Kamis, 10 Desember 2020

HADĪTS MU'ĀDZ BIN JABAL RODHIYALLĀHU 'ANHU (BAGIAN 10)

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 25 Rabi'ul Akhir 1442 H / 10 Desember  2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc.
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqoh 48: Pembahasan Dalil Hadīts Mu'ādz bin Jabal rodhiyallāhu ‘anhu (Bagian 10)
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-048
〰〰〰〰〰〰〰

*HADĪTS MU'ĀDZ BIN JABAL RODHIYALLĀHU 'ANHU (BAGIAN 10)*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله أما بعد

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari hadīts ini, di antaranya adalah:

⑴ Tawadhunya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Beliau mengendarai khimar (keledai), karena menurut sebagian orang Arab, khimar adalah binatang yang hina sehingga tidak boleh dijadikan sebagai binatang tunggangan.

⑵ Pentingnya tauhīd.

Pentingnya seseorang beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla semata dan wajibnya seseorang menjauhi semua bentuk kesyirikan (baik syirik kecil maupun syirik besar).

⑶ Balasan yang akan di dapat oleh seorang hamba sekiranya mereka ikhlas di dalam beribadah untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla semata.

Balasan yang Allāh janjian adalah: وهو دخل الجنة .

Yaitu dia akan memperoleh kesempatan besar untuk masuk ke dalam surga dan dia akan dijauhkan dari adzab neraka.

⑷ Barangsiapa menyekutukan Allāh dalam peribadatan, maka dia berhak untuk memperoleh balasan yaitu adzab api neraka (wal'iyadzubillāh).

⑸ Bolehnya seseorang menyembunyikan sebagian masalah terkait dengan ilmu.

Hal ini berlaku kepada siapa saja yang dikhawatirkan jika dia mengetahuinya maka akan menyepelekan, dalam rangka melakukan perkara-perkara yang fardhu (wajib) ataukah dia melakukan perkara-perkara yang di haramkan.

Bisa jadi dia akan berzinah.

"Koq minum khamr,  sih mas?" "Ora popo seng penting ora syirik."

"Koq mboten shalat tho bu?" "Ora popo timbangane aku syirik, seng penting aku ora syirik."

Subhānallāh.

Maka disinilah sebagai seorang muslim, kita harus menjadi muslim yang 'aqil, menjadi muslim yang munshif, menjadi muslim yang adil, mana yang bisa dia ajarkan maka dia ajarkan.

Sekiranya ada suatu ilmu dan ilmu tersebut akan menjadi fitnah bagi masyarakat tersebut
maka disinilah seorang 'alim (ustd, da'i, syaikh) hendaknya berbuat arif sehingga dia bisa berbuat hikmah, agar apa yang dilakukan, apa yang dikerjakan mendapatkan keberkahan.

نكتفي بهذا القدر

Terima kasih atas segala perhatiannya ada hal yang kurang berkenan, mohon maaf yang sebesar-besarnya.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

____________________

Rabu, 09 Desember 2020

HADĪTS MU'ĀDZ BIN JABAL RADHIYALLĀHU 'ANHU (BAGIAN 9)

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 24 Rabi'ul Akhir 1442 H / 09 Desember  2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc.
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqoh 47: Pembahasan Dalil Hadīts Mu'ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 8)
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-047
〰〰〰〰〰〰〰

*HADĪTS MU'ĀDZ BIN JABAL RADHIYALLĀHU 'ANHU (BAGIAN 9)*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله أما بعد

Ikhwan Akhwat fillāh rahimakumullāh.

Salah satu yang diberitakan sesudah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam membacakan hadīts ini, Mu'ādz berkata:

فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ؟ قَالَ: لاَ تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا

_Aku berkata, “Wahai Rasūlullāh, bolehkah aku beritahukan kabar gembira ini kepada manusia?” Beliau menjawab, “Tidak perlu kamu sampaikan, nanti mereka akan bersandar.”_

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri)

Sesudah Mu'ādz mendengarkan penjelasan  dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, Mu'ādz pun merasa senang. Mu'ādz merasa bahagia dengan apa yang barusan dia dapat.

Maka Mu'ādz meminta kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam (memohon kepada Rasūlullāh) agar diberi izin untuk menyampaikan kabar baik ini kepada khalayak (manusia).

Namun Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak mengizinkan Mu'ādz untuk mengabarkan penjelasan dari Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam ini. Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam ingin agar orang-orang tidak pasrah (tidak bersandar).

Apa yang sudah menjadi kewajiban manusia, tatkala Mu'ādz mengabarkan berita ini kepada mereka, dikhawatirkan mereka akan meninggalkan kewajiban tersebut.

Yang semestinya orang-orang berlomba, tatkala mereka mendengar kabar dari Mu'ādz tentang hadīts ini dikhawatirkan mereka tidak lagi berlomba-lomba lagi.

√ Membaca Al Qur'ān, nilainya banyak, tidak lagi mereka lakukan.

√ Mengerjakan shalat sunnah, tidak lagi dikerjakan.

√ Shalat tahajud semesti mereka berlomba, bisa setiap malam melakukan shalat tahajud, tidak mereka kerjakan.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melarang Mu'ādz mengabarkan kepada khalayak dan mengatakan:

لَا تُبَشِّرُهُمْ فَيَتَّكِلُوا

_“Tidak perlu kamu sampaikan, nanti mereka akan bersandar.”_

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam khawatir orang-orang tidak melakukan ketaatan, tidak melakukan amal-amal shalih dan tidak melakukan hal-hal yang sifatnya amal shalih dari ibadah-ibadah yang ada.

⇒ Barangkali tidak lagi mengerjakan puasa sunnah, tidak berinfaq, dan meninggalkan hibah.

Mu'ādz ibn Jabal radhiyallāhu 'anhu memahami apa yang dikehendaki Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, bahwasanya larangan yang disampaikan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bukanlah larangan yang sifatnya haram, dalam artian apa yang disabdakan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada Mu'ādz bukan untuk Mu'ādz saja tapi untuk umatnya.

Dan apa yang disampaikan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada Mu'ādz bukanlah suatu hal yang haram jika Mu'ādz memberikan hal ini kepada orang lain.

Setelah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam wafat Mu'ādz pun menyampaikan apa yang disampaikan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam karena semangat Mu'ādz di dalam menyampaikan hadīts an Nabawi asy syarif linnas, karena semangat Mu'ādz untuk meriwayatkan hadīts.

Disinilah kita sebagai seorang muslim memiliki kewajiban untuk memberikan do'a kepada Mu'ādz dengan ucapan radhiyallāhu 'anhu.

نكتفي بهذا القدر

Terima kasih atas segala perhatiannya ada hal yang kurang berkenan, mohon maaf yang sebesar-besarnya.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

____________________

Selasa, 08 Desember 2020

HADĪTS MU'ĀDZ BIN JABAL RADHIYALLĀHU 'ANHU (BAGIAN 8)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 23 Rabi'ul Akhir 1442 H / 08 Desember  2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc.
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqoh 46: Pembahasan Dalil Hadīts Mu'ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 8)
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-046
〰〰〰〰〰〰〰

*HADĪTS MU'ĀDZ BIN JABAL RADHIYALLĀHU 'ANHU (BAGIAN 8)*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله أما بعد

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam suatu ketika berada di masjid, kemudian ada seorang Arab gunung yang tiba-tiba kencing di salah satu sudut masjid. Kemudian para shahabat geger (ribut) bahkan di antara mereka ada yang hendak menyakiti Arab gunung tersebut.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

دعوه ولا تزرموه

_"Biarkan dia kencing dan jangan kalian ganggu."_

Setelah Arab gunung ini selesai kencing kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam meminta salah seorang shahabat untuk mengambil satu ember air, kemudian air tersebut digunakan untuk menyiram di mana Arab gunung itu kencing.

Dan tentunya waktu itu (di zaman Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam) kondisi masjid masih berpasir.

Apa yang orang Arab gunung ini katakan?

Orang Arab gunung ini berkata:

اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي وَمُحَمَّدًا، وَلاَ تَرْحَمْ مَعَنَا أَحَدًا

_"Yā Allāh rahmatilah kami dan rahmatilah Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam, dan janganlah Engkau berikan rahmat kecuali kami berdua."_

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

لا تحجر واسعاً

_"Jangan engkau membatasi rahmat Allāh yang sangat luas."_

Tentu hikmah besar, kenapa orang baduy yang kencing di dalam masjid tidak boleh diganggu. Kalau sekiranya diganggu maka air kencing itu akan kemana-mana, kemudian dia akan menahan kencingnya sehingga dapat menimbulkan penyakit lain.

مَا كَتَبَ ولا نفسه ووعدهم به من الثواب تَفَضُّلًا مِنْهُ وَإِحْسَانَا

_Allāh Subhānahu wa Ta'āla menetapkan atas Diri-Nya bahkan memberikan janji kepada hamba-Nya berbagai macam pahala, sebagai bentuk keutamaan yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan kepada hamba-Nya dan Allāh berbuat baik untuk mereka._

Kita ini mendapatkan banyak nikmat, kita ini banyak mendapatkan karunia, maka jangan sampai nikmat dan karunia yang kita terima, kita balas dengan keburukan.

Dan Allāh menyebutkan:

هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ

_"Bukankah kebaikan itu balasannya adalah kebaikan pula."_

(QS. Ar Rahman: 60)

Dan tidak ada satu nikmat tatkala kita berbicara karunia melainkan kita menjadi seorang yang muwahīd

Kenapa?

Begitu kita bertauhīd,  maka kita meletakkan sesuatu pada tempatnya, karena disitulah hakikat ibadah.

Jika seorang hamba beribadah  kepada Allāh,  maka Allāh mewajibkan atas Diri-Nya apa yang semestinya di dapat oleh hamba.

Apa itu?

أن لا يعذب من لا يشركوا به شيئا
 
_"Allāh tidak akan mengadzab siapa saja yang tidak menyekutukan Allāh."_

Salah satu yang diberitakan bahwasanya:

فبينله عن البي ان حق الله على عبده ان يسلخوا له

فبين له البي ان حق الله على عبده ان يخلصوا له العبدة ولا يشركوا معه احد فيها

_Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberikan penjelasan bahwasanya apa yang menjadi kewajiban hamba kepada Allāh sekiranya mereka ikhlas dalam beribadah hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla semata  dan tidak menyekutukan kepada Allāh dengan suatu bentuk kemusyrikan apapun bentuknya di katakan:_

فإذا فعلوا ذلك فأن جزاءهم أن يدخلهم الجنة

_Sekiranya hamba itu mentauhīdkan Allāh (meng-Esa-kan Allāh) tidak menyekutukan Allāh maka balasan yang akan mereka terima, Allāh Subhānahu wa Ta'āla memasukan mereka ke dalam Surga_

ولا يعذبهم بالنار

_Dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak akan mengadzab mereka dengan api neraka._

Disini Surga dan disana Neraka.

Jika dia bertauhīd maka surga akan diraih dan neraka akan dijauhkan

Sebagai seorang muslim seharusnya memahami bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla memiliki makhluk dan satu makhluknya adalah makhluk mulia yaitu surga.

Didalam surga orang akan memperoleh nikmat, Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan:

فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍۢ

_"Bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya."_

(QS. At Tin: 6)

Nikmat tersebut: غَيْرُ مَمْنُونٍۢ.

para ulama menjelaskan: غَيْرُ مَمْنُونٍۢ adalah:  غير مقطع , tidak akan terputus, semuanya adalah nikmat.

Allāh firmankan:

لا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًۭا وَلَا تَأْثِيمًا ۞ إِلَّا قِيلٗا سَلَٰمٗا سَلَٰمٗا

_"Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa. Tetapi mereka mendengar ucapan salam."_

(QS. Al Waqi'ah: 25-26)

Dan nikmat surga Allāh menyebutkan:

وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلٗا

_Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya._

(Al Insān: 14)

Diayat lain dikatakan:

قُطُوفُهَا دَانِيَةٌۭ

_"Jika seseorang hendak mengambilnya maka sangat mudah (buah-buahnya mendekat)."_

(QS. Al Haqqah: 23)

Allāh menyebutkan:

وَلَحْمِ طَيْرٍۢ مِّمَّا يَشْتَهُونَ

_"Dan daging burung dari apa yang mereka inginkan."_

(QS. Al Waqi'ah: 21)

Nikmat surga yaitu daging burung puyuh, tidak disebut "telo", tidak disebut "gudeg", tidak disebut "gaplek", tidak disebut sagu, tidak disebut "sego".

Kenapa?

"Mareki" (membuat kenyang).

Maka Allāh firmankan:

وَفَـٰكِهَةٍۢ كَثِيرَةٍۢ

_"Nikmat surga, mereka akan mendapatkan buah-buahan yang banyak."_

(QS. Al Waqi'ah: 32)

Nataufīq bihadzal qadar, terima kasih atas segala perhatiannya ada hal yang kurang berkenan, mohon maaf yang sebesar-besarnya.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

____________________

Senin, 07 Desember 2020

HADĪTS MU'ĀDZ BIN JABAL RADHIYALLĀHU 'ANHU (BAGIAN 7)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 22 Rabi'ul Akhir 1442 H / 07 Desember  2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc.
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqoh 45: Pembahasan Dalīl Hadīts Mu'ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu (Bagian 7)
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-045
〰〰〰〰〰〰〰

*HADĪTS MU'ĀDZ BIN JABAL RADHIYALLĀHU 'ANHU (BAGIAN 7)*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله أما بعد

Ikhwan Akhwat Fīlllāh rahimakumullāh.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

فَعَّالٌۭ لِّمَا يُرِيدُ

_"Melakukan segala sesuatu atas kehendaknya."_

(QS. Al-Buruj:85)

Di dalam ayat lain  Allāh mengatakan:

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ لَكُم مَّا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًۭا

_"Dialah Allāh Subhānahu wa Ta'āla, Dzaat yang telah menciptakan untuk kalian."_

Apa yang diciptakan Allāh?

مَّا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًۭا

_"Semua yang ada di muka bumi, semuanya untuk manusia."_

(QS. Al-Baqarah: 29)

Menunjukkan manusia tidak boleh berputus asa dari rahmat Allāh.

وَلَا تَا۟يْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ

_"Jangan kamu berputus-asa dari rahmat Allāh."_

(QS. Yusuf: 87)

Kenapa?

Karena:

ما كتبه على نفسي

_Allāh telah menetapkan untuk Diri-Nya demi kemaslahatan hamba-Nya._

Bersyukur kita punya istri, bersyukur kita punya suami.

Istri yang kita miliki, suami yang senantiasa mendampingi kita, itu adalah ketetapan Allāh yang Allāh berikan kepada hamba-Nya.

Hanya saja di dunia ini tentunya banyak ujian, ujian satu dengan yang lain berbeda.

Dan Allāh menyebutkan di dalam Al-Qur'ān:

أَيَحْسَبُ ٱلْإِنسَـٰنُ أَن يُتْرَكَ سُدًى

_"Apakah manusia menganggap bahwasanya ia diciptakan begitu saja?"_

(QS. Al-Qiyamah: 36)

لا يؤمر ولا ينهى، ولا يتعبد بعبادة

_"Tidak ada perintah dan tidak ada larangan?"_

Imam Asy Syafi'i rahimahullāh tatkala mengomentari firman Allāh:

أَيَحْسَبُ ٱلْإِنسَـٰنُ أَن يُتْرَكَ سُدًى

_Apakah manusia itu diciptakan begitu saja?_

لا يؤمر ولا ينهى

_Tidak ada perintah dan tidak ada larangan?_

Oh tidak, disana ada perintah dan di sana ada larangan.

Jika seorang hamba beribadah kepada Allāh

وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

_Tidak menyekutukan Allāh._

Maka di sini Allāh berkomitmen.

Maka dikatakan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ؟

_"Hak yang harus di dapat oleh hamba dan itu telah ditetapkan oleh Allāh."_

Maka dikatakan:

ووعدهم به من الثواب

_"Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan memberikan janji yang baik."_

Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan memberikan pahala untuk mereka yang melakukan ketaatan.

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًۭا يَرَهُۥ

_"Orang yang melakukan ketaatan, maka dia akan menjumpai ketaatan tersebut."_

(QS. Az-Zalzalah: 7)

 لايُغَادِرُ صَغِيرَةًۭ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحْصَىٰهَا

_"Tidak ada suatu hal besar atau kecil pasti akan ada perhitungannya."_

(QS. Al-Kahfi: 49)

Ikhwan Akhwat Fīlllāh rahimakumullāh.

Jika kita berbicara karunia Allāh, Allāh sangatlah banyak memiliki karunia. Bahkan yang namanya amal, amal yang dilakukan oleh hamba dengan kenikmatan yang di dapat oleh hamba, maka kenikmatan tersebut jauh lebih banyak dibandingkan ketaatan yang dilakukan oleh hamba.

Kita ulangi!

Balasan yang Allāh berikan untuk hamba di dunia, nikmat yang Allāh berikan kepada hamba di dunia ini, jika di banding dengan ketaatan yang dilakukan oleh manusia sangatlah jauh.

Kita berbicara waktu. Yang namanya waktu sehari semalam adalah 24 jam, kita mempunyai kewajiban untuk menzakati waktu.

Apakah bentuk zakat waktu?

Bentuk zakat waktu adalah shalat, 5 menit dhuhur, 5  menit ashar, 5 menit maghrib, 7 menit isya, 10 menit shubuh.

إِنَّ قُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًۭا

_"Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)."_

(QS. Al-Isrā': 78)

Maka dianjurkan untuk memperpanjang shalat shubuh, kenapa?

Disaksikan oleh para malaikat.

Jadi taruhlah sehari semalam kita menzakati waktu hanya setengah jam, dari 24 jam. Sungguh sangat sedikit.

Itu jika kita berbicara apa yang dilakukan hamba kepada Allāh, sungguh Allāh jauh lebih banyak kebaikannya.

Mohon maaf  kalau kaki kita terkena duri, tangan kita terkena pisau, mungkin setiap kali kita beraktivitas akan meringis-meringis  mengadu dan mengeluh. Māsyā Allāh.

Berapa banyak mereka yang di rumah sakit.
Berapa banyak mereka yang opname.

Begitu ditanya, "Dos pundi kabaripun, lek?" "Dos pundi kabaripun, mbokde?" "Bagaimana kabarnya, om?" Mereka akan berkata, "Alhamdulillāh."

Kenapa, tangannya patah koq bilang, Alhamdulillāh? Kakinya keseleo koq bilang Alhamdulillāh?

Apakah alhamdulillāh cuma keseleo, alhamdulillāh cuma patah tangan, alhamdulillāh masih hidup? Oh, tidak!

Kenapa kita begitu menengok saudara kita yang sedang sakit parahpun, begitu dia ditanya
dia mengatakan, "Alhamdulillāh."

Māsyā Allāh, luar biasa.

Seorang mukmin luar biasa. Saya pernah bertemu orang yang jualan soto. Orang jualan soto biasanya sebelum shubuh sudah bangun. Pagi jam 06.00 sudah mulai dasar (buka), siang masih buka, dhuhur ditutup dhuhuran. Habis dhuhur dilanjutkan jualan. Ashar shalat ashar. Habis ashar berkemas-kemas selesai. Saya tanya, "Bu, dos pundi sadeanne pun (Bu, bagaimanakah hasil jualannya)?" Ibu ini mengatakan, "Alhamdulillāh."  Beliau memberitahu kami bahwa dari pagi hingga sore laku 2 mangkok, tapi ibu itu tetap berkata, "Alhamdulillāh."

Kenapa?

Jawabannya adalah tafa'ulan.

Tafa'ulan adalah senantiasa berharap rahmat dari Allāh.

Yang sakit optimis sembuh, yang jualan optimis bisa laku lebih banyak lagi.

Demikian, maka jika seorang hamba beribadah kepada Allāh, seorang hamba tidak menyekutukan Allāh, maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah memberikan kepada kita apa yang sudah menjadi janjinya.

ما كَتَبَهُ عَلى نَفْسِهِ

نكتفي بهذا القدر

Terima kasih atas segala perhatiannya ada hal yang kurang berkenan, mohon maaf yang sebesar-besarnya.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

____________________

Jumat, 04 Desember 2020

FAEDAH SURAT AL-KAHFI, BAGIAN 03 DARI 09

🌍 BimbinganIslam.com
Juma't 19 Robi'ul Akhir 1442 H / 04 Desember 2020 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Tafsir | Faedah Surat AlKahfi (Bagian 03 dari 09)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-FaedahAlKahfi-03
~~~~~~~~~~~~~~~

*FAEDAH SURAT AL-KAHFI, BAGIAN 03 DARI 09*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

In syā Allāh pada kesempatan kali ini kita akan bersama-sama berusaha untuk mengambil faedah-faedah dari surat Al Kahfi.

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengatakan:

وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا

_Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, "Allāh mempunyai seorang anak."_

(QS Al Kahfi: 4)

Yang mengatakan Allāh memiliki anak ada 3 (tiga) golongan sebagaimana yang disampaikan oleh Al Qurthubi dan As Shinqithi rahimahullāh. 

3 golongan tersebut adalah:

_⑴ Orang-orang Yahūdi_

Orang Yahūdi mengatakan:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّه

_Orang-orang Yahūdi berkata: ''Uzāir itu putera Allāh."_

(QS At Taubah: 30)

Orang-orang Yahūdi mengatakan 'Uzāir adalah anak Allāh karena 'Uzāir telah menyalin kembali Taurāt setelah Taurāt tersebut hilang.

Kemudian mereka mensucikan 'Uzāir sehingga mereka mengatakan bahwa  'Uzāir adalah putra Allāh.

_⑵ Orang-orang Nashārā_

Orang-orang Nashārā mengatakan:

ِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ

_Dan orang-orang Nashrāni berkata, "Al Masīh itu putra Allāh."_

(QS At Taubah: 30)

_⑶ Orang-orang musyirikin Arab_

وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ ٱلْبَنَـٰتِ سُبْحَـٰنَهُۥ ۙ وَلَهُم مَّا يَشْتَهُونَ

_"Dan mereka menetapkan bagi Allāh anak-anak perempuan. Maha Suci Allāh, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki)."_

(QS An Nahl: 57)

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ* يَتَوَارَىٰ مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ ۚ أَيُمْسِكُهُ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

_"Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, hitamlah (merah padam) muka mereka, dan dia sangat marah._

_Dia menyembunyikan dirinya dari orang banyak disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya, apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburnya ke dalam tanah hidup-hidup?_

_Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan."_

(QS An Nahl: 58-59)

Allāh mengatakan, orang-orang musyirikin ini memberikan pembagian yang tidak adil, mereka tidak suka memiliki anak perempuan. Apabila ada anak perempuan lahir dikalangan mereka wajah mereka menjadi hitam karena malu. Aib bagi mereka memiliki anak perempuan dan mereka mengatakan Allāh memiliki anak perempuan. Mereka mengatakan malāikat adalah putri-putri Allāh.

Sehingga Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengatakan:

تِلْكَ إِذًۭا قِسْمَةٌۭ ضِيزَىٰٓ

_"Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil."_

(QS An Najm: 22)

Jadi orang-orang yang mengatakan, Allāh Subhānahu wa Ta'āla punya anak, maka mereka diperingatkan oleh Al Qurān dengan adzab yang pedih.

Ini dalīl bahwasanya sesembahan yang disembah di zaman Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam banyak.

Ada yang menyembah batu, matahari, api, Nabi 'Īsā dan malāikat.

Di antara yang menyembah malāikat adalah kaum musyrikin Arab.

⇒Orang yang berdo'a kepada malāikat maka dia adalah musyrik dengan kesepakatan para ulamā.

Apabila ada seseorang berdo'a kepada malāikat dan mengatakan:

"Wahai malāikat pengatur hujan, turunkanlah hujan."

Maka orang ini musyrik, padahal dia minta hujan kepada malāikat yang dipercayakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla untuk mengatur hujan. Malāikat itu benar-benar mengatur hujan atas permintaan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Namanya tauhīd harus minta kepada pengaturnya, kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Bukan kepada malāikat, walaupun malāikat itu benar-benar mengatur hujan.

Apalagi meminta kepada penghuni kubur yang tidak bisa apa-apa.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengatakan:

مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ ۚ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ ۚ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا

_"Mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak mengetahui sesuatu kecuali dusta."_

(QS Al Kahfi: 5)

Ini menunjukkan bahwasanya kesyirikan merupakan murni kedustaan, tidak ada kebenarannya dari sisi manapun.

Bagaimana kita menyatakan bahwa Allāh Subhānahu wa Ta'āla mempunyai anak ?

Padahal Allāh Subhānahu wa Ta'āla Maha Esa.

Bagaimana seorang menyembah kepada makhluk, menyamakan Allāh pencipta alam semesta ini dengan makhluk yang diciptakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla?

Maka sungguh buruk pernyataan orang-orang liberal yang mengatakan bahwa:

"Semua agama masuk surga."

Ini tidak benar!  Ini kekufuran/kedustaan yang nyata.

Bagaimana mereka menyamakan antara agama tauhīd dengan kesyirikan?

Kemudian kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

_"Maka, apakah barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak berimān kepada keterangan ini (Al Qurān)."_

(QS Al Kahfi: 6)

Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam bersedih, wajar bila beliau (shollallāhu 'alayhi wa sallam) bersedih karena beliau ingin manusia mendapatkan hidayah.

Tatkala beliau (shollallāhu 'alayhi wa sallam) berdakwah kepada orang-orang musyrikin dan orang-orang musyrikin berpaling (menjauhi Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam) maka beliau bersedih dan Allāh menegur, "Jangan engku terlalu bersedih."

Kenapa?

Karena apabila orang terlalu bersedih maka akan banyak kemaslahatan yang akan terhalangi.

Apabila orang berdakwah kemudian dicela, kemudian dia memikirkan celaan tersebut, akhirnya dia tidak mengisi pengajian atau tidak perhatian sama istri dan anak-anaknya karena terlalu sedih sebab hal tersebut.

Sedih wajar, tetapi jangan berlebihan.

Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam ditegur oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

ولَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ

_“Jangan terlalu bersedih atas mereka.”_

(QS Al Hijr: 88)

Demikianlah namanya dakwah, ada yang mendapat hidayah dan ada disesatkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla menegur Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam, tatkala orang-orang musyrikin pergi meninggalkan Nabi ketika dibacakan Al Qurān.

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla jelaskan:

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

_“Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya?”_

وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًا

_“Dan sungguh kami akan menjadikan apa yang ada di atas muka bumi tersebut menjadi tanah rata lagi tandus.”_

Jadi ada dua tafsiran di kalangan para ulama tentang, "Kami akan menjadikan apa yang ada di atas muka bumi tersebut menjadi tanah rata lagi tandus."

Tafsiran pertama:

_Bahwasanya ini5 perumpamaan tentang dunia, bahwasanya dunia itu indah, namun akan sirna._

Dalam ayat yang lain:

"Sebagimana tumbuhan yang tumbuh di atas muka bumi tersebut dalam keadaan hijau, kemudian akhirnya mengering, kemudian hilang, kemudian menjadi tanah yang tandus, demikianlah dunia ini akan hilang."

Tafsiran kedua:

_Bahwasanya Kami akan menjadikan bumi ini sebagai padang mahsyar, akan Kami jadikan datar dan tandus dan itu adalah kondisi padang mahsyar pada hari kiamat._

Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengatakan:

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ

_“(Yaitu) Hari di mana bumi diganti dengan bumi yang lain.”_

(QS Ibrohīm: 48)

وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ

_“Dan apabila bumi diratakan.”_

(QS Al In syiqoq: 3)

Kapan terjadinya?

Yaitu pada hari kiamat.

Allāh hancurkan gunung-gunung yang ada di atas muka bumi tersebut:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا * فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا * لَّا تَرَىٰ فِيهَا عِوَجًا وَلَا أَمْتًا

_Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah, “Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya." Maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali. Tidak ada sedikitpun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi._

(QS Thohā: 105-107)

Demikianlah kajian kita pada kesempatan kali ini.

وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Bersambung ke bagian 04, in syā Allāh
______________________

Kamis, 03 Desember 2020

HADĪTS MU'ĀDZ BIN JABAL RODHIYALLĀHU 'ANHU (BAGIAN 6)

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 18 Rabi'ul Akhir 1442 H / 03 Desember 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc.
📗 Kitāb At-Tauhīd
🔊 Halaqoh 44: Pembahasan Dalīl Hadīts Mu'ādz bin Jabal rodhiyallāhu ‘anhu (Bagian 6)
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-044
〰〰〰〰〰〰〰

*HADĪTS MU'ĀDZ BIN JABAL RODHIYALLĀHU 'ANHU (BAGIAN 6)*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله أما بعد

Kita kembali lanjutkan pada hadīts terkait dengan anjuran untuk mentauhīdkan Allāh dan menjauhi semua bentuk kemusyrikan.

وَعَن معَاذبن جبل رَضِي الله عَنهُ قَالَ كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسلم على حمَار يُقَال لَهُ عفير فَقَالَ يَا معَاذ هَل تَدْرِي حَقُّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ؟ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ قَالَ لَا تُبَشِّرُهُمْ فَيَتَّكِلُوا

Pada pembahasan yang lewat, kita telah sampaikan terkait dengan materi ini dan kita sedikit mengulang arti dari hadīts yang pernah kita sampaikan.

وَعَن معَاذبن جبل رَضِي الله عَنهُ

_Dari Mu'ādz ibn Jabal rodhiyallohu 'anhu._

Mu'ādz ibn Jabal adalah shahabat Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam. Beliau adalah Mu'ādz ibn Jabal ibn Amr Al-Anshori.

Beliau termasuk shahabat yang mulia, termasuk pembesar para shahabat. Beliau juga termasuk dari 70 orang yang ikut bai'at 'Aqobah kedua.

Beliau shahabat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang pernah ikut perang Badar dan beberapa perang yang sesudahnya.

Beliau shahabat Nabi shollallāhu 'alayhi wa sallam yang pintar di dalam hukum, mahir dalam Al-Qur'ān dan Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam pernah mengutusnya ke negeri Yaman.

Salah satu yang diberitakan bahwasanya beliau meninggal di negeri Syām tahun 38 sesudah Hijriyyah.

Mu'ādz rodhiyallāhu 'anhu suatu saat pernah berkata:

كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسلم على حمَار يُقَال لَهُ عفير

_Dahulu aku pernah dibonceng oleh Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam di atas keledai yang bernama 'Ufair._

فَقَالَ يَا معَاذ هَل تَدْرِي حَقُّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ؟

_"Wahai Mu’ādz! Tahukah engkau apa hak Allāh yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi oleh Allāh?"_

قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

_Aku menjawab, "Allāh dan Rosūl-Nya yang lebih mengetahui."_

قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

_Beliau shollallāhu 'alayhi wa sallam berkata, "Hak Allāh yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah mereka hanya beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun."_

Maka di sini, yang pertama adalah ibadah dan yang kedua tidak menyekutukan Allāh. Ada perintah dan ada larangan.

Begitu kita berbicara perintah, maka perintah yang paling agung adalah beribadah.

Dan ibadah pada dasarnya adalah haram, kecuali yang telah ditegaskan.

Berbeda dengan makanan. Tatkala kita berbicara makanan maka semua makanan pada  dasarnya adalah halal, kecuali apa yang diharamkan.

Yang diharamkan itu menjadi kewajiban hamba untuk menjauhinya.

Hikmah besar tatkala Allāh menjadikan semua bentuk makanan itu (tadinya) halal dan Allāh tidak menyebutkan nama makanan satu persatu.

Coba dibayangkan! Kalau nama makanan disebut satu persatu bisa sampai 1/2 juz , isinya membahas masalah makanan: gedang goreng, gedang godok, gedang klutuk, gedang becici, gedang Ambon, gedang ini, pisang ini. Mohon maaf orang jawa menyebut pisang itu gedang.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan melalui lisan Rasūl-Nya:

وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

_Tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun."_

Begitu kita berbicara larangan, maka yang paling terdepan begitu kita berbicara larangan adalah seseorang menyekutukan Allāh.

Dan demikianlah seorang hamba memiliki kewajiban, apa yang harus ditunaikan kepada Allāh.

Pembahasan materi pada kali ini.

Rosūlullāh shollallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan:

وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ

_Apakah hak yang di dapat oleh hamba dari Allāh?_

Hak yang harus di lakukan oleh Allāh kepada hamba-Nya.

Maka dikatakan:

ما كتبه على نفسي ووأدهم به من ثواب تفظلن منه و إحسان

_Apa-apa saja yang telah Allāh tetapkan atas diri-Nya. Apa-apa saja yang menjadi kewajiban Allāh kepada hamba-Nya._

Menunjukkan bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla Dzat yang Maha Kasih Sayang, karena Allāh telah menetapkan apa yang semestinya akan dikerjakan oleh Allāh.

Kapan?

Selama hamba itu masih di dunia, bahkan di akhirat nanti  akan mendapatkan haknya pula.

Maka dikatakan:
ما كتبه على نفسي

Ikhwan Akhawatiy Fīlllāh Rohimakumullāh.

Begitu kita berbicara: حَقُّ الْعِبَاد
ِ عَلَى اللَّهِ ,
maka di sinilah seorang mukmin hendaknya husnudzon billāh (husnudzon kepada Allāh).

Kenapa?

Karena Allāh telah menetapkan apa yang bakalan Beliau lakukan terhadap hamba-Nya, apa yang akan Allāh kerjakan untuk maslahat hamba-Nya.

وَٱللَّهُ رَءُوفٌۢ بِٱلْعِبَاد

_Allāh sangat kasih sayang terhadap hamba-Nya._

Bahkan Allāh memberikan pernyataan:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

_"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa."_

(QS. Al-Baqoroh: 21)

Begitu Allāh menciptakan manusia, Allāh tidak akan membiarkan hambanya begitu saja, tidak!

Allāh akan memiliki kewajiban atas Diri-Nya untuk memberikan nafkah, untuk memberikan rezeki, untuk memberikan penghidupan,  untuk memberikan udara. Bahkan Allāh memberikan apa yang kita minta dan apa yang tidak kita minta.

نكتفي بهذا القدر

Terima kasih atas segala perhatiannya ada hal yang kurang berkenan mohon maaf yang sebesar-besarnya.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا الله، أستغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

____________________

Rabu, 02 Desember 2020

HADĪTS MU'ĀDZ BIN JABAL RADHIYALLAHU 'ANHU (BAGIAN 5)

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu 17 Robi'ul Akhir 1442 H / 02 Desember 2020 M
👤 Ustadz Abdussalam Busyro, Lc.
📗 Kitab At-Tauhid
🔊 Halaqoh 43: Pembahasan Dalil Hadīts Mu'ādz bin Jabal rodhiyallāhu ‘anhu (Bagian 5)
⬇ Download audio: bit.ly/UAB-KT-043
〰〰〰〰〰〰〰

*HADĪTS MU'ĀDZ BIN JABAL RADHIYALLAHU 'ANHU (BAGIAN 5)*

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولاحول ولاقوة إلا بالله أما بعد

Ikhwah wa Akhawatiy Fīlllāh rahimakumullāh.

Kewajiban yang berikutnya yang harus dilakukan seorang hamba adalah:

لا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

_"Tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu pun dalam hal peribadatan).”_

Maka dikatakan tidaklah ada suatu larangan yang paling harus diperhatikan yaitu untuk tidak menyekutukan Allāh.

Di dalam ayat terakhir surat Al Kahfi, Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا

_"Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Rabb-nya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.”_

(QS Al Kahfi: 110)

Allāh menutup ayat-Nya:

وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا

_Agar mereka tidak menyekutukan Allāh dalam perkara ibadah apapun._

Mohon maaf, terkadang orang jawa percaya dengan kekuatan yang ada pada batu akik.

Misalnya:

Seseorang meyakini kekuatan batu akik, kemudian dia berkata, "Seandainya waktu tabrakan kemarin aku membawa batu akik, in syā Allāh aku tidak terkapar di rumah sakit hari ini."

Māsyā Allāh, masih menggunakan "in syā Allāh", sesuatu yang telah lewat (telah berlalu) tidak perlu menggunakan kata "in syā Allāh".

Contoh: "Tadi pagi sudah makan, mas?” “In syā Allāh,  sudah.”

Untuk menjawab pertanyaan ini tidak perlu menggunakan kata "in syā Allāh" karena kejadiannya sudah terjadi.

Sebagian orang percaya batu akik memiliki kekuatan khusus, dan mengatakan, "Aku, kalau bekerja tidak menggunakan batu akik badan ku lemes," ini tidak benar.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, Beliau mencium hajar aswad. Umar bin Khaththab radhiyallāhu 'anhu, ketika beliau berada di depan Ka'bah (di depan hajar aswad) beliau berkata kepada hajar aswad.

⇒ Hajar aswad adalah batu surga yang dulunya berwarna putih melebihi putihnya salju, karena banyaknya dosa yang dilakukan oleh anak keturunan Adam maka berubahlah batu tersebut menjadi berwarna hitam.

Umar bin Khaththab berkata kepada hajar aswad:

وَاللَّهِ أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

_"Demi Allāh, aku tahu engkau adalah batu, yang tidak bisa mendatangkan manfaat dan juga tidak bisa memberikan mudharat (bahaya). Seandainya bukan karena aku melihat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu."_

Māsyā Allāh.

Tauhīd: و لا يشرك به شيئاً

Menggunakan cincin atau batu akik tidak apa-apa. Yang tidak benar adalah ketika dia memakai cincin atau akik tersebut kemudian dia meyakini batu tersebut memiliki kekuatan.

Suatu saat ada salah seorang jamaah haji berkata kepada kami, "Ustdaz saya pernah dapat warisan dari orang tua berupa keris, dan beliau berpesan agar setiap 35 hari (orang jawa mengatakan "selapan") harus dicuci dan dirumat dengan menggunakan bunga-bunga tertentu. Jika tidak dicuci menggunakan bunga-bunga tertentu, maka keris itu akan keluar dari sarung (rumah keris tersebut)."

Kemudian kami bertanya, "Sekarang bagaimana mbah, apakah setiap selapan (35 hari) sekali bapak cuci dan rumat?"

Beliau menjawab, "Sekarang keris itu saya buang ke sungai, karena saya sudah belajar tauhīd."

Lalu kami bertanya, "Apakah manfaat tauhīd?"

Beliau menjawab, "Dengan tauhīd saya menjadi tenang."

Kekuatan hanyalah milik Allāh. Tidak benar jika ada barang-barang tertentu yang memiliki kekuatan yang sifatnya khusus.

Kemuliaan itu milik Allāh, milik Rasūl-Nya dan milik kaum mukminin.

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

_"Kemuliaan itu dimiliki oleh Allāh, dimiliki oleh Rasūl-Nya dan dimiliki oleh orang-orang yang beriman.”

(QS Al Munafiqun: 8)

Tentunya di zaman sekarang banyak orang yang sedang banyak masalah, ada sebagian orang yang mempunyai masalah kemudian dia kembalikan urusannya kepada Allāh sehingga dia berada di jalan yang benar.

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ

_"Larilah kalian menuju Allāh.”_

(QS Adz Dzariyyat: 50)

Tapi ada sebagian orang, begitu memiliki masalah dia tidak mengembalikan masalahnya kepada Allāh, tetapi lari kepada bebatuan, lari kepada keris, lari kepada jimat yang dengannya  dia memiliki anggapan di dalamnya ada kekuatan.

نكتفي بهذا القدر

Demikian, semoga bermanfaat, In syā Allāh kita sambung lagi.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_________________________

Kajian

IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH

🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah  Fī...

hits