Tampilkan postingan dengan label rajab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rajab. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Maret 2019

Hadīts tentang isrā' dan mi'rāj

🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 08 Rajab 1440 H / 15 Maret 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Materi Tematik | Hadīts tentang Isra’ Mi’raj
⬇ Download audio: bit.ly/SerialRajab1440H_H05
💾 Unduh Seriah Lengkap Bulan Rajab 1440H: drive.google.com/open?id=1CFUWNO2FVLJ8VLvK1B_6BNc7irH5KXwP
~~~~~~~~~~~~

Hadīts tentang isrā' dan mi'rāj

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي جعل من يريده بخير فقيها في الدين
والصلاة والسلام على أشرف الخلق وسيد المرسلين نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh,

Pada kesempatan kali ini, kita akan Mencoba membawakan hadīts tentang kisah Isrā' dan Mi'rāj.

Kisah Isrā’ dan Mi'rāj ini Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dibawakan oleh Imām Al Bukhāri dan Imām Muslim dalam shahīhnya.

Berikut kisah beliau dari shahīh Muslim nomor hadīts 164:

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

"Ketika aku berada di samping Baitullāh dalam keadaan separuh tidur, tiba-tiba aku mendengar pembicaraan dari salah seorang dari tiga lelaki yang berada di tengah-tengah. Lalu mereka menghampiriku dan membawaku ke suatu tempat.

Kemudian mereka membawa sebuah wadah dari emas yang berisi air zamzam. Setelah itu dadaku dibedah dari sini dan sini.

Qatādah berkata:

"Aku telah bertanya kepada orang yang bersamaku ketika itu, "Apakah yang beliau (Anas bin Mālik) maksudkan?"

Dia menjawab: "Hingga ke bawah perut beliau".

Beliau melanjutkan sabdanya:

"Jantungku dikeluarkan dan dibersihkan dengan air zamzam, kemudian diletakkan kembali di tempat asal.

Setelah itu diisi pula dengan iman dan hikmah,
lalu didatangkan kepadaku seekor binatang tunggangan berwarna putih yang disebut Burāq.

Ia lebih besar daripada keledai dan lebih kecil daripada bighal. Panjang langkahnya sejauh mata memandang, sementara itu aku dibawa di atas punggungnya.

Kemudian kami pun memulai perjalanan hingga sampai ke langit dunia, setelah itu Jibrīl meminta agar dibukakan pintunya, ditanyakan kepadanya, 'Siapa? ' Jawabnya, 'Jibrīl'.

Kemudian ditanya lagi, "Siapakah yang bersamamu?"

"Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam",  jawab jibril.

Lalu ditanya lagi, "Apakah dia orang yang telah diutus ?"

Jawabnya, "Ya".

Lalu malāikat yang menjaga pintu tersebut membuka pintu sambil berkata, "Selamat datang, sungguh tamu mulia telah tiba".

Lalu kami mengunjungi Nabi Ādam."

Dalam riwayat Al Bukhāri nomor 349 disebutkan bahwa disamping kanan nabi Ādam ada ruh anak keturunannya penghuni surga dan disamping kiri juga ada ruh anak keturunannya yang menghuni neraka. Ketika beliau melihat ke kanan beliau tertawa dan jika melihat kekiri beliau menangis.

Ketika itu beliau mengucapkan: "Selamat datang nabi yang shālih, anak yang shālih"

Lalu perawi membawakan hadīts tersebut dengan kisahnya, dia menceritakan bahwa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bertemu dengan nabi Īsā dan nabi Yahyā di langit kedua.

Dan pada langit ketiga beliau berjumpa dengan nabi Yūsuf.

Lalu di langit keempat bertemu dengan nabi Idrīs.

Setelah sampai di langit kelima beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) bertemu dengan nabi Hārun.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam kemudian bersabda:

"Kemudian kami meneruskan perjalanan sehingga sampai di langit keenam, lalu aku menemui nabi Mūsā dan memberi salam kepadanya".

Dia segera menjawab, "Selamat datang wahai saudaraku dan nabi yang shālih".

Ketika aku meningalkannya, beliau menangis. Lalu dia ditanya, "Apakah yang menyebabkan kamu menangis?"

Dia menjawab, "Wahai Tuhanku! Engkau mengutus pemuda ini setelahku, tetapi umatnya lebih banyak memasuki Surga daripada umatku".

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda, "Kami meneruskan lagi perjalanan sehingga sampai di langit ketujuh, lalu aku mengunjungi nabi Ibrāhīm".

Dalam hadīts tersebut "Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menceritakan bahwa dia melihat empat sungai yang keluar dari sumbernya dua sungai yang jelas kelihatan dan dua sungai yang samar-samar.

Lalu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bertanya, "Wahai Jibrīl! Sungai-sungai apakah ini?" Jibrīl menjawab, "Dua sungai yang samar-samar itu merupakan sungai Surga, sedangkan sungai yang jelas kelihatan adalah sungai Nil dan Euphrat".

Lalu aku dibawa naik ke Baitul Makmur, lalu aku bertanya, "Wahai Jibrīl, apakah ini?"

Lalu Jibrīl menjawab, "Ini adalah Baitul Makmur yang mana dalam setiap hari, tujuh puluh ribu malāikat akan memasukinya. Setelah mereka keluar, mereka tidak akan memasukinya lagi".

Kemudian dibawakan dua wadah kepadaku, yang satunya berisi arak dan satu lagi berisi susu.

Keduanya ditawarkan kepadaku, lalu aku memilih susu.

Maka dikatakan kepadaku, "Kamu membuat pilihan yang tepat!".

Allāh menghendakimu dan umatmu dalam keadaan fitrah (kebaikan dan keutamaan).

Kemudian difardukan pula kepadaku shalāt lima puluh waktu pada setiap hari.'

Dalam hadīts Al Bukhāri nomor 349 disebutkan:

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

"Kemudian Allāh 'Azza wa Jalla mewajibkan kepada ummatku shalāt sebanyak lima puluh kali. Maka aku pergi membawa perintah itu hingga aku berjumpa dengan nabi Mūsā, lalu ia bertanya, "Apa yang Allāh perintahkan buat umatmu?"

Aku jawab, "Shalat lima puluh kali"

Lalu dia berkata, "Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tidak akan sanggup".

Maka aku kembali dan Allāh mengurangi setengahnya.

Aku kemudian kembali menemui nabi Mūsā dan aku katakan bahwa Allāh telah mengurangi setengahnya.

Tapi ia berkata, "Kembalilah kepada Rabbmu karena umatmu tidak akan sanggup".

Aku lalu kembali menemui Allāh dan Allah kemudian mengurangi setengahnya lagi.

Kemudian aku kembali menemui nabi Mūsā, ia lalu berkata, "Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tetap tidak akan sanggup"

Maka aku kembali menemui Allāh Ta'āla , Allāh lalu berfirman:

"Lima ini adalah sebagai pengganti dari lima puluh. Tidak ada lagi perubahan keputusan di sisi-Ku!"

Maka aku kembali menemui nabi Mūsā dan ia kembali berkata, "Kembailah kepada Rabb-Mu!"

Aku katakan, "Aku malu kepada Rabb-ku"

Jibrīl lantas membawaku hingga sampai di Sidratul Muntahā yang diselimuti dengan warna-warni yang aku tidak tahu benda apakah itu.

Kemudian aku dimasukkan ke dalam Surga, ternyata di dalamnya banyak kubah-kubah terbuat dari mutiara dan tanahnya dari minyak kesturi."

Semoga cerita hadīts dalam riwayat Imām Bukhāri dan Imām Muslim ini menambah iman kita dan membuat kita semakin giat untuk beramal dengan benar.

Wallāhu Ta'āla A'lam

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
__________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________

Jumat, 15 Maret 2019

ISRĀ' Mi'RĀJ

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 07 Rajab 1440 H / 14 Maret 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Materi Tematik | Isra’ Mi’raj
⬇ Download audio: bit.ly/SerialRajab1440H_H04
~~~~~~~~~~~~

*ISRĀ'  Mi'RĀJ*

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي جعل من يريده بخير فقيها في الدين
والصلاة والسلام على أشرف الخلق وسيد المرسلين نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Isrā' dan Mi'rāj merupakan perjalanan malam yang dilakukan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dari kota Mekkah menuju Baitul Maqdis di Palestina.

Kemudian dari Baitul Maqdis naik hingga Sidratul Muntahā guna menerima perintah shalāt dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Di Indonesia, sebagian kaum muslimin merayakan kejadian ini dan ada libur nasionalnya yang jatuh pada tangga 27 Rajab.

Pendapat ini merupakan pendapat Imām An Nawawi dalam kitāb Ar Raudhah. Namun sebenarnya permasalahan ini adalah permasalahan yang diperdebatkan dikalangan ulamā. Mereka berselisih pendapat tentang tahun kejadian Isrāi dan Mi'rāj maupun bulan terjadi Isrā' dan Mi'rāj.

Dalam Fathul Barī, Ibnu Hajar, menyebutkan perbedaan pendapat ini.

Ada yang menyebutkan bahwa Isrāil dan mi'rāj terjadi pada bulan:

⑴ Rabiul Awwal (bulan ke-3) penanggalan Islām.

⑵ Rabiul Akhir (bulan ke-4) penanggalan Islām.

⑶ Bulan Ramadhān (bulan ke-9) penanggalan Islām.

⑷ Bulan Syawwāl (bulan ke-10) penanggalan Islām.

⑸ Bulan Rajab (bulan ke-7) penanggalan Islām.

Karena perbedaan yang sangat banyak ini, kemudian Syaikul Islām mengatakan yang maknanya :

وَلَمْ يَقُمْ دَلِيلٌ مَعْلُومٌ لَا عَلَى شَهْرِهَا وَلَا عَلَى عَشْرِهَا وَلَا عَلَى عَيْنِهَا، بَلِ النُّقُولُ فِي ذَلِكَ مُنْقَطِعَةٌ مُخْتَلِفَةٌ لَيْسَ فِيهَا مَا يُقْطَعُ بِهِ

_"Dan tidak ada dalīl yang kuat yang mengabarkan tentang bulan dan tanggalnya terjadi Isrā' Mi'rāj. Bahkan kabar-kabar tentang hal tersebut terputus dan berbeda-beda, sehingga tentang kapan terjadinya tidak bisa dipastikan."_

(Zadul Ma’ad 1/58)

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Ibnu Rajab dalam Lathaif Al Ma'arif  (1/121) juga mengatakan:

"Bahwa pada bulan Rajab ini ada riwayat yang menyatakan adanya kejadian besar Isrā' Mi'rāj dan tidak ada hadīts shahīh yang berkaitan dengan hal tersebut."

Kesimpulannya:

√ Kita mengimani Isrā' Mi'rāj, namun tidak memastikan kapannya.

Kemudian pada Isrā' dan Mi'raj ini ada pelajaran penting bagi kita:

⑴ Bahwa dalam 'aqidah, ahlus sunnah wal jama'ah mengatakan bahwa Allāh Subhānahu wa Ta'āla berada di atas, dan beristiwā' di atas 'Arsy Nya, dan hal ini diselisihi oleh beberapa orang terkenal di indonesia ini.

⑵ Dan dalam Isrā' dan Mi'rāj ini ada dalīl yang kuat untuk menyatakan hal tersebut.

Bahwa Allāh berada di atas, karena arti Mi'rāj secara istilah adalah perjalanan naik ke atas dari Baitul Maqdis hingga langit ketujuh atau Sidratul Muntahā.

Ini menjadi dalīl kuat bagi pendapat yang menyatakan Allāh berada di atas. Karena jika Allāh berada dimana-mana sebagaimana 'aqidah sebagian orang, tentu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak perlu Isrā' dan Mi'rāj.

Beliau tidak perlu susah susah menaiki burāq kemudian naik kelangit.

Sehingga kita mengatakan bahwa Allāh Subhānahu wa Ta'āla berada di atas, bukan dimana-mana. Dan Allāh beristiwā di atas 'Arsy Nya, dan hanya Allāh yang tahu hakikatnya.
Kita hanya diberi kabar dalam Al Qurān dan hadīts Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Maka kewajiban kita adalah mengimani, walaupun kita tidak tahu bagaimananya, karena jika diterangkan pun, mungkin akal kita tidak bisa membayangkannya, karena kita hanyalah makhluk Allāh yang sangat kecil lagi lemah.

Wallāhu A'lam Bishawāb

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

__________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________

Rabu, 13 Maret 2019

SHALĀT RAGHĀIB

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 05 Rajab 1440 H / 12 Maret 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Materi Tematik | Shalāt Raghāib
⬇ Download audio: bit.ly/SerialRajab1440H_H02
~~~~~~~~~~~~

*SHALĀT RAGHĀIB*

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي جعل من يريده بخير فقيها في الدين
والصلاة والسلام على أشرف الخلق وسيد المرسلين نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh,

Dalam setiap perlombaan pasti ada peraturannya. Bagi setiap institusi pendidikan pasti ada peraturannya. Begitu juga dalam agama kita.

Agama kita memiliki aturan tertentu dalam perjalanan seorang hamba menuju Rabb-Nya.

Dalam ibadah ada aturannya sendiri yang dinamakan syar'iat. Di dalam syar'iat pasti ada rukunnya, ada syaratnya, ada sunnahnya dan ada larangannya.

Dan barangsiapa yang melakukan sesuatu sesuai dengan peraturan maka dia menjadi seorang yang beruntung dan barangsiapa yang melakukan sesuatu tidak sesuai dengan peraturan maka dia termasuk orang yang celaka.

Pada bulan Rajab ini ada beberapa kalangan yang masih melakukan shalāt Raghāib.

Apakah shalāt Raghāib itu?

Shalat Raghāib adalah shalāt yang dilakukan pada malam Jum'at pertama pada bulan Rajab, dilakukan antara waktu Maghrib dan Isya, biasanya didahului dengan puasa pada siang harinya (hari kamis).

Shalāt Raghāib dilakukan sebanyak 12 raka'at.

√ Setiap raka'at membaca Al Fātihah, surat Al Qadar 3 (tiga) kali dan surat Al Ikhlās 12 (dua belas)  kali.

√ Setelah selesai, lalu bershalawat dengan sebanyak 70 kali.

√ Kemudian sujud dengan membaca do'a khusus dengan jumlah tertentu.

√ Kemudian duduk dan membaca do'a khusus dengan jumlah tertentu.

√ Kemudian sujud lagi membaca do'a khusus dengan jumlah tertentu.

Shalāt Raghāib ini dipercayai oleh sebagian orang, berdasarkan hadīts yang palsu, memiliki banyak keutamaan.

Di antaranya keutamaan yang dijanjikan dari hadīts palsu tersebut, adalah:

⑴ Seluruh dosanya akan diampuni walaupun sebanyak buih di lautan.

⑵ Saat di alam kubur pahala shalāt tersebut akan datang dalam bentuk terbaik, bau terharum dan menemani orang yang melakukan shalāt ini.

⑶ Di akhirat kelak orang yang melakukan shalāt ini akan diberikan izin untuk memberikan syafā'at kepada 700 kerabatnya.

⑷ Shalāt ini akan menjadi naungan pada hari kiamat kelak, ketika matahari didekatkan kepada semua makhluk.

Namun sebagaimana disampaikan di awal, bahwa hadīts yang menyebutkan keutamaan tersebut merupakan hadīts yang dhaif (lemah), tidak bisa dijadikan pegangan untuk beramal shālih.

Dan tahukah anda, apa yang dikatakan oleh Imām Ramli (salah satu ulamā madzhab Syāfi'i) berkaitan dengan shalāt ini ?

Beliau berkata :

لَمْ يَصِحَّ فِي شَهْرِ رَجَبٍ صَلَاةٌ مَخْصُوصَةٌ تَخْتَصُّ بِهِ

_"Tidak ada dalīl yang shahīh terkait shalāt khusus pada bulan Rajab."_

وَالْأَحَادِيثُ الْمَرْوِيَّةُ فِي فَضْلِ صَلَاةِ الرَّغَائِبِ فِي أَوَّلِ جُمُعَةٍ مِنْ شَهْرِ رَجَبٍ كَذِبٌ بَاطِلٌ

_"Hadīts-hadīts yang diriwayatkan berkaitan dengan keutamaan shalāt Raghāib yang dilakukan pada awal hari Jum'at bulan Rajab, merupakan hadīts yang dusta dan bathil."_

وَهَذِهِ الصَّلَاةُ بِدْعَةٌ عِنْدَ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ

_"Dan shalāt tersebut merupakan kebid’ahan menurut jumhur ulamā."_

Imām Nawawi pun ketika ditanya tentang shalāt Raghāib dan shalāt Nisyfu Sya'ban, beliau berkata :

الحمد لله ، هاتان الصلاتان لم يصلهما النبي-صلى الله عليه وسلم

_"Segala puji bagi Allāh, kedua shalāt tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam."_

ولا أحد من أصحابه–رضي الله عنهم

_"Tidak pernah dilakukan oleh salah seorang shahābat radhiyallāhu ta'āla 'anhum."_

ولا أحد من الأئمة الأربعة المذكورين–رحمهم الله

_"Tidak pula oleh salah seorang dari imām madzhab yang empat (Imām Abū Hanifah, Imām Mālik, Imām Syāfi'i, Imām Ahmad)."_

ولا أشار أحد منهم بصلاتهما

_"Bahkan mereka tidak ada yang mengisyaratkan akan adanya shalāt ini."_

ولم يفعلهما أحد ممن يقتدي به،

_"Dan kalangan para ulamā yang bisa dicontoh perbuatannya belum pernah melakukannya."_

ولم يصح عن النبي منها شيء ولا عن أحد يقتدي به

_"Dan tidak ada satu hadīts shahīh pun dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berkaitan dengan shalāt tersebut atau dari salah satu imām kaum muslimin yang bisa dicontoh amalahnnya."_

وإنما أحدثت في الأعصار المتأخرة وصلاتهما من البدع المنكرات ، والحوادث الباطلات

_"Ibadah shalāt ini diada-adakan pada masa belakangan ini dan kedua shalāt tersebut merupakan bid’ah yang mungkar, dan perbuatan yang bathil."_

Dan telah shahīh dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bahwasanya Beliau bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

_"Hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara yang baru. Setiap perkara-perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat."_

(Hadīts shahīh Abū Dāwūd no 4607, At Tirmidzī nomor 2676, Ahmad IV/46-47)

Dan dalam Shahīh Bukhāri dan Muslim, dari Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā, beliau berkata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي دِينِنَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

_"Barangsiapa yang mengadakan perkara baru dalam agama kami maka amalan tersebut tertolak."_

Dan dalam Shahīh Muslim, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

_“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak."_

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1718)

Dan sudah sepantasnya masing-masing kita semua untuk tidak melakukan shalāt ini dan memperingatkan darinya dan berlari darinya dan menjelekkan perbuatan tersebut dan menyebarkan larangan akan shalāt tersebut.

Karena telah shahīh dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ 

_"Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaknya dia mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya."_

Dan wajib bagi para ulamā untuk memperingatkan shalāt tersebut dan berpaling dari shalāt tersebut untuk urusan lainnya karena mereka akan menjadi contoh.

Da tidak boleh ada orang yang tertipu, tidak boleh ada orang yang terkesan karena shalāt tersebut sudah tersebar yang telah dilakukan oleh orang banyak yang semisalnya.

Karena mencontoh itu hanya boleh untuk Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan dengan apa yang Beliau perintahkan dan bukan dengan sesuatu yang dilarang atau diperingatkan oleh Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam).

(Fatwa AImām Nawawi dalam Kitāb Musajjalah Ilmiyah Bainal Imamaini hal 45-47).

Semoga bermanfaat.

Wallāhu A'lam Bishawāb

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
__________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :
i
| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbina Islam
| Konfirmasi klik hts://bmbingaislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________

Keutamaan Puasa Satu Hari Pada Bulan Rajab

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 06 Rajab 1440 H / 13 Maret 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Materi Tematik | Keutamaan Puasa Satu Hari Pada Bulan Rajab
⬇ Download audio: bit.ly/SerialRajab1440H_H03
~~~~~~~~~~~~

*Keutamaan Puasa Satu Hari Pada Bulan Rajab*

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي جعل من يريده بخير فقيها في الدين
والصلاة والسلام على أشرف الخلق وسيد المرسلين نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh,

Dalam sebuah artikel disebutkan:

"Sesungguhnya di Surga ada suatu sungai bernama Rajab, warnanya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis dari madu. Barang siapa berpuasa sehari dalam bulan Rajab, maka akan diberi minum oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla dari sungai itu."

(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

Begitu kata salah satu artikel yang menyebarkan keutamaan amalan ini, dengan menisbatkan hadītsnya kepada Imām Al Bukhāri dan Imām Muslim.

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh,

Padahal tidak satupun hadīts dalam shahīh Bukhāri atau shahīh Muslim yang berbunyi seperti itu.

Bahkan Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan:

لم يرد في فضل شهر رجب , ولا في صيامه ولا صيام شيء منه معين , ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة

"Tidak ada hadīts yang menyebutkan tentang keutamaan amalan pada bulan Rajab, tidak pada puasanya, tidak pula pada puasa khususnya, begitu juga pada shalāt malam yang dilakukan secara khusus pada bulan tersebut, tidak ada satupun hadīts shahīh yang bisa dipakai untuk sandaran hukum."

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh,

Sehingga sudah sepantasnya seorang muslim, tidak perlu melakukan shalāt malam khusus pada bulan Rajab.

Semisal shalāt malam pada tanggal 27 Rajab,  yang dianggap sebagian orang sebagai malam Isrā' dan Mi'rāj.

Syaikh 'Utsaimin rahimahullāh pernah ditanya tentang puasa dan shalāt malam khusus pada tanggal 27 Rajab. 

Maka beliau menjawab dengan mengatakan:

"Mengkhususkan tanggal 27 Rajab dengan puasa dan shalāt adalah kebid'ahan dan semua kebid'ahan adalah kesesatan."

(Majmu' fatawā Ibnu 'Utsaimin juz 20/440)

Namun jangan disalahpahami bahwa tanggal 27 Rajab tidak boleh shalāt malam atau tidak boleh puasa.

Bukan seperti itu maksudnya, yang tidak diperbolehkan adalah mengkhususkannya.

√ Seperti orang yang tidak pernah shalāt malam, lalu pada tanggal tersebut ia melakukan shalāt malam.
√ Orang yang tidak punya kebiasaan puasa, lalu ia puasa pada tanggal tersebut.

==> yang seperti ini yang dilarang.

Adapun orang-orang yang sudah memiliki kebiasaan untuk shalāt malam atau puasa senin kamis, puasa Dāwūd, puasa 3 hari setiap bulan, maka boleh-boleh saja berpuasa pada tanggal 27 Rajab, yang tidak diperbolehkan adalah mengkhususkannya.

Dalam hadīts Ibnu Abbās disebutkan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يَصُومُف

"Dahulu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berpuasa pada bulan Rajab sampai kita katakan, 'Beliau berpuasa terus'. Dan di lain waktu beliau tidak berpuasa, hingga kami katakan, 'Beliau sama sekali tidak berpuasa pada bulan tersebut'."

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1157)

Sehingga bagi siapapun yang ingin berpuasa pada bulan Rajab, diperbolehkan.

Namun jika meyakini keutamaan khusus maka hal tersebut bisa terjatuh pada amalan bid'ah yang tertolak.

Kemudian kita tutup pertemuan kali ini dengan perkataan Ibnu Hajar rahimahullāh dalam bukunya "Tabyinul Ajab", buku yang beliau tulis untuk menerangkan hadīts-hadīts yang tidak bisa dipakai menjadi sandara hukum berkaitan dengan bulan Rajab.

Pada kitāb tersebut beliau (rahimahullāh) berkata :

لم يرد في فضل شهر رجب , ولا في صيامه ولا صيام شيء منه معين , ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة

"Tidak ada hadīts yang shahīh berkaitan keutamaan bulan Rajab, bahkan tenang puasa, shalāt malam khusus pada bulan Rajab, juga tidak ada satupun hadīts shahīh yang bisa dipakai sebagai sandaran hukum."

(Kitāb Tabyinul Ajab hal 23)

Semoga bermanfaat.

Wallāhu A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
__________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________

Selasa, 12 Maret 2019

SHALĀT RAGHĀIB

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 05 Rajab 1440 H / 12 Maret 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Materi Tematik | Shalāt Raghāib
⬇ Download audio: bit.ly/SerialRajab1440H_H02
~~~~~~~~~~~~

*SHALĀT RAGHĀIB*

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي جعل من يريده بخير فقيها في الدين
والصلاة والسلام على أشرف الخلق وسيد المرسلين نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh,

Dalam setiap perlombaan pasti ada peraturannya. Bagi setiap institusi pendidikan pasti ada peraturannya. Begitu juga dalam agama kita.

Agama kita memiliki aturan tertentu dalam perjalanan seorang hamba menuju Rabb-Nya.

Dalam ibadah ada aturannya sendiri yang dinamakan syar'iat. Di dalam syar'iat pasti ada rukunnya, ada syaratnya, ada sunnahnya dan ada larangannya.

Dan barangsiapa yang melakukan sesuatu sesuai dengan peraturan maka dia menjadi seorang yang beruntung dan barangsiapa yang melakukan sesuatu tidak sesuai dengan peraturan maka dia termasuk orang yang celaka.

Pada bulan Rajab ini ada beberapa kalangan yang masih melakukan shalāt Raghāib.

Apakah shalāt Raghāib itu?

Shalat Raghāib adalah shalāt yang dilakukan pada malam Jum'at pertama pada bulan Rajab, dilakukan antara waktu Maghrib dan Isya, biasanya didahului dengan puasa pada siang harinya (hari kamis).

Shalāt Raghāib dilakukan sebanyak 12 raka'at.

√ Setiap raka'at membaca Al Fātihah, surat Al Qadar 3 (tiga) kali dan surat Al Ikhlās 12 (dua belas)  kali.

√ Setelah selesai, lalu bershalawat dengan sebanyak 70 kali.

√ Kemudian sujud dengan membaca do'a khusus dengan jumlah tertentu.

√ Kemudian duduk dan membaca do'a khusus dengan jumlah tertentu.

√ Kemudian sujud lagi membaca do'a khusus dengan jumlah tertentu.

Shalāt Raghāib ini dipercayai oleh sebagian orang, berdasarkan hadīts yang palsu, memiliki banyak keutamaan.

Di antaranya keutamaan yang dijanjikan dari hadīts palsu tersebut, adalah:

⑴ Seluruh dosanya akan diampuni walaupun sebanyak buih di lautan.

⑵ Saat di alam kubur pahala shalāt tersebut akan datang dalam bentuk terbaik, bau terharum dan menemani orang yang melakukan shalāt ini.

⑶ Di akhirat kelak orang yang melakukan shalāt ini akan diberikan izin untuk memberikan syafā'at kepada 700 kerabatnya.

⑷ Shalāt ini akan menjadi naungan pada hari kiamat kelak, ketika matahari didekatkan kepada semua makhluk.

Namun sebagaimana disampaikan di awal, bahwa hadīts yang menyebutkan keutamaan tersebut merupakan hadīts yang dhaif (lemah), tidak bisa dijadikan pegangan untuk beramal shālih.

Dan tahukah anda, apa yang dikatakan oleh Imām Ramli (salah satu ulamā madzhab Syāfi'i) berkaitan dengan shalāt ini ?

Beliau berkata :

لَمْ يَصِحَّ فِي شَهْرِ رَجَبٍ صَلَاةٌ مَخْصُوصَةٌ تَخْتَصُّ بِهِ

_"Tidak ada dalīl yang shahīh terkait shalāt khusus pada bulan Rajab."_

وَالْأَحَادِيثُ الْمَرْوِيَّةُ فِي فَضْلِ صَلَاةِ الرَّغَائِبِ فِي أَوَّلِ جُمُعَةٍ مِنْ شَهْرِ رَجَبٍ كَذِبٌ بَاطِلٌ

_"Hadīts-hadīts yang diriwayatkan berkaitan dengan keutamaan shalāt Raghāib yang dilakukan pada awal hari Jum'at bulan Rajab, merupakan hadīts yang dusta dan bathil."_

وَهَذِهِ الصَّلَاةُ بِدْعَةٌ عِنْدَ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ

_"Dan shalāt tersebut merupakan kebid’ahan menurut jumhur ulamā."_

Imām Nawawi pun ketika ditanya tentang shalāt Raghāib dan shalāt Nisyfu Sya'ban, beliau berkata :

الحمد لله ، هاتان الصلاتان لم يصلهما النبي-صلى الله عليه وسلم

_"Segala puji bagi Allāh, kedua shalāt tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam."_

ولا أحد من أصحابه–رضي الله عنهم

_"Tidak pernah dilakukan oleh salah seorang shahābat radhiyallāhu ta'āla 'anhum."_

ولا أحد من الأئمة الأربعة المذكورين–رحمهم الله

_"Tidak pula oleh salah seorang dari imām madzhab yang empat (Imām Abū Hanifah, Imām Mālik, Imām Syāfi'i, Imām Ahmad)."_

ولا أشار أحد منهم بصلاتهما

_"Bahkan mereka tidak ada yang mengisyaratkan akan adanya shalāt ini."_

ولم يفعلهما أحد ممن يقتدي به،

_"Dan kalangan para ulamā yang bisa dicontoh perbuatannya belum pernah melakukannya."_

ولم يصح عن النبي منها شيء ولا عن أحد يقتدي به

_"Dan tidak ada satu hadīts shahīh pun dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berkaitan dengan shalāt tersebut atau dari salah satu imām kaum muslimin yang bisa dicontoh amalahnnya."_

وإنما أحدثت في الأعصار المتأخرة وصلاتهما من البدع المنكرات ، والحوادث الباطلات

_"Ibadah shalāt ini diada-adakan pada masa belakangan ini dan kedua shalāt tersebut merupakan bid’ah yang mungkar, dan perbuatan yang bathil."_

Dan telah shahīh dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bahwasanya Beliau bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

_"Hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara yang baru. Setiap perkara-perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat."_

(Hadīts shahīh Abū Dāwūd no 4607, At Tirmidzī nomor 2676, Ahmad IV/46-47)

Dan dalam Shahīh Bukhāri dan Muslim, dari Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā, beliau berkata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي دِينِنَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

_"Barangsiapa yang mengadakan perkara baru dalam agama kami maka amalan tersebut tertolak."_

Dan dalam Shahīh Muslim, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

_“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak."_

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1718)

Dan sudah sepantasnya masing-masing kita semua untuk tidak melakukan shalāt ini dan memperingatkan darinya dan berlari darinya dan menjelekkan perbuatan tersebut dan menyebarkan larangan akan shalāt tersebut.

Karena telah shahīh dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ 

_"Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaknya dia mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya."_

Dan wajib bagi para ulamā untuk memperingatkan shalāt tersebut dan berpaling dari shalāt tersebut untuk urusan lainnya karena mereka akan menjadi contoh.

Da tidak boleh ada orang yang tertipu, tidak boleh ada orang yang terkesan karena shalāt tersebut sudah tersebar yang telah dilakukan oleh orang banyak yang semisalnya.

Karena mencontoh itu hanya boleh untuk Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan dengan apa yang Beliau perintahkan dan bukan dengan sesuatu yang dilarang atau diperingatkan oleh Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam).

(Fatwa AImām Nawawi dalam Kitāb Musajjalah Ilmiyah Bainal Imamaini hal 45-47).

Semoga bermanfaat.

Wallāhu A'lam Bishawāb

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
__________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :
i
| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbina Islam
| Konfirmasi klik hts://bmbingaislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________

SHALĀT RAGHĀIB

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 05 Rajab 1440 H / 12 Maret 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Materi Tematik | Shalāt Raghāib
⬇ Download audio: bit.ly/SerialRajab1440H_H02
~~~~~~~~~~~~

*SHALĀT RAGHĀIB*

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي جعل من يريده بخير فقيها في الدين
والصلاة والسلام على أشرف الخلق وسيد المرسلين نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh,

Dalam setiap perlombaan pasti ada peraturannya. Bagi setiap institusi pendidikan pasti ada peraturannya. Begitu juga dalam agama kita.

Agama kita memiliki aturan tertentu dalam perjalanan seorang hamba menuju Rabb-Nya.

Dalam ibadah ada aturannya sendiri yang dinamakan syar'iat. Di dalam syar'iat pasti ada rukunnya, ada syaratnya, ada sunnahnya dan ada larangannya.

Dan barangsiapa yang melakukan sesuatu sesuai dengan peraturan maka dia menjadi seorang yang beruntung dan barangsiapa yang melakukan sesuatu tidak sesuai dengan peraturan maka dia termasuk orang yang celaka.

Pada bulan Rajab ini ada beberapa kalangan yang masih melakukan shalāt Raghāib.

Apakah shalāt Raghāib itu?

Shalat Raghāib adalah shalāt yang dilakukan pada malam Jum'at pertama pada bulan Rajab, dilakukan antara waktu Maghrib dan Isya, biasanya didahului dengan puasa pada siang harinya (hari kamis).

Shalāt Raghāib dilakukan sebanyak 12 raka'at.

√ Setiap raka'at membaca Al Fātihah, surat Al Qadar 3 (tiga) kali dan surat Al Ikhlās 12 (dua belas)  kali.

√ Setelah selesai, lalu bershalawat dengan sebanyak 70 kali.

√ Kemudian sujud dengan membaca do'a khusus dengan jumlah tertentu.

√ Kemudian duduk dan membaca do'a khusus dengan jumlah tertentu.

√ Kemudian sujud lagi membaca do'a khusus dengan jumlah tertentu.

Shalāt Raghāib ini dipercayai oleh sebagian orang, berdasarkan hadīts yang palsu, memiliki banyak keutamaan.

Di antaranya keutamaan yang dijanjikan dari hadīts palsu tersebut, adalah:

⑴ Seluruh dosanya akan diampuni walaupun sebanyak buih di lautan.

⑵ Saat di alam kubur pahala shalāt tersebut akan datang dalam bentuk terbaik, bau terharum dan menemani orang yang melakukan shalāt ini.

⑶ Di akhirat kelak orang yang melakukan shalāt ini akan diberikan izin untuk memberikan syafā'at kepada 700 kerabatnya.

⑷ Shalāt ini akan menjadi naungan pada hari kiamat kelak, ketika matahari didekatkan kepada semua makhluk.

Namun sebagaimana disampaikan di awal, bahwa hadīts yang menyebutkan keutamaan tersebut merupakan hadīts yang dhaif (lemah), tidak bisa dijadikan pegangan untuk beramal shālih.

Dan tahukah anda, apa yang dikatakan oleh Imām Ramli (salah satu ulamā madzhab Syāfi'i) berkaitan dengan shalāt ini ?

Beliau berkata :

لَمْ يَصِحَّ فِي شَهْرِ رَجَبٍ صَلَاةٌ مَخْصُوصَةٌ تَخْتَصُّ بِهِ

_"Tidak ada dalīl yang shahīh terkait shalāt khusus pada bulan Rajab."_

وَالْأَحَادِيثُ الْمَرْوِيَّةُ فِي فَضْلِ صَلَاةِ الرَّغَائِبِ فِي أَوَّلِ جُمُعَةٍ مِنْ شَهْرِ رَجَبٍ كَذِبٌ بَاطِلٌ

_"Hadīts-hadīts yang diriwayatkan berkaitan dengan keutamaan shalāt Raghāib yang dilakukan pada awal hari Jum'at bulan Rajab, merupakan hadīts yang dusta dan bathil."_

وَهَذِهِ الصَّلَاةُ بِدْعَةٌ عِنْدَ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ

_"Dan shalāt tersebut merupakan kebid’ahan menurut jumhur ulamā."_

Imām Nawawi pun ketika ditanya tentang shalāt Raghāib dan shalāt Nisyfu Sya'ban, beliau berkata :

الحمد لله ، هاتان الصلاتان لم يصلهما النبي-صلى الله عليه وسلم

_"Segala puji bagi Allāh, kedua shalāt tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam."_

ولا أحد من أصحابه–رضي الله عنهم

_"Tidak pernah dilakukan oleh salah seorang shahābat radhiyallāhu ta'āla 'anhum."_

ولا أحد من الأئمة الأربعة المذكورين–رحمهم الله

_"Tidak pula oleh salah seorang dari imām madzhab yang empat (Imām Abū Hanifah, Imām Mālik, Imām Syāfi'i, Imām Ahmad)."_

ولا أشار أحد منهم بصلاتهما

_"Bahkan mereka tidak ada yang mengisyaratkan akan adanya shalāt ini."_

ولم يفعلهما أحد ممن يقتدي به،

_"Dan kalangan para ulamā yang bisa dicontoh perbuatannya belum pernah melakukannya."_

ولم يصح عن النبي منها شيء ولا عن أحد يقتدي به

_"Dan tidak ada satu hadīts shahīh pun dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berkaitan dengan shalāt tersebut atau dari salah satu imām kaum muslimin yang bisa dicontoh amalahnnya."_

وإنما أحدثت في الأعصار المتأخرة وصلاتهما من البدع المنكرات ، والحوادث الباطلات

_"Ibadah shalāt ini diada-adakan pada masa belakangan ini dan kedua shalāt tersebut merupakan bid’ah yang mungkar, dan perbuatan yang bathil."_

Dan telah shahīh dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bahwasanya Beliau bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

_"Hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara yang baru. Setiap perkara-perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat."_

(Hadīts shahīh Abū Dāwūd no 4607, At Tirmidzī nomor 2676, Ahmad IV/46-47)

Dan dalam Shahīh Bukhāri dan Muslim, dari Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā, beliau berkata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي دِينِنَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

_"Barangsiapa yang mengadakan perkara baru dalam agama kami maka amalan tersebut tertolak."_

Dan dalam Shahīh Muslim, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

_“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak."_

(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 1718)

Dan sudah sepantasnya masing-masing kita semua untuk tidak melakukan shalāt ini dan memperingatkan darinya dan berlari darinya dan menjelekkan perbuatan tersebut dan menyebarkan larangan akan shalāt tersebut.

Karena telah shahīh dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ 

_"Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaknya dia mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya."_

Dan wajib bagi para ulamā untuk memperingatkan shalāt tersebut dan berpaling dari shalāt tersebut untuk urusan lainnya karena mereka akan menjadi contoh.

Da tidak boleh ada orang yang tertipu, tidak boleh ada orang yang terkesan karena shalāt tersebut sudah tersebar yang telah dilakukan oleh orang banyak yang semisalnya.

Karena mencontoh itu hanya boleh untuk Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan dengan apa yang Beliau perintahkan dan bukan dengan sesuatu yang dilarang atau diperingatkan oleh Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam).

(Fatwa AImām Nawawi dalam Kitāb Musajjalah Ilmiyah Bainal Imamaini hal 45-47).

Semoga bermanfaat.

Wallāhu A'lam Bishawāb

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
__________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :
i
| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbina Islam
| Konfirmasi klik hts://bmbingaislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________

Kajian

IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH

🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah  Fī...

hits