Sabtu, 20 Januari 2018

Bab 07 |Pembangunan Ka'bah Dan Awal Diturunkan Wahyu (Bag. 1 dari 12)

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 24 Rabi’ul Akhir 1439 H / 11 Januari 2018 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
📗 Sirah Nabawiyyah
📖 Bab 07 |Pembangunan Ka'bah Dan Awal Diturunkan Wahyu (Bag. 1 dari 12)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-0701
~~~~~~~~~~~~~~~

*PEMBANGUNAN KA'BAH DAN AWAL DITURUNKANNYA WAHYU, BAGIAN 01 DARI 12*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Kita lanjutkan pembahasan kita tentang sirah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan kita masuk pada pembahasan tentang "Pembangunan Ka'bah".

Al Hāfizh Ibnu Hajar rahimahullāh Ta'āla menyebutkan dan demikian pula disebutkan oleh 'Abdurrazzaq, Al Hākim dan Ath Thabrāniy suatu riwayat bahwasanya:

"Ka'bah di zaman Jāhilīyyah dibangun di atas batu-batu tanpa ada semacam semen yang melekatkan batu-batu tersebut."

Jadi, hanya berupa batu-batu yang disusun dan tidak terlalu tinggi.

Disebutkan oleh ahli sejarah bahwa Ka'bah pertama kali memiliki tinggi hanya sekitar 9 hasta (sekitar 4 atau 4.5 meter). Tidak ada dinding yang mengkokohkan ka’bah.

Pintu Ka'bah juga tidak tinggi, hanya sampai ke bawah sehingga apabila hujan bisa merusak pondasi batu-batu Ka'bah. Akhirnya orang-orang Quraisy bermaksud memperbaiki Ka'bah.

Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa di zaman jāhilīyyah atau di zaman 'Abdullāh bin Zubair, Allāhu A'lam, disebutkan pernah terjadi kebakaran hebat.

Ada seorang wanita yang sedang thawāf di Ka'bah dengan membawa gaharu yang dibakar. Kemudian bunga apinya mengenai kiswah Ka'bah sehingga akhirnya membakar sebagaian Ka'bah hingga tampak rusak.

Tak lama kemudian Ka’bah diterjang banjir yang semakin membuat parah kondisinya.

Akhirnya orang-orang Quraisy bersepakat untuk memperbaiki Ka'bah.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ikut turut serta dalam perbaikan Ka'bah tersebut. Saat itu usia beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam 35 tahun, yaitu 5 tahun sebelum Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam diangkat menjadi seorang Nabi.

Ketika itu, tidak ada yang berani memugar Ka'bah dengan cara membongkarnya, karena sekitar 35 tahun yang lalu telah terjadi peristiwa dihancurkannya tentara bergajah yang hendak merusak Ka’bah.

Oleh karenanya orang-orang Quraisy tidak ada yang berani dan takut ditimpa apa yang telah menimpa Abrahah 35 tahun yang lalu.

Namun, ada salah seorang diantara mereka yang bernama Al Walīd Ibnul Mughīrah. Dia nekat untuk membongkar Ka'bah.

Dia berkata kepada orang-orang Quraisy:

أَتُرِيدُونَ بِهَدْمِهَا الإِصْلاحَ ، أَمِ الإِسَاءَةَ ؟ قَالُوا : بَلْ نُرِيدُ الإِصْلاحَ . قَالَ : فَإِنَّ اللَّهَ لا يُهْلِكُ الْمُصْلِحِينَ

_"Kalian ingin menghancurkan Ka'bah ini untuk memperbaiki atau memperburuk Ka'bah?"_

_Jawab mereka: "Kami ingin memperbaiki Ka'bah."_

_Kalau begitu Allāh tidak akan menghancurkan orang-orang yang berbuat baik._

Akhirnya dia mulai mengambil cangkulnya dan membongkar Ka'bah sedikit demi sedikit. Malam itu tidak ada seorang pun yang berani mengikuti dirinya membongkar Ka'bah.

Orang-orang menunggu dan menanti apa yang akan terjadi pada malam hari, khawatir Mughirah terkena adzab sebagaimana yang menimpa Abrahah.

Maka mereka menunggu malam tersebut untuk mengetahui apa yang terjadi pada Al Walīd ibnul Mughīrah.

Mereka berkata:

فإن أصيب لم نهدم منها شيئا

_"Kalau dia ditimpa sesuatu musibah, kita tidak akan membongkar Ka'bah sama sekali."_

Ternyata di pagi hari, Mughirah dalam keadaan sehat wal 'āfiyat. Mughirah kembali melanjutkan membongkar Ka'bah dan akhirnya orang-orang pun ikut membantunya membongkar Ka'bah.

Mereka pun membongkar Ka'bah seluruhnya sampai pondasi Ibrāhīm 'alayhissalām.

Mereka gantikan semua batu Ka'bah, kecuali batu Hajar Aswad, dengan batu yang baru.

Setelah itu mereka bersepakat, bahwa mereka tidak akan memasukkan ke dalam Ka'bah kecuali dari hasil yang baik, tidak ada dari hasil zina, riba dan perbuaran buruk lainnya.

Mereka mengatakan:

لا يدخل فيها مهر بغي ولا بيع ربا ، ولا مظلمة أحد من الناس

_"Tidak boleh masuk ke dalamnya dari hasil zina, hasil jual beli riba dan tidak boleh ada hasil kezhāliman terhadap orang lain."_

Disebutkan dalam hadīts yang shahīh bahwasanya ketika itu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam turut membantu memperbaiki Ka'bah ditemani oleh pamannya 'Abbas bin 'Abdul Muththalib. Mereka bekerja bergantian.

Suatu hari, saat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersama pamannya bekerja memperbaiki Ka'bah, saat itu matahari sangat terik sehingga menyebabkan batu-batu tersebut terasa panas. Apabila batu itu dipanggul dan diletakkan di atas pundak, maka akan terasa sakit.

Al 'Abbas pun memberi ide kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, dia mengatakan:

اجعل إزارك على رقبتك يقيك من الحجارة 

_"Letakkan sarungmu di pundakmu kemudian angkat batu di atas pundakmu itu."_

Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengikuti usulan pamannya.

Namun ketika hendak mengangkat sarungnya, beliau pingsan dalam keadaan matanya memandang ke langit.

Setelah sadar, Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:

"إزاري إزاري"

_"Sarungku sarungku."_

Hal ini disebutkan oleh para ulamā bahwa Allāh hendak menjaga Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Allāh enggan jika Nabi-Nya shallallāhu 'alayhi wa sallam mengangkat sarungnya sehingga akan terlihat auratnya.

Karena itu, Allāh menjaga Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam melakukan hal ini.

Padahal di zaman jāhilīyyah, terbukanya pakaian atau telanjang, bukanlah perkara yang terlalu diingkari. Karena, orang-orang Arab jāhilīyyah dulu ketika thawāf di Ka'bah, mereka dalam keadaan telanjang bulat.

Hal ini terus berlangsung, bahkan berlanjut sampai Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sudah menjadi Nabi, mereka masih thawāf di Ka'bah dengan telanjang bulat.

Sampai akhirnya pada tahun ke-9 Hijriyyah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengutus Abū Bakr radhiyallāhu Ta'āla 'anhu untuk berhaji dan mengumumkan kepada seluruh orang bahwa:

ألا لا يحج بعد العام مشرك ولا يطوف بالبيت عريان 

_"Ketahuilah, setelah tahun ini tidak boleh ada orang musyrik yang berhaji dan tidak boleh thawāf telanjang di Ka'bah."_

Apa alasan kaum musyrikin thawāf dengan cara bertelanjang?

Karena mereka merasa baju yang mereka gunakan adalah baju yang biasa digunakan untuk maksiat, sehingga mereka malu untuk thawāf mengenakan baju tersebut.

Akhirnya mereka pun melakukan bid'ah yang mereka buat-buat.

Mereka beranggapan lebih baik menanggalkan bajunya agar merasa suci dari maksiat lalu melakukan thawāf dengan telanjang.

Karena itu, tidaklah heran apabila Al 'Abbas menyarankan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk mengangkat sarung beliau.

Namun, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam akan melakukannya, akan tetapi Allāh enggan dan Allāh jaga beliau agar tidak tersingkap auratnya, meskipun beliau belum jadi Nabi saat itu.

Maka Allāh menjadikan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pingsan.

Demikianlah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ikut serta dalam pembangunan Ka'bah.

Sampai disini saja kajian kita, In syā Allāh besok kita lanjutkan.

Yang benar datangnya dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang salah dari pribadi saya sendiri, semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengampuni kita semua.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
-----------------------------------------

Bab 06 | Halful Fudhūl Dan Pernikahan Dengan Khadijah (Bag. 8 dari 8)

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 23 Rabi’ul Akhir 1439 H / 10 Januari 2018 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
📗 Sirah Nabawiyyah
📖 Bab 06 | Halful Fudhūl Dan Pernikahan Dengan Khadijah (Bag. 8 dari 8)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-0608
~~~~~~~~~~~~~~~

*PERISTIWA HALFUL FUDHŪL  DAN PERNIKAHAN DENGAN KHADIJAH, BAGIAN 08 DARI 08*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Alhamdulillāh, Allāh Subhānahu wa Ta'āla masih memberikan kita kesempatan untuk bersua kembali dalam rangka untuk mempelajari perjalanan sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

In syā Allāh, kita akan membahas poin tentang pernikahan antara Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan sayyidah Khadījah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā.

Oleh karenanya, ketika Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pertama kali dapat wahyu dari malāikat Jibrīl, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam saat itu ketakutan luar biasa.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam turun dari gua Hira kemudian lari kepada Khadījah, pulang ke rumahnya.

Dalam keadaan gemetar, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:

خشيت على نفسي 

_"Saya khawatir sesuatu menimpa diriku."_

Maka Khadījah berusaha menenangkan suaminya dengan mengatakan:

فَوَاللهِ لاَ يُخْزِيْكَ اللهُ أَبَدًا فَوَاللهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمِ وَتَصْدُقُ الْحَدِيْثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُوْمَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِيْنُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

_"Demi Allāh, sesungguhnya Allāh selamanya tidak akan pernah menghinakanmu. Demi Allāh sungguh engkau telah menyambung tali silaturahmi, jujur dalam berkata, membantu orang yang tidak bisa mandiri, engkau menolong orang miskin, memuliakan (menjamu) tamu, dan menolong orang-orang yang terkena musibah."_

(HR Al Bukhāri I/4 nomor 3 dan Muslim I/139 nomor 160)

Khadījah selalu menguatkan dakwah suaminya, tidak pernah melemahkan sedikitpun bahkan mendorong suaminya untuk berdakwah.

Tidak seperti sebagian wanita yang mengatakan:

"Sudahlah, jangan dakwah terus, capek."

Oleh karenanya para ulamā menyebutkan diantara perkara yang menakjubkan yaitu Khadījah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā tidak pernah merasakan kelezatan hidup saat Islām jaya.

Beliau meninggal sebelum Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memperoleh kemenangan-kemanangan.

Khadījah meninggal 3 hari sebelum Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berhijrah, masa-masa dimana Islām ditekan, para shahābat dibunuh dan diintimidasi oleh orang-orang kāfir Quraisy.

Khadījah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā ditinggalkan oleh teman-temannya.

Wanita-wanita Quraisy tidak ingin berteman dengan Khadījah karena dia mengikuti suaminya.

Ini bukan perkara yang ringan bagi seorang wanita.

Menurut para ulamā, Allāh ingin menyimpan seluruh pahala Khadījah, tidak diberikan di dunia tetapi diberikan seluruhnya di akhirat.

(4) Diantara keutamaan Khadījah adalah beliau adalah wanita yang pertama kali masuk Islām, bahkan orang yang pertama kali masuk Islām.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها و أجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيئ

_"Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang hasanah (baik) dalam Islām maka baginya pahala dari perbuatannya itu dan pahala dari orang yang melakukannya sesudahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun."_

(Ditakhrij oleh Muslim, nomor  1017)

Dari Abū Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallāhu 'anhu, ia berkata bahwa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

_"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya."_

(HR. Muslim nomor 1893)

Maka seluruh orang yang masuk Islām karena mengikuti Khadījah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā, karena beliau yang pertama kali mencontohkan, maka seluruh pahalanya juga mengalir kepada Khadījah.

Ibnu Hajar rahimahullāh mengatakan, kita tidak tahu bagaimana tingginya kedudukan Khadījah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā.

Manusia lain yang semisal dengan Khadījah adalah Abū Bakr radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, dia adalah lelaki dewasa yang pertama kali masuk Islām. Maka seluruh lelaki dewasa yang masuk Islām maka pahalanya juga mengalir kepada Abū Bakr radhiyallāhu Ta'āla 'anhu.

Ada satu kisah yang penting untuk disampaikan di akhir bab ini, yaitu kisah yang menceritakan tentang hal yang mengingatkan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada Khadījah.

Tepatnya peristiwa ini terjadi saat perang Badr. 

Suatu waktu, suami dari Zainab, yaitu Abul 'Āsh (yang masih musyrik) bersama pasukan kāfir memerangi mertuanya yaitu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Dalam perang ini orang-orang musyrikin mengalami kekalahan dan banyak yang ditawan. Diantara yang ditawan saat itu adalah Abul 'Āsh.

Zainab sendiri telah masuk Islām dan berada di Mekkah. Tatkala itu tawanan tidak bisa dibebaskan kecuali ditebus dengan harta yang banyak.

Zainab radhiyallāhu Ta'āla 'anhā ketika mengetahui suaminya ditawan oleh bapaknya, maka dia melepaskan kalung yang melingkar di lehernya.

Kalung ini Zainab pakai tatkala malam pertama bertemu dengan Abul 'Āsh, dan yang memasangkan kalung tersebut adalah ibunya, Khadījah.

Demikianlah semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberi balasan yang setinggi-tingginya kepada Khadījah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā yang telah banyak berjasa sehingga tersebarnya Islām yang didakwahkan oleh suaminya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Demikian yang bisa disampaikan, In syā Allāh besok kita lanjutkan pada pembahasan selanjutnya.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
-------------------------------------

Bab 06 | Halful Fudhūl Dan Pernikahan Dengan Khadijah (Bag. 7 dari 8)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 22 Rabi’ul Akhir 1439 H / 09 Januari 2018 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
📗 Sirah Nabawiyyah
📖 Bab 06 | Halful Fudhūl Dan Pernikahan Dengan Khadijah (Bag. 7 dari 8)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-0607
~~~~~~~~~~~~~~~

*PERISTIWA HALFUL FUDHŪL  DAN PERNIKAHAN DENGAN KHADIJAH, BAGIAN 07 DARI 08*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Alhamdulillāh, Allāh Subhānahu wa Ta'āla masih memberikan kita kesempatan untuk bersua kembali dalam rangka untuk mempelajari perjalanan sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

In syā Allāh, kita akan membahas poin tentang pernikahan antara Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan sayyidah Khadījah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā.

Kata Imām An Nawawiy tentang perkataan, "Aku di anugerahi rasa cinta kepada Khadījah," adalah dalīl bahwasanya cinta kepada Khadījah merupakan kemuliaan yang Allāh anugerahkan kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Wanita, kalau sudah cemburu maka dia akan melakukan hal yang tidak dia sadari dan diluar akal sehat.

Dan lelaki yang baik adalah tidak marah kepada istrinya yang berbuat kesalahan karena cemburu.

Bagaimana suami marah terhadap perilaku istri yang menunjukkan cintanya kepadanya?

Maka 'Āisyah pun cemburu dengan mengatakan perkataan yang keliru dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam membela Khadījah.

Inilah, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, sangat mencintai Khadījah.

(3) Allah pun mengirim salam kepada Khadījah dan Khadījah dijanjikan istana di surga yang terbuat dari emas dan perak, sebagaimana hadīts yang diriwayatkan oleh Al Imām Muslim dalam shahīhnya:

عَنْه أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ أَتَى جِبْرِيلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْكَ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا عَزَّ وَجَلَّ وَمِنِّي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ فِي رِوَايَتِهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَلَمْ يَقُلْ سَمِعْتُ وَلَمْ يَقُلْ فِي الْحَدِيثِ وَمِنِّي

_Dari Abū Hurairah berkata: Pada suatu ketika Jibrīl pernah datang kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sambil berkata:_

_"Yā Rasūlullāh, ini dia Khadījah. Ia datang kepada engkau dengan membawa wadah berisi lauk pauk (baik itu makanan ataupun minuman)."_

_"Apabila ia datang kepada engkau, maka sampaikanlah salam dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan dariku kepadanya. Selain itu, beritahukan pula kepadanya bahwa rumahnya di surga terbuat dari emas dan perak, yang di sana tidak ada kebisingan dan kepayahan di dalamnya."_

Hadīts Anas bin Mālik ketika Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata kepada Ubay bin Ka'ab.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

وعن أنس قال : قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - لأبي بن كعب : " إن الله أمرني أن أقرأ عليك القرآن " قال : آلله سماني لك ؟ قال : " نعم " قال : وقد ذكرت عند رب العالمين ؟ قال : " نعم " فذرفت عيناه . متفق عليه

_"Wahai Ubay bin Ka'ab, Allāh memerintahkan kepadaku untuk mrmbacakan Al Qurān kepadamu."_

_Maka Ubay bin Ka'ab berkata:_

_"Allāh sebut nama saya kepada engkau?"_

_Kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam: "Iya."_

_Berkata Ubay bin Ka'ab:_

_"Aku disebut oleh pencipta alam semesta ini?"_

_Berkata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam: "Iya."_

_Maka Ubay bin Ka'ab pun menangis bahagia._

(Muttafaqun 'alayhi)

Para ulamā menyebutkan kenapa istana Khadījah disebutkan tidak ada kegaduhan dan hiruk pikuk karena Khadījah selama 25 tahun hidup bersama Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak pernah berteriak kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan kepada anak-anaknya, maka Allāh balas dengan surga yang tenang.

Apakah ada wanita sekarang tidak pernah angkat suaranya kepada suaminya?

Khadījah juga tidak pernah mengeluhkan keletihan karena Khadījah telah berletih-letih membelanjakan hartanya seluruhnya untuk dakwah Nabi dan letih mengurus anak-anaknya agar Nabi bisa konsentrasi berdakwah.

Inilah Khadījah radhiyallāhu 'anhā.

Tidak ada istri yang bisa menemani Nabi di awal dakwah kecuali istri yang luar biasa ini.

Allāh pilihkan wanita istimewa ini bagi Nabi, yang akan menemani Nabi di kalah beliau butuh teman perjuangan, butuh wanita yang mampu menenangkan hatinya saat hatinya gundah gulana.

Demikian yang bisa disampaikan, In syā Allāh besok kita lanjutkan pada pembahasan selanjutnya.

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
-------------------------------------

Bab 06 | Halful Fudhūl Dan Pernikahan Dengan Khadijah (Bag. 6 dari 8)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 21 Rabi’ul Akhir 1439 H / 08 Januari 2018 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
📗 Sirah Nabawiyyah
📖 Bab 06 | Halful Fudhūl Dan Pernikahan Dengan Khadijah (Bag. 6 dari 8)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-0606
~~~~~~~~~~~~~~~

*PERISTIWA HALFUL FUDHŪL DAN PERNIKAHAN DENGAN KHADIJAH, BAGIAN 06 DARI 08*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Alhamdulillāh, Allāh Subhānahu wa Ta'āla masih memberikan kita kesempatan untuk bersua kembali dalam rangka untuk mempelajari perjalanan sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

In syā Allāh, kita akan membahas poin tentang pernikahan antara Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan sayyidah Khadījah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā.

Khadījah radhiyallāhu 'anhā memiliki banyak sekali keutamaan, diantaranya :

⑴ Dalam hadīts disebutkan, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

خير نساء العالمين أربع: مريم بنت عمران، و خديجة بنت خويلد، وفاطمة بنت محمد، وآسية امرأة فرعون

_"Sebaik-baik wanita di alam semesta itu ada empat orang, yaitu Maryam putri 'Imrān, Khadījah binti Khuwailid, Fāthimah bintu Muhammad, Āsiyah istri Fir’aun."_

(HR Bukhāri dan Muslim)

⇒Menurut para ulamā adalah yang terbaik di zamannya.

Tentang Maryam bintu 'Imrān Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَإِذْ قَالَتِ الْمَلائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاءِ الْعَالَمِينَ (٤٢)

_Dan (ingatlah) ketika malaikat berkata: "Wahai Maryam! Sesungguhnya Allāh telah memilihmu dan menyucikanmu dan melebihkanmu di atas segala wanita di dunia."_

(QS Āli 'Imrān: 42)

Tentang 'Āisyah juga disebutkan dalam hadīts:

وإن فضل عائشة على النساء كفضل الثريد على سائر الطعام. (رواه البخاري ومسلم)

_"Dan sesungguhnya keutamaan 'Āisyah atas wanita-wanita seperti keutamaan tsarīd (roti yang diremuk dan direndam di dalam kuah) atas seluruh makanan."_

(Diriwayatkan oleh Al Bukhāri dan Muslim dari Abū Mūsā)

⇒Tsarīd adalah makanan yang dikenal di zaman Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sebagai makanan yang lezat yang ada daging dan kuahnya dan makanan favorit.

Kata para ulamā, ini adalah dalīl bahwa 'Āisyah merupakan wanita terbaik di zamannya.

⑵ Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sering mengingat Khadījah walaupun Khadījah sudah meninggal dunia.

Ini menunjukkan betapa cintanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada Khadījah, yang selama 25 tahun hidup bersama Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Dan Nabi saat itu tidak berpoligami, diantara alasannya adalah karena Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam sangat cinta kepada Khadījah, dan tidak ingin menyinggung hati Khadījah radhiyallāhu 'anhā.

Setelah Khadījah meninggal lalu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menikah lagi dan baru berpoligami.

Ini merupakan bantahan kepada orang-orang orientalis barat yang mengatakan bahwa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam seorang yang mengikuti syahwat (syahwaniy), ini tidak benar!

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pun tidak poligami selama 25 tahun.

Dan meskipun poligami, wanita yang dinikahi rata-rata sudah tua dan janda kecuali hanya satu yang masih gadis yaitu 'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā, itupun karena perintah Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menikahi 'Āisyah karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mimpi didatangi oleh malāikat Jibrīl 2 kali atau 3 kali membawa gambar 'Āisyah dan Jibrīl mengatakan kepada Nabi:

أَنَّ جِبْرِيلَ جَاءَ بِصُورَتِهَا فِي خِرْقَةِ حَرِيرٍ خَضْرَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ هَذِهِ زَوْجَتُكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

_Bahwasannya Jibrīl datang kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam  bersama gambar 'Āisyah dalam secarik kain sutera hijau, lalu berkata:_

_"Sesungguhnya ini adalah isterimu di dunia dan akhirat."_

(Jāmi’ At Tirmidziy nomor 3880)

⇒Kita tahu bahwa mimpi para Nabi adalah wahyu Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Pada asalnya istri Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam semua adalah janda.

Jikalau Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengikuti hawa nafsu belaka niscaya beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam akan menikahi gadis perawan.

Akan tetapi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berpoligami karena ada mashlahat di dalamnya.

Diantara dalīl Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sering mengingat Khadījah adalah hadīts 'Āisyah :

عَنْ عائشة، قالت: ما غرت على امرأة من نساء النبي صلى الله عليه وآله الا على خديجة، واني لم أدركها، قالت: وكان رسول الله صلى الله عليه وآله إذا ذبح الشاة يقول: أرسلوا بها الى أصدقاء خديجة، قالت: فأغضبت يوما فقلت: خديجة ؟ قال: اني قد رزقت حبها

_Suatu ketika 'Āisyah radhiyallāhu 'anhā berkata:_

_"Tidaklah aku lebih cemburu kepada istri-istri Nabi kecuali kepada Khadījah, meskipun aku belum pernah bertemu dengannya.”_

_'Āisyah pun menceritakan ketika Nabi menyembelih seekor kambing, Nabi pun berkata:_

_“Berikanlah sebagian sembelihan ini kepada teman-temannya Khadījah.”_

_Maka aku pun kesal dan berkata:_

_“Khadījah lagi!?”_

_Nabi lalu menjawab:_

_“Sesungguhnya aku diberikan anugerah yang lebih untuk mencintai Khadījah.”_

(HR. Muslim)

Ini adalah diantara bentuk inshafnya (obyektifnya) 'Āisyah, walaupun beliau melakukan beberapa kesalahan (yaitu merasa kesal) namun beliau tetap meriwayatkannya, tidak beliau sembunyikan kesalahannya karena di dalamnya terdapat ilmu.

Tidak seperti orang-orang syi'ah yang mencaci maki 'Āisyah, kata mereka 'Āisyah itu lisannya kotor.

Kita katakan, "Tidak", namun lisan orang-orang syiah itu sendirilah yang kotor.

Dalam riwayat lain, 'Āisyah pernah membicarakan salah seorang istri Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yaitu Shafiyyah.

Kata 'Āisyah: "Shafiyyah adalah wanita yang pendek."

Lalu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam marah. Kalau seandainya kesalahan 'Āisyah adalah masalah duniawi maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak marah dan mengalah. Akan tetapi kalau kesalahan 'Āisyah sudah sampai derajat ghībah dan menyangkut masalah agama maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menegur dengan berkata:

_"Wahai 'Āisyah, kau telah mengucapkan sesuatu yang buruk, kau mengghībah Shafiyyah. Kalau seandainya ucapan kotor ini dicampur dengan air laut maka akan merubah air laut tersebut."_

Jika kita perhatikan, hadīts ini diriwayatkan oleh 'Āisyah sendiri dan beliau sampaikan apa adanya.

⇒Ini menunjukkan bagaimana inshafnya beliau.

Sungguh mencela dan mencaci ibunda 'Āisyah sebagaimana tuduhan kaum syiah, bahwa 'Āisyah itu bermulut kotor adalah ucapan yang keji.

Bagaimana kita mencaci 'Āisyah sementara:

- 'Āisyah adalah kekasih yang sangat dicintai oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

- Yang Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam wafat di pangkuan 'Āisyah radhiyallāhu 'anhā.

- Yang Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dikuburkan di rumah 'Āisyah radhiyallāhu 'anhā.

Hadīts ini adalah sekedar isyarat yang menunjukkan bahwa 'Āisyah itu sebagaimana wanita lainnya, yaitu bersifat pencemburu.

Suatu hal yang wajar apabila seorang istri cemburu dengan wanita lain.

Khadījah bukanlah istri biasa, beliau memiliki peran dalam perkembangan Islam.

Bagaimana beliau berkorban dengan segala hal, termasuk harta untuk mendukung dakwah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Karena itu tidak heran jika Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam membanggakan kecintaan Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada Khadījah dengan mengatakan:

"Aku telah di anugerahi Allāh untuk cinta kepada Khadījah."

Demikian yang bisa disampaikan, In syā Allāh besok kita lanjutkan pada pembahasan selanjutnya.

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
-------------------------------------

Matan Abu Syuja' | Kitab Shālat Kajian 29 | Pendahuluan

🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 18 Rabi’ul Akhir 1439 H / 05 Januari 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A.
📗 Matan Abu Syuja' | Kitab Shālat
🔊 Kajian 29 | Pendahuluan
➖➖➖➖➖➖➖

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و بعد

Para Sahabat Bimbingan Islam yang dirahmati Allāh Ta'āla,

Pada halaqah yang ke-29 ini kita akan memasuki pembahasan di dalam Kitāb Shalāh Matan Abū Syujā'.

Sebelum kita memasuki pembahasan masalah fiqh shalāt, maka sedikit kita akan mengingatkan tentang agungnya ibadah shalat, pentingnya shalat dalam kehidupan seorang Muslim.

Bahkan shalāt dikatakan sebagai tiangnya agama, yang apabila tiang itu hilang (hancur) maka hancurlah agama seseorang. Dikatakan bahwa perbedaan antara seorang Muslim dengan seorang Non-Muslim (kāfir) adalah shalāt.

Dan dikatakan juga bahwasanya shalāt adalah yang pertama kali akan ditanya kelak di Hari Akhirat.

Para ikhwah sekalian dan akhwāt fillāh,

Oleh karena itu, bahwasanya amalan seseorang dinilai dari shalatnya.

Pada pembahasan kali ini kita akan bagi menjadi 3 bagian.

■ BAGIAN PERTAMA: KEUTAMAAN SHALAT

⑴ Bahwasanya shalāt yang khusyū' dan berkualitas adalah tanda kebahagiaan seseorang. Dimana Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴿٢﴾ 

"Sungguh beruntung (bahagia) orang-orang yang beriman (1). Yaitu mereka orang-orang yang khusyū' (berkualitas) di dalam shalātnya." (Al-Mu'minūn 1-2)

Ini adalah tanda bahwasanya orang tersebut memiliki hubungan yang erat dengan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

⑵ Bahwasanya shalāt yang berkualitas akan mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar.

Allāh Ta'āla berfirman:

 الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  

"Sesungguhnya shalāt itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar dan mengingat Allāh (shalat) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadah yang lainnya. Dan Allāh Maha Mengetahu apa yang kalian perbuat." (Al-'Ankabūt 45)

⑶ Bahwasanya shalāt dapat menghapus dosa dan keburukan dari seseorang.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

الصَّلَوَاتُالْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

"Antara shalat yang 5 waktu, antara satu Jum'at ke Jum'at berikutnya, antara satu Ramadhān ke Ramadhān berikutnya, maka di antara keduanya ada penghapus dosa, jika meninggalkan dosa-dosa yang besar." (HR. Muslim)

⑷ Bahwasanya shalāt akan menjadi cahaya bagi orang yang melaksanakannya di dunia maupun di akhirat.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوراً وَبُرْهَاناً وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلاَ بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَىِّ بْنِ خَلَفٍ (رواه أحمد)

"Barangsiapa yang menjaga shalāt maka baginya cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang tidak menjaga shalat tersebut maka dia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk, keselamatan. Dan nanti di hari kiamat akan dikumpulkan bersama Qārun, Fir'aun, Hāmān dan Ubay Ibn Khalf." (HR. Ahmad)

Kemudian dalam hadits yang lain, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

بشر المشائين في الظلم إلى المساجد بالنور التام يوم القيامة

"Berikanlah kabar gembira bagi mereka-mereka yang berjalan di tengah kegelapan menuju masjid, bahwasanya mereka akan mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari kiamat." (HR. Ahmad dan dishahīhkan oleh Syaikh Al-Albani)

⑸ Bahwasanya perjalanan seseorang menuju masjid (tempat shalāt)nya maka akan dicatat sebagai kebaikan, diangkat derajatnya di setiap langkah dan dihapuskan keburukannya di setiap langkah.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً , وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً  (رواه مسلم)

"Barangsiapa yang bersuci (berwudhū') di rumahnya kemudian berjalan diantara salah satu dari rumah-rumah Allāh dalam rangka menunaikan kewajiban yang Allāh wajibkan kepada dia maka di setiap salah 1 langkahnya adalah menghapuskan dosa dan langkah yang lainnya adalah mengangkat derajat orang tersebut di sisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla." (HR. Muslim)

⑹ Bahwasanya shalat adalah sebab paling utama seseorang untuk masuk ke dalam surga.

Rabī'ah bin Ka'ab Al-Aslami beliau berkata:

كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَقَالَ لِي سَلْ فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ قَالَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ قُلْتُ هُوَ ذَاكَ قَالَ فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

Saya pernah bermalam bersama Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam maka saya datangkan kepada Beliau tempat air untuk berwudhū' dan juga kebutuhan-kebutuhan Beliau.

Maka Beliaupun berkata kepada saya: "Maka mintalah." Maka sayapun mengatakan: "Saya meminta agar saya bisa menemanimu disurga." Beliaupun mengatakan: "Apakah tidak ada yang lain?" Maka saya katakan: "Hanya itu saja."

Maka Beliaupun berkata: "Bantulah saya untuk mewujudkan keinginanmu dengan memperbanyak sujud (atau shalāt)." (HR. Muslim)

■ BAGIAN KEDUA: BAHAYA MELALAIKAN SHALAT DAN MENINGGALKANNYA

Di sini kita akan sebutkan beberapa, di antaranya:

⑴ Bahwasanya orang yang bermalas-malasan melaksanakan shalāt maka ini adalah sifat orang-orang yang munāfiq.

Allāh Ta'āla berfirman:

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى 

"Dan apabila mereka (orang-orang munafiq) mendatangi shalat maka mereka menunaikan dalam keadaan malas." (An-Nisā 142)

⑵ Bahwasanya orang yang malas dan melalaikan shalat maka diancam neraka.

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

"Dan akan datang sebuah generasi setelah mereka, sebuah generasi yang mereka melalaikan (menyia-nyiakan) shalāt dan mengikuti syahwat maka mereka akan menemui al-ghayy." (Maryam 59)

Yang disebutkan oleh Ibnu Mas'ūd dan Barra bin Ādzib bahwasanya Al-Ghayy adalah lembah di neraka Jahannam yang dipenuhi dengan nanah dan darah dari penduduk neraka. Sangat dalam lembah tersebut dan sangat busuk makanannya.

Allāh Ta'āla berfirman:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5)

"Maka neraka Wail bagi orang-orang yang shalat. (4) Yaitu mereka yang lalai di dalam shalatnya. (5)

Al-Wail dikatakan oleh Athā' bun Yasar bahwasanya dia adalah lembah di neraka Jahannam. Seandainya sebuah gunung dilewatkan di atasnya maka gunung tersebut akan meleleh dikarenakan saking panasnya.

Dan orang-orang yang lalai didalam shalatnya akan mendapatkan hukuman bertingkat-tingkat sesuai perbuatannya.

Yang lalai dalam rukunnya, yang lalai di dalam khusyu'nya, yang lalai dalam kewajibannya, yang lalai dalam waktunya dan lalai dalam hal-hal lainnya. Maka akan mendapatkan balasan sesuai dengan tingkat kelalaiannya di dalam shalat.

⑶ Bahwasanya orang yang meninggalkan shalat maka dia bisa jatuh ke dalam kekafiran.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْك ُالصَّلاَةِ

"Pembeda (pembatas) antara seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat." (HR. Muslim)

Dan juga dalam hadits yang lain dikatakan:

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Pembatas antara kami (orang Muslim) dan mereka (orang kuffār) adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya maka dia telah jatuh pada kekafiran." (HR. An-Nasāi)

■ BAGIAN KETIGA: TEMPAT YANG TERBAIK UNTUK SHALĀT

Bagi wanita maka tempat adalah di rumahnya. Berdasarkan sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

صلاتها في دارها أفضل من صلاتها في مسجد قومها

"Shalatnya dia (seorang wanita) di rumahnya lebih baik daripada shalatnya dia di masjid kaumnya." (HR. Ath-Thabrāniy dan dihasankan oleh Al-Albāniy)

Dan dalam hadits lain disebutkan:

وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ 

"Dan rumah-rumah mereka lebih baik untuk mereka." (HR. Abū Dāwūd dan dishahīhkan oleh Syaikh Al-Albani)

Akan tetapi, seorang wanita diperbolehkan untuk melaksanakan shalat ke masjid. Dan tidak boleh seorang untuk suami atau wali wanita tersebut melarang karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

لا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

"Janganlah kalian (wali-wali/suami-suami para wanita) untuk mencegah wanita-wanita kalian mendatangi masjid dan rumah-rumah mereka lebih baik untuk kalian." (HR. Ahmad dan Abū Dāwūd)

Akan tetapi di sini ada syarat bagi seorang wanita yang pergi ke masjid adalah dia tidak boleh:
· ⑴ bertabarruj (berhias, berwangi-wangian) atau,
· ⑵ menggunakan pakaian-pakaian yang bisa membuat orang tertarik dan,
· ⑶ aman dari fitnah.

Maka pada saat ini boleh bagi seorang wanita untuk pergi ke masjid apabila terhindar dari hal-hal yang disebutkan sebelumnya.

Adapun untuk laki-laki maka tempat yang paling afdhal (paling baik) adalah masjid. Bahkan dikatakan hukumnya adalah wajib berjama'ah di masjid, berdasarkan hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, beliau berkata:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ « هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ ». فَقَالَ نَعَمْ. قَالَ « فَأَجِبْ »

Bahwasanya datang kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam seorang lelaki yang buta, maka diapun berkata kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. "Yā Rasūlullāh, saya tidak memiliki seorangpun yang bisa menuntun saya ke masjid."

Maka dia meminta kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam agar memberikan rukhshah (keringanan) kepadanya agar shalat di rumahnya. Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan keringanan kepada beliau.

Maka tatkala orang tersebut berpaling (pergi), maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pun memanggilnya. "Apakah kamu mendengar adzan untuk shalat?' Maka diapun mengatakan: "Ya."Maka kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam: "Datangilah." (HR. Muslim)

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak memberikan keringanan karena ini adalah kewajiban yang agung, bahkan masih memerintahkan orang tersebut untuk tetap mendatangi masjid ketika mendengar adzan.

Dan di sana ada keutamaan yang besar bagi orang yang shalāt di masjid, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

صلاة الرجل فيجماعة تزيد على صلاته وحده سبعاً وعشرين

"Bahwasanya shalatnya seseorang secara berjama'ah maka derajatnya dia lebih daripada dia shalat sendiri 27 derajat." (HR. Muslim)

Shalāt berjama'ah 27 derajat lebih utama daripada shalāt sendiri.

Demikian, semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjadikan kita sebagai orang yang ahli shalat dan orang yang menegakkan shalat dalam kehidupan kita.

Dan semoga Allāh menjadikan shalat kita bekal amalan dan perisai dari api neraka.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله و سلم والحمد لله رب العالمين

🖋 Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
----------------------------------

Matan Abu Syuja' | Kitab Thahārah Kajian 28 | Yang Diharamkan Saat Haid, Nifas, Junub Dan Hadats Kecil

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 17 Rabī’ul Akhir 1439 H / 04 Januari 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A.
📗 Matan Abu Syuja' | Kitab Thahārah
🔊 Kajian 28 | Yang Diharamkan Saat Haid, Nifas,  Junub Dan Hadats Kecil
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

YANG DIHARAMKAN SAAT HAID & NIFAS, JUNUB DAN HADATS KECIL

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد
Ustadz Fauzan S.T., M.A.
Para Sahabat Bimbingan Islam yang dirahmati Allāh Ta'āla, kita lanjutkan halaqah fiqh ini pada halaqah yang ke-28. Dan ini adalah halaqah terakhir pada Kitab Thahārah.

Ada 3 bagian yang disebutkan oleh Penulis pada halaqah kali ini.

PERTAMA
HAL-HAL YANG DIHARAMKAN UNTUK DILAKUKAN OLEH SEORANG WANITA YANG SEDANG HAIDH ATAU NIFAS

قال المصنف:
((ويحرم بالحيض والنفاس ثمانية أشياء))

((Ada 8 perkara yang terhalang/tidak boleh dilakukan oleh seorang wanita yang mengalami haidh ataupun nifās))

Ada beberapa catatan dalam masalah ini :

⑴ Hal ini berlaku pula apabila belum bersuci ataupun belum mandi besar walaupun darah itu sudah terhenti (baik darah haidh ataupun nifās), selama belum bersuci atau mandi besar maka hal ini berlaku.

⑵ Dalam hadits (dalil) hanya disebutkan haidh saja. Namun para ulama ijmā' bahwasanya nifās diqiyaskan sama dengan haidh hukumnya.

⑶ Darah istihādhah (penyakit) tidak termasuk dalam pembahasan ini karena wanita yang mengalami istihādhah hukumnya sama dengan wanita yang dia dalam keadaan suci.

قال المصنف:
((الصلاة والصوم وقراءة القرآن ومس المصحف وحمله ودخول المسجد والطواف والوطء والاستمتاع بما بين السرة والركبة))

⑴ Shalāt
⑵ Berpuasa
⑶ Membaca Al-Qurān
⑷ Menyentuh mushaf Al-Qurān dan membawanya
⑸ Masuk ke dalam masjid
⑹ Thawāf
⑺ Berhubungan intim
⑻ Bercumbu dengan apa yang ada di antara pusar dan lutut seorang wanita

Kita akan membahas satu-persatu,

■ ⑴ Shalāt dan ⑵ Puasa

Hal ini berdasarkan hadīts Sa'īd Al-Khudriy radhiyallāhu Ta'āla 'anhu tatkala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ditanya tentang kekurangan agama yang ada pada seorang wanita. Maka Beliaupun menjawab:

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَت ْلَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا

"Bukankah wanita apabila dia mengalami haidh maka dia tidak shalāt dan juga tidak berpuasa? Itulah kekurangan yang ada di dalam agamanya."
(HR. Imām Bukhari dan Imām Muslim)

■ ⑶ Membaca Al-Qurān

Para ulama disini berbeda pendapat, bolehkah seseorang yang mengalami haidh ataupun nifās membaca Al-Qurān dari hafalannya atau membaca Al-Qurān tanpa menyentuh mushaf?

Para ulama, mayoritas (jumhūr ulama) melarang seorang wanita yang haidh untuk membaca Al-Qurān.

Dalilnya adalah hadīts Ibnu 'Umar yang diriwayatkan oleh Imām At-Tirmidzi, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

لا تقرأ الجنب ولا الحائض شيئاً من القرآن

"Janganlah seorang yang hāidh atau junub dia membaca sedikitpun dari Al-Qurān."

Ini adalah salah satu dalil yang dipakai oleh para ulama yang mengatakan bahwa seorang yang mengalami haidh ataupun junub dilarang membaca Al-Qurān walaupun dari hafalannya.

Yang kuat (rājih) adalah bolehnya seorang wanita yang haidh ataupun nifās untuk membaca Al-Qurān tanpa menyentuh Al-Qurān, apakah dengan hafalannya ataupun dengan melihat.

Ini adalah pendapat dari Malikiyyah, Zhahiriyyah dan riwayat perkataan Imām Syāfi'ī dan dikuatkan oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah dan dirajihkan oleh Syaikh Bin Bāz rahimahullāh.

Akan tetapi yang jadi permasalahan adalah untuk orang yang junub, karena keadaan junub beda dengan haidh dan nifas.
Para ulama berbeda pendapat tentang membaca Al-Qurān bagi orang yang junub.

• Pendapat Pertama
Bahwasanya tidak boleh secara mutlak. Ini adalah pendapat jumhūr (mayoritas) para ulama dan juga fatwa dari para shahābat.

• Pendapat Kedua
Ini diperbolehkan. Ini adalah pendapat madzhab Zhāhiriyyah dan juga perkataan beberapa orang shahābat radhiyallāhu Ta'āla 'anhum.

Dalil yang membolehkan:
• Tidak ada nash (dalil) yang sharīh (gamblang) yang melarang seorang yang junub untuk membaca Al-Qurān.
• Hadīts 'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā tatkala beliau mengatakan:

أَنَّ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ 

"Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam senantiasa berdzikir kepada Allāh dalam setiap keadaannya*." (HR. Bukhāri dan Muslim)

*Setiap keadaan termasuk dalam keadaan junub.

Dan mereka mengatakan bahwa orang yang junub boleh membaca Al-Qurān karena Al-Qurān termasuk dzikir kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Namun yang rājih (kuat) yang dikuatkan oleh Syaikh Bin Bāz rahimahullāh adalah pendapat jumhūr (mayoritas) para ulama karena dalam junub ada pengkhususan yaitu hadīts 'Ali radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, beliau berkata:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرئنا القرآن ما لم يكن جنبا

"Bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam membacakan Al-Qurān kepada kami selama Beliau tidak junub."

(HR.Ahmad, Abū Dāwud dan Ibnu Mājah)

Dan kata beliau, tidak boleh mengqiyaskan antara haidh dan nifās dengan junub karena junub waktunya pendek sedangkan haidh dan nifās waktunya panjang.

Haidh dan nifās bukan pilihan seseorang untuk mengalaminya, sedangkan junub adalah keadaan yang merupakan pilihan dari seseorang sehingga dia masuk dalam keadaan junub.

■ ⑷ Menyentuh Al-Qurān dan membawanya

Menurut pendapat Syāfi'īyyah dalam masalah ini bahwasanya hal itu adalah terlarang. Dan juga sebagaimana yang disebutkan dalam matan bahwasanya seorang yang haidh tidak boleh menyentuh mushaf karena ini juga adalah pendapat seluruh madzhab dan juga jumhūr mayoritas para ulama dan juga pendapat para shahābat radhiyallāhu Ta'āla 'anhum, berdasarkan firman Allāh Ta'āla :

لا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

"Tidaklah menyentuhnya (Al-Qurān) kecuali orang-orang yang suci." (Al-Wāqi'ah 80)

Dalam hadīts yang hasan bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

لا يمس القرآن الا الطاهرون 

"Tidaklah menyentuh Al-Qurān kecuali orang-orang yang suci."
(HR. Imām Bukhāri, Imām Nasāi dan Ibnu Hibban)

Hal ini berlaku juga bagi orang yang junub.

Pertanyaan:

Bolehkah bagi seorang yang haidh junub untuk menyentuh Al-Qurān dengan kain pelapis atau penghalang?

Jawab
Syaikh bin Bāz membolehkan seseorang wanita haidh menyentuh Al-Qurān dengan syarat ada kain penghalang seperti kaus tangan atau kain yang lainnya.

Adapun orang yang junub maka dia tidak boleh membaca Al-Qurān sebagaimana tadi sudah dijelaskan panjang lebar.

■ ⑸ Masuk masjid

Ada beberapa point, bahwasanya
🔹Orang masuk masjid untuk tinggal di masjid

Maka hal ini tidak diperbolehkan berdasarkan kesepakatan para Imām Madzhab berdasarkan firman Allāh Ta'āla:

لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ 

"Janganlah kalian mendekati shalāt sedangkan kalian dalam keadaan mabuk sampai kalian mengetahui apa yang kalian katakan. Dan begitu juga orang yang junub tidak diperbolehkan untuk masuk kecuali dia hanya lewat saja sampai dia bersuci (mandi besar)." (An-Nisā 43)

🔹Allāh Ta'āla melarang orang yang junub untuk masuk ke dalam masjid kecuali hanya apabila lewat saja.

Dalil yang lain, dalam hadīts Ummu 'Athiyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā, tatkala dia berkata:

امرنا أن نخرج الحيض يوم العيدين وذوات الخدور، فيشهدن جماعة المسلمين ودعوتهم ، ويعتزل الحيض مصلهن

"Beliau (Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam) memerintahkan kami untuk mengeluarkan orang-orang haidh pada hari 'Īd dan juga wanita-wanita yang masih dalam pingitan hingga mereka melihat jama'ah kaum Muslimīn serta dakwahnya.

Adapun orang-orang yang haidh berada diluar dari tempat shalat para wanita yang ada. (HR. Imām Bukhāri dan Muslim)

■ ⑹ Thawāf

Seorang wanita haidh ataupun nifās dilarang untuk melaksanakan thawāf, berdasarkan hadīts Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

الطَّوَافُ حَوْلَ البَيْتِ مِثْلُ الصَّلاةِ

"Thawāf di dalam rumah Allāh adalah seperti shalat." (HR. Tirmidzi)

Artinya manakala seorang wanita haidh dan nifas dilarang untuk shalat maka mereka juga dilarang untuk melaksanakan ibadah thawāf.

■ ⑺ Berhubungan intim antara suami dan istri

Hal ini dilarang berdasarkan firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ 

"Dan tinggalkanlah wanita (istri-istri) kalian dalam keadaan haidh mereka dan janganlah kalian dekati mereka sampai mereka bersih." (Al-Baqarah 222)

Maksudnya di sini adalah larangan untuk mencampuri/menggauli istri yang dalam keadaan haidh.

■ ⑻ Mencumbui/menikmati antara pusar dan kedua lutut istri.

Berdasarkan hadīts Abū Dāwud, dari 'Abdullāh bin Sā'ad beliau bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

ما يحل لي من امرأتي وهي حائض ؟ قال : " لك ما فوق الإزار "

"Apa yang dihalalkan untuk saya perbuat sementara istri saya haidh?" Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pun menjawab: "Lakukan apa saja yang di atas izār/sarung (di atas pusar)."

KEDUA
HAL-HAL YANG DIHARAMKAN UNTUK DILAKUKAN OLEH SEORANG YANG SEDANG JUNUB

قال المصنف:
((ويحرم على الجنب خمسة أشياء: الصلاة وقراءة القرآن ومس المصحف وحمله والطواف واللبث في المسجد))

((Dan ada 5 perkara yang terlarang bagi seorang yang dia dalam keadaan junub))

Ini sebagian besarnya sudah dijelaskan pada pembahasan masalah haidh.

Bahwasanya orang yang dalam keadaan junub dilarang untuk:

⑴ Shalat
⑵ Membaca Al-Qurān
⑶ Memegang mushaf dan membawanya
⑷ Thawāf
⑸ Tinggal berada di dalam masjid

KETIGA
HAL-HAL YANG DIHARAMKAN UNTUK DILAKUKAN OLEH SEORANG YANG SEDANG HADATS KECIL

قال المصنف:
((ويحرم على المحدث ثلاثة أشياء الصلاة والطواف ومس المصحف وحمله))

((Dan diharamkan bagi seorang yang hadats 3 perkara))

Tiga perkara yang terlarang bagi seseorang yang batal (tidak dalam keadaan suci)

⑴ Shalat
⑵ Thawāf

Berdasarkan hadits Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam riwayat Abū Hurairah radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, beliau berkata:

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَأَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأ

"Allāh tidak akan menerima shalat salah seorang di antara kalian apabila dia berhadats (batal dari suci) sampai dia berwudhū'." (HR. Bukhāri dan Muslim)

⇒Thawāf adalah termasuk shalat

⑶ Memegang mushaf Al-Qurān dan membawanya.

Bagi seorang yang muhdits (dalam keadaan hadats) maka dia tidak boleh menyentuh ataupun membawa Al-Qurān.

Ini adalah pendapat jumhūr ulama dan juga kesepakatan Imam yang Empat dan juga fatwa dari para shahābat radhiyallāhu Ta'āla 'anhum jamī'an.

Ini yang bisa kita sebutkan dalam pembahasan kali ini.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan kepada kita kemudahan untuk kita senantiasa terus menuntut ilmu dan in syā Allāh kita akan lanjutkan pada kitab berikutnya (Kitābush Shalāh).

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
وآخر دعونا عن الحمد لله رب العلمين

🖋 Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
----------------------------------

Matan Abu Syuja' | Kitab Thahārah Kajian 27 | Hāidh, Nifās Dan Istihādhah

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 16 Rabī’ul Akhir 1439 H / 03 Januari 2018 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A.
📗 Matan Abu Syuja' | Kitab Thahārah
🔊 Kajian 27 | Hāidh,  Nifās Dan Istihādhah
~~~~~~~~~~~~~

HAIDH, NIFAS DAN ISTIHADHAH

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و بعد

Para Sahabat Bimbingan Islam yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla, pada halaqah yang ke-27 ini kita akan lanjutkan pelajaran thahārah dalam Kitab Matan Abū Syujā'.

قال المصنف:
((ويخرج من الفرج ثلاثة دماء دم الحيض والنفاس والاستحاضة))

((Dan dari kemaluan wanita keluar 3 macam darah: ⑴ darah hāidh, ⑵ darah nifas dan ⑶ darah istihādhah))

Ketiga darah ini adalah darah yang biasa keluar dari kemaluan seorang wanita.

■ HĀIDH

قال المصنف:
((فالحيض هو الدم الخارج من فرج المرأة على سبيل الصحة من غير سبب الولادة ولونه أسود محتدم لذاع))

((Dan darah hāidh adalah darah yang keluar dari kemaluan seorang wanita dalam keadaan sehat dan bukan disebabkan karena kelahiran. Warna darah tersebut hitam matang [maksudnya adalah merah kehitaman])) 

Hāidh adalah proses peluruhan dinding rahim. Dan secara umum memiliki siklus yang tetap pada seorang wanita. Dan ciri-ciri hāidh yang normal dapat dilihat secara umum dari warna, tekstur maupun baunya.

✓Darah hāidh berwarna merah matang
✓Bertekstur kental
✓Lebih bau dibandingkan darah biasa

Para Sahabat sekalian,

● BAGAIMANA PENENTUAN MASA HĀIDH?

Dia dapat dilakukan oleh 2 hal;

⑴ Dengan adat kebiasaan yang terjadi pada seorang wanita pada tanggal tertentu, siklus tertentu atau kebiasaan yang biasa terjadi setiap bulannya.

⑵ Dengan tamyīz (membedakan) darah yang keluar. Jika memiliki ciri-ciri hāidh maka dia adalah darah haidh.

● BAGAIMANA CARA MENENTUKAN SELESAINYA MASA HĀIDH?

Dapat diketahui dengan 2 cara:

⑴ Dengan keluarnya cairan putih dari kemaluannya di akhir masa haidhnya, masa adat kebiasaannya.

⑵ Dengan kekeringan.
Maksudnya dengan melihat kemaluannya sudah kering atau belum. Yaitu dengan cara menggunakan kain katun atau yang semisalnya, kemudian dimasukkan ke dalam kemaluannya, jika tetap kering maka dia telah suci.

■ DARAH NIFAS

قال المصنف:
((والنفاس هو الدم الخارج عقب الولادة))

((Dan darah nifas adalah darah yang keluar disebabkan proses persalinan))

Walaupun yang keluar masih berbentuk gumpalan daging (mudghah) atau gumpalan darah ('alaqah), baik dalam keadaan hidup atau dalam keadaan meninggal dunia, baik yang keluar itu sempurna & lengkap ataupun yang keluar tidak sempurna atau hanya bagian tertentu saja, maka dia masuk ke dalam hukum nifas karena nifas secara bahasa artinya al-wilādah (persalinan).
Dan pernah disinggung pada pertemuan sebelumnya tentang khilaf para ulama: Kapan masuk ke dalam masa nifas, kapan darah tersebut disebut darah nifas, apakah sebelum kelahiran, atau masa kelahiran ataukah setelah kelahiran.

■ ISTIHĀDHAH

قال المصنف
((والاستحاضة هو الدم الخارج في غير أيام الحيض والنفاس))

((Dan istihādhah adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita, bukan pada masa haidh dan juga bukan pada masa nifas. Dan darah istihādhah, dia memiliki sifat dan ciri seperti darah biasa (berwarna merah segar, encer dan tidak berbau).))

Dan untuk darah istihādhah tidak ada batasan waktu. Darah istihādhah memiliki hukum sama seperti darah biasa. Oleh karena itu, orang yang keluar darah istihādhah dia hukumnya sama seperti orang biasa, dia tetap wajib shalat, puasa dan boleh berhubungan dengan suaminya.

Hukumnya orang yang terkena darah istihādhah sama seperti hukumnya orang yang suci. Hal ini berdasarkan hadits 'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā tentang Fāthimah bintu Abi Hubaisy yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāriy dan Muslim. Beliau berkata:

قالت :يا رسول الله إني أستحاض فلا أطهر ، أفأدع الصلاة ؟ فقال : لا ، إنما ذلك عرق ، وليس بالحيضة ، فإذا أقبلت الحيضة فاتركي الصلاة ، فإذا ذهب قدرها فاغسلي عنك الدم وصلي .

Beliau bertanya: "Yā Rasūlullāh, saya seorang wanita yang mengalami istihādhah (keluar darah secara terus menerus) sehingga saya tidak bisa bersuci. Haruskah saya meninggalkan shalat?" Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pun menjawab: "Tidak, sesungguhnya darah itu berasal dari urat. Apabila datang haidh maka tinggalkanlah shalat. Dan jika sudah habis ukuran waktunya maka cucilah darah tersebut dan shalatlah."

Penjelasan berikutnya dalam Matan Abū Syujā' adalah mengenai:

● DURASI/MASA/WAKTU DARI MASING-MASING DARAH TERSEBUT

قال المصنف:
((وأقل الحيض يوم وليلة))

((Dan masa yang paling sedikit dari haidh adalah 1 hari 1 malam))

Hal ini berdasarkan pengamatan ataupun kejadian di lapangan dan juga berdasarkan hadits 'Ali radhiyallāhu Ta'āla 'anhu yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāriy.

((وأكثره خمسة عشر يوما))

((Dan masa haidh yang paling banyak adalah 15 hari))

Dan ini pula berdasarkan istiqrā (pengamatan) dan kejadian di lapangan dan juga berdasarkan hadits 'Ali radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, beliau mengatakan:

ما زاد على خمسة عشر فهو استحاضة

"Apa yang lebih dari 15 hari maka dia adalah istihādhah." (HR Bukhāriy secara mu'allaq)

قال المصنف:
((وغالبه ست أو سبع))

((Dan secara umum/kebanyakan adalah 6 hari atau 7 hari))

Hal ini berdasarkan hadits Hamnah bintu Jahsy, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

تحيضي في علم الله ستا أو سبعا كما تحييض النسآء و يطهرن

"Ambillah masa haidh berdasarkan ilmu Allāh Subhānahu wa Ta'āla sebanyak 6 atau 7 hari sebagaimana para wanita haidh dan bersuci." (HR Ash-hābus Sunān)

قال المصنف:
((وأقل النفاس لحظه وأكثره ستون يوما))

((Dan masa nifas yang paling sedikit/pendek adalah sesaat atau tidak ada batasannya dan paling banyak adalah 60 hari))

Dalilnya berdasarkan istaqrā (pengamatan) dan kejadian yang terjadi di lapangan.

قال المصنف:
((وغالبه أربعون))

((Dan secara umum adalah 40 hari))

Dalilnya adalah berdasarkan hadits dari Ummu Salamah, beliau mengatakan:

كانت النفساء تجلس على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم أربعين يوما و أربعين ليلة

"Para wanita yang nifas di zaman Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mereka mereka duduk (yaitu tidak shalat) selama 40 hari dan 40 malam."

(HR? Abū Dāwūd dan Tirmidzi dan diperselisihkan derajat hasannya, akan tetapi Syaikh Al-Albāniy menshahihkannya)

Apabila seorang wanita yang mengalami nifas kemudian darahnya berhenti maka dia wajib untuk bersuci dengan mandi besar walaupun belum sampai 40 hari, walaupun baru 1 minggu atau kurang dari itu.

قال المصنف:
((وأقل الطهر بين الحيضتين خمسة عشر يوما ولا حد لأكثره))

((Masa suci antara 2 haidh adalah paling sedikit 15 hari. Dan masa suci yang paling banyak tidak ada batasannya))

Hal ini berdasarkan istiqrā (penelitian) atau pengamatan di lapangan bahwa ada seorang wanita yang masa sucinya hanya 15 hari dan ada seorang wanita yang haidhnya hanya sekali dalam setahun, artinya masa sucinya cukup panjang.

قال المصنف:
((وأقل زمن تحيض فيه المرأة تسع سنين))

((Dan umur yang paling kecil bagi seorang wanita untuk mengalami haidh adalah 9 tahun))

Hal ini berdasarkan istiqrā (pengamatan/penelitian) dan kejadian yang terjadi di lapangan.

قال المصنف:
((وأقل الحمل ستة أشهر وأكثره أربع سنين وأقل الحمل ستة أشهر وأكثرها أربع سنين وغالبه تسعة أشهر))

((Masa kehamilan yang paling pendek normal adalah 6 bulan. Dan masa kehamilan yang paling panjang yang pernah ada yaitu 4 tahun. Dan secara umum, masa kehamilan seorang wanita adalah selama 9 bulan))

Dalil masa hamil yang terpendek yaitu 6 bulan adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ 

"Dan masa mengandung dan masa menyusui adalah 30 bulan." (QS Al-Ahqāf: 15)

Disini Allāh menggabungkan 2 masa, totalnya adalah 30 bulan.

Kemudian firman Allāh Ta'āla di ayat yang lain:

وَفِصَاله فِي عَامَيْنِ

"Dan masa menyusui selama 2 tahun." (QS Luqmān: 14)

⇒ 2 tahun = 24 bulan.
⇒ Artinya masa hamil minimal = 30 bulan, dikurangi 24 bulan yaitu 6 bulan.

Sedangkan dalil yang lainnya adalah berdasarkan istiqrā (pengamatan) dan kejadian yang ada.

Demikian yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan kita cukupkan.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
وآخر دعونا أن الحمد لله رب العلمين
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

🖋 Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
----------------------------------

Kajian

IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH

🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah  Fī...

hits