Sabtu, 10 Oktober 2020

BAGAIMANA MENGOBATI PENYAKIT BAPER?

🌍 BimbinganIslam.com
Jumat, 22 Shafar 1442 H / 09 Oktober 2020 M
👤 Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc.
📒 Nasihat Singkat Bimbingan Islām
🔊 Audio 83 | Bagaimana Mengobati Penyakit Baper
🔄 Download Audio: bit.ly/NasihatSingkatBiAS-83
〰〰〰〰〰〰〰

*BAGAIMANA MENGOBATI PENYAKIT BAPER?*

Hadirin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Baper bukan gaya Nabi kita shallallāhu 'alayhi wa sallam!

Makanya salah satu akhlak mulia yang dijelaskan oleh Imam Ahmad adalah At-Taghāful (التغافل) tidak baperan (dalam bahasa kita), tidak sibuk dengan seluruh masalah atau seluruh ucapan orang.

Dan di antara dalīl para ulama adalah surat At-Tahrīm ayat 3.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

عَرَّفَ بَعۡضَهُۥ وَأَعۡرَضَ عَنۢ بَعۡضٖۖ

Ketika Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berbicara dengan istrinya dan beliau mengatakan ini off the record ya (ini rahasia) tiba-tiba pembicaraan tersebut dibocorin.

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberi tahu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bahwa pembicaraan tersebut telah dibocorkan, kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam memanggil dan menasehati istri beliau.

Dan menariknya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak membahas seluruh kesalahan istri beliau.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

عَرَّفَ بَعۡضَهُۥ وَأَعۡرَضَ عَنۢ بَعۡضٖۖ

Nabi hanya membahas sebagian kesalahan dan sebagian yang lain beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam lupakan, beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak baper.

Hasan Al-Bashri rahimahullāh di dalam tafsir Al-Qurthubi ketika membahas ayat di atas beliau mengatakan: 

"Orang-orang yang mulia tidak baper (tidak melibatkan perasaannya kepada semua masalah)."

Orang-orang mulia tahu kapan mereka harus fokus, dan kapan harus cuex.

Orang yang cerdas itu seperti apa sih? Apa kata Imam Syafi’i, kata beliau:

"Orang yang cerdas adalah orang yang otaknya encer dan tidak baperan"

Baper itu tidak bagus dan itu bukan style-nya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Katanya kita mengikuti sunnah Nabi?

Sunnah Nabi itu tidak baperan.

Dan itu yang dinasehati para ulama-ulama kita, apalagi kalau antum masuk ke dunia dakwah dan antum baperan, maka tidak bisa.

Dakwah itu hanya bisa digeluti oleh orang-orang yang berjiwa besar, karena arus bawahnya kuat, badainya juga kuat.

Tidak bisa !

Tidak boleh baper !

Wallāhu Ta'āla A'lam bish-shawāb.

____________________

Kamis, 08 Oktober 2020

PERINTAH MENJAUHI THĀGUTH

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 21 Shafar 1442 H / 08 Oktober 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc.
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 012: Perintah Menjauhi Thāghut
⬇ Download audio: bit.ly/UAS-K-Tauhid-012
〰〰〰〰〰〰〰

*PERINTAH MENJAUHI THĀGUTH*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه ولا حول ولاقوة إلا بالله
رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد نبيا و رسولاً
رب زدني علما وارزقني فهما

Ikhwāh wa Akhawātiy Fīllāh rahimakumullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kita.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنًا

_“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.”_

(QS Al Isrā': 23)

⇒ Qadhā' memiliki arti "kewajiban". 

Di sini seorang mukmin harus paham bahwasanya tatkala kita berbicara "Tuhanmu" maka yang dimaksud adalah Allāh Subhānahu wa Ta'āla (Rabbul Ālamīn).

Nabi Mūsā 'alayhissallām tatkala ditanya oleh Fir'aun, dimana Fir'aun berkata:

وَمَا رَبُّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

_"Siapa Tuhan semesta alam itu?"_

(QS Asy Syu'ārā: 23)

Maka Nabi Mūsā alayhissallām berkata:

رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَآۖ إِن كُنتُم مُّوقِنِينَ

_"Tuhan (pemilik) langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya (itulah Tuhanmu), jika kamu mempercayai-Nya."_

(QS. Asy Syu'ārā: 24)

Subhānallāh.

Perhatikan!

√ Bagaimanakah lemahnya manusia?
√ Bagaimanakah hinanya manusia?
√ Bagaimana lemah, dhaifnya manusia?

Manusia adalah lemah dan ingat yang menetapkan ini adalah Allāh dan Allāh menyebutkan:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ

_Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah menetapkan._

Apakah yang telah Allāh Subhānahu wa Ta'āla tetapkan?

أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ

_"Janganlah kalian menyembah, kecuali hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla."_

Maka ketika kita berbicara: وَقَضَىٰ رَبُّكَ, maka sesungguhnya Dialah (Allāh) telah mewasiatkan, menetapkan, mensyari'atkan, "Janganlah kalian menyembah kecuali kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

⇒ Di sini ada nafī' dan itsbat

Nafī' (peniadaan semua bentuk sesembahan), kecuali Allāh Subhānahu wa Ta'āla, Rabbul 'ālamīn. Dan setiap hari kita berkata, "Alhamdulillāhi Rabbil'ālamīn."

Begitu kita berbicara:

أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ,

Maka di sini seorang muslim harus paham bahwa Allāh adalah satu-satunya Dzat yang berhak untuk disembah.

Kita ingat dalam rangkaian firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ

_"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan."_

(QS. Al Fātihah: 5)

Kalimat: "Saya makan Roti."

√ "Saya" adalah subjek
√ "Makan" adalah predikat
√ "Roti" adalah objek (diletakkan dibelakang).

Tapi perhatikan bagaimanakah tatkala Allāh Subhānahu wa Ta'āla menetapkan pada firman Allāh ini, " Iyyāka (إِيَّاكَ)".

Subhānallāh.

⇒ Di sini Allāh Subhānahu wa Ta'āla mendahulukan objeknya.

Kalau dalam susunan bahasa Indonesia ada istilah SPO (subjek, predikat, objek).

√ Subjek adalah pelaku.
√ Predikat adalah perbuatannya.
√ Objek adalah apa yang dikenai, dalam bahasa Arab disebut maf'ulun bih.

Kata Iyyāka (إِيَّاكَ) di sini adalah maf'ulun bih (objeknya) dan didahulukan, menunjukkan (ditekankan) bahwa Dialah Allāh Subhānahu wa Ta'āla satu-satunya Dzat yang berhak untuk disembah.

Ikhwāh wa Akhawātiy Fīllāh rahimakumullāh.

Begitu kita berbicara,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ

Maka di sini seorang mukmin hendaknya memahami bahwasanya Dialah Allāh Subhānahu wa Ta'āla satu-satunya Dzat yang berhak untuk disembah.

Demikian semoga bermanfaat.

Apabila ada hal yang kurang berkenan mohon maaf yang sebesar-besarnya.

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_________________________

Rabu, 07 Oktober 2020

PERINTAH MENJAUHI THĀGHUT

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 20 Shafar 1442 H / 07 Oktober 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc.
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 011: Perintah Menjauhi Thāghut
⬇ Download audio: bit.ly/UAS-K-Tauhid-011
〰〰〰〰〰〰〰

*PERINTAH MENJAUHI THĀGHUT*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه ولا حول ولاقوة إلا بالله
رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد نبيا و رسولاً
رب زدني علما وارزقني فهما

Ikhwāh wa Akhawātiy Fīllāh rahimakumullāh.

Di zaman sekarang pun banyak orang yang terkadang berlebihan tatkala datang ke kuburan (ziarah kubur).

Boleh seseorang ziarah kubur, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bersabda:

كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزوروها فإنها ترق القلب ، وتدمع العين ، وتذكر الآخرة ، ولا تقولوا هجرا

_“Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat melembutkan hati, membuat air mata berlinang dan mengingatkan kalian akan akhirat. Namun jangan kalian mengatakan perkataan yang tidak layak (qaulul hujr) ketika berziarah.”_

(Hadīts riwayat Al Hākim no.1393, dishahīhkan Albāniy dalam Shahīh Al Jāmi’, 7584)

Hadīts ini menganjurkan untuk berziarah kubur, tetapi bagi mereka yang memiliki kebiasaan berziarah kubur secara rutin, khususnya wanita, maka Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam melarangnya.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan:

لَعَنَ اللَّه زَوَّارَات الْقُبُور

_"Allāh melaknat wanita yang sering berziarah kubur.”_

(Hadīts riwayat At Tirmidzī nomor 1056 Tirmidzī berkata: “Hadits ini hasan shahīh”)

Tatkala kita hendak ziarah kubur hendaknya kita berziarah kubur dengan benar, jangan sampai berlebihan apalagi sampai meminta kepada pemilik kubur.

Karena pemilik kubur, sesungguhnya dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Untuk dirinya sendiri saja tidak bisa apalagi untuk orang lain.

Maka untuk orang yang sudah meninggal dunia kewajiban bagi mereka yang masih hidup adalah mewudhū'kannya, memandikannya, mengkafaninya dan menyolatinya dan menguburkannya.

Karena sesungguhnya mereka (orang-orang yang sudah meninggal dunia) tidak bisa berbuat apa-apa.

Kata: الطّاغوت ( thāghūt) pada pembahasan yang lewat telah kita sampaikan juga (yaitu) para dukun yang kedatangan para jinn.

⇒ Para dukun, yang datang kepada mereka adalah para syaithān.

√ Para dukun ini "ketamonan" (kedatangan tamu), siapakah yang menjadi shahibul baitnya? Yaitu dukun.

√ Siapakah tamunya? Yaitu syaithān

⇒ Dan syaithān mencuri berita dari langit.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan salah satu tujuan menciptakan bintang.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَجَعَلْنَـٰهَا رُجُومًۭا لِّلشَّيَـٰطِين

_"Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar kepada syaithān."_

(QS Al Mulk: 5)

Maka seorang mukmin hendaknya paham bahwasanya dukun tatkala mereka membawakan suatu berita, berita tersebut diambil dari langit yang dicuri oleh syaithān.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan setiap kali ada berita kebenaran maka syaithān menghiasinya dengan seratus kedustaan.

Dan Allāh menyebutkan:

وَجَعَلْنَـٰهَا رُجُومًۭا لِّلشَّيَـٰطِين

_Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaithān (yang hendak mencuri berita dari langit)._

Bahkan jinn (mereka) mengatakan:

فَمَن يَسْتَمِعِ ٱلْـَٔانَ يَجِدْ لَهُۥ شِهَابًۭا رَّصَدًۭا

_"Barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).”_

(QS Al Jinn: 9)

Tentunya bisa jadi dua hal:

⑴ Jinn atau syaithān mencuri berita dari langit dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla kirimkan bintang yang sangat panas dan mereka terkena bintang tersebut sebelum mereka memindahkan berita kepada syaithān yang berada di bawahnya.

⑵ Bisa jadi syaithān terkena lemparan bintang, tapi sebelum lemparan bintang mengenainya dia telah berhasil menyampaikan berita kepada syaithān yang berada di bawahnya dan terakhir sampai kepada para dukun.

Tapi yang harus kita ingat, apabila ada berita kebenaran maka syaithān akan menghiasi dengan seratus kedustaan.

Sesungguhnya para jinn adalah para pendusta.

Ikhwāh wa Akhawātiy Fīllāh rahimakumullāh.

Pada pertemuan lalu telah kita sampaikan bahwasanya tatkala jinn (syaithān) mencuri berita dari langit mereka "punji-punjian" (saling menggendong satu sama lain) dari bawah sampai ke atas.

Demikian semoga bermanfaat.

Apabila ada hal yang kurang berkenan mohon maaf yang sebesar-besarnya.

نحتفظ بهذا القدر
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_________________________

Selasa, 06 Oktober 2020

PERINTAH MENJAUHI THAGUT

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 19 Shafar 1442 H / 06 Oktober 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc.
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 010: Perintah Menjauhi Thāghut
⬇ Download audio: bit.ly/UAS-K-Tauhid-010
〰〰〰〰〰〰〰

*PERINTAH MENJAUHI THAGUT*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه ولا حول ولاقوة إلا بالله
رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد نبيا و رسولاً
رب زدني علما وارزقني فهما

Ikhwāh wa Akhawātiy Fīllāh rahimakumullāh.

Syukur kita kehadirat Allāh atas nikmat dan karunia-Nya.

Kesempatan yang baik untuk bisa kembali pada Silsilah Tauhīd.

Nikmat dan karunia tersendiri tatkala kita diberi oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla suatu kesempatan untuk meng-Esa-kan Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan ini merupakan seruan para rasūl.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍۢ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَ ۖ

_Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasūl pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allāh (saja) dan jauhilah thāghūt itu."_

(QS An Nahl: 36)

Pada pembahasan yang lalu telah kita sampaikan beberapa arti terkait dengan pengertian thāghūt.

Di antaranya adalah:

كل ما عبد من دون الله

_"Segala sesuatu yang disembah selain Allāh Subhānahu wa Ta'āla."_

Thāghūt berasal dari kata thugyan atau taghā yang artinya "melewati batas".

Pada pembahasan yang lalu telah disampaikan salah satu di antara arti thāghūt yaitu al matbu’ (yang diikuti) Siapa saja yang diikuti, bisa jadi mereka adalah para tukang ramal, para tukang sihir, ulamā yang buruk.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّـى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

_Sesungguhnya Allāh tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allāh mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulamā, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain._

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri)

Thāghūt juga bisa memiliki arti alma’bud, sesuatu yang disembah, bisa juga al ashnām.

Dan Nabi Ibrāhīm alayhissallām berdo'a kepada Allāh:

وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ

_"Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah al ashnām (berhala-berhala)."_

(QS. Ibrāhīm: 35)

Al ashnām (ٱلْأَصْنَامَ) adalah jamak dari shānam (patung) dan tentunya patung yang berbentuk manusia atau hewan.

Adapun watsan, sesuatu yang disembah selain Allāh tetapi tidak berbentuk hewan atau manusia tetapi bisa jadi berupa pohon, kuburan, batu besar.

Maka Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan:

اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ

_”Yā Allāh ! Janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai watsan (berhala) yang disembah."_

Nabi tidak menyebutkan,

اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِي صنما يُعْبَدُ

_"Yā Allāh ! Janganlah Engkau jadikan kuburku shānam (patung) yang disembah."_

Tidak! Tapi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan ”Yā Allāh ! Janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala (watsan) yang disembah." Dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengkhawatirkannya.

Demikian semoga bermanfaat.

نحتفظ بهذا القدر

Apabila ada yang kurang berkenan mohon maaf yang sebesar-besarnya.

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_________________________

Senin, 05 Oktober 2020

PERINTAH MENJAUHI THAGUT

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 18 Shafar 1442 H / 05 Oktober 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc.
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 009: Perintah Menjauhi Thāghut
⬇ Download audio: bit.ly/UAS-K-Tauhid-009
〰〰〰〰〰〰〰

*PERINTAH MENJAUHI THAGUT*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه ولا حول ولاقوة إلا بالله
رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد نبيا و رسولاً
رب زدني علما وارزقني فهما

Sahabat BiAS yang kami muliakan.

Di dalam sebuah hadīts Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

_“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia telah kufur pada Al Qurān yang telah diturunkan pada Muhammad."_

(Hadīts riwayat Ahmad nomor 9532. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadīts ini hasan)

Dan barangsiapa mendatangi dukun (hanya coba-coba) untuk mengetes benar atau tidaknya perkataan dukun tersebut, maka shalāt orang tersebut selama 40 hari tidak akan diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Tadi kita katakan thāghūt bisa jadi kuhān, tukang sihir. Di dalam Al Qurān Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan:

وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِي ٱلۡعُقَدِ

_"Dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya).”_

(QS. Al Falaq:  4)

Kenapa di sini dikatakan: ٱلنَّفَّٰثَٰتِ (tukang sihir wanita)?

Ini menunjukkan tukang sihir wanita jumlahnya lebih banyak dibanding tukang sihir laki-laki.

Karena Allāh menyebutkan: وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ dan yang dimaksud dengan: ٱلنَّفَّٰثَٰتِ adalah wanita yang memiliki kebiasaan meniupkan pada buhul-buhulnya (simpul-simpulnya).

Sahabat BiAS yang kami muliakan.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan di dalam Al Qurān:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنً

_"Dan Tuhanmu telah mewasiatkan supaya kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya."_

(QS. Al Isrā': 23)

⇒ Qadhā' itu sifatnya bisa syar'i atau kauniy,

⑴ Qadhā' syar’i adalah suatu ketetapan yang bisa jadi terjadi dan bisa jadi tidak terjadi, akan tetapi apa yang ditetapkan tersebut adalah sesuatu yang dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Contoh:

√ Shalāt, (Allāh mencintai) shalāt merupakan ketetapan.

√ Seseorang mengeluarkan zakāt, zakāt adalah ketetapan.

√ Seseorang membaca Al Qurān, membaca Al Quraisy adalah ketetapan dan Allāh cintai dengannya.

⑵ Qadhā' kauniy, dan qadhā' kauniy ini mesti terjadi, bisa jadi Allāh cinta dan bisa jadi Allāh tidak mencintainya, dan itu mesti terjadi.

Contoh: Kufurnya Fir'aun. Fir'aun diciptakan dan ditetapkan menjadi fitnah bagi umat di zamannya dan umat-umat sesudahnya.

Sahabat BiAS yang kami muliakan.

Qadhā' kauniy sifatnya kerusakan dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak menyukainya, tetapi Allāh menetapkan dan mesti terjadi.

Contoh lain: Kufurnya iblīs mesti terjadi dan telah ditetapkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Sekalipun Allāh tidak suka tetapi Allāh menciptakannya sebagai ujian, karena sesungguhnya Allāh menyebutkan,

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

_"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."_

(QS. Al Mulk: 2)

Siapa yang dikatakan:

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

_"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."_

(QS. Ar Rum: 41)

Tentunya kita sebagai warga Indonesia belakang ini kita sedih karena banyaknya terjadi musibah yang menimpa saudara kita. 

Seperti; di Lombok terjadi gempa, di Palu terjadi gempa bahkan tsunami, di Jawa Barat (Banten) terjadi Tsunami juga, di Sukabumi terjadi tanah longsor, terjadi di Surabaya amblesnya tanah. Subhānallāh.

Semua ini terjadi karena manusia yang memiliki peran di dalamnya, kenapa ? Muncul kerusakan.

Pada zaman Umar bin Khaththāb radhiyallāhu ta'āla 'anhu pernah terjadi gempa, bahkan di zaman Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam di Madīnah pernah terjadi gempa.

Ketika di Madīnah terjadi gempa, apa yang dilakukan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam?

Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) meletakkan tangannya yang mulia ke muka bumi kemudian beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) mengatakan, "Tenanglah, sesungguhnya waktumu belum datang," kemudian setelah itu tidak terjadi gempa lagi. 

Sesudah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam wafat kemudian Abū Bakar Ash-Shiddīq yang memimpin, di zaman Abū Bakar tidak terjadi gempa, tetapi di zaman Umar bin Khaththāb radhiyallāhu ta'āla 'anhu, Madīnah diguncang dengan gempa.

Sesudah itu apakah yang dilakukan Umar?

Umar radhiyallāhu ta'āla 'anhu mengumpulkan penduduk Madīnah, kemudian beliau berkata, "Sungguh, jarak antara Nabi dengan kita belum lama."

Artinya Umar ingat akan sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, "Tenanglah, sesungguhnya waktumu belum datang,"kemudian Umar bin Khaththāb memberikan ancaman kepada penduduk Madīnah.

Dan Umar berkata, "Sekiranya, sesudah ini terjadi gempa lagi, niscaya aku akan tinggalkan kalian."

Umar bin Khaththāb adalah orang yang terbaik di waktu itu dan penduduk Madīnah khawatir jika ditinggal oleh orang yang terbaik (Umar bin Khaththāb), setelah itu kaum muslimin tenang dan tidak terjadi maksiat lagi.

Musibah itu datang karena banyaknya maksiat yang terjadi.

Demikian kajian kita pada kesempatan kali ini, kalau ada yang kurang berkenan mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Terima kasih kami ucapkan kepada sahahat BiAS semoga lain waktu kita bisa bersua kembali.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

__________________________________

Jumat, 02 Oktober 2020

Bekal Kematian

🌍 BimbinganIslam.com
Jumat, 15 Shafar 1442 H / 02 Oktober 2020 M
👤 Ustadz Abdurrahman Al-Atsary -rahimahullah-
📒 Nasihat Singkat Bimbingan Islam
🔊 Audio 82 | Bekal Kematian
🔄 Download Audio: bit.ly/NasihatSingkatBiAS-82
〰〰〰〰〰〰〰

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________

Kamis, 01 Oktober 2020

PERINTAH MENJAUHI THĀGHUT

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 14 Shafar 1442 H / 01 Oktober 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc.
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqah 008: Perintah Menjauhi Thāghut
⬇ Download audio: bit.ly/UAS-K-Tauhid-008
〰〰〰〰〰〰〰

*PERINTAH MENJAUHI THĀGHUT*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه ولا حول ولاقوة إلا بالله
رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد نبيا و رسولاً
رب زدني علما وارزقني فهما

Sahabat BiAS yang kami muliakan.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan:

 أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَ

"Sembahlah Allāh (saja) dan jauhilah Thāghūt itu."

(QS. Al Nahl: 36)

Begitu seseorang berbicara (menjauh) maka di sinilah seorang mukmin harus paham bahwasanya di dalam agama ini, ada dua hal dan tidak ada pilihan ketiga.

√ Halal dan haram.
√ Larangan dan perintah.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

أَيَحْسَبُ ٱلْإِنسَـٰنُ أَن يُتْرَكَ سُدًى

"Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban) ?"

(QS. Al Qiyāmah: 36)

Imam Asy-Syāfi'i rahimahullāh, beliau mengomentari firman Allāh di atas.

Beliau berkata: "Apakah dia tidak diperintah dan tidak dilarang? "

Tidak! Kehidupan ini, kalau tidak ada larangan berarti terdapat perintah, bila tidak ada perintah berarti ada larangan, di balik semua larangan terkandung manfaat di dalamnya, begitu pula di balik perintah pastinya ada maslahah di dalamnya.

Maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengatakan di sini, وَٱجْتَنِبُوا۟. Yang pertama أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ, Ini adalah perintah, “Sembahlah Allāh !, berikutnya datanglah larangan.

Apa larangannya?

Larangannya وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَ dan jauhilah thāghūt.

⇒ Yang dimaksud thāghūt adalah segala sesuatu yang disembah selain Allāh.

Dikatakan di antara arti thāghūt adalah apa yang diikuti, orang yang diikuti bisa jadi al kuhān.

Ada seorang alim memberikan penjelasan yang dimaksud thāghūt adalah para dukun yang didatangi oleh para syaithān.

Sahabat BiAS yang kami muliakan.

Sesungguhnya para dukun itu memiliki pasukan, pasukannya adalah para syaithān, para jinn, mereka selalu berusaha mencari berita dari langit.

Dikatakan mereka adalah para jinn yang senantiasa gendong-gendongan sampai langit untuk mencuri berita, begitu dia berhasil mendapatkan berita, maka dia akan memberikan berita tersebut kepada jinn dibawahnya lalu sampailah pada jinn yang terakhir dan jinn yang terakhir akan menyampaikan kepada dukun.

Dan Allāh menyebutkan di dalam Al Qurān sehingga salah satu yang disebutkan di dalam Al Qurān.

Jinn berkata,

وَأَنَّا كُنَّا نَقۡعُدُ مِنۡهَا مَقَٰعِدَ لِلسَّمۡعِۖ فَمَن يَسۡتَمِعِ ٱلۡأٓنَ يَجِدۡ لَهُۥ شِهَابٗا رَّصَدٗا

"Dan sesungguhnya kami (jinn) dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mencuri dengar (berita-beritanya). Tetapi sekarang siapa (mencoba) mencuri dengar (seperti itu) pasti akan menjumpai panah-panah api yang mengintai (untuk membakarnya).”

(QS. Al Jinn: 9)

⇒ Dan di sinilah salah satu manfaat bintang

Kenapa Allāh menciptakan bintang?

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan,

وَلَقَدْ زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنْيَا بِمَصَـٰبِيحَ وَجَعَلْنَـٰهَا رُجُومًۭا لِّلشَّيَـٰطِينِ ۖ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ ٱلسَّعِيرِ

"Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaithān dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala."

(QS. Al Mulk: 5)

Ada dua kemungkinan:

⑴ Tatkala jinn atau syaithān mencuri berita dari langit, maka Allāh melemparkan bintang dengan bintang tersebut terlempar maka jinn akan kena, sehingga gagallah berita yang akan tersebar di muka bumi.

Kenapa gagal?

Karena sebelum jinn menyampaikan berita kepada yang ada di bawahnya,  jinn tersebut telah terkena lemparan bintang.

⑵ Bisa jadi lemparan tersebut tidak kena, bisa saja Allāh memerintahkan malāikat melempar bintang kepada para pencuri (jinn) yang hendak mengambil berita dari langit.

Dalam artian dia kena tetapi sebelum dia kena, jinn di atasnya sudah mampu menyampaikan berita kepada jinn yang ada di bawahnya.

Sehingga terkadang (maaf) berita yang datang dari dukun itu benar, tapi ingat bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda,

"Jika ada suatu berita kebenaran maka syaithān menghiasinya dengan seratus berita kedustaan."

Maka berita yang datang dari dukun itu tidak benar, jika ada yang benarpun, maka tidak ada 1 persennya.

Demikian kajian kita pada kesempatan kali ini, ada yang kurang berkenan mohon maaf yang sebesar-besarnya, terima kasih kami ucapkan kepada sahahat BiAS semoga lain waktu kita bisa bersua kembali.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

__________________________________

Kajian

IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH

🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah  Fī...

hits