Tampilkan postingan dengan label Ustadz Ratno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ustadz Ratno. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 September 2020

ILMU YANG HARUS DIPELAJARI TERLEBIH DAHULU

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 09 Shafar 1442 H / 26 September 2020 M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc.
📗 Kitab Kewajiban Menuntut Ilmu
🔊 Halaqah 05 | Ilmu Yang Harus Dipelajari Terlebih Dahulu
⬇ Download audio: bit.ly/KewajianMenuntut-Ilmu-05
〰〰〰〰〰〰〰

*ILMU YANG HARUS DIPELAJARI TERLEBIH DAHULU*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي أعلى  شأن العلم ورفع أهله درجات، والصلاة والسلام على نبيه محمد وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد

Sahabat BiAS yang di muliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Pada kesempatan kali ini, kita masih melanjutkan pembacaan (pembahasan) kitāb Mukhtashar Fardi Thalabil 'Ilmi karya Al Imām Abū Bakr Muhammad bin Al Husain Al Aajurriy rahimahullāh yang meninggal tahun 360 Hijriyyah.

Beliau rahimahullāh berkata:

_Jika ada seorang yang bertanya, "Engkau telah menyemangati kami untuk menuntut ilmu, engkau juga sudah memperingatkan kami dari kejāhilan, lalu ilmu apa yang harus kita pelajari terlebih dahulu sehingga kita bisa keluar dari pintu kebodohan?"_

_Maka aku katakan (Aku sarankan) :_

_⑴ Untuk mempelajari Al Qur'ān dan menghafalnya._

_Jika Allāh memudahkanmu untuk menghafal Al Qur'ān maka puji Allāh katakan Alhamdulilāh._

_Dan perbanyak pelajaranmu tentang Al Qur'ān._

(komentar saya: dan masuk dalam mempelajari Al Qur'ān adalah mempelajari bahasa arab, karena tanpanya seorang tidak akan mungkin bisa memahami Al Qur'ān dengan sempurna.)

_⑵ Pelajarilah ilmu halal dan haram (ilmu fiqih) dan berbagai hukum yang Allāh turunkan pada Al Qur'ān._

_⑶ Pelajarilah ilmu waris._

_Sebuah ilmu yang harusnya seorang yang telah menghafal Al Qur'ān faham terhadapnya._

_⑷ Pelajarilah sunnah dan hadīts-hadīts sehingga engkau tambah faham makna-makna Al Qur'ān._

_Dan tidak akan mungkin seorang bisa melaksanakan kewajiban Allāh kecuali dengan mengetahui hadist-hadits._

_⑸ Pelajarilah sunnah-sunnah atau jalan hidup shahābat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam._

_⑹ Pelarilah kitāb-kitāb fiqih yang menerangkan makna-makna hadīts (kitāb Syarah)._

_⑺ Duduklah dengan orang-orang yang faham dalam agama dan pelajarilah dari mereka hal-hal yang wajib atas kalian._

_Dan tujuan utama menuntut ilmu adalah menghilangkan kejāhilan dan kebodohan, mengibadahi Allāh dengan cara yang Allāh kehendaki._

_Siapa yang ini adalah tujuannya pasti Allāh akan jadikan ilmunya bermanfaat dan pasti ia akan membawa manfaat._

_Serta pasti taufīq Allāh akan ia dapatkan, Allāh akan perbanyak ilmunya yang sekarang masih sedikit dan Allāh pasti akan memberikan keberkahan kepadanya._

_Jika ada yang mengatakan: "Aku hanya bisa menghafal Al Qur'ān , tapi aku tidak mampu mempelajari ilmu atau tidak bisa menuliskan pelajaran-pelajarannya, begitu juga dalam hadīts, lalu apa yang engkau anjurkan ?"_

_Aku anjurkan kepadamu untuk terus duduk bersama para ulamā, yang ia bisa memberikan manfaat dalam kehidupan agamamu, semangatlah untuk mempelajari ilmu yang ia miliki dan terus ikuti dia dalam majelis-mejelisnya._

_Dan jangan engkau menjadi seorang yang sibuk menghafalnya (Al Qur'ān) ? tapi tidak bisa menjaga batasan-batasan yang ada didalam padanya (Al Qur'ān)._

_Semangatlah untuk berakhlaq dengan akhlaq para penghafal Al Qur'ān dan mintalah pertolongan kepada Allāh._

_Barangsiapa yang mengamalkan ilmunya, pasti Allāh akan berikan dia taufīq dan kemudahan untuk memepajari ilmu yang belum ia ketahui._

_Orang yang sudah merasakan manfaat ilmu, pasti ia akan semangat mencarinya dan siapa yang telah merasakan manisnya ilmu, pasti ia akan mampu menelan rasa pahit jalan yang dilaluinya._

_Siapa yang benaknya bersih pasti akan merasakan kelezatan ilmu dan menghindari hal-hal yang memalingkan darinya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allāh pasti Allah akan perbagus pertolongannya dan memenuhi kebutuhannya._

Semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi-Nya, keluarganya dan para shahābat semua

Wallāhu Ta'āla A'lam

🖋 Akhukum fillāh Ratno
________________________

RENDAH HATI ULAMĀ DAN PENUNTUT ILMU

🌍 BimbinganIslam.com
Jumat, 08 Shafar 1442 H / 25 September 2020 M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc.
📗 Kitab Kewajiban Menuntut Ilmu
🔊 Halaqah 04 | Rendah Hati Ulama Dan Penuntut Ilmu
⬇ Download audio: bit.ly/KewajianMenuntut-Ilmu-04
〰〰〰〰〰〰〰

*RENDAH HATI ULAMĀ DAN PENUNTUT ILMU*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي أعلى  شأن العلم ورفع أهله درجات، والصلاة والسلام على نبيه محمد وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد

Sahabat BiAS yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Pada kesempatan kali ini, kita masih melanjutkan pembacaan (pembahasan) kitāb Mukhtashar Fardi Thalabil 'Ilmi karya Al Imām Abū Bakr Muhammad bin Al Husain Al Aajurriy rahimahullāh yang meninggal tahun 360 Hijriyyah.

Beliau rahimahullāh berkata:

_Ketahuilah, semoga Allāh merahmati mu, suatu sifat yang sangat diperlukan oleh seorang ahli ilmu, oleh seorang penuntut ilmu, serta sifat yang sangat pantas untuk mereka genggam erat-erat adalah sifat rendah hati (tawadhu')._

_Sifat ini (tawadhu') jika dilihat dari penuntut ilmu akan tergambarkan pada dirinya, pada semangatnya._

_Seorang yang rendah hati akan tetap semangat dan tidak malu untuk mengambil ilmu dari orang-orang yang lebih muda atau orang-orang yang berada dibawah mereka. Sebagaimana ia tidak malu mengambil dari orang yang lebih tua, ia juga tidak malu mengambil ilmu dari orang yang lebih rendah kedudukannya. Ia akan menerima kebenaran dengan cara yang baik._

_Ia akan bersyukur kepada Allāh atas ilmu yang ia dapatkan, kemudian ia akan berterima kasih kepada perantaranya._

_Dan kerendahan hati ini juga akan terlihat ketika para penuntut ilmu itu semangat untuk bertanya kepada guru-guru mereka._

_Dan ada dua hal (sifat) yang menghalangi seseorang bertanya kepada para ulamā mengenai hal-hal yang belum mereka pahami, (yaitu) sifat malu dan sombong (dua ini adalah perusaknya)._

_Diriwayatkan dari mujāhid, ia berkata :_

لا يتعلَّمُ العلم مُستحي ولا مُستَكبِر

_"Orang pemalu dan sombong tidak akan mungkin mendapatkan ilmu."_

_Jika seorang penuntut ilmu mau merendahkan hati di hadapan para ulamā dan guru mereka, pasti mereka akan dicintai. Pasti mereka akan mendapat banyak pelajaran berharga._

_Akan tetapi jika mereka sombong dan menampakan diri bahwa ia tidak butuh kepada ilmu mereka, maka guru-guru mereka tidak akan simpati kepadanya. Bahkan mereka kurang suka memberikan faedah dan pelajaran kepada orang yang seperti itu sifatnya._

_Adapun kerendahan hati (tawadhu’)nya seorang ulamā adalah dengan ucapan syukurnya kepada Allāh dan kerendahan hati dihadapan-Nya. Dan ia tahu bahwa Allāh telah memberikan kepadanya kelebihan khusus, telah menjadikannya salah seorang pewaris nabi. Dan ia tahu bahwa manusia sangat butuh kepada ilmunya. Maka dia akan merendah dan berakhlak dihadapan para muridnya._

_Dia tidak akan merendahkan dan meremehkan para muridnya. Dan ia akan memberikan saran-saran serta trik-trik agar para muridnya bisa belajar dengan baik. Jika seorang ulamā, seorang guru, seorang pengajar bisa memiliki adab seperti itu, pasti Allāh akan mengangkat derajatnya dan pasti Allāh akan bikin manusia cinta kepada mereka._

_Umar bin Al Khaththāb berkata :_

_"Pelajarilah ilmu, pelajarilah adab ilmu, ketenangannya, kesabarannya. Dan rendahkah hati kalian kepada guru-guru kalian. Dan guru-guru kalian hendaknya juga rendah hati kepada kalian. Janganlah kalian menjadi orang yang angkuh kepada ilmu, karena kalau kalian angkuh dengan ilmu kalian, pasti ilmu itu tidak akan bisa mengalahkan kejāhilanmu."_

_Orang yang telah memperhatikan berbagai hal yang telah disampaikan, ia pasti akan mendahulukan ilmu yang wajib terlebih dahulu._

_Dan pasti ia akan bersabar dengan segala halangan dan rintangan dalam menggapainya._

_Dan yang akan melakukan hal itu adalah orang yang memiliki kecemburuan atas agamanya. Ia lebih cemburu kepada agamanya dari pada kepada jiwa dan hartanya. Hal tersebut dimiliki oleh orang yang berilmu lagi berakal._

_Dan harta yang paling berharga, modal pokok seorang mukmin adalah agamanya, ia tidak akan pernah meninggalkannya._

_Dan ketahuilah, semoga Allāh merahmatimu, kita sekarang berada pada suatu masa yang sangat banyak fitnah dan cobaannya, dari berbagai sisi pandangnya._

_Jika seorang tidak memiliki ilmu dan keikhlāsan, tentu mereka tidak akan bisa  menghempaskan fitnah-fitnah tersebut dan pasti mereka akan hancur lebur._

Wallāhu Taala A'lam (bersambung in syā Allāh)
______________________

Kamis, 24 September 2020

KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 06 Shafar 1442 H / 24 September 2020 M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc.
📗 Kitab Kewajiban Menuntut Ilmu
🔊 Halaqah 03 | Keutamaan Menuntut Ilmu
⬇ Download audio: bit.ly/KewajianMenuntut-Ilmu-03
〰〰〰〰〰〰〰

*KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي أعلى  شأن العلم ورفع أهله درجات، والصلاة والسلام على نبيه محمد وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد

Sahabat BiAS yang di muliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla .

Pada kesempatan kali ini, kita masih melanjutkan pembacaan (pembahasan) kitāb Mukhtashar Fardi Thalabil 'Ilmi, karya Al Imām Abū Bakr Muhammad bin Al Husain Al Aajurriy rahimahullāh yang meninggal tahun 360 Hijriyyah.

Dalam buku tersebut beliau rahimahullāh menyatakan:

"Para penyandang gelar pentuntut ilmu harusnya berbahagia, karena ia telah menempuh suatu jalan yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla  akan mudahkan ia menuju Surga."

Dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

_"Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, pasti akan Allāh mudahkan jalannya menuju Surga."_

Ini adalah suatu keutamaan yang akan didapat oleh seorang yang baik niatannya, ikhlas karena Allāh Ta’ala.

Jika ada yang bertanya: Apa arti niatan yang baik?

Kita jawab: Ia adalah seorang yang keluar untuk belajar ilmu dengan tujuan mengangkat kebodohan dari dalam dirinya, menuntut ilmu tentang hak-hak Allāh dalam peribadahan, sehingga ia bisa menyembah dan beribadah kepada Allāh dengan benar.

Ia mencari ilmu yang bermanfaat bagi dirinya, jika ada suatu permasalahan dunia ataupun akhirat yang belum ia ketahui, ia bergegas menuju kepada para ulamā untuk belajar, dengan niatan karena Allāh dan untuk menyelamatkan agamanya.

Dan setiap jalan yang ditempuh oleh penuntut ilmu, baik pendek atau panjang, ia tetap mendapatkan keutamaan sebagaimana dalam hadīts tersebut. Dan pasti ia akan diberikan pertolongan dalam usahanya, in syā Allāh.

Dan ketahuilah, semoga Allāh merahmati mu, bahwa di antara para penuntut ilmu ada beberapa orang yang Allāh kuatkan akalnya, yang Allāh indahkan adabnya dan ada yang Allāh karuniakan pemahaman yang tinggi padanya.

Mereka ingin agar sunnah-sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam itu hidup, begitu juga sunnah dan jalan hidup para shahābat dan agar ingin agar kebid’ahan itu lenyap dari muka bumi.

Mereka senang menghafal, dengan tujuan menjaga kaum muslimin di atas syari'atnya. Mereka takut kalau ilmu itu lenyap hilang tak berbekas.

Inilah para penuntut ilmu yang para malāikat meletakan sayap mereka sebagai bentuk penghormatan atas usahanya dan mereka selalu berada dijalan Allāh hingga ia kembali pulang.

Mereka itulah orang-orang yang para malāikat, ikan dilautan, beristighfār kepadanya. Dan mereka itulah orang-orang yang berusaha menempuh jalan menuju surga.

Orang-orang yang seperti ini sangat sedikit sekali, akan tetapi hal tersebut tidak menyurutkan semangat mereka, sehingga Allāh Subhānahu wa Ta'āla balas mereka dengan pahala yang sangat besar.

Adapun orang yang niatannya dalam mencari ilmu adalah dunia dan perhiasannya, bagaimana mungkin bisa disamakan dengan pahala orang-orang yang telah lalu penyebutannya.

Allāhul Musta'ān.

Alangkah beratnya cobaan keikhlāsan bagi para penuntut ilmu dan alangkah sedikitnya yang menuntut ilmu karena Allāh. Dan kedua jenis orang ini akan terlihat dari akhlak yang mereka tunjukan, apakah ia menuntutnya ikhlās atau tidak.

Dan dari apa yang telah kami paparkan, maksud dan tujuannya adalah agar para penuntut ilmu juga selektif dalam mencari guru. Hendaknya ia mencari guru yang ilmunya memberikan dampak dalam kehidupannya. Seorang guru yang tinggi tingkat pemahamannya, tinggi adabnya. Kalau guru tersebut tidak memiliki sifat-sifat seperti itu, hendaknya ditinggalkan.

Wallāhu Taala A'lam (bersambung in syā Allāh)

🖋 Al Faqīr Ilallāh Ratno
________________________

Kamis, 23 Juli 2020

Menggapai Kekhusyuan Di Dalam Shalat

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 30 Dzulqa’dah 1441 H / 21 Juli 2020 M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc.
📗 Serial Bulan Dzuhijjah
🔊 Halaqah 02 | Menggapai Kekhusyuan Di Dalam Shalat
⬇ Download audio: bit.ly/Dzulhijjah1441-H1
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة  أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām, rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Tidak terasa sebentar lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah, salah satu dari bulan haram, salah satu dari bulan yang Allāh muliakan, yang mana amal shālih pada bulan tersebut akan dilipat-gandakan.

Bahkan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bersumpah, tidak ada amal shālih yang lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang melebihi cinta Allāh kepada amal shālih yang dilakukan pada sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah ini.

Para sahabat pun bertanya,

وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

"Wahai Rasūlullāh, termasuk lebih utama dari jihād fīsabilillāh?”

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam  bersabda: “Termasuk jihād  fī sabilillāh tidak bisa menandingi amalan yang dilakukan di sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah".

Kemudian Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam mengecualikan satu, yaitu :

إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

"Kecuali orang yang keluar berjihad di jalan Allāh, dengan membawa jiwa dan hartanya, dan tidak ada sedikitpun yang kembali (mati syahid)."

(Hadīts riwayat Al-Bukhāri)

Hanya orang yang berjihād kemudian mati syahid yang tidak bisa ditandingi dengan amalan-amalan bulan ini, artinya amalan-amalan bulan ini sangat istimewa, sangat besar sekali pahalanya.

Dan salah satu amalan yang sering kita lakukan setiap harinya adalah shalāt lima waktu.

Sahabat Bimbingan Islām, rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Syaikh Muhammad bin Shālih Al-'Utsaimin pernah menyatakan bahwa hal terpenting setelah seorang mencontoh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam shalātnya adalah seorang bisa fokus (khusyuk) dalam shalātnya.

Ketika dia shalāt, dia berpikir bahwa dia benar-benar sedang shalāt, pikirannya tidak pergi kemana-mana. Saat dia berdo'a, dia paham (dia sedang berdo'a apa), saat dia membaca bacaan shalāt dia paham bacaan apa yang sedang dia baca, saat dia rukuk dia paham kalau dirinya sedang rukuk, ini yang terpenting yaitu khusyuk.

Salah satu cara untuk mengetes kekhusyukan shalāt kita adalah dengan instropeksi diri, apakah kita sadar dengan do'a-do'a yang kita panjatkan saat duduk di antara dua sujud.

Saat duduk di antara dua sujud kita berdo'a:

رَبِّ اغْفِرْ لِي ، وَارْحَمْنِي ، وَاجْبُرْنِي ، وَارْفَعْنِي،  وَاهْدِنِي، وَعَافِنِي ، وَارْزُقْنِي

"Yā Allāh ampunilah aku, rahmatilah aku, tutuplah kekuranganku, tinggikanlah derajatku, berilah hidayah (petunjuk) untukku, berilah keselamatan pada diriku, hartaku, badanku, baik dunia maupun akhirat, dan berikanlah kesehatan kepadaku, dan berikanlah rezeki kepadaku."

Tapi pernahkah kita sadar, setiap kali kita selesai shalāt, kita sudah meminta tujuh hal tersebut kepada Allāh dan minimalnya sudah 17 kali dalam sehari kita berdo'a seperti  itu.

Sahabat Bimbingan Islām, rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Saya pribadi mengajak diri pribadi, begitu juga sahabat semuanya untuk instropeksi diri. Di sepuluh hari awal bulan  Dzulhijjah ini, coba kita tes seberapa besar kekhusyukan kita, seberapa paham kita dengan do'a-do'a yang kita panjatkan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dalam shalāt.

Mungkin kita sudah banyak berdo'a seperti tadi (meminta rezeki, meminta rahmat, meminta ampunan) mungkin do'a kita belum di ijabah oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Urusan kita masih susah, bisa jadi karena kita berdo'a tetapi kita tidak menghadirkan hati.

Dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam telah menyatakan,

إنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

"Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak akan mengijabah do'a dari hati yang lalai dan bermain-main."

(Hadīts riwayat At-Tirmidzī nomor 3479)

Sekali lagi, saya mengajak diri saya pribadi begitu juga kepada teman-teman semua sahabat Bimbingan Islām untuk instropeksi diri.

Sudahkah kita khusyuk dalam shalāt kita dan kita lihat dari do'a duduk di antara dua sujud.

Sudahkah kita paham dan saat selesai shalāt, sudahkah kita merasa berdo'a hal-hal tersebut kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Semoga di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini, di waktu yang mulia ini, di saat amalan-amalan sangat utama tidak bisa dikalahkan kecuali dengan jihād kemudian orangnya mati syahid.

Apakah kita berhasil untuk menjadikan shalāt kita, shalāt yang khusyuk?

Mari kita jadikan shalāt kita menjadi shalāt yang khusyuk tentu dengan memperbanyak do'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Karena diri kita lemah dan Allāh lah yang Maha Mampu.

Maka kita berdo'a,

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

”Yā Allāh, tolong aku untuk menyebut nama-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah yang baik untuk-Mu."

Semoga kita semua diberikan taufīq dan dimudahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
____________________

AMALAN YANG HAMPIR MENYAMAI PAHALA BERJIHAD

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 29 Dzulqa'dah 1441 H / 20 Juli 2020 M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Serial Bulan Dzulhijjah
🔊 Halaqah 01| Amalan Yang Hampir Menyamai Pahala Berjihad
⬇ Download audio: bit.ly/Djulhijjah1440-H1
〰〰〰〰〰〰〰

*AMALAN YANG HAMPIR MENYAMAI PAHALA BERJIHAD*

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد الله و صلاة و سلم على رسول الله و على أله و أصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم القيامة أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām, yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menciptakan banyak hal yang memiliki kedudukan berbeda. Ada orang mulia, ada orang hina, ada ahli surga, ada ahli neraka, ada orang baik adapula orang jaha. Ada hari yang mulia ada juga hari yang biasa saja, ada bulan mulia ada pula bulan yang biasa saja.

Hanya saja tidak ada hari dan tidak ada bulan yang ada kesialan padanya.

Dan tidak terasa kita memasuki sebuah bulan, yang amal shālih akan lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dan tidak terasa sebentar lagi kita akan memasuki hari-hari yang amal shālih akan lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla daripada amalan yang dilakukan pada hari-hari selainnya (yaitu) 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Kita hidup di dunia ini, ingin mencari apa?

Pasti jawaban kita,

√ Kita ingin dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

√ Kita ingin diridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Sahabat Bimbingan Islām.

Pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, kesempatan untuk dicintai dan diridhāi oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan menghampiri kita.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ اْلأيَّامِ الْعَشْرِ

_"Tidak ada hari yang bisa melebihi kecintaan Allāh Subhānahu wa Ta'āla pada amal shālih yang dilakukan pada 10 hari pertama dibulan Dzulhijjah."_

(Hadīts riwayat Abū Dāwūd, Ibnu Mājah, At Tirmidzī dan dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh)

Dari hadīts ini, kita mengetahui bahwa amal shālih yang dilakukan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah sangat dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Tidak ada hari-hari yang bisa mengalahkannya.

Bahkan menurut para ulamā, 10 hari pertama bulan Dzulhijjah (yaitu) pada siang harinya tidak bisa dikalahkan dengan 10 hari siangnya bulan Ramadhān.

Perlu diingat! Yang kita bicarakan adalah siangnya, adapun malamnya maka pembahasannya berbeda.

Sehingga ketika kita bersedekah di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dengan uang 10 ribu, maka akan lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla daripada sedekah 10 ribu diluar 10 hari ini.

Ketika kita shalāt dhuhur atau shalāt ashar di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah maka akan lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla daripada shalāt dhuhur atau shalāt ashar di luar 10 hari pertama bulan ini.

Ketika kita puasa sunnah pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah maka akan lebih dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla daripada puasa sunnah di luar 10 hari ini.

Menurut para ulamā keutamaan ini mencakup seluruh amal shālih (apapun itu) baik puasa, shalāt, sedekah, dzikir dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, ketika disampaikan hadīts ini para shahābat bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّ

_"Wahai Rasūlullāh, apakah pahala jihād fī sabīlillāh juga tidak bisa mengalahkan amal shālih pada hari ini?"_

_Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) menjawab:_

وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

_"Iya, jihād dijalan Allāh tidak bisa mengalahkannya."_

Kemudian Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) memberikan catatan tambahan:

إِلا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ 

_"Kecuali orang yang berjihād fī sabīlillāh dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun (maksudnya ia mati syahīd).”_

Itulah amalan yang dapat mengalahkan kecintaan Allāh yaitu amalan di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Adapun amalan yang lainnya, maka tidak bisa mengalahkannya sesuai dengan sabda Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ini.

Mari kita memperbanyak do'a.

Mari kita memperbanyak isti'ānah (meminta pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla) agar kita dimudahkan, agar kita diberikan taufik untuk menciptakan pundi-pundi pahala amal shālih di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla a'lam bishawāb

وصلى الله على نبينا محمد

_________

Sabtu, 27 Juni 2020

ADAB-ADAB MEMAKAI SANDAL (LANJUTAN)

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 03 Dzulqa’dah 1441 H / 24 Juni 2020 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 59 | Hadits Tentang Adab-Adab Memakai Sandal - Nomor 81-83 (lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-59b
〰〰〰〰〰〰〰

*ADAB-ADAB MEMAKAI SANDAL (LANJUTAN)*

بسم الله
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alasan kenapa kita dilarang berjalan dengan menggunakan satu sandal adalah (menurut sebagian ulama) agar kita bisa berbuat adil.

Adil dari sisi mana?

Adil, agar kaki kita yang tidak menggunakan sandal sama dengan kaki yang menggunakan sandal. Jika menggunakan sandal maka menggunakan sandal keduanya, kalau melepas sandal maka lepas keduanya, biar adil.

Ada sebagian yang mengatakan bahwa agar tidak terjadi sughrah, yaitu sesuatu yang aneh dalam berpakaian. Takutnya ketika kita berjalan di pasar menggunakan satu sandal pastinya akan dilihat oleh orang-orang.

Dan ketika kita memakai sesuatu hal yang bisa dilihat oleh orang-orang, kemudian orang-orang merasa janggal sehinggga bisa masuk ke dalam pembahasan berpakaian sughrah (pakaian yang janggal).

Alasan lain yang disebutkan adalah karena syaithan berjalan dengan satu sandal.

Hadīts ini diriwayatkan oleh Imam Ath Thahawi dan bisa dilihat di dalam Silsilah Hadīts Ash Shahihah karya Syaikh Al Albāniy rahimahullāh nomor 384.

Karena sebuah alasan yaitu:

إن الشيطان يمشي بالنعل الواحدة

_"Sesungguhnya syaithan berjalan dengan satu sandal.”_

Sehingga salah satu alasan kenapa kita dilarang berjalan dengan satu sandal adalah agar tidak meniru syaithan.

Kemudian, yang perlu dicatat di sini adalah bahwa larangan ini berlaku ketika berjalan, tidak saat kita berdiri atau duduk. Terkadang kita duduk dengan satu kaki menggunakan satu sandal dan kaki satunya naik /diangkat ke atas, ini tidak mengapa.

Yang dilarang di sini adalah berjalan dengan menggunakan satu sandal (lebih baik dilepas semuanya atau dipakai semuanya).

Syaikh Bin Baz rahimahullāh pernah ditanya apabila kita akan memakai sandal, sandal yang satu sudah kita dapatkan ternyata sandal yang satunya berada di satu atau dua langkah berikutnya, maka apakah kita harus berjalan mengambil dulu atau kita boleh memakai satu sandal kemudian kita berjalan satu atau dua langkah untuk mengambil (memakai) sandal berikutnya?

Beliau (Syaikh Bin Baz) menjawab, "Apabila engkau mampu untuk tidak menyelisihi sunnah, maka lakukanlah walau pun hanya satu atau dua langkah."

Sahabat Bimbingan Islām rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Perkara sunnah ini tidak boleh kita sepelekan, kenapa? Karena di dalam sunnah pasti ada pahala dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita saja kalau pergi ke mall-mall kemudian ada diskon (bonus) terkadang kita tertarik. Masa dengan pahala dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kita tidak tertarik lalu kita mengatakan, "Ah, itu hanya sunnah."

Kenapa kita tidak mengatakan, "Ah, itu hanya bonus. Ah, itu hanya diskon," kenapa tidak kita katakan seperti itu? Tetapi kita bersikap tidak konsisten, kalau melihat bonus atau diskon kemudian kita tertarik. Tapi ketika kita melihat bonus dari sisi pahala kita tidak tertarik.

Maka kita harus banyak belajar dan banyak memperbaiki diri untuk bersikap dengan sunnah-sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Walau pun sunnah setidaknya jangan sampai kita menyepelekan walaupun mungkin kita belum bisa melakukan. Tetapi tetap kita harus menghargai dan berusaha untuk menjalankan sunnah tersebut.

Inilah pelajaran kita pada pertemuan ke-58, hendaklah kita berjalan dengan dua sandal atau setidaknya kita lepas semuanya dan jangan sampai kita berjalan dengan satu sandal walaupun hukumnya menurut para ulama tidak sampai haram, namun kita tidak boleh menyepelekan sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Semoga kita dimudahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, diberi taufiq untuk menjalankan sunnah-sunnahnya.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb

Semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد
____________________

Selasa, 23 Juni 2020

ADAB-ADAB MEMAKAI SANDAL

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 02 Dzulqa’dah 1441 H / 23 Juni 2020 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 58 | Hadits Tentang Adab-Adab Memakai Sandal - Nomor 81-83
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-58
〰〰〰〰〰〰〰

*ADAB-ADAB MEMAKAI SANDAL*

بسم الله
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita lanjutkan pembahasan kita dari kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah, sekarang kita sudah sampai pada pertemuan ke-58 dan kita masih berada pada pembahasan sandal.

Sebelumnya kita telah membahas sifat sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan pada pertemuan kali ini kita akan membahas adab-adabnya.

Di antara adab yang disebutkan oleh Imam At Tirmidzī rahimahullāh adalah tidak bolehnya berjalan dengan satu sandal.

Beliau membawakan tiga hadīts.

• Hadīts nomor 81

Sebuah hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

لاَ يَمْشِيَنَّ أَحَدُكُمْ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ لِيُنْعَلْهُمَا جَمِيعًا أَوْ لِيُحْفِهِمَا جَمِيعًا

_"Janganlah salah seorang di antara kalian berjalan dengan hanya memakai satu sandal, hendaklah ia memakai keduanya atau melepas keduanya.”_

• Hadīts nomor 82

Imam At Tirmidzī rahimahullāh membawakan sanad lain, yang mana sanad hadīts ini lebih pendek.

Dari sisi mana pendeknya?

Kalau hadīts nomor 81 Imam At Tirmidzī harus melewati dua rawi untuk (kepada) Imam Mālik bin Annas yaitu harus melewati Ishaq bin Musa Al Anshari kemudian melewati Ma'n baru kepada Imam Mālik.

Namun pada hadīts nomor 82 ini Imam At Tirmidzī mau mengatakan bahwasanya, "Saya memiliki sanad yang lebih tinggi (lebih: على , kalau dalam bahasa musthalah hadīts) karena saya mendapatkan hadīts dari Qutaibah bin Sa'id Al Baghilani dari Mālik bin Annas langsung. Jadi untuk mencapai Mālik bin Annas saya hanya membutuhkan satu rawi saja."

Jadi hadīts nomor 82 ini hanya menguatkan periwayatan Imam At Tirmidzī rahimahullāh.

• Hadīts nomor 83

Dimana hadīts ini juga hampir sama maknanya tetapi hadīts ini dari shahabat Jabir. Imam At Tirmidzī meriwayatkan dengan sanadnya sampai shahabat Jabir bin Abdillāh radhiyallāhu 'anhu.

Beliau (Jabir bin Abdillāh) berkata bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

نَهَى أَنْ يَأْكُلَ، يَعْنِي الرَّجُلَ، بِشِمَالِهِ، أَوْ يَمْشِيَ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ

_"Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam melarang seseorang yakni seorang laki-laki makan dengan tangan kiri atau berjalan dengan hanya memakai satu sandal.”_

Ini adalah pembahasan kita di pertemuan ke-58  yang mana kita membahas adab dalam berjalan yaitu tidak boleh memakai satu sandal tetapi harus dipakai keduanya atau dilepas semuanya.

Hadīts ini juga diriwayatkan oleh Imam Al Bukhāri nomor 5855 dan Imam Muslim nomor 2097.

Dan di antara faedah atau pelajaran dari hadīts ini adalah seorang muslim dilarang berjalan dengan satu sandal saja. Solusinya adalah digunakan semuanya atau dilepas semuanya.

• Hukum Memakai Satu Sandal

Apa hukum memakai satu sandal?

Hukumnya menurut sebagian ulama adalah makruh tanzih (tidak sampai haram). Bahkan menurut Imam An Nawawi rahimahullāh hukumnya adalah makruh saja.

Kenapa?

Karena ini berkaitan dengan adab-adab dan irsyad (bimbingan) dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Tetapi sahabat Bimbingan Islām,

Walaupun ini makruh, setidaknya kita taat kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah lebih utama karena di sini nanti ada sebuah riwayat yang menunjukkan alasan kenapa dilarang berjalan dengan menggunakan satu sandal.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb

Semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد
____________________

Senin, 06 April 2020

RAMADHĀN BULAN YANG DIRINDU

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 12 Sya’ban 1441 H / 06 April 2020 M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc
📗 Kajian Tematik | Ramadhan Bulan Yang Dirindu
⬇ Download audio: bit.ly/SerialSya'ban1440H_H01
〰〰〰〰〰〰〰

*RAMADHĀN BULAN YANG DIRINDU*

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة، أما بعد

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahimakumullāh.

Tentu kita rindu untuk beribadah pada bulan penuh ampunan, bulan penuh keberkahan, bulan dimana pintu surga dibuka lebar-lebar dan pintu neraka ditutup rapat-rapat. Bulan dimana syaithān-syaithān dibelengu, bulan dimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengobral pahala amal kebaikan.

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahimakumullāh.

Bulan ini adalah bulan Sya'bān, bulan ke-8 yang berarti kita akan beranjak ke bulan yang ke-9 yaitu bulan Ramadhān.

Agar rindu kita dengan bulan Ramadhān semakin besar, agar cinta kita kepadanya semakin membara, alangkah baiknya kita dengarkan sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Ibnu Mājah nomor 3925.

Sebuah hadits yang dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh.

Thalhah bin Ubaidillāh, salah seorang shahābat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bercerita, ada dua orang laki-laki dari kabilah Baliy. Dimana dua orang laki-laki tersebut mendatangi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Keduanya saat itu masuk Islām secara bersama-sama. Salah satu dari kedua laki-laki tersebut lebih rajin dari yang lainnya.

Laki-laki pertama ikut perang kemudian dia meninggal dunia dalam peperangan (mati syahīd). Adapun laki-laki kedua masih diberikan kehidupan satu tahun setelah wafatnya laki-laki yang pertama.

Sebelum kita lanjutkan kisahnya, (kita ambil kesimpulan) bahwasanya laki-laki pertama adalah seorang yang rajin dan meninggal dalam keadaan berjihād sehingga dia meninggal dalam keadaan mati syahīd, adapun laki-laki kedua kalah rajin jika dibandingkan dengan laki-laki pertama.

Setelah satu tahun meninggal laki-laki yang pertama, kemudian laki-laki kedua pun meninggal akan tetapi beliau meninggal tidak di medan perang (beliau wafat biasa).

Kemudian Thalhah bin Ubaidah berkata:

Lalu aku melihat keduanya dalam mimpi, ketika itu aku sedang berada dipintu surga dan ada dua laki-laki tersebut, maka keluarlah seseorang dari surga lalu memberikan izin kepada laki-laki kedua (laki-laki yang wafat terakhir) untuk masuk surga.

Kemudian dia keluar lagi dan baru memberikan izin untuk memasuki surga kepada laki-laki yang meninggal pertama (yang mati syahīd).

Lalu dia keluar lagi dan menemuiku (kata Thalhah) dan berkata:

"Kembalilah sekarang, belum saatnya untukmu."

Ketika datang waktu pagi, Thalhah bin Ubaidillāh bercerita kepada orang-orang dan orang-orang pun takjub dan merasa aneh, hingga akhirnya cerita mimpi Thalhah tersebut sampai kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Ketika mimpi tersebut telah disampaikan kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam,  maka beliaupun bertanya (kepada orang-orang yang takjub):

"Apa yang kalian takjubkan?"

Orang-orangpun menjawab:

"Wahai Rasūlullāh, laki-laki pertama kan dulu yang lebih rajin, bahkan ia mati syahīd, lalu kenapa laki-laki kedua bisa mendahuluinya masuk surga?"

Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bertanya kepada mereka:

"Bukankah laki-laki kedua masih hidup satu tahun setelah syahīdnya laki-laki pertama?"

Mereka menjawab: "Iya betul."

Lalu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam melanjutkan pertanyaannya: 

"Dan bukankah ia (laki-laki kedua) juga bertemu dengan Ramadhān lalu berpuasa, melakukan ibadah ini dan ibadah itu, masih bisa bersujud selama satu tahun kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla?"

Merekapun menjawab: "Betul, wahai Rasūlullāh.”

Lalu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menambahkan dan menegaskan: "Bahkan jarak antara dua orang itu antara langit dan bumi."

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahimakumullāh.

Setelah kita tahu hal ini, kita tahu bahwa seseorang yang masih bisa beribadah kepada Allāh pada bulan Ramadhān memiliki keutamaan yang sangat besar, bisa menaikan derajat hingga jarak antara langit dan bumi.

Setelah kita tahu hal ini, tidakkah kita rindu Ramadhān?

Tidakkah kita ingin bertemu Ramadhān?

Tidakkah kita ingin memperbanyak ibadah pada bulan Ramadhān?

Kalau jawabannya: "Tidak," sungguh itu sangat keterlaluan.

Beruntunglah orang-orang yang bisa beribadah dengan baik pada bulan Ramadhān, sehingga derajatnya naik, hingga jarak antara langit dan bumi.

Yā Allāh sampaikan kami pada bulan Ramadhān dan berikan taufīq dan kemudahan kepada kami untuk beribadah dengan ikhlās dan benar dikala itu.

اللَّهُمَّ سَلِّمْنَا الي رَمَضَانَ ، وَسَلِّمْهُ لَنَا ، وَتَسَلَّمْهُ مِنَّا مُتَقَبّلًا

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله علي نبينا محمد
_________________________

Kamis, 26 Maret 2020

HADITS TENTANG SIFAT SANDAL NABI SHALLALLĀHU'ALAIHI WA SALLAM

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 23 Rajab 1441 H / 18 Maret 2020 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 56 | Hadits Tentang Sifat Sandal Nabi Shallallahu 'alayhi wa Sallam - Nomor 76 dan 77
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-56
〰〰〰〰〰〰〰
*HADITS TENTANG SIFAT SANDAL NABI SHALLALLĀHU'ALAIHI WA SALLAM*

بسم الله
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Pada pertemuan ke-56 atau pertemuan ke-3 ini, in syā Allāh kita akan kita akan membaca hadīts nomor 76 dan 77 tentang sifat sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

• Hadīts nomor 76

Disebutkan dalam hadīts ke-76 bahwasanya Imam At Tirmidzī membawakan sebuah hadīts dari Abū Kuraib Muhammad bin Al Ala. Beliau mengatakan: Memberikan hadīts kepadaku Waqi' dari Sufyān dari Khālid Al Hadzdza dari Abdullāh ibnu Al Harits dari Ibnu Abbas radhiyallāhu 'anhumā.

Beliau mengatakan:

كَانَ لِنَعْلِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قِبَالانِ، مَثْنِيٌّ شِرَاكَهُمَا

_"Dahulu sandal Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memiliki dua tali yang dijepit di antara dua jari-jari kaki.”_

Lafazh ini sama dengan pembahasan kita sebelumnya. Namun di sini ada tambahan lafazh: مَثْنِيٌّ شِرَاكَهُمَا - memiliki dua tali untuk masing-masing jarinya.

Jadi dari tengah, dari samping dua tali kemudian yang di antara jari-jari juga memiliki dua tali. Jadi mudahnya adalah tali sandal tersebut didouble.

•  Hadīts nomor 77

Hadīts ini membahas bahwasanya sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam terbuat dari kulit yang sudah bersih dari rambut-rambutnya (bulu-bulu).

Kita tahu kulit sapi, kulit kambing memiliki rambut-rambut (bulu-bulu). Namun ketika sudah dibuat sandal dan dipakai Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bulu-bulunya sudah tidak ada.

Dan mungkin saat itu, kata Syaikh Abdurrazaq, sandal-sandal pada zaman tersebut:

Ada sandal yang masih memiliki bulu-bulu atau rambut-rambut.
Ada sandal yang sudah hilang rambut-rambutnya tetapi masih ada sisanya dan ada sandal yang tidak ada rambut-rambutnya (bulu-bulunya) sama sekali.

Dan sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah sandal yang tidak ada rambut (bulu-bulu) sama sekali.

Imam At Tirmidzī membawakan hadīts dari Ahmad bin Mani', beliau mengatakan: Memberikan hadīts kepada kami Ahmad Az Zubairi, beliau mengatakan: Memberikan hadīts kepadaku ‘Isa bin Thahman.

Beliau (Isa bin Thahman) bercerita: Annas bin Mālik radhiyallāhu 'anhu pernah menunjukkan (memperlihatkan) kepada kami dua sandal yang polos (tidak ada bulu-bulunya) atau: جرداوين .

Ini adalah lafazh yang kita inginkan pada poin ke-3 dari sifat sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ini, yaitu: جرداوين artinya sandal tersebut sudah bersih dari bulu-bulunya.

لهماقبالان

_Dua sandal tersebut memiliki dua tali sandal depan._

Ini juga sudah disebutkan dalam hadīts sebelumnya.

قال: فَحَدَّثَنِي ثَابِتٌ بَعْدُ عَنْ أَنَسُ، أَنَّهُمَا كَانَتَا نَعْلَيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

_Kemudian Isa bin Thahman mengatakan: Memberikan kepadaku Tsābit setelahnya dari Anas bin Mālik (maksud Isa bin Thahman adalah Tsābit menambah informasi kepada Isa bin Thahman dan informasi tersebut adalah dari Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhumā), bahwasanya dua sandal tersebut yang dikeluarkan oleh Anas bin Mālik merupakan sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam."_

Inilah pertemuan ke-56 tambahan tentang dua sifat sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yaitu talinya di double dan sandal Beliau sudah bersih dari bulu-bulunya.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد

________

Rabu, 18 Maret 2020

HADITS TENTANG SIFAT SANDAL NABI SHALLALLĀHU'ALAIHI WA SALLAM

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 23 Rajab 1441 H / 18 Maret 2020 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 56 | Hadits Tentang Sifat Sandal Nabi Shallallahu 'alayhi wa Sallam - Nomor 76 dan 77
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-56
〰〰〰〰〰〰〰
*HADITS TENTANG SIFAT SANDAL NABI SHALLALLĀHU'ALAIHI WA SALLAM*

بسم الله
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Pada pertemuan ke-56 atau pertemuan ke-3 ini, in syā Allāh kita akan kita akan membaca hadīts nomor 76 dan 77 tentang sifat sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

• Hadīts nomor 76

Disebutkan dalam hadīts ke-76 bahwasanya Imam At Tirmidzī membawakan sebuah hadīts dari Abū Kuraib Muhammad bin Al Ala. Beliau mengatakan: Memberikan hadīts kepadaku Waqi' dari Sufyān dari Khālid Al Hadzdza dari Abdullāh ibnu Al Harits dari Ibnu Abbas radhiyallāhu 'anhumā.

Beliau mengatakan:

كَانَ لِنَعْلِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قِبَالانِ، مَثْنِيٌّ شِرَاكَهُمَا

_"Dahulu sandal Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memiliki dua tali yang dijepit di antara dua jari-jari kaki.”_

Lafazh ini sama dengan pembahasan kita sebelumnya. Namun di sini ada tambahan lafazh: مَثْنِيٌّ شِرَاكَهُمَا - memiliki dua tali untuk masing-masing jarinya.

Jadi dari tengah, dari samping dua tali kemudian yang di antara jari-jari juga memiliki dua tali. Jadi mudahnya adalah tali sandal tersebut didouble.

•  Hadīts nomor 77

Hadīts ini membahas bahwasanya sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam terbuat dari kulit yang sudah bersih dari rambut-rambutnya (bulu-bulu).

Kita tahu kulit sapi, kulit kambing memiliki rambut-rambut (bulu-bulu). Namun ketika sudah dibuat sandal dan dipakai Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bulu-bulunya sudah tidak ada.

Dan mungkin saat itu, kata Syaikh Abdurrazaq, sandal-sandal pada zaman tersebut:

Ada sandal yang masih memiliki bulu-bulu atau rambut-rambut.
Ada sandal yang sudah hilang rambut-rambutnya tetapi masih ada sisanya dan ada sandal yang tidak ada rambut-rambutnya (bulu-bulunya) sama sekali.

Dan sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah sandal yang tidak ada rambut (bulu-bulu) sama sekali.

Imam At Tirmidzī membawakan hadīts dari Ahmad bin Mani', beliau mengatakan: Memberikan hadīts kepada kami Ahmad Az Zubairi, beliau mengatakan: Memberikan hadīts kepadaku ‘Isa bin Thahman.

Beliau (Isa bin Thahman) bercerita: Annas bin Mālik radhiyallāhu 'anhu pernah menunjukkan (memperlihatkan) kepada kami dua sandal yang polos (tidak ada bulu-bulunya) atau: جرداوين .

Ini adalah lafazh yang kita inginkan pada poin ke-3 dari sifat sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ini, yaitu: جرداوين artinya sandal tersebut sudah bersih dari bulu-bulunya.

لهماقبالان

_Dua sandal tersebut memiliki dua tali sandal depan._

Ini juga sudah disebutkan dalam hadīts sebelumnya.

قال: فَحَدَّثَنِي ثَابِتٌ بَعْدُ عَنْ أَنَسُ، أَنَّهُمَا كَانَتَا نَعْلَيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

_Kemudian Isa bin Thahman mengatakan: Memberikan kepadaku Tsābit setelahnya dari Anas bin Mālik (maksud Isa bin Thahman adalah Tsābit menambah informasi kepada Isa bin Thahman dan informasi tersebut adalah dari Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhumā), bahwasanya dua sandal tersebut yang dikeluarkan oleh Anas bin Mālik merupakan sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam."_

Inilah pertemuan ke-56 tambahan tentang dua sifat sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yaitu talinya di double dan sandal Beliau sudah bersih dari bulu-bulunya.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد

________

Selasa, 17 Maret 2020

HADĪTS TENTANG SANDAL NABI SHALLALLĀHU 'ALAIHI WA SALLAM

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 22 Rajab 1441 H / 17 Maret 2020 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 55 | Hadits Tentang Sandal Nabi Shallallahu 'alayhi wa Sallam - Nomor 75, 69 dan 86
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-55
〰〰〰〰〰〰〰

*HADĪTS TENTANG SANDAL NABI SHALLALLĀHU 'ALAIHI WA SALLAM*

بسم الله
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Pada pertemuan ke-55 ini (in syā Allāh) kita akan membaca hadīts nomor 75, 79 dan 86. Hadīts-hadīts tersebut menunjukkan bahwa sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memiliki dua tali yang dijepit di antara jari jemarinya.

Biasanya model sandal pada zaman kita ini hanya memiliki satu tali sandal yang dijepit di antara jari jemari. Namun sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memiliki dua tali yang dijepit di antara jari jemarinya.

• Hadīts nomor 75

Hadīts nomor 75 adalah sebuah hadīts dari seorang tābi'in bernama Qatādah bin Di'amah As Sadusi. Beliau pernah bertanya kepada shahabat Anas bin Mālik radhiyallāhu 'anhu.

كَيْفَ كَانَ نَعْلُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم؟ قَالَ: لَهُمَا قِبَالانِ.

_"Bagaimana sandal yang pernah dipakai Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dahulu?" Ia menjawab, "Keduanya memiliki qibāl (dua tali yang dijepit)."_

• Hadīts nomor 79

Hadīts nomor 79 pun hampir sama, hadīts dari Abū Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.

كَانَ لِنَعْلِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قِبَالانِ.

_"Dahulu sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memiliki dua tali yang dijepit.__

• Hadīts nomor 86

Abū Hurairah radhiyallāhu 'anhu mengatakan:

كَانَ لِنَعْلِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قِبَالانِ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، وَأَوَّلُ مَنْ عَقَدَ عَقْدًا وَاحِدًا عُثْمَانُ رضي الله عنه.

_"Dahulu sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, Abū Bakar dan Umar memiliki dua tali yang dijepit, dan orang yang pertama kali membuat sandal dengan menggunakan satu tali adalah Utsman.”_

Hanya saja hadīts nomor 86 ini (hadīts ketiga dalam pembahasan kita) dinyatakan dhaif oleh Syaikh Al Albāniy rahimahullāh. Namun kita tidak menutup kemungkinan ada benarnya bahwasanya mungkin Utsman yang pertama kali menjadikan tali sandal itu menjadi satu. Wallāhu A'lam.

Dari 3 hadīts yang kita bacakan di atas dapat kita ambil beberapa kesimpulan dari pelajaran, yaitu:

⑴ Sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, Abū Bakar dan Umar memiliki dua tali sandal yang dijepit di antara jari-jari kaki mereka.

⑵ Yang pertama kali menggunakan satu tali untuk dijepit di antara jari-jari kaki adalah Utsman radhiyallāhu 'anhu.

⑶ Qibālān (قِبَالانِ) adalah bentuk mutsana dari Qibāl, dan Qibāl adalah tali sandal yang ada di antara jari-jari kaki yang biasanya kita jepit sebagaimana penjelasan yang telah berlalu.

Fungsi dari qibāl ini adalah untuk membuat kita nyaman ketika berjalan dan agar sandal yang kita pakai tidak mudah lepas dari kaki kita.

Coba bayangkan, Jika sandal kita putus tali depannya, tentu kita tidak akan dapat berjalan dengannya.

Inilah sifat sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, bahwasanya sandal beliau memiliki dua tali di antara jari-jari kakinya.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد
____________________

Senin, 16 Maret 2020

HADITS TENTANG SANDAL NABI SHALLALLĀHU'ALAIHI WA SALLAM

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 21 Rajab 1441 H / 16 Maret 2020 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 54 | Hadits Tentang Sandal Nabi Shallallahu 'alayhi wa Sallam - Muqaddimah
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-54
〰〰〰〰〰〰〰

*HADITS TENTANG SANDAL NABI SHALLALLĀHU'ALAIHI WA SALLAM*

بسم الله
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Mulai dari pertemuan ke-54 ini hingga 6 pertemuan ke depan (in syā Allāh) kita akan membahas tentang sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Pada pembahasan kali ini, Imam At Tirmidzī rahimahullāh ta'āla memberikan judul:

باب ما جاء في نعل رسول الله صلى الله عليه وسلم

_Bab yang berkaitan dengan hadīts-hadīts tentang sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam._

Ketika mengawali bab sandal ini, Syaikh Abdurrazaq ketika menerangkan kitāb ini, beliau kembali mengingatkan kita dengan kaidah penting dalam berpakaian.

Beliau mengatakan yang artinya kurang lebih seperti ini:

"Sebagaimana telah berlalu penjelasannya yaitu bab pakaian, bahwa seorang bebas untuk berpakaian, boleh menggunakan imamah, kemeja atau gamis. Boleh menggunakan ridhā (kain atasan dan bawahan) seperti saat berihram atau berbagai sandal, boleh semuanya dengan catatan syari'at tidak melarangnya.”

Ini catatan sangat penting, selama syari'at tidak melarangnya.

Kemudian beliau melanjutkan:

"Dan sandal yang digunakan pada setiap zaman berbeda-beda sifatnya, berbeda-beda bentuknya, berbeda-beda modelnya, tergantung dari adat dan keumuman orang-orang di zaman tersebut."

Kesimpulannya adalah:

Hukum asal pada cara berpakaian dan termasuk di dalam cara berpakaian adalah menggunakan sandal adalah boleh. Hukum asalnya boleh dengan catatan sampai ada dalīl yang mengharamkannya.

Dan penjelasan Syaikh di sini membuat kita paham bahwa kita boleh memakai sandal jepit,  boleh memakai sandal selop, boleh memakai sandal gunung, boleh memakai sandal-sandal lainnya. Semuanya boleh selama tidak dilarang oleh syari'at.

Dan (in syā Allāh) akan disebutkan hadīts-hadīts oleh Imam At Tirmidzī yang kurang lebih berjumlah 11 hadīts pada bab ini, yaitu tentang sifat sandal Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan beberapa hadīts yang berkaitan dengan adab-adab dalam menggunakan sandal.

In syā Allāh akan kita lanjutkan pada pertemuan berikutnya semoga pendahuluan ini membuat kita semakin paham bahwasanya hukum asal dalam berpakaian, dalam menggunakan fashion adalah halal (boleh) selama tidak ada larangan dari syari'at.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد
____________________

Sabtu, 29 Februari 2020

HADITS YANG BERKAITAN DENGAN KHUF (LANJUTAN)

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 02 Rajab 1441 H / 26 Februari 2020 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 53b | Hadits nomor 73 Dan 74 Yang Berkaitan Dengan Khuf (Lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-53b
〰〰〰〰〰〰〰

*HADITS YANG BERKAITAN DENGAN KHUF (LANJUTAN)*

بسم الله
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة. أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām rahimani wa rahīmakumullāh.

Kemudian hadīts ke-74, Imam At Tirmidzī membawakan hadīts dari Qutaibah bin Sa'id dari Yahya bin Zakariyyā bin Abī  Zāidah  dari Al Hasan bin 'Ayyāsy dari Abū Ishāq dari Asy Sya'biy dari Mughīrah bin Syu'bah (urutan sanadnya) walaupun lafazhnya tidak "dari-dari" semua, ada yang "menceritakan", yang "memberikan hadīts" dan selain-nya. Akan tetapi kita mengucapkan "dari-dari" agar mudah dipahami saja.

Mughīrah bin Syu'bah mengatakan:

أَهْدَى دِحْيَةُ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم خُفَّيْنِ، فَلَبِسَهُمَا

_"Dihyah pernah memberikan hadiah juga kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dua khuf kemudian Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) segera memakainya).”_

Kata Syaikh Abdurrazaq, ada faedah dalam hadīts-hadīts ini. Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam ketika diberikan hadiah, Beliau bersegera untuk memakainya. Dan ternyata ketika seorang yang diberi hadiah kemudian memakai hadiah tersebut, kemudian orang yang memberi melihat (hadiah tersebut digunakan), ada rasa senang, "Oh, pemberianku dipakai." atau, "Oh, dia suka dengan pemberianku."

Maka di sini ada sunnah untuk membahagiakan orang yang memberi hadiah dengan segera kita memakainya.

Siapakah Dihyah ini ?

Dihyah adalah nama salah seorang sahabat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Nama lengkap beliau adalah Dihyah bin Khalifah Al Kalbiy, beliau termasuk sahabat yang paling baik parasnya (beliau wajahnya paling menawan). Oleh karena itu malāikat Jibrīl pernah datang dalam bentuk manusia dengan wajah seperti Dihyah Al Kalbiy, ini karena parasnya yang tampan.

وَقَالَ إِسْرَائِيلُ: عَنْ جَابِرٍ، عَنْ عَامِرٍ، وَجُبَّةً فَلَبِسَهُمَا حَتَّى تَخَرَّقَا

_Isrāil berkata, dari Jābir dari 'Amir bin Syarahbil (riwayat yang lain), ternyata Dihyah menghadiahkan jubah, kemudian Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam memakai jubah tersebut sampai jubah tersebut rusak._

لا يَدْرِي النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم، أَذِكًى هُمَا أَمْ لا

_Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak tahu apakah Khuf yang diberikan tadi dari hewan yang disembelih atau bukan._

Namun tambahan lafazh ini didhaifkan oleh Syaikh Al Albāniy rahimahullāh ta'āla berkaitan dengan jubahnya. Apakah khuf tersebut dari hewan yang disembelih atau tidak, juga didhaifkan oleh Al Albāniy rahimahullāh.

Adapun isi dua hadīts yang lalu yang telah kita sebutkan, dishahīhkan oleh beliau.

Abū Isa adalah Imam At Tirmidzī. Sedangkan Abū Ishāq  di sini namanya Abū Ishāq Asy Syaibaniy, karena di sana ada Abū Ishāq  yang lainnya. Dan namanya Sulaimān.

Inilah hadīts-hadīts yang berkaitan atau yang menunjukkan bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam juga memiliki khuf.

Semoga pembahasan ini bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد

________

Yang Berkaitan Dengan Khuf

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 01 Rajab 1441 H / 25 Februari 2020 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 53a | Hadits nomor 73 Dan 74 Yang Berkaitan Dengan Khuf
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-53a
〰〰〰〰〰〰〰

*HADITS YANG BERKAITAN DENGAN KHUF*

بسم الله
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة. أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām rahimani wa rahīmakumullāh.

Alhamdulillāh kita sudah menginjak pada pertemuan ke-53, In syā Allāh kita akan membaca hadīts yang berkaitan dengan khuf Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Kita akan membaca hadīts ke-73 dan 74, hadīts ini berkaitan dengan khuf.

Khuf adalah seperti kaus kaki (kalau di negara kita) hanya saja bahannya bukan dari kain, tetapi dari kulit.

Khuf maupun kaos kaki atau yang semisalnya memiliki hukum tersendiri terkait dengan wudhu, yang mana seseorang boleh mengusap khuf atau yang semisalnya sebagai pengganti dari membasuh kaki ketika berwudhu.

Agar boleh mengusap khuf atau yang semisalnya yang kita qiyaskan dengan khuf, ada beberapa syarat, di antaranya:

⑴ Memakai khuf dalam keadaan suci.

Jadi seseorang sebelum memakai khuf dia harus berwudhu terlebih dahulu agar dia dalam keadaan suci.

Kalau dia memakai khuf tapi belum berwudhu maka dia tidak boleh mengusap khuf ketika batal wudhunya. Dia harus melepas khuf terlebih dahulu kemudian berwudhu dan menggunakan khuf lagi.

⑵ Khuf menutupi mata kaki.

Jadi khuf yang dibawah mata kaki (tidak tinggi) tidak boleh diusap tetapi harus dilepas.

⑶ Tidak boleh berlubang besar (bolong, misalnya)

⑷ Waktunya belum kadaluarsa.

Bagaimana ukuran kadaluarsanya? Ukuran kadaluarsanya adalah:

√ Untuk orang yang tidak bepergian jauh, waktu kadaluarsanya adalah 24 jam (1 hari 1 malam).

√ Untuk orang yang sedang safar (bepergian jauh) maka kadaluarsanya adalah 72 jam (3 hari 3 malam).

Kalau waktunya sudah melebihi, maka tidak boleh mengusap khuf dan harus dilepas kemudian dicuci kakinya.

⑸ Mengusap khuf ini hanya berlaku untuk hadats kecil (misalnya) seseorang batal wudhu yang disebabkan kencing, buang air besar atau tidur. Maka boleh mengusap khuf, tetapi jika seseorang junub (mimpi, misalnya) dan dia harus mandi maka tidak boleh hanya mengusap khuf. Khufnya harus dilepas untuk dibasuh semuanya.

Itu beberapa syaratnya.

Pada bab ini Imam At Tirmidzī mencoba menyebutkan bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam juga memiliki khuf. Mudahnya yang ingin disampaikan oleh Imam At Tirmidzī seperti itu.

Pada bab ini Imam At Tirmidzī membawakan hadīts dari Hanād bin Sariy dari Wakī' dari Dalham bin Shālih dari Hujair bin Abdillāh dari Ibnu Bura'idah dari ayahnya.

Jadi hadīts ini dari sahabat Bura'idah, beliau mengatakan: 

أَنَّ النَّجَاشِيَّ أَهْدَى لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، خُفَّيْنِ، أَسْوَدَيْنِ، سَاذَجَيْنِ، فَلَبِسَهُمَا ثُمَّ تَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَيْهِمَا.

_"Bahwasanya Najāsyi pernah menghadiahkan dua khuf yang berwarna hitam pekat kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ketika menerima hadiah tersebut langsung memakainya kemudian ketika Beliau berwudhu beliau hanya mengusap di atas Khuf tersebut.”_

Najāsyi, kita sering dengar nama ini dalam pelajaran-pelajaran sirah atau saat pelajaran fiqih tentang shalāt ghaib, karena Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah melakukan shalāt ghaib kepada Najāsyi ini ketika beliau meninggal.

Karena beliau ketika diajak oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk memeluk Islām beliau mengiyakan (menerimanya) dan menurut Syaikh Al Albāniy beliau masuk Islām pada tahun ke-6 Hijriyyah dan meninggal pada tahun 9 Hijriyah.

Yang perlu dicatat Najāsyi ini adalah gelar bagi raja negeri Habasyah atau Ethiopia, bukan nama orang.

Beliau (Najāsyi) pernah menghadiahkan kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dua Khuf yang berwarna hitam pekat.

Menunjukkan bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah memiliki khuf hadiah dari raja Najāsyi.

Semoga pembahasan ini bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد
________

Senin, 24 Februari 2020

Yang Berkaitan Dengan Kehidupan Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa Sallam

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 30 Jumada Al-Akhir 1441 H / 24 Februari 2020 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 52 | Hadits nomor 72 Yang Berkaitan Dengan Kehidupan Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa Sallam
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-52
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة. أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām rahimani wa rahīmakumullāh yang semoga selalu dirahmati Allāh Ta'āla, dimudahkan segala urusannya dan dilancarkan rezekinya.

Pada kesempatan kali ini pertemuan ke-52 ini, In syā Allāh kita akan membaca hadīts nomor 72 yang dibawakan oleh Imām At Tirmidzī rahimahullāhu ta'āla yang berkaitan dengan kehidupan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Pada hadīts ke-72 ini, Imām At Tirmidzī mengatakan; Memberikan hadīts kepadaku Qutaibah, beliau mengatakan memberikan hadīts kepadaku Ja'far bin Sulaimān Adh-Dhuba'iy dari Mālik bin Dinār.

Mālik bin Dinār mengatakan:

مَا شَبِعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ خُبْزٍ قَط, وَلَحم إِلاَّ عَلى ضفَفَ

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak pernah kenyang dari roti ataupun daging, kecuali ketika ada dhafaf.

قال مالك :سألت رجلا من أهل البادية: ما الضّفف؟ قال : أن يتناول مع الناس

Berkata Mālik: “Aku bertanya kepada orang yang bahasanya masih murni yaitu orang-orang pedalaman, apa itu dhafaf?”

Beliau berkata: “Dhafaf adalah makan bersama orang-orang”.

Ini adalah hadīts ke-72 yang mengabarkan bahwasanya Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam tidak pernah kenyang dari roti maupun daging kecuali ketika beliau makan bersama orang-orang.

Menurut Syaikh Al-Albāniy rahimahullāhu ta'āla maksud dari *“kecuali apabila beliau makan bersama orang-orang”* adalah apabila beliau makan bersama orang-orang yang datang bersinggah dan bertamu kepadanya.

Mudahnya ketika Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam makan bersama tamu baru beliau makan dengan kenyang.

Hadīts ini sebenarnya mursal.

Mursal adalah seorang seorang tabi’i, langsung meriwayatkan dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa salla.

Tabi’i adalah generasi setelah sahabat. Generasi yang bertemu dengan sahabat dan tidak bertemu dengan Nabi shallāllahu 'alayhi wa sallam .

Secara kesinambungan tabi’i tentu tidak bertemu dengan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Tetapi kenapa di sini Mālik bin Dinār seorang tabi’i mengatakan, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak pernah kenyang. Maka ini namanya hadīts mursal.

Apabila kita hanya melihat sanad ini saja tanpa melihat sanad-sanad yang lainnya, maka kita dapat mengkategorikan hadīts mursal di sini sebagai hadīts yang dhaif.

Hadīts kita ini menjadi hadīts yang dhaif, akan tetapi karena Imam At-Tirmidzī nanti akan membawakan hadīts yang sama dengan sanad yang bersambung maka matan atau isi hadīts ini menjadi shahīh hukumnya.

Kesimpulan akhirnya:

Matannya (isi hadītsnya) adalah shahīh sebagaimana hukum yang diberikan oleh Syaikh Al-Albāniy rahimahullāhu ta'āla dalam Mukhtashar Syamail nomor 109.

Pelajaran yang dapat kita petik dari hadīts ini adalah, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah seorang manusia yang mulia. Pemimpin kaum muslimin akan tetapi beliau tidak pernah makan roti maupun daging dengan kenyang, kecuali kalau sedang ada tamu, karena beliau harus menemani para tamu makan bersama.

Dan hal tersebut beliau lakukan tujuannya agar para tamu beliau nyaman makan banyak dan dalam rangka memuliakan tamu.

Apalagi dahulu belum ada warung di pinggir jalan, orang bepergian jauh susah menemukan warung di pinggir jalan, apalagi menemukan warung pecel lele atau warung padang. Sehingga seorang tamu pasti sangat memerlukan jamuan makan dan pasti mereka pun sangat lapar. Atas alasan inilah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam makan banyak, agar para tamu tidak canggung untuk makan banyak.

Inilah salah satu sifat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak pernah makan kenyang kecuali  saat makan bersama tamu.

Semoga pembahasan ini bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد

________

Kamis, 30 Januari 2020

Hadits Tentang Bagaimana Kehidupan Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa Sallam

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 04 Jumada Al-Akhir 1441 H / 29 Januari 2020 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 51 | Hadits Tentang Bagaimana Kehidupan Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa Sallam
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-51
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله
الْحَمْدُ لله، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رسول الله، وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القيامة، أَمَّا بَعْدُ:

Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati Allāh Ta'āla dan semoga selalu diluaskan rejekinya, dimudahkan segala urusannya.

Alhamdulillāh pada pertemuan ke-51 ini, In syā Allāh kita akan membaca hadīts nomor 71 yang ada di dalam Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyah karya Imām At Tirmidzī rahimahullāh.

Hadīts ini merupakan hadīts pertama dari dua hadīts yang akan dibawakan oleh Imam At-Tirmidzī dalam bab ke-9. Tentang "Bagaimana kehidupan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam”.

Imam At-Tirmidzī menamakan bab ini dengan mengatakan,

باب ما جاء في عيش رسول الله ﷺ

Bab tentang kehidupan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Menurut Syaikh Abdurrazaq, 'Aisy (عيش) disini diartikan seperti makanan dan semisalnya (apa yang dimakan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam).

Bab ini terdapat dua hadīts:

Hadīts Pertama | Hadīts dari Muhammad bin Sirīn (salah seorang tābi'in).

Beliau mengatakan:

كُنَّا عِنْدَ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه وَعَلَيْهِ ثَوْبَانِ مُمَشَّقَانِ مِنْ كَتَّان فَتَمَخَّطَ في أحدهما. فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: بَخْ بَخْ يَتَمَخَّطُ أَبُو هُرَيْرَةَ فِى الْكَتَّانِ. لَقَدْ رَأَيْتُنِي وَإِنِّى لأَخِرُّ فِيمَا بَيْنَ مِنْبَرِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وحُجْرَةِ عَائِشَةَ رضي الله عنها مَغْشِيًّا عَلَيَّّ، فَيَجِىءُ الْجَانِى فَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلَى عُنُقِى، يُرَى أَنّ بِي جْنُونٌا، وَمَا بِي جُنُونٍ، ومَا هو إِلاَّ الْجُوعُ.

"Dulu kita pernah berada di sisi Abū Hurairah, ketika itu beliau sedang memakai dua kain yang berwarna dari كَتَّان (linen, diartikan), lalu beliau mengusap air hidungnya dengan salah satu kain tersebut.

Lalu beliau mengatakan,'بَخْ بَخْ' (eh..eh..eh), "Abū Hurairah sekarang mengusap air hidungnya saja pakai kain كَتَّان".

Dan sungguh aku dulu pernah mengalami atau pernah tersungkur jatuh di antara mimbar dan kamar dari Āisyah radhiyallāhu 'anhā (pingsan). Lalu ada seseorang datang dan meletakkan kakinya dileherku. Dia menyangka aku sedang gila, padahal aku tidak gila (kata Abū Hurairah). Ketika itu aku tidak sakit akan tetapi aku lapar."

(Hadīts ini shahīh, dan Imam Al-Bukhāri meriwayatkan hadīts ini dengan nomor 7324 )

Pesan hadīts ini adalah:

Abū Hurairah sedang terheran-heran dengan keadaan dirinya sendiri, dimana dulu ia pernah kelaparan karena tidak ada sesuatu yang bisa dimakan sehingga dia pingsan. Dan sekarang untuk mengusap air hidung saja beliau menggunakan kain linen (sebuah kain yang cukup bagus).

Yang menggelitik dalam benak kita, Imam At-Tirmidzī mengatakan bahwa bab ini menjelaskan tentang kehidupan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Tetapi mengapa yang disebutkan adalah Abū Hurairah yang kelaparan?

Ini menjadi sesuatu yang menggelitik di benak kita. Bagaimana kita menjawab ini?

Jawabannya adalah:

Keadaan Abū Hurairah radhiyallāhu 'anhu yang  kelaparan sampai beliau pingsan. Menunjukkan bagaimana sempitnya kehidupan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Karena, seandainya kehidupan beliau lapang, (beliau memiliki makanan) tentu beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam akan memberikan makanan untuk Abū Hurairah. Dan tidak akan membiarkan Abū Hurairah sampai pingsan gara-gara kelaparan.

Seperti itulah hubungan dari hadīts ini dengan kehidupan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam secara tidak langsung.

Perlu kita ketahui bahwasanya Abū Hurairah adalah seorang muslim yang masuk Islām sekitar tahun ke-7 Hijriyyah dan hanya membersamai Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (kurang lebih) sekitar 4 tahun saja.

Ini menunjukkan kehidupan Nabi pada tahun-tahun itu, di tahun-tahun akhir keberadaan beliau di dunia, beliau tetap sederhana bahkan tidak memiliki sesuatu yang dapat diberikan untuk menghilangkan rasa lapar dari sahabatnya.

نسأل الله السلامة

Hendaknya kita di zaman ini banyak bersyukur, karena sepertinya jarang dari kita yang kehidupannya seperti apa yang dialami para sahabat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam di awal-awal keislāman mereķa.

Semoga pembahasan ini bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد
____________________

Kajian

IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH

🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah  Fī...

hits