Sabtu, 16 November 2019

KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 45

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 16 Rabi’ul Awwal 1441 H / 13 November 2019 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 048 | Hadits 45
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H048
〰〰〰〰〰〰〰

*KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 45*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه و كل من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah kita yang ke-48 dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil Abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' Al Akhyār), yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh.

Pembahasan kita sudah sampai pada hadīts yang ke-45, yaitu hadīts yang diriwayatkan oleh Asmar bin Mudharis radhiyallāhu ta'āla 'anhu, beliau berkata, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

من سبق إلى ما لم يسبق إليه مسلم فهو له { رواه أبو داود}

*"Barangsiapa terlebih dahulu mengelola atau mengerjakan sesuatu yang belum dimiliki  (didahului) oleh seorang (muslim), maka orang tersebut berhak untuk memilikinya."*

(Hadīts riwayat Abū Dāwūd)

Hadīts mulia ini menjelaskan kepada kita tentang kapan suatu barang atau tempat menjadi hak atau menjadi milik orang yang (pertama kali) menemukan.

Syaikh Abdurrahmān As Sa'dī rahimahullāh menjelaskan bahwa konteks hadīts ini mencakup segala perkara mubah yang belum dimiliki oleh seorangpun atau tidak dikhususkan bagi siapapun.

Barangsiapa terlebih dahulu melakukan hal tersebut atau mengambil dan mengelola hal tersebut maka dialah orang yang paling berhak atas barang tersebut.

Termasuk di dalamnya seorang yang terlebih dahulu mengelola:  الأرض الموات (tanah mati) atau tanah yang tidak berpenghuni dengan cara mengali tanah tersebut, kemudian dia keluarkan airnya atau dia alirkan air ke tanah tersebut atau dengan cara dia mendirikan bangunan di atasnya atau memagarinya maka orang tersebut menjadi pemilik tanah tersebut.

Akan tetapi jika tanah yang tidak berpenghuni itu sudah dibatasi atau ditentukan oleh imam, maka imam lebih berhak untuk mengelola tanah tadi. Tidak ada orang yang menjadi pemilik tanah itu.

Termasuk di dalam kontek hadīts ini adalah orang yang terlebih dahulu menangkap hewan buruan atau menggali barang tambang atau menemukan kayu bakar atau barang yang memang sengaja diterlantarkan oleh pemiliknya (sudah tidak terpakai) maka orang yang pertama kali menemukan maka dialah yang paling berhak untuk memilikinya.

Termasuk orang yang terlebih dahulu duduk di masjid atau duduk di suatu tempat, maka dialah orang yang paling berhak atas tempat tersebut, kecuali kalau tempat tersebut telah diwakafkan untuk orang-orang terentu, maka merekalah yang lebih berhak, karena telah ditentukan atau dikhususkan bagi mereka.

Hadīts ini menunjukkan, "Barangsiapa telah terlebih dahulu melakukan atau mengambil sesuatu yang mubah yang belum dimiliki siapapun, maka orang yang mengambilnya yang paling berhak atas barang tersebut."

Beliau juga menyebutkan di sini, orang yang terlebih dahulu  menyelesaikan pekerjaan yang ditawarkan (disayembarakan) misalnya seseorang mengatakan, "Barangsiapa bisa melakukan hal begini dan begitu, maka akan saya berikan imbalan," maka orang yang berhak mendapatkan imbalan tersebut adalah orang yang pertama kali menyelesaikan pekerjaan yang ditawarkan.

Termasuk di sini orang yang pertama kali menemukan barang yang hilang atau anak yang hilang yang tidak diketahui nasabnya,  maka orang yang pertama menemukannya, dialah yang berhak atas barang temuan tersebut.

Demikianlah penjelasan singkat hadīts ini, semoga bermanfaat.

Wallāhu A'lam


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
_______

KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 44 BAGIAN KEDUA

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 15 Rabi’ul Awwal 1441 H / 12 November 2019 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 047b | Hadits 44 (Bagian 02)
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H047b
〰〰〰〰〰〰〰

*KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 44 BAGIAN KEDUA*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الانبياء المرسلين نبينا محمد وعلى آله وأصحابه و كل من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah kita yang ke-47 dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil Abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' Al Akhyār), yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh.

Kita lanjutkan pembahasan kedua hadīts yang ke-44 yaitu hadīts yang diriwayatkan dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta'āla 'anhu.

Di dalam hadīts yang mulia ini, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengabarkan tentang tiga amalan yang pahalanya akan terus mengalir meskipun orang yang mengamalkannya sudah meninggal.

Di antara amalan tersebut adalah:

⑵ Ilmu Yang Bermanfaat ( علم ينتفع به)

Ilmu yang terus menerus dimanfaatkan setelah dia meninggal.

Seperti (misalnya)

√ Ilmu yang pernah dia ajarkan kepada murid-murid yang mereka memahami ilmu tersebut dan mengamalkannya serta menyebarkan ilmu tersebut di tengah-tengah manusia. 

√ Buku-buku tentang ilmu yang bermanfaat yang pernah dia tulis.

Semua itu akan tetap dia dapatkan pahalanya, meskipun pemanfaatannya dilakukan secara langsung atau tidak langsung.

Intinya termasuk amalan yang pahalanya terus mengalir, meskipun dia sudah meninggal.

⑶ Anak Shālih Yang Mendo'akan Orang Tuanya (ولد صالح يدعو له)

Do'a anak shālih yang memberikan manfaat untuk kedua orang tuanya yang telah meninggal.

Apabila dahulu mereka (orang tua) mendidik anak-anaknya sehingga mereka menjadi anak  yang shālih, berbakti kepada orang tua dan senantiasa mendo'akan orang tua.

Maka ini merupakan amal kebaikan yang akan terus menerus dia dapatkan meskipun dia sudah meninggal.

Tiga hal ini sejalan dengan firman Allāh Subhānallāhu wa Ta'āla:

إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَـٰرَهُمْ ۚ......

_"Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang telah meninggal dan Kami menuliskan amalan-amalan yang telah mereka kerjakan dan buah dari amalan yang mereka tinggalkan."_

(QS Yāsīn: 12)

√ Amalan-amalan yang telah mereka lakukan maksudnya adalah amalan-amalan yang mereka sendiri langsung lakukan dengan tangan mereka.

√ Buah dari amalan mereka maksudnya adalah efek dari amalan yang pernah mereka lakukan dan dilakukan oleh orang lain atau dimanfaatkan oleh orang lain, sehingga orang ini mendapatkan pahala atas manfaat yang bisa dirasakan oleh orang lain.

Syaikh Abdurrahmān As Sa'dī rahimahullāh menyembutkan 3 (tiga) bentuk buah amalan seseorang yang tetap atau yang bisa sampai kepada dirinya meskipun dia sudah meninggal.

Yaitu:

⑴ Amal shālih yang dilakukan oleh orang lain disebabkan oleh arahan orang tersebut.

Orang itu yang mengajaknya, orang itu yang mengarahkan kepada amal shālih, sehingga orang itu mendapatkan pahalanya.

⑵ Perkara-perkara yang bisa diambil manfaatnya oleh orang lain,  maka orang itu (orang yang memberi manfaat) akan mendapatkan manfaat sebesar manfaat yang dirasakan atau diambil oleh orang lain.

⑶ Perkara-perkara atau amal shālih yang dilakukan oleh orang lain dan dihadiahkan kepada orang tersebut.

Misalnya:

Seseorang mengamalkan suatu amal shālih dan pahalanya dihadiahkan kepada orang tadi, sehingga orang tadi bisa merasakan pahala yang dihadiahkan orang lain kepadanya.

Orang-orang menghadiahkan pahala yang merupakan buah dari perbuatan baik yang dahulu dilakukan orang itu semasa hidupnya.

Karena perbuatan baik seseorang menjadikan orang lain senang, merasa dekat dan mencintai orang itu, sehingga mereka menghadiahkan pahala-pahala dari amalan-amalan kebaikan yang telah orang itu lakukan semasa hidup di dunia.

Hadīts ini juga menunjukkan anjuran untuk menikah dan memilih pasangan yang shālih untuk membangun rumah tangga dengan tujuan agar memiliki keturunan yang shālih yang bisa mendo'akannya setelah dia meninggal.

Demikian pembahasan hadīts yang mulia ini, semoga Allāh Subhānallāhu wa Ta'āla menjadikan amalan-amalan kita terus kita rasakan manfaat dan pahalanya kelak di hari kiamat.

Semoga Allāh Subhānallāhu wa Ta'āla menjadikan keturunan-keturunan kita,  keturunan-keturunan yang shālih yang senantiasa mendo'akan kita setelah kita meninggal.

Wallāhu A'lam


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
_______

KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 44 BAGIAN PERTAMA

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 14 Rabi’ul Awwal 1441 H / 11 November 2019 M
👤 Ustadz Riki Kaptamto Lc
📗 Kitab Bahjatu Qulūbul Abrār Wa Quratu ‘Uyūni Akhyār fī Syarhi Jawāmi' al Akhbār
🔊 Halaqah 047 | Hadits 44 (Bagian 01)
⬇ Download audio: bit.ly/BahjatulQulubilAbrar-H047
〰〰〰〰〰〰〰

*KITĀB BAHJATU QULŪBIL ABRĀR, HADĪTS 44 BAGIAN PERTAMA*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الانبياء المرسلين نبينا محمد وعلى آله وأصحابه و كل من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah kita yang ke-47 dalam mengkaji kitāb: بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Bahjatu Qulūbil Abrār wa Quratu 'uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi' Al Akhyār), yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahmān bin Nāshir As Sa'dī rahimahullāh.

Kita lanjutkan pembahasan hadīts yang ke-44 yaitu hadīts yang diriwayatkan dari Abū Hurairah radhiyallāhu ta'āla 'anhu.

قال رسول االله ﷺ : إذا مات العبد انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له. {رواه مسلم}

_Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: "Apabila seorang hamba telah meninggal maka amalannya terputus, kecuali tiga perkara yaitu:_
_⑴ Sedekah Jāriyyah_
_⑵ Ilmu yang bermanfaat_
_⑶ Anak shālih yang mendo'akan baginya."_

(Hadīts shahīh riwayat Imam Muslim)

Di dalam hadīts yang mulia ini Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengabarkan tentang tiga amalan yang pahalanya akan terus mengalir, meskipun orang yang mengamalkannya sudah meninggal.

Dan telah kita ketahui, bahwasanya dunia adalah: دار عمل (dārul amal), tempat untuk beramal, yaitu tempat kita mengumpulkan pahala-pahala dan bekal untuk kehidupan akhirat.

Apabila seseorang sudah meninggalkan dunia, maka sudah tidak ada lagi kesempatan beramal, karena dia telah berpindah kepada:  دار الجزاء (dārul jazā'), yaitu tempat mendapatkan balasan atas amalan yang dahulu dia lakukan di dunia.

√ Jika itu suatu kebaikan, maka dia akan dapatkan balasan kebaikan.

√ Jika itu keburukan, maka dia akan dapatkan balasan yang setimpal dengan apa yang dahulu dia lakukan di dunia.

Di dalam hadīts ini, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya ada beberapa amalan yang apabila hal itu dilakukan semasa hidup di dunia, maka pahalanya akan terus bisa dirasakan meskipun orang yang mengamalkannya telah meninggal.

Pahalanya terus mengalir, manfaatnya terus menerus ada, meskipun dia sudah tidak mengamalkannya lagi (dia sudah meninggal).

Di antara amalan tersebut adalah:

⑴ Shadaqah Jāriyyah (صدقة جارية)

Yaitu sedekah yang bermanfaat bagi orang lain dan manfaatnya terus menerus bisa dirasakan dan digunakan oleh orang lain.

Contohnya (seperti):

√ Orang yang mewakafkan bangunan-bangunan yang bisa digunakan oleh orang lain untuk kebaikan atau perabotan yang dia sedekahkan dan digunakan oleh orang lain untuk kebaikan, baik hewan maupun kendaraan yang bisa dimanfaatkan oleh orang lain.

Orang yang mensedekahkan hal-hal tadi bisa mendapatkan pahala, meskipun dia sudah meninggal, selama barang-barang yang dahulu dia sedekahkan tetap bisa diambil manfaatnya oleh orang lain.

Terlebih apabila barang-barang yang disedekahkan tadi dalam rangka membantu perkara-perkara diniyyah (agama), seperti misalkan:

√ Membantu dalam hal thālabul 'ilmi syari' (belajar ilmu syari'). Dengan bersedekah (misalnya) memberi mushaf-mushaf atau buku-buku atau fasilitas-fasilitas lain untuk thālabul 'ilmi syari'.

√ Membantu jihād (misalnya) seseorang memberikan bekal kepada orang-orang yang akan berjihād.

√ Membantu dalam perkara ibadah lainnya seperti (misalnya) membangun masjid, sekolah atau rumah-rumah yang bisa digunakan untuk beribadah kaum muslimin

Semua ini termasuk di dalam kategori shadaqah jāriyyah dan yang paling penting, apa yang disedekahkan tersebut digunakan untuk ketaatan dan amal shālih.

Wallāhu A'lam

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه  وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Jumat, 15 November 2019

BENARKAH SHOLAHUDDIN AL-AYYUBI PENCETUS MAULID NABI

📝 *BENARKAH SHOLAHUDDIN AL-AYYUBI PENCETUS MAULID NABI* ?

*Alkisah*

Ada sebuah kisah yang cukup masyhur di negeri nusantara ini tentang peristiwa pada saat menjelang Perang Salib. Ketika itu kekuatan kafir menyerang negeri Muslimin dengan segala kekuatan dan peralatan perangnya. Demi melihat kekuatan musuh tersebut, sang raja muslim waktu itu, Sholahuddin al-Ayyubi, ingin mengobarkan semangat jihad kaum muslimin. Maka beliau membuat peringatan maulid nabi. Dan itu adalah peringatan maulid nabi yang pertama kali dimuka bumi.

Begitulah cerita yang berkembang sehingga yang dikenal oleh kaum Muslimin bangsa ini, penggagas perayaan untuk memperingati kelahiran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ini adalah Imam Sholahuddin al Ayyubi. Akan tetapi benarkah cerita ini? Kalau tidak, lalu siapa sebenarnya pencetus peringatan malam maulid nabi? Dan bagaimana alur cerita sebenarnya?

*Kedustaan Kisah Ini*

Anggapan bahwa Imam Sholahuddin al Ayyubi adalah pencetus peringatan malam maulid nabi adalah sebuah kedustaan yang sangat nyata. Tidak ada satu pun kitab sejarah terpercaya –yang secara gamblang dan rinci menceritakan kehidupan Imam Sholahuddin al Ayyubi- menyebutkan bahwa beliau lah yang pertama kali memperingati malam maulid nabi.

Akan tetapi, para ulama ahli sejarah justru menyebutkan kebalikannya, bahwa yang pertama kali memperingati malam maulid nabi adalah para raja dari Daulah Ubaidiyyah, sebuah Negara (yang menganut keyakinan) Bathiniyyah Qoromithoh meskipun mereka menamakan dirinya sebagai Daulah Fathimiyyah. Merekalah yang dikatakan oleh Imam al Ghozali: “Mereka adalah sebuah kaum yang tampaknya sebagai orang Syiah Rafidhah padahal sebenarnya mereka adalah orang-orang kafir murni.” Hal ini dikatakan oleh al Miqrizi dalam al-Khuthoth: 1/280, al Qolqosyandi dalam Shubhul A’sya: 3/398, as Sandubi dalam Tarikh Ihtifal Bil Maulid hal.69, Muhammad Bukhoit al Muthi’I dalam Ahsanul Kalam hal.44, Ali Fikri dalam Muhadhorot beliau hal.84, Ali Mahfizh dalam al ‘Ibda’ hal.126.

Imam Ahmad bin Ali al Miqrizi berkata: “Para kholifah Fathimiyyah mempunyai banyak perayaan setiap tahunnya. Yaitu perayaan tahun baru, perayaan hari asyuro, perayaan maulid nabi, maulid Ali bin Abi Tholib, maulid Hasan, maulid Husein, maupun maulid Fathimah az Zahro’, dan maulid kholifah. (Juga ada) perayaan awal Rojab, awal Sya’ban, nisfhu Sya’ban, awal Romadhon, pertengahan Romadhon, dan penutup Ramadhon…” [al Mawa’izh:1/490]

Kalau ada yang masih mempertanyakan: bukankah tidak hanya ulama yang menyebutkan bahwa yang pertama kali membuat acara peringatan maulid nabi ini adalah raja yang adil dan berilmu yaitu Raja Mudhoffar penguasa daerah Irbil?

*Kami jawab* : Ini adalah sebuah pendapat yang salah berdasarkan yang dinukil oleh para ulama tadi. Sisi kesalahan lainnya adalah bahwa Imam Abu Syamah dalam al Ba’its ‘Ala Inkaril Bida’ wal h\Hawadits hal.130 menyebutkan bahwa raja Mudhoffar melakukan itu karena mengikuti Umar bin Muhammad al Mula, orang yang pertama kali melakukannya. Hal ini juga disebutkan oleh Sibt Ibnu Jauzi dalam Mir’atuz Zaman: 8/310. Umar al Mula ini adalah salah seorang pembesar sufi, maka tidaklah mustahil kalau Syaikh Umar al Mula ini mengambilnya dari orang-orang Ubaidiyyah.

Adapun klaim bahwa Raja Mudhoffar sebagai raja yang adil, maka urusan ini kita serahkan kepada Allah akan kebenarannya. Namun, sebagian ahli sejarah yang sezaman dengannya menyebutkan hal yang berbeda. Yaqut al Hamawi dalam Mu’jamul Buldan 1/138 berkata: “Sifat raja ini banyak kontradiktif, dia sering berbuat zalim, tidak memperhatikan rakyatnya, dan senang mengambil harta mereka dengan cara yang tidak benar.” [lihat al Maurid Fi ‘Amanil Maulid kar.al Fakihani – tahqiq Syaikh Ali- yang tercetak dalam Rosa’il Fi Hukmil Ihtifal Bi Maulid an Nabawi: 1/8]

Alhasil, pengingatan maulid nabi pertama kali dirayakan oleh para raja Ubaidiyyah di Mesir. Dan mereka mulai menguasai Mesir pada tahun 362H. Lalu yang pertama kali merayakannya di Irak adalah Umar Muhammad al Mula oleh Raja Mudhoffar pada abad ketujuh dengan penuh kemewahan.

Para sejarawan banyak mencer

itakan kejadian itu, diantaranya al Hafizh Ibnu Katsir dalam Bidayah wan Nihayah: 13/137 saat menyebutkan biografi Raja Mudhoffar berkata: “Dia merayakan maulid nabi pada bulan Robi’ul Awal dengan amat mewah. As Sibt berkata: “Sebagian orang yang hadir disana menceritakan bahwa dalam hidangan Raja Mudhoffar disiapkan lima ribu daging panggang, sepuluh ribu daging ayam, seratus ribu gelas susu, dan tiga puluh ribu piring makanan ringan…”

Imam Ibnu Katsir juga berkata: “Perayaan tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh agama dan para tokoh sufi. Sang raja pun menjamu mereka, bahkan bagi orang sufi ada acara khusus, yaitu bernyanyi dimulai waktu dzuhur hingga fajar, dan raja pun ikut berjoget bersama mereka.”

Ibnu Kholikan dalam Wafayat A’yan 4/117-118 menceritakan: “Bila tiba awal bulan Shofar, mereka menghiasi kubah-kubah dengan aneka hiasan yang indah dan mewah. Pada setiap kubah ada sekumpulan penyanyi, ahli menunggang kuda, dan pelawak. Pada hari-hari itu manusia libur kerja karena ingin bersenang-senang ditempat tersebut bersama para penyanyi. Dan bila maulid kurang dua hari, raja mengeluarkan unta, sapi, dan kambing yang tak terhitung jumlahnya, dengan diiringi suara terompet dan nyanyian sampai tiba dilapangan.” Dan pada malam mauled, raja mengadakan nyanyian setelah sholat magrib di benteng.”

Setelah penjelasan diatas, maka bagaimana dikatakan bahwa Imam Sholahuddin al Ayyubi adalah penggagas maulid nabi, padahal fakta sejarah menyebutkan bahwa beliau adalah seorang raja yang berupaya menghancurkan Negara Ubaidiyyah. [1]

Siapakah Gerangan Sholahuddin al Ayyubi [2]

Beliau adalah Sultan Agung Sholahuddin Abul Muzhoffar Yusuf bin Amir Najmuddin Ayyub bin Syadzi bin Marwan bin Ya’qub ad Duwini. Beliau lahir di Tkrit pada 532 H karena saat itu bapak beliau, Najmuddin, sedang menjadi gubernur daerah Tikrit.

Beliau belajar kepada para ulama zamannya seperti Abu Thohir as Silafi, al Faqih Ali bin Binti Abu Sa’id, Abu Thohir bin Auf, dan lainnya.

Nuruddin Zanki (raja pada saat itu) memerintah beliau untuk memimpin pasukan perang untuk masuk Mesir yang saat itu di kuasai oleh Daulah Ubaidiyyah sehingga beliau berhasil menghancurkan mereka dan menghapus Negara mereka dari Mesir.

Setelah Raja Nuruddin Zanki wafat, beliau yang menggantikan kedudukannya. Sejak menjadi raja beliau tidak lagi suka dengan kelezatan dunia. Beliau adalah seorang yang punya semangat tinggi dalam jihad fi sabilillah, tidak pernah didengar ada orang yang semisal beliau.

Perang dahsyat yang sangat monumental dalam kehidupan Sholahuddin al Ayyubi adalah Perang Salib melawan kekuatan kafir salibis. Beliau berhasil memporak porandakan kekuatan mereka, terutama ketika perang di daerah Hithin.

Muwaffaq Abdul Lathif berkata: “Saya pernah datang kepada Sholahuddin saat beliau berada di Baitul Maqdis (Palestina, red), ternyata beliau adalah seorang yang sangat dikagumi oleh semua yang memandangnya, dicintai oleh siapapun baik orang dekat maupun jauh. Para panglima dan prajuritnya sangat berlomba-lomba dalam beramal kebaikan. Saat pertama kali aku hadir di majelisnya, ternyata majelis beliau penuh dengan para ulama, beliau banyak mendengarkan nasihat dari mereka.”

Adz Dzahabi berkata: “Keutamaan Sholahuddin sangat banyak, khususnya dalam masalah jihad. Beliau pun seorang yang sangat dermawan dalam hal memberikan harta benda kepada para pasukan perangnya. Beliau mempunyai kecerdasan dan kecermatan dalam berfikir, serta tekad yang kuat.”

Sholahuddin al Ayyubi wafat di Damaskus setelah subuh pada hari Rabu 27 Shofar 589 H. Masa pemerintahan beliau adalah 20 tahun lebih.

📝 Note :
[1] Untuk lebih lengkapnya tentang sejarah peringatan maulid nabi dan hokum memperingatinya, silahkan dilihat risalah Akhuna al- Ustadz Abu Ubaidah “Polemik Perayaan Maulid Nabi”

[2] Disarikan dari Siyar A’lamin Nubala’: 15/434 no.5301

_
✏ Oleh : Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Latif Abu Yusuf hafidzahullah

Sumber:
Diketik ulang dari Majalah al Furqon Edisi 09 Thn.XIII, Robi’uts Tsani 1430/April 2009, Hal.57-58
http://alqiyamah.wordpress.com/2011/02/05/benarkah-sholahuddin-al-ayy

Rabu, 06 November 2019

HADITS YANG BERKAITAN DENGAN PAKAIAN RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 09 Rabi’ul Awwal 1441 H / 06 November 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 42 | Hadits Yang Berkaitan Dengan Pakaian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-42
〰〰〰〰〰〰〰

*HADITS YANG BERKAITAN DENGAN PAKAIAN RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM*

بسم الله.
الْحَمْدُ لله، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رسول الله، وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القيامة، أَمَّا بَعْدُ:

Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulillāh, kita masih diberikan kesempatan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk melanjutkan pembacaan Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyah karya Imām At Tirmidzī rahimahullāh.

Pada pertemuan kali ini (pertemuan ke-42) in syā Allāh kita akan membaca hadīts nomor 57.

Imām At Tirmidzī rahimahullāh dalam hadīts ini mengatakan:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَجَّاجِ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ بُدَيْلٍ يَعْنِي ابْنَ مَيْسَرَةَ الْعُقَيْلِيَّ، عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ، عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ، قَالَتْ:

_Telah memberikan hadīts kepadaku Abdullāh bin Muhammad bin Al Hajāj,  beliau mengatakan: telah memberikan hadīts kepadaku Mu'ādz bin Hisyām, beliau mengatakan: telah memberikan hadīts kepadaku ayahku, dari Budail bin Maysarah Al 'Uqailī dari Syahr bin Hausyab dari Asmā bintu Yazīd beliau mengatakan:_

كَانَ كُمُّ قَمِيصِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى الرُّسْغِ.

_"Dahulu lengan baju Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sampai pergelangan tangan (الرُّسْغِ)."_

Bagaimana kedudukan hadīts ini?

⇛Hadīts ini dinyatakan lemah oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh dalam Mukhtashar Syamāil nomor 47, akan tetapi Syaikh Abdurrazaq berusaha untuk menguatkan hadīts dan membawa hadīts ini kepada kemungkinan bahwa memang lengan baju Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam panjangnya hingga pergelangan tangan (Itu kesimpulannya).

Jika ada seorang menggunakan lengan baju kurang dari pergelangan tangan, apakah diperbolehkan ?

⇛Tentu kita jawab, sangat boleh sekali.

Apakah jika lebih dari pergelangan tangan diharamkan (tidak diperbolehkan) ?

⇛Maka kita jawab, hal tersebut tidak mengapa.

Tidak mengapa kita menggunakan lengan baju sampai ditengah-tengah telapak tangan (misalnya), asalkan tidak berlebihan dan masyarakat setempat tidak memandang hal yang aneh dari baju kita.

Kesimpulannya:

√ Boleh menggunakan lengan baju, sampai pergelangan tangan, sebelum pergelangan tangan atau sampai pergelangan tangan (diperbolehkan).

Pelajaran yang kita ambil dari hadīts ini adalah berkenaan dengan sifat baju Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

√ Ketika di padang Masyhar nanti, kita akan melihat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menggunakan lengan baju hingga pergelangan tangan.

√ Ketika misalkan, kita bermimpi bertemu dengan sosok yang mengaku Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, kita bisa praktekan ilmu-ilmu yang ada di dalam kitāb Asy Syamāil ini.

Itu  yang bisa saya sampaikan pada pertemuan kali ini.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد
____________

HADITS YANG BERKAITAN DENGAN PAKAIAN RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 07 Rabi’ul Awwal 1441 H / 04 November 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 40 | Hadits Yang Berkaitan Dengan Pakaian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-40
〰〰〰〰〰〰〰

*HADITS YANG BERKAITAN DENGAN PAKAIAN RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM*

بسم الله.
الْحَمْدُ لله، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رسول الله، وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القيامة، أَمَّا بَعْدُ:

Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulillāh, kita panjatkan puji syukur kita atas nikmat Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang telah terlimpahkan kepada kita semua, sehingga pada kesempatan hari ini kita bisa melanjutkan pembahasan Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyah karya Imām At Tirmidzī rahimahullāh.

Pada kesempatan kali ini, kita akan melanjutkan pembacaan syarah (penjelasan) dari Syaikh Abdurrazaq Al Badr hafīzhahullāh berkaitan dengan pendahuluan dari bab tentang pakaian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Dan kita sudah sampai pada hal-hal yang dilarang oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam terkait pakaian kita.

Syaikh Abdurrazaq akan berusaha menyebutkan beberapa poin di antara hal yang dilarang di dalam berpakaian.

Dan apa yang disebutkan Syaikh di sini bukan merupakan pembatasan, di sana masih ada yang lainnya .

Beliau mengatakan :

وجاءت السّنّة بذكر بعض المحاذير فيما يتعلّق باللبلس أمر النّبيّ ﷺ باجتنابها منها: 

_Dan telah datang penyebutan dalam sunnah Nabi shallallāhu alayhi wa sallam, hal-hal yang berkaitan dengan larangan-larangan yang terkait dengan pakaian, Nabi shallallāhu alayhi wa sallam memerintahkan untuk menjauhi hal-hal tersebut._

Di antaranya adalah:

⑴ Isbāl

الإسبال: و هو أن ينزل ثوب الرّجل أسفل من كعبيه, ، فقد جاء في هذا و عيد في أحاديث كثيرة. ولهذا عدّه جماعةمن أهل العلم في الكبائر، ومما جاء فيه من الوعيد ما ثبت في صحيح مسلم.

_Isbāl adalah pakaian seseorang lebih rendah daripada kedua mata kakinya. Dan telah datang ancaman terkait dengan isbāl ini dalam banyak hadīts._

_Oleh karena itu sebagian ahli ilmu, menjadikan isbāl ini dalam dosa-dosa besar. Dan di antara ancaman yang shahīh adalah ancaman yang terdapat di dalam Shahīh Muslim._

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ : "الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ"

_"Ada tiga golongan yang dia tidak akan diajak berbicara pada hari kiamat nanti, Allāh tidak akan melihat kepadanya dan tidak akan mensucikannya, bagi mereka adzab yang pedih; orang yang isbāl, orang yang mengadu domba dan orang yang menawarkan barang jualannya dengan sumpah palsu.”_

وفي الباب أحاديث كثيرة فيها التّحذير من الإسبال و بيان خطورته

_Dan banyak hadīts yang membahas tentang peringatan-peringatan dan bahaya isbāl ini._

⑵ Larangan memakai pakaian Sutra dan pakaian Syuhrah untuk laki-laki.

وقد نهىﷺ الرّجال عن لبس الحرير ، و عن اتّخاذ لباس الشّهرة

_Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melarang laki-laki memakai pakaian sutra dan memakai pakaian Syuhrah (الشّهرة)._

Apakah pakaian Syuhrah (الشّهرة)?

و هو أن يلبس الإنسان لباسا يتميزبه بين أهل بلده, ولهذا كان الأصل للإنسان,  أن يلبس مثل لباس أهل بلده,  مما ليس فيه مخالفة شر عية، أمّا إذا وجدت المخالفة، فإنه يجتنبها

_Pakaian syuhrah adalah seseorang memakai pakaian yang berbeda dengan masyarakat setempat, sehingga dia menjadi istimewa dengan pakaian tersebut._

_Hukum asal bagi seseorang adalah berpakaian sebagaimana pakaian yang digunakan oleh penduduk setempat, selama pakaian tersebut tidak terdapat pelanggaran syari'at di dalamnya._

_Adapun jika pakaian suatu daerah itu ada penyelisihan syar'iat maka hendaknya seseorang meninggalkannya._

⑶ Larang meniru suatu kaum (tasyabbuh)

و مما جاءبه الّنهى في أمر اللّباس قوله  ﷺ

_Dan di antara larangan yang datang berkaitan dengan pakaian adalah sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:_

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

_"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka."_

فالأ لبسة الّتي يختصّ بها الكفار ويعرفون بها لا يحل للمسلمأن يلبسها

_Maka tidak halal bagi seorang muslim untuk memakai pakaian-pakaian khusus yang dimiliki oleh orang-orang kāfir (non muslim)._

(Hadīts riwayat Ahmad 2: 50 dan Abū Dāwūd nomor 4031, Syaikh Albāniy mengatakan bahwa hadīts ini shahīh  sebagaimana dalam Irwa’ul Ghalil nomor 1269)

Inilah beberapa larangan yang disebutkan oleh Syaikh Abdurrazaq dalam pendahuluannya sebelum membahas hadīts-hadīts yang berkaitan dengan pakaian Nabi shallallāhu 'alayhissallām wa sallam.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد
____________

HADITS YANG BERKAITAN DENGAN PAKAIAN RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 08 Rabi’ul Awwal 1441 H / 05 November 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Kitab Syamāil Muhammadiyah
🔊 Halaqah 41 | Hadits Yang Berkaitan Dengan Pakaian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam
⬇ Download audio: bit.ly/SyamailMuhammadiyah-41
〰〰〰〰〰〰〰

HADITS YANG BERKAITAN DENGAN PAKAIAN RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM

بسم الله.
الْحَمْدُ لله، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رسول الله، وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القيامة، أَمَّا بَعْدُ:

Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulillāh, kita panjatkan puji syukur kita atas nikmat Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang telah terlimpahkan kepada kita semua, sehingga pada kesempatan hari ini kita bisa melanjutkan pembahasan Kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyah karya Imām At Tirmidzī rahimahullāh.

Pada pertemuan kali ini (pertemuan ke-41) kita akan membaca hadīts nomor 54, sesuai penomoran dalam penjelasan (syarah) Syaikh Abdurrazaq Al Badr.

Imām At Tirmidzī rahimahullāh dalam hadīts ini mengatakan:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدٍ الرَّازِيُّ، حَدَّثَنَا وَالْفَضْلُ بْنُ مُوسَىو أَبُو تُمَيْلَةَ، وَزَيْدُ بْنُ حُبَابٍ،عَنْ عَبْدِ الْمُؤْمِنِ بْنِ خَالِدٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ،

Muhammad bin Humaid Ar Rāziy mengambil hadīts dari 3 gurunya (yaitu) Al Fadhlu bin Mūsā, Abū Tumailata dan Zaid bin Hubāb, mereka (Al Fadhlu bin Mūsā, Abū Tumailata dan Zaid bin Hubāb) mengambil hadīts dari Abdil Mukmin bin Khālid, kemudian dari Abdullāh bin Buraidah, dan Abdullāh bin Buraidah dari Ummu Salamah radhiyallāhu 'anhā.

قَالَتْ كَانَ أَحَبَّ الثِّيَابِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْقَمِيصُ 

Ummu Salamah berkata: "Baju yang paling dicintai oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah qamīsh."

Hadīts ini di shahīhkan oleh Syaikh Al-Bāniy rahimahullāh dalam Mukhtashar Syamāil nomor 46.

Berkaitan dengan hal ini, Syaikh Abdurrazaq menjelaskan bahwasanya baju yang paling dicintai oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah qamīsh.

القميص هو الثّوب المعروف، الذي له كمان تدخل فيها اليدان، و له جيب  يدخل فيه العنق، و قد قبل في سبب حبّ النبي ﷺ للقميص: لأنّه سهل في لبسه، سهل في خلعه، مريح في التّحرّك به، بخلاف بعض الألبسة الّتي تحتاج عند التّحرّك فيها إلى تعاهد مثل الإزار

Menurut syaikh qamīsh adalah: "Baju yang sudah dikenal yang memiliki dua lengan dan kerah"

Dan disebutkan bahwasanya sebab kecintaan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada qamīsh ini karena:

⑴ Mudah untuk dipakai  (سهل في لبسه)
⑵ Mudah untuk dilepas (سهل في خلعه)
⑶ Nyaman untuk dipakai beraktifitas ( مريح في التّحرّك به)
⑷ Berbeda dengan jenis pakaian lain ketika kita menggunakannya (beraktifitas dengannya) selalu perlu diperbaiki seperti sarung (misalnya / مثل الإزار).

⇛Ini lah penjelasan dari Syaikh Abdurrazaq terkait masalah qamīsh ini.

Kemudian Imām At Tirmidzī rahimahullāh membawakan hadīts nomor 55 dan 56 dengan matan (isi) hadīts yang sama.

Hadīts nomor 55:

كَانَ أَحَبَّ الثِّيَابِ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم الْقَمِيصُ

"Baju yang paling dicintai oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah qamīsh.”

Hadīts nomor 56:

كَانَ أَحَبَّ الثِّيَابِ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَلْبَسُهُ، الْقَمِيصُ

"Baju yang paling dicintai oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk beliau kenakan adalah qamīsh.”

Kenapa Imām At Tirmidzī membawakan hadīts nomor 55 dan 56 ?

Karena apabila dirujuk kepada para ulamā hadīts, ternyata ada permasalahan di dalam sanadnya. Apakah Abdullāh bin Buraidah langsung meriwayatkan dari Ummu Salamah (isteri Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam) ataukah Abdullāh bin Buraidah ini ada perantara (antara beliau dengan Ummu Salamah)?

Imām At Tirmidzī disini mengatakan, yang benar antara Abdullāh bin Buraidah dan Ummu Salamah ada perantara yaitu ibunya (Ibu dari Abdullāh bin Buraidah).

⇛Jadi, Abdullāh bin Buraidah meriwayatkan dari ibunya dan ibunya dari Ummu salamah radhiyallāhu 'anhā.

Itu yang ingin disampaikan oleh Imām At Tirmidzi dalam hadīts 55 dan 56, adapun secara matan (isi) hadīts hampir sama dengan pembahasan hadīts nomor 54.

Inilah pembahasan kita pada kesempatan kali ini.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishawāb.

وصلى الله على نبينا محمد
____________

Kajian

IMAN TERHADAP WUJUD ALLĀH

🌍 BimbinganIslam.com 📆 Jum'at, 30 Syawwal 1442 H/11 Juni 2021 M 👤 Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA 📗 Kitāb Syarhu Ushul Iman Nubdzah  Fī...

hits