Jumat, 31 Januari 2020

Mengikuti Kebiasaan Nenek Moyang

🌍 BimbinganIslam.com
Jumat, 06 Jumada Al-Akhir 1441 H / 31 Januari 2020 M
👤 Ustadz Ammi Nur Baits, ST., BA.
📒 Nasihat Singkat Bimbingan Islam
🔊 Audio 65 | Mengikuti Kebiasaan Nenek Moyang
🔄 Unduh : bit.ly/NasihatSingkatBiAS-65
〰〰〰〰〰〰〰

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________

Kamis, 30 Januari 2020

Hadits Tentang Bagaimana Kehidupan Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa Sallam

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 04 Jumada Al-Akhir 1441 H / 29 Januari 2020 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 51 | Hadits Tentang Bagaimana Kehidupan Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa Sallam
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-51
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله
الْحَمْدُ لله، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رسول الله، وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القيامة، أَمَّا بَعْدُ:

Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati Allāh Ta'āla dan semoga selalu diluaskan rejekinya, dimudahkan segala urusannya.

Alhamdulillāh pada pertemuan ke-51 ini, In syā Allāh kita akan membaca hadīts nomor 71 yang ada di dalam Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyah karya Imām At Tirmidzī rahimahullāh.

Hadīts ini merupakan hadīts pertama dari dua hadīts yang akan dibawakan oleh Imam At-Tirmidzī dalam bab ke-9. Tentang "Bagaimana kehidupan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam”.

Imam At-Tirmidzī menamakan bab ini dengan mengatakan,

باب ما جاء في عيش رسول الله ﷺ

Bab tentang kehidupan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Menurut Syaikh Abdurrazaq, 'Aisy (عيش) disini diartikan seperti makanan dan semisalnya (apa yang dimakan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam).

Bab ini terdapat dua hadīts:

Hadīts Pertama | Hadīts dari Muhammad bin Sirīn (salah seorang tābi'in).

Beliau mengatakan:

كُنَّا عِنْدَ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه وَعَلَيْهِ ثَوْبَانِ مُمَشَّقَانِ مِنْ كَتَّان فَتَمَخَّطَ في أحدهما. فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: بَخْ بَخْ يَتَمَخَّطُ أَبُو هُرَيْرَةَ فِى الْكَتَّانِ. لَقَدْ رَأَيْتُنِي وَإِنِّى لأَخِرُّ فِيمَا بَيْنَ مِنْبَرِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وحُجْرَةِ عَائِشَةَ رضي الله عنها مَغْشِيًّا عَلَيَّّ، فَيَجِىءُ الْجَانِى فَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلَى عُنُقِى، يُرَى أَنّ بِي جْنُونٌا، وَمَا بِي جُنُونٍ، ومَا هو إِلاَّ الْجُوعُ.

"Dulu kita pernah berada di sisi Abū Hurairah, ketika itu beliau sedang memakai dua kain yang berwarna dari كَتَّان (linen, diartikan), lalu beliau mengusap air hidungnya dengan salah satu kain tersebut.

Lalu beliau mengatakan,'بَخْ بَخْ' (eh..eh..eh), "Abū Hurairah sekarang mengusap air hidungnya saja pakai kain كَتَّان".

Dan sungguh aku dulu pernah mengalami atau pernah tersungkur jatuh di antara mimbar dan kamar dari Āisyah radhiyallāhu 'anhā (pingsan). Lalu ada seseorang datang dan meletakkan kakinya dileherku. Dia menyangka aku sedang gila, padahal aku tidak gila (kata Abū Hurairah). Ketika itu aku tidak sakit akan tetapi aku lapar."

(Hadīts ini shahīh, dan Imam Al-Bukhāri meriwayatkan hadīts ini dengan nomor 7324 )

Pesan hadīts ini adalah:

Abū Hurairah sedang terheran-heran dengan keadaan dirinya sendiri, dimana dulu ia pernah kelaparan karena tidak ada sesuatu yang bisa dimakan sehingga dia pingsan. Dan sekarang untuk mengusap air hidung saja beliau menggunakan kain linen (sebuah kain yang cukup bagus).

Yang menggelitik dalam benak kita, Imam At-Tirmidzī mengatakan bahwa bab ini menjelaskan tentang kehidupan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Tetapi mengapa yang disebutkan adalah Abū Hurairah yang kelaparan?

Ini menjadi sesuatu yang menggelitik di benak kita. Bagaimana kita menjawab ini?

Jawabannya adalah:

Keadaan Abū Hurairah radhiyallāhu 'anhu yang  kelaparan sampai beliau pingsan. Menunjukkan bagaimana sempitnya kehidupan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Karena, seandainya kehidupan beliau lapang, (beliau memiliki makanan) tentu beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam akan memberikan makanan untuk Abū Hurairah. Dan tidak akan membiarkan Abū Hurairah sampai pingsan gara-gara kelaparan.

Seperti itulah hubungan dari hadīts ini dengan kehidupan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam secara tidak langsung.

Perlu kita ketahui bahwasanya Abū Hurairah adalah seorang muslim yang masuk Islām sekitar tahun ke-7 Hijriyyah dan hanya membersamai Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (kurang lebih) sekitar 4 tahun saja.

Ini menunjukkan kehidupan Nabi pada tahun-tahun itu, di tahun-tahun akhir keberadaan beliau di dunia, beliau tetap sederhana bahkan tidak memiliki sesuatu yang dapat diberikan untuk menghilangkan rasa lapar dari sahabatnya.

نسأل الله السلامة

Hendaknya kita di zaman ini banyak bersyukur, karena sepertinya jarang dari kita yang kehidupannya seperti apa yang dialami para sahabat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam di awal-awal keislāman mereķa.

Semoga pembahasan ini bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد
____________________

Hadits Tentang Dua Jenis Pakaian Yang Pernah Dipakai Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam (lanjutan)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 03 Jumada Al-Akhir 1441 H / 28 Januari 2020 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 50 | Hadits Tentang Dua Jenis Pakaian Yang Pernah Dipakai Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam (lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-50
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله
الْحَمْدُ لله، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رسول الله، وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القيامة، أَمَّا بَعْدُ:

Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati Allāh dan semoga selalu diluaskan rejekinya dan diberkahi umurnya.

Alhamdulillāh kita memuji Allāh Subhānahu wa Ta'āla atas kemudahan yang dilimpahkan kepada kita semua, hingga pada kesempatan hari ini kita sudah menginjak pada pertemuan yang ke-50.

Pada pertemuan ini, In syā Allāh kita melanjutkan pembacaan hadīts-hadīts yang ada di dalam Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyah karya Imām At Tirmidzī rahimahullāh yaitu hadīts ke-69 dan 70.

Dua hadīts ini merupakan hadīts terakhir dalam bab pakaian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Pada dua hadīts ini kita akan mengetahui dua jenis pakaian yang pernah dipakai oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

▪Pakaian Pertama | Mirthun (مرط)

Mirthun (مرط) adalah selembar kain yang digunakan sebagai sarung.

Dan Mirthun ini bersifat murahal yang artinya ada gambar pelana unta. Itu salah satu arti dari kata murahal. Menurut Al-Khatabi, makna murahal adalah kain yang bergaris-garis (seperti lurik).

Sedangkan menurut Syaikh Al-Albāniy rahimahullāh, kain Mirthun ini biasanya terbuat dari wool, rambut atau nilen.

Berikut hadītsnya:

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ غَدَاةٍ، وَعَلَيْهِ مِرْطٌ مِنْ شَعَرٍ أَسْودَ.

Āisyah radhiyallāhu 'anhā berkata, "Pada suatu pagi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah keluar dalam keadaan beliau menggunakan Mirthun yang terbuat dari rambut hitam."

▪Pakaian Kedua | Jubah Rumiyyah.

Jubah Rumiyyah ini berasal dari negara Romawi karena Rumiyyah ini merupakan penisbatan kepada bangsa Roem.

Perawi yang meriwayatkan hadīts ini mengatakan bahwa Jubah Rumiyyah yang dipakai Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ketika itu adalah Jubah yang lengannya sempit.

⇒ Jubah adalah pakaian yang dipakai setelah gamis atau kemeja.

Berikut hadītsnya:

عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم، لَبِسَ جُبَّةً رُومِيَّةً، ضَيِّقَةَ الْكُمَّيْنِ.

Dari Al-Mughīrah bin Syu’bah, beliau berkata: "Bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah memakai jubah Rumiyyah yang lengannya sempit”.

Kedua hadīts di atas merupakan hadīts yang shahīh yang dishahīhkan oleh Syaikh Al-Albāniy rahimahullāh dalam Mukhtashar Asy Syamāil.

Ketika menutup pembahasan bab ini Syaikh Abdurrazaq Al-Badr mengatakan, yang maknanya adalah: "Setelah memperhatikan bab ini dan hadīts-hadīts yang dibawakan oleh penulis, kita menjadi tahu bahwa pakaian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam itu berbagai macam.

Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah memakai Izar dan Ridā' (sarung dan selendang atas sebagaimana saat kita berihram), terkadang Qisa memakai selembar kain, terkadang memakai gamis, dan macam-macam yang lainnya.

Beliau mengatakan, ini semua menunjukkan bahwa permasalahan pakaian adalah permasalahan yang berhukum longgar dan menunjukkan bahwa hukum asal segala jenis pakaian adalah halal dengan catatan selama tidak ada dalīl yang mengharamkannya.

Contoh pakaian yang diharamkan:

√ Pakaian yang Isbal untuk laki-laki.
√ Baju yang Sughrah.
√ Baju yang Tasyabbuh dengan orang-orang kafir (misalnya) baju laki-laki tasyabbuh dengan wanita, demikian pula yang wanita.
√ Pakaian Sutra untuk laki-laki.
√ Dan lain sebagainya.

Selama tidak ada dalīl-dalil yang melarang seperti ini maka hukum asalnya adalah boleh.

Inilah ringkasan yang disampaikan oleh beliau untuk menutup pembahasan bab ini.

Semoga pembahasan ini bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد
____________________

Senin, 27 Januari 2020

Hadits Lalat

🌍 BimbinganIslam.com
Jumat, 29 Jumada Al-Ula 1441 H / 24 Januari 2020 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty
📒 Nasihat Singkat Bimbingan Islam
🔊 Audio 64 | Hadits Lalat
🔄 Unduh : bit.ly/NasihatSingkatBiAS-64
〰〰〰〰〰〰〰

🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________

Hadits Tentang Salah Satu Pakaian Yang Pernah Dipakai Rasūlullāh

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 02 Jumada Al-Akhir 1441 H / 27 Januari 2020 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 49 | Hadits Tentang Salah Satu Pakaian Yang Pernah Dipakai Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam (lanjutan)
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-49
〰〰〰〰〰〰〰

بسم الله
الْحَمْدُ لله، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رسول الله، وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القيامة، أَمَّا بَعْدُ:

Sahabat Bimbingan Islām rahīmaniy wa rahīmakumullāh, yang semoga selalu dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla, diluaskan rejekinya dan diberkahi umurnya.

Alhamdulillāh pada pertemuan yang ke-49 ini, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla karena kita diberikan kesempatan oleh Nya untuk melanjutkan pembacaan hadīts-hadīts yang ada di dalam Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyah karya Imām At Tirmidzī rahimahullāh.

In syā Allāh, kita akan membahas hadīts nomor 67 dan 68, pembahasan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pakaian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Dua hadīts yang akan kita baca, berkenaan tentang warna pakaian yang dianjurkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam agar kita memakainya. Baik saat seseorang hidup maupun saat seseorang telah meninggal dunia (mayit) sebagai kain kafan.

Hadīts ini diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Abbas radhiyallāhu 'anhumā, yang mana beliau adalah Turjumanul Qur'ān (penerjemah Al-Qur'an) yang sangat ulung.

Beliau mengatakan, Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالْبَيَاضِ مِنَ الثِّيَابِ، لِيَلْبِسْهَا أَحْيَاؤُكُمْ، وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ، فَإِنَّهَا مِنْ خِيَارِ ثِيَابِكُمْ

"Atas kalian yang masih hidup untuk memakai pakaian yang berwarna putih dan kafanilah mayit kalian dengan kafan yang berwarna putih, karena pakaian berwarna putih merupakan sebaik-baik pakaian."

(Hadīts ini shahīhkan oleh Syaikh  Al-Albāniy  rahimahullāh dalam Mukhtashar Asy Syamāil)

Pelajaran yang bisa kita ambil adalah:

⑴ Pakaian berwarna putih merupakan pakaian yang disunnahkan (dianjurkan) untuk dikenakan, BUKAN wajib.

⑵ Pakaian berwarna putih dianjurkan dan disunnahkan bagi orang yang masih hidup maupun untuk mengkafani mayit.

⑶ Pakaian berwarna putih dianjurkan untuk laki-laki, sedangkan wanita apabila di dalam rumah diperbolehkan bahkan dianjurkan.

Apakah pakaian berwarna putih ini dianjurkan dipakai oleh wanita di luar rumah?

Jawabannya, adalah:

Melihat situasi dan kondisi masyarakat setempat, apabila masyarakat menganggap biasa pakaian berwarna putih, dalam artian mereka tidak menganggap pakaian berwarna putih sebagai pakaian untuk berhias, maka dibolehkan untuk digunakan.

Namun apabila masyarakat menganggap pakaian berwarna putih adalah pakaian untuk berhias, maka ini tidak diperbolehkan. Sehingga warna pakaian untuk wanita adalah bebas selama tidak menunjukkan tabarruj atau makna berhias dengan warna tersebut.

⇒ Ini perlu digaris bawahi, bahwa pakaian wanita adalah bebas (warnanya) selama tidak menunjukkan tabarruj atau makna berhias dengan warna tersebut.

Para wanita pun boleh menggunakan warna-warna lain selain warna hitam saat keluar rumah, selama pakaian tersebut tidak dianggap masyarakat sebagai warna untuk berhias.

Hal ini disampaikan oleh Syaikh Utsaimin rahimahullāh. Beliau pernah ditanya, memakai pakaian berwarna hijau, kuning atau selainnya bagi wanita saat berhaji bagaimana hukumnya wahai syaikh?

Beliau menjawab, "Tidak mengapa”, maksudnya tidak mengapa seorang wanita memakai pakaian dengan warna apapun, kecuali dengan pakaian yang berwarna yang ia dianggap bertabarruj atau berhias. Maka yang seperti ini tidak boleh dikenakan oleh mereka.

Kemudian beliau memisalkan pakaian putih di adat kebiasaan masyarakat beliau.

Beliau mengatakan,"Pakaian putih (misalkan) dalam adat-istiadat masyarakat kami, dianggap sebagai pakaian yang digunakan untuk berhias dan untuk mempercantik diri. Sehingga (hendaknya) mereka tidak memakai pakaian berwarna putih saat ihram”.

Dari penjelasan dari Syaikh ini kita tahu, bahwa memakai pakaian berwarna putih atau warna lain bagi wanita harus memperhatikan kondisi masyarakat setempat. Apakah mereka menganggapnya sebagai pakaian untuk berhias dan mempercantik diri atau tidak. Jika jawabannya tidak maka boleh dikenakan oleh mereka.

Kenapa pakaian berwarna putih dianjurkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam?

Jawabannya adalah hadīts nomor 68 yang dibawakan oleh Imam At-Tirmidzī di sini, hadīts dari Samurah bin Jundub radhiyallāhu 'anhu.

Bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

الْبَسُوا الْبَيَاضَ، فَإِنَّهَا أَطْهَرُ وَأَطْيَبُ، وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ.

"Pakailah pakaian putih, karena pakaian putih itu lebih suci dan lebih bersih dan kafanilah mayat kalian dengan warna tersebut.”

(Hadīts ini dinyatakan shahīh oleh Syaikh Al- Albāniy rahimahullāh ta'āla)

Pelajaran dari hadīts ini adalah:

Kita dianjurkan untuk memakai pakaian putih karena pakaian putih lebih suci dan bersih.

Kenapa pakaian putih suci dan bersih?

Karena pakaian putih apabila ada noda sedikit saja langsung terlihat, berbeda dengan warna lainnya.

Oleh karena itu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam meminta dalam do'a Iftitah beliau, beliau meminta kepada Allāh agar kesalahan-kesalahan beliau dibersihkan sebagaimana dibersihkannya pakaian putih dari noda. Hal tersebut mengandung arti bahwasanya beliau meminta kepada Allāh agar Allāh membersihkan kesalahan beliau sebersih-bersihnya, sehingga tidak tertinggal noda kesalahan sedikit pun.

Inilah pembahasan kita pada kali ini semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد
________

Rabu, 22 Januari 2020

ZAKĀT FITHR (الفطر) - BAGIAN 2

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 27 Jumada Al-Ula 1441 H / 22 Januari 2020 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A.
📗 Matan Abū Syujā' | Kitāb Zakat
🔊 Kajian 89 | Zakat Fithr (bagian 2)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H089
〰〰〰〰〰〰〰

*ZAKĀT FITHR (الفطر) - BAGIAN 2*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para shahābat Bimbingan Islām yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Pada pertemuan kita kali ini, kita akan membahas tentang zakāt fitri (masih meneruskan yang kemarin).

Dan kemarin sudah kita bahas tentang hukum zakāt (yaitu) wajib. Dan syarat-syarat wajibnya zakāt yaitu:

⑴ Seorang Muslim atau Islām.
⑵ Dia mendapati dua waktu (yaitu) waktu Ramadhān dan waktu Syawwāl ditandai dengan masuknya atau وبغروب الشمس , tenggelamnya matahari, di akhir hari di bulan Ramadhān.
⑶ Orang tersebut, dia memiliki makanan pokok yang mencukupi untuk dirinya dan mencukupi untuk keluarganya pada hari tersebut (istri, anak-anaknya dan yang wajib dia nafkahi).

Dan kita masuk pada pembahasan kita yang ketiga (yaitu) siapa yang wajib dizakāti.

Berkata penulis rahimahullāh:

((ويزكي عن نفسه وعمن تلزمه نفقته من المسلمين))

_((Dan dia wajib menzakāti dirinya.))_

Sebagaimana tadi sudah disebutkan di awal bahwa zakāt fitrah terkait dengan zakāt badan, tidak terkait dengan harta seseorang,  sehingga tidak ada kaitannya dengan nishāb.

Jadi seorang yang mungkin dia faqīr tidak memiliki harta tetapi dia memiliki makanan pokok untuk hari tersebut lebih dari kebutuhannya pada hari tersebut saja, maka dia wajib untuk zakāt fitrah (menzakāti dirinya sendiri).

((وعمن تلزمه نفقته من المسلمين))

_((Dan orang-orang yang wajib dia nafkahi dari kalangan kaum muslimin.))_

Jadi istrinya, anak-anaknya yang wajib dia nafkahi dan belum bisa bekerja (memiliki penghasilan sendiri) wajib dinafkahi.

Adapun anak-anak yang dia sudah bisa mendapatkan penghasilan sendiri maka tidak boleh dizakāti kecuali dengan izin anak tersebut. Dan apabila anak tersebut lain agama (misalnya) maka ini juga tidak wajib dizakāti.

Berapa kadarnya ?

((صاعا من قوت بلده))

_((Kadarnya adalah satu shā' dari makanan pokok yang dimakan dinegeri tersebut.))_

⇒ Shā' adalah ukuran takaran pada zaman Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam. Dan shā' yang dimaksud di sini adalah shā' yang digunakan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Takaran shā' sekitar 4 (empat) mud dan disebutkan di dalam Lajnah Daimah bahwa ukuran shā' jika ditimbang kira-kira sekitar 3 Kg (untuk memudahkan dalam penakaran).
Walaupun takaran atau ukuran aslinya adalah berupa takaran yaitu satu shā'.

Seorang mengeluarkan zakāt sesuai dengan makanan pokok yang dimakan, jadi kalau di Indonesia makanan pokoknya beras, maka yang dikeluarkan untuk zakāt fitrah adalah beras.

Kalau ditempat lain yang makanan pokoknya gandum maka yang dikeluarkan untuk zakāt fitrah adalah gandum. 

Apabila makanan pokoknya lebih dari satu maka boleh salah satunya tetapi lebih aula adalah sesuai dengan yang disebutkan di dalam hadīts, secara derajat kekuatannya maka diutamakan hithah (gandum) terlebih dahulu.

((وقدره خمسة أرطال وثلث بالعراقي))

_((Kadarnya adalah lima arthāl dan sepertiganya.))_

⇒ Arthāl (أرطال), 'irāqī (عراقي) biasa digunakan untuk menakar secara wazan (berat) oleh para fuqahā'.

Dan tadi sudah dijelaskan oleh para ulamā, kira-kira setiap jenis makanan pokok berbeda-beda dan disebutkan oleh Lajnah Daimah diperkirakan sekitar 3 Kg berlaku untuk semua.

Demikian yang bisa disampaikan halaqah ini dan kita akan lanjutkan pada pertemuan berikutnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

___________________

ZAKĀT FITHR (الفطر) - BAGIAN 1

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 26 Jumada Al-Ula 1441 H / 21 Januari 2020 M
👤 Ustadz Fauzan S.T., M.A.
📗 Matan Abū Syujā' | Kitāb Zakat
🔊 Kajian 88 | Zakat Fithr (bagian 1 )
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FZ-H088
〰〰〰〰〰〰〰

*ZAKĀT FITHR (الفطر) -  BAGIAN 1*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Para shahābat Bimbingan Islām yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita lanjutkan pelajaran kita dan kita masuk pada permasalahan (fasal) tentang zakāt al fithr (الفطر) atau zakāt fitrah. 

Apabila Ramadhān telah selesai (dengan tenggelamnya matahari) kemudian masuk pada 'Iedul Fithr maka wajib bagi setiap muslim untuk mengeluarkan satu kadar tertentu dari makanan pokoknya yang disebut sebagai zakāt fitrah (zakāt badan).

Kenapa disebut zakāt badan?

Karena zakāt ini tidak terkait dengan harta seseorang tetapi justru terkait dengan dzat seseorang (badan seseorang).

Oleh karena itu seseorang mungkin memiliki atau tidak memiliki nishāb, dia seorang faqīr, tapi dia tetap wajib untuk menunaikan zakāt fitrah manakala telah sesuai dengan syaratnya.

Jadi tidak disyaratkan bahwasanya dia adalah orang yang memiliki nishāb dalam harta, tapi selama dia seorang muslim dan memiliki syarat-syarat yang nanti akan disebutkan, maka dia wajib untuk menunaikan zakāt fitrah.

Berkata penulis rahimahullāh:

(فصل)
(وتجب زكاة الفطر بثلاثة أشياء: الإسلام وبغروب الشمس من آخر يوم من شهر رمضان ووجود الفضل عن قوته وقوت عياله في ذلك اليوم))

_“Wajib zakat fitrah karena tiga hal, Islam, terbenamnya matahari pada hari terakhir bulan Ramadhan, adanya kelebihan dari makanan keluarga untuk hari raya itu.”_

وتجب زكاة الفطر

_"Bahwasanya wajib zakāt fitrah."_

Pembahasan pertama bahwasanya hukum dari zakāt fitrah adalah wajib, berdasarkan keumuman dari Al Kitāb (Al Qur'ān) maupun dari hadīts Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, begitu juga ijmā' para ulamā.

Diantaranya Allāh Ta'āla berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ

_"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang berzakāt."_

(QS A'la: 14)

Di dalam sunnah di antaranya adalah hadīts dari Ibnu Abbās radhiyallāhu ta'āla 'anhumā, beliau berkata:

فَرَضَ رَسُوْلُ الله زَكَاةَ الفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِّلْمَسَاكِيْنِ فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ – أَيْ صَلاَةِ العِيْدِ- فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

_"Rasūlullāh  shallallāhu 'alayhi wa sallam mewajibkan zakāt fitrah sebagai pembersih bagi orang-orang yang berpuasa dibulan Ramadhān dari perbuatan yang lalai maupun berbuatan yang rafāts (buruk) dan sebagai makanan bagi orang-orang yang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalāt 'Ied maka dia terhitung sebagai zakāt fitrah yang diterima, dan barangsiapa yang menunaikan setelah shalāt maka dia terhitung sebagai sedekah dari sedekah biasa lainnya (tidak ada nilai zakāt fitrah)."_

(Hadīts riwayat Abū Dāwūd, ibnu Majah, Al Hakīm dan dishahīhkan oleh beliau)

Kemudian ijmā' para ulamā (para ulamā telah sepakat sebagaimana disebutkan oleh Imām Ibnu Mundzir:

وأجمعوا على أن صدقة الفطر تجب على المرء

_"Bahwasanya sedekah / zakāt fitri itu wajib."_

Dan ini ijmā' (bahwa kewajiban bagi setiap insan).

وأجمع علي أنّ صدقة الفطر..........

_"Sedekah fitrah atau zakāt fitrah adalah wajib."_

Berkata penulis rahimahullāh:

بثلاثة أشياء
_"Dengan tiga syarat."_

Pembahasan berikutnya tentang syaratnya, kata beliau, "Dengan tiga syarat," (walaupun di sana ada syarat yang tidak disebutkan oleh penulis yaitu al hurriyyah (الحرية).

3 (tiga) syarat tersebut adalah:

⑴ Islām ( الإسلام)

Orang-orang yang bukan Islām tidak diwajibkan untuk menunaikan zakāt. Mereka berdosa karena tidak berzakāt walaupun mereka kāfir. Mereka tetap menanggung dosanya akan tetapi tidak diwajibkan kepada mereka (artinya tidak diminta) zakāt dari mereka, sehingga syarat pertama adalah Islām.

⑵ Sudah tenggelam matahari (terbenam matahari dibulan Ramadhān) dan masuk pada bulan Syawwāl (وبغروب الشمس من آخر يوم من شهر رمضان).

Akhir yaum, karena pergantian hari ditanggalan hijriyyah atau qamariyyah adalah setelah tenggelamnya matahari (sudah masuk hari berikutnya).

Jadi tanggal 30 Ramadhān akhirnya adalah pada tenggelamnya matahari di hari tersebut dan mulai masuk tanggal 01 Syawwāl adalah setelah Maghrib.

√ Seorang yang dia mendapatkan dua waktu bulan Ramadhān dan bukan Syawwāl maka dia wajib untuk menunaikan zakāt fitrah.

√ Seorang yang meninggal sebelum bulan Syawwāl artinya dia meninggal sebelum selesai bulan Ramadhān maka tidak wajib zakāt fitrah.

√ Seorang yang lahir dibulan Syawwāl dan dia tidak menemukan waktu Ramadhān maka dia tidak wajib untuk menunaikan zakāt fitrah.

Di antara kewajibannya adalah tatkala dia menemui waktu ini.

Dan di sana ada pembahasan dari para ulamā kapan waktu yang baik untuk menunaikan zakāt fitri (in syā Allāh nanti kita akan bahas).

⑶ Orang tersebut, dia memiliki makanan pokok yang mencukupi untuk dirinya dan mencukupi untuk keluarganya pada hari tersebut ( وجود الفضل عن قوته وقوت عياله في ذلك اليوم).

Jadi pada hari tersebut di mulai pada waktu Maghrib (masuk tanggal 01 Syawwāl) dan dilihat, apabila dia memiliki makanan yang cukup pada hari itu maka wajib bagi dia untuk menzakātkan kelebihan dari makanan yang dia miliki.

Mungkin seseorang pada malam tersebut tidak memiliki makanan cukup, sehingga malam tersebut dia mendapatkan zakāt dari orang lain.

Tatkala dia mendapatkan makanan yang cukup walaupun sumbernya dari zakāt maka pada saat itu dia harus menunaikan zakāt (dari apa yang dia dapatkan).

Ini adalah tiga syarat dan disana ada syarat yang ke-4 yaitu Al Hurriyyah (seorang yang merdeka).

Seorang budak tidak diwajibkan zakāt karena kewajiban itu adalah bagi tuannya (bagi pemiliknya).

Demikian yang bisa disampaikan pada halaqah ini dan kita akan lanjutkan pada pertemuan berikutnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

___________________

Kajian

IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH

🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah  Fī...

hits