Senin, 06 November 2017

Kajian 13 | Hukum Bersiwak- Hal-hal Yang Berkaitan Dengan Siwak

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 17 Shafar 1439 H / 06 November 2017 M
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abū Syujā' | Kitab Thahārah
🔊 Kajian 13 | Hukum Bersiwak- Hal-hal Yang Berkaitan Dengan Siwak
-----------------------------------

HUKUM BERSIWAK DAN HAL-HAL YANG BERKAITAN DENGAN SIWAK

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و بعد.

Para Sahabat sekalian yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, pada halaqah yang ke-13 ini, Penulis rahimahullāh melanjutkan pembahasan tentang siwak.

قال المصنف:
((فصل: والسواك مستحاب في كل حال، إلا بعد الزوال للصائم، و هو في ثلاثة مواضع أشد استحبابا: عند تغير الفم من أزم وغيره، و عند الإستيقاظ من النوم، وعند القيام الصلاة))

Para Sahabat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla, ada beberapa point yang akan kita simpulkan dalam masalah siwak kali ini.

■ PERTAMA | APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN SIWAK?

Siwak adalah nama akar atau ranting dari pohon yang digunakan untuk bersiwak atau membersihkan gigi dan mulut.

Dan yang terbaik-dikatakan oleh para ulama-adalah dari pohon al-arak. Namun pohon lain pun bisa digunakan dengan syarat :

✓Seratnya lembut.
✓Dapat membersihkan.
✓Tidak berjatuhan pada saat digunakan.

Secara umum dikatakan, siwak adalah alat yang digunakan untuk bersiwak atau membersihkan mulut.

■ KEDUA | HUKUM MENGGUNAKAN SIWAK

Berkata Muallif (Penulis) rahimahullāh di dalam matannya:

((والسواك مستحاب في كل حال))

((Dan bersiwak hukumnya mustahāb/sangat dianjurkan/sunnah dalam setiap waktu))

Ini adalah pendapat madzhab Syāfi'ī dan juga pendapat madzhab jumhūr ulama bahwa hukumnya mustahāb (sunnah) dan sangat dianjurkan.

Dan disana ada pendapat yang lain yang lemah bahwasanya mengatakan siwak hukumnya adalah wajib, ini pendapat Imām Dāwūd Azh-Zhāhiri.

Para Sahabat rahimakumullāh,

Bersiwak termasuk sunnah yang sangat disukai dan sering dilakukan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Bahkan tatkala menjelang wafat Beliau, Beliau masih memiliki keinginan untuk bersiwak sehingga mengisyaratkan kepada 'Āisyah bahwasanya Beliau ingin bersiwak.

Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim menghidupkan sunnah ini dan tidak melecehkan atau menghina orang-orang yang menghidupkan sunnah ini, yaitu yang mereka bersiwak disetiap waktunya.

Dan hendaknya bagi orang yang bersiwakpun untuk menjaga adab-adab di dalam menggunakan siwaknya.

Rasulullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda mengenai keutamaan siwak :

السِّوَاكُ مطهرة لِلْفَمِ وَ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

"Bahwasanya siwak itu adalah kebersihan bagi mulut dan mendatangkan keridhaan dari Rabb." (Hadits shahīh, diriwayatkan oleh Imām Ahmad)

Dalam hadits yang lain, Rasulullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam juga mengatakan :

لَوْلا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوْءٍ

"Seandainya tidak memberatkan umatku maka niscaya sudah aku perintahkan mereka untuk bersiwak pada saat setiap akan berwudhū'." (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Bukhāri dan Muslim di dalam hadits yang lain :

عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ

"Pada saat setiap akan melaksanakan shalat."

⇒ Ini menunjukkan bagaimana Rasulullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam sangat menekankan pentingnya untuk bersiwak dan membersihkan mulut dari kotoran dan bau.

Kenapa? Karena kata Rasulullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, seandainya tidak memberatkan maka Beliau akan wajibkan.

■ KETIGA | HUKUM BERSIWAK BAGI ORANG YANG BERPUASA

Di dalam matan, mushannif mengatakan :

((إلا بعد الزوال للصائم))

((Siwak itu adalah mustahāb/sunnah kecuali setelah tergelincirnya matahari bagi orang yang berpuasa))

⇒ Tergelincirnya matahari maksudnya adalah pada saat masuk waktu Zhuhur.

Ini adalah pendapat Syāfi'īyyah dan Hanbali; bahwa orang yang berpuasa apabila masuk waktu dzuhur maka makruh bagi mereka untuk bersiwak bagi mereka.

Dalil hadits Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam :

لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

"Bau mulutnya orang yang berpuasa adalah lebih baik disisi Allāh daripada bau minyak wangi yang terbuat dari misk." (HR Bukhāri dan Muslim)

Dan kata mereka, bau mulut itu terjadi mulai siang dan sore.

⇒ Dan ini adalah pujian dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla terhadap orang yang berpuasa dan keutamaan mereka (orang yang berpuasa).

Maka tidak selayaknya dihilangkan bau tersebut karena bau tersebut memiliki keutamaan, sebagaimana disebutkan dalam hadits.

Sebagaimana para syuhadā, mereka dikuburkan dengan darah-darah mereka tanpa dibersihkan terlebih dahulu.

Kenapa? Karena darah-darah tersebut memiliki keutamaan di sisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Ini adalah sisi pendalilan mereka.

Namun, yang dirajihkan (dikuatkan) oleh Syaikh 'Utsaimin rahimahullāh bahwasanya hukumnya adalah sunnah baik pagi maupun sore atau kapan saja.

Dan tidak ada dalil yang kuat (jelas) yang menunjukkan tentang makruhnya bersiwak setelah tergelincirnya matahari bagi orang yang berpuasa.

■ KEEMPAT | WAKTU-WAKTU YANG DIANJURKAN UNTUK BERSIWAK

Bersiwak dianjurkan pada setiap waktu, sebagaimana sudah kita sebutkan di awal pembahasan.

Namun disana ada waktu-waktu yang amat sangat dianjurkan karena pada waktu-waktu tersebut mulut seseorang menjadi bau.

Berkata Mushannif di dalam matannya:
((وهو في ثلاثة مواضع أشد استحبابا))

((Bersiwak itu pada 3 keadaan dimana dia amat sangat dianjurkan))

• ⑴
((عند تغير الفم من أزم وغيره))

((Pada saat mulut berubah menjadi bau disebabkan azmin* atau disebabkan sebab-sebab yang lainnya))

*Azmin adalah seorang yang diam cukup lama atau tidak makan dalam waktu yang cukup lama sehingga menyebabkan mulutnya bau.

⇒ Maka pada saat ini amat sangat dianjurkan untuk bersiwak.

• ⑵
((و عند الإستيقاظ من النوم))

((Pada saat bangun dari tidur))

Sebagaimana kita tahu, kebanyakan orang pada saat bangun tidur maka mulutnya menjadi bau.

⇒ Maka pada saat ini amat sangat dianjurkan untuk bersiwak atau membersihkan mulutnya.

Pada point ⑴ dan ⑵ ini adalah aplikasi dari hadits Rasulullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bahwasanya siwak adalah :

السِّوَاكُ مطهرة لِلْفَمِ

"Sebagai pembersih dari mulut seseorang."

• ⑶

((وعند القيام الصلاة))

((Pada saat seseorang hendak melaksanakan shalat))

⇒ Maka amat sangat dianjurkan untuk bersiwak.

Begitu juga pada ibadah yang lainnya seperti berwudhū' sebagaimana disebutkan dalam hadits Bukhāri dan Muslim. Juga ibadah membaca Al-Qurān dan ibadah-ibadah yang lainnya.

Hendaknya setiap Muslim bersiwak dan membersihkan mulutnya agar mulutnya tidak menjadi bau, karena bau mulut seseorang itu akan mengganggu orang lain dan yang ada di sebelahnya.

Dan ketahuilah, segala sesuatu yang mengganggu oranglain maka dia juga mengganggu para malaikat.

Dalam sebuah hadits, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda :

فَإِنَّ الْمَلائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بنو آدمَ

"Karena sesungguhnya para malaikat itu dia terganggu dengan apa-apa yang membuat anak Ādam (manusia) terganggu." (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini tatkala ada seseorang yang masuk ke dalam masjid yang mana dia mulutnya bau bawang, maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan bahwa malaikat terganggu dengan apa-apa yang terganggu olehnya anak Ādam.

■ KELIMA | SIKAT GIGI YANG BANYAK DIGUNAKAN, APAKAH DIA MEMILIKI KEUTAMAAN YANG SAMA ATAU MASUK PADA KEUTAMAAN SIWAK?

Disini ulama bersepakat bahwa:
◆ Yang terbaik digunakan untuk bersiwak adalah akar dari pohon al-arak, karena dia:

✓Memiliki zat-zat yang sangat bermanfaat dan juga menghilangkan bau yang tidak sedap.

✓Bisa mengeluarkan bau yang sedap bagi orang yang memakainya.

Akan tetapi, dikatakan oleh para ulama bahwasanya semua yang dapat menghilangkan kotoran dan bau dari mulut, maka dia termasuk ke dalam keutamaan bersiwak.

Demikian yang bisa disampaikan.

والله أعلم بالصواب
وصلى الله على نبينا محمد

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
----------------------------------

Bab 04 | Kelahiran Dan Nasab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (Bag. 2 dari 6)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 27 Muharam 1439 H / 17 Oktober 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Sirah Nabawiyyah
📖 Bab 04 | Kelahiran Dan Nasab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam (Bag. 2 dari 6)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-0402
~~~~~~~~~~~~~~~~~~

*KELAHIRAN DAN NASAB NABI SHALLALLĀHU 'ALAYHI WA SALLAM 2 DARI 6*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
إنَّ  الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه لا نبي بعده  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون, فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Alhamdulillāh, Allāh masih memberi kesempatan kita untuk bersua kembali dalam rangka mempelajari sejarah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Kita lanjutkan,

Tatkala itu 'Abdul Muththalib hanya memiliki satu orang anak laki-laki yang bernama Al Hārits bin 'Abdul Muththalib (baru satu orang saja)

Maka mulailah 'Abdul Muththalib menggali sumur tersebut. Kemudian mulai nampak tanda-tanda sumur tersebut (tampak dinding-dindingnya). Maka orang-orang Quraisy mengetahui kalau 'Abdul Muththalib menemukan sumur.

Merekapun  mendatangi 'Abdul Muththalib dan berkata:

_"Wahai 'Abdul Muththalib, ini sumurnya kakek kita ( Ismā'īl 'alayhissalām), kami juga punya hak terhadap sumur tersebut. Maka jadikanlah kami termasuk pemilik sumur tersebut."_

'Abdul Muththalib berkata:

"_Saya tidak mau, ini milik saya. Aku telah dikhususkan memiliki sumur ini,  tetapi saya akan berikan kepada kalian."_

(Inti nya 'Abdul Muththalib akan membagi sumur zamzam tersebut)

Kata mereka:

_"Adil lah terhadap kita. Kalau tidak, kami tidak akan membiarkanmu menguasai sumur ini sampai kita berhakim kepada seseorang."_

Maka 'Abdul Muththalib dengan adilnya berkata:

_"Pilih siapa saja orang yang kita akan bertahkim kepadanya."_

Kata mereka:

_"Ada seorang perempuan dukun tapi tempatnya jauh di negeri Syām."_

Kemudian 'Abdul Muththalib setuju, maka berangkatlah 'Abdul Muththalib bersama beberapa saudara dari Bani 'Abdi Manaf dan orang-orang Quraisy. Mereka berjalan bersama dua kelompok

⑴ Kelompok  'Abdul Muththalib dengan Bani 'Abdi Manaf.
⑵ Kelompok  Bani yang menuntut untuk diberikan zamzam.

Tatkala itu mereka melewati padang pasir dan perjalanan yang sangat jauh, tiba-tiba  'Abdul Muththalib kehabisan air dan selama perjalanan tidak menemukan sumber mata air.

Maka mereka (rombongannya 'Abdul Muththalib) kehausan, sementara rombongan yang satunya masih memiliki air.

Tatkala air mereka habis, mereka minta kepada rombongan sebelah,  tetapi mereka menolak memberi air.

Akhirnya mereka (kelompoknya 'Abdul Muththalib) merasa akan mati, maka 'Abdul Muththalib punya ide.

_"Begini, kita masing-masing gali kuburan kita, daripada kita semua tergeletak tidak ada yang menguburkan, siapa yang mati duluan kita kubur lalu tutup, yang mati berikutnya sampai terakhir, hanya 1 yang mati yang tidak terkuburkan."_

Akhirnya mereka mulai menggali kuburan mereka masing-masing dan ini disaksikan oleh grup sebelah dan mereka tidak memperdulikan.

Setelah tergali lubang-lubang kuburan, 'Abdul Muththalib mengatakan:

_"Ini namanya pasrah, kita harus berusaha."_

Akhirnya mereka meninggalkan kuburan yang telah mereka gali, mulailah 'Abdul Muththalib naik ke atas untanya lalu tiba-tiba dari kaki untanya keluar mata air.

Setelah itu 'Abdul Muththalib mengambil air dan meminumnya dan memanggil grup sebelah (yang tidak mau memberikan air) dan mereka akhirnya datang dan ikut minum air tersebut.

Akhirnya grup sebelah sadar bahwasanya memang air zamzam tersebut haknya 'Abdul Muththalib, (buktinya) di tengah-tengah padang pasir Allāh keluarkan air khusus untuk 'Abdul Muththalib.

Mereka tidak jadi pergi ke dukun di Syām dan mereka kembali ke Mekkah dan menyatakan bahwasanya air zamzam itu milik 'Abdul Muththalib.

Inilah kisah kakek Nabi, 'Abdul Muththalib, dan tadi kita katakan bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dipilih oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla dengan nasab yang sangat tinggi demikian juga nasab-nasab para Rasūl.

Sebagaimana dalam Shahīh Bukhāri, tatkala Abū Sufyan masih dalam keadaan kafīr, Abū Sufyan pernah bertemu dengan Kaisar Romawi Hieraklius. Tatkala itu dia (Hieraklius) bertanya tentang Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam dan Abū Sufyan menjawab dengan jujur walaupun kafīr.

Diantara pertanyaan Hieraklius kepada Abū Sufyan, dia bertanya tentang nasab Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

_"Bagaimana nasab Nabi tersebut?"_

Maka kata Abū Sufyan:

_"Sesungguhnya Muhammad itu dikalangan kami adalah orang yang nasabnya tinggi."_

Maka Hieraklius berkata:

وَكَذَلِكَ الرُّسُلُ تُبْعَثُ فيْ نسَب ِ قَوْمِهَا

_"Demikianlah para Rasūl, mereka diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla pada nasab yang tinggi diantara kaumnya."_

Para ulamā menyebutkan, ada hikmah kenapa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dipilih pada nasab yang tinggi bahkan nasab terbaik, yaitu agar tidak ada orang-orang Arab yang mencela nasab Nabi. Mereka tahu nasab mereka lebih rendah dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Bagaimana tidak, kakeknya yaitu 'Abdul Muththalib pemilik zamzam, pemimpin orang-orang Quraisy, bagaimana cucunya mau dicela?

Dan ini diantara hikmah Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Seandainya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam diutus dari nasab yang rendahan (rakyat jelata yang tidak punya kedudukan) maka orang-orang akan menuduh bahwasanya Muhammad itu mengaku dirinya sebagai Nabi untuk mencari kekuasaan dan penghormatan.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak mencari penghormatan, beliau sudah dihormati.

Justru tatkala beliau berdakwah, beliau direndahkan. Tatkala beliau menyeru kepada Islām, beliau direndahkan. Asalnya, kalau beliau tidak menyeru kepada Islām beliau sudah dimuliakan oleh orang-orang Quraisy karena beliau adalah cucunya 'Abdul Muththalib.

⇒ 'Abdul Muththalib adalah orang yang mengatur pengairan untuk jama'ah haji, tersohorlah kebaikan 'Abdul Muththalib (sebelumnya). Begitu pula Hāsyim (bapaknya 'Abdul Muththalib), sangat terkenal.

Dan disebutkan oleh para ulamā, nama asli Hāsyim itu adalah 'Amr, namun diberi gelar "Hāsyim" karena Hāsyim itu artinya "membuat makanan untuk jama'ah haji." Beliau terkenal karena membagi-bagikan makanan untuk jama'ah haji.

Oleh karenanya tatkala Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam diutus pada golongan strata tinggi (nasab yang tinggi) maka tidak ada yang menuduh Nabi dengan tuduhan yang mengatakan nasabnya buruk.

Coba seandainya kalau Nabi dari nasab yang rendah misal dari budak, adakah yang mau berimān?

Tidak ada. Tidak ada yang mau berimān kepada Nabi, bila beliau berasal dari golongan rendah (budak).

Oleh karena itu Allāh memilih Nabi dari nasab yang tinggi, salah satu hikmahnya adalah,

⇒ Tatkala orang-orang bernaung di bawah Nabi mereka tidak merasa rendah, kenapa?  Karena Nabi mereka nasabnya tinggi.

Sesuai dengan perkataan Hieraklius, yang mengatakan:

وَكَذَلِكَ الرُّسُلُ تُبْعَثُ فيْ نسَب ِ قَوْمِهَا

_"Demikianlah para Rasūl, mereka diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla pada nasab kaumnya yang tinggi."_

Kita cukupkan di sini saja, In syā Allāh besok  kita lanjutkan lagi.

وبالله التوفيق و الهداية
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

_________________________
🌾 Raih Pahala Jariyah dengan Donasi Markaz Dakwah & Studio Bimbingan Islam
√ Bank Mandiri Syariah
√ Kode Bank : 451
√ No. Rek : 710-3000-507
√ A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer Via WA & Informasi ;  0811-280-0606
----------------------------------

Minggu, 05 November 2017

PENDATAAN group WA ( YASIN ) Tasikmalaya

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Dikarnakaan banyaknya antusias akan Kajian di Media utamanya di What App ( WA ) dan untuk memisahkan antara ikhwan dan  akwan,  oleh sebab itu kami mengusulkan pendataan agar nantinya bisa di bagi menjadi dua group antara Ikhwan Dan Akhwat

Bagi yang Tidak Keberatan Silahkan mengisi Link Formulir di Bawah Ini:
https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSdM4TZP0xIOJn7XBEMCazcaei2eczviFb1-GbMG6Ms0ZZ98ng/viewform?usp=sf_link

Sabtu, 04 November 2017

Halaqah 20 | RIYĀ'

BimbinganIslam.com
Sabtu, 15 Shafar 1439 H / 04 November 2017 M
 Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
 Silsilah Belajar Tauhid
 Halaqah 20 | RIYĀ'
~~~~~~~~~~~~~~~
RIYĀ'
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Halaqah yang ke-20 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang "Riyā".
Ayyuhāl ikhwāh,
Riyā' adalah seorang mengamalkan sebuah ibadah bukan karena ingin pahala dari Allāh, akan tetapi ingin dilihat manusia dan dipuji.
Riyā' hukumnya HARAM dan dia termasuk syirik kecil yang samar, yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam.
Riyā' adalah di antara sebab tidak diterimanya amal ibadah seseorang, bagaimanapun besar amalan tersebut.
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda :
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺃَﻧَﺎ ﺃَﻏْﻨَﻰ ﺍﻟﺸُّﺮَﻛَﺎﺀِ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙِ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﺃَﺷْﺮَﻙَ ﻓِﻴﻪِ ﻣَﻌِﻲ ﻏَﻴْﺮِﻱ ﺗَﺮَﻛْﺘُﻪُ ﻭَﺷِﺮْﻛَﻪُ
"Allāh berkata: 'Aku adalah Zat yang paling tidak butuh dengan syirik. Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan dia menyekutukan Aku bersama yang lain di dalam amalan tersebut maka Aku akan meninggalkannya dan juga kesyirikannya'."
(HR Muslim)
Sebagian ulama berpendapat bahwa syirik yang kecil tidak ada harapan untuk diampuni oleh Allāh, artinya dia harus diadzab supaya bersih dari dosa riyā' tersebut.
Berbeda dengan dosa besar yang ada di bawah kehendak Allāh, yang;
•✓Kalau Allāh menghendaki maka akan diampuni langsung.
Dan,
•✓Kalau Allāh menghendaki maka akan diadzab.
Mereka berdalil dengan keumuman ayat:
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﺎ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺃَﻥْ ﻳُﺸْﺮَﻙَ ﺑِﻪِ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮُ ﻣَﺎ ﺩُﻭﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ
"Sesungguhnya Allāh tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lain bagi siapa yang dikehendaki."
(QS An Nisā: 48)
Tahukah kita siapa orang yang pertama kali nanti akan dinyalakan api neraka dengan mereka?
Mereka bukanlah preman-preman di jalan atau pembunuh yang kejam tapi mereka justru adalah orang-orang yang beramal shalih. Mereka adalah orang yang:
• ⑴ Mengajarkan Al Qurān supaya dikatakan sebagai seorang qāri, seorang yang suka membaca, seorang yang mahir membaca.
Dan juga,
• ⑵ Orang yang berinfaq supaya dikatakan dermawan.
Dan,
• ⑶ Berjihad supaya dikatakan sebagai seorang pemberani.
⇒ Beramal bukan karena Allāh
Sebagaimana hal ini dikabarkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam di dalam hadits yang shahih.
Oleh karena itu, saudara sekalian, ikhlash-lah di dalam beramal..
Dan ikhlash adalah barang yang sangat berharga.
Para Salaf kita, merekapun merasakan beratnya memperbaiki hati mereka.
Dan hanya kepada Allāh kita meminta keikhlashan di dalam beramal, menjauhkan kita dari riyā', sum'ah, 'ujub dan berbagai penyakit hati.
Dan marilah kita biasakan untuk menyembunyikan amal kita kecuali kalau memang ada mashlahat yang lebih kuat.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah yang ke-20 ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.
وبالله التوفيق والهداية
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
Saudaramu, 'Abdullāh Roy
✒ Ditranskrip oleh Tim Transkrip Materi BiAS
______________________________

Jumat, 03 November 2017

Halaqoh 19 | Bersumpah Dengan Selain Nama Allāh

BimbinganIslam.com
Jum’at, 14 Shafar 1439 H / 03 November 2017 M
 Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
 Silsilah Belajar Tauhid
 Halaqoh 19 | Bersumpah Dengan Selain Nama Allāh
~~~~~~~~~~~~~~~
BERSUMPAH DENGAN SELAIN NAMA ALLĀH
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke-19 dari Silsilah Belajar Tauhid kita kali ini adalah tentang "Bersumpah Dengan Selain Nama Allāh".
Kaum Muslimīn yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla,
Sumpah adalah menguatkan perkataan dengan menyebutkan sesuatu yang diagungkan, baik oleh orang yang berbicara maupun yang diajak bicara.
Kalau (dalam) bahasa 'Arab maka menggunakan:
• Huruf wawu (وَ)
• Huruf ba (بَ)
• Huruf ta (تَ)
Adapun Bahasa Indonesia dengan menggunakan kata "Demi".
Bersumpah hanya diperbolehkan dengan nama Allāh semata, misalnya mengatakan:
✓Wallāhi
✓Demi Rabb yang menciptakan langit dan bumi
✓Demi Zat yang jiwaku berada di tanganNya
✓Dan lain-lain.
Adapun makhluq, bagaimanapun agungnya di mata manusia maka tidak boleh kita bersumpah dengan namanya, misalnya dengan mengatakan:
✘Demi Rasūlullāh
✘Demi Ka'bah
✘Demi Jibrīl
✘Demi langit & bumi
✘Demi bulan & bintang
✘Dan lain-lain.
Ini semua termasuk jenis pengagungan terhadap makhluq yang terlarang.
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda,
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ
"Barang siapa yang bersumpah dengan selain nama Allāh maka sungguh dia telah berbuat syirik."
(HR Abū Dāwūd, Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albāni rahimahullāh)
Syirik dalam hadits ini pada asalnya adalah syirik kecil yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam.
Namun bisa sampai kepada syirik besar bila dia mengucapkan sumpah dengan makhluq disertai pengagungan seperti kalau dia mengagungkan Allāh Subhānahu wa Ta'ālā, yaitu pengagungan ibadah.
Seperti sumpah yang di lakukan oleh orang-orang musyrik dengan mengatakan:
✘ Demi Wisnu
✘ Demi Dewa Fulan
✘ Demi Lāta
✘ Dan lain-lain.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah yang ke-19 ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.
وبالله التوفيق والهداية
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
Saudaramu, 'Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah
______________________________

Kamis, 02 November 2017

Halaqah 18 Meramal Nasib Dengan Bintang

BimbinganIslam.com
Kamis, 13 Shafar 1439 H / 02 November 2017 M
 Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
 Silsilah Belajar Tauhid
 Halaqah 18 | Meramal Nasib Dengan Bintang
~~~~~~~~~~~~~~~
MERAMAL NASIB DENGAN BINTANG
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين.

Halaqah yang ke-18 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang "Meramal Nasib Dengan Bintang".
Bintang adalah makhluq yang menunjukkan kebesaran Allāh dan kebesaran Penciptanya.
Allāh Ta'āla telah mengabarkan di dalam Al-Qurān bahwa bintang ini memiliki 3 faidah:
⑴ Sebagai perhiasan langit.
⑵ Sebagai pelempar syaithān.
⑶ Sebagai petunjuk manusia, seperti :
⇒ Mengetahui arah utara atau selatan
⇒ Mengetahui arah daerah, arah kiblat
⇒ Mengetahui kapan datangnya musim menanam, musim hujan dan lain-lain.
Allāh tidak menciptakan bintang untuk perkara yang lain selain 3 perkara di atas.
Seorang salaf, Qatādah Ibn Di'āmah As-Sadūsi, seorang ulama yang meninggal kurang lebih pada tahun 110 H. Beliau menjelaskan bahwa,
"Barangsiapa yang meyakini bahwasanya bintang memiliki faidah yang lain, selain 3 hal di atas maka dia telah bersalah dan berbicara tanpa ilmu."
Ucapan ini dikeluarkan Al-Imām Al-Bukhāri di dalam Shahih beliau.
Contohnya adalah meyakini bahwasanya terbit & tenggelamnya bintang atau berkumpul & berpisahnya beberapa bintang berpengaruh kepada keberuntungan seseorang di masa yang akan datang, dalam masalah rejeki, jodoh dan lain-lain.
Seperti kolom yang ditemukan di beberapa koran dan juga majalah.
Membacanya dan mempercayainya adalah perbuatan yang haram dan termasuk dosa besar.
Sebagian ulama mengatakan hukumnya seperti orang yang mendatangi dukun dan bertanya kepadanya.
Ancamannya tidak diterima shalatnya selama 40 hari.
Hendaknya kita semua takut kepada Allāh.
Dan janganlah sekali-kali mencoba membaca kolom-kolom tersebut.
Dan jangan juga memasukkannya ke dalam rumah kita.
Kita tutup segala pintu yang bisa merusak 'aqidah kita dan juga keluarga kita.
Karena 'aqidah merupakan modal kita memasuki surganya Allāh Subhānahu wa Ta'ālā dengan selamat.
Inilah halaqah yang ke-18 dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.
و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين.
Saudaramu, 'Abdullāh Roy
Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
______________________________

Rabu, 01 November 2017

Halaqah 17 | Tathayyur (Merasa Sial Dengan Sesuatu)

BimbinganIslam.com
Rabu, 12 Shafar 1439 H / 01 November 2017 M
 Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
 Silsilah Belajar Tauhid
 Halaqah 17 | Tathayyur (Merasa Sial Dengan Sesuatu)
~~~~~~~~~~~~~~~
TATHAYYUR (MERASA SIAL DENGAN SESUATU)
بسم الله الرحمن الرحيم السلام
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Pelajaran yang ke-17 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang "Tathayyur", yaitu merasa sial dengan sesuatu.
◆ Tathayyur adalah merasa akan bernasib sial karena melihat atau mendengar kejadian tertentu.
Seperti melihat tabrakan atau orang yang berkelahi, atau yang semisalnya.
Kemudian hal tersebut menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya, seperti bepergian, berdagang dan lain-lain.
Tathayyur termasuk syirik kecil apabila perasaan tersebut kita ikuti.
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ
"Barangsiapa yang thiyarah menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya maka dia telah berbuat syirik."
(Hadits shahīh diriwayatkan oleh Imām Ahmad)
Perasaan ini sebenarnya tidak akan mempengaruhi takdir, sebagaimana hal ini dinafi'kan & diingkari oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Beliau bersabda:
وَلاَ الطِّيَارَة
"Tidak ada thiyārah."
(HR Bukhari dan Muslim)
⇒ Maksudnya, thiyārah ini hanya sebuah perasaan saja yang tidak akan berpengaruh terhadap takdir Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Oleh karena itu seorang Muslim tidak boleh mengikuti was-was syaithān ini.
Dan hendaknya dia,
•✓Memiliki keyakinan yang kuat bahwa semua yang terjadi di permukaan bumi berupa kebaikan & keburukan adalah dengan takdir Allāh semata.
•✓Yakin bahwa tidak (ada yang) mendatangkan kebaikan kecuali Allāh & tidak (ada yang) melindungi dari keburukan kecuali Allāh.
•✓Hanya bertawakal kepada Allāh semata & berbaik sangka kepada Allāh Subhānahu wa Ta'ālā.
Apabila datang perasaan tersebut maka hendaknya segera dihilangkan dengan tawakkal dan tetaplah dia melaksanakan hajatnya.
Dan apa yang terjadi setelah itu adalah takdir Allāh semata.
Adapun tafā'ul maka diperbolehkan didalam agama kita.
◆ Tafā'ul artinya adalah berbaik sangka kepada Allāh karena melihat atau mendengar sesuatu.
Dahulu Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sering bertafā'ul seperti ketika Perjanjian Hudaibiyah.
Utusan Quraisy saat itu bernama Suhail. Dan Suhail adalah bentuk pengecilan dari kata "sahl" yang artinya "yang mudah".
Maka Beliau pun berbaik sangka kepada Allāh bahwa perjanjian ini akan membawa kemudahan dan kebaikan bagi umat Islam.
Maka benarlah persangkaan Beliau.
Allāh Subhānahu wa Ta'ālā membuka setelah itu (yaitu setelah perjanjian tersebut) pintu-pintu kemudahan bagi umat Islam.
Itulah halaqah yang ke-17 dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
وبالله التوفيق والهداية
و السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
Saudaramu, 'Abdullāh Roy
Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS
______________________________

Kajian

IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH

🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah  Fī...

hits