Sabtu, 15 Februari 2020

Pohon Keimanan

🌍 BimbinganIslam.com
Jumat, 20 Jumada Al-Akhir 1441 H / 14 Februari 2020 M
👤 Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A.
📒 Nasihat Singkat Bimbingan Islam
🔊 Audio 67 | Pohon Keimanan
🔄 Download Audio: bit.ly/NasihatSingkatBiAS-67
〰〰〰〰〰〰〰

🕋 Yuk, Dukung Program Dakwah Islam melalui :

| Bank Syariah Mandiri
| Kode Bank [451]
| No. Rekening 78.14.5000.17
| a.n CINTA SEDEKAH (INFAQ)
| Konfirmasi : cintasedekah.org/donasi

Kamis, 13 Februari 2020

PERMAINAN ANAK-ANAK YANG BERLANGSUNG DI ZAMAN NABI ﷺ DAN BOLEHNYA KITA MENGAJAK MEREKA BERSENANG-SENANG ATAU BERMAIN-MAIN

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 18 Jumada Al-Akhir 1441 H / 12 Februari 2020 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 40 | Permainan Anak-Anak yang Berlangsung di Zaman Nabi Shallallāhu 'Alayhi wa Sallam dan Bolehnya Kita Mengajak Mereka Bersenang-Senang atau Bermain-Main
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-40
~~~~~~~~~~~~

*PERMAINAN ANAK-ANAK YANG BERLANGSUNG DI ZAMAN NABI ﷺ DAN BOLEHNYA KITA MENGAJAK MEREKA BERSENANG-SENANG ATAU BERMAIN-MAIN*

بسم اللّه الرحمن الرحيم 
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نبينا محمد وَعَلَى أله وصحبه أجمعين وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma'asyiral Mustami'in, kaum muslimin para  pemirsa, para pendengar rahimani wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah yang ke-40 Ini dari kitāb  Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita dalam kitāb pada halaman 74, masih berkaitan bagaimana akhlak Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersama anak-anak kecil dan beliau mengajak bermain anak-anak kecil para sahabat radhiyallāhu 'anhum pada masanya.

مزيد من الوارد في لعب الصبيان والترويح عنهم

Penjelasan tambahan tentang permainan anak-anak yang berlangsung di zaman Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan bolehnya kita mengajak bersenang-senang atau bermain-main. Tentunya selama dalam hal yang dibolehkan secara syar'i.

Telah berlalu firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla di dalam surat Yusuf, dimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman tentang Yusuf dan saudaranya.

Saudara Yusuf berkata kepada ayah mereka :

أَرۡسِلۡهُ مَعَنَا غَدٗا يَرۡتَعۡ وَيَلۡعَبۡ ......

"Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia bersenang-senang dan bermain-main...."

(QS. Yusuf :12)

Ini menunjukkan bahwa Nabi Yusuf pun bermain, walaupun saat itu saudara-saudaranya ingin berbuat makar kepada nabi Yusuf alayhissalām.

Dan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam  bermain-main dengan anak-anak ketika beliau masih kecil.

Diriwayatkan di dalam shahīh Muslim dari Anas bin Mālik radhiyallāhu 'anhu:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَتَاهُ جِبْرِيلُ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ فَشَقَّ عَنْ قَلْبِهِ فَاسْتَخْرَجَ الْقَلْبَ فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ عَلَقَةً فَقَالَ هَذَا حَظُّ الشَّيْطَانِ مِنْكَ ‏.‏ ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ لأَمَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ فِي مَكَانِهِ وَجَاءَ الْغِلْمَانُ يَسْعَوْنَ إِلَى أُمِّهِ - يَعْنِي ظِئْرَهُ - فَقَالُوا إِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ قُتِلَ ‏.‏ فَاسْتَقْبَلُوهُ وَهُوَ مُنْتَقَعُ اللَّوْنِ ‏.‏ قَالَ أَنَسٌ وَقَدْ كُنْتُ أَرَى أَثَرَ ذَلِكَ الْمِخْيَطِ فِي صَدْرِهِ ‏

"Sesungguhnya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam didatangi Jibrīl ketika dia sedang bermain dengan anak-anak lainnya. Lalu Jibrīl mengambilnya dan menidurkannya, dia membelah dadanya dan mengeluarkan hatinya, lalu dia mengeluarkan sekerat daging dan berkata, 'Ini bagian syaitan dari dalam dirimu' . Kemudian dia mencucinya dengan air zamzam di dalam sebuah wadah dari emas, selanjutnya dia menyatukan satu dengan yang lainnya dan mengembalikannya ketempat semula. Anak-anak itu datang dengan berlari kepada ibunya (ibu susu Rasūlullāh) mereka berkata, 'Sungguh, Muhammad telah dibunuh!' Mereka semua mendatanginya dan raut wajah beliau sudah berubah (menjadi pucat)"

Anas berkata, "Aku pernah melihat bekas jahitan tersebut di dada beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam".

(Hadīts shahīh riwayat Muslim 162)

Ini menunjukkan bahwa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bermain bersama teman-teman sebaya dan ini diperbolehkan tentunya selama dalam batasan syar'i.

In syā Allāh akan kita jelaskan pada pertemuan berikutnya.

Demikian, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_______________

Rabu, 12 Februari 2020

PERMAINAN ANAK-ANAK YANG BERLANGSUNG DI ZAMAN NABI ﷺ DAN BOLEHNYA KITA MENGAJAK MEREKA BERSENANG-SENANG ATAU BERMAIN-MAIN

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 18 Jumada Al-Akhir 1441 H / 12 Februari 2020 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 40 | Permainan Anak-Anak yang Berlangsung di Zaman Nabi Shallallāhu 'Alayhi wa Sallam dan Bolehnya Kita Mengajak Mereka Bersenang-Senang atau Bermain-Main
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-40
~~~~~~~~~~~~

*PERMAINAN ANAK-ANAK YANG BERLANGSUNG DI ZAMAN NABI ﷺ DAN BOLEHNYA KITA MENGAJAK MEREKA BERSENANG-SENANG ATAU BERMAIN-MAIN*

بسم اللّه الرحمن الرحيم 
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نبينا محمد وَعَلَى أله وصحبه أجمعين وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma'asyiral Mustami'in, kaum muslimin para  pemirsa, para pendengar rahimani wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah yang ke-40 Ini dari kitāb  Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita dalam kitāb pada halaman 74, masih berkaitan bagaimana akhlak Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersama anak-anak kecil dan beliau mengajak bermain anak-anak kecil para sahabat radhiyallāhu 'anhum pada masanya.

مزيد من الوارد في لعب الصبيان والترويح عنهم

Penjelasan tambahan tentang permainan anak-anak yang berlangsung di zaman Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan bolehnya kita mengajak bersenang-senang atau bermain-main. Tentunya selama dalam hal yang dibolehkan secara syar'i.

Telah berlalu firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla di dalam surat Yusuf, dimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman tentang Yusuf dan saudaranya.

Saudara Yusuf berkata kepada ayah mereka :

أَرۡسِلۡهُ مَعَنَا غَدٗا يَرۡتَعۡ وَيَلۡعَبۡ ......

"Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia bersenang-senang dan bermain-main...."

(QS. Yusuf :12)

Ini menunjukkan bahwa Nabi Yusuf pun bermain, walaupun saat itu saudara-saudaranya ingin berbuat makar kepada nabi Yusuf alayhissalām.

Dan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam  bermain-main dengan anak-anak ketika beliau masih kecil.

Diriwayatkan di dalam shahīh Muslim dari Anas bin Mālik radhiyallāhu 'anhu:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَتَاهُ جِبْرِيلُ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ فَشَقَّ عَنْ قَلْبِهِ فَاسْتَخْرَجَ الْقَلْبَ فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ عَلَقَةً فَقَالَ هَذَا حَظُّ الشَّيْطَانِ مِنْكَ ‏.‏ ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ لأَمَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ فِي مَكَانِهِ وَجَاءَ الْغِلْمَانُ يَسْعَوْنَ إِلَى أُمِّهِ - يَعْنِي ظِئْرَهُ - فَقَالُوا إِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ قُتِلَ ‏.‏ فَاسْتَقْبَلُوهُ وَهُوَ مُنْتَقَعُ اللَّوْنِ ‏.‏ قَالَ أَنَسٌ وَقَدْ كُنْتُ أَرَى أَثَرَ ذَلِكَ الْمِخْيَطِ فِي صَدْرِهِ ‏

"Sesungguhnya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam didatangi Jibrīl ketika dia sedang bermain dengan anak-anak lainnya. Lalu Jibrīl mengambilnya dan menidurkannya, dia membelah dadanya dan mengeluarkan hatinya, lalu dia mengeluarkan sekerat daging dan berkata, 'Ini bagian syaitan dari dalam dirimu' . Kemudian dia mencucinya dengan air zamzam di dalam sebuah wadah dari emas, selanjutnya dia menyatukan satu dengan yang lainnya dan mengembalikannya ketempat semula. Anak-anak itu datang dengan berlari kepada ibunya (ibu susu Rasūlullāh) mereka berkata, 'Sungguh, Muhammad telah dibunuh!' Mereka semua mendatanginya dan raut wajah beliau sudah berubah (menjadi pucat)"

Anas berkata, "Aku pernah melihat bekas jahitan tersebut di dada beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam".

(Hadīts shahīh riwayat Muslim 162)

Ini menunjukkan bahwa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bermain bersama teman-teman sebaya dan ini diperbolehkan tentunya selama dalam batasan syar'i.

In syā Allāh akan kita jelaskan pada pertemuan berikutnya.

Demikian, semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_______________

Selasa, 11 Februari 2020

DI ANTARA KASIH SAYANG RASŪLULLĀH ﷺ KEPADA ANAK KECIL

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 16 Jumada Al-Akhir 1441 H / 10 Februari 2020 M
👤 Ustadz Arief Budiman, Lc
📗 Kitāb Fiqhu Tarbiyatu Al-Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Ath-Athibbāi
🔊 Halaqah 38 | Di Antara Kasih Sayang Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam Kepada Anak Kecil
⬇ Download audio: bit.ly/TarbiyatulAbna-38
~~~~~~~~~~~~

*DI ANTARA KASIH SAYANG RASŪLULLĀH ﷺ KEPADA ANAK KECIL*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، ولاحول ولا قوة إلا بالله أما بعد

Ma'asyiral Mustami'in, para pendengar, pemirsa yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Ini adalah pertemuan kita yang ke-38 dari kitāb  Fiqhu Tarbiyatul Abnā wa Thāifatu min Nashā'ihi Al Athibbāi tentang fiqih mendidik atau membimbing anak-anak dan penjelasan sebagian nasehat dari para dokter karya Syaikh Musthafa Al Adawi Hafīdzahullāh.

Kita masih melanjutkan sesi sebelumnya, masih membahas hadīts yang berkenaan dengan rahmat dan kasih sayang Rasūlullāhshallallāhu 'alayhi wa sallam kepada umatnya terkhusus kepada anak-anak kecil.

Diantara hadīts yang menerangkan bahwa nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sangat memperhatikan hak dan kasih sayang terhadap anak-anak kecil adalah sebuah hadīts di dalam shahīh Muslim.

Hadīts dari Bura'idah bin Al Hushaibah Aslami  radhiyallāhu 'anhu tentang diakhirkannya hukuman rajam terhadap seorang wanita dari Ghamidiyyah yang mengaku berzinah dan hamil.

Bura'idah radhiyallāhu 'anhu berkata:

Ma'iz bin Mālik datang menemui Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam seraya berkata,

"Wahai Rasūlullāh, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku, karena aku telah berzina, oleh karena itu aku ingin agar engkau berkenan membersihkan diriku" Namun beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam menolak pengakuannya.

Hadīts ini diringkas oleh penulis.

Kemudian Bura'idah berkata :

Suatu ketika ada seorang wanita Ghamidiyah datang menemui Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam  seraya berkata, “Wahai Rasūlullāh  diriku telah berzina, oleh karena itu sucikanlah diriku.”

Kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menghindar dengan mengatakan: "Pulanglah kamu lalu beristighārlah memohon ampun kepada Allāh dan bertaubat kepada Allāh"

Keesokan harinya wanita tersebut datang menemui Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam  sambil berkata, “Wahai Rasūlullāh, kenapa anda menolak pengakuanku? Sepertinya engkau menolak pengakuanku sebagaimana engkau telah menolak pengakuan Ma’iz. Demi Allāh, sekarang ini aku sedang mengandung bayi dari hasil hubungan gelap itu.”

Mendengar pengakuan ter sebut  Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam  bersabda: “Sekiranya kamu ingin tetap bertaubat, maka pulanglah sampai kamu melahirkan.”

Tentunya ini bentuk irab bentuk bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam  tidak mau menghukum rajam wanita tersebut. Sebaiknya seseorang yang berzina itu bertaubat saja antara dirinya dengan Allāh.

Namun apabila sudah sampai kepada beliau, karena beliau adalah imam, waliyul amri disini berarti harus dirajam tetapi nant setelah bayi tersebut lahir.

Ini menunjukkan kasih sayang Allāh kepada anak kecil bahkan kepada yang masih di dalam perut sekalipun.

Sampai akhirnya disebutkan di dalam hadīts bahwa wanita itu akhirnya melahirkan dan diberikan jaminan oleh sebagian sahabat Anshar (maksudnya) diberi nafkah sampai wanita tersebut  melahirkan.

Dan setelah wanita tersebut melahirkan Nabi pun bersabda lagi,

"Tentunya kami tidak akan merajamnya sekarang, tidak mungkin kami meninggalkan anak itu sementara ibunya dirajam sehingga tidak ada yang menyusuinya nanti"

Akhirnya setelah itu ada seorang laki-laki dari Anshar yang mengatakan bahwasanya anak tersebut akan dicarikan ibu susu.

Setelah itu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam merajamnya.

Hadīts ini diriwayatkan oleh shahīh Muslim dan
di dalam riwayat lain ada tambahan sedikit peristiwa bahwa anak tersebut setelah lahir oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ibunya diminta menyusui dulu sampai bayu tersebut  disapih.

Berarti disini versinya berbeda kalau tadi sampai ada sahabat yang menanggungnya kalau  disini betul-betul disusui sampai disapih dan sampai akhirnya datang lagi kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Coba bayangkan!

Wanita ini betul-betul ikhlas.

Itulah bedanya sahabat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, seandainya pun mereka bermaksiat mereka segera bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya (taubatan nasuha)

Sampai wanita tersebut mendatangi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan bayi yang sudah tidak menyusui lagi dan sudah memegang sepotong roti.

Dan wanita tadi mengatakan, "Wahai Rasūlullāh,  anak saya sudah besar dan sudah saya sapih"

Kemudian diberikanlah  anak tersebut kepada salah satu sahabat untuk diurus.

Lalu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam diperintahkan untuk menggali lubang untuk membenamkan sebagian tubuh wanita itu,  akhirnya Nabi-pun merajamnya (radhiyallāhu 'anhā).

Ini contoh yang sangat jelas bagaimana Nabi sangat memiliki rahmat dan juga kasih sayang kepada umatnya.

Dari satu sisi beliau harus merajam wanita tersebut karena memang itu adalah hukuman dalam syari'at Allāh bagi orang yang berzina. Dan hukuman bagi  zina mukhsan adalah dengan dirajam.

Namun disini nabi juga memperhatikan hak anak kecil yang tidak bersalah. Karena yang bersalah adalah kedua orang tuanya yang telah melakukan zina.

Demikian Semoga bermanfaat bagi kita semua dan In syā Allāh kita lanjutkan pada sesi yamg akan datang masih dalam pembahasan yang mirip dan serupa.

Wallāhu A'lam bishawab

Semoga bermanfaat.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_______________

Rabu, 05 Februari 2020

KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 51, BAGIAN KETIGA

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 11 Jumada Al-Akhir 1441 H / 05 Februari 2020 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 053b | Hadits 51 (Bagian 03)
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H053b
〰〰〰〰〰〰〰

*KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 51, BAGIAN KETIGA*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh jami'an.

Kita lanjutkan pembahasan hadīts ke-51, bagian ketiga, dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil Abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' Al Akhbār), yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'di rahimahullāh.

Perkara kedua yang diperintahkan kepada Abdurrahman bin Samurah di dalam hadīts ini adalah:

▪ Kedua  | Apabila seseorang sudah terlanjur bersumpah untuk melakukan suatu hal dan ternyata setelah itu dia melihat ada perkara lain yang lebih baik. Maka tidak mengapa baginya (bahkan dianjurkan) untuk tidak menunaikan sumpahnya tadi dan dia melakukan perkara yang lebih baik dari apa yang dia sumpahkan.

Namun dia diperintahkan untuk menunaikan kafarah.

Contoh:

Apabila dia bersumpah untuk melakukan suatu perkara yang makruh atau meninggalkan perkara yang mustahab maka tentunya hal yang lebih baik adalah dia melakukan hal yang mustahab dan meninggalkan yang makruh. Itu kebalikan dari apa yang dia bersumpah.

Maka dia dianjurkan untuk tetap melakukan perkara yang mustahab tersebut dan meninggalkan hal yang yang makruh kemudian dia menunaikan kafarah sumpah yang tidak jadi dia lakukan. 

Kalau seseorang bersumpah untuk melakukan perkara yang wajib atau seseorang bersumpah untuk melakukan perkara yang haram maka dia tidak boleh menunaikan sumpahnya tadi. Dia wajib untuk menggagalkan sumpahnya dan membayar kafarah atau menunaikan kafarahnya.

Kafarah sumpah tersebut dia diberikan pilihan antara memerdekakan seorang budak atau memberikan makan 10 orang miskin atau memberikan pakaian kepada 10 orang miskin.

Jika tidak ada satupun yang dia mampu untuk tiga hal tadi maka dia menunaikan kafarahnya dengan cara berpuasa selama 3 hari atau dikenal dengan kafaratul yamin yaitu kafarah atas suatu sumpah yang tidak jadi dia lakukan.

Demikian pembahasan kita terhadap hadīts yang mulia ini.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla senantiasa memberikan kepada kita taufīq kepada kebaikan dan menghindarkan kita dari perkara-perkara yang buruk bagi kita.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla senantiasa menjadikan kita orang yang bisa untuk menunaikan amanah atau tanggung jawab yang telah Allāh berikan kepada kita.

Demikian

Wallāhu Ta'āla A'lam

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
____

KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 51, BAGIAN KEDUA

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 10 Jumada Al-Akhir 1441 H / 04 Februari 2020 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' Al Akhbār
🔊 Halaqah 053a | Hadits 51 (Bagian 02)
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H053a
〰〰〰〰〰〰〰

*KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 51, BAGIAN KEDUA*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على عبده ورسوله محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh jami'an.

Kita lanjutkan pembahasan hadīts ke-51 bagian kedua, dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil Abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' Al Akhbār), yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'di rahimahullāh.

⑵ Tatkala dia meminta imaarah, menunjukkan adanya tanda dia bertawakal kepada dirinya sendiri, dia merasa dia mampu untuk menunaikan tanggung-jawabnya, dia merasa dia yang paling layak untuk menunaikannya.

Tentunya akan menjadikan dia tidak meminta pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla tatkala sudah diserahkan tangguh-jawabnya.

Adapun orang yang apabila dia mendapatkan suatu jabatan (kekuasaan) tadi tanpa dia minta (tanpa dia berkeinginan) berarti dia akan mendapatkan pertolongan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan dia akan bertawakal kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla di dalam menjalankan tanggung-jawabnya.

Tatkala dia tidak meminta, dia merasa dia tidak memiliki kemampuan untuk menunaikan tanggung-jawab dan beban-beban kewajiban yang ada di dalam kekuasaan tersebut.

Sehingga tatkala dia mendapatkan posisi itu, maka semakin besarlah rasa tawakalnya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Semakin besarlah rasa perasaan butuh kepada pertolongan Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Sehingga Allāh akan memberikan pertolongan kepadanya. Dia-lah orang yang layak untuk mendapatkan pertolongan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Namun para ulama rahīmakumullāh menyatakan ada suatu kondisi dimana meminta jabatan ( kekuasaan) ini diperbolehkan.

Kapan?

Ketika ada suatu maslahat yang besar yang bisa tercapai jikalau dia menyodorkan dirinya untuk mendapatkan posisi jabatan tersebut seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Yusuf alayhissalām tatkala beliau meminta untuk diserahkan kepadanya tanggung-jawab mengelola harta.

Dan beliau mengatakan:

إني حَفِيظٌ عَلَيْهِمْ

_"Aku adalah seorang yang amanah.”_

Tatkala beliau tahu, apabila harta ini diserahkan kepada orang lain atau dipegang oleh orang lain, maka akan hilang amanah.

Maka orang yang merasa bisa menunaikan amanah tersebut dan dia khawatir amanah ini akan disia-siakan oleh orang lain kalau dia tidak meminta, maka tidak mengapa baginya dia meminta.

Kemudian, beliau sebutkan 'alim, "Aku tahu kemana dan bagaimana cara mengelolanya."

Karena itu bagi orang yang dia merasa apabila dia tidak memegang hal itu atau jabatan tersebut, jabatannya atau wewenangnya justru akan diselewengkan oleh orang lain maka tidak mengapa baginya untuk meminta.

Tentunya dengan terus berusaha dengan terus meminta pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan berusaha semaksimal mungkin untuk menunaikan tanggung-jawab yang telah dibebankan kepadanya.

Demikian

Wallāhu Ta'āla A'lam

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
____

Senin, 03 Februari 2020

KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 51, BAGIAN PERTAMA

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 09 Jumada Al-Akhir 1441 H / 03 Februari 2020 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 053 | Hadits 51
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H053
〰〰〰〰〰〰〰

*KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 51, BAGIAN PERTAMA*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على عبده ورسوله محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh jami'an.

Ini adalah halaqah kita yang ke-53, dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil Abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' Al Akhbār), yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'di rahimahullāh.

Pembahasan kita sudah sampai pada pembahasan hadīts ke-51, hadīts dari Abdurrahman bin Samurah radhiyallāhu ‘anhu. Beliau mengatakan, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda kepadaku :

يا عبدَ الرحمن بنَ سمرة، لا تسأل الإمارة؛ فإنكَ إنْ أُوتِيتَهَا عن مسألة وُكِلْتَ إليها، وإنْ أوتيتَها من غير مسألة أُعِنْتَ عليها. وإذا حلفت على يمين فرأيت غيرها خيرا منها فائت الذي هو خير وكفر عن يمينك

_"Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kekuasaan, karena sesungguhnya jika engkau meminta kekuasaan berdasarkan permintaanmu maka engkau layak untuk tidak ditolong oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla (akan diserahkan urusannya kepada dirimu)._

_Namun, jikalau engkau diserahi kekuasaan tanpa ada permintaan darimu, niscaya engkau layak untuk mendapatkan pertolongan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla._

_Jikalau engkau bersumpah untuk suatu perkara yang dimana engkau memandang ada perkara lain yang lebih baik dari hal itu, maka kerjakanlah perkara yang lebih baik itu dan engkau langgar (tidak perlu memenuhi sumpahmu) namun bayarlah (tunaikan) kafarahnya."_

(Hadīts shahīh diriwayatkan oleh Imam Al Bukhāri dan Muslim)

⇒ "Janganlah engkau meminta kekuasaan," maksudnya:

"Janganlah engkau meminta suatu posisi (amanah) yang berkaitan dengan hak-hak kaum muslimin baik dalam permasalahan pemerintahan, masalah qadha (peradilan) maupun hal-hal lain yang di situ merupakan perkara wilayah (perkara kekuasaan)."

Di dalam hadīts yang mulia ini terdapat dua permasalahan yang disampaikan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan diajarkan kepada kita, yaitu:

▪ Pertama  | Selayaknya seorang hamba tidak meminta jabatan atau kekuasaan atau kepemimpinan.

Karena yang demikian berarti dia telah menjadikan dirinya dihadapkan kepada suatu tanggung jawab yang besar, yang mana dia tidak tahu apakah itu suatu kebaikan bagi dirinya atau justru sebuah keburukan untuk dirinya dikemudian hari.

Dan dia tidak tahu apakah dia mampu untuk menunaikan tanggung-jawab yang diserahkan kepada dia atau tidak, jikalau dia memintanya.

Sehingga dalam hadīts ini, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya, "Apabila seorang hamba, dia meminta imaarah (jabatan atau kekuasaan) dan dia berhasrat untuk mendapatkannya maka urusannya akan diserahkan (disandarkan) kepada dirinya".

Dan tentunya apabila suatu urusan telah disandarkan kepada seorang hamba, berarti Allāh tidak memberikan taufīq kepadanya dan dia bertawakal (ditawakalkan) kepada dirinya sendiri.

Allāh menelantarkannya, Allāh tidak akan memberikan petunjuk kepada perkara-perkara yang baik bagi dirinya dan tidak akan memberikan pertolongan kepadanya.

Hal itu dikarenakan ketika dia meminta jabatan tersebut menandakan adanya dua perkara yang ada dalam dirinya

الحرص على الدنيا والرئاسة

_⑴ Menunjukkan adanya hasrat (keinginan) untuk mendapatkan kepentingan duniawi dan kepemimpinan kekuasaan._

Dimana hasrat tersebut akan membawa dia kepada keraguan atau diragukan di dalam menunaikan amanah dan juga akan membawa dia kepada perasaan lebih baik dibandingkan orang lain. Karena dia merasa bahwasanya jabatan itu adalah layak buat dia.

Demikian. Wallāhu Ta'āla A'lam

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
____

Kajian

IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH

🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah  Fī...

hits