Tampilkan postingan dengan label bulan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bulan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juli 2020

Keutamaan Amal Shalih Pada 10 Hari Di Awal Bulan Dzulhijjah

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 2 Dzulhijjah 1441 H / 23 Juli 2020 M
👤 Ustadz Fauzan Abdullah, S.T., M.A.
📗 Serial Bulan Dzulhijjah
🔊 Halaqah 04 | Keutamaan Amal Shalih Pada 10 Hari Di Awal Bulan Dzulhijjah
⬇ Download audio: bit.ly/Dzulhijjah1441-UF
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد الله والصلاة والسلام على رسول الله, أما بعد

Para sahabat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulillāh hari ini kita diberikan kesempatan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla untuk masuk pada fase (masa) yang terbaik, pada hari-hari yang terbaik yaitu 10 (sepuluh) hari di awal bulan Dzulhijjah.

Kita masuk tanggal 1 Dzulhijjah di mana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam beliau memotivasi kita semua untuk beramal shālih sebanyak-banyaknya.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ

"Tidak ada satu hari pun di mana amalan shālih yang dikerjakan di dalamnya lebih baik dan dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla melainkan amalan-amalan yang dikerjakan pada sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah"

Maka sahabat bertanya:

فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

"Wahai Rasūlullāh, tidak juga jihād fī sabilillāh?"

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menjawab:

وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ ‏

"Kecuali seseorang yang dia pergi berjihād fī sabilillāh membawa harta dan jiwanya kemudian tidak kembali sedikitpun keduanya (mati syahid)"

(Hadīts riwayat At-Tirmidzī nomor 757 dan Abū Dāwūd secara marfu')

Orang yang berjihād fīsabilillah kemudian dia mati syahid maka itulah yang dapat menandingi amalan-amalan shālih yang dikerjakan pada 10 (sepuluh) awal bulan Dzulhijjah.

Dari hadīts ini kita ketahui bahwasanya amalan-amalan yang dikerjakan di 10 (sepuluh) hari, awal bulan Dzulhijjah adalah amalan yang luar biasa, sehingga para sahabat sendiri merasa bahwa amalan jihād adalah yang paling besar. Sehingga mereka bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Oleh karena itu dalam satu kesempatan syaikh Utsaimin bertanya kepada hadirin, "Ada seorang yang shalāt dua raka'at di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhān dan ada seorang yang shalāt raka'at nafilah di 10 (sepuluh) hari awal bulan Dzulhijjah, mana yang lebih baik?"

Beliau (Syaikh Utsaimin) mengatakan :

"Yang lebih afdhal dan lebih baik adalah yang shalāt dua raka'at di awal 10 (sepuluh) hari bulan Dzulhijjah"

Beliau mengatakan,

"Ini adalah suatu yang aneh bagi orang-orang yang awam, akan tetapi bukan sesuatu yang aneh bagi ahli ilmu, karena mereka mengetahui tentang keutamaan 10 (sepuluh) hari awal bulan Dzulhijjah"

Oleh karena itu kata beliau,

"Oleh karena itu wajib bagi ahlul ilmi untuk terus menerangkan kepada orang-orang awam tentang keutamaan dari 10 (sepuluh) hari awal bulan Dzulhijjah, karena 10 (sepuluh) hari awal bulan Dzulhijjah lebih utama daripada 10 (sepuluh) hari di akhir bulan Ramadhān"

Walaupun di sana ada khilāf tentang malamnya akan tetapi secara umum para ulama bersepakat bahwa 10 (sepuluh) hari di awal bulan Dzulhijjah lebih utama daripada 10 (sepuluh) hari di akhir bulan Ramadhān.

Oleh karena itu para sahabat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Pada 10 (sepuluh) hari di awal bulan Dzulhijjah ini kita berlomba-lomba, kita bersegera untuk melaksanakan apa yang kita kerjakan untuk melakukan yang terbaik di 10 (sepuluh) hari di awal bulan Dzulhijjah ini dengan berbagai macam ibadah-ibadah yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla perintahkan kepada kita.

Tatkala kita niatkan dengan ibadah dan kita sadar bahwa sepuluh hari di awal bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang luar biasa yang Allāh berikan kenikmatan ini kepada kita, memberikan kesempatan kepada kita semua.

Maka sangat merugi seseorang yang dia melalaikan kesempatan  yang Allāh berikan kepada kita ini.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan taufīq kepada kita semua agar kita berlomba-lomba, agar kita bersemangat, agar kita mengembalikan niat atau meniatkan segala aktifitas kita bahkan dalam pekerjaan kita, niatkan agar ia adalah ibadah.

Kita menunaikan amanah dengan sebaik mungkin, dan kita berusaha bersungguh-sungguh di semua waktu kita untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, beramal shālih, bersedekah, shalāt, kita membaca Al-Qur'ān, kita bertutur kata yang baik, kita menolong orang lain, kita melakukan semua amal kebaikan.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla melipat gandakan dan menerima amalan-amalan kita semua.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.

و صلى الله على نبينا محمد و على آله وصحبه و سلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Akhukum Fīllāh
Fauzan Abdullāh

____________________________

Menggapai Kekhusyuan Di Dalam Shalat

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 30 Dzulqa’dah 1441 H / 21 Juli 2020 M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc.
📗 Serial Bulan Dzuhijjah
🔊 Halaqah 02 | Menggapai Kekhusyuan Di Dalam Shalat
⬇ Download audio: bit.ly/Dzulhijjah1441-H1
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة  أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām, rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Tidak terasa sebentar lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah, salah satu dari bulan haram, salah satu dari bulan yang Allāh muliakan, yang mana amal shālih pada bulan tersebut akan dilipat-gandakan.

Bahkan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bersumpah, tidak ada amal shālih yang lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang melebihi cinta Allāh kepada amal shālih yang dilakukan pada sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah ini.

Para sahabat pun bertanya,

وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

"Wahai Rasūlullāh, termasuk lebih utama dari jihād fīsabilillāh?”

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam  bersabda: “Termasuk jihād  fī sabilillāh tidak bisa menandingi amalan yang dilakukan di sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah".

Kemudian Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam mengecualikan satu, yaitu :

إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

"Kecuali orang yang keluar berjihad di jalan Allāh, dengan membawa jiwa dan hartanya, dan tidak ada sedikitpun yang kembali (mati syahid)."

(Hadīts riwayat Al-Bukhāri)

Hanya orang yang berjihād kemudian mati syahid yang tidak bisa ditandingi dengan amalan-amalan bulan ini, artinya amalan-amalan bulan ini sangat istimewa, sangat besar sekali pahalanya.

Dan salah satu amalan yang sering kita lakukan setiap harinya adalah shalāt lima waktu.

Sahabat Bimbingan Islām, rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Syaikh Muhammad bin Shālih Al-'Utsaimin pernah menyatakan bahwa hal terpenting setelah seorang mencontoh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam shalātnya adalah seorang bisa fokus (khusyuk) dalam shalātnya.

Ketika dia shalāt, dia berpikir bahwa dia benar-benar sedang shalāt, pikirannya tidak pergi kemana-mana. Saat dia berdo'a, dia paham (dia sedang berdo'a apa), saat dia membaca bacaan shalāt dia paham bacaan apa yang sedang dia baca, saat dia rukuk dia paham kalau dirinya sedang rukuk, ini yang terpenting yaitu khusyuk.

Salah satu cara untuk mengetes kekhusyukan shalāt kita adalah dengan instropeksi diri, apakah kita sadar dengan do'a-do'a yang kita panjatkan saat duduk di antara dua sujud.

Saat duduk di antara dua sujud kita berdo'a:

رَبِّ اغْفِرْ لِي ، وَارْحَمْنِي ، وَاجْبُرْنِي ، وَارْفَعْنِي،  وَاهْدِنِي، وَعَافِنِي ، وَارْزُقْنِي

"Yā Allāh ampunilah aku, rahmatilah aku, tutuplah kekuranganku, tinggikanlah derajatku, berilah hidayah (petunjuk) untukku, berilah keselamatan pada diriku, hartaku, badanku, baik dunia maupun akhirat, dan berikanlah kesehatan kepadaku, dan berikanlah rezeki kepadaku."

Tapi pernahkah kita sadar, setiap kali kita selesai shalāt, kita sudah meminta tujuh hal tersebut kepada Allāh dan minimalnya sudah 17 kali dalam sehari kita berdo'a seperti  itu.

Sahabat Bimbingan Islām, rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Saya pribadi mengajak diri pribadi, begitu juga sahabat semuanya untuk instropeksi diri. Di sepuluh hari awal bulan  Dzulhijjah ini, coba kita tes seberapa besar kekhusyukan kita, seberapa paham kita dengan do'a-do'a yang kita panjatkan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dalam shalāt.

Mungkin kita sudah banyak berdo'a seperti tadi (meminta rezeki, meminta rahmat, meminta ampunan) mungkin do'a kita belum di ijabah oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Urusan kita masih susah, bisa jadi karena kita berdo'a tetapi kita tidak menghadirkan hati.

Dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam telah menyatakan,

إنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

"Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak akan mengijabah do'a dari hati yang lalai dan bermain-main."

(Hadīts riwayat At-Tirmidzī nomor 3479)

Sekali lagi, saya mengajak diri saya pribadi begitu juga kepada teman-teman semua sahabat Bimbingan Islām untuk instropeksi diri.

Sudahkah kita khusyuk dalam shalāt kita dan kita lihat dari do'a duduk di antara dua sujud.

Sudahkah kita paham dan saat selesai shalāt, sudahkah kita merasa berdo'a hal-hal tersebut kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Semoga di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini, di waktu yang mulia ini, di saat amalan-amalan sangat utama tidak bisa dikalahkan kecuali dengan jihād kemudian orangnya mati syahid.

Apakah kita berhasil untuk menjadikan shalāt kita, shalāt yang khusyuk?

Mari kita jadikan shalāt kita menjadi shalāt yang khusyuk tentu dengan memperbanyak do'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Karena diri kita lemah dan Allāh lah yang Maha Mampu.

Maka kita berdo'a,

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

”Yā Allāh, tolong aku untuk menyebut nama-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah yang baik untuk-Mu."

Semoga kita semua diberikan taufīq dan dimudahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
____________________

AMALAN YANG HAMPIR MENYAMAI PAHALA BERJIHAD

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 29 Dzulqa'dah 1441 H / 20 Juli 2020 M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Serial Bulan Dzulhijjah
🔊 Halaqah 01| Amalan Yang Hampir Menyamai Pahala Berjihad
⬇ Download audio: bit.ly/Djulhijjah1440-H1
〰〰〰〰〰〰〰

*AMALAN YANG HAMPIR MENYAMAI PAHALA BERJIHAD*

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد الله و صلاة و سلم على رسول الله و على أله و أصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم القيامة أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām, yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menciptakan banyak hal yang memiliki kedudukan berbeda. Ada orang mulia, ada orang hina, ada ahli surga, ada ahli neraka, ada orang baik adapula orang jaha. Ada hari yang mulia ada juga hari yang biasa saja, ada bulan mulia ada pula bulan yang biasa saja.

Hanya saja tidak ada hari dan tidak ada bulan yang ada kesialan padanya.

Dan tidak terasa kita memasuki sebuah bulan, yang amal shālih akan lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dan tidak terasa sebentar lagi kita akan memasuki hari-hari yang amal shālih akan lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla daripada amalan yang dilakukan pada hari-hari selainnya (yaitu) 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Kita hidup di dunia ini, ingin mencari apa?

Pasti jawaban kita,

√ Kita ingin dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

√ Kita ingin diridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Sahabat Bimbingan Islām.

Pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, kesempatan untuk dicintai dan diridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan menghampiri kita.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ اْلأيَّامِ الْعَشْرِ

_"Tidak ada hari yang bisa melebihi kecintaan Allāh Subhānahu wa Ta'āla pada amal shālih yang dilakukan pada 10 hari pertama dibulan Dzulhijjah."_

(Hadīts riwayat Abū Dāwūd, Ibnu Mājah, At Tirmidzī dan dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh)

Dari hadīts ini, kita mengetahui bahwa amal shālih yang dilakukan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah sangat dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Tidak ada hari-hari yang bisa mengalahkannya.

Bahkan menurut para ulamā, 10 hari pertama bulan Dzulhijjah (yaitu) pada siang harinya tidak bisa dikalahkan dengan 10 hari siangnya bulan Ramadhān.

Perlu diingat! Yang kita bicarakan adalah siangnya, adapun malamnya maka pembahasannya berbeda.

Sehingga ketika kita bersedekah di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dengan uang 10 ribu, maka akan lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla daripada sedekah 10 ribu diluar 10 hari ini.

Ketika kita shalāt dhuhur atau shalāt ashar di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah maka akan lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla daripada shalāt dhuhur atau shalāt ashar di luar 10 hari pertama bulan ini.

Ketika kita puasa sunnah pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah maka akan lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla daripada puasa sunnah di luar 10 hari ini.

Menurut para ulamā keutamaan ini mencakup seluruh amal shālih (apapun itu) baik puasa, shalāt, sedekah, dzikir dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, ketika disampaikan hadīts ini para shahābat bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّ

_"Wahai Rasūlullāh, apakah pahala jihād fī sabīlillāh juga tidak bisa mengalahkan amal shālih pada hari ini?"_

_Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) menjawab:_

وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

_"Iya, jihād dijalan Allāh tidak bisa mengalahkannya."_

Kemudian Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) memberikan catatan tambahan:

إِلا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ 

_"Kecuali orang yang berjihād fī sabīlillāh dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun (maksudnya ia mati syahīd).”_

Itulah amalan yang dapat mengalahkan kecintaan Allāh yaitu amalan di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Adapun amalan yang lainnya, maka tidak bisa mengalahkannya sesuai dengan sabda Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ini.

Mari kita memperbanyak do'a.

Mari kita memperbanyak isti'ānah (meminta pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla) agar kita dimudahkan, agar kita diberikan taufik untuk menciptakan pundi-pundi pahala amal shālih di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla a'lam bishawāb

وصلى الله على نبينا محمد

_________

Kamis, 14 Mei 2020

KEUTAMAAN SEPULUH HARI TERAKHIR RAMADHĀN

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 21 Ramadhan 1441 H / 14 Mei 2020 M
👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A.
📗 Kajian: Serial Kultum Ramadhan ke-21
🔊 Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Ramadhan1441-21
〰〰〰〰〰〰〰

KEUTAMAAN SEPULUH HARI TERAKHIR  RAMADHĀN

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رسول الله وعلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ ومن والاه، ولا حول ولا قوة إلا بالله. أَمَّا بَعْدُ

Para pemirsa,

Ramadhān adalah bulan yang sangat istimewa,  paling istimewa di antara 12 bulan yang ada. Di dalam Ramadhān ada 10 hari terakhir yang lebih istimewa lagi, sehingga kondisi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam beramal berbeda dengan 20 hari di awal Ramadhān.

Selama Ramadhān Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam jauh berbeda, beramalnya jauh berbeda dengan luar Ramadhān. Tapi di 10 hari terakhir bulan Ramadhān, Nabi lebih sangat berbeda lagi dengan hari-hari 20 Ramadhān yang awal.

Seperti disampaikan oleh Āisyah radhiyallāhu 'anhā, istri Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam beliau mengatakan:

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد المئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam apabila masuk pada 10 terakhir bulan Ramadhān:

(1) Syadda mi’zarahu شد المئزره,  mengencangkan sarungnya, yang dimaksud para ulama adalah qiyasan menjauhi para istrinya dalam rangka untuk konsen beribadah sehingga betul-betul lebih fokus beribadah di 10 akhir bulan Ramadhān. Secara umum semua ibadah ya dzikirnya, dzikir wiridnya, baca Al-Qur'ānnya, kemudian infaq shadaqahnya, dan kebaikan-kebaikan bulan Ramadhān. Ada lebih dikencengkan lagi yaitu pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhān.

(2) Wa ahya lailahu وأحيا ليله, menghidupkan malamnya. Menghidupkan malamnya juga dengan segala macam ibadah terutama adalah qiyamul lail dan qira'atul Qur'ān dan dzikir-dzikir murid,  bukan semata-mata mengkhususkan shalāt malam tapi termasuk ini menghidupkan malam secara umum dengan qiyamul lail, dengan qira'atul Qur’ān, dengan wirid dan dzikir dengan do’a-do'a, dengan ini banyak berustighfar, ini adalah menghidupkan malam. Lebih banyak malam yang dihidupkan dibandingkan dengan ini sebelumnya.

(3) Wa aiqadha Ahlah وأيقظ أهله. Kemudian membangunkan keluarganya, termasuk dalam bentuk perhatian kepada yakni keluarga agar betul-betul, jangan sampai kehilangan kesempatan  even di 10 terakhir bulan Ramadhān.

Di 10 yang terakhir ini, Nabi, tensi amalnya meningkat dan sehingga di 10 hari terakhir inilah mengajarkan itikaf, yang itikaf adalah amaliyyah upaya untuk memutus hubungan dengan keramaian kepada para makhluk, sehingga lebih konsen ini bersama dengan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dan syarat itikaf adalah di masjid kemudian diawali dari masuknya bisa setelah shalāt subuh, bisa setelah shalāt maghrib, sampai nanti malam lebaran/akhir Ramadhān dia keluar, dan tidak boleh keluar masjid kecuali ada hajat khusus yang tidak bisa dipenuhi di masjid.

Contohnya:  Hajat untuk buang ke belakang,  hajat untuk mandi.

Adapun sekedar keluar  dia pengen tengok orang sakit, pengen ziarah, tidak boleh. Karena itikaf adalah konsen dia di dalam masjid.

Akan tetapi sangat disayangkan kita berada di tahun-tahun  wabah, dan Ramadhān kita berada di dalam bulan wabah, bulan-bulan wabah. Akan tetapi jangan khawatir yang penting bagaimana kita memiliki niat yang lurus. Karena sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla menilai seseorang dari kebiasaannya.

Orang yang biasa shalāt jama'ah ke masjid, orang biasa mereka ini jamaah ya shalāt jama'ah ke masjid, biasa melakukan puasa dengan bagus, kemudian ketika ada udzur, maka Allāh memberikan pahala sesuai dengan kebiasaan.

Sedangkan udzur adalah ini udzur dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla makanya kita akan di list bagaimana kebiasan yang ada, sehingga 10 yang terakhir jangan sampai anda sia-siakan waktu anda adalah emas bagi anda. Detik-detik anda menentukan kehidupan anda dan pedagang akhirat inilah puncak hari-hari untuk memaksimalkan amal.

Semoga Allāh betul-betul memberikan taufiq kepada kita  sehingga di 10 hari yang terakhir khususnya malam-malamnya jangan pernah kita lewatkan untuk waktu yang sia-sia. Karena ini adalah detik untuk meraih kejayaan sebagai pedagang akhirat waktu yang tidak bisa lewatkan begitu saja.

Lebih-lebih di 10 hari terakhir ada lailatul qadar yang ini Allāh letakkan di antara malam-malam 10 hari terakhir yang kebaikannya 1000 bulan lebih baik dibandingkan dengan di luar yakni bulan Ramadhān, yang beramal di malam lailatul qadar lebih utama dari 1000 bulan.

Semoga taufiq Allāh mengiringi kita dan jangan lupa banyak berdo'a  kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla jangan kehilangan kesempatan emas di 10 terakhir bulan Ramadhān.

Siapkan lebih baik dengan ilmu anda, hati anda, dan do'a anda.

وصلى الله على النبينا محمد وعلى آله وصحبه و سلم
اﻟسّلامــ عليكـمــ ورحمـۃ اﻟلّـہ وبركاتہ ​​

____________________

Rabu, 04 September 2019

IBADAH PUASA DI BULAN MUHARRAM

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 04 Muharram 1441 H / 04 September 2019 M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Serial Bulan Muharam 1441H
🔊 Halaqah 03| Ibadah Puasa Di Bulan Muharam
⬇ Download audio: bit.ly/Muharam1441-H3
〰〰〰〰〰〰〰

*IBADAH PUASA DI BULAN MUHARRAM*

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد الله و صلاة و سلم على رسول الله و على أله و أصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم القيامة أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kehidupan dunia ini tujuannya adalah untuk beribadah.

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

_“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”_

(QS Adz Dzāriyāt: 56)

Bekerja membuahkan bekal akhirat dan untuk mengapai jannah, itulah tujuan kehidupan kita.

Dan Alhamdulillāh, kita semua diberikan banyak bonus oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla sehingga kita bisa memperbanyak bekal tersebut.

Di antara bonus yang Allāh berikan kepada kita pada bulan Muharram ini adalah ibadah puasa. Yang mana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

_"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhān adalah puasa pada bulan Allāh yang bernama Muharram.”_

(Hadīts Muslim nomor 1163)

Hadīts ini seakan-akan mengisyaratkan kepada kita akan dianjurkannya puasa seluruh bulan, (satu bulan penuh sejak tanggal 1 hingga tanggal terakhir), akan tetapi karena belum ditemukan dalīl atau contoh dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Dan disebutkan pula di sana, Beliau belum pernah berpuasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhān saja, sebagaimana yang disampaikan oleh isteri Beliau dalam hadītsnya. Maka para ulamā membawa hadīts ini kepada anjuran memperbanyak puasa Muharram saja.

Jadi dibawa kepada anjuran memperbanyak, bukan anjuran untuk berpuasa satu bulan penuh dan bagi sahabat Bimbingan Islām yang sibuk tidak bisa berpuasa, maka setidaknya jangan melewatkan puasa pada tanggal 10 Muharram atau yang dinamakan hari AsySyura karena sebagaimana kita ketahui bersama bahwa puasa pada tanggal tersebut akan menghapus dosa satu tahun yang telah lalu.

Sebagaimana sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

وصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

_"Dan puasa Asy Syura, saya berharap Allāh akan menghapus dosa satu tahun yang telah lalu.”_

[HR Muslim: 1162]

Apabila ada kemampuan maka bisa menambah dengan puasa pada tanggal 9 nya atau yang dinamakan dengan puasa Tasu'a.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bersabda:

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

_"Apabila saya masih hidup hingga tahun depan, saya bertekad untuk puasa pada tanggal 9 nya juga.”_

[HR Muslim 2/798, Ibnu Majah 736, Ahmad 1/224, 236, 345, Baihaqi 4/287, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushanafnya 3/58, Thabrani dalam Al Kabir 10/401, Thahawi 2/77 dan lain-lain]

Dan hal tersebut Beliau lakukan untuk menyelisihi orang-orang Yahūdi yang berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja.

Kemudian bagi yang tidak bisa berpuasa pada tanggal 9 Muharram, maka bisa berpuasa pada tanggal 11 Muharram, karena padanya ada penyelisihan kepada orang-orang Yahūdi.

Puasa tanggal 9 dan 10 Muharram atau jika tidak bisa tanggal 9, maka berpuasa tanggal 10 dan tanggal 11nya, ini adalah tingkat yang kedua.

Adapun puasa yang lebih utama lagi adalah puasa tanggal 10 ditambah puasa tanggal 09 dan tanggal 11 Muharram, sehingga ia berpuasa tiga hari.

Walaupun belum ada hadīts shahīh yang berkaitan dengan hal ini, akan tetapi puasa tiga hari ini termasuk dalam sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam di awal tadi, dimana puasa pada bulan Muharram merupakan puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhān.

Dan tentu, apabila dia memperbanyak puasa lebih dari tiga hari maka itu lebih utama.

Inilah pembahasan kita yang berkaitan dengan bulan Muharram dan ibadah puasanya.

Semoga pembahasan ini bermanfaat.

Wallāhu A'lam Bishawāb

وصلى الله على نبينا محمد

____________

Selasa, 03 September 2019

SEBAB DINAMAKAN HARI ASYSYURA

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 03 Muharram 1441 H / 03 September 2019 M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Serial Bulan Muharam 1441H
🔊 Halaqah 02| Sebab Dinamakan Hari Asysyura
⬇ Download audio: bit.ly/Muharam1441-H2
〰〰〰〰〰〰〰

*SEBAB DINAMAKAN HARI ASYSYURA*

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد الله و صلاة و سلم على رسول الله و على أله و أصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم القيامة أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Pada bulan Muharram ini (bulan Syura) ada sebuah hari yang dinamakan dengan Asysyura yaitu hari ke-10 bulan Muharram.

Para ulama berselisih pendapat kenapa hari tersebut dinamakan Asy Syura. Menurut sebagian ulamā hari tersebut dinamakan Asy Syura karena diambil dari kata Asyr yang berarti kesepuluh.

√ Kata Asyura dan Asyr dalam bahasa Arab memiliki unsur pembentuk yang sama yaitu ع، ش، ر.

⇒ Ini pendapat pertama, bahwasanya Asysyura diambil dari kata Asyr yang artinya ke-10.

√ Hari kesepuluh tersebut dinamakan Asysyura diambil dari kata Asyarah yang artinya adalah 10.

Hal tersebut dikarenakan Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan mukzijat atau kemuliaan kepada 10 nabi-Nya pada hari tersebut.

Siapa 10 nabi yang diberikan kemuliaan, Allāh berikan mukzijat yang besar pada hari Asysyura?

Diantaranya:

⑴ Nabi Mūsā Alayhissallām

Dimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla menolong beliau pada hari itu yaitu Allāh membelah lautan dan menenggelamkan Fir'aun di laut merah.

⑵ Nabi Nūh alayhissallām

Dimana pada tanggal tersebut kapal beliau ketika terjadi banjir bandang yang menengelamkan wilayahnya sampai gunung-gunung ikut tengelam, kapal beliau bisa berlabuh di bukit Jūdī. 

Sebagaimana firman Allāh dalam surat Hūd ayat 44.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَقِيلَ يَٰٓأَرۡضُ ٱبۡلَعِي مَآءَكِ وَيَٰسَمَآءُ أَقۡلِعِي وَغِيضَ ٱلۡمَآءُ وَقُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ وَٱسۡتَوَتۡ عَلَى ٱلۡجُودِيِّۖ وَقِيلَ بُعۡدٗا لِّلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

_Dan difirmankan, “Wahai bumi! Telanlah airmu dan wahai langit (hujan!) berhentilah.” Dan air pun disurutkan dan perintah pun diselesaikan dan kapal itupun berlabuh di atas gunung Jūdī dan dikatakan, ”Binasalah orang-orang zhālim .”_

(QS. Hūd: 44)

⑶ Nabi Yūnus alayhissallām.

Beliau diselamatkan oleh Allāh dari perut ikan paus pada hari tersebut.

⑷ Nabi Ādam alayhissallām

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menerima taubatnya pada hari tersebut.

⑸ Nabi Yūsuf alayhissallām

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyelamatkan beliau (dikeluarkan) dari sumur pembuangan ketika beliau dibuang oleh saudara-saudaranya di sumur, pada hari Asysyura ini.

⑹ Nabi Īsā alayhissallām

Dimana beliau dilahirkan pada hari tersebut dan beliau diangkat ke langit pada hari tersebut

⑺ Nabi Dāwūd alayhissallām

Dimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla menerima taubatnya pada hari tersebut.

⑻ Nabi Ibrāhīm alayhissallām

Beliau adalah khālillurahman yang dilahirkan pada tanggal tersebut.

⑼ Nabi Ya'qub alayhissallām

Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengembalikan penglihatannya setelah kebutaan yang menimpa beliau pada hari Asysyura ini.

⑽ Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam

Dimana beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan akan datang pada hari tersebut.

Itulah 10 nabi yang mendapatkan kemuliaan yang agung pada tanggal 10 Muharram atau pada hari Asysyura. Dan karena ada 10 nabi yang mendapatkan kemuliaan mukzijat besar maka hari tersebut dinamakan AsySyura diambil dari kata Asysyara yang artinya 10.

Informasi ini bisa kita lihat dalam karya Badrudin Al ‘Aini dalam kitāb Umdatul Qari Syarah Shahīh Bukhāri.

Dan beliau, Al ‘Aini rahimahullāh, menambahkan beberapa nabi yang mendapatkan kemuliaan pada tanggal tersebut (silahkan dirujuk pada kitāb beliau juz 11 hal 117 sampai 118)

Semoga pembahasan ini bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb

وصلى الله على نبينا محمد

____________

Senin, 02 September 2019

KEZHALIMAN DI BULAN MUHARAM

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 03 Muharam 1441H / 02 September 2019M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Serial Bulan Muharam 1441H
🔊 Halaqah 01| Kezhaliman Di Bulan Muharam
⬇ Download audio: bit.ly/Muharam1441-H1
〰〰〰〰〰〰〰

*KEZHALIMAN DI BULAN MUHARAM*

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد الله و صلاة و سلم على رسول الله و على أله و أصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم القيامة أما بعد

Kaum muslimin wal muslimat, rahimaniy wa rahimakumullāh, sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Bulan Muharram atau sering disebut bulan Syura adalah termasuk bulan haram yang Allāh muliakan.

Dimana Allāh Ta'āla berfirman tentangnya dalam surat At Tawbah 36.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman: 

فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ

_"Janganlah kalian menzhālimi diri kalian pada bulan-bulan haram.”_

(QS. At Tawbah: 36)

Kezhāliman merupakan suatu hal yang diharamkan disetiap saat (setiap waktu) dan pada semua orang. Dan pada bulan haram ini kezhāliman tersebut semakin besar keharamannya karena kemuliaan waktunya.

Dan kita tentu sudah tahu bahwa kezhāliman merupakan kegelapan pada hari kiamat kelak.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah menyampaikan:

اتَّقُوا الظُّلْمَ ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

_"Hati-hatilah kalian dari kezhāliman karena kezhāliman adalah kegelapan pada hari kiamat."_

(Muttafaqun 'alaihi)

Termasuk kezhāliman yang sangat besar yang harus kita jauhi pada bulan ini, adalah:

⑴ KESYIRIKAN

Kesyirikan merupakan hal yang harus kita jauhi pertama kali. Kesyirikan adalah mempersembahkan ibadah kepada selain Allāh.

Kenapa hal tersebut bisa menjadi kezhāliman?

Kita perlu mengingat nasehat dari Luqman Al Hākim kepada anaknya dalam surat Luqman ayat 13.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ

_Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allāh, sesungguhnya mempersekutukan (Allāh) adalah benar-benar kezhāliman yang besar.”_

(QS. Luqman: 13)

Dan kezhāliman lain yang harus kita jauhi pada bulan ini dan bulan lain adalah,

⑵ KEBID'AHAN

Dan kita tahu maksud bid'ah di sini adalah suatu cara ibadah baru untuk mendekatkan diri kepada Allāh Ta'āla.

Kalau bukan ibadah (bukan untuk mendekatkan diri kepada Allāh)  maka tidak masuk ke dalam definisi ini.

Kebid'ahan yang masuk dalam definisi ini yaitu sebuah ibadah baru untuk mendekatkan diri kepada Allāh, maka ini merupakan kezhāliman kita kepada Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam. 

Kebid'ahan juga akan menjadi ranjau dan jebakan syaithān untuk menyesatkan manusia. Bahkan syaithān menjadikan kebid'ahan ini menjadi jebakan kedua setelah kesyirikan.

Kenapa ?

Karena orang yang berbuat bid'ah tidak merasa kalau dirinya salah, tidak merasa kalau dia telah bermaksiat.

Berbeda dengan orang yang berbuat dosa dengan terang-terangan, mereka menganggap dirinya kotor (berdosa). Tapi orang yang melakukan bid'ah tidak merasakan seperti itu, (ini sebabnya).

⑶ MENZHĀLIMI DIRI SENDIRI

Kemudian kezhāliman lain yang harus kita hindari, kita usahakan semaksimal mungkin, walaupun tidak ada orang yang bersih dari kezhāliman, yaitu menzhālimi diri sendiri, menzhālimi keluarga, mengurangi hak-haknya, menzhālimi orang-orang yang berada di dekat kita, menzhālimi tetangga-tetangga kita atau pun orang-orang pada umumnya.

Kita harus berusaha menjaga diri agar tidak menzhālimi mereka semua terutama pada bulan Muharram ini, karena bulan Muharram ini termasuk salah satu bulan yang Allāh muliakan.  Yang masuk dari 4 bulan-bulan yang Allāh haramkan padanya kezhāliman dengan pengharaman yang lebih besar lagi.

Semoga Allāh menolong kita untuk. menjauhi kezhāliman-kezhāliman baik kepada Allāh, rasūl-Nya, agama-Nya, diri sendiri ataupun orang lain.

Wallāhu A'lam Bishawāb

وصلى الله على نبينا محمد

____________

Selasa, 16 Oktober 2018

AMALAN-AMALAN UTAMA DIBULAN RAMADHĀN, BAGIAN 12

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 30 Sya’ban 1439 H / 16 Mei 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., Lc, M.A.
📔 Materi Tematik | Amalan-Amalan Di Bulan Ramadhan (Bagian 12)
⬇ Download Audio: BiAS-UFz-Tematik-Amalan-Amalan Di Bulan Ramadhan-12
----------------------------------
*AMALAN-AMALAN UTAMA DIBULAN RAMADHĀN, BAGIAN 12*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
إن الحمد لله نحمده، و نستعينه، ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا, من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له, وأ شهد أن محمداً عبدُه ورسولُه لا نبي بعدي أما بعد
Para sahabat Bimbingan Islām dan kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Alhamdulilāh kita dipertemukan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla pada bulan yang mulia yaitu bulan Ramadhān.
Pertanyaannya adalah:
√ Bagaimana kita menghadapi bulan Ramadhān ?
√ Bagaimana kita menyambut bulan Ramadhān yang penuh berkah?
Sebagaimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla  berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ
_"Bulan Ramadhān adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al Qur'ān, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang bathil)."_
(QS Al Baqarah: 185)
Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengkhususkan bulan Ramadhān, dibanding bulan-bulan yang lainnya. Dan menjadikan bulan ini bulan yang mulia dengan kekhususan yang banyak, dengan kelebihan yang banyak dan juga keistimewaan yang luar biasa.
Di antara kekhususan (keistimewaan) bulan Ramadhān, adalah:
⑴ Bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allāh lebih wangi daripada wangi misk.
⑵ Para malāikat senantiasa memintakan ampun kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla bagi orang-orang yang berpuasa sampai mereka berbuka puasa (ini kelebihan yang luar biasa). 
⑶ Allāh Subhānahu wa Ta'āla setiap hari menghiasi surga-Nya dan berkata, "Akan datang hamba-hamba shālih yang mereka akan terlepas dari gangguan dan mereka akan datang kepadamu, wahai surga."
⑷ Pada bulan Ramadhān syaithān-syaithān dibelenggu.
⑸ Pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup.
⑹ Di dalam bulan Ramadhān ada satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan yaitu lailatul qadr.
Lailatul qadr (malam kemuliaan), orang yang tidak bisa mendapatkan malam ini, tidak melalui malam ini dengan kebaikan maka sungguh kebaikan itu tercegah bagi dia.
⑺ Orang yang berpuasa diampuni setiap malamnya (di bulan Ramadhān).
⑻ Allāh Subhānahu wa Ta'āla memilih hamba-hamba-Nya dan membebaskan mereka dari neraka dan itu setiap malam di bulan Ramadhān.
Oleh karena itu ikhwāh fīdīn a'ādzaniyallāh wa Iyyakum.
Bulan ini bulan yang istimewa, bulan yang penuh dengan keutamaan, bulan yang penuh kemuliaan.
Pertanyaannya:
Bagaimana kita menyambutnya?
Bagaimana kita menghadapinya?
Bagaimana kita menjalaninya?
Apakah kita menjalaninya dengan perkara-perkara yang sia-sia, permainan, senda gurau, nonton TV, nonton telenovela dan sebagainya?
Atau bahkan dengan perbuatan-perbuatan maksiat (na'ūdzu billāhi min dzālik), sebagaimana kita lihat sebagian orang menghabis waktunya, tertipu dengan senda gurau, permainan dan kemaksiatan.
Akan tetapi ikhwāh fīdīn, di sana ada hamba-hamba yang shālih yang ta'at kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Mereka menyambut bulan Ramadhān dengan taubatan nasuha. Mereka menyambut Ramadhān dengan penuh rasa gembira,  dengan penuh semangat. Mereka mempunyai azam dihatinya untuk bisa memanfaatkan waktunya semaksimal mungkin di bulan Ramadhān.
Mereka memanfaatkan waktu-waktu yang ada dengan amal shālih dan senantiasa meminta (berdo'a) kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla agar dibantu, dimudahkan sebagaimana para salaf terdahulu.
Para salaf dahulu enam bulan mereka berdo'a kepada Allāh agar bertemu dengan bulan Ramadhān, agar bisa memanfaatkan bulan Ramadhān dengan baik.
Oleh karena itu, apa amalan-amalan shālih yang dilakukan oleh para salaf.
⑴ Shaum (berpuasa)
Shaum adalah satu kewajiban bagi kaum. muslimin dan rukun di antara rukun Islām dan puasa ini pahalanya luar biasa.
Sebagaimana sabda Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

كل عمل ابن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف قال عز وجل: إلا الصيام فإنه لي وأنا الذي أجزي به إنه ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلي للصائم فرحتان: فرحة عند فطره وفرحة عند لقاء ربه ولخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك
_"Setiap amalan anak Ādām itu adalah untuk dia, satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan sampai 700 kali lipat."_
Dalam hadīts qudsi Allāh Ta'āla berfirman:
"Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang langsung membalasnya."
⇒ Artinya tidak ada kadar yang ditentukan disini. Dan bayangkan Allāh yang langsung membalasnya!
Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:
"Puasa itu untukku karena orang yang berpuasa, dia telah  meninggalkan syahwatnya, meninggalkan makan dan minum untuk Ku.”
"Dan bagi orang yang berpuasa ada ada dua kebahagiaan, yaitu:
1. Kebahagiaan tatkala dia berbuka puasa.
2. Kebahagiaan tatkala bertemu dengan Allāh Subhānahu wa Ta'āla."
"Bau mulut orang yang berpuasa itu lebih baik, lebih wangi di sisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla  daripada misk."
(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)
Dalam hadīts lain.
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
_"Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhān karena iman dan mengharap pahala dari Allāh maka Allāh akan ampuni dosa-dosanya yang telah lalu."_
(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)
Puasa akan mendatangkan ampunan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Akan tetapi perlu diperhatikan, bahwasanya balasan-balasan dari amalan puasa ini, bukan semata-mata  karena seseorang meninggalkan makan dan minum akan tetapi juga dengan beramal shālih 
Oleh karena itu kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
_"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, malah mengamalkannya, maka Allāh tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan."_
(Hadīts riwayat Bukhari nomor 1903)
⇒ Artinya dia tidak mendapatkan pahala puasa sebagaimana tadi disebutkan.
Dalam hadīts lain.
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
_Puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata rafats (kotor) janganlah berkata yang buruk, jangan pula bertingkah laku jāhil (mengejek, membodohi orang) Jika ada orang yang mencela atau memeranginya, maka ucapkanlah, ‘'Aku sedang berpuasa."_
(Hadīts riwayat Bukhāri Muslim) 
Oleh karena itu apabila anda berpuasa hendaknya telinga, pandangan, lisan dan seluruh anggota tubuh ikut berpuasa dari perkara-perkara buruk. Jangan sampai amalan kita sama, baik sedang berpuasa atau tidak berpuasa.
Jangan sampai kita masuk dalam hadīts ini.
 فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
_"Allāh tidak butuh dari rasa lapar dan haus kita (puasa kita)."_
Demikian yang bisa kami sampaikan, in syā Allāh kita akan lanjutkan pada pertemuan yang akan datang bi idznillāh.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA
▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*
📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*
Contoh : 100.025
_____________________

Sabtu, 13 Oktober 2018

AMALAN-AMALAN UTAMA DIBULAN RAMADHĀN, BAGIAN 10

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 26 Sya’ban 1439 H / 12 Mei 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., Lc, M.A.
📔 Materi Tematik | Amalan-Amalan Di Bulan Ramadhan (Bagian 10)
⬇ Download Audio: BiAS-UFz-Tematik-Amalan-Amalan Di Bulan Ramadhan-10
----------------------------------
*AMALAN-AMALAN UTAMA DIBULAN RAMADHĀN, BAGIAN 10*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد
Para sahabat Bimbingan Islām dan kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Kita lanjutkan amalan berikutnya yang hendaknya kita lakukan di bulan Ramadhān dan di luar Ramadhān (tentunya) yaitu:

⒀ Memberi Makan Orang Yang Berbuka Puasa.
Memberi makan orang yang berbuka puasa pahalanya sangat besar, dia bisa mendapatkan pahala orang yang berpuasa.
_Dari Zaid ibni Khālid Al Juhaniy radhiyallāhu ta'āla 'anhu berkata, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:_
_"Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga."_
(Hadīts shahīh riwayat Imām Tirmidzī nomor 807)
Kita bayangkan, apabila kita memberi buka puasa untuk 100 orang, sebagaimana dalam hadīts, kita akan mendapatkan pahala puasa dari 100 orang tersebut.
Apabila kita memberi makan (buka puasa) untuk 1000 orang, maka kita mendapatkan pahala puasa dari 1000 orang tersebut, berdasarkan hadīts yang shahīh. Ini adalah amalan yang luar biasa.
Amalan ringan tetapi pahalanya luar biasa, ini adalah kemurahan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

⒁ Mengeluarkan Zakāt Fithrah
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ
_Dari Ibnu Umar radhiyallāhu ta'āla 'anhumā, beliau berkata, Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:_
_"Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mewajibkan untuk mengeluarkan zakāt fithrah, satu shā' dari tamr atau satu shā' dari sya'īr. Kewajiban itu dikenakan kepada budak, orang merdeka, lelaki, wanita, anak kecil dan orang tua dari kalangan umat Islām. Dan beliau memerintahkan agar zakāt fithri itu ditunaikan sebelum keluarnya orang-orang menuju shalāt."_
(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim, lafazh ini dari Imām Muslim)
Ini menunjukkan bahwa setiap jiwa yang ditanggung oleh seseorang wajib dikeluarkan zakātnya. Baik dia seorang hamba, budak sahaya, seorang merdeka, anak kecil maupun orang dewasa. Selama masih dalam tanggungan seseorang maka wajib dikeluarkan zakātnya (zakāt fithrah).
Dan ini (zakāt fithrah) termasuk amalan yang diperintahkan di bulan Ramadhān.
عَن أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ ـ رضى الله عنه ـ يَقُولُ كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ.
_Dari Abū Sa'id Al Khudriy radhiyallāhu ta'āla 'anhu beliau berkata:_
_"Dahulu kami mengeluarkan zakāt fithri dengan satu shā' dari makanan kami atau satu shā' dari sya'īr (gandum) atau satu shā' tamr (kurma) atau satu shā' aqith (keju) atau satu shā' dari zabīb (anggur)."_
(Hadīts riwayat Bukhāri nomor 1506 dan Muslim nomor 2330)
Ini menunjukkan bahwasanya mengeluarkan zakāt fithrah adalah amalan para shahābat.
Dan zakāt fithrah berdasarkan makanan pokok dari penduduk negeri tersebut.
Seperti kita (misalnya) di Indonesia untuk zakāt fithrah dengan mengeluarkan beras, karena beras adalah makanan pokok kita orang Indonesia. Dan satu shā' kira-kira sekitar 3 kg.
Dalam hadīts yang lain.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ
_Dari Ibnu Abbās radhiyallāhu ta'āla 'anhu, beliau berkata:_
_"Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mewajibkan untuk mengeluarkan zakāt fithrah sebagai pensuci bagi orang-orang yang puasa dari perbuatan sia-sia dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalāt 'Ied maka dia dihitung sebagai zakāt yang diterima. Dan barangsiapa yang menunaikan setelah shalāt 'Ied maka dia dihitung sebagai sedekah biasa."_
(Hadīts riwayat Abū Dāwūd, Ibnu Mājah dan dihasankan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh).
Demikian semoga bermanfaat.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA
▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*
📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*
Contoh : 100.025
_____________________

Jumat, 12 Oktober 2018

AMALAN-AMALAN UTAMA DIBULAN RAMADHĀN, BAGIAN 11

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 29 Sya’ban 1439 H / 15 Mei 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., Lc, M.A.
📔 Materi Tematik | Amalan-Amalan Di Bulan Ramadhan (Bagian 11)
⬇ Download Audio: BiAS-UFz-Tematik-Amalan-Amalan Di Bulan Ramadhan-11
----------------------------------
*AMALAN-AMALAN UTAMA DIBULAN RAMADHĀN, BAGIAN 11*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد
Para sahabat Bimbingan Islām dan kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Kita lanjutkan amalan berikutnya yang hendaknya kita lakukan di bulan Ramadhān, yaitu:

⒁ I'tikāf di sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhān
Amalan ini adalah amalan yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam di dalam hidupnya.
Dan amalan ini adalah amalan yang sangat mulia, memberikan kesempatan bagi setiap orang yang beramal untuk mendapatkan atau melalui malam kemuliaan (lailatul qadr) dalam keadaan yang terbaik, (yaitu) beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
عَنْ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
_Dari Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā (istri Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam), bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, beliau i'tikāf sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhān sampai Allāh Subhānahu wa Ta'āla mewafatkan beliau. Kemudian istri-istri beliau beri'tikāf setelah wafatnya beliau._
(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، - رضى الله عنهما - أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ
_Dari Abdillāh bin Umar radhiyallāhu ta'āla 'anhu beliau berkata:_
_"Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam beri'tikāf disepuluh hari terakhir dibulan Ramadhān."_
(Hadīts riwayat Bukhāri)
عن عَائِشَةُ رضى الله عنها كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ
_Dari Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā, beliau mengatakan:_
_"Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersungguh-sungguh di sepuluh hari yang terakhir lebih daripada hari-hari yang lainnya."_
(Hadīts riwayat Muslim, Imām Ahmad dan Tirmidzī)
عن عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم، إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
_Dari Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā, beliau mengatakan:_
_"Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam apabila masuk sepuluh hari yang terakhir, beliau kencangkan sarungnya, menghidupkan malam beliau dan membangunkan keluarga beliau."_
(Hadīts riwayat Bukhāri Muslim)
Amalan berikutnya;

⒂ Memperbanyak membaca Al Qur'ān
Memperbanyak membaca Al Qur'ān karena Al Qur'ān diturunkan pada bulan Ramadhān dan juga Allāh Subhānahu wa Ta'āla  berfirman:
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَـٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ سِرًّۭا وَعَلَانِيَةًۭ يَرْجُونَ تِجَـٰرَةًۭ لَّن تَبُورَ ۞ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
_"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitāb Allāh (Al Qur'ān) dan mendirikan shalāt dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allāh menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allāh Maha Pengampun, Maha Mensyukuri (Membalas)."_
(QS Fāthir: 29-30)
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ
_Dari Ibnu Abbās radhiyallāhu ta'āla 'anhumā beliau berkata:_
_"Bahwasnya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dan kedermawannya lebih dahsyat lagi di bulan Ramadhān. Tatkala bertemu dengan Jibrīl, dan beliau bertemu dengan Jibrīl setiap malam di bulan Ramadhān, saling mmepelajari alQurān."_
(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)
⇒ Ini menunjukkan bahwa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sangat intens membaca Al Qur'ān di bulan Ramadhān.
Dalam sebuah hadīts disebutkan.
Dari Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā, beliau bercerita, tatkala Fāthimah dibisiki oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, kemudian Fāthimah menangis. Lalu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam membisiki lagi dan Fāthimah pun tertawa.
Lalu Āisyah pun bertanya, "Apa yang membuatmu menangis dan tertawa?"
Fāthimah pun tidak ingin membocorkan rahasia Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. Maka tatkala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sudah meninggal Āisyah pun bertanya:
"Apa yang menyebabkan engkau (wahai Fāthimah) menangis dan tertawa?"
Maka di antaranya beliau (Fāthimah) mengatakan:
Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam membisiki saya dengan satu rahasia, "Sesungguhnya Jibrīl membacakan Al Qur'ān kepada saya setiap bulan Ramadhān dan Jibrīl pada tahun ini membacakan Al Qur'ān dua kali dan saya kira telah datang ajal saya."
Maka ini yang membuat Fāthimah menangis
(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)
Oleh karena itu Ibnu Rajab beliau mengatakan dalam hadīts Fāthimah ini, beliau mengatakan: "Bahwasanya Jibrīl membacakan Al Qur'ān setiap tahun sekali dan di tahun tersebut, tahun kematian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam beliau membacakan Al Qur'ān dua kali.
Dan di dalam hadīts ini (hadīts Ibnu 'Abbās) disebutkan:
أن المدارسة بينه وبين جبريل كانت ليلاً
_"Bahwasanya beliau mempelajari Al Qur'ān dengan Jibrīl adalah di malam hari."_
Ini menunjukkan disunnahkan (disukai) memperbanyak tilawah di bulan Ramadhān pada malam hari.
Karena malam hari kita sudah terbebas dari berbagai macam kesibukan dan malam hari kita bersemangat untuk membaca Al Qur'ān sesuai dengan hati dan lisan dan pada malam hari Al Qur'ān lebih mudah untuk ditadabburi.
Dan ini senada dengan firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla :
 إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيْلِ هِىَ أَشَدُّ وَطْـًۭٔا وَأَقْوَمُ قِيلًا
_"Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan."_
(QS Al Muzzammil: 6)
Bahwasanya membaca Al Qur'ān itu lebih kuat pengaruhnya pada saat malam hari (pada saat shalāt dimalam hari).
Semoga yang sedikit ini bermanfaat dan in syā Allāh, kita lanjutkan kembali pada materi lainnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA
▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*
📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*
Contoh : 100.025
_____________________

AMALAN-AMALAN UTAMA DIBULAN RAMADHĀN, BAGIAN 09

🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 25 Sya’ban 1439 H / 11 Mei 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., Lc, M.A.
📔 Materi Tematik | Amalan-Amalan Di Bulan Ramadhan (Bagian 09)
⬇ Download Audio: BiAS-UFz-Tematik-Amalan-Amalan Di Bulan Ramadhan-09
----------------------------------


AMALAN-AMALAN UTAMA DIBULAN RAMADHĀN, BAGIAN 09*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد
Para sahabat Bimbingan Islām dan kaum muslimin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Kita lanjutkan amalan berikutnya, yaitu:

⑽ Umrah Di Bulan Ramadhān
Umrah di bulan Ramadhān pahalanya sangat besar bahkan pahalanya sama dengan haji bersama Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Berdasarkan hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan Muslim juga oleh Imām An Nassā'i.
Bahwasanya beliau bersabda:
فَعُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي
_"Maka umrah di bulan Ramadhān pahalanya sama dengan haji atau haji bersamaku."_

⑾ Menghidupkan Malam Lailatul Qadr
Hendaklah kita menghidupkan malam lailatul qadr yaitu malam yang lebih baik dari 1000 bulan.
Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla :
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. ۞ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۞ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ۞ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ۞  سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ ۞
_"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'ān ) pada malam qadar.  Dan tahukah klaian apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malāikat dan Rūh(Jibrīl) dengan izin Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar."_
(QS Al Qadr: 1-5)
Dan dalam firman Allāh yang lainnya:
حم۞ وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ ۞ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ ۞ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
_"Demi Kitāb (Al Qur'ān) yang jelas. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah."_
(QS Ad Dukhān: 1-4)
Ini menunjukkan bahwa Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengagungkan malam kemuliaan (malam lailatul Qadr).
Dalam sebuah hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta'āla 'anhu, hadīts ini diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim.
Bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَيُوَافِقُهَا - أُرَاهُ قَالَ - إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ
_"Barangsiapa yang menghidupkan malam lailatul qadr dan dia diberikan taufīq untuk tepat di malam tersebut dengan penuh imān dan ihtisāb, maka dia akan diampuni."_
Dan dalam hadīts Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā, yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri Muslim, ada perintah agar kita bersemangat untuk mencari malam lailatul qadr.
Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
 تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
_"Carilah malam lailatul qadr pada malam-malam ganjil (10 hari yang terakhir) di bulan Ramadhān."_
Hadīts yang lain.
Dari Ibnu 'Umar (senada dengan hadīts Āisyah) bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
 تَحَيَّنُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ
_"Carilah malam lailatul qadr (malam kemuliaan) di sepuluh hari yang terakhir."_
Dari hadīts Abū Hurairah radhiyallāhu ta'āla 'anhu, Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
 أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أَيْقَظَنِي بَعْضُ أَهْلِي فَنُسِّيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْغَوَابِرِ
_Saya diperlihatkan di dalam mimpi malam kapan malam lailatul qadr, kemudian sebagian keluarga saya membangunkan saya, kemudian sayapun dilupakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Kemudian kata Rasūlullāh:_
_"Maka carilah malam tersebut pada sepuluh malam yang terakhir."_
(Hadīts riwayat Imām Muslim dan Imām Ibnu Hibbān)
Dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta'āla 'anhu beliau bersabda:
 أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
_"Telah datang kepada kalian bulan Ramadhān, bulan yang penuh keberkahan, Allāh mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa dibulan tersebut. Dibukakan pintu-pintu langit pada bulan tersebut dan ditutup pintu-pintu neraka jahannam, dan diikat syaithān-syaithān yang fājir. Dan Allāh menjadikan satu malam lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa siapa yang tidak mendapatkannya maka dia adalah orang-orang yang tercegah dari kebaikan."_
(Hadīts riwayat Imām Ahmad)

⑿ Memperbanyak Sedekah
Memperbanyak sedekah dan mengeluarkan zakāt fithrah. Karena bulan Ramadhān adalah bulan yang penuh dengan kebaikan dan disebut juga bulan sedekah.
Begitulah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam di dalam memanfaatkan bulan Ramadhān.
Dari Ibnu Abbās radhiyallāhu ta'āla 'anhu:
 كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
_"Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhān, saat beliau bertemu Jibrīl. Jibrīl menemuinya setiap malam untuk saling mengajarkan Al Qur'ān. Dan kedermawanan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melebihi angin yang berhembus."_
Mudah-mudahan kita, diberikan taufīq oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla untuk banyak bersedekah di bulan Ramadhān dan di bulan-bulan lainnya.
Demikian semoga bermanfaat.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA
▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*
📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*
Contoh : 100.025
_____________________

AMALAN-AMALAN UTAMA DIBULAN RAMADHĀN, BAGIAN 08

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 24 Sya’ban 1439 H / 10 Mei 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., Lc, M.A.
📔 Materi Tematik | Amalan-Amalan Di Bulan Ramadhan (Bagian 08)
⬇ Download Audio: BiAS-UFz-Tematik-Amalan-Amalan Di Bulan Ramadhan-08
----------------------------------
*AMALAN-AMALAN UTAMA DIBULAN RAMADHĀN, BAGIAN 08*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām dan kaum muslimin yang berbahagia, kita lanjutkan amalan berikutnya, yaitu:

▪Amalan Shalāt Dhuhā
Jumlah raka'at shalāt dhuhā yang sedikit adalah dua raka'at, (yaitu) setelah seorang mengerjakan shalāt shubuh berjama'ah di masjid kemudian dia berdiam diri di dalam masjid sampai terbit matahari, kemudian dia melaksanakan shalāt dua raka'at.
⇒ Dan ini memiliki keutamaan yang besar.
Sebagaimana dalam sebuah hadīts dari Anas bin Mālik radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, beliau berkata:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ »
_Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:_
_"Barangsiapa yang melaksanakan shalāt shubuh secara berjama'ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allāh hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalāt dua raka'at, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah.”_
_Beliau pun bersabda:_
_"Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna."_
(Hadīts riwayat Tirmidzī nomor 586,dan dihasankan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh)
Ini adalah keutamaan orang yang shalāt shubuh berjama'ah di masjid kemudian duduk (berdiam diri) untuk berdzikir hingga terbit matahari, kemudian melaksanakan shalāt dua raka'at, dan ini termasuk kedalam shalāt dhuhā (minimalnya dua raka'at).
Berapa batasan shalāt dhuhā ?
Batasan shalāt dhuha tidak terbatas, sebagaimana dalam sebuah hadīts dari 'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ
_"Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam beliau shalāt dhuhā empat raka'at, dan beliau menambahkan sesuai dengan kehendak Allāh Subhānahu wa Ta'āla."_
(Hadīts riwayat Muslim nomor 1176 versi Syarh Muslim nomor 719)
Dan beliau menambahkan sesuai dengan kehendak Allāh Subhānahu wa Ta'āla, (artinya) tidak terhitung jumlah raka'atnya sesuai dengan kehendak (taufīq) yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan kepada beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam).
Kemudian Ikhwān Fīddīn A'ādzaniyallāh wa Iyyakum.
Bahwasanya orang yang menjaga shalāt dhuhā atau seseorang yang senantiasa terus menerus melaksanakan shalāt dhuhā adalah orang yang awwāb (orang yang mudah bertaubat kembali kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla).
⇒ Di antara sifat orang yang awwāb adalah dia merutinkan (membiasakan) shalāt dhuhā.
Hal ini berdasarkan hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, beliau berkata bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, beliau bersabda:
لاَ يُحَافِظُ عَلَى صَلاَةِ الضُّحَى إِلاَّ أَوَّابٌ
_"Tidaklah menjaga shalāt sunnah dhuhā melainkan awwāb (orang yang kembali taat)."_
(Hadīts riwayat Imām Hakīm, dihasankan oleh Syaikh Albāniy dalam Shahīh Al Jamī')
Hadīts lain yang menunjukkan bahwa shalāt dhuhā adalah shalāt yang menggugurkan kewajiban kita bersedekah atas setiap ruas tulang yang kita miliki, karena setiap ruas tulang ini adalah nikmat dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla .
⇒ Kita memiliki 360 ruas tulang, yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan kepada kita.
Dalam sebuah hadīts dari Abū Dzar radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, beliau berkata, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
_"Setiap pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhānallāh) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillāh) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil ('Lā ilāha illallāh) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allāhu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’'ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalāt dhuhā sebanyak 2 raka'at."_
(Hadīts riwayat Imām Muslim, Imām Ahmad dan Abū Dāwūd)
⇒ Ini menunjukkan bahwasanya shalāt dhuhā mencukupi kewajiban kita untuk bersedekah dari setiap ruas tulang yang Allāh berikan kepada kita.
Shalāt dhuhā juga merupakan shalāt yang diwasiatkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada murid kesayangan beliau (yaitu) Abū Hurairah radhiyallāhu ta'āla 'anhu.
Dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta'āla 'anhu, dia berkata:
أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ : صَوْمِ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ
_"Kekasihku (Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam) telah berwasi'at kepadaku tentang tiga perkara agar jangan aku tinggalkan hingga mati: puasa tiga hari setiap bulan (ayamul bidh), dua raka’at shalāt dhuhā dan tidur dalam keadaan sudah melakukan shalāt witir."_
(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)
Dalam riwayat (musnad Ahmad) ditambahkan:
وبالصلاة ضحي فإنها صلاة الأوابين
_"Dan diwasiatkan shalāt dhuhā, karena sesungguhnya shalāt dhuhā adalah shalāt orang-orang yang awwāb (orang-orang yang kembali kepada Allāh /bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla)."_
Para sahabat sekalian yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
√ Semoga kita dimudahkan untuk melaksananakan amalan-amalan shālih ini (diantaranya shalāt dhuhā).
√ Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan taufīq kepada kita dan memudahkan kita untuk istiqāmah melaksanakan amalan tersebut.
Semoga bermanfaat.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA
▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*
📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*
Contoh : 100.025
_____________________

AMALAN-AMALAN UTAMA DIBULAN RAMADHĀN, BAGIAN 07

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 23 Sya’ban 1439 H / 09 Mei 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., Lc, M.A.
📔 Materi Tematik | Amalan-Amalan Di Bulan Ramadhan (Bagian 07)
⬇ Download Audio: BiAS-UFz-Tematik-Amalan-Amalan Di Bulan Ramadhan-07
----------------------------------
*AMALAN-AMALAN UTAMA DIBULAN RAMADHĀN, BAGIAN 07*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla
dan kaum muslimin yang diberkahi oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Kita lanjutkan materi kita, sekarang kita membahas amalan berikutnya yaitu shalāt nāfilah.

(7) Kita dianjurkan memperbanyak shalāt-shalāt sunnah, dan shalāt sunnah (nāfilah) yang dicontohkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam banyak macamnya.
Oleh karena itu, kita tidak perlu lagi  melakukan shalāt-shalāt lain yang tidak ada tuntunannya dari Rasūlullāh ahallallāhu 'alayhi wa sallam.
Yang termasuk shalāt sunnah (nāfilah) diantaranya:
▪Shalāt sunnah yang menyertai shalāt Jum'at
Untuk shalāt yang menyertai shalāt Jum'at, yaitu shalāt sunnah 4 raka'at dimasjid atau dua raka'at dirumah.
Hal ini berdasarkan hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta'āla 'anhu bahwasanya beliau berkata, Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
 إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا
_"Apabila seseorang diantara kalian shalāt Jum'at maka shalāt setelahnya empat raka'at."_
(Hadīts riwayat Muslim, Abū Dāwūd, An Nassā'i, Ibnu Mājah)
Dalam riwayat lain (Hadīts Muslim dan Ahmad) ada tambahan:
زَادَ عَمْرٌو فِي رِوَايَتِهِ قَالَ ابْنُ إِدْرِيسَ قَالَ سُهَيْلٌ فَإِنْ عَجِلَ بِكَ شَيْءٌ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ فِي الْمَسْجِدِ وَرَكْعَتَيْنِ إِذَا رَجَعْتَ
_Bahwasanya Amr menambahkan dalam riwayatnya, beliau berkata bahwasanya Ibnu Idrīs berkata, bahwasanya Suhail berkata: "Kalau ada yang membuat engkau terburu-buru maka shalātlah dua raka'at dimasjid dan dua raka'at apabila sudah pulang kerumah."_
(HR Muslim nomor 1458, versi Syarh Muslim nomor 881)
Dari Abdullāh bin Umar:
أَنَّهُ كَانَ إِذَا صَلَّى الْجُمُعَةَ انْصَرَفَ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصْنَعُ ذَلِكَ
_Bahwasanya beliau apabila shalāt Jum'at,  beliau kemudian pulang kerumahnya dan shalāt dua raka'at dirumahnya._
_Dan beliau mengatakan:_
_"Beginilah waktu itu Rasūlullāh Shallallāhu 'alayhi wa sallam melakukannya."_
(Hadīts riwayat Muslim, Abū Dāwūd dan Tirmidzī)
Dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta'āla 'anhu berkata, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ مُصَلِّيًا بَعْدَ الْجُمُعَةِ فَلْيُصَلِّ أَرْبَعًا
_"Barangsiapa yang shalāt setelah shalāt Jum'at, maka hendaklah dia shalāt empat raka'at."_
Dalam hadīts yang lain disebutkan.
إِذَا صَلَّيْتُمُ الْجُمُعَةَ فَصَلُّوا بَعْدَهَا أَرْبَعًا
_"Apabila kalian shalāt Jum'at maka shalāt lah setelahnya empat raka'at."_
Atau dalam hadīts yang lain, Ibnu Yūnus, beliau berkata, berkata kepada saya bapak saya:
 يَا بُنَىَّ فَإِنْ صَلَّيْتَ فِي الْمَسْجِدِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَتَيْتَ الْمَنْزِلَ أَوِ الْبَيْتَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ

_"Wahai anakku, apabila engkau shalāt dimasjid dua raka'at kemudian engkau pulang kerumah maka shalātlah dua raka'at."_
(Hadits riwayat Abu Daud nomor 1131)
Kemudian diantara sunnah-sunnah lain selain sunnah rawātib, seperti:
▪Dua raka'at setelah dhuhur selain sunnah rawātib, (artinya) setelah selesai sunnah rawātib tambah lagi dua raka'at.
عَنْ عَنْبَسَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ، قَالَ قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ زَوْجُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم  " مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرُمَ عَلَى النَّارِ "
_Dari 'Anbasah Ibnu Abī Sufyān dia berkata, berkata Ummu Habibah istri Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:_
_"Barangsiapa yang menjaga empat raka'at sebelum *dan empat raka' at setelah* shalāt dhuhur maka diharamkan baginya neraka."_
(Hadīts shahīh riwayat Abu Daud 1269 dan Imām Ahmad dan dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh)
⇒ Ini menunjukkan bahwa ada tambahan dua raka'at sunnah rawātib (yaitu) dua raka'at setelah shalāt dhuhur.
Tetapi apabila dia menambahkan menjadi empat raka'at maka ini juga memiliki tambahan.
Kemudian amalan yang berikutnya adalah:
▪ Shalāt sebelum shalāt ashar, maghrib dan isya.
⑴ Empat raka'at sebelum ashar.
Sebagaimana hadīts dari Āli radhiyallāhu Ta'āla 'anhu beliau berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِالتَّسْلِيمِ عَلَى الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُؤْمِنِينَ
_"Bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam shalāt sebelum shalāt ashar empat raka'at, beliau memisahkan diantaranya dengan salam (artinya) dua raka'at dua raka'at dengan disaksikan malāikat muqarrabīn dan orang-orang yang mengikutinya dari kalangan muslimin dan mukminin."_
(Hadīts hasan riwayat Tirmidzī nomor 429, dan dihasankan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh)
Begitu juga dari Ibnu Umar beliau berkata, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا
_"Semoga Allāh merahmati seseorang yang beliau shalāt sebelum ashar empat raka'at."_
(Hadīts riwayat Abū Dāwūd nomor 1271, At Tirmidzī nomor 430, Ahmad nomor 2/117)
⇒ Ini menunjukkan sunnah yang dilakukan sebelum shalāt ashar.
⑵ Dua raka'at sebelum maghrib.
Kemudian dua raka'at sebelum shalāt maghrib, hal ini tidak dinukilkan atau tidak ada riwayat dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bahwasanya beliau shalāt dua raka'at sebelum maghrib.
Akan tetapi ada riwayat yang shahīh yang menunjukkan bahwasanya beliau membiarkan para shahābatnya untuk shalāt dua raka'at sebelum maghrib.
Dan mana kala beliau melihat mereka shalāt, beliau tidak memerintahkan tidak juga melarang.
Ini menunjukkan adalah hal yang benar dalam masalah ini, artinya Rasūlullāh  tidak melakukannya akan tetapi Rasūlullāh  membiarkan para shahābat melakukan dua raka'at sebelum shalāt maghrib.
⇒ Ini menunjukkan bahwasanya perkara ini adalah perkara mubah atau mustahab.
Kemudian.
Dari Abdillāh Al Muzannī, beliau berkata:
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلُّوا قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ
_Bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bersabda:_
_"Shalātlah kalian sebelum shalāt maghrib."_
_Dan beliau mengatakan dalam yang ketiga karena diulang-ulang sampai ketiga:_
_"Bagi yang menginginkan."_
(Hadīts riwayat Bukhāri nomor 1183)
⇒ Hal ini beliau khawatir orang-orang menjadikan itu adalah sesuatu yang sunnah karena disana bukan sunnah yang muakkad. 
Akan tetapi apabila seorang melakukannya maka ini termasuk mendapatkan pahala shalāt sunnah.
Dari Anas bin Mālik radhiyallāhu Ta'āla 'anhu beliau berkata:
كان المؤذن إذا أذن قام ناس من أصحاب النبي – صلى الله عليه وسلم – يبتدرون السواري حتى يخرج النبي – صلى الله عليه وسلم – وهم كذلك يصلون الركعتين قبل المغرب، ولم يكن بين الأذان والإقامة شيء
_"Bahwasanya seorang muadzin apabila dia ādzan maka orang-orang pun bersegera berdiri kemudian bersegera masuk kedalam masjid ditempatnya sampai mereka menunggu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam keluar dan mereka dalam keadaan yang demikian, mereka shalāt dua raka'at sebelum maghrib dan tidak ada antara ādzan dan iqāmah sesuatupun."_
⇒ Ini menunjukkan bahwa shalāt sebelum maghrib adalah perkara yang dilakukan oleh para shahābat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Dari 'Abdillāh Ibnu Mughafal radhiyallāhu Ta'āla 'anhu berkata, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
بين كل أذانين صلاة، بين كل أذانين صلاة"، ثم قال في الثالثة: "لمن شاء"
_"Antara dua ādzan (maksudnya ādzan dan iqāmah) itu ada shalāt,"_
_Akan tetapi kata Rasūlullāh, "Bagi yang menghendaki."_
(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)
Maka ini semua meliputi shalāt-shalāt sebelum shalāt ashar, maghrib dan sebelum shalāt isya.
Dan semua itu bukanlah sunah rawātib, akan tetapi termasuk sunnah-sunnah yang apabila dikerjakan maka seseorang mendapatkan pahala.
Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla  memberikan taufīq kepada kita untuk beramal amalan shālih.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_____________________
🏡 *Donasi Markas* Dakwah dapat disalurkan melalui :
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer *Hanya Via WhatsApp* & Informasi ;  0811-280-0606
SWIFT CODE : BSMDIDJA
▪ *Format Donasi : Markas Dakwah#Nama#Nominal#Tanggal*
📝 *Cantumkan Kode 25 di nominal transfer anda..*
Contoh : 100.025
_____________________

BEBERAPA KEJADIAN DI BULAN SHAFAR

🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 03 Shafar 1440 H / 12 Oktober 2018 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
🔊 Tematik | Beberapa Kejadian Di Bulan Shafar
⬇ Download audio: bit.ly/shafar-1440
〰〰〰〰〰〰〰
*
BEBERAPA KEJADIAN DI BULAN SHAFAR*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن تبعهم  بإحسان إلى يوم القيمة. اما بعد

Sahabat BiAS yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Pada kesempatan kali ini kita akan membahas beberapa kejadian pada bulan Shafar.
Bulan Shafar adalah salah satu dari dua belas bulan yang telah Allāh tetapkan dalam kitāb-Nya. Bulan tersebut tidak jauh beda dengan bulan-bulan yang lainnya, bahkan bisa kita katakan bahwa bulan-bulan tersebut sama.
Akan tetapi sebagian orang menganggap bulan Shafar sebagai bulan sial (bulan terjadi banyak musibah dan tersebar banyak penyakit).
Padahal Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam telah bersabda:
اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ
_"Anggapan sial merupakan kesyirikan, anggapan sial merupakan kesyirikan, anggapan sial merupakan kesyirikan."_
(Hadīts shahīh riwayat Abū Dāwūd nomor 3915, dishahīhkan oleh Syaikh Al Albāniy rahimahullāh)
Dan Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) pernah memberikan nasehat khusus tentang bulan Shafar yang tercantum dalam hadīts Bukhāri nomor 5707.
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
لاعَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ
_"Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya tanpa izin Allāh, tidak ada anggapan sial pada burung hantu tidak pula pada bulan Shafar."_
Sehingga bisa kita simpulkan bahwa bulan Shafar bukanlah bulan sial dan seorang mukmin tidak boleh mempercayai hal itu. Dia juga tidak perlu takut untuk melakukan hal-hal penting pada bulan ini (Shafar), (seperti) perkawinan atau bepergian.
Karena bulan Shafar sama dengan bulan-bulan yang lainnya, tidak ada bulan naas tidak ada bulan sial.
Jika kita telisik lebih lanjut, tenyata banyak kejadian besar yang terjadi pada bulan Shafar ini. Di antara kejadian-kejadian tersebut adalah sebagai berikut:
⑴ Perang Abwā'
Ibnu Ishāq berkata:
"Pada bulan Shafar Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam keluar dari kota Madīnah setelah sebelas bulan keberadaan Beliau di sana.
Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) menuju Waddān, tepatnya tanggal 12 Shafar, untuk memerangi suku Quraisy dan Banī Damrah.
Kejadian itu dinamakan dengan perang Abwā'. Kemudian Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) kembali ke Madīnah."
('Uyun Al Ātsār Juz 1 hal 259)
⑵ Penaklukan Kota Khaibar
Ibnu Ishāq mengatakan:
"Penaklukan kota Khaibar terjadi pada bulan Shafar."
(Sirah Ibnu Hisyām Juz 2 hal 341)
⑶ 'Amr bin Āsh, Khālid bin Walīd dan Utsmān bin Thalhah radhiyallāhu ta'āla 'anhum masuk Islām.
"Amr bin Āsh Khālid bin Walīd dan Utsmān bin Thalhah masuk Islām di negri Habasyah  yang dipimpin oleh Najāsyī, kemudian mereka ke Madīnah pada bulan Shafar tahun 8 Hijriyyah."
(Al Mu'jam Al Kabīr nomor 8394)

⑷  Hijrahnya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dari kota Mekkah menuju kota Madīnah.
Ibnul Jauzi menukilkan riwayat dalam Shifāt Ash Shawfah bahwasanya:
"Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berangkat hijrah dari Mekkah pada bulan Shafar dan sampai di Madīnah pada bulan Rabi'ul Āwwal."
(Shifāt Ash Shawfah Juz 1 hal 50)
⑸ Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menikah dengan Khadījah radhiyallāhu ta'āla 'anhā
Ibnu Ishāq berkata :
"Pernikahan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan Khadījah terjadi pada akhir bulan Shafar, ketika Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berumur sekitar 26 tahun."
(Subul Al Hudā wa Ar Rasyād Juz 2 hal 165)

⑹ Pernikahan Āli dan Fāthimah radhiyallāhu ta'āla 'anhumā.
Berkata Ibnu Katsīr:
"Adapun Fāthimah, beliau dinikahi oleh anak pamannya yang bernama Āli bin Abū Thālib, pada bulan Shafar tahun kedua Hijriyah."
(Kitāb Sirah Nabawiyah Juz 4 hal 61)
⑺ Pemberangkatan pasukan melawan Romawi
"Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam memberangkatkan pasukan Usamāh Bin Zaid untuk melawan Romawi empat hari sebelum bulan Shafar berakhir."
(Al Muqtafa min Shirah Al Mushthafa hal 236)
Dari kejadian (peristiwa) ini semua, menunjukan bahwa bulan Shafar bukanlah bulan sial.
Walaupun demikian, bukan berarti pada bulan Shafar, tidak pernah terjadi musibah atau malapetaka. Akan tetapi kita tidak boleh meyakini bahwasanya bulan shafar adalah bulan sial.
Hanya itu yang bisa sampaikan. Mohon maaf atas segala kekurangan. Semoga bermanfaat.
Wallāhu A'lam bishshawāb.
___________________
🏦 *Donasi Dakwah BiAS* dapat disalurkan melalui :
• *Bank Mandiri Syariah* (Kode : 451)
• *No. Rek : 710-3000-507*
• *A.N : YPWA Bimbingan Islam*
📲 Konfirmasi donasi ke :  *0878-8145-8000*
▪ *Format Donasi :  DONASIDAKWAHBIAS#Nama#Nominal#Tanggal*
📝 Cantumkan kode angka 700 di akhir nominal transfer Anda...
___________________

Kajian

IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH

🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah  Fī...

hits