۡكِ بِجِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ تُسَـٰقِطۡ عَلَیۡكِ رُطَبࣰا جَنِیࣰّا

_"Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu."_

(QS. Maryam: 25)

Menunjukkan nabiyullāh Isa lahir di musim panas musim ketika ada kurma. Bertentangan dengan apa yang biasa di rayakan oleh sebagian orang yang merayakan kelahiran Isa dengan atribut salju sungguh jauh dari kebenaran. Karena sesungguhnya musim kurma adalah di waktu musim panas. 

Demikianlah seorang muslim memahami aqidah dan memahami sejarah.

Tatkala Maryam sudah melahirkan, kurma pun berjatuhan, maka Allāh perintahkan:

فَكُلِی وَٱشۡرَبِی وَقَرِّی عَیۡنࣰاۖ فَإِمَّا تَرَیِنَّ مِنَ ٱلۡبَشَرِ أَحَدࣰا فَقُولِیۤ إِنِّی نَذَرۡتُ لِلرَّحۡمَـٰنِ صَوۡمࣰا فَلَنۡ أُكَلِّمَ ٱلۡیَوۡمَ إِنسِیࣰّا

_Makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini."_

(QS. Maryam: 26)

Puasa bahasa Arabnya shaum (صَوۡمࣰ) artinya adalah al imsa (menahan diri).

Jadi puasa adalah menahan diri dari makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Menahan makan, minum dan semua yang membatalkan puasa di mulai dari fajar sampai terbenamnya matahari yang dilakukan oleh seorang muslim yang baligh yang mukallaf tidak dalam keadaan haidh dan nifas serta diawali dengan niat. 

Itu adalah pengertian puasa menurut istilah.

نحتفظ بهذا القدر

Terima kasih atas perhatiannya, lain waktu kita sambung lagi (In syā Allāh).


سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

____________________

HADĪTS UBĀDAH BIN SHĀMIT BAGIAN KEENAM

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 05 Jumadil Akhir 1442 H/ 18 Januari 2021 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqoh 065: Hadīts Ubādah bin Shomit Bagian Keenam

〰〰〰〰〰〰〰

*HADĪTS UBĀDAH BIN SHĀMIT BAGIAN KEENAM*


بسم الله الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه  لاحول ولاقوة إلا بالله ، رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد نبيا ورسولا رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ رْزُقْنيِ فَهْماً 

Ikhwan wa akhawatiy fīllāh rohimakumullāh.

Dan tidak lama sesudah malaikat Jibrīl hadir memberikan berita, maka Maryam pun hamil atas kehendak Allāh. Sehingga teman Maryam yang biasa ikut bersih-bersih di Baitul Maqdis melihat sesuatu hal (perubahan) pada Maryam (umumnya wanita yang hamil), sehingga dia memberanikan diri bertanya kepada Maryam.

"Wahai Maryam, aku tahu engkau adalah wanita yang sholihah dan aku tidak menuduh engkau dengan tuduhan yang buruk tapi aku akan bertanya kepadamu beberapa hal, mungkinkah ada buah yang datang tanpa datang dari pohon? Apakah mungkin adanya pohon yang besar tanpa adanya bibit?"

Setiap kali pertanyaan itu diberikan kepada Maryam,  dan Maryam pun berkata, "Iya mungkin," sampai begitu Maryam memberikan jawaban. "Bukankah Allāh menciptakan Adam tanpa bapak dan tanpa ibu?" Măsyā Allāh. 

Maka di sinilah laki-laki tersebut berkata, "Sungguh menakjubkan dan engkau adalah bukan wanita pendusta tapi mohon maaf mulai hari ini, aku akan meninggalkan Baitul Maqdis."

Dan tidak lama sesudah itu, laki-laki itupun pergi meninggalkan Baitul Maqdis dan meninggalkan Maryam. Dia khawatir akan dituduh oleh orang-orang bahwasanya dia yang telah menghamili Maryam. 

Subhānallāh.

Pergilah laki-laki itu dan dengan berat Maryam mengalami kehidupannya sampaikan waktu ia melahirkan. 

Dan Allāh berfirman: 

وَهُزِّىٓ إِلَيْكِ بِجِذْعِ ٱلنَّخْلَةِ تُسَـٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًۭا جَنِيًّۭا

_"Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu."

(QS. Maryam: 25)

Maryam pun pergi menjauh dari kaumnya tatkala dalam keadaan hamil tua dan dalam keadaan yang berat sebagaimana seorang wanita yang sedang hamil tua.

Perempuan ketika hendak melahirkan tentunya berharap ada suami disandingnya, harapannya adalah keluarganya ada di dekatnya. Itu adalah harapan semua wanita tatkala hendak melahirkan.

Tapi ujian berat buat Maryam dan Allāh menyebutkan di dalam Al Qur'ān:

فَأَجَآءَهَا ٱلْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ ٱلنَّخْلَةِ قَالَتْ يَـٰلَيْتَنِى مِتُّ قَبْلَ هَـٰذَا وَكُنتُ نَسْيًۭا مَّنسِيًّۭا

_Sehingga tatkala datang masa di mana rasa sakit hendak melahirkan menimpa pada Maryam, kemudian Maryam bersandar pada pangkal pohon kurma, dia berkata, "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seseorang yang tidak berarti, lagi dilupakan."_

(QS. Maryam: 23)

Allāh mengutus malaikat Jibrīl dan  Allāh berfirman: 

فَنَادَىٰهَا مِن تَحْتِهَآ أَلَّا تَحْزَنِى قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّۭا

_Maka Jibrīl memanggil dari tempat yang rendah, "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu." 

(QS. Maryam: 24)

وَهُزِّىٓ إِلَيْكِ بِجِذْعِ ٱلنَّخْلَةِ تُسَـٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًۭا جَنِيًّۭا

_"Wahai Maryam goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu."_

(QS. Maryam: 25)

Beberapa pelajaran yang bisa kita ambil, di antara: 

Allāh Maha Kaya, Allāh Maha Mampu tetapi Allāh tidak mengirimkan angin yang keras sehingga berjatuhanlah kurma, tidak! Tetapi Allāh perintahkan Maryam melalui malaikat Jibrīl untuk menggoyangkan pohon. Menunjukkan adanya sebab dan akibat, dengan digoyangkan pokok pohon kurma niscaya akan berjatuhan kurma yang masih segar.

نكتفي بهذا القدر

Terima kasih atas perhatiannya, lain waktu kita sambung lagi (In syā Allāh).


سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

____________________

Kajian

IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH

🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah  Fī...

hits