Kamis, 10 Januari 2019

LARANGAN MENDO'AKAN KEBURUKAN UNTUK ANAK KETURUNAN KITA

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 03 Jumādâ Al-Ūlā 1440 H / 09 Januari 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 09| Larangan Mendo’akan Keburukan Untuk Anak Keturunan Kita
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-09
~~~~~~~~~~~~

*LARANGAN MENDO'AKAN KEBURUKAN UNTUK ANAK KETURUNAN KITA*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحبِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَبَعْدُ

Ma'asyiral muslimin wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-9 dari pembahasan kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter, karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Pertemuan yang lalu telah kita sampaikan contoh-contoh do'a Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada keturunan-keturunan beliau (Al Hasan dan Al Husain) dan anak-anak shahābat radhiyallāhu ta'āla 'anhu ajma'īn.

Kita dianjurkan mencontoh Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) untuk memperbanyak mendo'akan untuk putra putri agar Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan hidayah taufīq dan menjadikan anak-anak kita shālih dan shālihat.

Pada kesempatan kali ini, penulis memberikan judul "Larangan mendo'akan keburukan kepada anak keturunan kita".

Kita dilarang mendo'akan keburukan untuk anak keturunan kita atau siapapun karena:

√ Dikhawatirkan do'a buruk tersebut dikabulkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

√ Di khawatirkan ketika kita berdo'a yang buruk bertepatan dengan waktu di ijabah do'a (na'ūdzubillāhi min dzālik).

Dan ini tidak diharapkan tentunya, karena akan mengakibatkan penyesalan dan kita akan mendapatkan hasil yang buruk karena kesalahan kita sendiri (mendo'akan kejelekan untuk anak keturunan kita).

Dan di dalam Shahīh Muslim dari hadīts Jābir radhiyallāhu ta'āla 'anhu (hadīts ini cukup panjang) namun penulis meringkas hadīts ini. Disebutkan ada seorang shahābat berkata kepada untanya.

Dia berkata:

شَأْ ! لَعَنَكَ اللَّهُ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " مَنْ هَذَا اللاعِنُ بَعِيرَهُ ؟ " قَالَ : أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : " انْزِلْ عَنْهُ ، فَلا تَصْحَبْنَا بِمَلْعُونٍ ، لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَوْلادِكُمْ ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ ، لا تُوَافِقُوا مِنَ السَّاعَةِ فَيَسْتَجِيبَ لَكُمْ

_"Wahai unta terlaknatlah kamu!"_

_Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:_

_"Siapakah yang telah melaknat untanya?"_

_Kemudian shahābat tadi mengatakan, "Saya, wahai Rasūlullāh."_

_Kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:_

_"Kalau begitu turunlah kamu dari untamu itu, jangan kamu mengikuti kami (bersama kami) dengan sesuatu yang telah terlaknat."_

⇒ Inilah adalah larangan yang keras dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, kita tidak diperbolehkan berdo'a sembarangan atau berkata buruk, apalagi dengan sengaja mendo'akan keburukan.

Ketika shahābat ini melaknat untanya, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sangat khawatir, dan Nabi pun telah melarang mendo'akan keburukan untuk diri sendiri, anak-anak, harta kita.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan, "Jangan sampai kalian meminta sesuatu atau berdo'a sesuatu yang jelek di saat waktu-waktu diijabah do'a oleh Allāh (waktu Allāh Subhānahu wa Ta'āla kabulkan do'a tersebut)."

Jadi berbahaya jika kita berkata-kata buruk kepada apapun dan siapapun, terutama kepada anak-anak kita.

Sering kita dapati orang tua ketika dibuat marah atau saat dia emosi kepada anak-anaknya, dia berkata dengan kata-kata yang kurang baik, bahkan mengatakan dengan kata-kata kotor (keji). Dan dia akan menyesali perkataannya ketika dia sudah tidak dalam kondisi marah.

Bagaimana bila saat itu Allāh kabulkan do'a tersebut?

Bagaimana bila do'a  jelek itu, melekat pada anak tersebut?

Tentu penyesalan tidak ada gunanya.

Oleh karena itu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam melarang kita mendo'akan buruk kepada diri sendiri, anak-anak dan harta kita, karena bisa jadi yang kita ucapkan (do'akan) bertepatan dengan waktu do'a diijabah oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Demikian yang ringkas ini, semoga bermanfaat, dan memberikan pelajaran kepada kita.

Hendaknya kita menjaga lisan kita dari kata-kata kotor atau do'a-do'a tidak baik yang akan menjadi penyesalan buat kita nanti.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

__________________
🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi ke Nomor : 0878-8145-8000

📝 Format Donasi : DonasiDakwahBIAS#Nama#Nominal#Tanggal
__________________

Rabu, 09 Januari 2019

BEBERAPA CONTOH DO'A-DO'A NABI SHALLALLĀHU 'ALAYHI WA SALLAM UNTUK KETURUNAN BELIAU DAN SELAIN MEREKA

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 02 Jumādâ Al-Ūlā 1440 H / 08 Januari 2019 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 08| Contoh Doa Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa Sallam Untuk Keturunan Beliau Dan Selain Mereka
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-08
~~~~~~~~~~~~

*BEBERAPA CONTOH DO'A-DO'A NABI SHALLALLĀHU 'ALAYHI WA SALLAM UNTUK KETURUNAN BELIAU DAN SELAIN MEREKA*

بسم اللّه الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، ولا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا باللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma'asyiral muslimin wa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita ke-8 dari kitāb Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Dipertemuan yang lalu, telah kita bahas masalah: Hendaknya kita memperbanyak do'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla , memintanya kepada-Nya agar Allāh Subhānahu wa Ta'āla  karuniakan kepada kita anak-anak (keturunan) yang shālih.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla jadikan kita orang tua yang baik. Dan anak-anak kita pun Allāh berikan taufīq agar mereka menjadi anak-anak yang shālih dan shālihat.

Pada pertemuan ini penulis memberikan judul, "Beberapa contoh do'a-do'a Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk keturunan Beliau dan selain mereka."

Di sini bisa kita lihat bagaimana Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mendo'akan cucunya (Al Hasan dan Al Husain).

Dalam hadīts shahīh Bukhāri dan Muslim Beliau mendo'akan Al Hasan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُ فَأَحِبَّهُ

_"Yā Allāh, sungguh aku mencintai dia, maka cintailah dia yā Allāh."_

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri nomor 3749 dan Muslim nomor 2422)

Nabi meminta kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla agar Allāh Subhānahu wa Ta'āla  mencintai Al Hasan bin Āli bin Abī Thālib radhiyallāhu ta'āla 'anhu.

Artinya jika Allāh mencintai seseorang berarti:

√ Allāh meridhāi orang tersebut.
√ Allāh memberikan kebaikan (keshālihan). 
√ Allāh luruskan hidupnya di dunia maupun di akhirat.

Demikian pula dalam Shahīh Bukhāri dan Muslim dari hadīts Usamah bin Zaid, disebutkan di sana bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menggendong Al Hasan bin Āli dan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا

_"Yā Allāh, sesungguhnya aku mencintai mereka berdua, maka cintailah mereka berdua."_

Do'a Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada keturunan Beliau dan kepada anak-anak yang lain dari para shahābat radhiyallāhu ta'āla 'anhum ajma'īn.

Demikian pula do'a kepada Al Husain bin Āli bin Abī Thālib radhiyallāhu ta'āla 'anhu, disebutkan dalam hadīts cukup panjang, namun di situ Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berdo'a sampai tiga kali yang berbunyi:

اللَّهُمَّ أَهْلي أَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا

_"Yā Allāh hilangkanlah dari mereka semua kenajisan (kotoran) sucikan mereka dengan sebenar-benar kesucian."_

(Hadīts riwayat Ahmad, dinyatakan hasan atau shahīh oleh pentahqiqnya)

Juga do'a untuk Usamah bin Zaid radhiyallāhu ta'āla 'anhu secara khusus.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam juga berdo'a sebagaimana dalam Musnad Imām Ahmad dengan do'a yang mirip dengan yang sebelumnya disebutkan riwayat Bukhāri dan Muslim.

Demikian pula kepada Abdullāh bin Ja'far (sepupu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam), Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berdo'a:

اللَّهُمَّ اخْلُفْ جَعْفَرًا فِي أَهْلِهِ ، وَبَارِكْ لِعَبْدِ اللَّهِ فِي صَفْقَةِ يَمِينِهِ

_"Yā Allāh, tinggalkanlah untuk Ja'far kebaikan untuk keluarganya dan berkahilah untuk anaknya (Abdullāh bin Ja'far) dalam usahanya."_

Ini adalah do'a Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk keturunan Beliau dan para shahābat radhiyallāhu ta'āla 'anhum ajma'īn.

Demikian pula dalam Shahīh Bukhāri disebutkan bahwa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mendo'akan seorang anak kecil (wanita) sebagaimana disebutkan di dalam hadīts Ummu Khālid binti Khālid bin Saīd radhiyallāhu ta'āla 'anhā.

Beliau membawakan putrinya itu lalu mengatakan, "Ini baju yang bagus, baju yang baik."

Setelah itu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mendo'akan anak kecil ini dengan berkata:

أَبلِي وَأَخْلِقِي، ثُمَّ أَبْلِي وَأَخْلِفِي، ثُمَّ أَبْلِي وَأَخْلِقِي

_"Pakailah pakaian ini sampai betul-betul usang (hilang)."_

Artinya menurut Al Hafīzh Ibnu Hajar Al Asqalaniy dalam syarah Shahīh Bukhāri yaitu Kitab Fathul Barī.

"Kalau ada do'a (perkataan) seperti itu, maksud do'a tersebut adalah agar orang yang dido'akan panjang umur dan diberkahi hidupnya"

Ini adalah do'a yang baik dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada anak kecil tersebut agar anak tersebut panjang umur dan hidup dalam keberkahan.

Kemudian do'a Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada shahābat yang mulia Anas bin Mālik radhiyallāhu ta'āla 'anhu yang merupakan shahābat Anshār yang cukup lama berkhidmah mendampingi dan melayani keluarga Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mendo'akan Anas bin Mālik:

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيهِ

_"Yā Allāh, perbanyaklah hartanya, anaknya dan berkahilah dia di dalamnya."_

(Hadīts riwayat Muslim nomor 2481)

Anas bin Mālik betul-betul mendapatkan keberkahan yang luar biasa, sampai-sampai beliau mengatakan bahwasanya beliau adalah orang yang paling banyak harta dan keturunannya dari kalangan Anshār.

Itulah doa-do'a Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada para shahābat radhiyallāhu ta'āla 'anhum ajma'īn, keturunan Beliau maupun anak-anak shahābat yang lainnya.

Kita harus mencontoh Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk mendo'akan putra putri kita secara khusus dan secara umum anak-anak kaum muslimin, agar mereka menjadi anak-anak yang shālih dengan izin Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Demikian, semoga yang ringkas ini bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

__________________
🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi ke Nomor : 0878-8145-8000

📝 Format Donasi : DonasiDakwahBIAS#Nama#Nominal#Tanggal
__________________

Minggu, 06 Januari 2019

Catatan kajian di Mesjid istiqlal jakarta

30 Rabiul Akhir 1440H
Masjid Istiqlal Jakarta Pusat
Bahtera Keluarga

*Materi 1*
*Harta Halal Sebab Kebahagiaan dan Harta Haram Sebab Kesengsaraan*
*DR. Erwandi Tirmidzi*

Tidak dipungkiri bahwa harta merupakan sebab penting untuk mendapatkan kebahagiaan.

Ada 4 hal yang merupakan sebab mendapatkan kebahagiaan, separuhnya adalah berkenaan dengan harta yaitu tempat tinggal yang luas dan kendaraan yang nyaman.

Apabila rumah dan kendaraan yang didapati dari cara yang riba, maka akan menjadi sumber malapetaka.

Rumah dijadikan tempat untuk berlindung, tetapi didapatkan dengan cara yang riba. Sesungguhnya bukanlah sebagai tempat perlindungan akan tetapi tempat yang dimurkai oleh Allah.

Di dalam Al-Qur'an dan Hadist kita diminta untuk menjadikan rumah kita selalu diisi dengan bacaan Al-Qur'an, maka tidak akan pernah bersatu antara rumah yang didapati dengan cara yang haram (riba) kemudian di dalamnya ada bacaan Al-Qur'an.

Begitu juga dengan kendaraan yang nyaman. Jika mereka mendapatinya dengan cara yang haram, maka Allah tidak akan meridhoinya.

Semoga Allah menjauhkan kita dan keluarga kita dari murka Allah yaitu praktik muamalah yang diharamkan seperti riba.

*Materi 2*
*Kiat-Kiat Keluarga Bahagia*
*DR. Firanda Andirja*

Tidak dipungkiri bahwa semua manusia menginginkan kebahagiaan baik seorang Muslim ataupun Kafir, baik orang yang kaya maupun miskin dst.

Pada hakikatnya bahwa kebahagiaan itu letaknya di hati.

Semua pemuka agama mengakui bahwa kebahagiaan bisa didapatkan jika dekat dengan Sang Pencipta (Rab)

Salah satu sebab kebahagiaan di dunia adalah memiliki wanita yang shalihah. Wanita yang tidak pernah menuntut, banyak mintanya dst. Barang siapa seorang suami yang mendapatkannya, maka dia adalah seorang suami yang paling bahagia.

Kaidah: kebahagiaan berbanding lurus dengan keshalihan.

Seorang suami dan istri bisa bekerja sama untuk meningkatkan keshalihan seperti sholat malam bersama, kajian bersama dll.

Memiliki istri atau suami yang buruk merupakan sebab kesengsaraan di dalam rumah tangga.

Mintalah kepada Allah untuk mendapatkan kebahagiaan di dalam keluarga. Berdoalah terus kepada Allah dan ajarkan istri serta anak untuk taat kepada Allah.

Jika kita tidak berdoa, maka setan akan mudah memasukinya ke dalam keluarga. Bisa masuk ke dalam keluarga melalui anak-anaknya, hartanya, makanannya dll.

Hadist
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Khaitsamah dari Abu Hudzaifah dari Hudzaifah dia berkata; Bila kami menghadiri jamuan makan bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wa Salam, kami tidak meletakkan tangan kami hingga beliau memulai meletakkan tangan beliau. ketika kami menghadiri jamuan makan bersama beliau, tiba-tiba datang seorang budak perempuan yang ingin meletakkan tangannya pada makanan itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wa Salam meraih tangannya (menyingkirkannya), kemudian seorang badui datang yang ingin meletakkan tangannya diatas makanan itu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Salam pun meraih tangannya. Beliau lalu bersabda: "Sesungguhnya Setan akan mendapatkan makanan yang tidak disebut nama Allah dan ia datang bersama anak perempuan ini untuk mendapatkannya, lalu aku meraih tangannya, ia juga datang bersama orang badui ini untuk mendapatkannya lalu aku meraih tangannya. Demi Dzat Yang jiwaku berada ditanganNya, Sesungguhnya tangan setan itu berada di tanganku seperti ia ada di dalam tangan keduanya (orang badui dan budak perempuan)." Dan telah menceritakan pula kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Hanzhali, telah mengabarkan kepada kami Isa bin Yunus, telah mengabarkan kepada kami Al 'Amasy dari Khaitsamah bin Abdurrahman dari Abu Hudzaifah Al Arhabi dari Khudzaifah bin Al Yaman dia berkata; Bila kami diundang untuk menghadiri jamuan makan bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wa Salam, - lalu dia menyebutkan Hadits yang semakna dengan Hadits Abu Mu'awiyah, dan dia berkata; dengan lafazh; 'Ka annama Yuthradu', sedangkan pada budak perempuan dengan lafazh 'Ka annama tuthradu'. Dalam Haditsnya dia mendahulukan kedatangan orang badui daripada budak perempuan. Dan di akhir Haditsnya dia menambahkan; 'Beliau menyebut nama Allah lalu makan.' Dan telah menceritakan kepadaku pula Abu Bakr bin Nafi', telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A'Masy dengan sanad ini. Dan dia mendahulukan datangnya budak perempuan dari pada orang badui. (HR. Muslim no. 2017)

Diantara sebab kebahagiaan lainnya adalah Al-Qur'an karena merupakan obat bagi manusia.

Dalil
QS. Fushilat : 44

Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh".

Diantara kebahagiaan adalah interaksi yang baik dengan sesama. Berikanlah hak mereka ketika bermuamalah terutama hak dan kewajiban suami istri.

Diantara sebab kebahagiaan adalah mengajarkan akhlak yang mulia kepada keluarga terutama istri dan anak-anak.

Salah satunya adalah akhlak tentang kesabaran dan saling memaafkan di dalam keluarga.

*Materi 3*
*Didiklah Istri dan Anakmu*
*DR. Syafiq Reza Basalamah*

Bangsa ini tidak lain adalah kumpulan-kumpulan dari keluarga. Jika rumah tangganya baik, InsyaAllah bangsa ini diberikan rahmat dan ampunannya.

Beberapa modal untuk mendidik Istri dan Anak-Anaknya:

1. Cinta
Orang yang memiliki cinta akan mengorbankan segalanya untuk orang yang dicintai.

Salah bentuk cinta kepada keluarga adalah mengajarkan dan mendidiknya agar menjadi orang yang shalih.

Mengharamkan (At-Taĥrīm):6 - Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Alasan seorang laki-laki menjadi pemimpin adalah fitrah dan yang memberikan nafkah.

2. Harus menyamakan visi dan misi.
Pentingnya visi dan misi yang sama akan memudahkan berlayarnya rumah tangga yang baik hingga sampai ke surganya.

Kewajiban seorang suami tidak hanya memberikan nafkah atau menyekolahkan anaknya namun terpenting adalah terhindarnya dari api neraka.

*SELESAI*
*SEMOGA BERMANFAT*

Copas dri saudari kita yg ikut kajian di istiqlal

Rabu, 02 Januari 2019

Sedekah yang paling afdhal

Tausiyah Bimbingan Islam:
Pemberian suami selain dari nafkah adalah bentuk sedekah yang paling afdhal. Perlu kita tekankan bahwa bukan berarti suami tidak perlu memberikan hal lain kepada istrinya selain nafkah yang wajib. Jadi, bukan berarti “uang jajan” tidak perlu diberikan kepada istri. Bahkan pemberian di luar nafkah yang wajib merupakan sedekah yang paling afdhal. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“empat jenis dinar: dinar yang engkau berikan kepada orang miskin, dinas yang engkau berikan untuk membebaskan budak, dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, dan dinar yang engkau infakkan untuk keluargamu, yang paling afdhal adalah yang engkau infakkan untuk keluargamu” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad 578, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Adabil Mufrad).
Maka seorang suami sangat dianjurkan memberikan sedekah kepada keluarganya, terutama yang dapat menunjang keshalihan dan kebaikan keluarganya. Suami memberikan mereka buku-buku bermanfaat, alat-alat belajar, pakaian-pakaian tambahan, kendaraan, dan sebagainya. Termasuk juga “uang jajan” yang bisa digunakan oleh sang istri untuk kebutuhannya, ini merupakan sedekah yang afdhal. Tentunya sesuai dengan kemampuan suami dan tanpa berlebih-lebihan.
Bimbinganislam.com | Follow TG, YT, IG, FB, LINE, TWITTER : Bimbingan Islam
#uangjajan #nafkah #sedekah #infak

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH, HADĪTS 19

 BimbinganIslam.com
Rabu, 25 Rabi’ul Akhir 1440 H / 02 Januari 2019 M
 Ustadz Ratno, Lc
 Kitab Syamāil Muhammadiyah
 Halaqah 18 | Hadits 19
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-18
〰〰〰〰〰〰〰
*KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH, HADĪTS 19*
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد
Sahabat BiAS yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Alhamdulilāh, kita masih diberi kesempatan untuk mempelajari Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah karya Imām Abū Īsā At Tirmidzī rahimahullāhu ta'āla.
Pada kesempatan kali ini kita akan membaca hadīts nomor 19 yang merupakan potongan dari hadīts ke-7 yang telah kita bahas pada pertemuan sebelumnya (pertemuan ke-7).
Dan telah kita sampaikan pada pertemuan tersebut bahwa hadīts ini adalah hadīts yang dhaif, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdurrazāq dan Syaikh Al Albāniy rahimahullāh.
Adapun hadīts tersebut adalah:
Imām At Tirmidzī rahimahullāh mengatakan:
حدّثنا أَحمَدُ بْنُ عَبدَةَ الضَّبِّيُّ وَ عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ وَغَيرُوا حِدٍ، قَالُوا: حدّثنا عِيسى بْنُ يُونُسَ، عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ اللّه،  مَولَى غُفْرَةَ. قَالَ حَدَّثَنِي إبراهيمُ بن مُحَمَّدٍ مِن وَلَدِ عَلِيِّ بن أبي طالِبٍ رضى الله عنه، قَالَ كَانَ عَلِيِّ إذَا وَصَفَ رَسُول اللّه ﷺ فَذَكَرَ الحَدِيثَ بِطُولِهِ، وَقَالَ: بَينَ كَتِفَيهِ خَاتَمُ النُّبُوَّةِ و هو خَاتَمُ النَّبِيِّينَ
Imām At Tirmidzī rahimahullāh, pada hadīts ini kembali membawakan potongan hadīts nomor 7 sesuai dengan sanad yang Beliau miliki, bahwa dahulu shahābat Āli bin Abī Thālib radhiyallāhu ta'āla 'anhu jika sedang bercerita tentang sifat-sifat Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam hadīts tersebut beliau sebutkan dengan panjang lebar.
Dan salah satu sifat yang beliau sebutkan adalah:
_"Di antara pundak Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) ada cap kenabian yang mana Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) adalah penutup para nabi."_
Tujuan imām At Tirmidzī menyebutkan hadīts ini adalah untuk membawakan hadīts yang sesuai dengan bab yang beliau buat, yaitu bab tentang cap kenabian.
Bahwa cap kenabian itu benar adanya dan berada diantara dua pundak Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Dan telah berlalu penjelasannya bahwa cap itu tidak ditengah-tengah akan tetapi lebih dekat dengan pundak kiri Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam).
Walaupun hadīts ini dhaif akan tetapi didukung oleh banyak hadīts shahīh yang menyatakan bahwa ada cap kenabian di antara kedua pundak Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam).
Kemudian Imām At Tirmidzī rahimahullāh kembali menyebutkan sebuah hadīts yang berkaitan dengan cap kenabian yang menjelaskan bahwa salah satu cirinya adalah cap kenabian tersebut ada pada rambutnya.
Imām At Tirmidzī rahimahullāh ta'āla berkata:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بنُ بَشَّار، قال حَدَّثَنَا أَبُو عَصِمٍ، قَالَ حدَّثَنَا عَزْرَةُ بن ثَابِتٍ، قَالَ حَدَّثَنَا عِلْبَاءُ بن أَحْمَر قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو زَيْدٍ عَمْرُو بن أَخْطَبَ الأَنْصَارِي رضي اللّه عنه قالَ لِي رسو اللّه ﷺ يَاأَبَا زَيدٍ أُدْنُ مِنِّي فَامْسَحْ ظَهْرِي فَمَسَحتُ ظَهرَهُ، فَوَ قَعَتْ أَصَابِعِي عَلَى الخَاتَمِ قُلْتُ وَمَا الخَاتَمُ؟ قَالَ شَعَرَاتٌ مُجْتَمِعَاتٌ
Imām At Tirmidzī membawakan hadīts ini lengkap dengan sanad yang beliau miliki hingga Abū Zaid 'Amr ibnu Akhthab Al Anshāry radhiyallāhu ta'āla 'anhu, beliau bercerita:
_Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah berkata kepadaku, "Wahai Abū Zaid, mendekatlah. Coba kamu usap punggungku."_
_Akupun mengusap punggung Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) dan secara tidak sengaja jari jemariku mendapati cap kenabian._
_(Al 'Ilbā' perawi dari Abū Zaid berkata,) "Apa itu cap kenabian?"_
_Abū Zaid menjawab, "Kumpulan rambut-rambut."_
Syaikh Albāniy rahimahullāh mengatakan bahwa sanad hadīts ini shahīh sebagaimana syarat Imām Muslim.
Kemudian kita akan membahas sedikit demi sedikit lafazh-lafazh dan kalimat-kalimat yang terdapat pada hadīts ini.
(( يَاأَبَا زَيدٍ أُدْنُ مِنِّي فَامْسَحْ ظَهْرِي))
_"Wahai Abū Zaid mendekatlah, coba kamu usap punggungku."_
Pada kalimat ini kita mengetahui akan adab Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, Beliau tidak memanggil shahābatnya dengan namanya langsung, akan tetapi Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) memanggil dengan kunyahnya.
Dan sebagian ulamā mengatakan bahwa hal ini menunjukkan kesantunan Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada para shahābatnya.
Kemudian saat Abū Zaid radhiyallāhu ta'āla 'anhu diperintahkan untuk mengusap punggung Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam), ia mungkin beranggapan bahwa ada sesuatu di punggung Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang membuatnya tidak nyaman dan ternyata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memerintahkan hal tersebut hanya ingin memuliakan Abū Zaid 'Amr ibnu Akhthab radhiyallāhu ta'āla 'anhu dengan memegang jasad beliau yang mulia.
Bahkan memegang cap kenabian yang Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) miliki. Dan ini semua menunjukkan akan kedekatan Abū Zaid 'Amr ibnu Akhthab kepada Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Atau menunjukkan tentang kedekatan Abū Zaid 'Amr ibnu Akhthab dengan Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam.
(( فَمَسَحتُ ظَهرَهُ، فَوَ قَعَتْ أَصَابِعِي عَلَى الخَاتَمِ))
_"Aku pun mengusap punggung Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) dan tidak sengaja jari jemariku mendapati cap kenabian."_
Kalimat ini menunjukkan bahwa shahābat Abū Zaid radhiyallāhu ta'āla 'anhu melaksanakan apa yang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam perintahkan dengan segera. Dan saat melaksanakan apa yang diperintah oleh Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam Abū Zaid secara tidak sengaja menyentuh cap kenabian yang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam miliki.
(( قُلْتُ وَمَا الخَاتَمُ؟))
_"Aku bertanya, apa itu cap kenabian?"_
Yang bertanya adalah murid atau rawi dari Abū Zaid yang bernama 'Ilbā'.
Pada penggalan hadīts ini kita ambil pelajaran, di antaranya:
⑴ Hendaknya seorang murid bertanya kepada guru, apa yang belum mereka pahami.
⑵ Hendaknya seorang murid juga bersemangat untuk mendapatkan faedah-faedah serta pelajaran-pelajaran yang bermanfaat dari guru-gurunya.
((  قَالَ شَعَرَاتٌ مُجْتَمِعَاتٌ))
_Ia menjawab, "Kumpulan rambut-rambut."_
Maksudnya adalah rambut yang berkumpul pada satu tempat mungkin disekeliling cap atau di atasnya (Wallāhu A'lam).
Jangan disalah artikan bahwa cap kenabian tersebut hanya berupa rambut-rambut yang berkumpul pada satu tempat, akan tetapi hadīts ini adalah hadīts yang menyebutkan sifat tambahan bagi pelajaran yang telah lalu yang menyatakan bahwa cap kenabian adalah sebuah kelenjar atau potongan daging yang berwarna merah seukuran dengan telur burung merpati.
Sehingga hadīts ini tidak bertentangan dengan hadīts-hadīts yang lainnya atau yang telah lalu.
Wallāhu Ta'āla Bishawāb.
Semoga bermanfaat.
 Akhukum Fillāh, Ratno
Di kantor Bimbingan Islām Yogyakarta
______________________
 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :
| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi ke Nomor : 0878-8145-8000
 Format Donasi : DonasiDakwahBIAS#Nama#Nominal#Tanggal
__________________

Selasa, 01 Januari 2019

Apa yang kita ucapkan ketika ada yang meninggal?

Tausiyah Bimbingan Islam:
Kita mendengar ungkapan ini 'beristirahat dengan tenang', 'Rest In Peace', dll  tersebar di kalangan kebanyakan manusia, ketika mereka mensifatkan orang yang meninggal setelah menderita penyakit yang parah ataupun setiap orang yang meninggal dunia apapun penyebabnya. Ini tidak diperbolehkan dalam agama, karena kita tidak mengetahui hakikat kehidupannya setelah kematian, apakah mendapat ampunan dari Allah atau justru mendapat azab dariNya.
Jikalau pada seorang muslim yang meninggal saja kita tidak selayaknya mengucapkan hal itu, maka terlebih lagi ucapan itu disematkan kepada orang kafir yang apabila mereka mati diatas kekufuran, maka Neraka dan azab yang kekal adalah tempat mereka.
Diriwayatkan dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anha, ia berkata, "Wahai Rasulllah, fulanah (seorang wanita) telah meninggal dan beristirahat dengan tenang. Kemudian Rasulullah pun marah dan berkata, "Sesungguhnya orang yang beristirahat dengan tenang itu yang telah diampuni oleh Allah Subhanahu wa ta'ala". (as-silsilah as-sohihah 4/286)
Yang dapat kita lakukan adalah mendoakan kebaikan untuk si mayit. Karena orang mati yang sudah tidak mampu menambah amal, dia sangat membutuhkan doa orang yang masih hidup. Bukan memastikan bahwa si mayit telah tenang di akhirat sana.
Seluruh orang yang telah meninggal, sangat membutuhkan doa baik dari mereka yang hidup, karena mayit tidak lagi mampu beramal. Karena itu, jangan sampai kita memiliki prinsip, hanya mendoakan keluarga yang telah meninggal jika kita ziarah kubur. Padahal, ziarah kubur tidak mungkin bisa sering kita lakukan. Umumnya orang hanya setahun sekali.
Untuk itu, penting dipahami bahwa mendoakan mayit bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Anda tidak perlu bergantung kepada kuburan, ketika hendak mendoakan mayit. Anda bisa doakan keluarga yang telah meninggal, ketika di masjid, seusai shalat tahajud atau ketika di tempat mustajab pada saat haji atau umrah.
Bimbinganislam.com | Follow TG, YT, IG, FB, LINE, TWITTER : Bimbingan Islam
#mati #meninggal #rip #restinpeace #ziarah

KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH, HADĪTS 17 DAN 18

 BimbinganIslam.com
Selasa, 24 Rabi’ul Akhir 1440 H / 01 Januari 2019 M
 Ustadz Ratno, Lc
 Kitab Syamāil Muhammadiyah
 Halaqah 17 | Hadits 17 dan 18
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-17
〰〰〰〰〰〰〰
*KITĀB SYAMĀIL MUHAMMADIYAH, HADĪTS 17 DAN 18*
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَالْأَخْلَاقَ وَالْأَرْزَاقَ وَالْأَفْعَالَ، وَلَهُ الشُّكْرُ عَلَى إِسْبَاغِ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ بِالْإِفْضَالِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّهِ وَرَسُولِهِ الْمُخْتَصِّ بِحُسْنِ الشَّمَائِلِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَوْصُوفِينَ بِالْفَوَاضِلِ وَالْفَضَائِلِ، وَعَلَى أَتْبَاعِهِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ بِمَا ثَبَتَ عَنْهُ بِالدَّلَائِلِ. أما بعد
Sahabat BiAS yang semoga selalu dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Alhamdulilāh, kita telah menyelesaikan 16 (enam belas) hadīts dari Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah. Kali ini kita akan mencoba membahas hadīts-hadīts selanjutnya yaitu hadīts nomor 17 yang menggambarkan tentang warna dan ukuran dari cap kenabian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.
*• Hadīts ke-17*
Al Imām At Tirmidzī rahimahullāh mengatakan:
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ يَعْقُوبَ الطَّالْقَانِيُّ ، قَالَ : حدَّثَنَا أَيُّوبُ بْنُ جَابِرٍ ، عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ ، عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ ، قَالَ : " رَأَيْتُ الْخَاتَمَ بَيْنَ كَتِفَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , غُدَّةً حَمْرَاءَ , مثل بَيْضَةِ الْحَمَامَةِ " 
Al Imām At Tirmidzī meriwayatkan hadīts ini sesuai dengan jalur periwayatan yang beliau miliki hingga shahābat Jābir bin Samurah radhiyallāhu ta'āla 'anhumā. Beliau bercerita:
_"Aku pernah melihat cap kenabian yang terletak di antara dua pundak Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam (kelenjar merah seukuran telur burung merpati)."_
√ Hadīts ini merupakan hadīts yang shahīh, yang dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh.
√ Hadīts ini juga dikeluarkan oleh Imām At Tirmidzī di dalam Sunnan beliau dengan nomor 3644.
√ Hadīts ini juga dikeluarkan oleh Imām Muslim dengan nomor 2344.
Pelajaran dari hadīts ini:
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memiliki cap kenabian yang berupa kelenjar (sepotong daging) yang berwarna merah seukuran dengan telur burung merpati.
Hadīts ini tidak bertentangan dengan hadīts Imām Muslim yang menyatakan bahwa warnanya seperti warna kulit Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) karena sebagaimana telah berlalu bahwa warna kulit Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) adalah putih kemerahan.
*• Hadīts yang ke-18*
Al Imām At Tirmidzī rahimahullāh mengatakan:
حدّثنا أبو مثعب المديني، قالت حدثنايُوسُفُ بْنُ الْمَاجِشُونِ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ , عَنْ جَدَّتِهِ رُمَيْثَةَ قَالَتْ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ أَشَاءُ أَنْ أُقَبِّلَ الْخَاتَمَ الَّذِي بَيْنَ كَتِفَيْهِ مِنْ قُرْبِي لَفَعَلْتُ يَقُولُ لِسَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ يَوْمَ مَاتَ اهْتَزَّ لَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ
Pada hadīts ke-18 ini, Imām At Tirmidzī membawakan hadīts dengan sanad yang beliau miliki hingga Rumaytsah radhiyallāhu ta'āla 'anhā. Beliau berkata:
_Aku mendengar Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, saat itu aku sangat dekat dengan Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam), seandainya aku mau mencium cap kenabian yang berada di antara kedua pundak beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) pasti bisa, ketika itu Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) mengatakan tentang Sa'ad Ibnu Mu'ādz waktu meninggal, " 'Arsyurahman bergoncang dengan kematiannya."_
Hadīts ini merupakan hadīts yang shahīh, dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy dan hadīts ini dikeluarkan oleh Imām Ahmad nomor 26793 dan dishahīhkan oleh Syu'aib Al Arnaut.
Rumaytsah radhiyallāhu ta'āla 'anhā, adalah seorang shahābat yang memiliki dua hadīts:
⑴ Hadīts ini (sedang kita bahas).
⑵ Hadīts tentang shalāt dhuha yang beliau riwayatkan dari Āisyah radhiyallāhu ta'āla 'anhā.
Pada hadīts ini beliau (radhiyallāhu ta'āla 'anhā) ingin meriwayatkan perkataan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tentang Sa'ad bin Mu'ādz, pemimpin kaum Anshār dan seorang yang sangat disegani dan dituruti oleh kaumnya.
Beliau (Sa'ad bin Mu'ādz) meninggal dalam usia 37 tahun, pada saat perang Khandaq karena panah yang menancap pada tangan beliau yang menyebabkan darah tidak berhenti mengalir hingga berbentuk genangan.
Dan hadir pada prosesi penguburannya, 70 ribu malāikat dan saat itu pintu langit terbuka untuknya. Sebagaimana disebutkan di dalam hadīts dari An Nassā'i nomor 2055 yang di shahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh. Hal ini menunjukkan akan keutamaan beliau (radhiyallāhu ta'āla 'anhu).
Pada saat meriwayatkan hadīts ini, beliau menyelipkan sebuah kabar tentang cap kenabian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang berada di antara dua pundak Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam).
Dan ini menguatkan akan keberadaan cap kenabian tersebut.
Itulah yang bisa kita ambil dari hadīts ini.
Kemudian sebelum kita akhiri, perlu ada catatan ketika kita mendengar hadīts-hadīts yang semisal dengan hadīts ini.
" 'Arsyurahman berguncang " dan sebagainya, kita imani sebagaimana datangnya, tidak perlu ditanyakan bagaimana bergoncangnya, tidak perlu dipermisalkan dengan sesuatu, karena kita belum pernah melihat 'Arsyurahman yang mana dia adalah makhluk yang paling besar dari ciptaan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Jika kita tidak bisa tahu bagaimana listrik itu bergetar tanpa alat bantu, bagaimana mungkin kita bisa menggambarkan bergetarnya makhluk Allāh yang sangat besar ini.
Kemudian, kita tidak boleh mengingkarinya dengan mengatakan, " 'Arsyurahman tidak bergetar, yang bergetar adalah para malāikat pembawanya."
Atau ucapan-ucapan semisalnya.
Kita pun tidak perlu menyelewengkan maknanya sebagaimana contoh tadi.
√ Cukup imani.
√ Tanpa ditanyakan.
√ Tanpa dimisalkan.
√ Tanpa ditolak.
√ Dan tanpa diselewengkan maknanya.
Semoga bermanfaat.
Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb
 Akhukum Fillāh, Ratno
Di kantor Bimbingan Islām Yogyakarta
__________________
 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :
| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi ke Nomor : 0878-8145-8000
 Format Donasi : DonasiDakwahBIAS#Nama#Nominal#Tanggal
__________________

Kajian

IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH

🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah  Fī...

hits