Tampilkan postingan dengan label Kitab Shalat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitab Shalat. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Agustus 2019

MENGUBURKAN MAYYIT (BAGIAN 1)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 18 Dzulhijjah 1440 H / 19 Agustus 2019 M
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abū Syujā' | Kitāb Shalāt
🔊 Kajian 72 | Menguburkan Mayyit (Bagian 1)
〰〰〰〰〰〰〰

*MENGUBURKAN MAYYIT (BAGIAN 1)*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita memasuki halaqah yang ke-72 dan pembahasan kita kali ini adalah tentang "Menguburkan Mayyit" atau دفن الميت

Hukum menguburkan mayyit adalah fardhu kifayyah, artinya apabila telah dilakukan oleh sebagian orang maka gugur kewajiban bagi yang lain sebagaimana yang sudah disebutkan pada pertemuan sebelumnya.

Diantara dalilnya adalah:

⑴ Hadīts dari Abū Said Al Khudri radhiyallāhu Ta'āla 'anhu:

اذْهَبُوا فَادْفِنُوا صَاحِبَكُمْ

_"Pergilah kalian dan kuburkanlah teman kalian ini."_

(Hadīts Riwayat Imām Muslim nomor 2236)

⑵ Hadīts dari Jābir radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, beliau bersabda:

ادْفِنُوا الْقَتْلَى فِي مَصَارِعِهِمْ

_"Kuburkanlah orang-orang yang terbunuh pada peperangan (para syuhada) pada tempat mereka terbunuh."_

(Hadīts Riwayat Imām Abū Dāwūd, At Tirmidzi dan Imām An Nasā'i, lafazh ini milik An Nasā'i nomor 2005)

Di mana mereka dikuburkan?

Di sini secara umum, bahwa orang-orang yang meninggal dunia dari kalangan kaum Muslimin, maka lebih afdāl bila dikuburkan di tempat perkuburan (kuburan kaum Muslimin).

Dan ini merupakan kesepakatan para imām madzhab yang empat.

Dalīlnya adalah:

⑴ Hadīts (dari sunnah):

كان نبي صلى الله عليه وسلم يدفن الموتى بالبقيع

_"Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menguburkan orang-orang yang meninggal di Baqi'."_

Berkata Imām An Nawawī di dalam kitāb Al Majmu':

حديث الدفن بالبقيع صحيح متواتر

_"Hadīts tentang menguburkan orang yang meninggal di Baqi' adalah shahīh dan merupakan hadīts yang muttawatir (artinya tersebar dikalangan para shahābat radhiyallāhu Ta'āla 'anhum)."_

Kemudian di sana ada masalah, bolehkah seseorang menguburkan mayyit di rumahnya?

Disini para ulamā ada khilaf. Diantara mereka ada yang membolehkan dengan berdalīl kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bahwasanya beliau (shallallah 'alayhi wa sallam) dikuburkan di rumahnya.

Namun sebagian ulamā mengatakan perkara itu adalah makruh karena bisa mengantarkan seseorang  kepada kesyirikan.

Adapun yang terjadi pada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, merupakan kekhususan bagi beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam).

Dan ada hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta'āla 'anhu bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ

_"Dan jangan jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan."_

(Hadīts Riwayat Imām Muslim nomor 780)

Berdasarkan hadīts ini dapat diambil faedah bahwasannya tidak menguburkan mayyit di rumah seseorang.

Kita lihat di sini, tulisan dari Abū Syujā dalam Matannya, ada beberapa poin di dalam masalah menguburkan mayyit:

قال المؤلف رحمه الله: ((ويدفن في لحد))

_⑴ Berkata penulis rahimahullāh:_

_((Dan hendaknya menguburkan di dalam lahat.))_

Lahat lebih afdāl daripada shak, apabila tanahnya dalam keadaan kuat.

Lahat adalah menggali lubang di bawah kuburan dengan menyimpang dari kuburan tersebut seukuran dari mayyit (sekedar secukupnya untuk mayyit tersebut).

Ini adalah lebih afdāl apabila tanahnya cukup kuat, namun apabila tanahnya mudah runtuh maka yang lebih afdāl adalah dengan membuat ash shak.

Ash shak adalah mengali lubang di bawah kuburan tersebut secara tegak lurus.

Ini dilakukan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sebagaimana hadīts yang diriwayatkan oleh Sa'ad bin Abi Waqas radhiyallāhu Ta'āla 'anhu.

Bahwasanya beliau berkata pada saat sakit, beliau mengatakan:

الْحَدُوا لِي لَحْدًا وَانْصِبُوا عَلَىَّ اللَّبِنَ نَصْبًا كَمَا صُنِعَ بِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم

_"Apabila kalian membuat kuburan maka buatlah lahat, kemudian ditutup dengan bata sebagaimana itu dilakukan kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam."_

(Hadits Riwayat Muslim nomor 966)

قال المؤلف رحمه الله: ((مستقبل القبلة))

_⑵ Berkata penulis rahimahullāh:_

_((Menghadap kiblat.))_

Menghadap kiblat, hal ini adalah satu hal yang diwariskan turun-temurun dari kalangan salaf.

√ Mendudukan mayyit tersebut seperti seorang sedang shalāt.

Mayyit diletakan dibagian kanan atau bahu kanan menempel dengan tanah, kemudian wajahnya dihadapkan ke kiblat.

Ini adalah sunnah yang diwariskan secara turun temurun dari kalangan salaf.

قال المؤلف رحمه الله: ((ويسل من قبل رأسه برفق))

_⑶ Berkata penulis rahimahullāh:_

_((Kemudian memasukan mayyit tersebut dari bagian kepala terlebih dahulu dengan perlahan-lahan.))_

Hal ini sebagaimana diriwayatkan:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سل من قبل رأسه

_"Bahwasanya beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) dimasukan dari bagian kepalanya terlebih dahulu."_

Diriwayatkan oleh Imām Syāfi'i dengan sanad yang shahīh.

قال المؤلف رحمه الله: ((ويقول الذي يلحده: بسم الله وعلى ملة رسول الله صلى الله عليه وسلم))

_⑷ Berkata penulis rahimahullāh:_

_((Orang yang memasukan mayyit ke dalam lahat mengucapkan:_

_[Bismillāhi wa'alamillati Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam]_

_"Dengan nama Allāh dan di atas millah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam."))_

Berdasarkan hadīts:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا وَضَعَ الْمَيِّتَ فِي الْقَبْرِ قَالَ  " بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم "

_Bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam apabila meletakan mayyit di dalam kuburan, maka beliau mengatakan:_

_(Bismillāhi waalamillati Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam)_

_"Dengan nama Allāh dan diatas millah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam."_

(Hadīts Riwayat Ashabus Sunnan (para penulis kitāb sunnan) dan di shahīhkan oleh Ibnu Hibban akan tetapi Imām Ad Daruquthi mengatakan hadīts ini adalah hadīts yang mauquf).

قال المؤلف رحمه الله: ((ويضجع في القبر بعد أن يعمق قامة وبسطة))

_⑸ Berkata penulis rahimahullāh:_

_((Kemudian diletakan di dalam kuburannya setelah kuburan tersebut digali setinggi ukuran orang standard dengan mengangkat tangannya, [sekitar 175 atau 180 Cm]))_

Ini berdasarkan hadīts, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

احْفِرُوا وَأَعْمِقُوا وَأَوْسِعُوا

_"Galilah dan dalamkanlah serta luaskanlah."_

(Hadīts Riwayat Ashabussunnan dengan sanad yang shahīh)

قال المؤلف رحمه الله: ((ويسطح القبر))

_⑹ Berkata penulis rahimahullāh:_

_"Hendaknya meratakan kuburan tersebut."_

Berdasarkan hadīts dari Fadhallāh radhiyallāhu Ta'āla 'anhu:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُ بِتَسْوِيَتِهَا(القبر)

_"Saya mendengar Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, beliau memerintahkan untuk meratakannya (meratakan bagian atas kuburan)."_

(Hadīts Riwayat Imām Muslim nomor 968 dan Abu Dāwūd nomor 3219)

Akan tetapi tidak mengapa untuk meninggikannya sekedar sejengkal tangan.

Berdasarkan hadīts dari Jābir radhiyallāhu Ta'āla 'anhu:

أنه ألحد لرسول الله صلى الله عليه وسلم لحدا ، ونصب عليه اللبن نصبا ورفع قبره قدر شبر

_"Bahwasanya dibuatkan lahat untuk Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam kemudian diletakan batu bata kemudian diangkat atau ditinggikan kuburan beliau sekedar satu jengkal tangan."_

(Hadīts Riwayat Baihaqi dan Ibnu Hibban dan dishahīhkan oleh beliau)

Tidak mengapa untuk memberikan tanda berupa batu untuk menandakan bahwasanya ini adalah kuburan.

Namun tidak diperbolehkan untuk membuat nisan tertulis sebagaimana yang banyak terjadi di kalangan kaum Muslimin.

Hal ini berdasarkan hadīts Anas radhiyallāhu Ta'āla 'anhu:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ أَعْلَمَ قَبْرَ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ بِصَخْرَةٍ

_"Bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan tanda kuburan 'Utsman bin Mazh'un dengan batu."_

(Hadīts Riwayat Ibnu Mājah nomor 1561 dan Abu Dāwūd nomor 3206 dengan sanad yang hasan)

Demikian yang bisa disampaikan pada pertemuan ini, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
______________________

Rabu, 03 Juli 2019

IBADAH SHALĀT JENAZAH

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 29 Syawwal 1440 H / 03 Juli 2019 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A.
📗 Matan Abū Syujā' | Kitāb Shalāt
🔊 Kajian 71 | Ibadah Shalāt Jenazah
〰〰〰〰〰〰〰

*IBADAH SHALĀT JENAZAH*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kita masuki halaqah ke-71 dan membacakan atau mengikuti apa yang ditulis oleh penulis matan Abū Syujā tentang tatacara "Ibadah Shalāt Jenazah"

قال المؤلف رحمه الله:

_Berkata penulis rahimahullāh:_

((ويكبر عليه أربع تكبيرات: يقرأ الفاتحة بعد الأولى))

_((Kemudian bertakbir di dalam shalāt jenazah sebanyak empat takbir, kemudian membaca surat Al Fāthihah setelah takbir yang pertama.))_

Perlu diketahui sahabat sekalian, bahwasanya membaca surat Al Fāthihah adalah wajib di dalam shalāt jenazah. Dan ini menurut madzhab Syāfi'iyah dan Hanābilah.

Dalīlnya adalah berdasarkan hadīts Thalhah bin Abdillāh bin Auf radhiyallāhu Ta'āla 'anhum tatkala beliau berkata:

صَلَّيْتُ خَلْفَ ابْنِ عَبَّاسٍ عَلَى جَنَازَةٍ فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ فَقَالَ: لِيَعْلَمُوا أَنَّهَا سُنَّةٌ

_"Saya shalāt dibelakang Ibnu 'Abbās radhiyallāhu Ta'āla 'anhumma tatkala shalāt jenazah, maka beliaupun membaca surat Al Fāthihah dan beliau mengatakan agar mereka mengetahui bahwasanya surat Al Fāthihah adalah sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam."_

(Hadīts Riwayat Bukhāri No. 1335)

قال المؤلف رحمه الله:

_Berkata penulis rahimahullāh:_

((ويصلي على النبي صلى الله عليه وسلم بعد الثانية))

_((Kemudian shalawat atas Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (bershalawat atas Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam) setelah takbir yang kedua.))_

Dan membaca shalawat, sebagaimana kita membaca shalawat pada saat duduk tahiyat akhir di dalam shalāt kita.

قال المؤلف رحمه الله:

_Berkata penulis rahimahullāh:_

((ويدعوا للميت بعد الثالثة))

_((Kemudian mendo'akan mayit setelah takbir yang ketiga))._

Do'a kepada mayit ini termasuk rukun di dalam shalāt jenazah, berdasarkan madzhab Hanābilah dan Syāfi'iyah bahkan madzhab Jumhūr ulamā.

Dalīlnya hadīts dari Abū Hurairah manakala beliau mendengar Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى الْجَنَائِز فأخلصوا لَهَا الدُّعَاءَ

_"Apabila kalian menshalāti jenazah hendaklah kalian mendo'akan dengan ikhlās mayit tersebut."_

(Hadīts Riwayat Abū Dāwūd No. 3197, Ibnu Mājah No. 1497, Al Baihaqi No. 4/40, Ibnu Hibban No. 3077)

Penulis rahimahullāh memberikan contoh do'a yang disebutkan di dalam matan.

((“اللهم هذا عبدك وابن عبديك خرج من روح الدنيا وسعتها ومحبوبه وأحباؤه فيها إلى ظلمة القبر وما هو لاقيه كان يشهد أن لا إله إلا أنت وحدك لا شريك لك وأن محمدا عبدك ورسولك وأنت أعلم به منا اللهم إنه نزل بك وأنت خير منزول به وأصبح فقيرا إلى رحمتك وأنت غني عن عذابه وقد جئناك راغبين إليك شفعاء له. اللهم إن كان محسنا فزد في إحسانه وإن كان مسيئا فتجاوز عنه ولقه برحمتك رضاك وقه فتنة القبر وعذابه وافسح له في قبره وجاف الأرض عن جنبيه ولقه برحمتك رضاك وقه فتنة القبر وعذابه وأفسح له في قبره وجاف الأرض عن جنبيه ولقه برحمتك الأمن من عذابك حتى تبعثه آمنا إلى جنتك برحمتك يا أرحم الراحمين”.))

_((Yā Allāh, dia adalah hambamu dan anak dari hambamu._

_Dia telah keluar dari ruhnya dunia dan luasnya dunia dan juga telah meninggalkan orang yang dia cintai di dunia menuju kepada kegelapan (kuburan) dan apa yang akan dia temui di kuburan tersebut._

_Dia dulu bersyahadat bahwasanya tidak ada ilah kecuali Engkau dan tidak ada sekutu bagi Engkau, dan juga Muhammad adalah hamba-Mu dan rasūl-Mu, dan Engkau Maha Mengetahui tentang keadaannya daripada kami._

_Yā Allāh, dia telah kembali kepada-Mu dan Engkau adalah sebaik-baik tempat kembali dan dia sangat membutuhkan rahmat Mu dan Engkau tidak membutuhkan untuk mengadzab dia Yā Allāh._

_Dan kami datang dan berharap menjadi syafā'at bagi dia._

_Yā Allāh, apabila dia sebagai orang baik, maka tambahkanlah kebaikan kepada dirinya, dan apabila dia memiliki keburukan maka ampunilah keburukannya._

_Dan berikan dia rahmat-Mu dan ridhā-Mu Yā Allāh._

_Dan jagalah dia dari fitnah kubur (ujian kubur) dan adzabnya. Luaskanlah kuburnya Yā Allāh, dan lapangkanlah bumi yang menghimpitnya._

_Dan dengan rahmat-Mu, berikanlah keamanan dari adzab-Mu Yā Allāh, sampai dia masuk kedalam surga Mu._

_Semoga Engkau memberikan rahmat kepada dia, wahai Maha Pemberi Rahmat.))_

Ini adalah salah satu do'a yang dicontohkan oleh penulis sebagaimana sudah disebutkan pada halaqah sebelumnya, bahwasanya yang paling afdhāl adalah do'a yang warid dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Adapun apabila ada do'a yang lain maka tidak mengapa selama kita mendo'akan mayit tersebut.

قال المؤلف رحمه الله:

_Berkata penulis rahimahullāh:_

((ويقول في الرابعة: “اللهم لا تحرمنا أجره ولا تفتنا بعده واغفر لنا وله”. ويسلم بعد الرابعة.))

_((Setelah takbir yang keempat mengucapkan: Yā Allāh, janganlah Engkau jadikan kami terhalang dari pahalanya, dan jangan jadikan kami terfitnah setelahnya dan ampunilah kami dan juga ampunilah dia._

_Kemudian setelah itu salam.))_

Di sini para ulamā berselisih pendapat, tentang apakah do'a setelah takbir yang keempat itu masyru' atau tidak. Adapun do'a kepada mayit tempatnya adalah setelah takbir yang ketiga.

Adapun takbir yang keempat di sana ada perbedaan pendapat.

• Pendapat Pertama |

Bahwasanya disyariatkan atau disunnahkan berdo'a untuk mayit setelah takbir yang keempat atau sebelum salam.

Ini adalah pendapat Syāfi'iyyah, Mālikiyyah, dan dipilih oleh Syaikh Utsaimin dan juga Imām Asy Syaukani, Syaikh Albāniy dan lain-lain.

Dan ini sebagaimana disebutkan di dalam matan, diantara do'anya:

اللهم لا تحرمنا أجره ولا تفتنا بعده واغفر لنا وله

• Pendapat Kedua |

Bahwasanya tidak ada do'a setelah takbir yang keempat.

Ini adalah pendapat Hanābilah.

Jadi setelah takbir yang keempat kemudian diam sebentar kemudian salam.

Dan ini dipilih oleh Syaikh Bin Baz sebagaimana yang sudah disebutkan di dalam ringkasan shalāt sebelum itu.

Mengenal jumlah salam pada shalāt jenazah maka di sana ada dua pendapat dari para ulamā.

Apakah satu salam ataukah dua salam?

• Pendapat Pertama | Mengatakan bahwasanya sunnahnya dua salam.

Ini adalah pendapat Hanāfiyyah dan juga Syāfi'iyyah, berdasarkan dari Hadīts Ibnu Mas'ūd radhiyallāhu Ta'āla 'anhu yang disebutkan di situ bahwa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melakukan salam sebanyak dua kali salam.

Dan juga mereka mengatakan, ini adalah qiyas terhadap seluruh shalāt, bahwasanya shalāt jenazah disebut shalāt, maka dia sama dengan shalāt yang lain, dan shalāt yang lain disunnahkan dua kali salam.

• Pendapat Kedua | Bahwasanya salam cukup sekali salam.

Ini adalah pendapat Mālikiyyah dan juga sebagian para salaf dan pendapat ini dipilih oleh Syaikh Utsaimin dan juga Syaikh Bin Baz di dalam ikhtiar fiqih mereka (pilihan fiqih mereka).

Dalīlnya diantaranya:

⑴ Atsar dari Ibnu 'Abbās radhiyallāhu Ta'āla 'anhumma bahwasanya beliau tatkala melaksanakan shalāt jenazah, maka beliaupun salam satu kali salam yang ringan.

⑵ Dalīl aqli bahwa shalāt jenazah itu merupakan shalāt yang diringankan, sehingga tidak dilakukan seluruh kewajiban-kewajiban shalāt sebagaimana yang lain. Jadi tidak bisa diqisaskan.

Oleh karena itu, di dalam salampun diringankan menjadi satu kali salam.

Tentang hukum salam itu sendiri di sini adalah termasuk rukun di dalam shalāt jenazah.

Dalīlnya dari sunnah secara umum hadīts yang mengatakan:

وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

_"Dan sebagai penghalalnya (penutupnya) adalah taslim (salam)."_

(Hadīts Riwayat Tirmidzi No. 238, Ibnu Mājah No. 276)

Kemudian, hadīts Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā yang menyebutkan tentang shalāt Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

وكان يختم الصلاة بالتسليم

_"Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menutup shalāt dengan taslim (salam)."_

(Hadīts Riwayat Muslim No. 498)

Dan ini pendapat Jumhūr para ulamā dan juga pendapat Syāfi'iyyah, Hanābilah dan sebagian besar ulamā Fiqih lainnya.

Demikian yang bisa disampaikan pada pertemuan ini, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
______________________

MENGKAFANI JENAZAH

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 28 Syawwal 1440 H /  02 Juli 2019 M
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abū Syujā' | Kitāb Shalāt
🔊 Kajian 70 | Mengkafani Jenazah
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H070
〰〰〰〰〰〰〰

*MENGKAFANI JENAZAH*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kita masuki halaqah ke-70 dan masuk pada pembahasan tentang "Mengkafani Jenazah".

قال المؤلف رحمه الله

_Berkata penulis rahimahullāh:_

((ويكفن في ثلاثة أثواب بيض ليس فيها قميص ولا عمامة. والمرأة في خمسة أثواب بيص ))

((Dan mayat atau jenazah dikafani dengan 3 (tiga) helai kain putih dan tidak ada dalam kain tersebut pakaian atau imamah. Adapun perempuan maka dikafani dengan 5 (lima) helai kain putih.))

Para sahabat sekalian.

Hukum mengkafani mayit sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya, bahwasanya hukumnya adalah fardhu kifāyyah. Dimana, apabila sebagian kelompok sudah melakukannya maka gugur bagi sebagian yang lain.

Dalīlnya berdasarkan hadīts Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.  Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

اغسِلوه بماءٍ وسِدْرٍ، وكَفِّنوه في ثوبين

_"Mandikanlah dia dengan air dan sidr, dan kafankan dengan dua helai kain."_

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Dan juga ijma' para ulamā tentang hukum dari mengkafani mayit, bahwasanya dia adalah fardhu kifāyyah.

Ada beberapa poin yang akan kita bahas, yaitu:

▪ KADAR WAJIB KAFAN

Berapa jumlah minimal kain kafan?

Disini pendapat ulamā berbeda-beda dan disana ada dua pendapat.

① Minimal kain kafan yang wajib adalah yang menutupi aurat. Ini pendapat Syāfi'iyah dan Mālikiyyah dan dipilih oleh Ibnu Abdil Bar.

② Minimal kain kafan adalah satu helai kain yang menutupi seluruh badan, dan ini adalah pendapat Hanābilah, Imām Syaukani, Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin.

▪ YANG DISUNNAHKAN DALAM KAFAN

Yang disunnahkan dalam kafan ada beberapa masalah, diantaranya:

① Tentang jumlahnya.

▪ Laki-laki

Jumlah untuk laki-laki adalah 3 (tiga) helai kain, sebagaimana yang disebutkan dalam,  hadīts 'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anha:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:  كُفِّنَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ بِيضٍ سَحُولِيَّةٍ مِنْ كُرْسُفٍ, لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلَا عِمَامَةٌ. ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

_'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā berkata:_

_"Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dikafani dengan 3 (tiga) helai kain dari daerah Suhuliyyah Yaman yang berwarna putih yang terbuat dari katun dan tidak ada pakaian atau imamah di dalamnya,"_

(Muttafaqun alaih)

▪ Wanita

Jumlah untuk wanita disunnahkan menggunakan 5 (lima) helai kain dan ini adalah kesepakatan imam madzhab yang empat.

② Warna kafan

Warna kafan disunnahkan berwarna putih, berdasarkan kesepakatan Imam madzhab yang empat, dengan dalīl hadīts dari 'Āisyah yang sudah disebutkan sebelumnya.

③ Shalāt Jenazah

Shalāt jenazah memiliki pahala yang besar, dan shalāt ini juga memiliki aturan-aturan. Tatkala seseorang shalāt jenazah maka didahului dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dan tidak diperbolehkan di dalam shalāt ini untuk berbicara.

Disyariatkan atau disunnahkan untuk mengerjakan shalāt jenazah ini bersama Imām dan ma'mun dalam shaf tersendiri.

Dalīlnya adalah ijma' para ulamā dan dinukilkan ijma' oleh Ibnu Adbil Bar, Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Hajar.

Ada beberapa poin yang akan kita bahas:

▪ Niat

Wajibkah seseorang berniat atau dia tidak perlu niat di dalam shalāt jenazah?

Disebutkan oleh para ulamā bahwasanya tidak sah shalāt jenazah seseorang jika tidak berniat, dan ini sama hukumnya seperti ibadah shalāt yang lainnya. Ini berdasarkan kesepakatan Imām empat madzhab dan berdasarkan hadīts dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam secara umum, tatkala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ

_"Bahwasanya amal itu tergantung pada niat seseorang."_

▪ Takbir

Disebutkan bahwasanya tidak sah shalāt jenazah apabila kurang dari 4 (empat) takbir.

Dalīlnya adalah hadīts Jabir bin Abdillāh radhiyallāhu Ta'āla 'anhumma manakala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyalati Najasi secara ghaib. Dan disebutkan bahwa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melakukan takbir sebanyak empat kali.

Para sahabat sekalian, secara ringkas kita bacakan tentang matan dari penulis tentang tatacara shalāt jenazah secara ringkas, yaitu sebagai berikut:

⑴ Berniat.
⑵ Takbir yang pertama membaca ta'awwudz, beristiadzah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, membaca Al Fāthihah, dan membaca surat pendek atau sebagian ayat.

⑶ Takbir yang kedua membaca shalawat kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, sebagaimana membaca shalawat pada saat duduk tahiyat akhir di dalam shalāt.

⑷ Takbir yang ketiga membaca do'a untuk mayit. Yang afdāl adalah yang warid dari do'a Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (apabila seseorang hapal).

Salah satu do'a Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (misalnya):

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ،اللهم  أَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، اللهم أَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ (وَعَذَابِ النَّارِ)، اللهم افْسَحْ له فِى قبره، ونَوِّرْ له فيه، اللهم لا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ ولا تضلنا بعده 

_Yā Allāh, ampunilah dia (mayit), berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air, salju dan air es._

_Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran._

_Gantikanlah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka._

_Ya Allāh, lapangkanlah kuburnya, berilah cahaya untuknya._

_Yā Allāh, janganlah menghalangi pahalanya, dan janganlah menyesatkannya setelahnya._

Ini adalah salah satu do'a yang warid yang disebutkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Namun, apabila seorang berdo'a atau mendo'akan mayit dengan do'a selain itupun tidak mengapa.

⑸ Takbir yang ke empat.

Setelah mendo'akan mayit kemudian takbir yang keempat, kemudian berhenti sebentar kemudian salam satu kali kekanan dengan mengucapkan: assalamu'alaikum.

Maka dengan demikian dia telah melaksanakan shalāt jenazah.

In syā Allāh, kita akan lanjutkan matan dari penulis rahimahullāh pada halaqah berikutnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
----------------------------------

Selasa, 02 Juli 2019

MENGKAFANI JENAZAH

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 28 Syawwal 1440 H /  02 Juli 2019 M
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abū Syujā' | Kitāb Shalāt
🔊 Kajian 70 | Mengkafani Jenazah
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H070
〰〰〰〰〰〰〰

*MENGKAFANI JENAZAH*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kita masuki halaqah ke-70 dan masuk pada pembahasan tentang "Mengkafani Jenazah".

قال المؤلف رحمه الله

_Berkata penulis rahimahullāh:_

((ويكفن في ثلاثة أثواب بيض ليس فيها قميص ولا عمامة. والمرأة في خمسة أثواب بيص ))

((Dan mayat atau jenazah dikafani dengan 3 (tiga) helai kain putih dan tidak ada dalam kain tersebut pakaian atau imamah. Adapun perempuan maka dikafani dengan 5 (lima) helai kain putih.))

Para sahabat sekalian.

Hukum mengkafani mayit sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya, bahwasanya hukumnya adalah fardhu kifāyyah. Dimana, apabila sebagian kelompok sudah melakukannya maka gugur bagi sebagian yang lain.

Dalīlnya berdasarkan hadīts Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.  Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

اغسِلوه بماءٍ وسِدْرٍ، وكَفِّنوه في ثوبين

_"Mandikanlah dia dengan air dan sidr, dan kafankan dengan dua helai kain."_

(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)

Dan juga ijma' para ulamā tentang hukum dari mengkafani mayit, bahwasanya dia adalah fardhu kifāyyah.

Ada beberapa poin yang akan kita bahas, yaitu:

▪ KADAR WAJIB KAFAN

Berapa jumlah minimal kain kafan?

Disini pendapat ulamā berbeda-beda dan disana ada dua pendapat.

① Minimal kain kafan yang wajib adalah yang menutupi aurat. Ini pendapat Syāfi'iyah dan Mālikiyyah dan dipilih oleh Ibnu Abdil Bar.

② Minimal kain kafan adalah satu helai kain yang menutupi seluruh badan, dan ini adalah pendapat Hanābilah, Imām Syaukani, Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin.

▪ YANG DISUNNAHKAN DALAM KAFAN

Yang disunnahkan dalam kafan ada beberapa masalah, diantaranya:

① Tentang jumlahnya.

▪ Laki-laki

Jumlah untuk laki-laki adalah 3 (tiga) helai kain, sebagaimana yang disebutkan dalam,  hadīts 'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anha:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:  كُفِّنَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ بِيضٍ سَحُولِيَّةٍ مِنْ كُرْسُفٍ, لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلَا عِمَامَةٌ. ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

_'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā berkata:_

_"Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dikafani dengan 3 (tiga) helai kain dari daerah Suhuliyyah Yaman yang berwarna putih yang terbuat dari katun dan tidak ada pakaian atau imamah di dalamnya,"_

(Muttafaqun alaih)

▪ Wanita

Jumlah untuk wanita disunnahkan menggunakan 5 (lima) helai kain dan ini adalah kesepakatan imam madzhab yang empat.

② Warna kafan

Warna kafan disunnahkan berwarna putih, berdasarkan kesepakatan Imam madzhab yang empat, dengan dalīl hadīts dari 'Āisyah yang sudah disebutkan sebelumnya.

③ Shalāt Jenazah

Shalāt jenazah memiliki pahala yang besar, dan shalāt ini juga memiliki aturan-aturan. Tatkala seseorang shalāt jenazah maka didahului dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dan tidak diperbolehkan di dalam shalāt ini untuk berbicara.

Disyariatkan atau disunnahkan untuk mengerjakan shalāt jenazah ini bersama Imām dan ma'mun dalam shaf tersendiri.

Dalīlnya adalah ijma' para ulamā dan dinukilkan ijma' oleh Ibnu Adbil Bar, Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Hajar.

Ada beberapa poin yang akan kita bahas:

▪ Niat

Wajibkah seseorang berniat atau dia tidak perlu niat di dalam shalāt jenazah?

Disebutkan oleh para ulamā bahwasanya tidak sah shalāt jenazah seseorang jika tidak berniat, dan ini sama hukumnya seperti ibadah shalāt yang lainnya. Ini berdasarkan kesepakatan Imām empat madzhab dan berdasarkan hadīts dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam secara umum, tatkala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ

_"Bahwasanya amal itu tergantung pada niat seseorang."_

▪ Takbir

Disebutkan bahwasanya tidak sah shalāt jenazah apabila kurang dari 4 (empat) takbir.

Dalīlnya adalah hadīts Jabir bin Abdillāh radhiyallāhu Ta'āla 'anhumma manakala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyalati Najasi secara ghaib. Dan disebutkan bahwa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melakukan takbir sebanyak empat kali.

Para sahabat sekalian, secara ringkas kita bacakan tentang matan dari penulis tentang tatacara shalāt jenazah secara ringkas, yaitu sebagai berikut:

⑴ Berniat.
⑵ Takbir yang pertama membaca ta'awwudz, beristiadzah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, membaca Al Fāthihah, dan membaca surat pendek atau sebagian ayat.

⑶ Takbir yang kedua membaca shalawat kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, sebagaimana membaca shalawat pada saat duduk tahiyat akhir di dalam shalāt.

⑷ Takbir yang ketiga membaca do'a untuk mayit. Yang afdāl adalah yang warid dari do'a Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (apabila seseorang hapal).

Salah satu do'a Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (misalnya):

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ،اللهم  أَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، اللهم أَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ (وَعَذَابِ النَّارِ)، اللهم افْسَحْ له فِى قبره، ونَوِّرْ له فيه، اللهم لا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ ولا تضلنا بعده 

_Yā Allāh, ampunilah dia (mayit), berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air, salju dan air es._

_Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran._

_Gantikanlah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka._

_Ya Allāh, lapangkanlah kuburnya, berilah cahaya untuknya._

_Yā Allāh, janganlah menghalangi pahalanya, dan janganlah menyesatkannya setelahnya._

Ini adalah salah satu do'a yang warid yang disebutkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Namun, apabila seorang berdo'a atau mendo'akan mayit dengan do'a selain itupun tidak mengapa.

⑸ Takbir yang ke empat.

Setelah mendo'akan mayit kemudian takbir yang keempat, kemudian berhenti sebentar kemudian salam satu kali kekanan dengan mengucapkan: assalamu'alaikum.

Maka dengan demikian dia telah melaksanakan shalāt jenazah.

In syā Allāh, kita akan lanjutkan matan dari penulis rahimahullāh pada halaqah berikutnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
----------------------------------

Senin, 01 Juli 2019

MEMANDIKAN JENAZAH

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 27 Syawwal 1440 H / 01 Juli 2019 M
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abū Syujā' | Kitāb Shalāt
🔊 Kajian 69 | Memandikan Jenazah
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H069
〰〰〰〰〰〰〰

*MEMANDIKAN  JENAZAH*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para sahabat Bimbingan Islām yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kita masuki halaqah ke-69 dan masuk pada pembahasan tentang "Memandikan Jenazah".

قال المؤلف رحمه الله:

_Berkata penulis rahimahullāh:_

((ويغسل الميت وترا ويكون في أول غسله سدر وفي آخره شيء من كافور))

_((Bahwasanya jenazah itu dimandikan secara ganjil dan pada awal pemandiannya dicampur dengan daun sidr dan pada akhir pemandiannya dicampur dengan sedikit dari air kapur.))_

Adapun terkait dengan masalah hukum memandikan mayit sebagaimana yang sudah disebutkan diawal, bahwasanya hukumnya adalah fardhu kifāyah sebagaimana kesepakatan imām madzhab yang empat.

Berdasarkan hadīts dari Ibnu 'Abbās radhiyallāhu Ta'āla 'anhumma:

بينما رجل واقف بعرفة، إذ وقع عن راحلته فوقصته، أو قال: فأقعصته، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: اغسلوه بماء وسدر، وكفنوه في ثوبين

_(Ibnu 'Abbās radhiyallāhu Ta'āla 'anhumma,  menceritakan) bahwasanya ada seorang laki-laki yang dia wukuf di Arafah kemudian terjatuh dari tunggangannya kemudian meninggal dunia. Maka Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:_

_"Mandikanlah dia dengan air yang dicampur sidr lalu kafanilah dengan dua potong kain."_

(Hadīts Riwayat, Bukhāri No. 1265 dan Muslim No. 1206)

Para sahabat sekalian.

Ada beberapa yang ingin kita singgung secara ringkas tentang masalah memandikan mayit, diantaranya:

1. Siapakah orang yang paling utama untuk memandikan jenazah?

==>Jenazah Laki-laki

Apabila jenazah tersebut laki-laki maka orang yang paling utama adalah orang yang diwasiatkan untuk memandikan, dia adalah orang yang paling utama.

⑴ Orang yang diwasiatkan
⑵ Bapaknya
⑶ Kakeknya
⑷ Anak laki-lakinya
⑸ Kerabat laki-laki yang terdekat dengan mayit.

==>Jenazah Perempuan

Apabila mayit perempuan maka para ulamā berselisih pendapat siapa orang yang paling utama untuk memandikan jenazah tersebut.

Pendapat yang pertama |

Bahwasanya yang paling utama memandikan jenazah wanita adalah para wanita, kemudian setelah itu adalah suaminya. Ini merupakan pendapat syāfi'iyyah.

Pendapat yang kedua |

Bahwasanya yang paling utama adalah suaminya, kemudian para wanita selainnya. Ini merupakan pendapat mālikiyyah

Para shahābat sekalian.

2. Tatacara di dalam memandikan jenazah

Kita akan jelaskan secara ringkas beberapa poin:

⑴ Melepaskan semua pakaian mayit (menelanjangi mayit).

Ini hukumnya sunnah, berdasarkan pendapat jumhūr para ulamā, dari kalangan Hanafiyyah, Mālikiyyah dan Hanābilah.

Dan berdalīl dari sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

⑵ Menutup aurat mayit.

Menutup aurat mayit hukumnya wajib, tatkala seseorang ingin memandikan mayit maka harus tertutup dan tidak boleh seorang yang memandikan mayit untuk melihat aurat dari jenazah tersebut.

Berdalīl dari sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan juga dari ijma'.

⑶ Mengurut perut mayit.

Tatkala mulai untuk memandikannya maka yang pertama adalah:

· Mengurut perut mayit secara lembut.
· Dibersihkan lubang tempat keluarnya kotoran agar kotoran-kotoran tersebut hilang atau kita bersihkan. Ini berdasarkan kesepakatan para Imām madzhab yang empat.

⑷ Niat di dalam memandikan mayit.

Apakah harus seseorang memandikan mayit dengan niat secara khusus?

Seseorang *tidak wajib* berniat untuk memandikan mayit. Ini pendapat Jumhūr dari kalangan Hanafiyyah, Mālikiyyah dan Syāfi'iyyah.

Karena tujuan dari memandikan adalah membersihkan, maka dia tidak diperlukan niat secara khusus.

⑸ Membersihkan gigi dan lubang hidung mayit.

Ini merupakan perkara yang disunnahkan, dan termasuk diantara kebersihan. Ini berdasarkan kesepakatan para Imām madzhab yang empat berdalīl dari sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bertujuan untuk kebersihan.

⑹ Wudhū bagi mayit.

Mewudhūkan mayit merupakan perkara yang disunnahkan dan dilakukan pada awal pemandian, yaitu tatkala awal si mayit diwudhūkan terlebih dahulu sebelum kemudian dimandikan.

Berdalīl dari sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

(7) Memandikan mayit dengan air yang dicampur dengan daun sidr.

Sudah disebutkan hadītsnya diatas, dan juga disebutkan oleh penulis matannya.

Mencampur air dengan daun sidr adalah perkara yang disunnahkan di dalam memandikan jenazah, berdasarkan kesepakatan dari para ulamā madzhab yang empat.

Mereka berdalīl dari sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dari hadīts Ibnu 'Abbās yang sudah disebutkan di awal pertemuan.

⑻ Memandikan mayit secara keseluruhan dan mendahulukan bagian kanan.

Ada dua poin:

① Memandikan mayit secara keseluruhannya, ini hukumnya wajib, berdasarkan kesepakatan para ulamā madzhab yang empat, berdalīlkan kepada hadīts Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

② Memulai dari bagian kanan, ini adalah perkara yang disunnahkan. Perkara yang disunnahkan untuk memulai memandikan mayit (membersihkan jasadnya) dari bagian kanan berdasarkan dalīl-dalīl dari sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

⑼ Mencampurkan air dengan kapur dalam pemandian yang terakhir.

Ini merupakan perkara yang disunnahkan sebagaimana yang disebutkan di dalam hadīts yang telah lalu dan ini juga berdasarkan kesempatan Imām madzhab yang empat diantaranya adalah Imām Syāfi'i rahimahullāh, dan berdasarkan sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

⑽ Mengganjilkan di dalam memandikan mayit.

Ini merupakan perkara yang mustahab berdasarkan kesepakatan Imām madzhab yang empat, dengan berdalīlkan hadīts-hadīts diantaranya hadīts ummu 'Athiyyah Al Anshāriyyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā yang sedang memandikan jenazah putrinya (Zainab).

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:

اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ بِمَاءٍ

_"Mandikanlah ia tiga kali, lima kali atau lebih dengan air yang dicampur daun sidr (bidara)."_

Dalam riwayat yang lain:

إغسلنها وترا و فيه, ثلاثا أو خمسا أو سبعا و فيه

_"Mandikanlah dengan bilangan ganjil, tiga kali, lima kali atau tujuh kali."_

⑾ Memotong kuku mayit dan mengunting kumisnya.

Disini para ulamā berselisih pendapat, ada pendapat yang mengatakan bahwa ini makruh hukumnya dan pendapat lain mengatakan bahwasanya hukumnya adalah mustahab.

Diantaranya mereka berdalīl:

⇒ Bagi mereka yang mengatakan makruh, kebersihan tidak terkait dengan perkara-perkara ini.
⇒ Bagi mereka yang mengatakan mustahab, kebersihan  berkaitan dengan perkara-perkara ini.

⑿ Mencukur bulu kemaluan mayit.

Ini adalah perkara yang diharāmkan dan ini merupakan pendapat dari madzhab Hanābilah.

Kenapa?

Karena disana ada sentuhan kepada aurat dan melihat aurat jenazah.

⒀ Mengeringkan air ditubuh mayit.

Hukum mengeringkan air ditubuh jenazah dengan handuk (misalnya), hukumnya adalah mustahab (disunnahkan). Ini berdasarkan kesepakatan para Imām yang empat.

⒁ Tayammum.

Tayammum manakala tidak ada air dan disunnahkan untuk bertayammum atau menayamumkan jenazah. Ini berdasarkan kesepakatan para Imām madzhab dan tayammum tersebut sebagai penganti air di dalam memandikan jenazah.

Demikian yang bisa kami sampaikan, di dalam halaqah kali ini, in syā Allāh kita akan lanjutkan pada halaqah berikutnya tentang masalah mengkafani jenazah.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
______________________

Senin, 11 Maret 2019

FIQH SHALĀT ISTISQA'

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 29 Jumādā atsTsānī 1440 H / 06 Maret 2019 M
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abū Syujā' | Kitāb Shalāt
🔊 Kajian 65 | Fiqh Shalāt Istisqa'
〰〰〰〰〰〰〰

FIQH SHALĀT ISTISQA'

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله  وبعة

Para shahābat Bimbingan Islām yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla, sekarang kita memasuki halaqah yang  ke-65 dan  masuk pada fasal berikutnya yaitu tentang shalāt Istisqa'

قال المؤلف رحمه الله

_Berkata penulis rahimahullāh:_

صلاة الاستسقاء: وصلاة الاستسقاء مسنونة

_Dan shalāt Istisqa' hukumnya adalah sunnah._

▪ Pengertian Shalāt Istisqa'

Shalāt Istisqa' adalah shalāt sunnah dengan cara khusus untuk meminta hujan kepada Allāh Ta'āla manakala terjadi kemarau dan kekeringan.

Dalīlnya adalah:

عَنْ  عَبَّادَ بْنَ تَمِيمٍ، عَنْ عَمِّهِ، قَالَ خَرَجَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِلَى الْمُصَلَّى يَسْتَسْقِي، وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، وَقَلَبَ رِدَاءَهُ. قَالَ سُفْيَانُ فَأَخْبَرَنِي الْمَسْعُودِيُّ عَنْ أَبِي بَكْرٍ قَالَ جَعَلَ الْيَمِينَ عَلَى الشِّمَالِ. (رواه البخاري ومسلم) 

_Dari  Ubbād bin Tamīm radhiyallāhu 'anhu dari pamannya, beliau berkata bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam keluar menuju lapangan (tempat shalāt) untuk melaksanakan shalāt Istisqa', lalu beliau menghadap kiblat kemudian shalāt 2 (dua) raka'at, kemudian membalikkan selendangnya, menjadikan selendang bagian kanan menjadi bagian kiri._

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri 1027 dan Muslim 894)

▪ Tempat dan Waktu Shalāt Istisqa'

⇒ Tempat Shalāt Istisqa'

Tempat shalāt Istisqa' adalah seperti tempat  shalāt 'Ied, boleh dilakukan di masjid namun lebih afdhal apabila dilakukan di lapangan terbuka.

⇒ Waktu Shalāt Istisqa'

Waktu shalāt Istisqa' diperbolehkan  diseluruh waktu (kecuali) waktu yang terlarang.

قال المؤلف رحمه الله
فيأمرهم الإمام بالتوبة والصدقة والخروج من المظالم ومصالحة الأعداء وصيام ثلاثة أيام

_Berkata penulis rahimahullāh:_

_Maka hendaknya seorang Imām memerintahkan mereka (jama'ahnya) untuk bertaubat, bersedekah dan melepaskan diri dari kezhaliman, menghilangkan permusuhan dan puasa selama tiga hari._

Ini adalah perkara yang disunnahkan bagi seorang Imām (yaitu) untuk mengagungkan Allāh Subhānahu wa Ta'āla dihati para hamba-Nya dan juga agar mereka takut akan adzab Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan menyuruh mereka untuk melaksanakan berbagai macam bentuk kebaikan.

Karena tidaklah datang sebuah musibah melainkan disebabkan karena perbuatan maksiat yang dilakukan oleh seorang hamba sehingga mengundang murka Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

قال المؤلف رحمه الله:
ثم يخرج بهم في اليوم الرابع في ثياب بذلة واستكانة وتضرع

_Berkata penulis rahimahullāh:_

_Kemudian pada hari keempat, seorang Imām keluar dengan jama'ahnya dengan pakaian yang sederhana, pakaian miskin dan juga dengan merendahkan diri._

Hal ini untuk menunjukkan rasa butuh kepada Allāh, dan berharap akan kasih sayangNya dan menunjukkan kefaqiran di  hadapan Allāh.

▪ Tata Cara Shalāt Istisqa'

قال المؤلف رحمه الله
ويصلي بهم ركعتين كصلاة العيدين ثم يخطب بعدهما ويحول رداءه ويكثر من الدعاء والاستغفار ويدعو بدعاء رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو:

_Berkata penulis rahimahullāh:_

_Imām shalāt bersama jama'ahnya 2 (dua) raka'at, seperti shalāt 'Iedul Fitri dan 'Iedul Adha,_

Kemudian,

_√ Imām berkhutbah setelahnya (selesai shalāt)_
_√ Imām setelah itu membalikkan selendangnya_
_√ Memperbanyak doa dan istighfar,_
_√ Dan berdoa dengan do'a Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam_

Diantara do'a Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, adalah:

اللَّهُمَّ اجْعَلَهَا سُقْيَا رَحْمَةٍ وَلَا تَجْعَلَهَا سُقْيَا عَذَابٍ وَلَا مَحَقٍ وَلَا بَلَاءٍ وَلَا هَدَمٍ وَلَا غَرَقٍ

_"Yā Allāh, Jadikanlah hujan tersebut hujan rahmat yaitu hujan yang penuh dengan kasih sayang dan jangan jadikan hujan adzab, ataupun kehancuran, bencana, kebinasaan, ataupun hujan yang menenggelamkan."_

اللَّهُمَّ عَلَى الظِّرَابِ وَالأَكَامِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ وَبُطُوْنِ الأَوْدِيْةِ

_"Yā Allāh, curahkanlah hujan diatas gunung-gunung kecil dan diatas perbukitan, tempat tumbuhnya tanaman, dan diatas lembah."_

اللَّهُمَّ حَوَالَيَنَا وَلَا عَلَيْنَا

_"Yā Allāh, curahkanlah hujan disekitar kami, dan jangan curahkan diatas kami."_

اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا هَنِيْئًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا سَحًّا عَامًّا غَدَقًا طَبَقًا مُجَلَّلًا دَائِمًا إِلَى يَوْمِ الدِّيْن

_"Yā Allāh, curahkanlah hujan yang menghidupkan, yang menggembirakan, yang menumbuhkan, yang menyeluruh, hujan yang lebat, menyuburkan bumi sampai akhir kiamat."_

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الغَيْثَ ولا تَجْعَلْنَا مِنْ القَانِطِيْنَ

_"Yā Allāh, curahkanlah hujan dan janganlah jadikan kami sebagai orang yang putus asa."_

اللَّهُمَّ إِنَّ بِالعِبَادِ وَالبِلَادِ مِنَ الجَهْدِ والجُوْعِ والضَّنْك مَالَا نَشْكُوْ إِلَّا إِلَيْكَ اللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ وأَدِرَ لَنَا الضَّرْعَ وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الأَرْضِ واكْشِفْ عَنَّا مِنَ البَلَاءِ مَا لَا يَكْشِفْهُ أَحَدَ غَيْرُكَ

_"Yā Allāh, sesungguhnya hamba–hamba dan negeri-negeri mengalami kekeringan dan kelaparan serta kesulitan, yang mereka mengadu hanya kepada engkau,  Yā Allah. Yā Allāh tumbuhkanlah tanaman, penuhilah susu-susu binatang ternak, turunkanlah kepada kami keberkahan dari langit, dan tumbuhkan keberkahan dari bumi, dan hilangkanlah bencana, tidak ada yang biasa menghilangkannya melainkan engkau, Yā Allāh."_

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُوْكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَارَا فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا

_"Yā Allāh, kami mohon ampun kepadaMu, sesungguhnya engkau maha pengampun, maka turunkanlah hujan dari langit."_

ويغتسل في الوادي إذا سال ويسبح للرعد والبرق

_Kemudian mandi dari lembah apabila mengalir air dan bertasbih apabila mendengar suara halilintar dan melihat petir._

Demikian yang bisa disampaikan.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا

______________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________

Selasa, 05 Maret 2019

SHALĀT KUSŪF DAN KHUSŪF

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 28 Jumādā Ats-Tsānī 1440 H / 05 Maret 2019 M
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abū Syujā' | Kitāb Shalāt
🔊 Kajian 64 | Fiqh Shalāt Kusūf Dan Khusūf
〰〰〰〰〰〰〰

SHALĀT KUSŪF DAN KHUSŪF

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله  وبعة

Para shahābat Bimbingan Islām yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla, sekarang kita memasuki halaqah yang ke-64 dan kita masuk pada pembahasan tentang shalāt Kusūf dan Khusūf.

▪ Shalāt kusūf adalah shalāt gerhana matahari.
▪ Shalāt Khusūf adalah shalāt gerhana bulan.

قال المؤلف رحمه الله

_Berkata penulis rahimahullāh:_

وصلاة الكسوف سنة مؤكدة فإن فاتت لم تقض
ويصلي لكسوف الشمس وخسوف القمر ركعتين في كل ركعة قيامان يطيل القراءة فيهما وركوعان يطيل التسبيح فيهما دون السجود ويخطب بعدها خطبتين ويسر في كسوف الشمس ويجهر في خسوف القمر.

_Dan shalāt kusūf adalah sunnah muakkadah, maka apabila tertinggal tidak perlu mengqadha' atau menggantinya. Dan jumlah raka'at shalāt gerhana matahari (kusūf) dan gerhana bulan (khusūf) adalah 2 (dua) raka'at._

_⇒ Disetiap raka'at ada:_

_- 2 (dua)  kali berdiri yang panjang bacaannya._
_-2 (dan)  dua kali ruku' yang panjang dengan bacaan tasbih (selain sujud)._

_⇒ Kemudian setelah selesai shalāt, dilaksanakan khutbah dengan 2 (dua)  kali khutbah._

_√  Pada shalāt gerhana matahari dibaca dengan sirr (suara perlahan)_
_√  Pada shalāt gerhana bulan dibaca dengan jahr (suara keras)._

Shahābat Bimbingan Islām yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Diantara shalāt yang disunnahkan adalah shalāt gerhana matahari yang disebut shalāt kusūf dengan huruf ك (kaf)  dan shalāt gerhana bulan atau shalāt khusūf dengan huruf خ (kha).

Hikmah disyariatkan shalāt kusūf dan khusūf, bahwasanya gerhana matahari maupun gerhana bulan adalah salah satu tanda kekuasaan Allāh untuk menakuti hamba-hamba-Nya agar mereka bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dan ketahuilah Allāh mampu untuk melakukan segala sesuatu yang Allāh kehendaki.

Oleh karena itu apabila seorang muslim manakala dia merasa takut kepada Allāh dan merasakan keagungan Allāh Subhānahu wa Ta'āla, maka semestinya dia untuk tunduk bersimpuh dihadapan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ جل وعلا يُخَوِّفُ بِهِمَا عِبَادَهُ، فَإِذَا كُسِفَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ (رواه أبو داود)

_"Sesungguhnya tidaklah terjadi gerhana matahari atau bulan di karenakan kematian seseorang atau pun karena kelahiran orang tertentu, akan tetapi keduanya adalah salah satu tanda diantara tanda-tanda kekuasaan Allāh Jalla Wa 'Ala untuk menakuti hamba-hamba Nya, maka apabila telah kembali bersinar, apabila terjadi gerhana, sinarnya hilang maka  bersegeralah untuk melaksankan shalāt."_

(Hadīts shahīh riwayat Abū Dāwūd)

Demikian pula hadīts yang senada diriwayatkan Imām Bukhāri dan Muslim.

▪Hukum Shalāt Kusūf Dan Khusūf

Hukumnya adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan, sebagaimana disebutkan oleh penulis  bahwa ini adalah pendapat dari madzhab Syāfi'i dan seluruh fuqaha.

▪ Waktu Shalāt Gerhana

Waktu shalāt gerhana adalah sejak mulai  gerhana sampai berakhirnya gerhana tersebut.

√ Shalāt tetap disempurnakan sampai selesai, walaupun seandainya gerhana telah selesai dan shalāt belum berakhir.

√ Seandainya shalāt telah selesai dan gerhana belum selesai maka tidak perlu mengulang kembali shalātnya.

Namun kaum muslimin dianjurkan untuk melanjutkan dengan berdzikir dan berdo'a dan beristighfār sampai gerhana tersebut selesai.

▪ Tata Cara Shalāt Kusūf dan Khusūf

Tata cara shalāt gerhana agak sedikit berbeda, karena disetiap raka'at ada 2 (dua) kali berdiri dengan membaca Al Fātihah dan surat dan ada 2 (dua) kali ruku'.

Adapun sujud maka sama dengan shalāt lainnya.

Secara ringkas tata cara shalātnya sebagai berikut :

→ Setelah takbiratul ihram membaca Al Fātihah dan surat yang panjang.
→ Ruku' (membaca tasbih dengan bacaan yang panjang).
→ Bangkit dari ruku' dan membaca rabbana wa lakal hamd.
→ Berdiri kembali dengan membaca Al Fātihah dan tambahan surat dari Al Qurān.
→ Kemudian ruku' lagi yang kedua dengan bacaan yang panjang.
→ Kemudian bangkit dari kedua ruku' (i'tidal).
→ Kemudian sujud.
→ Kemudian duduk diantara dua sujud.
→ Kemudian sujud kembali.
→ Kemudian  bangkit dari sujud untuk raka'at yang kedua.

⇒ Dan pada raka'at yang kedua dilakukan hal yang sama.

⇒ Pada raka'at kedua panjang bacaan tidak sepanjang seperti dalam raka'at pertama, begitu juga pada saat ruku' di raka'at kedua panjangnya tidak seperti di raka'at pertama.

→ Kemudian tasyahud lalu salam.

Hal ini berdasarkan hadīts dari 'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā, dimana beliau menjelaskan: 

عنْ عَائِشَةَ –رضي الله عنها- أَنَّهَا قَالَتْ: «خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ فَصَلَّى رَسُولُ اللهِ بِالنَّاسِ، فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ، ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ، ثُمَّ قَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ وَهُوَ دُونَ الرُّكُوع الأَوَّلِ، ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ، ثُمَّ فَعَلَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ مَا فَعَلَ فِي الْأولَى، ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدِ انْجَلَتِ الشَّمْسُ، فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ الله وَأَثْنَى عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: إنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا الله وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا» (رواه البخاري).

_Dari 'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā  berkata:_

_Manakala terjadi gerhana dizaman Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, maka beliau shalāt bersama orang-orang (berjama'ah), beliaupun berdiri dan memperlama bacaannya, kemudian ruku' dan memperlama bacaannya._

_Kemudian berdiri lagi dan memperlama bacaannya, namun tidak selama yang pertama, kemudian ruku' dan memperlama bacaannya namun tidak selama yang ruku' yang pertama._

_Kemudian sujud dan memperlama sujud, kemudian beliau melakukan hal yang sama pada raka'at kedua._

_Kemudian selesai shalāt dan matahari telah tampak kembali, kemudian beliau berkhutbah, beliau berkuthbah memuji Allāh Subhānahu wa Ta'āla kemudian berkata:_

_"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda diantara tanda kekuasaan Allāh, tidaklah terjadi gerhana dikarenakan matinya atau lahirnya seseorang, apabila kalian melihat itu (gerhana) maka berdoalah kepada Allāh, bertakbirlah, dan shalātlah kalian dan bersedekahlah."_

(Hadīts riwayat Bukhāri)

Oleh karena itu apabila terjadi gerhana bulan atau matahari, maka diseru  الصلاة جامعة (shalāt berjama'ah).

▪ Sunnah-sunnah sholat gerhana:

1. Sholat berjama'ah, namun apabila sendirian tetap sah.

2. Hendaknya di masjid, dan tidak mengapa para wanita untuk hadir mengikuti, namun di luar masjid pun tidak mengapa.

3. Memperlama sholat baik manakala berdiri, ruku’dan sujud selama gerhana, namun apabila telah terang atau hilang gerhana, bisa dipercepat.

4. Rakaat kedua lebih pendek dari rakaat yang pertama. Dan berdiri yang kedua lebih pendek dari pada yang pertama.

5. Membaca secara jahr (keras) baik pada shalat kusuf maupun shalat khusuf, ini adalah pendapat yang dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah.

Adapun pendapat Syafi'iyah sebagaimana disebutkan penulis di dalam matan Abu Suja', bahwasanya membaca sir (perlahan) pada shalat kusuf atau gerhana matahari.

6. Khutbah setelahnya dan mengingatkan manusia tentang kekuasaan Allāh, dan dorongan untuk berbuat keta'atan dan meninggalkan keburukan.

7. Memperbanyak berdo'a dan mohon ampun kepada Allāh.

8. Diperbolehkan mengangkat tangan pada saat berdoa, sebagaimana hadits Abdurrahman bin Samurah.

Demikian yang bisa disampaikan pada halaqah ini, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم, وَآخِرُ دَعْوَانا أَنِ الْحَمْدُ الله رَبِّ الْعَالَمِينَ

______________________

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________

Kajian

IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH

🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah  Fī...

hits